NIGHTCRAWLER
A Kristao Fanfiction by Aesthoxis (Usami Machiko)
Genderswitch / Action / Mature (for gore and sex in upcoming chapter)/ Drama
This story is mine and if you ever read a story that has the same story line , it's fully inadvertent.
The last,
Enjoy the story!
.
.
.
"Mama!Baba!" Jeritan gadis kecil itu semakin menjadi kala api di kamar nya semakin membesar.
"Mama! Baba! Tolong Zitao!" Zitao sangat ketakutan dan tak tahu apa yang harus ia perbuat. Api sudah mengepung kamar nya.
"Zitao?!" Seru suara di luar sana yang membuat Zitao seketika terlonjak. "Baba! Tolong Zitao!...hiks…Baba…" Gadis kecil itu mulai terisak, dikala kobaran api mulai menyambar tempat tidur yang sekarang ia duduki.
"Baba akan kesana, Kau jangan khawatir!" Tak lama setelah nya, pintu terbuka lebar , melihatkan sosok ayah gadis itu yang luka di sekitar wajah nya dan pakaian nya robek di beberapa daerah. Pria itu langsung saja mengangkat Zitao ke dalam pelukan nya. Jika saja ia terlambat beberapa detik, ia yakin putri tunggal nya sudah dilahap api.
Zitao masih terus terisak di dalam pelukan sang ayah. Ia masih shock karena terbangun dari tidur dengan api yang membakar kamar nya. Sang ayah pun lebih terkejut ketika pulang dari kantor mendapati rumah yang di huni keluarganya dilahap api.
Sang ayah terus berusaha menerobos api yang semakin lama semakin membesar. Tubuh nya terasa perih, namun ia harus bisa menyelamatkan putri dan juga istri nya.
Tak lama setelah nya, mereka berdua sampai di halaman depan rumah mereka yang cukup luas. Tubuh gadis itu di turunkan oleh ayah nya.
"Zitao, dengarkan Baba baik-baik." Ujar sang ayah seraya memegang kedua bahu Zitao. Sedangkan gadis itu hanya mengangguk dan memperhatikan wajah lelah sang ayah.
"Baba akan mencari Mama di dalam, kau tunggu disini dan jangan pergi kemana-mana. Mengerti?"
"Tapi Zitao takut baba…. Hiks" Gadis kecil itu masih terisak perlahan.
"Tenang saja, Baba akan kembali dengan Mama, semua akan baik baik saja sayang" Tuan Huang kemudian merengkuh tubuh putri tercinta nya dengan sayang dan mengecup wajah nya. Setelah nya ia langsung bangkit dan berlari masuk ke dalam rumah nya.
Zitao hanya menatapi kepergian sang ayah dengan penuh harap. Mata yang sehari-hari berbinar cerah kali ini hanya dapat mengeluarkan air mata. Bibir plum yang biasa mengukir senyuman manis, kali ini hanya mengeluarkan isakan kecil. Tangan mungil nya hanya memeluk kedua lutut nya. Ia benar-benar ketakutan.
Ia terus memandangi rumah nya dengan penuh harap. Menanti kedua orang tua nya keluar dengan selamat dan dapat kembali ke rengkuhan keduanya.
Waktu terus bergulir. Namun kedua orang tua nya tak kunjung terlihat. Zitao kecil yang mulai khawatir pun akhirnya bangkit dan berjalan mendekat ke arah rumah nya. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, indera nya menangkap sosok ayah dan ibu nya yang berlari dengan tangan yang bertautan melewati kobaran api yang melahap rumah nya. Kedua orang tua nya berhasil keluar.
"MAMA! BABA!" Zitao pun bangkit dan berlari mendekati kedua orang tua nya yang sedang berjalan ke arahnya.
DORR!DOR!DOR!
Suara tembakan terdengar ketika Zitao hampir masuk ke dalam pelukan orang tuanya. Gadis kecil itu mematung dengan ekspresi ketakutan melihat kedua orang tua nya tersungkur dihadapan nya dengan darah memenuhi kepalanya.
"MAMAAAA! BABAAAA!"
"Hey-hey, kenapa berteriak seperti itu" Sebuah suara muncul sesaat ketika Zitao berteriak dan bangun dari tidur nya. 'Mimpi buruk lagi…' batin gadis itu. Tubuh nya terduduk kaku. Zitao masih terdiam tak mengindahkan pertanyaan laki-laki di depan nya. Ia masih melamun dan memikirkan mimpi buruk tentang malapetaka yang pernah di alami nya. Ketika rumah nya dibakar dengan sengaja dan orang tua nya dibunuh tepat di depan nya.
