Masih dengan jelas aku mengingat bagaimana cepatnya aku melangkahkan kaki. Bagaimana orang-orang menyingkir dengan rengutan di wajah mereka ketika ku menerobos dengan sesekali meminta maaf. Di hari itu aku berhenti beberapa meter dari papan pengumuman setelah melihatnya lebih dulu sampai. Aku menarik napas kemudian menghembuskannya kencang. Suatu kebiasaan yang aku sendiri tak mengerti kenapa melakukannya setiap hari itu datang. Dan langkah-langkah yang sengaja kubuat memelan dari sebelumnya membawaku berdiri di sebelahnya. Yang kuingat aku tak pernah bisa menahan senyumku setelah melihat namaku menjadi pemegang peringkat pertama.

"Sepertinya aku kalah lagi,"

Aku menoleh ke arahnya, dimana di sebelahku Uchiha Sasuke sedang berdiri menatap lurus papan pengumuman. "Selamat, tapi lain kali aku tidak akan kalah," ujarnya lalu menoleh ke arahku dibarengi senyuman tipis.

Jika mengingatnya kembali, itu mungkin saat-saat paling menyenangkan yang pernah aku rasakan. Aku ragu untuk mengakuinya tetapi kurasa aku merindukan saat kami berdiri berdampingan sebagai saingan.

Twinkle Twinkle

Naruto © Masashi Kishimoto

(Tidak ada keuntungan apapun yang saya dapatkan dalam membuat karya ini. Fanfiction ini dibuat untuk hiburan semata)

Sasuke U. & Sakura H.

(Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses. Dia sangat tampan dan pintar, selalu mendapat perhatian semua gadis. Sejujurnya aku tidak tertarik padanya. Aku memerhatikannya karena ia adalah sainganku. Dan diujian kelulusan, dia berhasil mengalahkanku. Sekarang kami berada di sekolah yang sama, aku ingin mengalahkannya kali ini. Tapi dia berubah menjadi Uchiha pembuat masalah, yang parahnya lagi melamarku di tahun pertama kami di SMA)

Catatan : kalimat bercetak miring adalah isi pikiran tokoh/bicara dalam hati.

Semuanya menjadi melelahkan ketika udara mulai menghangat dan menimbulkan keringat berlebih saat melakukan kegiatan. Disaat setiap anak berlomba-lomba untuk pulang ke rumah dan memanjakan diri dengan es serut atau potongan semangka segar, Sakura masih menyusuri rak buku perpustakaan dengan alis tertekuk. Tak peduli dengan bel pulang sekolah yang telah berdering dengan nyaringnya atau udara yang tetap panas mesti sudah memasuki sore hari, gadis berambut merah muda itu hanya ingin mendapat jawaban dari soal yang tak bisa ia pecahkan.

"Kau belum pulang?"

Sakura dibuat terkejut dan menabrakan punggungnya ke rak ketika Uchiha Sasuke tiba-tiba muncul di dekatnya. Pemuda itu tampak telah menggendong tas. Pakaiannya lebih rapi dari biasanya dan luka-luka lebam di wajahnya mulai samar. Sakura menghela napas ketika sadar jika ia mengabaikan Sasuke beberapa hari ini karena ujian yang semakin dekat memenuhi otaknya.

"Kau mengagetkanku. Maaf, beberapa hari ini aku tak bisa berangkat atau pulang bersamamu. Kau tahu, aku harus belajar, ujian semakin dekat dan…" Sakura berhenti bicara, ia terdiam dengan rona merah yang mulai nampak di kedua pipinya. Cukup membuatnya tersipu ketika ia menyadari jika kedua mata Uchiha Sasuke menatapnya lekat saat ia bicara. Sasuke yang tak menerima kelanjutan menepuk kepala kekasihnya itu pelan. "Aku tahu," ujarnya kemudian menyerahkan sebuah buku tebal kepada Sakura "Kau mencari ini kan? Cepatlah pulang setelah ini," , ucap Sasuke lalu keluar dari perpustakaan.

