"Kau cemburu pada mereka kan?"

"Kau tidak berhak menilaiku seperti itu" Sasuke membereskan peralatan tulisnya dan mulai beranjak sebelum Sakura bicara lebih banyak lagi,

—dan Itachi sampai di apartemennya bersama Naruto.

"Kalau kau berpikir untuk menyusul mereka, itu bukan keputusan yang bagus, Sasuke"

Sasuke berhenti disana.

"Aku hanya berusaha membantumu. Kalau kau memang suka laki-laki, itu bukan hal yang buruk. Aku bisa bicara pelan-pelan pada Karin"

Apa? Bicara pada karin dan membiarkan rahasia ketertarikannya pada laki-laki terbongkar?
Lagipula tidak ada laki-laki yang cukup 'menarik' bagi Sasuke selain Itachi.

"Dengar, Sakura. Sekalipun yang kau katakan itu benar, kau tidak berhak mencampurinya. Itu urusan pribadiku"

"Jadi benar kau suka Naruto!?"

"Kubilang 'sekalipun'!" Ralat Sasuke.

"Ah, kau hanya berusaha menyangkalnya kan?"

Sasuke memijit keningnya frustasi. Apa jadinya jika gadis keras kepala ini menceritakan kesalah-pahamannya pada orang lain? Tentang 'Sasuke menyukai laki-laki'?
Dan yang paling parah, dia sama sekali tidak bisa membayangkan fitnah besar Sasuke-suka-Naruto itu menjadi gosip utama di seluruh kampus.
Lalu sampai ke telinga Itachi.
Hidupnya bisa hancur.

"Dengar. Jangan katakan apapun pada Karin" Sasuke menarik nafas dalam disana. Dia tak percaya harus mengatakan ini, tapi apa boleh buat.
Daripada image rahasianya harus terbongkar.

"Aku hanya.. Iri pada Naruto. Jadi emosiku tak terkendali"

"Iri?" Sakura mendecih kemudian "Dia itu bodoh kan? Memangnya kau iri dalam hal apa? Apa yang dia punya dan kau tidak?"

Sasuke diam sesaat.

Iri?
Mungkin Sasuke berbohong untuk menyelamatkan harga dirinya.

Tapi dia sendiri tak yakin, apakah dia sepenuhnya 'berbohong'

"Ada banyak. Naruto memang bodoh. Tapi dalam waktu singkat, dia mampu membawa kesan yang menyenangkan untuk semua orang. Seolah dia mampu membuat siapa saja dekat dengannya—"

Sasuke bergetar. Mungkinkah?
Inikah yang Naruto punya dan Sasuke tidak?
Inikah yang membuat Itachi mendekat pada si bodoh itu dengan mudahnya?

Sasuke berbohong dengan mengatakan yang sebenarnya.

"—aku benar-benar iri padanya"

"Hm" Sakura beranjak dari mejanya "Entah yang kau katakan itu benar atau tidak. Aku masih percaya bahwa kau suka Naruto"

"Aku akan buktikan—"

"Eh?"

"—karena itu jangan katakan soal ini pada siapapun"

.

.

.
.

Complex!

Disclaimer : Naruto (c) Masashi Kishimoto

Story by : Alice Amani Neverland

Rated : T

Warning! : ItaSasu with a bit ItaNaru, AU, Incest, Sho-ai, OOC!, Typo(s), EYD tumpeh-tumpeh, dan kesalahan manusiawi lainnya. DLDR. No flame. Jangan lupa review.

.

.

.

.

.

.

.

Tiga : Rahasia?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Eto... Sensei tinggal sendirian?"

"Yah. begitulah" Itachi sibuk membuka kunci pintu apartemennya.

Naruto sempat takjub dan menganga selama beberapa detik begitu ia memasuki apartemen minimalis itu. Tidak terlalu besar, tapi atmosfir mewah tercium jelas disini. Dekorasinya bagus, rapi, dan artistik. Ruang utama dilengkapi dengan televisi layar datar dan perangkat home theatre. Ada kitchen bar segala.
Keren.

