SWEET ESCAPE
.
.
Pagi ini Ayah mengantarku ke kampus seperti biasa, tanpa banyak bicara aku pun langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke area kampus. Disini masih sepi, belum terlalu banyak mahasiswa yang berlalu-lalang. Termasuk si pinocchio yang tumben-tumbennya belum ku temukan batang hidungnya sekalipun.
'pukk'
"Hakyeon.." Eh si muka datar.. ah, tidak! Taekwoon maksudku.
Ya ampun ini masih pagi, apa dia akan menggangguku dengan sikap menyebalkannya? Akhirnya aku mengalah dan berbalik menghadap ke arahnya.
"Apa!?" Tanyaku singkat. "Jangan memasang wajah itu, aku tidak suka." Ujarnya,
Hei.. Lalu apa peduliku?
"Aku tahu kelasmu belum dimulai, Ayo temani aku ke taman belakang..!" Dengan seenak jidatnya Taekwoon menyeret lenganku untuk ikut dengannya. Aneh.. tubuhku tidak bereaksi apapun. Pasrah dan mau saja menuruti apa yang diperintahkan Taekwoon.
"Ada apa denganmu?" Ia belum juga melepaskan genggamannya saat kami sudah sampai di taman belakang. "Hakyeon, sebenarnya aku butuh istirahat. Temani aku ya?" Aku mengernyit heran, hei.. ada yang salah dengan kinerja otaknya kah? Kenapa dia jadi manja begini?
Kuletakkan punggung tanganku pada dahinya, tidak panas!? Lalu pipinya, tidak juga!? Apa orang ini salah minum obat?! Bisa jadi.
"Aku tidak demam Hakyeon..!"
"Ya.. ya.. ya.. aku tahu kau tidak sakit, tapi.. apakah benar kau ini Jung Taekwoon!?" Aku meneliti dari ujung kepalanya sampai ujung kaki. Tidak ada yang berbeda.
"Sampai kapan kau akan menyimpan kebodohanmu Hakyeon!?" Nah.. ini baru Jung Taekwoon yang ku kenal, selalu bicara seenaknya.
'slap'
"YA! KENAPA KAU MENAMPARKU?" Aku sengaja melakukannya, karena merasa gemas dan ingin menyadarkannya. "Hanya ingin saja. Ayolah, kau mengajakku kemari hanya untuk menemanimu!? Kau kira aku ini orang pengangguran apa!?" Dia tersenyum, TERSENYUM. Menyebalkan tentunya!
"Bisakah kau bersikap manis sedikit saja, maka aura kecantikanmu akan keluar Hakyeon.." Tunggu, dia bilang apa!? Aura kecantikan!? Oke, dua kali harga diriku direndahkan. Pertama si pinnochio yang selalu menyebutku manis, dan yang kedua si Jung menyebalkan Taekwoon ini baru saja beranggapan bahwa aku mempunyai aura kecantikan yang tersembunyi. FML! Ku tatap tajam matanya dan tangannku mengepal di udara, bersiap memukulnya.
'grep'
"SUDAH KUBILANG HENTIKAN SIKAP KASARMU HAKYEON!" Ia menyangkal pukulanku dengan tangan kanannya, gagal sudah rencanaku untuk membuat pipinya biru. "Apa yang membuatmu seperti ini? Kau bukan Hakyeon yang ku kenal, dulu.."
"DAN KAU BUKAN TAEKWOON YANG KU KENAL!"
Kutinggalkan dia sendiri di taman belakang kampus, ya ampun kenapa aku menangis? Entahlah.. Aku tidak habis pikir dengannya.
.
.
Setelah memasukkan alat tulis kedalam tas aku langsung pergi meninggalkan kelas. Berjalan ke halte dan duduk diam disana sambil menunggu bis datang, sepi sekali. Jaehwan tidak masuk, katanya ia sedikit tidak enak badan, hahh.. dasar pembual. Aku tahu dia tengah bersenang-senang dengan game nya di kamar.
"Hakyeon.." Astaga suara itu kenapa datang lagi!?
"Ck.. bisakah kau tidak mengikutiku terus?" Ia menatapku dengan ekspresi datarnya yang memang tidak pernah berubah. "Aku juga mau pulang." Dia kan anak orang kaya!? Kenapa pulang naik bis!?
"Kau tidak malu naik bis Hakyeon!? Ayahmu mengizinkanmu untuk pulang sendirian!?" Ya ampun benar juga, aku hampir melupakan statusku sebagai anak orang kaya disini, bukan sombong. Tentu saja aku hanya orang yang miskin tak punya apa-apa, Ibu dan Ayah yang menguasai uang di rumah.
