Balasan review :

Uh.. maaf ya aku balasnya disini aja dan ga bisa PM juga.. hehe..

Coz nya aku OL Cuma kalo dikampus aja,itu juga kalo waktu istirahat panjang. Dirumah ga bisa On,dirumahku ga ada jaringan,jaringannya lemot. Malah suka ngenes sendiri. So? Disini aja ya..

Review chap 2 Naruto, Will be Mine!

Naru freak (Guest) : hehe.. Un! Ini NaruSasu. XD .. ok aku usahain cepet! Jangan pernah bosen ya! Thanks for reviewnya. ;)

Namikaze Yunna (Guest) : Un! Aku juga paling suka NaruSasu! Mari kita lestarikan XD .. hihihi.. oya,beneran sih tulisan aku rada ancur, maklum saya bukan anak Sastra.. hehe.. tapi,aku akan terus perbaiki ko. Makasih udah review ;) jangan kapok ya mampir di fic gaje ini!

Dee chan-tik : okey.. Ini lanjut! Makasih udah mau baca fic gaje ini.

Guest : Oya? Apakah benar ini fic paling bagus aku? Padahal reviewnya paling dikit dari 2 fic yang lainnya.. Tpi makasih yaa.. jgn kapok mampir ke fic gaje ini!

neko 1412 : makasih yaaa.. oke nih aku bales reviewnya ;D

Iya karin itu anggota Hebi,alias anak buah orochi. Nah.. untuk pa tujuannya? Nanti deh kebuka di Chap-chap berikutnya. Ikutin terus yaaaa! Heheh..

Kenapa Sai rival Itachi? yaah karena author mau nya gitu #digaplok.

Iya,Sai itu pernah kalah ma Itachi,karena dendam akhirnya Sai menempuh jalan yang salah.

Oiya,memang disini author bikin Naruto sosok yang sempurna impian banyak orang #lebay. Suka sih,Naru jadi superior.. makasih buat reviewnya..

Aca sewingline7 : ok.. ini udah lanjut! Makasih udah review n jangan kapok loh.. #ngedipin mata genit

Uzumaki Scout 36 : uuuh.. maaf membuat kamu kecewa,disini NaruSasu sayang.. hehe.. kalo SasuNaru fic aku yang lainnya.. maaf yaa.. but thanks for review.. tapi mudah-mudahan suka fic ini.

.

.

DISCLAIMER: MaSashi Kishimoto

Pair : NaruSasu Slight Naruita,ItaKyuu,dll

Gendre : Romance,Drama,hurt

Rate : M

BOYXBOY,Yaoi,lime,gaje,dll

Dont like dont Read!

.

.

~Konoha University~

.

.

"Wah mereka siapa?"

"Katanya mereka mahasiswa pindahan dari Suna."

"Kyaa.. Mereka tampan yah?!"

"Kyaa.. Yang rambut merah itu keren banget!"

"Yang rambut coklat itu manis banget! Kyaa..!"

Begitulah kira-kira pekikan dari mahasiswi sepanjang kooridor kampus,dari mulai gerbang sampai kedalam, dua orang pemuda sukses menyita perhatian orang-orang yang melihatnya.

"Psst.. Gaara, sepertinya kita banyak yang merhatiin. Aku jadi risih nih!" curhat Kiba agak sedikit merajuk, jadinya terdengar lebay ditelinga Gaara.

"Bersikaplah seperti biasa," sahut Gaara cool.

"Tapi rasanya aku malu. Aku belum siap mendapat fans yang fanatik karena menganggumi ketampananku, Gaara! Kau tahu kan, aku tuh cinta mati sama Naruto Senpai," informasi Kiba kepedean.

Gaara memutar matanya bosan, tidak menghiraukan ocehan Kiba yang menurutnya sungguh tak penting itu. Dia mempercepat langkaHnya, meninggalkan Kiba yang kini tengah menggerutu sebal, karena tidak ditanggapin Gaara.

"Grrr.. Dasar Panda!"

Hari ini adalah hari pertama Gaara dan Kiba memasuki Universitas barunya. Mereka ditugaskan Naruto untuk mengawasi sesuatu. Mengingat hanya mereka Anak Akatsuki yang mengambil jurusan bisnis dan Hukum. Sesuai dengan keadaan yang ada. Gaara adalah mahasiswa Hukum, sedangkan Kiba bisnis.

