Apa kabar? Farore disini! (Apa sih? Ga jelas deh...)

Iyup! Ini chapter ketiga...

Mulai dari sini, digunakan kembali Haruka POV...

Ada koreksi nih... di Chapter 1, mata Akito dan Haruka, Farore tulis "sebiru...." tapi di Chapter 2, Farore malah nulis "mata berwarna hijau".. maaf ya..

Itu adalah kesalahan kecil yang fatal. Tapi karena Akito dan Haruka berwajah mirip, jadi Farore putuskan mata mereka adalah hijau emerald. Sekali lagi maaf banget ya.. (T_T)

?

Hhehe, makasih banyak buat yang sudah me-review dan membaca karya Farore ya..

Karena kata-kata kalian akan selalu jadi semangat dan kekuatan untuk Farore (^^) (Berlebihan ya?)

Oiya! Farore mau menjawab review kalian disini ya..

VIESZCY : makasih banyak atas dukungannya ya, Vie-chan! Farore senang sekali..(T-T) *hiks* terharu nih...Chapter 2 terlalu pendek ya? Farore coba lebih banyakin deh buat Chapter ini..

MITSUHIKO ZAHRA : Salam kenal juga ya, mitsuhiko-san... makasih atas dukungannya.

HARUKA ANA KIRYU : maksih banyak Haruka-san... baca terus ya...^^

RUKII NIGHTRAY : Rukii-saaan...! Thanks ya... Uuups... No no no.. Haruka Kisaragi dan Akito Kiasaragi itu adalah murni Original Character dari fanfic Farore. Tapi nama itu ada asalnya... Jangan diceritain disini ya, nanti jadi spoiler...^^

.(Umm, Farore panggil "DOT" saja ya?) : Hhaha, Thanks Dot-chan.. Kyaaa..! Farore dipanggil senpai, Senangnya...XD

SETIA VATHI : Selamat datang di fandom Vampire Knight ya, Vathi-san.. Terus dukung karya Farore ya...

?

Hhehe, Thanks banget buat kalian yang baca Fanfic Farore ya, kalian ga bakal bisa ngebayangin wajah Farore saat kalian meriview fic ini.. ^^

Akhir kata, makasih banyak dan terus dukung Farore ya..

Farore sayang kalian..\(^^)/

?

Sincerely,

Farore Rayzes

S
S
S

S

Aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Perasaanku campur aduk. Marah, kesal, sedih, bingung. Tak dapat ku ungkapkan lagi, kepalaku kosong. Aku hanya dapat merasakan dinginnya liontin yang kugenggam dengan erat di tangangku.

Air mataku tak berhenti mengalir. Dari mana datangnya air sebanyak ini? Zero hanya menatapku kaget. Mata violetnya yang terang memancarkan aura kebingungan. Aku berusaha menahan emosiku. Mencoba untuk bersikap tegar. Kalau terus seperti ini, dia tidak akan pernah mengerti.

Aku memeluk erat kalung pemberian ayah dan ibu. Kalung yang menjadi lambang keluarga kami. Satu-satunya barang yang tertinggal sejak peristiwa 5 tahun yang lalu.

DEG!

Tanganku gemetar. Aku mengingat kembali hari itu. Malam itu. 5 tahun yang lalu. Tangisanku berhenti, tapi perasaan takut menjalar dari dadaku. Perasaan itu naik dan terus naik hingga tak terbendung lagi. Tubuhku bergetar luar biasa. Kakiku lemas. Aku terjatuh, lemas. Zero yang masih tak mengerti, hanya diam.

Nafasku sesak. Kepalaku sakit. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?

Tenang... Tenanglah! Kumohon!

Aku menggenggam semakin erat kalung ditanganku. Begitu eratnya sampai tak mengira kalau batu-batu permata di kalung itu melukai tanganku.

Sakit! Aku menatap kedua tanganku yang gemetar. Darah segar mengalir keluar dari telapak tanganku. Aku terdiam. Tubuhku kaku.

Darah...

Di tangan...

Darah siapa?

".....! " Aku masih menatap kedua tanganku yang berlumuran darah. Nafasku semakin tidak teratur. Ruangan ini seperti kamar berukuran 2x2 meter tanpa jendela. Sesak, panas.

Aku menjatuhkan kalung itu, saat ingatan yang lebih mengerikan dari 5 tahun yang lalu itu mencuat keluar. Ingatan itu datang bertubi-tubi seperti film yang diputar ulang.

"Uugh!" tiba-tiba perutku mual. Mengingat peristiwa itu membuatku ingin muntah. Aku menutup mulut dengan kedua tanganku. Air mataku mengalir deras lagi.

Aku berlari ke kamar mandi. Beruntung, kamar mandi ada dalam kamar. Kalau tidak Akito akan melihat sosokku yang sedang seperti ini. Saat sampai dikamar mandi, aku segera mengeluarkan seluruh isi perutku. Tidak ada lagi ego yang tersembunyi. Zero menatapku bingung. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Gadis yang meminta pertolongannya itu, tiba-tiba menangis, lalu gemetar, dan muntah tanpa sebab yang jelas.

Walaupun rasa mual ini sudah sirna tapi perasaan takut ini belum hilang. Aku mencoba mengontrol emosiku. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Walaupun masih tersengal-sengal.

Aku tidak menyadari suara langkah kaki yang ringan dan tegas itu kemari. Saat kusadari, sebuah selimut putih membungkus tubuhku. Aku mendongak keatas. Sepasang mata violet menatapku. Bukan tatapan jijik, ataupun risih. Bukan juga tatapan benci yang sebelumnya ia keluarkan. Sorot matanya seakan berkata "Kau baik-baik saja?"

Aku menunduk. Menutup wajahku dengan selimut yang ia kenakan padaku. Aneh. Ini seperti sihir. Perasaan takut dan khawatir yang mampu mendominasi pikiranku itu sekarang hilang tanpa bekas. Tubuhku tak lagi gemetar. Nafasku kembali normal.