"Sebelah sini" Ucapan Itachi mengerjapkan Naruto "Komputernya ada di kamar"

"O-Oh! Baik!" Segera Naruto mengikuti langkah Itachi yang memasuki kamarnya. Dan lagi-lagi, Naruto secara alami mengedarkan pandangannya ke segala sudut.
Simpel, rapi, wangi, tidak banyak pajangan pula. Cuma ada satu ranjang besar dengan sprei dan bantal berwarna hitam, lampu kamar, meja komputer, rak buku dan televisi.
Naruto membodoh-bodohkan Sasuke dalam hati. Punya kakak dengan apartemen sempurna, tapi malah memilih asrama sempit nan nista itu.

"Uzumaki?" Untuk kedua kalinya suara datar Itachi memecah lamunan si pirang.
Ya. Naruto melamun cuma gara-gara apartemen.

"Hah!? I-Iya!"

"Komputernya"

"Oh! Baik sensei!" Naruto langsung melesat dan duduk di kursi berputar yang menghadap meja komputer itu.

"Kau bisa cek bagian internet dan office-nya. Aku ke dapur sebentar"

"Baik!"

Itachi melepas jas luar dan dasinya, meletakkannya ke sebuah keranjang khusus tempat pakaian kotor, lalu melepas sepasang sepatunya juga sementara Naruto mulai berkutat dengan komputernya. Itachi membasuh muka di wastafel dan mengikat ulang rambut legam panjangnya sebelum beranjak ke dapur untuk menemukan beberapa cemilan disana.

Hanya ada dua puding coklat dan kue kacang yang ia buat tadi pagi. Itachi tidak suka cemilan siap saji, sehingga setiap harinya-sekaligus menyibukkan diri-dia akan membuat sesuatu. Tidak buruk untuk menjamu murid.
Dia meraih sebotol soda dan gelas—dengan es batu di dalamnya—sebagai pelengkap.

"Sugeeeee!" Seru Naruto terbawa suasana saat ia sibuk dengan komputer di hadapannya.

Naruto terpana berlebihan.

"Bagaimana?" Itachi mendekat pada murid pirangnya dan-

"Anda suka Counter Strike Online!?" Seru Naruto dengan pandangan berbinar-binar.

"Saya juga suka sekali main CSO, sensei! Anda sudah sampai pangkat apa!?"

"Saya tahu beberapa kode cheat untuk game ini loh!"

Itachi masih menatap datar bocah lupa daratan itu. Naruto baru menyadari ketololannya saat hening menyusup beberapa detik.

"Hah! M-Maaf sensei! Maafkan saya! Saya tidak bermaksu—"

"Sudahlah. Bagaimana kerusakannya?"

"Oh itu.. Itu cuma masalah virus, sensei. Anti-virus yang anda pakai harusnya di upgrade bulan juni"

"Jadi?"

"Karena sudah tidak berfungsi, saya memasang anti-virus yang baru dan lebih aman"

"Kau mendownload-nya secara gratis?"

"Iya-eh. Sebenarnya ada biaya 20 dollar setiap bulan tapi anda tidak perlu khawatir. Saya membuatnya gratis selamanya"

"Illegal, ya"

"Eh?"

"Kau seorang hacker, Uzumaki?"

Checkmate.

"O-Oh, itu.. Ehehe.. Saya.." Naruto tertawa hambar dengan canggungnya. Lain kali, dia tidak akan se-ceroboh ini. Membicarakan kode cheat dan membobol aplikasi berbayar sudah cukup menjelaskan lah.

Bukannya kesal, Itachi justru menepuk ringan pundak Naruto.

"Terima kasih" Ucapnya sambil tersenyum tipis.

"I-Iya, sama-sama sensei!" Naruto menoleh, dan Itachi disana, berjarak hanya beberapa jengkal dari wajahnya. Dan wow. Lihat, mata Itachi tampak teduh, seperti memayungi dengan hangat. Beda dengan saat dia mengajar di ruang kuliah.

Bodoh, Naruto. Apa yang kau pikirkan? Kau masih Normal dan dia dosenmu! Jangan gila!

Naruto mengerjapkan matanya dan menggeleng singkat.

"S-Sensei. Saya boleh ke toilet sebentar?"

"Silakan"

Naruto berlari menuju toilet yang terletak di pojok kamar. Dia menarik nafas dalam, lalu membuangnya.
Tarik-buang.
Tarik-buang.
Lalu mendengus.

