Exodus
By : Kim Saera
Rated : M
Genre : Eo... action(?) romance
Main Cast : Oh Sehun Xi Luhan
Other Cast : Find by yourself, haha.
Warning : GS / Typo(s) / Absurd / Don't like? Go away.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Sehun segera merapikan pakaiannya. Dia juga tidak mengerti kenapa dia ingin tampil begitu sempurna di hadapan Luhan. Sehun ingin memilikinya. Sebenarnya, rasa ingin memiliki itu sudah terasa saat Sehun pertama kali bertemu Luhan. Saat Luhan pertama menjadi mahasiswi di kampusnya.
Sehun mulai memata-matainya. Yang ia tahu, Luhan berumur 20. Dia orang China, tetapi masa kecilnya dihabiskan di Korea. Dia bahkan tahu password apartemen Luhan, 'hunnie'. Sehun pertama kali berpikir password-nya adalah nama pacar Luhan, tetapi dia meneliti, Luhan sama sekali tidak pernah punya pacar dan dia jarang berdekatan dengan laki-laki.
Sehun sampai di depan pintu apartemen Luhan. Sehun memakai setelan abu-abu dan dia malah tidak terlihat seperti anak kuliahan. Sehun mengetik password apartemen Luhan dan pintu terbuka. Samar-samar dia bisa mendengar suara wanita miliknya itu.
"Jadi? Kau tidak percaya padaku?" tanya suara seorang wanita.
"Aku percaya padamu. Tapi, biarkan waktu yang menjelaskannya." Itu suara Luhan.
"Jadi. Apa maksudmu dengan dongsaeng?"
Sehun bisa melihat Luhan menghela napas berat.
"Dia dongsaeng kesayanganku. Lucu. Aku bahkan sudah mencintainya sejak sepuluh tahun yang lalu."
Apa ini? Semua orang sama saja.
"Saat itu, Sehun kecil belum bersekolah. Dia diam-diam mengikutiku saat aku pergi ke sekolah. Sehun kecil-ku yang lucu, yang sangat menyukai bubble tea coklat, yang tidak bisa pergi dariku. Yang sangat polos."
Sehun? Itu, itu aku?
"Sehunku yang malang. Aku benar-benar tidak tahu dia mengikutiku saat itu. Saat itu, saat klakson dan rem mobil berdengung di pendengaranku. Dan saat aku menoleh, aku... aku.."
Apa ini? Apa maksud Luhan? Siapa Sehun-Sehun itu?
"Ini salahku. Aku bodoh."
"Bukan, Lu. Tenanglah." Hibur teman wanita Luhan.
"Sehun. Dia. Dia amnesia ringan. Dia benar-benar tidak mengenali aku setelah itu. Dia bahkan sudah melupakan minuman kesayangannya, bubble tea." Sehun bisa mendengar Luhan menangis pilu.
"Luhan, tenanglah."
"Aku hiks.. aku kembali ke Beijing setelah itu. Aku sama sekali tidak tahu kabarnya lagi. Aku kembali berkuliah disini. Aku beruntung bisa mendapatkannya lagi."
Tunggu, jadi maksudnya. Kalimat terakhir itu. Ah, ayolah. Ini masih terasa seperti puzzle bagiku. Apa aku harus memata-matainya lagi? Ah, tidak. Dia sudah milikku.
Sehun memejamkan matanya, seketika bayangan sekelebat mobil yang sibuk mengklakson dan mengerem mendadak itu terputar layaknya kilas balik di pikirannya. Anak kecil yang sedang menjilat lolipop-nya membuat Sehun bergidik.
Sehun memegang kepalanya yang sakit, terasa pusing. Gambaran itu terasa benar-benar nyata. Sehun butuh wine-nya. Sehun butuh minuman kesayangannya itu untuk menenangkan perasaannya yang begitu kalut.
"AHHHH..." Sehun merintih keras memegangi kepalanya.
"Sehun?" Luhan segera menghampirinya tetapi tetap menjaga jarak dengan Sehun.
Sehun menggapai lengan Luhan, "Kepalaku." Teriaknya. Luhan segera membawanya dan menidurkan Sehun di sofa, memberikan obat penenang.