Apakah ini karena musim dingin yang sudah berakhir? Atau musim panas yang akan dimulai? Selimut ini, terasa hangat.

S

S

S

"Sudah tenang?" Suara Zero yang dalam, memecah keheningan diantara kami. Kami hanya duduk tanpa suara selama ini. Zero dengan tenangnya menunggu emosiku reda.

Aku duduk diatas kasur, masih terbungkus selimut putih yang dikenakan Zero untukku. Zero duduk dikursi yang berhadapan denganku. Belum ada kata yang keluar. Aku gugup. Sedari tadi, Zero menatap tajam lurus kearahku. Sorot matanya seakan bisa membaca seluruh pikiran dan bahasa tubuhku.

"Iya." Jawabku dengan suara yang hampir tak terdengar. Tapi Zero menunjukkan mimik bahwa ia mendengarnya dengan jelas. Ia menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat sangat lelah. Aku, jadi merasa bersalah.

"Aku baik-baik saja.... Terima kasih," tambahku sambil berusaha keras tersenyum. Ia beralih memandang mataku. Zero masih diam tanpa suara. Tatapan tajamnya membuat wajahku panas.

"Maaf membuatmu khawatir," ucapku masih dengan senyuman. Aku berusaha tidak menampakan perasaanku padanya. Perasaan sedih sekaligus malu ini. Merupakan hal yang mudah bagiku untuk tersenyum disaat sedih. Karena selama ini aku melakukannya di depan Akito.

"Sudahlah, tidak perlu memaksakan diri seperti itu," kata Zero sambil menghela nafas panjang lagi.

Tuh kan. Benar. Zero, dia bisa membaca seluruh bahasa tubuhku. Caranya memandangku seakan bisa menerobos masuk ke dalam pikiranku. Aku menunduk, dan menutup wajahku dengan selimut putih. Menyembunyikan mawar merah yang merekah dipipiku.

"Jadi, apa yang terjadi?" Tanya Zero tiba-tiba. Perkataannya membuatku terkejut. Aku ragu. Apakah harus aku katakan? Apakah rahasia yang selama 7 tahun ini kujaga, boleh kukatakan begitu saja pada orang yang sangat asing ini? Tapi disudut hatiku yang terdalam, aku tahu orang ini tidaklah jahat.

"Uumm...." Aku membuka mulutku. Memberanikan diri mengatakan semuanya. Mengatakan apa yang selama ini kusembunyikan.

Zero memperhatikanku dengan seksama. Mencoba mendengarkan suaraku yang kalah oleh kicauan burung diluar sana.

"Kakak...." Tiba-tiba dari balik pintu terdengar suara lembut Akito. Kami berdua kaget, dan refleks memandang pintu. Aku melihat Zero, memandang pintu dengan amarah di matanya. Rasa sedih tak dapat kupungkiri. Zero membenci Akito, anak yang menjadi tujuan hidupku.

"Ada apa, Aki?" tanyaku pada Akito yang masih ada dibalik pintu. Aku dan Zero tidak beranjak satu langkahpun dari tempat kami duduk. Aku dapat membayangkan wajah Akito saat ini. Ia pasti khawatir, dan menahan tangisannya.

"Aku tidak mau makan sendiri...." Jawab Akito dengan suara yang lemah dan lembut.

Aku lupa, tadi meninggalkan Akito sendiri diruang makan. Tapi aku tidak menyangka ia akan menunggu kami, untuk makan bersama. Aku meletakan selimut yang membungkusku. Melipatnya dengan rapi dan menaruhnya diatas meja. Lalu aku berdiri dan berjalan kearah pintu.

"Baiklah," Tiba-tiba Zero berbicara. Aku kaget dan mengalihkan pandanganku kepadanya.

"Aku menerima," Tambahnya lagi. Ia lalu berdiri dan menyusulku.

"Hah?" Aku bingung. Tidak mengerti apa maksud perkataan Zero. Mataku mengikuti kearah ia berjalan. Perlahan ia menghampiri pintu. Tangannya yang besar meraih gagang pintu dan membukanya. Pintu agak terbuka sedikit. Aku dapat melihat sosok Akito yang sedang menunduk. Tapi, saat ia menyadari pintu didepannya terbuka, ia mendongak dan memandang Zero.

"Permintaanmu tadi. Aku menerima pekerjaan itu." Jawabnya, lalu membuka pintu dengan lebar dan masuk ke ruang makan. Tanpa banyak bicara ia duduk dikursi. Wajah Akito yang tadinya muram, berubah ceria saat melihat Zero yang duduk di kursi meja makan. Ia lalu berlari ke ruang makan dan melompat duduk.

Aku yang masih kaget, belum dapat bergerak. Saat kusadari, Akito melambaikan tangannya padaku. Memanggilku untuk bergabung. Aku tersenyum. Lega.

"Terima kasih," kataku perlahan. Karena kau tak banyak bertanya.

S

S

S

Suasana makan yang menyenangkan. Akito dengan riangnya membicarakan tentang layangan yang ia mainkan kemarin. Aku mendengarkannya sambil tertawa melihat wajah lucu Akito yang bersemangat. Zero hanya diam dan mendengarkan. Mungkin baginya hal ini berat, karena dari tadi ia sama sekali tak memandang Akito.

"Mau tambah?" Tanyaku pada Zero yang hanya melihat piring kosong di depannya. Ia hanya menggelengkan kepala. Aku tersenyum dan mengangguk. Akito melihat kami yang canggung dan wajahnya menampakan kekhawatiran.

"Kak Zero!" teriak Akito. Zero hanya menggerakkan matanya, memandang Akito.

"Kak Zero harus mencoba jus merah buatan kakak! Enak sekali lho! Aku paling suka jus merah kakak!"

