Disclaimer : I only own the story

ALWAYS DELIVERED

CHAPTER 3

Naruto dan Hinata mulai melangkah meninggalkan bangunan tempat mereka bermalam dan menemukan bayi. Matahari yang bersinar cerah pagi ini membantu memberikan penerangan dalam hutan yang lebat itu. Naruto melangkah di depan mendahului Hinata yang sedang menggendong sang bayi.

Setelah satu jam berjalan,

"Na-Naruto-kun, kita istirahat sebentar ya, aku capek." ucap Hinata sambil mendudukkan dirinya di bawah pohon yang berukuran lumayan besar. Kemudian meletakkan sang bayi di atas rerumputan tepat di sebelah dirinya.

"Ah..kau capek ya Hinata, baiklah kita istirahat dulu ya." jawab Naruto sambil membalikkan badannya untuk menghadap Hinata.

Tetapi sial (atau untung) bagi Naruto, karena tidak memperhatikan jalan di depannya saat menoleh cepat, kakinya kanannya menginjak tali sepatu kaki kiri yang terlepas daaannn...

SREEEEKKKKKKKKKKKHHH

Naruto kepleset dan terjatuh.

"Ittaii..."

Bukan, itu bukan suara Naruto, melainkan rintihan lembut milik sang gadis Hyuga. Kenapa pula Hinata yang merintih padahal Naruto yang jatuh?
Jadi ternyata sodara-sodara, Naruto terjatuh menimpa Hinata dengan posisi menindihnya (yahh cerita klasik XD).

Kelopak mata sang Hyuga perlahan membuka, menampakkan manik amethyst nya. Dan apa yang terjadi kemudian, pastilah kita semua tahu. Mereka tidak beranjak dari posisi "Aduhai" tersebut saking syok nya. Manik safir menatap terkejut manik amethyst yang memiliki ekspresi sama. Lambat namun pasti, si safir telah terlena dan terjatuh dalam pesona amethyst. Perlahan wajah Naruto merendah, matanya menurunkan penglihatan ke bibir mungil merekah. Hinata yang ketakutan malah menggigit bibir bawahnya. Tentu saja langkah yang salah, karena itu justru membuat Naruto mulai memejamkan matanya, memajukan bibirnya berharap dapat menyesap rasa dari bibir mungil nan menggoda di hadapannya..

Maju...

Semakin maju...

"mmmmmmmhhh..." desah Naruto saat sudah merasa bahwa bibirnya melakukan pendaratan dengan selamat.

'ngg... kok dingin dan keras ya? Bukannya Sasuke bilang bibir perempuan itu lembut dan manis?' Naruto menggumam dalam hati. Ya, Naruto belum pernah mencium bibir perempuan, kalau bibir laki-laki sih sudah pernah dulu saat awal masuk SMP, mencium bibir sahabatnya, si Sasuke karena kecelakaan tentu saja (Jangan suudzon dulu bilang mereka maho XD).

Karena penasaran, dia membuka matanya cepat dan terkejut plus kecewa saat mengetahui bahwa yang diciumnya tadi bukan bibir melainkan sebuah batu kecil.

"Ka-kau mau ap-apa Na-ruto-kun?" tanya Hinata. Wajahnya sudah merah padam. Tangannya yang menggenggam batu kecil – yang tadi dicium Naruto- di depan wajahnya, gemetar hebat.

"Ah..ah maaf Hinata. Hehehe.." jawab Naruto. Seketika dia menarik tubuhnya dari tubuh Hinata dan berdiri.

"Ayo.. kubantu berdiri." Naruto mengulurkan tangannya ke arah Hinata yang masih belum bangkit juga dari kubur-eh dari posisinya.

"Ti-tidak usah, a-aku bisa sen-sendiri kok." jawab Hinata sambil cepat berdiri, wajahnya yang masih merah padam semakin menunduk, hingga poni rata menutupnya.

Naruto merasa bersalah karena telah lancang, hampir mencium Hinata. Yaa salahkan tali sepatunya yang membuat Naruto terpeleset, salahkan Hinata yang menggigit bibirnya yang merekah sehingga terlihat semakin menggoda, salahkan sifatnya yang mesum, salahkan kakeknya yang meracuni pikirannya dengan hal berbau mesum, salahkan Sasuke, Sai dan Kiba, teman-teman yang membuat sifat mesumnya semakin terasah. Salahkan...

Ng...

Ini lama-lama kok malah nyari kambing hitam ya. Salah ma salah aja Naruto, ngaku aja sih.

Trus kalo situ ngemeng mulu, kapan ceritanya dilanjut author?

OK back to story

"Hinata.. maafkan aku ya, maaf aku melakukannya tanpa sadar, refleks tadi, habisnya bibir Hinata kelihatan menggoda sih, kayanya manis gitu..EHHHH?"

Dan Naruto malah memperburuk suasana dengan racauannya itu.

