~In Past Chapter~
.
"Aku ingin bergabung menjadi tim Akatsuki"
"..."
"..."
"Ck. Jangan bermimpi kau Uchiha. Kami merekrut mereka yang terpilih secara khusus saja. Kualifikasi yang utama sebagai syarat masuk anggota. Harus mengikuti serangkaian tahap pengujian yang tidak sembarang shinobi mampu melewatinya," balas Pein menatap puas pada pemuda yang kini terlihat mengkerut masam.
"Aku kuat dan tangguh. Aku juga berasal dari klan hebat dan terpandang. Aku juga tampan. Aku sudah memasuki kualifikasi itu, bukan?"
"Hasilnya akan ditentukan dalam perekrutan nanti. Lulus atau tidak pembina trialmu yang akan menentukan."
"Seperti masuk sekolah akademi saja," keluh Sasuke berdecak kesal. "Siapa yang menjadi trialnya?"
"Aku!"
Sebuah suara lain menggema dalam ruangan membuat berbagai pasang mata berputar kearah sang empunya. Disana 3 tamu yang familiar berdiri tak jauh dari pintu masuk.
"Itachi?"
"Hinata a-apa yang kau..."
Yang terakhir adalah suara Sasuke yang terkejut melihatnya.. Terutama pada satu-satunya gadis yang tidak pernah disangka akan kedatangannya di ruangan ini.
..
..
..
Four Hearts
.
By Ashura
.
Disclamer : Naruto Mr. Masashi Kishimoto
.
.
Pairing : Sasuhina and Narusaku
Slight : Gaahina, Itahina
Genre : Drama, Friendship, Romance
Rating : T
.
.
WARNING!
OOC akut, TYPO, lost on rule KKBI dan hal lainnya yang bikin reader kepengen nipuk kepala author pake botol. Kayaknya bakalan ada sedikit humor. Tapi resiko garing kayak ba'wan yang di jual abang-abang depan gerbang komplek.
Hahaha.. #Bupt *dilempar wajan
.
#My First Canon Story
.
.
#Special to someone for request this story#
.
"I hope you like this story."
.
Don't like? Don't read!
.
.
'Summary'
Saat kau merasakan yang namanya sebuah cinta kau pasti akan melakukan apapun untuk bisa tetap menggegam perasaan itu untuk selamanya.
Cinta yang datang dari seseorang yang begitu membuatmu selalu tertarik untuk selalu didekatnya dan melihat begitu bahagianya ia saat bersamamu.
Hal itulah yang terjadi pada sosok sang playboy cap gagak yang jatuh cinta pada gadis musim dingin yang sama sekali tak pernah tertarik padanya yang justru lebih tertarik dengan sahabat pirangnya yang mencintai gadis musim semi yang justru dengan blak-blakannya mengatakan sangat mencintai si pemuda playboy.
.
Bagaimana roda putaran cinta mereka akan berhenti?
Check it dot!
.
.
Happy Reading!
.
.
.
#3# Secret
...
"Hinata a-apa yang kau..."
"Aku tidak menduganya Sasuke."
Sasuke mendecih pelan saat sang kakak memotong ucapannya. Dia jelas tahu apa maksud dari ucapan Itachi. Hanya saja keberadaan Hinata sedikitnya membuat ia was-was dan heran. Tapi, jelas keberadaan Hinata dan Itachi bukanlah atensi yang bisa diabaikan. Entah kenapa keberadaan mereka datang bersama sedikit membuat dirinya agak dongkol.
"Aku hanya penasaran," balas Sasuke mantap. Pandangannya tidak lepas dari Hinata yang juga menatapnya dalam diam.
"Penasaran? Kupikir aku telah mengenalmu lebih dari siapapun disini. Kau bukan orang yang mudah penasaran selain dari pada wanita. Lagipula aku tidak suka berbasa-basi tanpa mendapatkan apapun."
"Cih. Urusi saja urusanmu sendiri. Hanya saja aku tidak mengerti jika kalian juga terlibat dengan anggota akatsuki, si kelompok pembunuh bayaran."
Itachi menatap sang adik dengan seksama. Ia memang tidak mengabaikan sikap ketidak perdulian yang dilakukan oleh Sasuke padanya. Sayangnya ia juga sama sekali tidak terlalu memusingkan akan hal itu. Hanya saja.. terkadang tatapan malas Sasuke mempunyai sisi yang sedikit terselubung. Setelah 20 tahun mereka hidup dan tumbuh bersama jadi wajar ia tahu betul sifat keingintahuan Sasuke adalah ancaman fatal baginya yang sudah terlalu banyak menyimpan rahasia.