Lelehan air mata tidak dapat dibendung. Ia mulai terisak pelan dan memeluk kedua lutut nya dengan wajah yang ia sembunyikan. Pria lain di ruangan itu masih berdiri di depan kasur tempat dimana gadis itu tertidur beberapa waktu lalu. Pandangan mata nya kebingungan dengan ekspresi panik kentara di wajah pria itu.
"Kau bermimpi buruk…?" Suara pria itu melunak dan terdengar lembut. Sementara Zitao hanya mengangguk kecil dalam posisi nya yang tak berubah sedikit pun. Pria itu merasa iba dengan Zitao. Perlahan ia merengkuh tubuh ringkih nya lalu memberi usapan lembut di pucuk kepala gadis itu.
Perlahan isakan Zitao pun berhenti. Tubuh bergetar nya pun berangsur angsur menjadi .
"Ibu ku selalu melakukan ini dulu setiap aku bermimpi buruk" ujar pria itu. Zitao dapat merasakan nada suara yang amat datar. Walaupun kalimat yang diucapkan sama sekali tidak menyeramkan.
Perlahan Zitao memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Alangkah terkejutnya gadis itu mendapati sosok yang merengkuh nya saat ini. Itu adalah pria ber-jas navy yang menjadi tamu VIP nya saat kejadian itu.
"K-kau….." Zitao mendorong tubuh pria itu menjauh. Ia pun menatap sekeliling nya dan tersadar jika sekarang ia tidak berada di kamar nya, melainkan kamar asing yang ia tidak ketahui milik siapa.
Di depan nya kini duduk seorang pria bersurai pirang yang menggunakan pakaian serba hitam. Zitao meneliti setiap inci tubuh pria dihadapan nya secara seksama hingga akhir nya ia tersadar akan sesuatu. Hoodie pria itu.
"Kau pria yang di sebrang jalan itu…" Ujar gadis itu dengan sangat lirih. Jantung nya berdebar kencang , dan ia merasa bulu kuduk nya berdiri. Pria di hadapan nya ternyata adalah pria yang selama ini menguntit nya. Menjadi mimpi buruk Zitao selama beberapa minggu belakangan , dan kini ia dihadapkan dengan pria itu.
Pria itu hanya menatap nya dalam diam. Tatapan nya begitu tajam dan menusuk, membuat gadis di hadapan nya semakin menciut ketakutan. Zitao pun kini tahu dengan jelas apa yang membuat pria ini menguntit nya.
Rekaman di ponsel nya.
Zitao sangat sadar bahwa itu bisa menjadi bukti tindakan kriminal yang terjadi di klub tempatnya bekerja. Walaupun hal itu dia dapatkan secara tidak sengaja.
"Kau boleh mengambil ponsel ku semaumu dan menghapus segala rekaman di hari itu sesuka mu , kumohon jangan membunuhku , aku tidak bermaksud untuk melukai dan merugikan, kumohon ….." Zitao memohon sambil mendekapkan tangan nya di depan dada dan membungkuk.
"Aku akan senang melakukan nya. Namun ku pikir hal itu tidak cukup, mereka mengetahui apa yang kau miliki dan tidak hanya rekaman itu yang mereka cari, namun diri mu yang mereka inginkan" Pria itu berkata dengan sangat serius. Tatapan nya lurus menghujam manik mata milik Zitao.
"M-mengapa mereka menginginkan ku?"
"Kau tidak perlu tahu sekarang, yang harus kau lakukan adalah mengikuti arahan ku, kau akan aman di bawah lindungan ku mengingat jika tidak, apa yang ku miliki sekarang akan hancur…." Ucapan pria itu menggantung. Sedangkan Zitao menyimak nya dengan seksama.
"Dengar baik-baik, kau harus tetap tinggal disini, tidak boleh ke luar rumah ini tanpa seizin ku, jangan membantah atau kau yang akan mengakhiri hidup mu sendiri. Mengerti?"
"y-yaaa! Aku juga punya kehidupan! Bagaimana dengan murid ku? Pekerjaan ku? Luhan? Apartemen—"
"Kau masih mau hidup atau tidak?"
DEG!
Ucapan Zitao terpotong oleh satu kalimat dari pria itu. Tentu saja ia masih ingin hidup, namun semua hal yang terjadi belakangan ini baginya sangat tidak masuk akal. Pria itu pun beranjak dari hadapan Zitao dan berjalan menuju pintu putih yang berada tak jauh dari ranjang yang ia tempati.
Tanpa menoleh, pria itu berkata ,"Sementara ini ponselmu akan kutahan." Zitao hanya diam menatapi punggung kokoh pria itu yang sedang membuka pintu dan beranjak keluar.
"Dan satu lagi, nama ku Wu Yifan."
BLAM!
Pintu itu menutup ruangan sunyi yang ditemani tatapan kosong Zitao dengan tubuhnya yang diam tak bergeming.
.
.
.
.