"....!" Aku kaget mendengar ucapan Akito. Sama sekali tidak terpikirkan olehku kalau Akito akan mengatakan hal seperti itu. Aku bergerak memandang Zero. Wajah Zero kaget. Lalu senyuman licik tersungging di bibirnya. Ia tahu.

"Heh! Tablet darah ya?" Katanya. Nadanya seakan menyindirku. Aku hanya bisa diam dan menunduk. Akito menelengkan kepalanya sedikit. Tidak mengerti.

"Ta...?" tanyanya pada Zero. Ia melukiskan ketidakmengertiannya dengan menggaruk rambutnya yang hitam. Zero hanya tersenyum sinis.

"Maaf, aku tidak minum, minuman seperti itu." jawabnya. Sambil memalingkan wajahnya.

"Kenapa?" Tanya Akito pada Zero.

"Aki, Kak Zero tidak suka jus buatan kakak." Kataku menyelesaikan pembicaraan ini. Akito langsung diam dan mengangguk.

"Begitu ya?" ucapnya kecewa.

Keheningan melingkupi kami. Rasa canggung diantara kami bertiga sangat terasa. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Zero sekarang, yang jelas dia terlihat sangat tidak suka.

Aku melihat ke arah jam dinding. Jarum pendek menunjukan angka 2, dan aku beranjak dari tempatku duduk. Zero dan Akito memandangku.

"Sudah waktunya berangkat, Aki!" Ucapku sambil mengambil sebuah tas kotak berwarna putih dari dalam lemari. Lalu kumasukkan beberapa botol-botol kecil kedalam tas kotak putih tersebut. Dan menutup tas itu dengan erat, supaya isinya tidak tumpah.

"Iya! Ayo berangkat!" seru Akito gembira. Ia segera berlari keluar pintu. Lalu melompat-lompat kegirangan. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya. Sangat tidak bisa dipercaya, bahwa anak kecil yang lucu, mungil dan tidak berdaya ini, menyimpan rahasia yang menyakitkan.

"Kau mau ikut?" Tanyaku pada Zero. Ia diam. Lalu menghela nafas. Ia segera berdiri dari tempatnya duduk. Dan berjalan perlahan menuju keluar.

"Mau tidak mau 'kan?" ucapnya dingin. Walaupun ia terlihat tidak peduli, tapi hal itu sudah membuatku sangat senang. Mawar merah kembali merekah dipipiku. Degupan jantung yang berirama, mengiringi langkahku bersama Zero.

S

S

S

"Apa isinya?" tanya Zero tiba-tiba. Jantungku hampir keluar mendengar suaranya yang dalam itu dekat sekali dari telingaku. Walaupun aku terlihat tenang, tapi sebenarnya sekarang jantung ini berlomba dengan suara detik jarum jam. Aku beralih memandangnya. Mencoba mengerti akan apa yang dikatakannya.

"Isi apa?" balasku bertanya. Zero selalu saja mengatakan sesuatu secara setengah-setengah. Atau mungkin ia ingin mengatakannya secara singkat dan simple? Tapi hal itu menyebabkan aku tidak mengerti mana ujung mana pangkalnya.

"Tas itu." jawabnya. Singkat sekali. Ia pasti bukan tipe yang terbuka dengan orang lain. Tapi hal inilah yang membuatnya mempesona.

HAH? Mempesona? A— Apa yang aku pikirkan? Bodoh, Bodoh! Gadis nakal...! Nakal! Jangan berfikir seperti itu! Haruka bodoh...! Tidak, pikiran kotor pergilah dari kepalaku... Pergi! Pergi pergi pergi! Aku tidak mau jadi gadis nakal...

Uuuh...

Jantungku makin berdebar. Hari ini panas sekali, tubuhku rasanya panas, dan nafasku sesak sekali.

"Hei!" seruan Zero menyadarkanku. Aku salah tingkah, tubuhku bergerak diluar pikiranku. Zero hanya memandangku bingung.

Tidak, tidak... Tenanglah Haruka... Tenang...

"I— Ini.. Obat!" Jawabku panik. Aku mengalihkan pandanganku ke sisi lain. Rasanya sekarang bagiku mata Zero terlalu menyilaukan. Aku tak sanggup melihatnya. Kumohon, Tuhan... Semoga Zero tidak menyadari wajahku yang mampu mengalahkan warna tomat yang matang.

"Untuk apa?" Tanyanya lagi. Ia berjalan dengan melihat sekeliling.

Kami saat ini berjalan diantara padang rumput hijau yang membentang. Yang terlihat hanyalah beberapa orang yang sedang menggembalakan ternak-ternaknya. Akito berlarian di depan kami. Melompat dan menari. Lucu sekali. Aku tersenyum kecil melihatnya. Zero memandangku dengan tajam saat aku sedang tersenyum. Saat menyadarinya, aku langsung membuang muka, menghadap ke sisi lain. Menyembunyikan wajahku lagi.

"A— Aku bekerja meramu obat. Semua obat-obatan ini setiap siang aku kirimkan ke para pemesan di kota." Jawabku. Ia hanya diam dan beralih memandang Akito. Memandangnya dengan tatapan tajam. Entah apa yang ia pikirkan.

Kami tiba di persimpangan jalan. Jalan disebelah kiri dipenuhi oleh hutan bambu yang lebat. Kami berbelok ke jalan itu. Zero hanya mengikuti langkahku berjalan. Akito segera lari menaiki tangga terjal di depan kami. Menuju ke sebuah kuil yang kuno tapi begitu sejuk dan nyaman.

"Hei, Haruka!" teriak seorang wanita paruh baya dari arah kananku. Wanita itu cukup tua, tapi tidak pernah mengakui dirinya sudah menua. Ia merupakan seorang miko yang agak sedikit 'berbeda' dari yang lain, lebih 'eksentrik'. Wanita berkimono putih itu menghampiriku dengan tetap membawa sapu ditangannya.

"Hei, hei! Kau tidak menitipkan Akito padaku karena ingin berkencan dengan lelaki ini kan?" katanya dengan wajah yang menyindir. Dan mendekatkan wajahnya padaku.