"Lantas apa yang sekarang akan kau lakukan setelah kau mengetahui aku bergabung dengan kelompok ini?" tanya Itachi menatap dingin wajah sang adik yang kini balas menatapnya.
"Masukan aku menjadi anggota dan aku tidak akan membocorkan rahasia ini kepada warga Konoha."
Itachi menatapnya dalam diam. Wajahnya menyiratkan berbagai macam perhitungan yang jeli. Jika sampai orang Konoha mengetahui keterlibatannya menjadi anggota Akatsuki akan menimbulkan masalah yang sangat besar untuknya. Selain akan mengirminya misi-misi rahasia yang berat sudah pasti Hokage akan memanfaatkan dirinya dalam hal bernegosiasi harga dalam misi yang berat. Kerugian permasalahan dalam bagian pengolahan keuangan macam Kakuzu yang selalu sensitif jika itu berhubungan dengan laporan keuangan yang tidak balance dalam artian merugi.
"..."
"Jadi?" tuntut Sasuke menatap Itachi serius.
"Jawabanku?"
Dalam hembusan angin Itachi melesat menerjang Sasuke dengan tiba-tiba hingga dalam bentuk serangan yang tidak terprediksinya, Sasuke hanya menggunakan tangannya untuk menahan serangan Itachi.
Brakk!
Sasuke terpental menubruk dinding batu dibelakanganya. Sasuke mendecih bangkit berdiri menatap nyalang pada Itachi.
"Cih. Dasar pengecut." Maki Sasuke. Ia membuat segel mengeluarkan Chidori dari tangan kirinya.
"Mati kau Itachi!"
Dhuar.
Hinata melompat sedikit menjauh dari area pertarungan kakak beradik yang sedang menggila. Hinata sebenarnya tidak mengerti dengan perselisihan oleh Uchiha bersaudara ini. Tapi, keberadaannya di tempat markas para pembunuh bayaran macam Akatsuki jelas bukan tempat bisa dijadikan tempat bersantai untuknya. Hinata masih berkecipuk dengan pemikirannya hingga tidak menyadari seseorang berdiri disampingnya.
"Jangan takut. Tempat ini tidak akan runtuh, bahkan jika kedua Uchiha itu mengeluarkan Susano-nya."
"Eh?"
Hinata mengalihkan perhatiannya pada pria yang berdiri disampingnya. Rambut merah gelap sedikit panjang hingga membingkai pas pada wajah tirus pria ini. Mata rinegan pria ini sedikit membuat Hinata ngeri. Perawakannya kurus tinggi. Kimono gelap membungkus tubuh tegapnya. Hinata sedikit memprediksi jika usianya tidak lebih dari usia 28 hingga 30 tahunan.
"Kau kekasihnya, Itachi ya.."
"Eh?"
"Sebagai kami melarang keras siapapun diantara kami membiarkan orang lain selain anggota tahu markas rahasia ini. Tapi, ku lihat Itachi melanggarnya dengan membawa kau dan adiknya datang kesini."
Hinata segera melompat menjauh dari pria yang terlihat berbahaya dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Jubah hitam bermotif awan merah adalah ciri khas pakaian organisasi Akatsuki. Ia melirik sekilas pada dua saudara yang masih asyik dalam olah raga khas laki-lakinya. Tapi, Hinata bukan gadis yang suka bergantung pada orang lain, pilihannya untuk menunggu tindakan Itachi atau Sasuke adalah pilihan k. Jika pun seandainya lelaki ini ingin membunuhnya maka Hinata akan melawannya.
"Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" Hinata mengaktipkan byakugannya membuat pria bersurai merah ini mengangkat alisnya bingung. Namun, sedikitnya senyum samar tercipta mengabaikan sikap waspada Hinata.
"Kau memang pemberani tapi, sayangnya aku cukup terkesan karenanya. Tapi, memang tidak sopan jika seandainya aku tidak memperkanalkan diriku terlebih dahulu." Hinata mengambil pisau ninjanya mulai bersikap defensip.
"Benar-benar kau ini. Aku adalah Nagato Uzumaki wakil ketua organisasi Akatsuki." Nagato sedikit membungkukan tubuhnya sebagai perkenalan formal pada Hinata.