Cukup lama Sakura menatap buku yang ada di genggamannya. Sebuah pembatas buku terselip di tengah-tengah buku tersebut. Sakura membuka halaman itu lalu setelahnya tersenyum kecil. "Kau tidak boleh mencoret buku perpustakaan," gumamnya setengah terkikik. Halaman itu membahas jawaban akan soal yang Sakura cari jawabannya. Beberapa kalimat telah digaris bawahi menggunakan pulpen merah yang ditambahi catatan kecil.

…dan ada sebuah coretan singkat di sana. Sakura memeluk buku itu. Gawat,Ayah.. aku tak bisa menahan senyumku.

"Ini soal yang mudah. Dasar bodoh,"

-Sasuke-

Chapter 3 : Saingan

Sakura melihat Sasuke tertidur di perpustakaan ketika berniat mengembalikan buku yang dipinjamnya kemarin. Pemuda itu mungkin sedang membolos dan berakhir tertidur di sana. Ia duduk di dekat jendela, kedua tangannya terlipat sebagai bantal. Sakura tak bisa menahan diri untuk tidak memerhatikan wajah Sasuke saat memejamkan mata.

"Wajahnya saat SMP bahkan tak sepolos ini. Dia seperti bayi saat tidur," gumam Sakura pelan. Sakura merebahkan kepalanya menghadap Sasuke. Dirinya mulai bertanya-tanya, kenapa ia dulu tak menyadari jika pemuda yang selalu menjadi saingannya ini sangat tampan.

Dia membuatku bingung. Kenapa ia berubah menjadi seperti sekarang? Kenapa ia memintaku menjadi kekasihnya? Dulu maupun sekarang dia tidak bisa ditebak.

Sakura mengambil sebelah earphone yang Sasuke kenakan. Hampir saja ia tertawa ketika indra pendengarnya menangkap lagu Twinkle Twinkle Little Star . "Dia menyeramkan tapi selera lagunya lucu," Sakura terkekeh kecil. Cukup lama Sakura merebahkan kepalanya menghadap Sasuke sampai kedua mata berwarna hijau itu menangkap luka lecet di kening Sasuke yang tertutupi poni. Tanpa bisa dicegah, Sakura menggerakan tangannya untuk menyentuh luka itu namun tak sempat. Tangannya telah ditahan oleh Sasuke yang perlahan mulai membuka mata.

"Apa yang ingin kau lakukan?" suara datar namun pelan Sasuke spontan membuat Sakura menarik tangannya. Kedua wajahnya memerah. Segera ia memperbaiki posisi duduknya dan melepas earphone Sasuke dari telinganya.

"Ti-tidak ada. A-aku hanya ingin mengembalikan buku lalu kebetulan melihatmu. Maaf..a-aku membangunkanmu, aku harus segera ke kelas," Sakura berucap gugup. Belum sempat Sakura sepenuhnya berdiri, tubuhnya kehilangan keseimbangan karena tarikan Sasuke pada tangannya. Sakura tidak bisa mencegah wajahnya agar tidak merona merah. Saat Sakura tersadar jika kini dirinya jatuh tepat di depan tubuh dan pemuda itu malah meletakan kepalanya di bahu miliknya, Sakura tahu jika jantungnya tidak akan bisa bekerja dengan normal.

"Aku akan menang Sakura," ujar Sasuke pelan kemudian melepaskan Sakura dari kukungannya. "Aku tidak akan kalah,"

Sakura membeku. Sekelebat bayangan Sasuke semasa sekolah menengah pertama muncul saat pemuda itu mengatakan hal itu. Kalimat yang ia tidak tahu dimaksudnya dalam konteks apa namun cukup membawa ingatannya melompat mengingat masa lalu.

Mengingat Sasuke yang tidak ingin kalah darinya.