Baekhyun yang melihat Sehun merasa takut, entah kenapa. "Lu, aku pergi dulu."
"Kemana?"
"Membeli sesuatu. Sebentar." Baekhyun segera berlari.
Sementara Luhan melihat Sehun yang tertidur karena efek obatnya. Ia tidak tahu efeknya begitu cepat. Luhan mengambil smartphone-nya, mencari sesuatu. Dan dia berhasil mendapat sebuah artikel. Dia terus membacanya sampai ia benar-benar takut. Kepercayaannya kepada Sehun hampir goyah. Tunggu, bukankah Sehun kemarin memperkosanya? Apakah alasan Sehun sewaktu itu hanyalah bohong? Kau juga terpesona padanya kan, Lu?
"INI. TIDAK. MUNGKIN." Luhan menyuarakan pikirannya.
"Apa yang tidak mungkin?" tanya Sehun tiba-tiba.
"Kau?" Luhan segera mengunci layar smartphone-nya dan menyembunyikannya di genggamannya. "Bukankah kau tertidur tadi?"
"Tidak." Jawab Sehun dingin.
"Sudah baikan?" Sehun mengangguk.
Luhan menelan ludah. Kau ingin bertanya padanya kan, Lu? Tanyakan saja. Luhan berkali-kali membuka dan menutup mulutnya. Dia bingung. Di satu sisi dia takut, di sisi lain dia begitu penasaran.
"Kau ingin bertanya sesuatu?" Sehun bertanya dan memperhatikan Luhan yang sibuk dengan pikirannya.
Luhan menghela napas. "Temanku baru saja mengirimkanku sebuah sms." Luhan berbohong. "Dia bertanya, 'Ada seorang anak mendapat hadiah bola dan sepatu saat natal, tapi anak itu malah kesal, menurutmu dia kenapa?' begitu pertanyaannya. Aku rasa anak itu seorang perempuan jadi dia tidak mau bola." Luhan menggaruk tengkuknya.
"Ani, kurasa dia cacat." Ucap Sehun santai.
Luhan membelalakkan mata. "Hah?"
"Dia merasa kesal karena mendapat hadiah bola dan sepatu, kenapa? karena dia tidak memiliki kaki." Jawabnya.
Luhan masih tidak puas. "Lalu temanku bertanya lagi, ini pertanyaan yang mudah kurasa, 'Suatu malam, kau melihat di bawah balkon apartemenmu ada seseorang yang sedang membunuh orang lain. Kau melihatnya lama, hingga akhirnya kau sadar orang itu juga sedang menatapmu. Dia mendekatkan jarinya ke tubuhnya dan berkomat-kamit, menurutmu apa yang sedang dia lakukan?'"
"Lalu jawabanmu."
"Orang itu menyuruhku diam, iya kan?"
Sehun tertawa, menyeramkan. "Dia sedang menghitung, Lu."
"Menghitung?" tanya Luhan bingung. Sehun mengangguk.
"Menghitung di lantai mana kau berada dan dia akan membunuhmu juga." Sehun yang menjawab seolah itu adalah pertanyaan mudah, membuat Luhan semakin takut. Apa benar Sehun adalah... tidak jangan dulu, Luhan. Kau harus membuktikannya. Pikiran Luhan setengah kalut.
"Kau punya teman banyak, Sehun?" tanya Luhan berusaha santai.
"Tentu saja. Kau tidak tahu betapa famous-nya aku?"
Luhan menganggukkan kepalanya. "Aku tahu. Kau berteman baik dengan mereka?"
"Sangat, Luhan. Sangat baik. Tapi mereka bisa kapan saja mencelakakanku, bukan? Teman baik tidak selamanya baik."
Bingo! Satu lagi sifat Sehun.
"Kau benar. Teman buruk juga tidak selamanya buruk." Luhan menormalkan degup jantungnya. Sekarang, Sehun benar-benar membuatnya takut.
"Tidak. Kau salah. Sekali buruk tetap buruk."
"Mereka bisa meminta maaf. Dan kita memaafkannya, selama kita bisa seperti itu, tidak ada hal buruk yang akan terjadi." Ucap Luhan tersenyum.