"Kau.. Siapanya Naruto? Katakan!"
"Aku? Aku adalah..."
...
...
"Naruto!" Sakura berkali-kali memanggil pria yang masih enggan untuk menghentikan lompatannya. Sakura tidak mengerti apa yang menyebabkan Naruto sampai marah seperti ini. Hanya saja, ia tidak bisa membiarkan kemarahan Naruto berlarut-larut tanpa ia ketahui alasannya.
"Tunggu!... Akh!"
Naruto menghentikan lompatannya saat mendengar rintihan kesakitan Sakura. Naruto berbalik melompat turun tepat disamping Sakura yang sedang membungkuk.
"Kau tidak apa-apa, Sakura?" tanya Naruto khawatir saat melihat Sakura memegang pergelangan kakinya. Ada cetakan warnna biru dengan ukuran tidak wajar ditutupi tangan putih Sakura. Ia menyingkirkan tangan Sakura untuk memberikan pijatan pelan pada kaki Sakura yang sepertinya terkilir.
"A-apa yang kau lakukan Naruto! Sakit tau!" Sakura memukul pundak lebar Naruto mengeluarkan kekesalannya yang sedari tadi membuatnya tidak nyaman.
"Kau tahu ini semua gara-gara kelakuanmu yang seenaknya pergi, Naruto no baka!" Perlahan likuid bening meluruh di kedua pipi putih sang gadis musim semi.
"Baka!" Isakan Sakura pun mulai terdengar. Ia menangis membuat Naruto menatap Sakura bingung. Sakura bukan wanita yang cengeng, tapi sesekalinya menangis itu karena sahabatnya Sasuke. Mengingat Sasuke entah kenapa ia jadi mengingat kejadian di desa tadi. Ia menolak untuk memberikan perhatian empatinya lagi pada Sakura, tidak ingin menerima sikap harapan palsu lagi yang pastinya hanya akan membuat hatinya sakit lagi.
Tentu saja tindakan Naruto yang mengalihkan perhatian pada kakinya membuat cubitan kecil didadanya terasa menyesakan dan berganti menjadi robekan yang membuat air matanya semakin banyak. Tangisannya semakin kencang membuat Naruto semakin dibuat bingung.
"Hueeeeee... hiks.."
Naruto replek menutup telinganya mendengar suara tangisan Sakura yang histeris.
"S-Sakura chaaan! Tangisanmu benar-benar menyakiti telingaku!" Desis Naruto menatap Sakura masih dengan ekspresi yang sama, "..kau itu ninja Sakura. Hanya kakimu saja yang terkilir kenapa tangisanmu seperti kakimu yang putus."
"Hueeeeee... baka! Naruto baka!"
Bukannya mereda tangisan Sakura malah semakin menjadi. Gerakan tambahan yang sekarang justru memukul kepala Naruto bertubi-tubi.
"Akh! Kenapa kau memukulku?" Naruto sedikit menjauh dari jangkauan kepalan tangan batu Sakura. Ia menarik napas mengabaikan Sakura yang masih mengatainya bodoh. Namun, ekspresi berubah saat Sakura mulai meracau mengeluarkan kekesalan padanya.
"Hiks.. k kau be benar bodoh! Hiks.. aku menyesal mengejarmu k-karena a-aku takut! kau.. hiks akan salah paham. Hiks.. d-dan… aku takut kau tidak akan mau bicara lagi padaku, a-aku takut kau tidak mau be-berteman de-denganku lagi.. hiks," Sakura mencengkram baju bagian dadanya. "Dadaku hiks...se sesak saat mendengarmu berbicara sedingin itu padaku. Hiks.."
"A.. aku..."
Grep.
Sakura membelalakan matanya saat merasakan lingkupan tubuh hangat di sekeliling tubuhnya yang bergetar karena menangis. Naruto memeluknya erat membenamkan wajah Sakura ke dalam dada bidang pria bergelar Hokage ini.
"Maaf. Maafkan aku," bisik Naruto membuat Sakura sedikit lebih tenang. Naruto mengeratkan pelukannya saat Sakura mulai membalas.
"Ja-jangan mengulanginya lagi, Naruto."
...
...
"Sepupu."
"Apa?"
