Jessica mencoba bicara, tapi hanya suara erangan yang terdengar dari tenggorokannya, dia terbatuk dan seketika itu juga darah segar menyembur dari mulutnya, menyembur tanpa henti, menyakitkan sekali… Sampai kemudian telinganya mulai berdenging, Jessica mencoba menatap Chanyeol, mempertahankan kesadarannya, lelaki itu masih berdiri di sana, tersenyum manis, mengucapkan "adios" -selamat tinggal- dengan lembut… Tetapi kemudian kegelapan itu mulai melingkupinya, menariknya ke dalam pusaran tak tertahankan… Dan benar kata Chanyeol tadi, semuanya hilang… Semuanya lenyap…

.

.

...

From The Darkest Side

Remake from Santhy Agatha Novel's

Main Cast: Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Genre: Romance, Thriller, Hurt

Word Count : 7.107 Words

Rating: M [For Blood, Sex Scene etc]

Copyright; Story Belong to Adorable Author, Santhy Agatha. Tapi DILARANG KERAS untuk mengopy hasil remake aku tanpa sepengetahuanku~

Warning! BOY X BOY, YAOI!

...

..

A/N : Big Thanks untuk semuaa readers yang udh mau repot2 follow+fav+review buat ff remake abal-abal ini:) di chapter ini masa lalu Chanyeol dan Chanlie mulai terungkap but masih banyak hal rahasia lainnya~ Jangan Lupa Review di chapter ini! Kalo aku da typo atau bahasa yg kurang enak silahkan dituang direview yaa! Jangan lupa jelasin typo-nya itu ada di scene yg mana'-' Ada kejutan menanti di chapter depan so, review juseyong :^

...

..

.

Pagi itu diawali dengan teriakan histeris seorang pelayan, dan kemudian semuanya berjalan dengan begitu membingungkan bagi Baekhyun.

Dia terbangun karena teriakan itu, dan langsung keluar kamar, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Di pintu, dia berpapasan dengan Chanyeol yang sepertinya terbangun juga oleh jeritan itu, bersama-sama dengan beberapa pelayan lain mereka melangkah ke arah jeritan dan keributan yang mulai terdengar,

"Apa-apaan ini?" Chanyeol melangkah di depan Baekhyun, jelas sekali jengkel dengan keributan yang mengganggu tidurnya. Lalu di ujung tangga langkahnya mendadak terhenti hingga Baekhyun menabrak punggungnya, "Oh Tuhan! Tidak…" Chanyeol berusaha mencegah Baekhyun menengok, "Jangan lihat."

Tapi Baekhyun sudah terlanjur melihat, ...di bawah sana, di ujung paling bawah tangga, ibunya terlentang dengan posisi aneh. Tangan dan kakinya patah, mencuat ke arah yang berlawanan, darah menggenang di belakang kepalanya, di mulutnya, di wajahnya, di dagunya hingga membasahi gaun tidur putihnya….. dan matanya melotot…. Penuh dengan ketakutan…

Tubuh Baekhyun langsung lunglai, hingga Chanyeol harus menopangnya.

"Telepon polisi." Baekhyun lamat-lamat mendengar suara Chanyeol memberi perintah kepada beberapa pelayan yang mulai berkerumun, "Panggil dokter!", perintah Chanyeol lagi… lalu kemudian kesadaran Baekhyun menghilang.

.

Baekhyun terbangun di kamarnya, dengan dokter membungkuk di atasnya, memeriksanya, tampak lega ketika melihat dia sadar,

"Dia sudah sadar Tuan Chanyeol".

Lalu Chanyeol mendekat, tampak pucat dan cemas,

"Kau tidak apa-apa?" kecemasan tampak jelas di matanya, emosi pertama yang dilihat Baekhyun dari Chanyeol sejak perkenalan pertama mereka. "Jessica…." suara Baekhyun menghilang.

Chanyeol menggenggam kedua tangan Baekhyun, tampak sedih, "Aku menyesal Baekhyun, aku sangat sangat menyesal….. Aku tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, polisi ada di bawah… dan menurut mereka Jessica terpeleset di tangga, mungkin dia mengantuk….. aku…..", suara Chanyeol tampak tertelan, "Aku…. menyesal Baekhyun,"

Baekhyun mengamati kesedihan di mata Chanyeol dan air mata mengalir di matanya.

Ibunya telah tiada. Seberapapun buruknya hubungan mereka berdua, Jessica tetap ibunya, dan Baekhyun masih selalu menyimpan harapan kalau suatu saat nanti ibunya akan mencintainya. Sekarang Jessica telah tiada, dan harapan Baekhyun seolah-olah dipadamkan dengan kejam.

Tangis Baekhyun muncul, semula hanya isakan pelan, tapi makin lama makin keras tak tertahankan, dan Chanyeol langsung memeluknya menenangkannya. Mereka berdua berpelukan dalam kesedihan

.

Chanyeol melangkah memasuki kamarnya, letih. Baekhyun sudah tidur, dokter terpaksa memberikan obat penenang karena Baekhyun tidak henti-hentinya mengeluarkan airmata dengan tatapan kosong.

Polisi sudah membawa jenazah Jessica ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Para pelayan langsung bergerak cepat dengan instruksi Leeteuk, karpet yang penuh darah langsung diganti dan disimpan bersama barang-barang lain yang diminta, untuk diserahkan kepada pihak kepolisian. Selain itu semuanya di bersihkan, barang-barang Jessica yang masih tersimpan di kamarnya dibereskan dan dikemas dalam satu kotak. Dalam sekejap rumah itu sudah tampak seperti semula, seolah-olah tidak ada yang mati beberapa saat lalu di sana.

Sedikit masalah dengan wartawan, Chanyeol mengernyit. Mereka langsung berbondong-bondong mencoba mencari berita, seperti semut merubungi gula. Tapi pengamanan rumahnya yang ketat menyebabkan wartawan-wartawan itu hanya tertahan sampai pintu gerbang. Chanyeol hanya mengizinkan wartawan yang memperoleh kualifikasi dari kepolisian untuk meliput TKP.

Sekarang Chanyeol berdiri di depan cermin mengamati wajahnya dengan tajam.

Sosok di cermin itu tersenyum kejam, sedikit mengejek, sosok Chanlie "Bravo…. Akting yang sangat hebat Chanyeol." gumamnya lambat-lambat penuh tawa.

"Brengsek!" Chanyeol memaki, tidak bisa menahan kemarahannya.

Chanlie terkekeh, tidak mau repot-repot menyembunyikan kepuasannya, "Jangan marah padaku, bukankah aku menolongmu? Kau kan tahu sendiri, kemarin Jessica melihat album foto yang penuh berisi foto-foto Baekhyun sejak dia berusia delapan tahun sampai sekarang"

"Kau tidak perlu membunuhnya! " desis Chanyeol geram.

Chanlie mengangkat bahu, "Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membungkam mulutnya? Kalau dia mencari tahu sedikit lebih dalam lagi, dia akan menemukan semuanya….. maksudku, semuanya Chanyeol… Termasuk apa yang kita lakukan pada kakek dan nenek Baekhyun, dan kau pikir apa yang akan terjadi kalau Baekhyun sampai tahu? Aku melepaskanmu dari kesulitan dengan mengambil jalan termudah, kau harusnya berterimakasih padaku." gumam Chanlie sombong.

Chanyeol menatap geram pada bayangan di depannya, "Ralat kata-katamu! Kau bilang 'Apa yang kita lakukan pada kakek dan nenek Baekhyun? , Kau yang melakukannya! Kau dengan kegilaanmu yang tak berperikemanusiaan, dan jangan bertingkah seolah-olah kau menyelamatkanku! Kau hanya mencoba menyelamatkan dirimu sendiri!"