"Dalam kamusku, tidak pernah ada kata memaafkan." Sehun berhenti sejenak. "Siapa bilang hal buruk tidak akan terjadi? Mereka bisa saja diam-diam menyusun rencana busuk di belakangmu."
Luhan kaget. "Selama kau tidak berpikiran buruk tentang mereka, mereka tidak akan seburuk yang kau pikirkan."
"Kurasa 'buruk' terlibat dalam pembicaraan kita kali ini." Sehun bersmirk yang membuat Luhan setengah takut dan setengah terpesona. "Apa kau pikir aku seseorang yang buruk?"
Luhan diam.
"Lu?" Sehun bertanya tidak sabaran.
Luhan tetap diam, dia bingung dengan perasaan kalutnya.
"LUHAN! Aku bertanya padamu, bodoh!" Sehun berteriak keras dan membanting botol obat dan membuat isinya berceceran di lantai.
Luhan mendelik kaget. Ekspresinya terlihat terluka.
"Luhan, maaf. Maafkan aku. Maaf. Luhan?" Sehun berusaha menenangkan hati Luhan.
"Pulanglah, aku tak apa."
"Lu? Tidak."
"Pulanglah." Nada Luhan terlihat lelah.
"Tidak mau."
"PULANGLAH!" Luhan membentak Sehun tanpa sadar.
"Oke, hubungi aku saat kau merasa baik. Hati-hati." Sehun segera keluar dari apartemen Luhan.
Apa Luhan berpikir aku seseorang yang buruk? Apa sudah terlihat dari penampilanku? Apa penampilanku mencerminkan orang yang buruk? Sehun terus bertanya pada dirinya sendiri dalam perjalanan pulang.
.
.
.
.
.
Chanyeol yang berkali-kali memencet bel apartemen Luhan mendengus sebal. Dia berdiri di samping pintu apartemen Luhan sambil bersendekap.
"Kenapa tidak ada yang membukakan?" gerutunya.
Dia mengetuk pintu tidak sabar, memencet bel berulang-ulang. "Nuguseyo?" terdengar suara dari interkom. Suara itu terdengar seperti malas dan mengantuk.
"Bukakan pintunya. Aku Chanyeol."
"Chan-chan." Baekhyun segera melompat membukakan pintu untuk kekasih tercintanya itu.
"Kenapa lama sekali membukakan pintu?" Chanyeol mengumpat pelan.
"Kami tertidur. Lagipula ini sudah malam. Dan Luhan sedang bad mood." Chanyeol mengangguk seperti anak kecil. Baekhyun menyuruhnya duduk di sofa.
"Ya! Byun Baekhyun! Apa kau tidak memasak untuk makan malam, huh?" Teriakan menggelegar bergema di apartemen itu. Luhan dengan tatapan membunuhnya sedang membawa panci di tangannya.
Chanyeol menahan tawa.
"Kukira hari ini giliranmu, Xiaolu." Baekhyun berusaha bercanda. Dia segera melangkah ke dapur dan memasak.
"Aku sudah memasak kemarin, bodoh!" Luhan menoleh ke Chanyeol yang tengah menatapnya. "Kau!"
"Iya, Lu?" Chanyeol melembutkan suaranya membuat Luhan tertawa.
"Apa aku sebegitu menakutkannya? Hei. Ini aku, Xi Luhan. Bukan monster dan kalian tahu itu." Baekhyun yang mendengarnya hanya geleng-geleng.
"Hentikan kebiasaanmu memarahi semua orang saat mood-mu jelek, baby."
Luhan menghela napas. Duduk di sofa dan menyalakan televisi. Mengambil remote dan mengganti-ganti channel.
"Kenapa tayangan sekarang tidak ada yang bagus." Gerutu Luhan sambil terus mengganti channel.
"Kakak dari presiden direktur Oh, Oh Sena, ditemukan meninggal dengan kepalanya yang terpisah dari tubuhnya. Oh Sena ditemukan di garasi mansionnya, di Apgujeong Hills, oleh para maid-nya. Salah satu maid berkata kalau saat itu Oh Sena sedang menangis dan tidak ingin diganggu. Tubuhnya penuh luka bekas cipratan darah. Di kedua pipinya terdapat bekas tamparan. Polisi menduga ini adalah kasus pembunuhan. Dan polisi masih mengevakuasi tempat kejadian."