Kenapa dia bisa gugup karena laki-laki sih?

"Masa bodoh lah" Naruto tak ambil pusing, dia lalu menuntaskan 'kegiatan suci' disana. Sensasi buang air kecil di kamar mandi yang luas ini sungguh bukan main rasanya. Toilet dan shower untuk mandi di sekat dengan kaca buram.
Setelah selesai, Naruto tak langsung keluar. Dia justru penasaran dan menghampiri rak kecil berisi deretan botol disana.
Wah, Itachi punya kondisioner bermerek. Terjawab sudah misteri rambut indah sang Uchiha.
Ngomong-ngomong soal shower, Naruto tertarik dengan shower unik itu. Beda dengan miliknya yang terdapat selang untuk di pegang secara leluasa. Shower ini modelnya tinggi dan tanpa selang.
Penasaran (LAGI) apakah Itachi memakai water heater, Naruto menyalakan shower dengan satu tekanan dan dengan bodohnya—

ZRUUUSSHH!

"Gyaaa!"

BUK!

—dia tersungkur jatuh dengan konyolnya saat terlonjak dari tempatnya berdiri, berkat air hangat yang menyembur dari shower.

Demi Tuhan, mau di letakkan dimana muka anak ini?

"M-Maaf!" Seru Naruto sambil membungkukkan badan di ambang pintu kamar mandi.
Itachi kaget saat mendapati tubuh bocah itu basah kuyup.

"Bagaimana kau—"

"Tadi saya terpeleset dan jatuh!" Naruto memperdalam bungkukkannya.

"Terjatuh?" Itachi tersedak, nyaris tertawa. Sungguh, bocah ini..

"Maafkan saya sensei! Saya akan pulang sekarang!"

"Jangan. Bajumu basah begitu. Tunggu sebentar" Itachi berjalan menuju lemarinya dan meraih sebuah kaus, celana panjang, dan jaket. Lalu memberikannya pada Naruto "Pakai ini dulu"

"M-Maaf merepotkan anda!" Naruto menyambar baju itu dari tangan Itachi dan kembali ke kamar mandi secepat kilat.

BLAM.

"Dasar"

Naruto menjambak rambutnya sendiri, lalu membenturkan kepalanya ke tembok.

Dug!

"Ittai!" Dan kesakitan.

Tak terlukiskan betapa malunya dia. Dia bahkan tak sanggup menampakkan mukanya lagi pada Itachi. Memalukan sekali.
'Jatuh di kamar mandi'

Oh God.

Sambil menangis batin, Naruto segera mengganti bajunya dan keluar.
Itachi masih duduk di tepian ranjang sambil sibuk mengotak-atik ponselnya.

"Sudah?" Tanya Itachi yang hanya mendapat respon anggukan kecil dari Naruto. Dia mengerti, mungkin anak ini malu. Itachi mengurungkan niatnya untuk bertanya kenapa Naruto bisa terjatuh.

"Isi dulu perutmu. Setelah itu kita bicarakan soal tugas" Itachi menggeser baki berisi cemilan ringan dan soda yang tadi ia ambil dari dapur. Menawarkannya pada Naruto.

"Lah, S-Sensei.. Saya merepotkan anda lagi.."

"Sudah, makan saja. Aku membuatnya tadi pagi dan masih sisa"

"Anda buat sendiri!?"

Itachi mengangguk singkat. Naruto segera melahap kue kacang dan puding itu bergantian seperti beruang kelaparan yang baru selesai hibernasi.

"Ini enak sekali sensei!" Komentar Naruto dengan mulut penuh. Itachi tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa disana.

"Ini bukan jam kuliah. Berhentilah memanggilku sensei"

"Eh? Memangnya boleh ya?"

"Kenapa tidak?"

"Ya sudah kalau begitu! Kuhabiskan semua ya, Itachi-san!"

"Tentu" Itachi tersenyum lagi "Naruto"

Untuk sesaat.
Hanya sesaat.
Naruto sempat berfikir tawa singkat itu terdengar menakjubkan.
Ada perasaan senang mendengarnya. Hangat, sekali.
Ah, tapi dia tak peduli soal itu dan terus melahap hidangan lezat itu sampai habis.