"Aah! Kita bertemu lagi," Sakura mengembangkan senyumnya cukup lebar ketika Shimura Sai, pemuda berkulit putih pucat itu menyapanya. "Aa.. selamat siang , Senpai"

Shimura Sai tersenyum kemudian menyerahkan salah satu selebaran yang dibawanya pada Sakura. "Berkenan untuk ikut?" tanya Sai disertai senyuman, berharap junior yang baru di kenalnya itu tertarik.

"Klub manga ? aku tidak pernah tahu ada klub seperti ini di sini," ujar Sakura setelah melihat selebaran yang diberikan Sai padanya. Sai menghela napasnya. "Anggotanya hanya bersisa tiga orang, junior sekarang lebih tertarik pada klub musik ringan dan olah raga. Aku harus mencari minimal satu anggota lagi agar klub tidak dibubarkan," jelas Sai.

"Aa.. pantas saja Senpai berkeliling di gedung kelas satu. Hmm, tapi mencari anggota saat dekat ujian seperti ini pasti susah," Sakura kembali memerhatikan selebaran yang diberikan Sai "kebanyakan pasti memilih untuk fokus pada pembelajaran. Termasuk aku yang belum mengerti beberapa materi. Mungkin senpai harus mencari anggota setelah uji…" Sakura tak melanjutkan kalimatnya saat menyadari wajah Sai sangat dekat dengannya. "Kalau begitu bagaimana jika aku mengajarimu materi pelajaran yang tak kau mengerti kemudian kau bergabung dengan klubku?" ucap Sai diiringi dengan senyuman khasnya.

"Hehhh?! Tidak.. tidak senpai , aku tidak tahu apapun tentang manga dan lagipula aku tidak berbakat menggambar,"

Sai tertawa kecil "Sakura-chan, semua di sekolah ini tahu kau yang menggambar poster untuk acara sekolah bulan lalu kan?" Sai menarik kedua tangan Sakura dan menggenggamnya kuat "Jadi, tolonglah. Kau hanya perlu mengisi namamu dan aku akan mengajarimu materi pelajaran yang tak kau mengerti, bagaimana?"

Sakura menghela napasnya, "Baiklah senpai," Sai kembali tersenyum dan menghadiahi Sakura acakan kecil di rambutnya. Keduanya terlihat akrab, khusunya di mata Sasuke yang melihat keduanya sambil melipat tangan.

Sakura berlari menuju Sasuke yang berdiri menunggunya di gerbang sekolah. "Kau menunggu lama? Hah.. hah.. maafkan aku," ucapnya masih terengah-engah. Sasuke hanya bergumam singkat sebelum melangkahkan kakinya lebih dulu dari Sakura.

"Ujian tinggal dua hari lagi dan aku berhasil mengerti soal-soal matematika yang rumit itu. Aahh senangnya, aku jadi tambah antusias!" Sakura terlihat senang sedangkan Sasuke hanya menanggapi dengan gumaman kecil. Sejak di sekolah hingga kini mereka berada di kereta, Sakura menyadari Sasuke semakin tidak banyak bicara. Pemuda itu hanya bergumam dan melihat kea rah ponselnya berulang kali.

Suara deringan ponsel membuat baik Sasuke maupun Sakura mencari sumber bunyi. "Ahh ternyata ponselku hehe, telepon dari Sai-senpai," sebelum Sakura menerima panggilan telepon itu, Sasuke lebih dulu menahan tangannya dan kemudian menjatuhkan diri kepelukan Sakura.

"U-Uchiha-kun ?"

"Jangan diangkat, kumohon," bisik Sasuke.