Luhan menatap layar televisi dengan alis berkerut. "Oh Sena?"
"Apa lagi ini?" Chanyeol segera menyambar jas-nya yang disampirkan di sofa dan segera keluar. Tapi Luhan mencekal tangannya.
"Apa maksudmu dengan apa lagi?" tanyanya dingin.
"Ah, tidak ada. Oh Sena hanya sepupuku." Chanyeol terlihat salah tingkah.
"Berarti Sehun sepupumu juga."
Chanyeol tersentak kaget. "Apa maksudmu, Lu?"
"Oh Sehun, adik dari Oh Sena. Aku benar kan?" Luhan hampir saja menangis mengetahui Oh Sena yang meninggal. Dulu, dia sangat dekat dengannya sampai Sena pindah ke Jepang.
Chanyeol mematung.
"Bawa aku kesana, Chanyeol."
"Tapi, Lu." Chanyeol terlihat bingung.
"Bawa aku kesana."
Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua, ikut angkat bicara. "Aku juga."
.
.
.
.
.
Tak lama kemudian, mereka disambut pemandangan ramai deretan mobil mewah diparkir dan orang-orang yang berjalan di sisi jalan dengan dress hitam maupun berjas lengkap. Chanyeol segera memakirkan mobilnya di tempat yang tidak terlalu ramai. Luhan berpikir Sena pasti orang yang sangat berpengaruh, melihat banyak pejabat, pengusaha, atau public figure lainnya yang memenuhi mansion-nya saat ini.
Mansion besar itu tengah diliputi suasana berkabung, langit pun mendung, seolah menangisi kepergian Sena. Luhan menoleh dan melihat Chanyeol juga membendung air mata. Luhan mencari Sehun, penglihatannya beredar menyapu seluruh sudut ruangan. Tidak ada. Sehun tidak ada.
Luhan berkeliling mansion besar itu, hingga akhirnya dia sampai di depan garasi. Garis polisi mengelilingi pintu garasi. Luhan melihat banyak polisi dan orang berjas coklat panjang.
"Sena-ya. Sena eodiga?" Luhan menoleh mendapati seorang wanita yang sedang berurai air mata.
"Kau siapa?" salah satu dari orang-orang berjas itu menghampirinya.
"Aku Yixing. Zhang Yixing, sahabat Sena." Oh, jadi namanya Yixing.
"Bisa ikut aku sebentar, nona?" ajak orang itu. "Panggil saja aku Chen."
"Untuk apa?" tanya Yixing pada Chen. "Disini saja, aku takut."
"Oh, kalau begitu." Chen terlihat mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Benda itu di dalam plastik. "Apa ini punyamu?"
"Omo, demi langit dan bumi. Itu kalung dari brand ternama Donna Karan dan edisinya benar-benar limited."
"Aku hanya bertanya dan kau tidak perlu menjelaskannya, nona." Chen terlihat kesal.
"Barang-barang limited seperti itu aku tidak pernah punya." Seru Yixing.
"Baiklah, apa kau baru bertemu Sena?" tanya Chen.
"Kami bertemu tadi siang, sebenarnya kami ingin hangout, tapi teman kami yang satu sibuk berbelanja dan- tunggu, apa kau mencurigaiku?" Yixing bertanya kesal.
Chen tersenyum. "Tidak, hanya saja namamu dalam daftar orang-orang yang bertemu dengan korban."
"Apa hanya aku saja?" tanya Yixing.
"Tidak." Chen membuka-buka buku sakunya. "Ada kau, Zitao, supir taksi yang sudah diketahui platnya, Oh Sehun, dan sudah."
"Oh Sehun?" Luhan yang tadinya mendengarkan ikut bertanya.
"Ya. Dan kau siapa? Kau Zitao?" Chen memeriksa penampilan Luhan dari atas ke bawah.
"Zitao tidak mungkin semanis dia. Dia memang anggun, tetapi wajahnya begitu angkuh." Jawab Yixing kesal, mengingat kelakuan Zitao tadi.
"Kau siapa?" tanya Chen.