Hinata membulatkan matanya tidak percaya. Ia kembali memperhatikan lelaki yang masih berdiri santai didepannya. Jubah hitam dengan motif gambar awan hitam sedikit terayun, tersentuh hempasan udara yang dihasilkan dari pertarungan dua Uchiha bersaudara. Sesekali Hinata melirik pada adegan pertarungan yang dilakukan oleh dua pemuda ninja kuat di desa itu.
"Rilex, Hyuuga. Aku tidak akan menyakitimu."
"Apa jaminannya kau tidak akan melakukannya. Meskipun kau adalah sepupu jauh Naruto, bukan berarti kau akan bersikap baik padaku."
"Benar-benar Hyuuga yang keras kepala. Aku sedikit heran apa yang diharapkan Itachi dari wanita keras kepala seperti ini," bisik Nagato setengah bergumam. Tapi dalam radius 4 meter masih dapat di dengar oleh Hinata sendiri.
Hinata menyerngit bingung. "Apa maksudmu?"
"Eh. Denger ya?" ucap Nagato tanpa merasakan keterkejutan yang sebenarnya.
"..."
"Uh. Tidak usah melotot seperti itu. Aku hanya bergurau."
"Jangan berbelit-belit Nagato!" ucap Hinata kesal. Ia tidak suka berbasa-basi dan sepertinya lelaki ini memang berniat membuat Hinata kesal. "Katakan apa maumu!"
"Baiklah.. lagi pula aku sedang tidak ingin bermain. Aku hanya sedikit penasaran dari hal apa yang membuat Itachi terlihat sering memperhatikanmu. Tubuhmu..." iris Rinegan Nagato bergulir menscan penampilan Hinata dari ujung kaki hingga kepala, "... cukup sexy ah.. ralat sangat sexy. Memang menyenangkan untuk dijadikan teman bermain di tempat tidur tapi, ku kira diluar sana banyak wanita yang memiliki tubuh lebih sexy dan pastinya lebih menurut dibandingkan wanita binal sepertimu."
"Jaga ucapanmu!"
"He? Kenapa kau..."
Belum sempat Nagato menyelesaikan ucapanannya, sebuah kunai melesat kearah wajahnya. Namun, Nagato pasti dapat menghindarinya dengan mudah.
'Jyuuken'
Byakugan Hinata telah aktip. Ia mengeluarkan kekuatan penuh menyerang Nagato. Sayangnya lelaki yang bergender Uzumaki ini dapat menghindari serangan Hinata dengan mudah. Itachi dan Sasuke sedikit terkejut saat melihat Hinata berlari mengejar Nagato yang terlihat senang dan terhibur. Itachi sedikit heran saat melihat wajah kesal Hinata yang terlihat ingin benar-benar membunuh Nagato.
Tidak seperti biasanya.
Mskipun pertarungan Hinata sedikit membuat kedua putra Uchiha ini penasaran namun, sekarang bukan waktu yang tepat mengurusinya. Pertarungan mereka harus segera diselesaikan. Sepertinya salah satu diantara mereka sudah mulai terlihat kehabisan energy. Tekanan cakra Sasuke sudah mulai melemah. Ini akibat pemaksaan energy cakra memanggil Susano 3 kali.
Itachi yang melihat peluangnya bagus segera mengeluarkan jurus Taijutsunya tepat mengenai Sasuke yang kini terpental menubruk dinding dan lantai. Sasuke kini sudah tidak sadarkan diri dengan luka disekujur tubuhnya. Darah menetes dari dahi menuju tulang rahangnya. Sepertinya Itachi memang tidak main-main menghajar Sasuke.
Itachi sedikit merasa bersalah saat melihat kondisi sang adik yang cukup memperihatinkan. Ia memang sengaja tidak setengah-setengah saat menyerang Sasuke namun percayalah, jika ia tidak balik menyerangnya balik, dapat dipastikan jika nyawanya akan melayang. Sasuke sepertinya memang berniat ingin membunuhnya. Luka-luka memar di tubuhnya cukup membuat tubuhnya terasa hancur. Tangan kirinya nyaris patah saat mereka adu taijutsu di setiap kesempatan.
Dhuaaar.
Suara ledakan lain menarik perhatian Itachi untuk melihat pertarungan Hinata melawan Nagato.