Senyum Chanlie tak pudar juga meski dibentak seperti itu, malah semakin lebar, "Menyelamatkan kita berdua, ingat itu Chanyeol, kita berdua...", gumamnya puas, membuat Chanyeol kehabisan kata-kata. "...Aku tidak berniat melakukan itu kepada kakek Baekhyun, tetapi dia mulai menyadari tentang kita dan hendak membawa Baekhyun menjauh. Jadi aku harus menyingkirkannya.. mengenai nenek Baekhyun.. dia terlalu ingin tahu, seperti Jessica, mencari-cari informasi mengenai kematian suaminya. Aku harus bertindak. Memangnya kau punya cara lain?"

Chanyeol terdiam mendengar pertanyaan Chanlie, membuat tawa Chanlie makin keras. "...Lihat kan? kau tidak bisa membantah… seharusnya kau berterimakasih padaku," Chanlie terdiam menunggu.

Tapi Chanyeol tak bergeming sehingga Chanlie terkekeh lagi, "Ah, percuma mengharapkan terimakasih darimu," tatapan Chanlie berubah tajam ketika dia mulai berpikir, "Sekarang tanpa adanya Jessica, segalanya akan lebih mudah untuk mendapatkan milikku."

"Dia bukan milikmu!", potong Chanyeol marah.

Chanlie menatap Chanyeol penuh perhitungan, lalu tersenyum, "Cemburu Chanyeol? Kau juga menginginkannya kan? Aku tahu itu, tak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, aku bisa merasakannya, perasaan ingin memiliki ketika kau menatap Baekhyun dari kejauhan….. " tawa Chanlie membahana di ruangan itu. "Kita lihat saja nanti, akan jatuh cinta kepada siapa Baekhyun, kepadamu dengan kekakuanmu yang membosankan itu, atau kepadaku dengan segala pesonaku."

Ucapan itu bagai sebuah janji, menggema dari sudut yang gelap, janji yang menakutkan…..

.

Ketika Baekhyun terbangun, rasanya masih seperti mimpi, dia mandi, berpakaian dan berjalan seperti robot, mengernyit ketika menyadari bahwa tasnya memang benar-benar tidak ada. Dia harus pergi dari rumah ini.. segera. Selain karena dia sudah tidak sepantasnya berada di rumah ini lagi, kenangan itu…. Kenangan akan tubuh Jessica yang tergeletak di bawah tangga dengan mata menyiratkan ketakutan yang amat sangat itu…..

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikirannya yang mulai melantur jauh. Suara gaduh di luar membuatnya tertarik, dia melangkah ke pintu dan mengintip, para pelayan tampak sibuk kesana kemari.

"Kau sudah bisa bangun rupanya."

Suara itu membuat Baekhyun terlonjak kaget, dia menoleh, dan di sana, sambil bersandar di dinding lorong, dengan pakaiannya yang hitam-hitam, Chanyeol berdiri dengan menatapnya geli.

Baekhyun menghembuskan nafas panjang, ah astaga, sepertinya laki-laki ini memang sangat suka membuatnya terkejut.

"Oh… iya… saya…"

"Hari ini pemakaman Jessica, karena wartawan ada banyak sekali di sana, aku sarankan kau tidak usah hadir, semua sudah diurus," sela Chanyeol seolah tak tertarik dengan kata-kata Baekhyun.

Baekhyun menelan ludah, kenapa lelaki ini tampak begitu dingin? Bukankah Jessica adalah calon istrinya? Setidaknya bukankah seharusnya ada setitik perasaan sedih yang tersirat di sana?

"Saya eh… sedang berpikir untuk segera pergi dari rumah ini." guman Baekhyun lemah, entah kenapa kehadiran Chanyeol yang hanya berdiri di sana terasa begitu mengintimidasi. "Kenapa?" alis Chanyeol tampak mengernyit

."Karena saya sudah tidak sepantasnya tinggal disini, lagipula, saya memang tidak berencana pergi terlalu lama…."

"Tidak." Suara Chanyeol berubah, kelam dan gelap. Ekspresi wajahnya pun berubah, seolaholah orang lain yang berdiri di situ. "Apa?" Baekhyun mengamati wajah Chanyeol, tiba-tiba merasa takut entah kenapa. "Kau tidak boleh pergi dari rumah ini." Lelaki itu melangkah maju dengan pandangan mengancam.

Baekhyun melangkah mundur, menjilat bibir bawahnya dengan gerakan refleks, "Kenapa?"

"Karena..." Lelaki itu mengerutkan keningnya, tampak berpikir, "Para wartawan masih berkeliaran mengawasi rumah ini, mereka akan memangsamu seperti piranha mengerubuti mangsanya kalau mereka tahu tentangmu."

Baekhyun mengerutkan keningnya, merasa ganjil. "Tetapi... mereka tidak tahu tentang saya, saya akan menyelinap diam-diam di malam hari, mereka mungkin akan mengira saya salah satu pelayan di rumah ini."

"Jangan merendahkan dirimu." Chanyeol mengerutkan keningnya, tak suka ketika Baekhyun menyamakan dirinya sebagai pelayan, "Ibumu sudah tidak ada, jadi tidak akan ada yang bisa merendahkan dirimu lagi. Aku sudah memastikannya."

Baekhyun menatap Chanyeol, dan mengerutkan keningnya lagi. Lelaki itu tampak berbeda, dia tampak menakutkan. Dan dia mirip dengan laki-laki dalam mimpinya... laki-laki yang mengatakan bahwa namanya adalah Chanlie...

Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti Baekhyun, dan Chanyeol tampaknya mengetahuinya, entah kenapa lelaki itu tampaknya bisa mengendus ketakutan dalam diri Baekhyun.

"Kenapa Baekhyun?" ada senyum di situ, senyum yang lembut, tetapi tampak menakutkan, "Kenapa wajahmu pucat? Kau teringat sesuatu?" Lelaki itu melangkah maju, mulai mendekat. Derap langkahnya begitu menegangkan. "Tidak... tidak. Saya hanya sedikit pusing." Itu memang benar. Semua hal ini membuat kepalanya pusing.

"Karena itulah kau tidak boleh pergi dari rumah ini dulu. Aku tidak akan mengizinkanmu." Chanyeol berhenti mendekati Baekhyun, untuk kemudian melangkah mundur, "Istirahatlah."

Dan dengan tenang, lelaki itu melangkah pergi. Meninggalkan aura ketakutan memancar di belakangnya.

.

"Kau harus menyebarkan kabar itu kepada para wartawan." Chanyeol berbicara dengan dingin kepada seseorang di seberang telepon. "Hembuskan kabar bahwa Jessica memiliki anak gelap."

"Apakah kau ingin semua wartawan berbondong-bondong datang ke rumah ini?". Itu suara Sehun, salah satu anak buah kepercayaan Chanyeol yang sangat setia. Chanyeol mengedikkan bahunya acuh. "Ya. Buatlah kekacauan. Aku akan memastikan Baekhyun tahu tentang itu semua."

"Saya akan menyebarkannya. Para wartawan akan berpesta pora."suara itu masih sedingin es. Ritme vocalnya begitu datar. Sehingga seseorang yang tak berbicara langsung dengan Sehun tidak akan mengetahui bagaimana raut wajah anak buah kepercayaan Chanyeol itu.

"Bagus." Chanyeol tersenyum. "Lakukan dengan baik."

Telepon ditutup, dan Chanyeol menghela napas. Dia harus mempertahankan Baekhyun dulu di rumah ini. Setidaknya sampai dia bisa mengambil hati Baekhyun. Sampai Baekhyun tertarik kepadanya dan tidak mau pergi dengan kemauannya sendiri.

Tetapi hal itu tampaknya tidak mudah. Ketika Chanlie muncul dan menguasainya, Baekhyun tampak ketakutan, Chanyeol memperhatikan ketika Baekhyun melangkah mundur dengan refleks untuk melindungi dirinya dari aura mengancam Chanlie.

Dia menatap ke arah cermin dan melihat bayangannya. Bayangannya yang dalam benaknya kini tampak tersenyum mengejek dan jahat, senyuman Chanlie. "Dia tidak menyukaimu. Kalau kau tidak mau membuatnya kabur dan lari ketakutan, kau harus menyingkir."