"Xi Luhan imnida, tema-ani aku pacarnya Oh Sehun." Suara Luhan sedikit bergetar saat mengatakan dia pacar Sehun.
"Kau kenal Oh Sena?" Chen bertanya tidak sabaran.
"Kami berdua sangat dekat hingga akhirnya Sena eonni pindah ke Jepang." Luhan bercerita.
"Oke. Kalian berdua. Ikut aku ke kantor polisi."
"Wae? Ya! Apa maksudmu? Aku alergi kantor polisi." - Yixing.
"Terserahmu saja." - Luhan.
"Cepat." - Chen. Sambil menambahkan satu daftar tersangkanya. "Tunggu, berapa usiamu nona?" tanya Chen pada Luhan.
"Aku? 20 tahun."
KASUS : PEMBUNUHAN DI GARASI
KORBAN :
OH SENA (22 TAHUN) = DICEKIK MENGGUNAKAN KALUNG SEHINGGA KEPALANYA TERPISAH DARI TUBUHNYA. SEDANG FRUSTASI DAN MENANGIS MENGETAHUI PACARNYA YANG SUDAH BERTUNANGAN.
BARANG BUKTI :
KALUNG DONNA KARAN EDISI LIMITED DAN HANYA ADA DUA PASANG DI SELURUH DUNIA.
EMPAT LEMBAR FOTO.
TERSANGKA :
ZHANG YIXING (22 TAHUN) = SAHABAT OH SENA, BARU SAJA BERTEMU PUKUL 13.00.
HUANG ZITAO (18 TAHUN) = TUNANGAN PACAR OH SENA, BERKATA-KATA KASAR DAN MENGUMPAT PADA KORBAN.
SUPIR TAKSI (39 TAHUN) = MEMBAWA KORBAN PULANG KE MANSION-NYA. SEMPAT MENENANGKAN KORBAN YANG MENANGIS.
OH SEHUN (18 TAHUN) = ADIK KANDUNG KORBAN.
XI LUHAN (20 TAHUN) = PACAR DARI OH SEHUN. SANGAT DEKAT DENGAN OH SENA SEBELUM DIA PINDAH KE JEPANG.
.
.
.
.
.
PYUNGAN DISTRIC (POLICE OFFICE)
Chen membawa dua orang wanita tadi kedalam ruang interogasi. Ternyata, disana sudah ada para tersangka yang lain. Mereka segera duduk melingkar di depan meja bundar. Chen angkat bicara.
"Diantara kalian, siapa yang membunuh Oh Sena?" tanyanya to the point.
"Aku tidak membunuhnya." Ujar mereka berlima bersamaan.
Chen tersenyum penuh misteri. "Kalau begitu, sebutkan alibi kalian masing-masing." Zitao baru saja membuka mulut, tapi Chen mendahuluinya. "Korban diperkirakan meninggal pukul enam sore. Dia ditemukan pukul tujuh malam. Apa artinya? Sebutkan alibi kalian mulai jam lima hingga jam tujuh."
"Aku menjahit sarung tangan couple untukku dan calon suamiku." - Yixing.
"Aku mengantarkan putriku membeli kelinci." - Supir taksi.
"Aku tidur dengan sahabatku di apartemen." - Luhan.
"Aku membeli banyak barang dari brand ternama." - Zitao.
"Aku menandatangani kontrak dengan banyak perusahaan kecil." - Sehun.
Chen tetap dengan senyumnya yang sekarang sedikit sinis. "Nona Zitao, barang apa saja yang kau beli?"
Zitao mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat. "Dua tas gucci, sepatu mady jane, parfum chanel aroma mawar, dan beberapa pakaian wanita victoria secret."
"Apa kau juga membeli kalung?" tanya Chen.
"Tidak.. tidak. Perhiasan membuatku gatal." Zitao mengibas-ibaskan tangannnya.
Seseorang menghampiri Chen, "Kami sudah menemukannya!" katanya.
"Kalian tetap disini!" perintah Chen sambil berjalan menutup pintu.
Semuanya menggerutu, kecuali Luhan dan Sehun. Yang sedari tadi saling berpandangan satu sama lain. Luhan tetap saja tidak bisa mengartikan pandangan Sehun.
Sementara.