Hinata nampak sedikit kehabisan napas. Dengan napas terengah-engah ia memperhatikan dan waspada pada pria yang kini masih berdiri santai pada posisinya. Hinata merasa ini adalah tenaga terakhir dari cakra yang bisa dia keluarkannya saat ini. Tapi, sayangnya pendangan Hinata sudah mulai mengabur. Sosok Nagato terlihat semakin tidak jelas dan hal yang terakhir yang di lihatnya adalah wajah panik seorang Itachi Uchiha yang terus memanggil namanya.
...
...
...
Sasuke membuka matanya perlahan saat sinar matahari menerpa wajahnya. Ia terbangun dengan cepat saat menyadari ada seseorang yang duduk tidak jauh darinya. Ruangan ini adalah kamarnya, bisa-bisanya ada orang asing yang... tunggu!
"Akhirnya kau sadar, Sasuke."
Rambut indigo sepunggung. Suara lembut ini. Kulit putih bersih serta berjaket ungu. Dia adalah...
"Hinata. Apa yang kau lakukan di kamarku? Siapa yang mengizinkanmu masuk kekamarku?" tanyanya beruntun dengan nada kasar.
"Keluar!"
Hinata terkejut dan hal yang sama juga terjadi pada Sasuke.
Hinata menangis karena bentakannya membuat Sasuke bingung dan kalang kabut menghadapi seseorang yang menangis, apalagi jika ini menyangkut gadis yang selalu menarik perhatiannya ini. Lagipula tidak biasanya Hinata menangis dengan begitu mudahnya saat di bentak kasar sekalipun.
"Hinata, aku..."
Belum sempat Sasuke menyelesaikan ucapannya, pintu digeser kasar oleh seseorang. Dengan cepat membawa tubuh Hinata kedalam dekapan yang nyaman. Saringan milik orang itu aktip menatap benci pada Sasuke yang masih terpaku ditempatnya.
"Apa yang kau lakukan padanya Sasuke!"
"Aku hanya..."
"Diam kau! Jadlah pria bertanggung jawab terutama pada perempuan. Jika kau memang tidak suka, tinggal bilang, tidak usah membentak-bentak Hinata sampai seperti ini."
"Ta-tapi Itachi, aku hanya..."
"Hime.. jangan menangis lagi ya." Itachi melepaskan pelukannya memegang pundak Hinata untuk dapat melihat wajahnya yang sembab. "Tidak usah menghiraukan Sasuke lagi. Ada aku yang akan selalu ada disampingmu."
'Apa?'
Hinata dan Itachi bertatapan dengan intens membuat hati Sasuke tercubit sakit. Perasaan was-was dan gemuruh amarah menerjang hatinya saat kedua orang didepannya tersenyum lembut menghiraukan keberadaannya.
"Apa yang akan kalian lakukan?"
Wajah Itachi dan Hinata mendekat, menghapuskan jarak keduanya, mempertemukan bibir dengan lumatan kecil yang membuat Sasuke spontan berdiri. Tangan pucatnya bergerak untuk menggapai leher Itachi, dan..
Plash.
Tangannya terangkat hanya menggapai udara.
"Mimpi?" gumamnya tidak mengerti.
Pandangan pertamanya adalah langit-langit kamar yang dicat putih. Sebuah lampu listrik yang cukup terang menyilaukan mata dan tangannya diperban secara apik, menyembunyikan goresan luka yang baru terasa nyeri saat ia menggerakannya. Sasuke mencoba bangkit tapi, nyatanya punggungnya serasa akan patah jika menggeser sedikit dari posisi sebelumnya.
"Sial!" umpatnya memaki. Ia baru ingat kejadian sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya saat itu. Ia bertarung dengan Itachi, berniat untuk membuatnya dipermalukan dengan kekalahannya di medan pertempuran. Sayangnya kekuatannya tidak bisa menandingi level kakak menyebalkannya itu. Tapi, sepertinya Itachi tidak melawannya dengan kekuatan yang setengah-setengah. Ia bahkan tidak main-main menggunakan susano untuk melawan 'susano'nya. Setelah Itachi menyerang dengan jurus terakhirnya ia tidak sadarkan diri.
Cklek.
Onyxnya bergulir menemukan refleksi gadis yang berada dalam mimpinya tadi. Hinata masih mengenakan jaket ungu dan celana hot pantsnya. Sasuke tidak berniat mengalihkan pandangannya saat Hinata berjalan kearahnya.