Chanlie tersenyum sinis, "Dan kau pikir dia lebih menyukaimu?"

"Dia lebih tenang kalau aku yang ada di depannya." Chanyeol menatap Chanlie tajam, "Aku sedang berusaha membuatnya bertahan di tempat ini. Jangan mengacaukannya!"

Chanlie terkekeh mendengar perkataan Chanyeol, "Aku tidak janji." Lalu bayangan lelaki itu menghilang dalam kegelapan, dan Chanyeol menatap kembali wajahnya sendiri di cermin.

Menghembuskan nafasnya dengan kesal.

.

Chanyeol tidak memiliki Chanlie di dalam dirinya sejak lahir. Dulu dia anak yang normal dan biasa-biasa saja. Kemudian ketika usianya enam tahun, di saat kedua orang tua kandungnya masih hidup, Chanyeol mulai merasakannya. Ada sesuatu yang gelap dan menakutkan tumbuh di dalam dirinya. Sesuatu yang kejam dan mengerikan.

Dia pernah tersadar ketika memegang seekor kelinci yang telah dimutilasi dengan kejam. Kelinci itu masih utuh, tetapi tangan dan kakinya dipotong, dan mata serta organ dalam tubuhnya dikeluarkan, berceceran di tanah. Chanyeol yang masih berumur tujuh tahun tersentak dan membuang kelinci itu ke tanah, berlari ketakutan.

Rupanya itulah saat pertama Chanlie bisa muncul dan menguasai tubuhnya.

Kejadian-kejadian lain tak kalah mengerikannya. Chanlie selalu membawa aura kemarahan dan kebencian. Dan selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga.

Di masa sekolah dasarnya, Chanyeol selalu di skors di sekolah untuk hal-hal kejam yang dia tidak tahu, memukul teman sekelasnya dengan penggaris logam, menggores pipi teman perempuannya dengan pisau cutter, membunuh anjing peliharaan penjaga sekolah yang selalu mengonggonginya... dan semua hal itu, bahkan Chanyeol tidak merasa pernah melakukannya.

Chanyeol kebingungan, merasa difitnah dan diperlakukan kejam oleh orang-orang di sekelilingnya, semua orang takut kepadanya. Bahkan mama kandungnya sendiri mulai takut kepadanya dan menjauhinya, bersikap gugup kalau Chanyeol ada di dekatnya. Begitu juga ayahnya, yang memang sejak semula bersikap dingin dan menjauh. Meskipun ada perubahan besar dalam diri ayahnya, ayahnya sangat kejam dan tegas, dan tidak segansegan memukul Chanyeol kalau Chanyeol melakukan sesuatu yang menurutnya salah dan tidak sesuai dengan standarnya, tetapi sepertinya ayahnya sudah berhenti memukulinya.

Pertama kali Chanlie berkomunikasi padanya adalah suatu malam di usianya yang ke sepuluh. Chanyeol melihat bayangan di depannya bisa membalas perkataannya. Dan memperkenalkan diri.

"Aku Chanlie." Katanya waktu itu. "Bisa dikatakan kita berbagi rumah yang sama."

Lalu semuanya jelas bagi Chanyeol, Chanlielah yang melakukan semua kekejaman itu. Chanlie adalah sisi lain dirinya, alter egonya yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Lelaki itulah yang dirasakannya menyelinap bagai bayangan gelap dan menakutkan bertahun lalu, seakan menunggu saat untuk meledak dan menguasainya.

Chanyeol tidak mau Chanlie lepas dan tak terkendali, lalu merusak hidupnya. Chanyeol lalu dengan sekuat tenaga berusaha menekan Chanlie dalam-dalam, mengendalikannya, membuatnya tertidur jauh di dalam dirinya. Sampai kemudian kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan pesawat itu dan Chanyeol diambil oleh keluarga angkatnya, sebagai wali Chanyeol. Sampai dia berusia 21 tahun dan boleh menerima warisan keluarga secara hukum, yang ditunjuk oleh ayah Chanyeol, mereka adalah sahabat Ayah Chanyeol. Dan mereka memberikan suasana keluarga yang hangat dan menyenangkan bagi Chanyeol, jauh dari suasana dingin dan kaku yang ada di rumah Chanyeol sebelumnya.

Bahkan Chanliepun sepertinya menyadari kebaikan keluarga angkat itu, karena dia jarang memberontak muncul dan mengganggu. Semua tampak berjalan lancar, sampai entah kenapa Chanyeol lengah dan Chanlie berhasil menguasai tubuhnya. Lalu menciptakan sebuah kejadian yang membuat mereka sama-sama terobsesi kepada Baekhyun.

Obsesi itu yang membuat Chanlie semakin lama semakin kuat dan bisa muncul kapanpun sesuai kemauannya sendiri. Keinginan Chanlie memiliki Baekhyun begitu kuat sehingga Chanyeol sendiri tidak mampu membuatnya tertidur lama-lama

.

Chanlie memasuki kamar Baekhyun, dengan langkah tenang dan tidak terlihat, seperti yang biasanya dilakukannya kalau dia menyelinap ke kamar pria mungil itu.

Baekhyun tertidur dengan lelap, mungkin obat penenang dari dokter itu membuatnya tenggelam dalam mimpi yang dalam. Bagus. Itu berarti Chanlie bisa leluasa.

Lelaki itu duduk di pinggiran ranjang dan menyentuhkan jemarinya menelusuri pipi Baekhyun. Benarkah pemuda manis ini takut kepadanya? Kenapa Baekhyun takut kepadanya? Dalam benak Chanlie. Baekhyun adalah pemuda mungil satu-satunya yang melihatnya apa adanya. Mata polos itu dulu pernah menatapnya, menatapnya dengan perhatian ketika dia telah membunuh orang dengan mengerikan.

Bahkan Baekhyun waktu itu menawarkan plester untuk lukanya. Chanlie saat itu sudah siap membunuh Baekhyun. Baginya tidak masalah membunuh anak kecil, apalagi anak kecil yang merupakan saksi mata. Tetapi dia mengurungkan niatnya karena anak kecil itu menawarkannya plester untuk menyembuhkan lukanya. Sebuah tindakan yang konyol... tetapi menyentuh hati Chanlie yang gelap. Dan di hari itu, Chanlie menyadari bahwa dia harus bisa memiliki Baekhyun. Apapun akan dilakukannya untuk memiliki Baekhyun. Lelaki itu memberikannya kekuatan. Semakin lama semakin kuat. Hingga mungkin dia bisa menyingkirkan Chanyeol dari tubuh ini, dan menguasainya sepenuhnya.

Chanlie menunduk dan mengecup bibir Baekhyun yang sedang tertidur pulas. Bersyukur atas obat penenang yang diberikan oleh dokter itu sehingga Baekhyun tidak akan sadar kalau dia bertindak sedikit lebih jauh. Jemarinya membuka kancing kemeja Baekhyun, menyentuh dadanya yang rata, dan membelainya dengan lembut. Gairahnya naik, seperti biasanya. Kalau berhubungan dengan pria atau wanita, Chanlie hanya mengetahui satu hal: nafsu. Dia tidak pernah tahu cara lain untuk menggambarkan perasaannya kepada manusia.

Bibirnya turun ke leher Baekhyun, meresapi harumnya pria itu yang jauh lebih menggoda dari jalang-jalang diluar sana. Seluruh saraf tubuhnya memanas. Chanlie mulai bergerak lebih jauh, mengecupnya, mencecap setiap rasa tubuh pria mungil itu yang sangat terasa memabukkan. Ketika bibirnya sampai ke bagian paling atas puting kecoklatan milik pemuda mungil dibawahnya, Chanlie mengecup lebih dalam, melumat kulit halus itu, sehingga meninggalkan tanda kemerahan di sana, membuat Baekhyun sedikit menggeliat dan mengerutkan kening dalam tidur pulasnya. Dia menegakkan tubuh dan tersenyum puas melihat hasilnya. Ini sama seperti seorang binatang buas yang memberi tanda kepada mangsanya.