Hu—Huwaaa...! Apa yang dikatakannya di depan Zero begini? Uwa—wah...!

"Bu—Bukan! Kau salah paham Matsuzaki! Kami sama sekali tidak seperti itu!" Teriakku meyakinkannya. Tapi wajahnya makin terlihat curiga. Ia tersenyum. Aku makin panik.

Aah... Bagaimana ini? Matsuzaki mengatakan hal yang tidak perlu. Aku memandang Zero sekilas. Wajahnya tenang dan tidak peduli. Ia sadar telah kuperhatikan, lalu beralih memandangku.

Waah! Aku segera membuang muka. Ini gara-gara Matsuzaki!

"Hhehe. Kau ternyata diam-diam menghanyutkan ya, Haruka..." Ucap Matsuzaki sambil menepuk-nepuk punggungku. Tenaganya yang besar membuatku kesakitan. Akito hanya melihatku dalam diam.

"Ma— Matsuzaki!" teriakku. Ia segera menghentikan tepukannya di punggungku. Punggung ini jadi nyut-nyutan. Matsuzaki memang tak pernah berubah.

"Hhahaha! Maaf-maaf...! Kau manis sekali sih kalau panik... Aku jadi ingin menggodamu..."Kata Matsuzaki sambil tertawa. Ia lalu beralih melihat Akito.

"Baiklah, serahkan Akito padaku. Kau antarkan pesananmu saja!" tambah Matsuzaki. Akito segera berlari kearahnya.

"Iya! Terima kasih banyak," Jawabku tenang. Zero melihat kami dengan bingung.

"Kau menitipkan anak itu?" Tanyanya setelah diam saja dari tadi.

"Hmm? Ah, iya.. Pesanan obatnya lumayan banyak, jadi kurasa Akito tak akan sanggup berjalan mengikuti." Jawabku sambil tertawa kecil. Zero hanya menatapku lalu ia berbalik dan berjalan pergi. Aku berusaha mengikutinya.

"Kau terlalu memanjakan anak itu..." Bisik Zero perlahan. Aku hanya tersenyum sedih mendengarnya. Apa boleh buat 'kan? Aku hidup untuk membahagiakan Akito. Tidak kurang dan tidak lebih.

Hal itu sudah menjadi takdirku, semenjak aku dilahirkan di dunia ini. 8 tahun yang lalu.

"Mana ada manusia berumur 17 tahun yang masih mengidap brother complex?" kata Zero sambil menuruni tangga terjal yang menghampar di depan kaki kami. Aku berjalan dibelakangnya.

"Hei! Lusa umurku 19 tahun tahu!" Jawabku sambil berlari ke arahnya. Dan mulai berjalan disamping Zero. Bahunya yang tinggi begitu tegap. Kenapa orang ini begitu sempurna?

"Oh? Maaf, kau begitu mungil. Tak kusangka sudah 19 tahun..." ucapnya. Sebuah senyuman kecil tergambar sekilas di wajahnya.

"Siapa yang mungil! Tinggiku 165 cm!" Bantahku sambil berdiri didepannya. Ia diam. Seperti sedang berfikir. Lalu berjalan melaluiku. Aku berbalik dan mengejarnya lagi. Sebelum aku sampai disampingnya, Zero berhenti. Aku juga menghentikan langkahku. Aku berdiri 2 meter dibelakang Zero yang terdiam.

"Kau menyayangi anak itu?" Tanya Zero tiba-tiba. Aku kaget. Tapi jawaban langsung terlintas dipikiranku tanpa harus menunggu sedetik lebih lama.

"Tentu saja! Akito adalah tujuan hidupku!" jawabanku tegas dan simple. Tapi sepertinya hal itu tidak memuaskan Zero. Ia berbalik dan memandangku. Kami saling menatap selama beberapa detik. Angin sore yang sejuk membelai rambut kami.

"Lalu kenapa kau menyewaku?" tanya Zero. Pertanyaannya membuat tubuhku kaku. Tak kusangka Zero menanyakannya.

"Kenapa kau ingin membunuh adik yang sangat kau sayangi itu?" Tanyanya lagi. Aku masih terdiam. Wajahku tertunduk. Bingung ingin mengatakan apa. Tapi Zero justru mendekatkan dirinya padaku. Tiba-tiba sebuah tangan yang hangat menyentuh daguku. Tangan itu mengangkat wajahku yang tertunduk. Sepasang permata berwarna violet menatap lurus ke kaca emerald-ku. Selain debaran karena takut, tapi jantungku juga berdebar karena malu.

"Kenapa kau ingin mengambil jiwa anak yang menjadi tujuan hidupmu?" Zero bertanya lagi. Kali ini pertanyaan itu benar-benar masuk ke dalam hatiku.

Harus kukatakan.

Aku menyentuh tangan Zero di daguku. Tangannya yang besar dan hangat, membuatku sulit untuk melepaskannya. Aku menyingkirkan tangan Zero dengan perlahan. Menurunkannya dari wajahku. Aku menunduk lagi. Sesaat, aku menatap tangan Zero. Tapi kulepaskan dengan segera.

Aku berjalan melewatinya. Melanjutkan perjalananku yang tadi tertunda. Zero hanya menatapku. Meminta jawaban yang jelas dariku. Aku menyadari Zero sama sekali tidak mengikutiku. Lalu ku berhenti dan berbalik.

Aku tersenyum menatapnya. Senyuman yang sedih. Sudah waktunya kuceritakan. Salah satu dari 3 dosa yang telah aku perbuat. Peristiwa 5 tahun yang lalu.

S

S

S

Akito...