Naruto bersumpah dia iri pada Sasuke.

.

.

.

.
.

Sasuke menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.
Naruto muncul dengan wajah cerianya yang membuat Sasuke muak.

Tidak tahu, ya? Sejak jam kuliah selesai, Sasuke tak berhenti gusar, marah-marah, dan berpikir aneh soal Naruto dan Itachi. Darahnya sudah lebih dari sekedar mendidih.

"Yo aku pulaaang" Naruto melenggang masuk melewati Sasuke yang berdiri dingin disana, dan menjatuhkan dirinya diatas kasur tanpa berhenti tersenyum. Entah kenapa moodnya saaangat baik saat ini.

"Tch. Kenapa kau kelihatan senang sekali dobe?"

"Hehehehehe" Naruto hanya menjawabnya dengan cengengesan aneh sambil menyamankan posisi berbaringnya.

Tunggu. Petir menyambar jantung Sasuke saat matanya menangkap sesuatu yang ganjil pada Naruto.

Baju itu.
Dia tahu betul baju itu milik kakaknya.

"Heh. Itu baju Itachi kan?"

"Iya"

"Kenapa ada padamu?"

"Aku pinjam"

Tenang, Sasuke. Hentikan rasa marahmu.
Hentikan rasa curiga itu.
Hentikan perasaan salah itu.

"Pinjam? Memangnya Kau habis melakukan itu dengan dia?" Todong Sasuke frontal tanpa ba bi bu. Awalnya Naruto tak begitu mengerti, tapi ketika ia menangkap MAKSUD Sasuke, dia sontak bangun dari posisinya.

"GILA, SASUKE! AKU MASIH NORMAL! AKU MASIH SUKA WANITA!" Seru Naruto. "Aku tadi jatuh di kamar mandi dan Itachi-san meminjamkan ini karena bajuku basah! Jernihkan pikiranmu woi!"

Benar. Pikirannya tak jernih. Perasaannya kacau. Emosinya tak menentu.
Rumit.
Tidak seharusnya dia marah, bukan?
Siapapun yang Itachi suka tak seharusnya menjadi masalah bagi Sasuke.

Dia saudaramu. Dia kakakmu!

Sasuke tak menjawab lagi. Dia hanya diam lalu duduk di pinggiran kasurnya. Pikirannya masih mengawang.
Apa yang bisa ia lakukan untuk berhenti?
Kepalanya terasa berat. Banyak yang terjadi belakangan ini. Cukup membuat Sasuke tertekan dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Jika dia tidak berhenti, dia bisa gila.

Berhenti.

Satu-satunya cara.

"Kau mau kemana Sasuke?" Tanya Naruto saat Sasuke beranjak dari duduknya dan meraih jaket dari gantungan di dekat pintu.

"Aku mau ke asrama perempuan"

"Heeeee sungguh? Aku ikut!"

Sasuke tak mengacuhkan itu dan tetap berjalan meski ia tak keberatan saat Naruto mengikutinya.
Heran.
Kenapa Naruto tetap bersemangat untuk pergi ke asrama perempuan?
Bukannya Naruto suka Itachi?
Atau mungkin Itachi menyukai si pirang ini bertepuk sebelah tangan?

Ah, pikiran Sasuke benar-benar tidak jernih.
Rasa curiga yang berlebihan seolah hadir tanpa henti-hentinya di kepala Sasuke.

"Ada apa?" Tanya wanita dengan tag name 'Konan' di bajunya saat Sasuke menghampiri meja bagian Informasi asrama perempuan.

"Aku mau menemui seseorang"

"Siapa?"

"Karin dari fakultas ekonomi"

"Karin, ya? Kalian tunggu di sana" Konan menunjuk bangku panjang yang terletak tak jauh darinya "Aku akan panggil Karin sebentar"

Mereka menurut, duduk di bangku panjang itu sementara Konan beranjak menuju kamar Karin.

"Sasuke, kenapa kau tidak cerita kau punya kenalan disini?" Naruto menyikut lengan Sasuke yang mendecak risih karenanya. "Kalau Karin punya teman, kenalkan padaku ya!"