Dengan tenang dia mengancingkan kembali piyama Baekhyun, dan merapikan kembali selimutnya. Dalam senyuman dia mengecup bibir Baekhyun untuk terakhir kalinya, sebelum meninggalkan pria mungil itu terbaring lelap di ranjang.

Sekarang belum saatnya memiliki Baekhyun. Nanti, kalau waktunya sudah tepat. Chanlie akan mengambil Baekhyun, menundukkannya, menguasainya dan mempermainkannya sesukanya, sampai dia bosan.

.

Ketika Baekhyun terbangun keesokan harinya, hujan turun dengan derasnya di pagi hari yang muram itu. Menghantamkan air ke jendela kaca kamarnya, membuat suasana makin gelap dan murung. Surai cokelat itu mengayun pelan, mengikuti irama pijakan kakinya yang melangkah turun dari ranjang. Pelayan biasanya sudah datang dan menyiapkan peralatan mandinya, tetapi kali ini tidak ada yang datang. Baekhyun berpikir mungkin Chanyeol memerintahkan mereka untuk tidak mengganggu tidurnya.

Dengan gontai, masih setengah mengantuk Baekhyun melangkah ke dalam kamar mandinya. Dia melepaskan piyamanya dan berdiri telanjang di bawah pancuran air hangat. Dia sedang tidak ingin berlama-lama di kamar mandi, karena itu dia sama sekali tidak melirik ke arah bathtub. Selesai mandi dan merasa segar akibat siraman air hangat ke tubuhnya, Baekhyun berdiri di depan cermin dan mengambil sikat gigi dari tepi wastafel. Dia mulai menyikat giginya dan tertegun.

Baekhyun tertegun melihat bayangan yang terpantul di kaca kamar mandinya. Di bagian atas putingnya, ada tanda merah yang sekarang sudah sedikit membiru. Dengan bingung digosoknya tanda itu, tidak sakit. Apakah bekas gigitan serangga? Kenapa tidak terasa gatal dan sakit?

Lama Baekhyun mengerutkan keningnya sambil memandang tanda itu. Tetapi kemudian dia menarik napas dan melanjutkan menggosok giginya. Mungkin memang hanya ruam di kulitnya yang sekarang sudah sembuh. Pikirnya dalam hati.

.

Chanyeol memintanya datang ke ruang keluarga setelah sarapan, jadi Baekhyun menurutinya meski sedikit enggan, berduaan dengan lelaki itu terasa sedikit mengintimidasinya. Tetapi tentu saja Baekhyun tidak bisa menolaknya. "Kemarilah." Lelaki itu duduk di sofa dan menepuk tempat di sebelahnya dengan ramah, membuat Baekhyun mau tak mau mengambil tempat duduk di sebelah Chanyeol.

DI depan mereka ada sebuah televisi besar yang dinyalakan. Menayangkan berita entertainment dunia artis yang begitu pelik.

"Lihatlah berita itu." gumam Chanyeol datar.

Baekhyun melihat berita itu dan mengernyit. Para wartawan sedang berdiri di depan tempat yang dia kenal. Tempat itu... tempat itu adalah rumahnya! Rumah tempat tinggalnya dengan kakek dan neneknya. Kenapa para wartawan berdiri di depan rumahnya?

"Mereka entah darimana mendapatkan kabar bahwa Jessica mempunyai seorang putra yang dirahasiakan." Chanyeol bergumam sambil mengamati berita di televisi itu, "Dan sekarang mereka menyerbu ke rumahmu, mencari tahu. Untung saja rumah itu kosong karena kau ada di sini, kalau tidak mereka akan menyerbumu."

Baekhyun masih tertegun. Tiba-tiba merasa takut, para wartawan itu sama persis seperti yang dikatakan Chanyeol, mereka seperti piranha yang kelaparan, berusaha mengerubuti dan mengejar mangsa mereka. Hidupnya dulu tenang, dan Baekhyun nyaman berada di dalamnya, kenapa hidupnya bisa berubah seperti ini?

Onyx kelam itu menatap Baekhyun yang masih terdiam, "Mereka juga berusaha mengejarku, tetapi mereka tidak bisa menembus pagar rumahku. Kalau kau mengintip jauh ke luar sana, kau pasti bisa melihat beberapa mobil parkir di sana, mengintip dan berusaha mendapatkan informasi sekecil apapun." Chanyeol menarik napas panjang, "Mereka tidak tahu kau ada di rumah ini, jadi kau bisa berlindung di rumah ini. Untuk sementara, sampai para wartawan itu tenang."

Baekhyun menghela napas panjang. Dia sungguh-sungguh ingin pergi. Perasaannya tidak enak dan dia merasa tidak pantas berada di rumah ini. Chanyeol bukan siapa-siapanya, dan tinggal di sini terasa mengganggu pikirannya. Tetapi kalau situasinya berubah seperti ini, dia tidak bisa bisa menolak bantuan Chanyeol bukan?

Baekhyun menghela napas panjang lagi, berusaha mencari cara untuk menghindar, ditatapnya Chanyeol dengan ragu,

"Mungkin saya bisa mencari teman yang bersedia menampung saya untuk sementara waktu?"

Chanyeol terkekeh, "Aku yakin teman-temanmu tidak mempunyai pagar yang kokoh dan tak tertembus seperti pagarku. Apakah kau ingin mengganggu kehidupan mereka dengan serbuan wartawan itu? Wartawan itu tak akan berhenti Baekhyun, kau adalah berita panas yang mereka kejar, dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkanmu."

Baekhyun mengernyitkan dahinya, "Tetapi .. saya merasa tidak pantas tinggal di rumah ini. Saya bukan siapa-siapa anda dan..."

"Anggaplah aku temanmu, oke? Rumah ini besar dan bisa menampungmu. Kau akan aman di sini. Tidak ada yang tahu kau di sini. Aku tidak merasa direpotkan olehmu, dan kau bebas pergi setelah keadaan aman." Chanyeol tersenyum lembut, "Aku akan menjagamu Baekhyun."

Dan entah kenapa Baekhyun menyadari ada kejujuran yang tulus di balik kata-kata Chanyeol itu.

.

Tetapi Chanyeol yang sekarang makan malam dengan Baekhyun sangat berbeda. Lelaki itu berubah, menyebarkan aura ketakutan yang sama seperti yang dirasakan Baekhyun beberapa waktu yang lalu. Lelaki itu diam sepanjang makan malam yang hening. Hanya melirik Baekhyun dengan tatapan tajam yang sedikit menakutkan beberapa kali. Membuat Baekhyun mengigit bibir bawahya pelan, gugup dan merasa tidak nyaman.

Chanyeol tidak berusaha memulai percakapan, karena itu Baekhyun juga diam saja. Membiarkan para pelayan melayani mereka dari sajian pembuka, sajian utama dan kemudian sajian penutup. Ketika sajian penutup sudah selesai dihidangkan, Baekhyun menatap Chanyeol yang mulai menuangkan anggur ke gelasnya dengan gugup,

"Saya rasa... saya akan kembali ke kamar dan beristirahat."

Lelaki itu diam saja, menyesap anggurnya dan menatap Baekhyun dari atas gelasnya. Semakin lama aura lelaki itu terasa semakin membuat ketakutannya menguap.

Baekhyun meletakkan serbetnya dengan hati-hati, lalu menganggukkan kepalanya, sedikit membungkukan tubuh mungilnya pada Chanyeol dan dengan langkah cepat melangkah keluar dari ruang makan itu, berusaha secepat mungkin keluar dari sana, membebaskan diri dari suasana yang menyesakkan dadanya.

Dia sudah membuka pintu ruang makan itu sedikit, ketika tangan Chanyeol yang ramping dan kuat terulur begitu saja di belakangnya. Telapak tangannya mendorong pintu itu supaya menutup lagi.