Dulu sekali, ia adalah seorang anak manusia yang lincah dan menyenangkan. Seorang anak hasil hubungan antara 2 vampire hunter yang saking mencintai. Shouji Kisaragi dan Kureha Kisaragi. Ayah Akito, Shouji Kisaragi adalah seorang vampire hunter yang disegani karena merangkap seorang Alchemist. Seseorang yang hidup demi ilmu pengetahuan. Ibu Akito, Kureha Kisaragi juga adalah seorang vampire hunter yang dihormati. Ia memiliki kemampuan sihir yang luar biasa, yang mampu menyamai kekuatan vampire bangsawan.

Tapi, sesuatu terjadi. Akito, ia... Berubah menjadi seorang vampire.

Tidak ada yang mengira peristiwa ini bisa terjadi. Awalnya semua baik-baik saja. Tapi hal itu berakhir saat dia datang. Kehidupan kami berakhir saat itu juga.

Tapi, kami tidak ingin kehilangan Akito. Akito sangat berharga bagi kami. Bila ada yang mengetahui bahwa Akito sekarang adalah seorang vampire, aku yakin para vampire hunter pasti akan memburunya.

Kasih sayang orang tua jauh lebih besar dari pada tanggung jawab sebagai seorang vampire hunter. Mereka berhasil menyembunyikan kenyataan ini dari para vampire hunter yang lain. Walupun begitu, perasaan khawatir tidak dapat dipungkiri. Kenyataan bahwa cepat atau lambat hal ini akan diketahui oleh asosiasi hunter membuat ibu melakukan sihir yang besar.

Untuk menghindari kecurigaan, ibu melakukan sihir penyegelan pada 'jiwa' vampire Akito. Dengan sihir itu, para manusia atau vampire yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap keberadaan vampire akan tidak menyadari keberadaan 'jiwa' vampire Akito. Tapi ibu memiliki tubuh yang lemah, dan bagi manusia biasa melakukan sihir penyegelan itu bukanlah hal yang mudah. Lagipula setengah kekuatannya pernah ia berikan padaku saat diriku lahir. Semua hal ini menyebabkan ibu menjadi kehilangan seluruh kemampuan sihirnya.

Walupun kehidupan kami sudah berubah, tapi kami menikmati kegembiraan ini. Masih teringat dengan jelas di pikiranku, betapa bahagianya senyuman ayah dan ibu. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Semua tawa, canda, dan senyuman itu menghilang tanpa bekas. Ditelan oleh kegelapan yang abadi di malam itu.

"Hhaha!" tawa Akito terlihat sangat cerah dan bersemangat. Kami berjalan pulang dari berbelanja makan malam. Hari sudah sore, tapi semangat Akito tak pernah surut. Akito berlarian di depanku, aku mengikutinya dengan perlahan. Ada kalanya Akito berhenti untuk menungguku.

"Ah, Haruka... Akito..." Suara yang lemah itu memanggil kami. Seorang nenek penjual bunga melambaikan tangannya, memberikan aba-aba supaya kami singgah. Akito berlari menuju nenek itu, aku mengikutinya dari belakang.

"Ada apa nek?" tanyaku pada nenek yang sedang membawa sebuah bungkusan di tangan kanannya. Ia terlihat begitu tua dan lemah, tapi senyuman masih kuat terlukis di wajahnya. Ia adalah nenek yang baik hati, ia selalu memberi Akito gula-gula saat mereka bertemu. Ia juga tidak jarang memberikanku bunga yang berbeda-beda, walaupun aku selalu bersikeras untuk membayarnya.

"Begini... Apa nenek bisa minta tolong?" Tanyanya padaku. Kegelisahan menyelimuti wajahnya.

"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu, nek?" Jawabku ramah. Mana mungkin kutolak permintaan nenek baik hati yang selalu menolong kami kan? Setelah kukatakan hal itu, wajah nenek berubah menjadi cerah. Ia menyodorkan bungkusan di tangan kanannya padaku.

"Ini... Tolong berikan pada anakku di ladang. Ia tidak pulang siang ini untuk makan jadi aku siapkan bekal. Bisa tolong nak Haruka antarkan?" ucap nenek. Aku menerima bungkusan yang ternyata adalah bekal itu. Lalu mengangguk.

"Paman Kyosaki? Baiklah! Serahkan padaku nek!" Jawabku bersemangat. Nenek itu terlihat senang sekali. Tapi tiba-tiba sebuah tangan kecil menarik rok biruku. Aku melihat kebawah. Akito sedang mendongak menatapku.

"Biar aku yang antarkan, kak!" pinta Akito. Ia mengkat kedua tangannya, meminta bungkusan ditanganku.

"Tapi Aki...." aku tak bisa membiarkan Akito melakukannya. Lalu kugelengkan kepalaku perlahan. Akito yang melihatnya, kembali menarik rokku. Ia memohon dengan sangat.

"Kumohon kak! Aku juga ingin membantu nenek!" mohon Akito. Ia benar-benar sungguh-sungguh mengatakannya. Aku menghela nafas. Tak mungkin aku menang dari Akito. Akhirnya hatiku luluh juga.

Kusamakan tinggi badan kami, dengan berjongkok di depannya. Lalu menepuk kepala Akito yang egois itu. Kuserahkan bungkusan yang ada ditanganku kepadanya. Wajahnya seketika berubah ceria. Tanpa menunggu lagi, ia langsung berlari ke arah ladang gandum.

"AKI....! Langsung pulang ya...!" teriakku padanya yang terus berlari itu. Ia lalu berhenti dan berbalik. Sambil melambaikan tangan, ia mengangguk. Dan melanjutkan perjalanannya.

Aku berpamitan pada nenek penjual bunga, lalu kembali berjalan pulang. Tanpa menyadari bahwa bahaya menanti kami.

Di ladang gandum, Akito melihat sekeliling. Mencari sosok yang bernama Paman Kyosaki. Ia segera berlari ke tengah ladang gandum saat matanya jatuh pada seorang pria paruh baya yang penuh dengan keringat.

"PAMAN KYOSAKI...!" teriak Akito. Paman Kyosaki segera berbalik mendengar namanya disebutkan oleh suara kecil yang manis.