Chen duduk di depan komputer yang ditunjukkan Myungsoo tadi. "Pemilik kalung ini adalah Nyonya Livesten, Inggris. Nyonya Klise, Belanda. Dan dua diantaranya semuanya milik Oh Sena."
Yang benar saja.
Myungsoo mencoba berpikir, dia adalah detektif anak didik Chen. "Hyung, kurasa petunjuknya bukan di kalungnya." Chen mengerutkan alis. "Coba periksa fotonya."
Chen mengedikkan jarinya, "Mungkin saja kalung itu hanyalah pengalih perhatian. Coba kau periksa. Aku melanjutkan dengan mereka." Chen menunjuk ke arah ruang interogasi.
"Baik, Hyung!" Myungsoo segera duduk dan mengamati keempat foto bergantian. Chen menghampiri ruang interogasi.
"Baiklah, kawan. Kalian boleh pulang, tetap datang saat aku memanggil." Perintah Chen.
"Kalau tidak mau?" Yixing melayangkan tatapan sinisnya pada Chen.
"Kau dinyatakan bersalah, nona." Ucap Chen sambil melihat tangan Luhan yang mengelus dadanya, memperlihatkan sebuah benda berkilauan.
"Bingo!" Chen menarik blus Luhan dan Sehun memukul kepalanya.
"Apa yang kau lakukan dengan pacarku?" Sehun bertanya dingin.
"Aku hanya ingin melihat kalungnya." Chen berteriak keras membuat semua menoleh ke arah Luhan.
"Kalung?" tanya Zitao.
"Keluarkan!" perintah Chen.
Luhan mengeluarkan kalungnya dan Chen mengeluarkan plastik barang buktinya.
"Sama. Persis." Ujar Yixing.
"Kau pembunuhnya, nona?" tanya si supir taksi.
Luhan hanya mematung. "Bukan aku." Dia hampir menangis.
"Kenapa kalian berpikir Luhan pembunuhnya?" - Sehun.
"Jelas-jelas dia punya kalung yang sama dengan Sena sialan itu." - Zitao.
"Dan dia harus membayar karena membawaku ke tempat ini." - Yixing.
"Tidak, tunggu! Darimana kau mendapatkannya?" - Chen.
Luhan membelalakkan mata. "Aku.. ini dari.." Dia sedikit takut. "Oh Sena."
.
.
.
TBC/END
A/N :
Annyeong. Update cepet nih. Soalnya bentar lagi UN *alesan*. Tapi serius loh, habis ini gadget diambil ortu.
BIG THANKS yang kemaren udah review. Buat balesan review, Saera gabung aja yaa.
.
.
SehunYeojachingu, .58, OhdhiHanni, ohsiyeon94, Guest, lisnana1, Hohoho61, levy95, , .7, Kuneko Shryunggi, niasw3ty, berbies, kimsungra99, ruixi1, : Udah dilanjut kan, bener-bener fast update, hehe. Thanks yaa..;)
SFA30 : Hehe. Ditunggu aja;)
Rly. : Lulu beneran suka ma Sehun kok. Iya Sehun pembunuh. Soalnya dia kena sindrom.
mellamolla : nunggu ya? ntar ada full nc, kok. hehe;)
rikha-chan : iya, kasihan banget ya. *elap ingus*
luhannieka : itu maksudnya yang lebih tampan kris, hehe..
Oh Juna93 : ada kok, tungguin aja;D
Kiran Melodi : Sena kakaknya Sehun. udah ada kan di chap ini?
SyiSehun : Dia kena sindrom.
Macaron Tequilla : boleh-boleh *nopang dagu* soalnya, artinya 'kepergian banyak orang'. kan banyak yg pergi disini;)
snowless : haha, makasih.
ChagiLu : iya. hmmm... gimana ya. baca terus ya *bbuing-bbuing*
tiehanhun9094 : beneran deh kayaknya, eh gatau lagi, sih *senyum misteri*
PutryManja : Udah lanjut. gimana yaa...
DBSJYJ : Semangat! Makasih udah review.
.
Makasih banyak yang udah review, jadi terharu *alay*.
Oke, see you next chap yaa. Semoga penasaran, hehe;))
Annyeong. *kabur bareng Sehun*