Chanyeol sudah berdiri di belakang Baekhyun, begitu dekat hingga napasnya berembus hangat di puncak kepala Baekhyun dan dadanya hampir menyentuh punggung Baekhyun. Baekhyun berdiri dengan gugup menghadap pintu, masih membelakangi Chanyeol, jantungnya berdebar entah kenapa.

Lalu lelaki itu menundukkan kepalanya, berbisik dengan hembusan lembut di telinga Baekhyun, membuat bulu kuduk Baekhyun berdiri.

"Kenapa kau begitu buru-buru berpamitan Baekhyunie? Apakah kau takut padaku?"

Mata sipitnya membola. Debar di jantung Baekhyun makin kencang. Perasaan ini sama seperti perasaan seekor tikus yang terperangkap dalam cengkeraman kucing besar. Kucing itu tidak ingin memakannya dulu, dia lebih memilih bermain-main dengan korbannya, membuatnya kaku ketakutan, sebelum menelannya bulat-bulat. "Ti...tidak, saya hanya sedikit lelah.."

"Kau sudah tidur seharian ini, tidak mungkin kau lelah." Chanyeol masih berbisik pelan di telinga Baekhyun. Lalu tanpa disangka-sangka, lelaki itu menunduk makin dalam, jemarinya menyingkap piyama biru muda Baekhyun yang sedikit kebesaran sehingga menampakkan pundaknya yang rapuh namun sangat membangkitkan hasrat itu. Dengan gerakan sensual yang mengancam, lelaki itu mengecup pundak Baekhyun, ringan bagaikan kupu-kupu, tapi membuat Baekhyun gemetaran, "Kau bisa menemaniku bercakap-cakap malam ini. Aku kesepian."

Apakah lelaki ini mabuk? Baekhyun bertanya-tanya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ingin melepaskan diri, tetapi terhimpit oleh Chanyeol di pintu. Dia takut lelaki ini berbuat kasar kepadanya, karena sepertinya lelaki ini dalam suasana hati yang buruk.

"Lepaskan saya Chanyeol-ssi." Suara Baekhyun pelan, dan gemetar, tetapi dia berusaha terdengar tegas.

Chanyeol terkekeh pelan di belakang Baekhyun. Tetapi lelaki itu melangkah mundur satu langkah dan melepaskan Baekhyun. Membuat Baekhyun langsung menghembuskan napas lega merasakan tubuh Chanyeol menjauh.

"Selamat beristirahat Baekhyun-ah..."

Baekhyun tidak sempat mendengarkan lagi. Dia langsung membuka pintu ruang makan itu dan setengah berlari ke kamarnya. Dengan tergesa dikuncinya pintu kamarnya, lalu bersandar di pintu itu dengan ketakutan. Aura lelaki itu berbeda, ada nuansa kejam di sama. Chanyeol yang di ruang makan tadi mirip sekali dengan Chanyeol dalam mimpi Baekhyun beberapa waktu lalu... Lelaki yang mengatakan bahwa namanya adalah 'Chanlie'...

Baekhyun memandang ke sekeliling ruangan. Setelah memastikan bahwa pintunya terkunci rapat, dia melangkah ke ranjang dan duduk di sana dengan gelisah. Ini tidak bisa dilanjutkan. Dia tidak bisa tinggal di rumah ini. Ada sesuatu yang gelap dan misterius yang menghantui rumah ini. Membuatnya merasa diawasi, merasa tidak tenang setiap saat.

Baekhyun harus keluar dari rumah ini, dia mungkin bisa menemukan teman di daerah terpencil yang bisa menampungnya, jauh dari jangkauan para wartawan. Ya, sebesar apapun resikonya, Baekhyun merasa dia harus segera pergi dari rumah ini.

.

Ketukan di pintu kamarnya membuat Baekhyun terbangun dari tidur lelapnya. Dia membuka matanya dan mengerjap merasakan terpaan sinar matahari menyilaukannya. Astaga.. sudah jam berapa ini?

Sepertinya karena semalam dia lama tidak bisa tidur, dia bangun kesiangan. Dengan gugup dia duduk di ranjangnya. Ketukan itu terdengar lagi, membuat Baekhyun waspada. Dia memang sengaja mengunci pintunya, hanya sekedar berjaga-jaga atas ketakutan yang tidak bisa dijelaskannya.

"Siapa?"

"Ini Leeteuk." Suara Leeteuk sang kepala pelayan terdengar di luar, "Tuan Chanyeol meminta saya memastikan anda baik-baik saja, karena anda tidak turun untuk sarapan."

Mendengar nama Chanyeol, membuatnya bertanya-tanya apakah pria dewasa itu akan kembali lembut padanya? Baekhyun menghembuskan nafasnya frustasi. "Saya.. saya baik-baik saja." Baekhyun merapikan rambut cokelatnya yang terlihat acak-acakan dan memastikan piyamanya rapi, lalu melangkah turun dari ranjang dan membuka kunci pintu. Leeteuk tampak berdiri di sana dengan ekspresi datarnya.

"Saya bangun kesiangan, mungkin karena pengaruh obat dari dokter, maafkan saya tidak turun untuk sarapan." Baekhyun tersenyum meminta maaf kepada Leeteuk.

Ada seulas senyum kecil yang muncul di wajah Leeteuk yang datar. Tetapi hanya sekerjapan mata dan menghilang, hingga Baekhyun sendiri tidak yakin dengan penglihatannya. "Tidak apa-apa Tuan Baekhyun. Saya senang anda baik-baik saja. Oh ya, kalau anda sudah siap, Tuan Chanyeol ingin bertemu di ruang kerjanya." Leeteuk sedikit membungkukkan badannya, "Kalau begitu saya permisi dulu."

Baekhyun termangu. Kenapa Chanyeol ingin bertemu dengannya? Dibayangkannya suasana makan malam kemarin yang menakutkan, membuatnya merasa enggan.

Sementara itu, langkah Leeteuk tampak meragu, kemudian dia berhenti melangkah dan berputar, menatap ke arah Baekhyun yang masih berdiri di ambang pintu, "Anda mengunci pintu kamar anda." Leeteuk menatap Baekhyun dengan tatapan tajam.

Baekhyun mengerjapkan matanya dua kali. Merasa aneh dengan pertanyaan tiba-tiba Leeteuk. "Eh... iya.." Baekhyun mengalihkan pandangannya gugup, tidak tahan dipandang setajam itu, benaknya berputar mencari alasan, "Saya terbiasa mengunci pintu kamar di rumah, maafkan saya membawa kebiasaan itu di sini."

"Tidak apa-apa." Leeteuk menggelengkan kepalanya. "Saya harap anda terus melakukannya"

"Melakukan apa?" Baekhyun menatap Leeteuk dengan bingung.

"Mengunci pintu kamar anda setiap malam." Leeteuk berucap misterius, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Baekhyun yang masih terpaku bingung di ambang pintu, memikirkan arti dari kata-kata Leeteuk. Lelaki itu menyuruhnya mengunci pintu kamar setiap malam. Seakan-akan ada bahaya yang mengintainya kalau dia tidak mengunci pintu kamar. Tiba-tiba Baekhyun merasakan bulu kuduknya berdiri.

Ada bahaya apa yang mengintainya di rumah ini?

.

"Maafkan aku memanggilmu kemari." Lelaki itu sedang menghadap berkas-berkas yang tampaknya rumit di meja kerjanya. Ketika dia melihat Baekhyun melirik berkas-berkas itu, Chanyeol tersenyum, "Oh... aku sedang memeriksa beberapa pekerjaan, kau tahu wartawan-wartawan di depan itu membuatku tidak bisa keluar rumah, jadi aku melakukan pekerjaanku dari dalam rumah. Untunglah teknologi sudah cukup maju sekarang ini, jadi perusahaanku tetap aman dan terkendali. Duduklah Baekhyun, aku ingin membicarakan sesuatu."