"Akito? Ada apa?" tanyanya kebingungan melihat anak kecil berumur 5 tahun terengah-engah mengejarnya.

"I—ini... titipan dari nenek..." ucap Akito sambil mengatur nafas. Ia memberikan bungkusan itu kepada paman Kyosaki. Paman Kyosaki menerimanya dengan bingung. Tapi begitu ia membuka bungkusan itu, akhirnya ia mengerti.

"Terima kasih, Akito." Kata paman Kyosaki. Hanya dengan kata-kata singkat itu, Akito kembali berdiri dengan bersemangat. Ia mengangguk.

"Iya! Sama-sama!" balas Akito riang. Ia kemudian berlari pulang, tapi sebuah ranting membuatnya terbentur keras.

"Aaah...!" Akito berteriak kesakitan. Akito terjerembab dan berguling. Paman Kyosaki kaget melihatnya, dan berlari menghampiri Akito. Akito bangun dari jatuhnya. Ia duduk diatas tanah. Tubuhnya penuh dengan tanah, matanya mulai berlinang air mata. Tapi ia segera menghapus dan bersikap tegar.

"Akito! Kau baik-baik saja?" Tanya paman Kyosaki dengan khawatir. Akito mendongak menatap pria yang mengkhawatirkannya. Ia mencoba dengan keras untuk tersenyum.

"A—Aku baik-baik saja, paman!" kata Akito. Ia kemudian berdiri.

"Uugh!" Akito kesakitan. Lengannya terluka. Paman Kyosaki yang melihatnya merasa kasihan. Darah segar mengalir dari luka baru di lengan Akito. Darah itu menetes dengan derasnya. Wajah paman Kyosaki pucat pasi, tapi wajah Akito justru tenang dan biasa.

"Ka—Kau berdarah!" kata paman Kyosaki. Lalu ia menjulurkan tangannya untuk menolong Akito. Tapi Akito justru menolaknya dengan lembut.

"Tidak apa-apa, dijilat juga sembuh!" Ucap Akito. Lalu ia menarik lengannya mendekati mulut. Dan membuka mulutnya. Ia mulai menjilat luka di tangan kanannya. Akito tidak menyadari bahwa paman Kyosaki saat itu melihat hal yang seharusnya tak ia lihat.

Sepasang taring yang tajam menggantung di bagian atas mulut Akito. Akito yang sama sekali tidak sadar masih melanjutkan aktivitasnya. Dan yang membuat paman Kyosaki bergidik ngeri adalah kenyataan bahwa Akito menghisap darahnya sendiri. Dan menelannya.

"Aku pergi dulu, paman!" kata Akito begitu darah berhenti mengalir dari lengannya. Tanpa ia ketahui sepasang mata kebencian yang menusuk menatap kepergian Akito. Dan kebaikan sang anak yang masih polos itu berubah menjadi boomerang bagi kami.

"Aku pulang!" teriak Akito dari luar rumah. Aku menghampirinya, dan ia berhambur memelukku. Aku hanya bisa tertawa. Tapi kemudian aku menyadari bahwa lengan Akito terluka.

"Lenganmu kenapa, Aki?" tanyaku. Akito hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya.

"Tadi aku jatuh," jawabnya polos. Segera, aku langsung menggendongnya dan mengambil obat dan perban dilemari. Aku duduk sambil memangku Akito di pahaku. Kubersihkan lukanya dengan alkohol dan Akito berteriak kesakitan. Tapi ia menahan tangisannya.

Setelah selesai, aku memberikan obat merah pada lukanya. Ia hanya merintih. Kupasangkan perban disekeliling lengannya. Dan sentuhan terakhir adalah mantra yang biasa kami ucapkan.

"Pain pain go away. Fly to the cloud just up there!" kataku pada lengannya. Kami lalu tertawa bersama.

Waktu sudah menujukkan pukul sembilan malam. Aku, Akito dan ibu bercanda gurau bersama sambil menunggu ayah pulang. Ayah pulang larut merupakan hal yang biasa. Jadi merupakan hal yang wajar bila kami masih belum mengantuk saat ini. Suara langkah kaki orang yang berlari terdengar. Akito segera berlari kearah pintu untuk membukakan pintu pada ayah.

"Selamat datang, ayah!" kataku padanya. Tapi ia sama sekali tidak bergeming. Wajahnya pucat pasi. Gelagatnya aneh. Kami merasa ada yang tidak beres.

"Ada apa, Shouji?" tanya ibu pada ayah. Ia menghampiri ayah, saat ia mengulurkan tangannya ke wajah ayah, ayah menangkapnya dengan cepat.

"Kita harus segera pergi!" kata ayah tiba-tiba. Kami semua kaget. Sekarang wajah ibu yang menjadi pucat pasi.

"Kenapa?" tanyaku kebingungan. Ayah menatapku. Tatapan matanya mampu menjawab pertanyaanku.

Para warga telah mengetahui bahwa Akito seorang vampire. Dan sekarang, aku yakin mereka pasti menuju kemari.

"Cepat! Kita tak a—...."

Kata-kata ayah terpotong oleh suara penduduk yang terdengar dikejauhan. Para warga itu sudah ada disini. Kami terlambat untuk lari.

Aku memperhatikan wajah ayah. Ia menjadi sangat pucat, tangannya gemetar. Aku yakin gemetar itu bukanlah ketakutan akan dibunuh, tapi kekhawatiran bahwa Akito akan menghilang dari hadapan kami.

"Hei, Haruka..." suara ibu mengagetkanku. Aku menatap sepasang mata hijau yang sayu. Ibuku yang lemah itu berusaha tersenyum.

"Bawa Akito pergi dari sini. Kami akan berusaha menghadang para penduduk." Ucap ibu dengan suaranya yang sangat lemah.

"Ta—Tapi...!" bantahku segera. Ibu lalu memelukku dengan erat.