"Diamlah, idiot"

"Cih. Galak sekali" Gerutu Naruto. "Eh Sasuke. Kalau dia dari fakultas ekonomi, bagaimana kau bisa mengenalnya?"

"Dia teman sekamar Sakura"

"Chee! Sakura yang karateka itu?"

"Hn"

Tak lama berselang, sosok yang mereka tunggu muncul beberapa meter di depan, yang lalu berlari kecil menghampiri dengan sedikit salah tingkah.

"S-Sasuke-kun, maaf membuatmu menunggu" Karin gugup. Nyaris percaya ini cuma mimpi. Sasuke datang mencarinya. Uchiha Sasuke!

"Tidak apa-apa. Aku juga baru datang"

Dan merespon ucapannya!

Asli. Pasti ini cuma mimpi.

"Lalu.. Sasuke-kun.. Ada perlu apa?"

"Hari minggu kau sibuk tidak?"

"HAH!?-" Seru Karin spontan "T-Tidak kok. Memangnya kenapa?"

Sasuke melempar pandangannya ke segala arah sebelum melanjutkan kalimatnya. Setengah tidak yakin atas keputusannya sendiri. Tapi, hanya ini yang bisa ia lakukan.
Untuk menyelamatkan dirinya dari kesalah pahaman Sakura, sekaligus salah satu upaya untuk menghapuskan perasaannya terhadap Itachi.

"Kencanlah denganku"

.

.

.

.

.

Sasuke mengabsen deretan buku-buku tebal di rak barisan tengah. Semua buku di perpustakaan utama di sortir berdasarkan jenis dan abjad. Lalu buku dengan penyusun yang sama akan di letakkan secara berdekatan.
Hari Rabu kemarin, Jiraiya-sensei memberikan daftar literatur ilmu negara yang akan di gunakan untuk bahan materi. Kebetulan, perpustakaan menyediakan fasilitas pinjaman per semester dengan biaya yang cukup terjangkau. Daripada harus beli, Sasuke memilih berhemat dengan meminjam dari perpustakaan. Well, asalkan dia cepat dan buku-buku yang dibutuhkan belum di pinjam orang lain.

Tak menemukan di barisan tengah, Sasuke berpindah ke barisan atas. Dan bingo. Dia menemukan buku itu di urutan ke delapan. Sasuke menjulurkan tangan kanannya, tapi masih terlalu tinggi sehingga ia menjinjitkan kakinya. Sedikit lagi, sedikit lagi.
Eh, masih terlalu tinggi juga. Padahal jaraknya hanya beberapa inci lagi.

Detik berikutnya dia melihat ada tangan panjang yang meraih buku itu.
Lalu menyerahkannya pada Sasuke.

"Nih," Itachi tersenyum disana. Cukup kaget juga. Tapi Sasuke tak ambil pusing dan segera mengambil buku itu dari tangan sang kakak lalu pergi.

"Kau bahkan tidak berterima kasih" Itachi mengikuti Sasuke yang duduk di kursi perpustakaan untuk membaca buku-bukunya sekilas.

Sasuke tak menjawab.

"Kau masih cuek seperti biasa" Itachi membuang nafas "Padahal kau bisa meminta apapun padaku yang kau butuhkan"

Apapun? Sungguh?
Boleh aku meminta KAU? Iya, Kau secara utuh. Itu yang kubutuhkan.

"Berisik"

"Oh ya. Aku dengar kau berkencan dengan.. Siapa itu—"

"Karin" Sasuke memotong kalimat Itachi tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

"Benar?"

"Hn" Sasuke mengangkat wajahnya "Memangnya kenapa?"

"Tidak, Naruto bilang padaku kau—"

"Tch. Naruto" Sasuke tertawa pahit "Selalu saja"

Kenapa Naruto? Kenapa alasan dia menanyakan hubungan Sasuke dengan Karin adalah karena cerita NARUTO? Kenapa bukan karena alasan lain?
Itachi tidak rela, misalnya?
Tapi mana mungkin.

Sasuke menutup buku yang ia baca lalu beranjak dari duduknya.

"Sasuke Aku belum selesai bicara"

"Aku tidak ingin mendengarnya" Sasuke tetap berjalan menjauh.