Baekhyun mengikuti permintaan Chanyeol dan duduk di kursi di depan meja kerja Chanyeol, mengamati ketika lelaki itu merenung dengan kedua tangan ditumpangkan di dagu. Lalu lelaki itu menghela napas,

"Mungkin apa yang akan kukatakan ini akan sangat mengejutkanmu." Tatapannya berubah lembut, penuh permintaan maaf, "Sebelumnya aku minta maaf atas tingkahku saat makan malam kemarin, aku tahu itu keterlaluan dan tidak dapat dimaafkan. Tetapi semoga kau mengerti, mungkin malam itu aku sedang mabuk, aku bahkan tidak begitu ingat apa yang kulakukan dan kukatakan, tapi aku tahu itu buruk, dan aku menyesal."

Ini Chanyeol yang biasa. Baekhyun menyimpulkan dalam hatinya, lelaki ini kembali menjadi Chanyeol yang berwibawa dengan auranya yang tulus. Tidak menakutkan seperti semalam, Baekhyun masih begidik mengingat kejadian semalam... Dan Chanyeol mengatakan dia mabuk, mungkin jauh di dalam hatinya lelaki itu masih bersedih atas kematian ibunya. Bagaimanapun mereka sepasang kekasih bukan? Mungkin kelakuan menakutkan Chanyeol yang kemarin masih bisa dimaklumi.

"Tidak apa-apa. Saya mengerti..."

Chanyeol tersenyum lalu matanya berubah serius, "Well, ini mengenai apa yang akan kuungkapkan kepadamu Baekhyun... aku minta maaf kalau aku tidak menghubungimu sebelumnya. Aku hanya ingin memastikannya sebelum mengatakannya kepadamu..." Lelaki itu mengambil album foto yang pernah dilihat Baekhyun sebelumnya, di situ ada foto kedua orang tua angkat Chanyeol dan kakak Chanyeol yang lebih tua, " Kau lihat, ini kedua orang tua angkatku dan kakak angkatku, namanya Junsu." Mata Chanyeol tampak sedih, "Mereka semua meninggal karena kecelakaan... kedua orang tua angkatku meninggal di tempat begitupun Junsu... tetapi jauh, lama sebelum Junsu meninggal dia menitipkan sebuah rahasia kepadaku..."

Baekhyun menatap foto Junsu di sana. Lelaki yang tampan. Dengan senyumnya yang hangat, sayang sekali dia harus meninggal di usia muda.

"Junsu pernah mengatakan kepadaku, di masa mudanya dia pernah melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab, dia menghamili kekasih masa SMUnya, tetapi hubungan mereka tidak berjalan baik sehingga dia memberikan uang kepada kekasihnya untuk menggugurkan kandungannya dan kemudian dia pergi dan meninggalkan kekasihnya..." Chanyeol menatap Baekhyun dalam-dalam. "Tetapi kemudian, dia menyadari bahwa ternyata kekasihnya di masa lalunya itu tidak pernah mengugurkan kandungannya, dia ternyata mempunyai seorang putra yang waktu itu sudah berumur satu tahun." Baekhyun menatap Chanyeol penuh tanya. Baekhyun mulai menangkap sinyal-sinyal itu. Benaknya menarik kesimpulan, tetapi pikiran logisnya tidak mau percaya... apakah itu benar? Mungkinkah itu? Bagaimana mungkin semua bisa begitu kebetulan?

"Ya Baekhyun... putra Junsu adalah dirimu." Chanyeol melemparkan jawaban itu, menghapuskan semua keraguan di pikiran Baekhyun, "Tidakkah kau lihat foto itu? Dia sangat mirip denganmu."

Baekhyun menatap foto itu, kali ini tangannya gemetar, begitupun hatinya, ikut tergetar. Oh astaga, lelaki ini, yang sedang membalas senyumnya di foto ini adalah ayahnya? Ayahnya yang selama ini dia anggap tidak pernah ada? Ayahnya yang selama ini tidak dia ketahui di mana dia berada, tidak berani ditanyakannya, meski hatinya bertanya-tanya?

Baekhyun mengakui mereka mirip, warna kulit itu, warna rambut yang pekat, sangat mirip dengan rambut hitamnya yang dulu sebelum Chanyeol memaksa mengganti warna rambutnya, bentuk alis dan bibir mereka, bahkan bibir mereka mirip. Sisanya adalah warisan dari Jessica... tetapi Baekhyun menyadari dia percaya kepada Chanyeol, Junsu adalah ayahnya. Tetapi.. ayahnya sudah mengetahui tentang dirinya sejak dia berumur satu tahun, kenapa ayahnya tidak pernah menemuinya? Apakah ayahnya juga menolaknya seperti ibunya? Menganggapnya seperti aib di masa lalu yang harus dienyahkan?

Baekhyun mendongakkan kepalanya dari foto itu, menatap Chanyeol dengan tatapan ragu dan takut, ragu akan jawaban yang diberikan oleh Chanyeol, "Apakah ayah saya... dia juga menolak saya?"

"Jangan menggunakan kata 'saya' Baekhyun, itu terlalu formal." Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Dan astaga, tidak Baekhyun, ayahmu mencintaimu..dia langsung menemui kakek dan nenekmu ketika dia tahu bahwa Jessica membuangmu. Tetapi kakek dan nenekmu begitu ketakutan bahwa Junsu akan merenggutmu dari kalian, mereka mengancam Junsu kalau dia berani menemuimu, mereka akan menuntut Junsu karena telah memperkosa Jessica. Ancaman yang bodoh... tetapi Junsu begitu mencintaimu sehingga takut pertikaian itu akan mempengaruhimu, karena itu dia menerima kesepakatan dengan kakek dan nenekmu."

Baekhyun menganga kecil. "Kesepakatan apa?"

"Bahwa ayahmu tidak boleh menemuimu. Tidak boleh berinteraksi denganmu, setidaknya sampai kau berusia tujuh belas tahun dan sudah dewasa dan bisa menerima penjelasan. Sebagai gantinya, kakek dan nenekmu akan mengirimkan laporan perkembanganmu dan mengabari keadaanmu." Chanyeol mengeluarkan dua album foto besar dari laci meja kerjanya, "Kakek dan nenekmu mengirim foto perkembanganmu kepada Junsu secara berkala, dan ayahmu menyimpannya di sini." Chanyeol mendorong album foto itu kepada Baekhyun. Di dalamnya berisi foto-foto masa kecil Baekhyun. Tentu saja Chanyeol tidak mengatakan bahwa dia memiliki enam album besar lain yang berisi foto-foto Baekhyun ketika dewasa, yang dikirim oleh para anak buahnya yang mengikuti Baekhyun secara diam-diam dan mengambil fotonya secara rahasia setiap saat.

Baekhyun membuka album-album foto itu. Chanyeol benar. Isinya adalah fotonya dari bayi sampai kanak-kanak. Jadi selama ini ayahnya mengawasinya dari kejauhan, mencintainya diam-diam...matanya terasa panas, mulai berkaca-kaca.

"Dia sangat menyayangimu. Dia hanya menceritakan tentangmu kepadaku karena aku adik laki-laki yang dipercayainya. Meskipun aku hanya adik angkat, kami sangat dekat dan bersahabat..." Mata Chanyeol melembut, "Dia selalu menunjukkan foto-fotomu dengan bangga, menyimpannya dengan hati-hati... dan berkata dia tak sabar untuk menunggu usiamu tujuh belas tahun dan menemuimu, mengatakan siapa sebenarnya dirinya..." Chanyeol menghela napas panjang, "Sayangnya dia tidak bisa mencapai saat itu... sebelum usiamu tujuh belas, dia sudah terenggut karena kecelakaan tragis itu."