Zitao merutuki nasib nya sekali lagi. Mungkin dia memang ditakdirkan menjadi orang yang tidak beruntung. Sudah sepuluh jam ia berada di kamar baru nya dan tidak melakukan apapun yang berarti. Hanya menonton TV dan memakan makanan yang untungnya di sediakan oleh pria yang bernama Yifan itu melalui pelayanan maid nya.
Tentu saja Zitao menganggap pelayanan maid adalah sesuatu yang wajar untuk seorang Wu Yifan. Pria pemilik perusahaan yang cukup terkenal di Asia Timur dan juga salah satu yang mendominasi jaringan bisnis gelap di Asia. Siapa yang tidak mengetahui nya? Ia sangat terkenal, namanya banyak dikenal sebagai sosok yang tampan dan cerdas. Walaupun fakta kelam nya, ia adalah seseorang yang suka bermain kotor dan bengis. Namun tidak banyak yang tahu akan hal itu.
Dan bodoh nya , Zitao tidak pernah mengetahui wajah dari sosok yang tersohor di Korea hingga seluruh Asia itu. Ia baru mengetahui nya tadi malam, ketika ia berhadapan dengan Yifan. Hal yang membuat Zitao semakin terkejut adalah fakta bahwa diri nya masuk ke dalam sebuah masalah yang seharusnya bukan urusan nya namun atas takdir yang sekali lagi tidak menguntungkan untuknya, Zitao terjebak di dalam nya.
Sekarang Ia bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan untuk mengisi kekosongan waktunya. Ponsel nya ditahan, ia tidak bisa menghubungi Luhan dan memberi tahu bahwa dirinya baik baik saja dan juga menghubungi murid-murid nya bahwa ia tidak bisa mengajar lagi.
Zitao sudah berkali kali melirik ke arah pintu, berusaha untuk kabur, mengingat penjaga rumah sedang tidak berada di pos. Oh tentu saja Zitao tahu, ia dapat melihat pos dan gerbang rumah yang sepertinya besar ini dari jendela yang berada di kamar nya.
Setelah pertimbangan yang cukup lama—sejak sepuluh jam terakhir— , Zitao memutuskan untuk keluar dari kamar nya yang ternyata tidak dikunci. Tak lupa membawa tas yang untungnya berada di kamar itu. Ia terdiam sejenak mengamati interior rumah ini. Rumah yang bagi Zitao cukup besar. Membuat nya ragu jika nanti akan menemukan pintu keluar.
Gadis itu berjalan mengendap-endap, meminimalisir suara yang diciptakan nya. Ia mencoba untuk menulusuri seisi rumah itu.
.
.
.
Menit demi menit terlewat. Zitao pun telah mempelajari rumah Yifan. Rumah itu tidak sebesar yang ia kira. 'Mungkin bukan rumah utamanya' pikir gadis itu. Dan yang paling penting adalah, rumah itu hanya memiliki dua maid dan dua penjaga yang kebetulan keempat nya sedang beristirahat di taman belakang rumah.
Tentu saja situasi tersebut tidak disia-siakan Zitao. Gadis itu bergegas menuju gerbang rumah tanpa menimbulakn suara yang mencurigakan. Namun sial, pintu gerbang terkunci dan Zitao tidak dapat menemukan kunci nya di sekitar situ.
Tetapi yang nama nya Zitao, tidak akan menyerah sampai situ. Gadis ceroboh ini memiliki tingkat ketangguhan yang tinggi. Ia pun memanjat gerbang itu dengan cepat. Tentu saja ia bisa. Dulu ketika di sekolah menengah, ia cukup sering membolos dengan cara memanjat tembok sekolah.
HAP!
Zitao berhasil mendarat di luar gerbang. Ia pun dengan sekuat tenaga berlari menjauhi rumah tersebut dan bertemu jalan raya yang tidak begitu asing bagi nya. Langsung saja ia memberhentikan Taxi yang lewat dan bergegas pulang ke flat nya.
.
.
.
.
.
Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam itu akhirnya berakhir. Zitao sampai di flat nya dengan selamat dan langsung mengunci pintunya. Mendudukan diri nya pada kursi yang berada di depan komputer kesayangan nya. Hal yang pertama ia lakukan adalah mengirim E-mail kepada murid murid nya untuk tidak mengajar untuk beberapa waktu kedepan. Tak lupa juga ia mengabari Luhan dan meminta tolong wanita itu untuk berbicara kepada managernya bahwa ia tidak bisa bekerja untuk beberapa hari kedepan .
Helaan nafas keluar dari bibir kucing nya. Ia terlalu lelah dengan hidup nya yang tiba-tiba berubah ini.
Ia tidak tahu berapa lama akan bersembunyi di flat nya. Karena ia pikir disinilah tempat paling aman yang ia miliki.