"Kau adalah anak perempuan kebanggaan kami. Kumohon, lindungi adikmu. Itu sudah menjadi tugas seorang kakak bukan?" Bisikan ibu menyadarkanku. Benar, aku harus menjaga janji dan tugas yang telah diberikan padaku oleh orang-orang yang kukasihi.

"Baik... Aku mengerti..." jawabku pelan. Ibu mengusap kepalaku.

"Anak baik.... Tenang saja, kami pasti menyusul." Perkataan ibu membuatku terhanyut. Walupun aku tahu bahwa hal itu merupakan kebohongan yang manis. Aku lalu menarik tangan Akito, dan berlari keluar melalui pintu belakang. Meninggalkan kedua orang yang sangat kukasihi itu.

"Kenapa kau tidak ikut pergi?" tanya ayah pada ibu yang memeluknya dari belakang.

"Karena aku tahu, kau tidak akan bisa menyakiti manusia." jawab ibu pelan. Jawaban ibu itu, mampu mencairkan perasaan yang menyelimuti ayah.

"Tenang saja, Haruka ada di sisi Akito. Semua akan baik-baik saja disana." Tambahnya lagi. Kali ini pelukan ibu lebih erat.

"Dan disini ada aku, karena itu, kau pasti akan baik-baik saja." Ucapnya lagi. Ayah tersenyum. Ia menggenggam tangan ibu yang melingkar diperutnya.

"Iya... Lagipula gadis itu mempunyai sebagian kekuatan dari orang itu. Aku yakin sekali mereka akan baik-baik saja." Balas ayah lirih. Ibu ikut tersenyum.

"Hmm... dan ia juga berbagi hal yang sama." Ucap ibu. Sesaat suasana dalam keadaan hening, tapi suara pintu yang di dobrak memecah suasana. Mereka berdua bergandengan tangan, siap menempuh takdir mereka masing-masing.

"...hah...hah...hah..." aku menyandarkan tubuhku sejenak pada batang pohon besar disampingku. Si kecil yang tertidur di punggungku mulai tersadar.

"Kakak... Apa yang terjadi?" tanya anak lelaki kecil polos yang tak tahu apapun.

"Kita harus pergi...." jawabku masih terengah-engah. Sang bunga malam memunculkan wajahnya dari balik awan gelap, memperlihatkan sosok adikku dengan lebih jelas. Kulitnya yang putih terlihat pucat, tangan kecilnya gemetar, matanya yang seindah batu emerald itu mulai berubah perlahan menjadi warna yang tak pernah dimiliki manusia. Warna merah darah yang bersinar dalam kegelapan.

"Mana ayah dan ibu?" tanyanya lagi. Aku memalingkan wajahku. Takut. Kaget. Setiap kata yang ia katakan membuatku gemetar, karena ia memperlihatkan sepasang taring yang seakan siap untuk menusuk leherku yang berada tepat di bawah hidungnya.

"Mereka...." sebelum aku menjawab pertanyaannya, terdengar sayup-sayup suara dari kejauhan.

"Dimana?"

".....tahu...."

"...sana...."

"dia..."

Lebih dari 20 orang mengejar kami. Aku segera berdiri tegak dan melihat sekeliling. Takut, bila mereka sudah berhasil mengejar kami.

"Kita harus segera pergi, Aki!" Aku kembali memerintahkan kakiku untuk berlari sekuat tenaga. Aki yang tak tahu apa-apa itu hanya memeluk erat leherku. Wajahnya tertunduk. Pipinya yang dingin menempel pada pundakku. Sekali lagi aku ketakutan. Tapi sekali lagi kuyakinkan pada diriku, dia adalah adikku.

Kami berlari sekuat tenaga, tidak tahu tujuan, tidak tahu arah. Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana membawa Akito pergi dari tempat ini.

Percuma...

Aku tidak punya tenaga lagi. Aku menurunkan Akito dari punggungku. Kami berjalan perlahan keluar hutan. Tapi apa daya, kami ternyata menghampiri jurang yang dalam dan gelap. Kegelapan itu seakan bisa menelan kami.

"Itu dia...!" suara pria yang besar mendekat. Aku kaget dan berbalik. Kami ternyata sudah terkepung. Akito berlari memelukku. Ia ketakutan.

"Heh! Sudah tidak kuat lagi berlari nona?" kata salah seorang penduduk yang membawa linggis.

"Iblis harus mati!" teriak seseorang yang membawa obor ditangannya. Aku kaget setengah mati, saat mengetahui bahwa orang itu adalah paman Kyosaki.

"Mati!" teriak mereka lagi. Tidak... Mereka mendekat.

"Bakar!" Sekali lagi paman Kyosaki berbicara. Membuat semua orang menyerang kami.

Aku ditarik, terpisah dari Akito. "Tidak! Lepaskan! Akito...!"

"Kakak!" tangisan Akitolah yang satu-satunya terdengar ditelingaku. Seorang pria menggendongku dan mengikatku di pohon besar.

"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan...!" aku berteriak kesakitan. Ikatan yang begitu kencang membuat kulitku terluka. Darah mengalir dari sekujur tubuhku.

"Kakak!" Akito berteriak memanggilku. Aku harus melepaskan diri, Harus! Aku memberontak. Membuat mereka jengkel.

"Bakar!" Paman Kyosaki lalu menyulut api ke dahan dan ranting yang berada dibawah kakiku dengan obor ditangannya.

Mereka berniat membakarku hidup-hidup. Api mulai merambat ke kakiku. Rasa panas yang luar biasa menelan tubuhku. Aku berteriak dan berteriak. Tubuhku ingin memberontak, tapi ikatan ini begitu kencang. Semakin aku memberontak, semakin banyak darahku yang mengalir. Tubuhku sudah tidak bisa membedakan antara rasa sakit dan terbakar. Akito yang melihatku terlihat sangat shock.