"Hey. Sepertinya kau kesulitan bergerak." Ini adalah kalimat pertama yang Hinata ucapkan. Sasuke masih enggan untuk menjawab. Ia tahu bukan kalimat itu yang ingin Hinata ucapkan padanya. Pertarungan yang tidak berarti di sebelumnya memang memerlukan banyak penjelasan.
"Katakanlah! Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, nona Hyuuga." Hinata menahan diri untuk tidak menampilkan tatapan malasnya saat seringai meremehkan itu muncul kembali di bibir yang sedikit sobek itu. Bisa-bisanya pemuda Uchiha masih bisa bersikap semenyebalkan ini bahkan ketika terluka separah ini.
Andaikan ini bukan permintaan Itachi maka ia bersumpah akan melenggang pergi meninggalkan si plaboy cap kadal selokan ini. Kh. Baik sakit ataupun engga penyakit playboynya masih tidak bisa hilang.
"Aku akan mengobatimu. Jadi, apa kau bisa duduk sebentar?"
Sasuke mengangkat alisnya curiga masih tetap berbaring, enggan bergerak sedikitpun dari posisinya. Meskipun Hinata adalah gadis yang termasuk kategori gadis baik, tidak pernah sekalipun gadis ini mau untuk menolong ataupun membantunya. Bahkan saat dia terluka dan tanpa sengaja di pertemukan dalam misi yang diberikan Konoha. Gadis ini masih dingin luar biasa. Segala macam usaha telah ia lakukan untuk menarik perhatian gadis bermarga Hyuuga ini tapi, nyatanya tidak membuahkan hasil. Tapi sekarang, angin apa yang membuat gadis yang selalu bersikap judes ini tiba-tiba bersikap baik padanya. Kebaikan yang ditawarkan Hinata pasti tidaklah Cuma-Cuma.
'Ada udang di balik batu', menurut ilmu pikir Sasuke.
"Cepat Uchiha!"
"Punggungku sakit. Apa mata byakuganmu buta?" balas Sasuke kesal.
"Uchiha merepotkan." Keluh Hinata kesal.
"Kalau kau tidak berniat baik padaku, pergi saja sana. Aku.. Akh! Sialan! Apa yang kau..."
Penolakan Sasuke sama sekali tidak dihiraukan oleh Hinata yang kini dengan santai menarik tubuh Sasuke hingga menyamping. Sedari awal Sasuke memang tidak mengenakan atasan memudahkan Hinata untuk melihat luka terbuka di punggung Sasuke. Ringisan yang yang keluar dari mulut Sasuke cukup menjelaskan seberapa sakitnya luka itu.
"Kau memiliki luka yang cukup serius," ucap Hinata mengeluarkan cahaya hijau dari tangannya. Ia mengarahkan cahaya tersebut kearah punggung sasuke lebih tepatnya, ke arah luka yang masih terbuka milik Sasuke.
"Hm." Sasuke mememjamkan matanya saat ada sensasi sejuk dipunggungnya. Rasanya sangat nyaman.
"Kau tidak pernah akur dengan kakakmu, Sasuke?" pernyataan ini lebih terdengar pertanyaan menurut Sasuke. Ia hampir terpejam andaikan Hinata tidak berbicara padanya.
"Hm."
"Apa? Bicara yang jelas kek!" ucap Hinata kesal.
"Apa urusanmu? Tidak ada hubungannya denganmu," jawab Sasuke malas. Entah kenapa obrolan menyangkut Itachi ini sedikitnya cukup membuat Sasuke kesal.
Dalam keadaan normal Hinata akan menghadiahkan jitakan keras di kepala emo Sasuke. Namun, untuk sekarang ia memang harus sedikit menyabarkan diri berhubung bagaimana kondisi Sasuke yang sangat memperihatinkan.
"Memang bukan urusanku. Tapi, bertengkar setiap hari, menurutku sedikit menyusahkan." Hinata sedikit menerawang mengingat momen-momen pertengkarannya dengan Neji yang selalu bersikap mesum padanya. "Menurutku akan sangat menyusahkan menghadapi seseorang yang bertingkah menyebalkan setiap hari. Tapi, ku pikir sesekali bersikap biasa seolah tidak pernah terjadi konflik apapun akan terasa lebih baik." Hinata tersenyum tipis saat mengingat-ngingat bagaimana moment kekeluargaan sering terjadi si rumahnya. Hanabi yang selalu tersipu jika digodanya, kemunculan Neji yang selalu salah tingkah saat kedapatan memperhatikannya dan Ayahnya yang tiba-tiba nyeletuk dengan candaan yang terasa garing saat dimeja makan. Moment konyol yang sebenarnya membuat suasana kediaman Hyuuga terasa hidup.