"A..ano..gomen Hinata.." ucap Naruto sendu, berharap Hinata memaafkannya. Yah kalo Hinata maafin kan dia bisa lanjut PDKT trus berhasil trus jadian trus bisa dapet ciumannya juga. Ehehehehe... nah, mulai lagi kan?

"Hi.." belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya,

"UWEEEKKKKK" sang bayi yang terlupakan, menangis, memohon perhatian kedua remaja yang tengah dirundung suasana tidak enak.

Hinata segera berlari menghampiri si bayi, menggendongnya dan menimang-nimangnya.

"Na-ruto-kun, sepertinya Tatsu-chan la-lapar" kata Hinata.

"Hah? Tatsu-chan siapa Hinata?"

Hinata sweatdrop seketika.

"Ba-bayi ini kan n-namanya Tatsu, Naruto-kun"

"Ohh..jadi Hinata sudah memberikan nama buat bayi itu ya? Wah nama yang manis, Hinata pasti jadi kaa-chan yang baik." Naruto cengar cengir gaje.

"KAN ADA DI TULISAN YANG DITINGGALKAN DI KERANJANG BAYI INI, NARUTO-KUUUNNN" saking gregetannya Hinata sampai lupa kalau dia gagap XD.

Naruto seketika mengkeret. Bagaimana tidak? Hinata yang biasanya lemah lembut dan anggun tetiba saja mengingatkannya pada kaa-channya, plus rambut panjang yang berkibar kemana-mana itu. Bedanya Cuma warna rambut kaa-channya yang merah sedangkan rambut Hinata berwarna indigo.

Menyadari hal itu, Hinata segera sadar.

"Ma-maafkan a-aku Na-naruto-kun. A-Aku ti-tidak bermak-sud membentak." Ujar Hinata sambil ber ojigi.

Naruto berdehem untuk menetralisir ketakutannya, kemudian berucap

"I-iya Hinata, kaget tau! Nggak nyangka Hinata bisa serem gitu."

"E-eh i-iya, habis Naruto-kun ba-baka sih." Gumam Hinata.

"Hah? Kenapa Hinata?"

"Eh.. e-enggak apa-apa. Naruto-kun masih a-ada mi-minum?"

Naruto menjulurkan tangannya ke ransel di belakangnya. Mengambil botol minumannya.

"Masih ada sedikit ini Hinata, cukup nggak?"

"Ti-tidak apa, untuk seka-rang sa-saja. Ta-tapi kita harus se-segera ke-keluar dari si-sini Na-naruto-kun"

"Sipp baiklah.. Setelah istirahat cukup, kita lanjutkan lagi perjalanan."

Sementara itu

Rombongan tim pencari NaruHina (ini author sendiri yang ngarang) sampai di bangunan tua tempat NaruHina bermalam sebelumnya.

"Mereka sempat singgah di sini sensei, bahkan ada aroma lain juga selain Naruto dan Hinata." Ucap Kiba.

"Darimana kau tahu itu Kiba? Apa Akamaru mengatakannya padamu?" tanya Neji penasaran.

"Tanpa Akamaru bilang pun aku juga tahu." Jawab Kiba.

"Apa kau lupa Neji, Kiba kan punya indra penciuman yang tajam, mirip anjing, makanya kadang kupanggil Anjing." Sahut Sai dengan polosnya.

"Heh! Sialan lu Mayat, ngatain gue anjing!" jawab Kiba merasa tak terima. Akamaru yang mendengarnya menyalak, mungkin merasa tersindir dan membatin 'segitu buruknya ya anjing? Justru kami lebih loyal dan setia daripada manusia yang bahkan kadang suka menusuk teman sendiri'. OK yang barusan itu author ngarang.

"Sudah kalian! Jadi ke arah mana lagi kita harus mengikuti jejak mereka?" lerai Kakashi.

Sejenak berdiskusi, rombongan melanjutkan pencariannya dengan Akamaru memimpin di depan. Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar petir menggelegar, dan tanpa permisi hujan turun dengan derasnya. Rombongan tentu saja kalangkabut.

"Aduh.. bagaimana ini sensei?" tanya Sakura.

"Kita berteduh dulu ya." Sahut Sasuke.

"Kyaa rambutku basah.. padahal baru saja dikeringin." Tenten berteriak gaje.

"Kyaa bedakku lunturrr." Nah yang ini tentu saja Ino si Ratu Kecantikan.

Dan keluhan tidak penting lainnya. Kakashi hanya bisa menghela nafas kasar dengan kelakuan murid-muridnya.

"Baiklah.. kita terpaksa kembali ke bangunan tua tadi karena lebih dekat daripada kita mencari tempat berteduh yang lain." Perintah Kakashi.

"Haaaaiiiii" jawab murid-muridnya kompak.

Bagaimana kah hasil pencarian mereka dan bagaimana kelanjutan nasib Naruto, Hinata dan Tatsu?
Pantengin terus yaa.. hee

Mohon reviewnya ya, kritik, saran atau flame juga boleh. Asalkan ada alasan logis ya. Jaa ne