"Ta-tapi.." melihat Sasuke yang semakin menenggelamkan diri di lehernya, membuat Sakura menganggukan kepalanya "Baiklah, tidak akan ku jawab panggilannya,"

Sasuke melepaskan diri dari Sakura. Kedua mata hitam itu menatap emerald Sakura. "Kau memanggilnya dengan nama depannya," ucap Sasuke pelan sebelum memalingkan wajah. "Kita telah lama saling kenal, Sasuke.. panggil aku seperti itu," lanjut pemuda Uchiha itu.

Sakura membuka bibirnya ingin menyahuti namun ia tidak dapat mengeluarkan suaranya. Semakin ia memerhatikan Sasuke, wajahnya semakin dibuat memerah.

"E-eum.. Sa-Sasuke-kun," Keduanya membeku pada posisi masing-masing. Terlalu malu untuk saling menatap namun tidak ingin saling melepaskan genggaman. Perlahan Sasuke melepaskan genggamannya pada tangan Sakura, menarik gadis itu hingga ia menjatuhkan ponselnya yang terus berdering. Sasuke mulai menghapus jarak diantara mereka namun terhenti saat suara gesekan rel dengan roda kereta berdecit kencang disusul suara pintu kereta yang terbuka.

Sakura buru-buru mendorong tubuh Sasuke, mengambil ponselnya yang terjatuh kemudian berlari keluar dari kereta. I-ini benar-benar tidak baik bagi jantungku!

Sedangkan Sasuke masih duduk di dalam kereta, menutupi sebagian wajahnya yang memerah dengan punggung tangannya.

Sejak kejadian di kereta, Sakura selalu berusaha menghindari Sasuke. Dia merasa belum siap membuat jantungnya berdetak tak normal lagi setiap melihat Sasuke dan mengingat kejadian tempo hari. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian semester. Sakura berjalan gontai menuju papan pengumuman. Mengingat kejadian di kereta saja membuat tenaganya seperti terkuras. Ia tak bisa membayangkan jika harus bertemu Sasuke. Sakura semakin memperlambat langkahnya. Suara bisikan dan pembicaraan orang-orang di sekitarnya membuatnya tertarik. Seketika Sakura melebarkan mata dan melangkahkan kakinya kencang menuju papan pengumuman. Ada pemandangan tak biasa yang dilihat seisi sekolah, termasuk Sakura. Sakura berhenti beberapa meter dari pemuda itu. Sama seperti tahun-tahun yang lalu saat mereka masih di sekolah menengah pertama. Sakura melangkahkan kakinya pelan, kemudian berhenti tepat di sebelah Sasuke. Ia menoleh, menatap Sasuke cukup lama sampai pandangan lurus pemuda itu berpindah padanya. Sakura memindahkan pandangannya ke papan pengumuman dan mendapati nama Uchiha Sasuke mengambil peringkat pertama. Kembali, Sakura memindahkan pandangannya ke pemuda yang berdiri di sampingnya.

"Sudah kubilang aku tidak akan kalah 'kan?"

Sakura menarik sudut bibirnya kemudian ia tertawa. "Eum! Untuk berikutnya aku akan mengambil posisiku kembali!" Sakura tak mengerti kenapa ia sesenang ini. Bukankah harusnya ia merasa sedih? Tapi mendapati fakta bahwa ia bisa kembali berlomba dengan Uchiha Sasuke lebih menyenangkan dibandingkan melihat namanya diperingkat pertama tanpa ada yang bisa mengejar nilainya.

Ayah, dia memang tidak bisa ditebak. Entah membuatku canggung atau merasa nyaman, sikapnya punya banyak kejutan. Dan kali ini, dia mengejutkanku dengan kembali berdiri berdampingan denganku sebagai saingan.

Bersambung.

Yakkk sudah berapa lama saya hiatus? Sudah berapa lama fanfiction ini ditelantarkan?maafkan saya *cry

Terima kasih untuk para pembaca yang dengan setianya menunggu fanfiction ini, uhh sayang kalian *peluk

Akhir kata, kembali saya ucapkan terima kasih dan mohon maaf. Sampai ketemu di chapter selanjutnya~