Pertahanan Akito melemah. Ia sudah tak dapat lagi berfikir. Pemandangan yang ada didepannya terlalu sadis untuk anak berumur 5 tahun. Segel yang tersembunyi di dadanya bersinar. Harum darahku yang menetes dari sekujur tubuh, menggoda sebuah 'jiwa' yang tertidur di dalam tubuh yang kecil dan rapuh itu.

"Hei.... Akito....." sebuah suara yang gelap muncul dari dalam pikiran Akito.

"Kakakmu kesakitan tuh...." suara itu kali ini lebih jelas.

"Kau mau menolongnya?" suara iblis yang menggiurkan, menggoda Akito.

" KAKAK! KAKAK!" teriak Akito padaku lagi. Tapi kali ini suaranya terdengar jauh sekali bagiku. Api yang berada dibawah kakiku kini lebih besar. Mulai menelan kaki bagian bawah tubuhku.

"Kalau begitu panggilah aku.... Kau tahu namaku 'kan, Akito?" Akito yang sudah tak tahu lagi siapa yang harus ia andalkan akhirnya menyerah. Ia menunduk, mulutnya mengucapakan sesuatu. Sebuah nama. Tapi suaranya begitu kecil dan lirih. Aku sama sekali tak dapat mendengarnya.

Dalam sekejap ia diselimuti oleh cahaya yang indah. Seperti kunang-kunang raksasa yang berterbangan. Cahaya-cahaya itu menuju kearahku, mengelilingi api merah yang berkobar. Api itu padam perlahan, dan akhirnya mati seketika.

Kumanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan tali yang mengekangku dengan kalung permata milik ibu. Batu-batu permata yang tajam itu mampu memutus tali kekangan yang melukaiku.

Para penduduk terkesima dengan sihir yang dibuat oleh Akito. Mereka sama sekali tak sadar bahwa ikatanku telah terlepas. Aku berjalan perlahan kearah Akito. Darah segar masih menetes dari tubuhku.

Semakin aku mendekat, kekuatan Akito semakin besar. Wangi darahku menggoda 'jiwa' vampire Akito. Cahaya putih yang indah itu dalam sekejap berubah menjadi gumpalan hitam. Seperti tinta hitam yang berterbangan. Kekuatan Akito tak dapat terkontrol.

"......! Akito! Jangan....!"

Terlambat...

Titik-titik hitam itu membesar dalam waktu singkat menyelimuti seluruh tempat ini, seluruh hutan, dan seluruh desa. Dalam sekejap kegelapan yang pekat itu menelan semua yang ada di dalamnya.

"Aaaargghh!" teriakan para penduduk hanya bertahan selama 2 detik, setelah itu semua menjadi sunyi. Yang terdengar sekarang hanyalah suara air sungai yang mengalir tak jauh dari tempat kami berada.

Tak dapat kupercayai apa yang telah aku lihat. Seluruh tempat yang diselimuti kegelapan itu berubah. Hutan yang begitu rindang, lampu-lampu desa yang menyala begitu hangat, berubah seketika. Berubah menjadi hamparan tanah kosong. Kosong. Seperti memang tak pernah ada sesuatu pun disana.

"Orang yang mengganggu kebahagiaan kakak lebih baik menghilang," Bisik Akito perlahan. Lalu ia pingsan saat itu juga. Aku menangkapnya dengan kedua tanganku.

Benar, Akito telah membuat semuanya menghilang. Menghilangkan 'keberadaan' semua hal yang kegelapan itu telan. Termasuk keberadaan ayah dan ibu yang masih ada di dalam desa. Yang tersisa dari tempat itu hanyalah Akito, liontin, dan selembar foto yang tak pernah lepas dari tanganku.

S

S
S

Aku dan Zero berjalan dari rumah ke rumah mengantarkan pesanan obat yang diminta para pelanggan. Zero hanya diam dan mendengarkan ceritaku. Sama sekali tidak bertanya apa pun. Walupun aku tahu, pasti ada banyak pertanyaan dikepalanya.

"Hei..." panggil Zero. Tuh kan... Ia pasti bertanya. Aku tersenyum sendiri karena tebakanku benar.

"Hmm? Apa?" tanyaku padanya. Kami berhenti sejenak. Aku memperhatikan Zero, wajahnya terlihat serius. Ia seperti sedang berfikir.

"Kenapa adikmu menjadi seorang vampire?" tanya Zero sambil menatap mataku. Aku kaget mendengar pertanyaannya. Tak kusangka, Zero akan to the point seperti itu...

Aku tersenyum pahit. Kakiku kembali berjalan, memulai perjalanan yang barusan tertunda. Meninggalkan Zero yang masih diam pada tempatnya. Angin tiba-tiba berhembus kencang. Rambut hitamku menari dibelai oleh angin hangat musim semi. Aku menyentuh rambutku, menghalaunya menghalangi wajahku. Aku berbalik menghadap Zero.

"Itu akan menjadi cerita yang lain..."

S

S
S

Okay! Apakah kalian puas dengan fandom Farore? Farore udah bikin panjaaaaaaaang banget buat Chapter ini... huuuf... ternyata capek juga ya, tapi asyik sih.. hhehe

Chapter ini agak sedikit sadis, dan karena Farore baru pertama kali bikin yang seperti ini jadi agak mengkhawatirkan...^^

Disini semuanya Original Character dari Farore, kecuali Zero ama "beberapa orang" yang nanti bakal keluar. Jadi buat kalian yang masih baru ama Vampire Knight, ga masalah dalam membaca karya Farore ini... (Eh? Bener kan? Atau salah ya?)

Ada beberapa paragraf yang Farore ambil dari Chapter 1. Kenapa? Karena memang paragraf itu berasal dari cerita ini...

Tapi apakah kalian menikmatinya? Nanti di review ya... Kritik, saran dan kesan kalian akan selalu Farore tunggu..

Sampai disini dulu ya, dan terus dukung karya Farore, 'kay?

S

Sincerely,

Farore Rayzes