Air mata Baekhyun menetes di pipinya tanpa disadarinya. Ayahnya ternyata begitu menyayanginya. Dia ternyata bukan seorang putra yang ditolak dan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, setidaknya ayahnya menyayanginya. Album foto itu basah oleh air matanya yang menetes. Dengan tangan gemetar diusapnya air matanya, dan dipeluknya album foto itu

seakan itu harta yang paling berharga baginya, "Album foto ini... bolehkah aku membawanya ke kamar? Aku ingin melihat-lihatnya..." dan Baekhyun ingin membuka setiap lembar album ini sambil membayangkan bagaimana ayahnya membuka album ini dulu ketika dia masih hidup. Album ini menyimpan kenangan, kenangan berharga akan ayahnya yang tak sempat dikenalnya.

Chanyeol menganggukkan kepalanya, "Tentu saja Baekhyun-ah.. itu milikmu." Dia menatap Baekhyun dengan serius, "Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku begitu kuat melarangmu keluar dari rumah ini... selain karena wartawan-wartawan itu... ini alasannya, sebelum meninggal, Junsu memintaku menjagamu. Junsu meninggal ketika usiamu delapan tahun. Aku berusia dua puluh tahun ketika itu. Dia memintaku menjagamu.. karena itulah aku berusaha mencarimu. Tetapi sama seperti yang dilakukan kakek dan nenekmu kepada Junsu, mereka melarangku mendekatimu... apalagi aku tidak ada hubungan apa-apa denganmu, jadi mereka melarangku mendekatimu sampai kapanpun, dan melarangku memberitahukan yang sebenarnya kepadamu, karena saat itu karier Jessica sedang sangat menanjak... mereka takut akan ada skandal yang mempengaruhi karier Jessica.. jadi aku mundur dan menunggu."

Tiba-tiba pikiran itu terasa menggelitik Baekhyun sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apakah kau mendekati ibuku karena..."

"Ya, aku mendekati ibumu karena mencari jalan untuk menemuimu. Tetapi jangan salah paham, aku memang tertarik pada Jessica, dia cantik dan menyenangkan dan aku serius untuk memperistrinya, dengan begitu aku bisa mendapatkan istri yang cantik, sekaligus bisa menunaikan janjiku kepada Junsu, untuk menjagamu sebagai putraku." Chanyeol mengernyit mendengar kebohongannya sendiri. Dia sama sekali tidak tertarik kepada Jessica, apalagi memperisteri perempuan yang palsu di segala hal itu, dan daripada menjadikan Baekhyun anaknya, Chanyeol lebih tertarik menjadikan Baekhyun pendamping hidupnya.

Sementara itu Baekhyun berpikir dan menelaah semua hal. Pantas di saat pertemuan pertama mereka dulu, Chanyeol begitu ngotot agar mereka menjadi satu keluarga dan agar Baekhyun tinggal bersamanya kalau dia dan Jessica menikah nanti. Ternyata ini alasannya. Dan ternyata ini pula alasan kuat kenapa Chanyeol menahannya di rumah ini.

"Ternyata semua tak berjalan sesuai rencana... Jessica meninggal dan..." Chanyeol menghela napas panjang, "Maafkan aku, aku berencana memberitahukan kepadamu pelan-pelan. Tetapi aku tidak mau kau salah paham dan bingung karena aku menahanmu di sini. Aku...meski tidak berhubungan darah, aku sama saja seperti pamanmu. Ayahmu menitipkanmu kepadaku untuk kujaga, dan aku ingin melakukan janjiku kepadanya. Karena itu, kumohon kau mau mempertimbangkan untuk tinggal di sini bersamaku."

Baekhyun tertegun, teringat akan tekadnya semalam untuk segera pergi dari rumah ini. Tetapi waktu itu dia ketakutan atas tingkah Chanyeol yang aneh dan dia tidak tahu tentang kenyataan ini. Apakah dia harus mempertimbangkan lagi?

"Ada banyak kisah tentang Junsu yang ingin kubagi denganmu, kalau kau tertarik ingin mendengar tentang ayahmu.." Chanyeol melemparkan tawaran yang sangat menarik bagi Baekhyun, membuat Baekhyun tidak bisa menolak.

Baekhyun tersenyum kecil. Mata bulan sabitnya menatap Chanyeol dengan penuh binar ketertarikan. "Baiklah Chanyeol, aku... aku akan tinggal di rumah ini, aku akan senang sekali kalau kau mau berbagi cerita tentang ayahku kepadaku." Untuk sejenak, Chanyeol melemah. Chanyeol mulai paham mengapa Chanlie begitu terobsesi pada pemuda berumur 20 tahun ini. Senyuman polosnya terlalu sayang untuk dilewatkan. Jantungnya adalah hal paling sialan di nomor urut dua setelah sosok Chanlie.

Jantungnya sama sekali tidak menerima perintahnya untuk melemahkan detaknya yang terasa begitu menyesakkan.

Namun Chanyeol menikmati. Rasa menyesakkan itu begitu mengasyikan.

.

"Aku salah mengatakan kau kurang cerdik.. kau ternyata cerdik." Bayangan di kegelapan itu melemparkan senyum jahatnya kepada Chanyeol, "Kau berhasil menahannya di rumah ini."

"Diam Chanlie!" Chanyeol menggeram marah, "Kau hampir membuatnya kabur semalam, dan aku yang harus membereskan kerusakan yang kau buat."

Sosok itu mengangkat kedua bahunya acuh –tampak tak peduli perkataan Chanyeol "Aku tidak tahan kalau dia ada di dekatku. Rasanya aku ingin melahapnya bulat-bulat..."

"Kalau kau berani menyakitinya, aku akan membuat Baekhyun pergi dari rumah ini. Jauh darimu sehingga kau tidak bisa menemukannya lagi." Chanyeol mendesis, mengancam.

Tanggapan yang dia terima dari Chanlie hanyalah tawa mengejeknya yang khas, "Apakah kau berani melepaskannya Chanyeol? Kau bahkan tidak tahan jauh-jauh darinya, aku ragu kau berani membuatnya jauh dariku, karena itu sama saja menjauhkannya darimu."

Chanyeol terdiam, tertegun kaku. Tetapi kemudian menatap Chanlie dengan pandangan menantang,

"Kalau kau membahayakan Baekhyun, aku akan melakukannya. Aku lebih mementingkan keselamatan Baekhyun daripada kebahagiaanku. Kalau dengan menjauhkannya dari diriku dan kau akan membuat Baekhyun bahagia dan selamat, aku akan melakukannya."

Chanlie mengerutkan keningnya, mulai menyadari kebenaran dari ancaman Chanyeol, dia menatap Chanyeol penuh spekulasi.

"Kau tidak akan berani melakukannya,"

"Aku akan melakukannya." Sahut Chanyeol dengan lantang.

Chanyeol dapat mendengar sosok itu tertawa meremehkan. "Walaupun begitu, Baekhyun tidak akan lepas dariku, aku akan mencarinya kemanapun. Percuma saja Chanyeol. Apapun yang terjadi... Baekhyun akan menjadi milikku."

Tawa Chanlie masih membahana di kegelapan, penuh dengan ejekan yang kejam...

.

"Kalau terjadi apapun kepadaku. Kau akan melakukannya kan Leeteuk?"

Leeteuk menatap ragu ke arah Chanyeol, tahu kalau Chanlie mendengarkan di dalam sana.

"Kau tidak usah takut." Chanyeol menghela napas, "Aku minta maaf atas insiden kecelakaan itu, yang hampir merenggut keluargamu..." lelaki itu mengacak rambutnya dengan frustasi, "...Monster ini kadangkala sangat kuat, tetapi aku akan menahannya sekuat tenaga. Sementara itu, kau lakukan apa yang kuminta untuk kulakukan."

Monster... Leeteuk membatin dalam hati. Panggilan itu sangat cocok untuk Tuan Chanlie, lelaki itu berjiwa kelam dan bengis, melindas siapapun yang menghalanginya tanpa ampun. Leeteuk takut setengah mati kepada Tuan Chanlie. Tetapi kesetiaannya kepada Tuan Chanyeol mengalahkan segelanya. Kalau memang nanti terjadi sesuatu kepada Tuan Chanyeol, Leeteuk akan melaksanakan instruksinya. Melindungi Baekhyun dan membawanya lari jauh-jauh dari jangkauan Tuan Chanlie, meskipun nyawanya menjadi taruhannya.