"Tidak, buat apa marah? Aku kan sudah dewasa, bukan bocah berumur lima tahun." Jawabku asal. Ia tersenyum lagi, kenapa? Setiap ia bersamaku senyumnya tidak mau hilang? Padahal si Pangeran Jung ini sangat dingin dan pendiam.
"Itu bis nya sudah datang, kau tidak akan naik?" Aku mendegus dan berjalan mendahuluinya.
.
.
Di dalam bis muatan sangat penuh sampai-sampai aku harus berdiri berhimpitan dengan banyak orang, dengan susah payah ku gerakan tubuhku agar tidak terlalu dekat dengan nenek-nenek yang berada di sebelahku, maklum kasihan.. dia sudah tua dan butuh tempat yang nyaman. Hingga pada akhirnya aku berada di depan Taekwoon yang tengah memandangku, satu tangannya bertumpu tepat di samping kepalaku. Sial, kalau dekat begini jantungku kenapa berdetak kencang sekali..? bisa jadi ini pengaruh dari orang-orang sekitar yang membuat udara semakin menipis.
"Kau gugup?" Apa dia menyadari ketidaknyamanan ku? Ia tersenyum lagi, jika dilihat dari jarak sedekat ini, Taekwoon memang tampan dan menawan. Wajahnya yang kecil, bahunya yang lebar, dahinya yang sempit, hidungnya yang mancung, bibirnya yang cukup tebal dan empuk.. A-APAA?! TI-TIDAK!? APA YANG TELAH KAU PIKIRKAN CHA HAKYEON!? PASTI KAU SUDAH GILA KALAU TERUS-TERUSAN BERGAUL DENGAN SI JUNG INI!
"Hakyeon, sebentar lagi kau turun kan?" Aku hanya menatapnya lalu mengangguk, sialan! Kenapa aku jadi kikuk begini!?
Akhirnya bis berhenti di halte blok rumahku, "A-aku pulang duluan.." Tanpa menatapnya aku berlalu begitu saja. Tidak peduli kalau sebenarnya Taekwoon sedikit kecewa, aku tahu itu.
.
.
"Hakyeon.. makan malam dulu, tinggalkan dulu pekerjaan mu!" Ibu sudah berteriak dari ruang makan, aku menghela nafas "Iya Eomma, tunggu sebentar.." Setelah membereskan alat tulis dan kertas yang berserakan aku pun turun ke lantai satu. Disana sudah terlihat Ayah, Ibu, dan Kak Eunji yang menunggu sambil duduk di ruang makan.
"Cepatlah siput hitam, kau lambat sekali." Dasar nenek sihir! Aku pun dengan cepat menuruni tangga, tanpa sadar satu anak tangga kulangkahi begitu saja.
'brugg..brugg..brugg'
"Arghh.."
"HAKYEON!" Itu teriakan Kak Eunji.
Bagus sekali, kakiku pasti cidera. Kulihat Ibu, Ayah, dan Kak Eunji yang menghampiri ku dengan tergesa-gesa.
"Sakit sekali.."
Bagus sekali, mimpiku akan lebih sulit untuk diraih.
"Cepat bawa Hakyeon ke Rumah Sakit!" Ibu panik dan hampir menangis, Ayah yang tadinya akan menyatap makanannya langsung berlari ke kamar mengambil ponsel, dan Kak Eunji.. kalau dia tidak berkata seperti itu.. ah sudahlah ini salahku, kurang berhati-hati, ceroboh, gampang terbawa emosi.
Dahi ku berdarah karena tergores ujung tangga dan kakiku.. sama sekali tidak bisa kugerakan, seperti buntung saja.
"Hakyeon.. hiks maafkan aku.." Kak Eunji memelukku erat.
.
.
"Tulang di daerah pergelangan kakiknya retak dan harus di gips selama 4-5 minggu. Selain itu tuan muda Hakyeon juga harus melakukan terapi agar cara berjalannya kembali normal."
Aku hanya bisa tersenyum miris saat kata-kata dokter masih terngiang-ngiang di telingaku. Tuhan.. apakah kau tidak mengizinkan aku untuk menari juga!? Kenapa kalian begitu jahat padaku!? Apakah aku mempunyai dosa besar sebelumnya!? Kurasa aku tergolong anak baik-baik, yah walaupun sikap kasarku kadang-kadang tidak bisa ku kendalikan.