Kruyukk~
Perut Zitao berbunyi menandakan bahwa dirinya lapar. Ia pun tidak tahu apa yang akan ia makan, karena yang ia tahu, persediaan makanan di rumah nya habis dan ia sangat tidak mungkin pergi ke luar flat nya mengingat status nya yang setara seperti seorang buronan.
Gadis itu memutuskan untuk memesan Pizza secara online melalui komputer nya. Sambil menunggu pesanan nya, Zitao pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan juga berendam untuk merileksasi tubuhnya yang terlampau lelah.
Selang beberapa menit, Zitao keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar. Tubuh nya dibalut dengan terusan tidur nya yang tak berlengan dengan strap tipis. Terusan yang ia kenakan hanya menutupi setengah paha mulus bak model milik nya. Rambut legam nya yang sudah mukai kering tergerai indah di punggung nya.
TINGTONG!
Bell berbunyi ketika Zitao hendak merebahkan diri nya di kasur sehingga ia mengurungkan niat nya dan mengambil kimono nya yang tergantung di dinding kamar nya.
Bel itu berbunyi berkali kali , membuat Zitao menggeram perlahan dan berteriak "Tunggu sebentar!"
'Cih pengantar Pizza kurang ajar' batin nya kesal.
Zitao pun membuka pintu nya dengan kasar dan hendak membentak pengantar Pizza tersebut . Namun hal itu tidak jadi ia lakukan melihat seorang pria yang memakai masker di depan nya kini menyodorkan sebuah pisau tajam di depan muka Zitao. Gadis itu terbelalak dan perlahan mundur ke belakang. Pria itu melangkah masuk ke flat Zitao dan menutup pintunya.
"M-mau apa kau…?" Tanya Zitao dengan nada yang bergetar.
"Ikuti saja aku tanpa bersuara, jangan meminta tolong atau pisau ini akan menyayat kulit mu" ancam pria itu.
"T-tapi…."
"Aku memberi mu pilihan. Ikuti aku , maka nyawa dan tubuh indah mu selamat, atau memberontak dan pisau ini menyayat kulit mu, atau bahkan kau ingin ku suntik hingga tidak dapat bergerak lagi?" Kali ini pria bermasker itu menunjukan sebuah suntikan kecil dari kantung celana nya.
Zitao meneguk ludah nya perlahan dan mengangguk kaku. Pria itu menurunkan pisau nya dan menarik tangan gadis itu kencang. Menggandeng nya dengan kuat dan menarik tubuh nya keluar dari flat milik nya menuju lift kecil yang ada di ujung lorong. Pria itu menekan tombol lift itu berkali kali dengan tidak sabaran. Beberapa kali tubuh Zitao memberontak namun tenaga pria itu begitu kuat. Dalam batin nya ia menyesali kecerobohan nya. Seharus nya ia memastikan siapa yang mengetuk pintu sebelum membukakan nya.
TING!
Lift pun sampai di lantai tersebut. Pintu nya terbuka perlahan. Zitao Mencoba bersikap normal jika sewaktu waktu tetangga nya berada di lift itu dan mencurigai nya. Ia tidak mau ada pihak lain yang ikut terjebak dalam masalah ini.
Namun apa yang ada dihadapan nya sungguh di luar dugaan. Kepingan obsidian ZItao bertebrakan dengan sepasang hazel indah yang sangat menusuk. Kedua kaki Zitao melemas dan membuat diri nya limbung. Namun pria bermasker di sebelahnya menahan tubuhnya. Sementara Zitao menatap seseorang yang berada di dalam lift dengan tatapan yang sulit diartikan.
Gadis itu pun berbisik lirih "Y-yifan…."
.
.
.
.
.
TBC
HALOOOOOOO HAI HAI HAI. Reders ku sekalian aku tahu kalian pasti sangat kesal karena cerita ini tak kunjung di update dari sebelum puasa. Mianhae…. Jeongmal mianhae… Sedikit curhat, kenapa aku gak update, karena aku sangat sibuk. Aku ini kelas dua belas dan ya kalian tahu lah ya kegiatan kelas 12 seperti apa. Belum lagi persiapan masuk kuliah ku sangat sulit karna aku gak berencana melanjutkan kuliah di Indonesia. Jadi mohon maaf banget telat update. Sejujur nya ide nya udah ada banget dari selesai ngetik chapter 2 , tapi emang gak nemu waktu luang buat nuangin ke dalam kata-kata. Sekali lagi aku minta maaf dengan segenap hati dan minta dukungan nya agar dapat membuat banyak fanfic Taoris. Karena miris banget yaaa makin lama taoris makin seret LLL
Untuk para KTS sejati, mari kita terus lestarikan pasangan antic ini bersama dan jangan menyerah/?
Thank you for reading my fanfic and sorry if this fic contains so many typos. Because, to be really honest, I didn't re-check this fict :')
Sincerely ,
Aesthoxis