.

"Kau masih penasaran akan kasus kematian artis itu?"

Sapaan itu membuat Daehyun menoleh dan tersenyum, "Aku sedang menyelidiki kasusnya untuk artikel khusus di majalah. Kau tahu, kisah tentang anak gelap Jessica membuat semuanya makin menarik."

"Tetapi anak gelap Jessica itu tidak bisa ditemukan di mana-mana. Rumahnya ditinggalkan begitu saja. Dia mengambil cuti dari tempat kerjanya, dia seolah lenyap dan aku bahkan mulai ragu kalau dia ada." Teman wartawannya yang bernama Yongguk menyahut sambil memutar bola matanya.

Daehyun tertawa, "Dia memang ada." Dibukanya berkas-berkasnya, "Aku menyelidiki ke sekolahnya dan berhasil mendapatkan fotonya waktu masih muda. Usianya pas. Sepertinya gosip itu benar, Jessica melahirkan anaknya ketika usianya enam belas tahun."

Yongguk mengambil berkas Daehyun dan mengamati foto Baekhyun yang terpampang di sana.

"Siapa namanya? Baekhyun?" Yongguk menatap foto yang didalamnya ada Baekhyun yang sedang foto bersama teman satu klubnya. Tersenyum lebar hingga gigi-gigi kecilnya terlihat begitu manis. "dia pria, tapi sangat manis. Sepertinya ia lebih dominan mewarisi gen kecantikan ibunya." Yongguk mengangguk-angguk kecil melihat foto Baekhyun dan foto Jessica dikedua tangannya "Asalkan tidak mewarisi sikapnya." Daehyun tersenyum sinis. Sifat buruk Jessica sebagai artis memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan artis dan wartawan.

"Bahkan kita tidak bisa menebak siapa ayah anak ini." Yongguk menatap Daehyun dengan serius, "Kau sudah ada ide di mana Baekhyun berada sekarang ini? Kau harus menemukannya, artikelmu tidak akan berhasil kalau kau tidak bisa menemukan Baekhyun."

Daehyun mengetuk-ngetukkan pensilnya di meja sambil merenung. Sesungguhnya dia mengalami jalan buntu. Tidak ada yang tahu di mana Baekhyun berada. Dia sudah menghubungi semua orang yang mungkin berhubungan dengan Baekhyun, Baekhyun tidak punya banyak teman dan kenalan. Tetapi semua nihil. Tidak ada yang tahu di mana Baekhyun berada, pemuda manis itu tampaknya lenyap begitu saja. Tetapi Daehyun bertekad menemukannya, dia pasti akan menemukan Baekhyun.

"Dan milyuner kaya itu, pacar Jessica, juga tidak ada kemajuan dengannya ya?"

Daehyun mengerutkan keningnya, Park Chanyeol menjadi satu lagi masalah besar. Sejak kematian Jessica dia sangat sudah ditemui. Pintu gerbangnya selalu tertutup rapat, dia bahkan tampaknya tidak pernah keluar dari rumahnya. Penjagaan rumahnya sangat ketat, dan tidak peduli para wartawan berkemah di depan rumahnya, mereka tidak berhasil menemui seorang Park Chanyeol.

"Sebenarnya kau bisa menjadikannya bahan artikelmu." Yongguk mengusulkan.

Daehyun mengernyitkan keningnya, "Siapa? Park Chanyeol? Tetapi dia hanya milyuner kaya yang kebetulan memacari artis, banyak yang seperti dia, tidak menarik untuk dibahas... Publik akan lebih menyukai kisah anak gelap yang disembunyikan seorang artis sekian lama..."

"Tetapi dari rumor yang aku dengar, Park Chanyeol selalu membawa kematian di sekelilingnya."

"Apa maksudmu?" Daehyun memfokuskan pandangannya kepada Yongguk, insting wartawannya mulai berdering.

"Yah kau tahu. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat, keluarga angkatnya juga meninggal begitu saja karena kecelakaan mobil... dan sekarang calon isterinya meninggal pula, di rumahnya. Mungkin pria itu menyimpan kutukan yang membunuh orang-orang terdekatnya." gumam Yongguk. Atau pria itu terlibat sesuatu yang menyebabkan kematian orang-orang terdekatnya. Daehyun menyimpulkan. Matanya menatap berkasnya yang memuat tentang Chanyeol. Well, kalau dia menggali sedikit lebih dalam, mungkin dia bisa mendapatkan sesuatu... Daehyun bertekad dalam hati, dia akan mencari tahu dan menemukan kisah yang menarik untuk diberitakannya kepada publik..

.

...

To Be Continued..

...

..

.

P.S: Chapter depan ada NC kalo mau fast update jangan lupa review:^

Thanks to; exotob[udh update kan nih~ aku juga mikir berkali-kali buat nentuin nama chanlie atau richard:' thanks udh review! Jangan lupa review lagi heheh] || Littlehorie[aku udh mikirin ini dari lama aminn... sujud syukur kalo feelnya kerasa:)awalnya ga pede but yaudahlah(?) mknya remake novel ini soalnya g bs berenti trs bayangin chanbaek xD terimakasih udh review] || Love654[Nh udh diupdate:) review lg yaa] || umroyaya1[NC? Chap depan ada NC loh makanya review lagi yaa kalo mau liat adegan livenya *kedipkedip*] || cbshipper[Yap novel ini emg agak horror but romancenya juga bikin kesemsem sendiri kebelakangnya... thnks udh review:) review lg yaah] || hlmtns23[aku lbh suka bxb drpd gs jadi ya gini... terimakasih^^ aminn semoga ngefeel trs yaa] || skeyou[Nah disini udh kejawab belum pertanyaannya? Ah terimakasih atas koreksinya^^ membantu sekali. Review lagi yah~] || Tyanra Park[Big thanks buat km yg mau review panjang-panjang gitu.. terharu sumpah *nangis bombay* kdg kalo mau ngerayu org emg harus tau tempat sm situasi ya *plak yup, ak pribadi lebih suka sm karakter chanlie disini yang bangsat bngt dan paling ga bisa nahan kalo Chanyeol udh jadi org yg bangsat T-T but karakter Chanyeol disini juga bikin kesemsem dari segi romancenya... makasih udh review yaa^^ ditunggu review yg akan dtg.. boleh ko manggil aku apa aja. Manggil aku yeol' wifeu juga gapapa *digampar mamih*] || chimnm[gimana?udh terjawab blm pertanyaannya? Siapa si yg bisa nahan hasrat buat ga nyium mamih/? Udh diupdate ya.. thanks reviewnya^^] || cntyathalia[atau apa? Haha udh kejawab kan? Terimakasih reviewnya^^ udh dilanjut yaa] || Suci Maryam[maklumin emg semua cbshipper itu pasti kalo udh di kmr mandi berduaan mikir ujung-ujungnya ada adegan masuk memasuki(?) blm ketinggalan banyak kok so, ttp ikutin ff ini ya... btw Ncnya chap depan loh... review lagi juseyo *kedip kedip* || EXO12LOVE[thanks udh review.. udah dilanjut nih.. review jangan lupa ya^^] || Dheacho[Udh terjawab blm dichap ini? Kkk xD iya maaf klo ga nyaman ya'-' terimakasih udh koreksi jd berasa ada yg perhatiin:') *author kurang belayan* ini udh diupdate ya~ jangan lupa review yg panjang lagi(?) terimakasih! || bungaapi[aah terharu akhirnya ada yg tepuk tangan *nangis bombay* maaf klo feel antara Chanlie sm Chanyeol blm bise kebaca yaa. Chanlie sm Chanyeol itu mukanya sama-sama Park Chanyeol kok(?) soal sisi gelapnya, semoga udh terjawab di chapter ini yaa'-']b

Thanks to Silent Reader, Followers dan Following!

Adios! *smirk bareng Chanlie* Sampai bertemu lagi~