Dia tidak ingin mendengar apa-apa lagi tentang betapa Itachi menghabiskan banyak waktu bersama bocah sialan itu. Dia tidak ingin perasaanya lebih kacau lagi.

Sudah cukup tekanan yang ia dapatkan selama sebulan ini.
Ah, sudah satu bulan lebih rupanya.

Dan dia masih punya sekitar empat puluh bulan lagi untuk dilewati sampai ia lulus.
Rasanya mau mati saja.

Sasuke memasuki kamarnya-tentu Naruto disana. Dia hanya tak ingin membahasnya-lalu meletakkan buku ke laci-laci di bawah mejanya.

Plop.

Bahkan suara letupan permen karet dan berisiknya game dari laptop Naruto mulai terdengar bersahabat.

Sasuke meraih laptopnya dan mulai menenangkan otak dengan browsing ke beberapa situs membaca online di internet.
Dia tidak mempunyai banyak akun jejaring sosial. Hanya e-mail, instant messenger dan skype yang hanya ia gunakan untuk kepentingan terdesak saja. Saat harus melakukan panggilan luar negeri, misalnya.
Selain e-mail dan messenger, Sasuke punya satu akun dimana dia cukup aktif.

Another101 adalah situs yang tidak populer, dimana kebanyakan penggunanya adalah pelaku LGBT.

Ya. Sasuke bebas mengutarakan unek-uneknya disana, lalu mendapatkan advice dari sesama user yang tentunya mengerti karena mereka dalam kondisi yang cukup sama.

Dia membaca postingan-postingan terbaru yang masuk. Mayoritas isinya adalah keluhan atau permintaan pendapat.

Sampai ada satu yang menarik perhatiannya.

Itachi_beaver : Apa pendapat kalian tentang aku yang menyukai saudaraku, merasa tidak benar dengan itu dan berusaha menghentikannya?

Sasuke terbelalak.

Itachi?
Menyukai saudara?
Saudara satu-satunya?
Itachi yang itu?
Itachi Uchiha kah?

Tidak, ini pasti kebetulan.

Tapi tak bisa di pungkiri, jantung Sasuke terpompa hebat begitu saja. Tangannya bergetar.
Berkeringat.

Benarkah ini?
Benarkah ini?

Dengan nyawa setengah melayang, Sasuke mulai mengetik di kolom komentar. Dia bisa tenang karena dia memakai nama samaran.

theblackstark : Maksudmu kau menyukai saudara kandungmu?

Setelah meng-klik tab send, Sasuke berdoa dengan debaran jantung secepat derapan kuda perang.

Kling!

Ada balasan!

Itachi_beaver : Ya. Dia adikku.

KAMISAMA! KAMISAMA!

Eh, Tapi dia tidak boleh senang dulu. Bisa jadi Itachi yang ini bukan Itachi Uchiha. Mungkin saja dia Itachi dari planet lain yang kebetulan punya seorang adik juga.

theblackstark : Memangnya berapa usiamu? Dan usia adikmu?

Itachi_beaver : Jarak usia kami cukup jauh.

Ah, dia tidak menjawab dengan jelas rupanya.

theblackstark : Ngomong-ngomong boleh tahu nama dan asalmu?

Itachi_beaver : Kenapa?

theblackstark : Username-mu mirip nama seseorang yang kukenal. Siapa tahu aku bisa membantumu.

Itachi_beaver : Benarkah? Aku Uchiha Itachi. Aku seorang dosen di Konoha.

CHECKMATE. BINGO. VOILA. BANZAI!

Itachi_beaver : Apa kau mengenalku?

.

.

.

.

To Be Continued

A/N : Mohon maaf ya, update-nya lama ( ^ ^ )a
Ndilalah(?) bertabrakan sama hari lebaran sih, hehe. Makasih atas pengertiannya , dan makasih juga atas kesabarannya ^^

Saya seneng sekali saat fic ini mendapatkan sambutan positif padahal masih banyak kekurangan. Saya akan berusaha lebih baik lagi. Terima kasih!

Oke, selamat hari lebaran bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir dan batin ya :') *shrugs*

Jangan lupa reviewnya teman-teman ( ^ ^ )