"Kau dan aku jelas berbeda kasusnya, Hyuuga."
Hinata menatap Sasuke meskipun hanya punggung dengan tarik napas teratur yang terlihat.
"Ku kira semua orang punya permasalahan masing-masing dengan para saudaranya."
"Begitupula denganku."
"Padahal kan dirumahmu kau punya saudara hanya Itachi nii saja. Aku kadang gemas sendiri dengan jika melihat kalian jarang bertegur sapa sapa saat tanpa sengaja berpapasan. Aku bahkan masih ingat saat dulu di ujian junin. Kau sangat terlihat tidak senang saat tahu kakakmulah yang menjadi pengawas ujian saat itu. Kau bahkan sempat memohon-mohon kepada Kakashi sensei untuk menjadi pembimbing dan….."
Tiba-tiba Sasuke bangkit dari ranjangnya membuat Hinata tidak siap saat tarikan di pundaknya menghempaskan dirinya hingga terbaring. Sasuke bergerak menahan kedua tangan Hinata di kedua sisi kepalanya, mengapit tubuh Hinata menggunakan tubuhnya yang lebih besar agar gadis pemilik mata amethyst ini tidak banyak berontak.
"Apa kau sebegitu ingin tahunya hingga kau berubah sangat cerewet menjengkelkan, Hyuuga?" satu seringai tercipta saat melihat Hinata yang masih terlihat syok dengan perbuatannya. Sasuke menunduk berbisik pelan ditelinga kiri Hinata. Ia sengaja menggoda Hinata dengan hembusan napas hangat disana. "Perselisihan diantara kami berdua…" Sasuke mencengkram pergelangan tangan Hinata lebih kuat saat merasakan getaran tekanan kekuatan Hinata yang mulai memberontak.
"Jangan macam-macam kau Uchiha." Hinata menggeram kesal namun, kegugupan nampak terasa saat Sasuke semakin menghimpit tubuhnya. Kedekatan senitim ini cukup membuat pikiran Hinata kalang kabut penuh was-was.
"Tenang saja.. Aku tidak akan menyakitimu jika itu yang kau maksudkan, nona Hyuuga." Sasuke tersenyum culas, "Penyebab perselisihan antara aku dan Itachi, tidak lebih karena…" Sasuke mengangkat kepalanya untuk mempertemukan mata onyx dan amethyst penuh arti misteri.
"…"
Bibir tipisnya yang masih menyeringai perlahan berubah menjadi senyuman tipis yang terlihat berbeda dari yang Hinata lihat selama ini. Bibir itu terbuka perlahan berbicara dengan nada yang lembut dan kalimat yang membuat jantung Hinata berdetak keras.
"…kau, Hyuuga Hinata."
'Deg'.
….
….
To be continued
.
.
.
.
Akhirnya berhasil bangun dari hybernasi. Sepertinya sedang moody dan sangat membosankan jika harus melihat ff yang 'itu-itu' lagi. Sesekali lihat ff yang berbeda meskipun sedikit penuh lumutan tidak jadi masalahkan…#bupt# gada yang perduli.
Semoga chap ini lebih baik dari yang kemarin.
.
Oke sedikit curhat.
Pas denger lagu korea dari BTOB (Born To Beat) dengan judul 'My girl, Dear Bridge, WOW, Brand new days' tapi versi Jepangnya… omg. Terbawa suasana gimana gitu.. hahaha..
Oke..Oke..Ga penting ya..#Bup*dilempar botol rame-rame.
.
Beruntung komen sedikit jadi balesnya gak lama-lama dan banyak –banyak.
#RnR#
Shiny ; Arigatou.. nih dah lanjut. Semoga ini lebih baik dari yang kemarin.
ranmiablue ; Sip dah lanjut nih. Semoga chap ini agak sedikit lebih baik
Sabaku no Yanie ; Ha'i . Arigatou.. kau penyemangatku
BYE – chan ; Haha.. story membosankan.. aku juga akui itu.. tapi chap ini aku buat fix banget.. semoga chap ni ada peningkatan.
.
.
.
.
Gomen."
Sekian.
.
.
"See you next chapter.."