"Hakyeon.. maafkan aku ya.." Kak Eunji.. sudah berapa puluh kali ia mengucapkan hal yang sama, sudahlah dengan minta maaf piring yang sudah pecah tidak akan kembali utuh kan?
"Noona.. berhentilah meminta maaf, aku masih hidup kan!?" Ia memukul pelan lenganku dan memelukku. "Kau tidak boleh meninggalkanku!" Hah.. sifat kekanakan nya mulai keluar.
"Kau butuh sesuatu Hakyeon?" Ibu mengelus kepalaku dengan lembut, "Aku hanya ingin tidur." Mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Baiklah, Eomma dan Noona mu akan pulang kerumah. Appa akan menjaga mu disini.."
"Tidak usah Appa.. kalian pulang bersama saja, aku sudah besar. Lagipula kalian semua besok harus bekerja kan? Pikirikan kesehatan kalian juga."
"Tidak Hakyeon, kau tidak boleh sendirian! Eomma saja.. Junsu-ah kau pulang saja bersama Eunji, aku akan mengambil cuti ku besok."
Akhirnya mereka menurut, dan aku hanya bisa menerima. Tidak apa-apa, aku juga rindu berdua dengan Ibu.
.
.
"Iya.. Hakyeon mengalami kecelakaan tadi malam.." Sayup-sayup aku mendengar suara Ibu yang sedang berbicara dengan seseorang. Ku buka mataku perlahan, membiasakan cahaya dari jendela yang sangat menusuk netraku.
"Eomma.."
"Hakyeon.. kau sudah bangun!? Ah Taekwoon, kalau kau mau menjenguk Hakyeon akan kuberi alamatnya lewat pesan ya." Apa!? Taekwoon? "Eomma? Kenapa menelepon tutorku?!" Ibu tersenyum dan memberiku segelas air. "Selamat pagi matahariku.." Ibu mengecup dahiku, ya ampun sudah berapa tahun aku tidak diperlakukan semanis ini oleh Ibu.
"Eomma.. jawab dulu pertanyaanku."
"Iya, aku mengabarinya. Dia juga teman satu kampusmu bukan? Apa yang salah?" Aku hanya menggeleng pelan, dan berusaha duduk menyender ke kepala ranjang.
"Kapan aku keluar dari Rumah Sakit Eomma? Aku bisa rawat jalan kan? Bagaimana dengan kuliahku?" Ibu terdiam, menatapku lama dengan ekspresi yang sulit di tebak.
"Eomma..."
"Hakyeon.. kenapa kau tidak membicarakan soal bakat menari mu itu pada Eomma?" Sontak aku berjengit kaget, menatap Ibu sedikit takut.
"I..itu.. kenapa Eomma tahu?" Ibu meletakkan tangannya di pahaku, mengelusnya dan memberi tatapan mirisnya kepadaku.
"Kau mengabaikanku, anakku. Disini aku masih mampu membantumu, kenapa kau malah cerita pada Taekwoon hum..?" Tunggu, ada yang tidak beres disini. Tapi kenapa? Kenapa bisa Taekwoon mengetahui keinginanku untuk masuk Universitas jurusan seni tari? Padahal aku sama sekali tidak membocorkan hal ini sedikitpun selain pada Jaehwan.
"Hakyeon.. kau ingat kecelakaan tiga tahun yang lalu?" Ibu menggenggam tanganku erat, aku mengernyit dahi. Heran.. tentu saja, kecelekaan apa yang dimaksud Ibu? Aku pun menggeleng sebagai jawabannya.
"Berarti hanya sebagian ingatanmu lah yang bermunculan. Aku tidak tahu kapan kau akan mengingat semuanya Hakyeonie.."
"Eomma.. tolong jelaskan dengan rinci, apa yang terjadi padaku sebelumnya. A-aku pun merasa aneh dengan diriku, aku juga merasa bahwa aku baru hidup beberapa tahun di dunia ini. Tapi disisi lain aku juga merasakan bahwa di masa lalu aku berteman dengan Taekwoon dan..."
'cklek'
"Apa aku mengganggu kalian?" Itu suara Taekwoon, aku menghindari tatapannya dan menunduk melihat ke arah selimut yang tengah kugunakan.
"Taekwoon.. masuklah, cepat sekali datangnya.."
"Aku khawatir pada Hakyeon. Eomma.. bisakah itu.. kita berbicara di luar sebenta.."
"Bicaralah di depanku sekarang juga.. aku ingin mendengar kebenaran tentang diriku!"
Sungguh.. apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku..?
.
.
To Be Continued
.
.