Saat ini, mereka telah menempati kelas masing-masing. Kedatangan mereka berdua tentu saja menyita seluruh penghuni kelas mereka. Dengan gaya masing-masing mereka memperkenalkan diri kepada teman-teman mereka, yang pastinya disambut pekikan dan tatapan memuja dari masing-masing orang yang berbeda.

Pastilah hari ini akan menjadi sedikit berat bagi mereka berdua. Terutama Gaara yang agak antisosial dan pendiam.

Genbatte ne!

.

.

AAAAA

.

'

Saat ini Naruto tengah berada di Mansion Senju, sang kakek. Setelah kunjungannya selama 3 hari kemansion orang tuannya, ternyata membuat dia cukup rindu juga dengan suasana kamarnya yang tengah ia tempati setahun terakhir itu. Ia segera membuka laptop oranye kesayangannya. Dengan mimik serius ia mulai mengamati data-data yang ia terima dari Yahiko dan Nagato. Dengan wajah puas ia,kembali menutup benda kesayangannya iu.

"Hmm.. Mission complete. Kakuzu dan Hidan, kalian skakmatch!" gumamnya dengan seringai yang mengerikan. Kemudian ia berpikir sejenak.

"Sepertinya aku harus memberi hadiah, Kyuu-chan." Kali ini ia mengulum senyuman lembut berbeda dengan yang tadi.

Naruto tertawa geli saat ia mengingat adik-adiknya yang manis . Saat ia berpamitan untuk kembali kemansion kakeknya. Mereka merengek untuk menahannya agar tinggal lebih lama lagi. Deidara adik bungsunya sampai tak mau lepas dari gendongannya, sampai akhirnya ia terpaksa menunggu sampai adik bungsunya tertidur untuk melepaskan gendongannya. Shion, adik perempuanmya juga ikut-ikutan merajuk dan sampai mengancam akan mogok sekolah. Untung Naruto punya otak jenius, sehingga dengan sedikit bujukan, akhirnya Shion luluh juga. Dan yang tak pernah Naruto habis pikir adalah adiknya yang paling besar a.k.a Kyuubi. Dia terus merengek untuk ikut tinggal bersamanya dirumah kakeknya dan berakhirlah Naruto yang sedikit emosi karena susaHnya minta ampun untuk membujuk adiknya yang sengak itu. Yah.. Bukannya Naruto ga mau sih, tapi siapa lagi yang menjaga kedua adiknya dan kedua orang tuanya selain Kyuubi? Dia kan ada kewajiban lain.

Lamunan Naruto terhenti ketika ia mendengar dering ponsel yang menunjukan ada pesan masuk untuknya.

From :Shino

Suject : trouble

Kitsine-sama,hari ini Shimura Sai dinyatakan bebas. Sepertinya Hebi terlibat dalam pembebasannya.

Naruto segera melemparkan handphonenya keranjang. "Chk.. Apalagi rencana ular licik itu? Untuk apa dia melibatkan Sai?" desisnya marah.

"Jika begini aku yakin Uchiha adalah target awal mereka. Melumpuhkan 2 pewaris Uchiha terlebih dahulu? Ya aku yakin, jika mengingat cerita Itachi, tentang Sasuke dan tujuan mereka adalah itu. Maka target utama ular licik itu adalah Itachi dengan memanfaatkan Sasuke. Dan pada waktunya aku yakin akhirnya Sasuke adalah target berikutnya. Lantas untuk apa ia melibatkan Sai?"

"..."

Mata Naruto terbelalak ketika ia menyadari sesuatu.

'Gawat!' Pikirnya.

Setelah itu Naruto buru-buru bergegas keluar.

"Mau kemana, Nak?" suara berkharisma sang kakek menghentikan langkah Naruto.

"Ah.. Jii-san! Aku ada jadwal mengajar mendadak. Dosen yang seharusnya mengajar tidak bisa hadir," bohongnya membuat dia merasa sedikit bersalah.

Hasirama mengangguk. "Ya, hati-hati. Dan jangan pulang terlalu malam. Nenekmu sepertinya sangat merindukanmu makan malam bersamanya." Naruto tersenyum mendengarnya.

"Baik, Jii-san."

.

.AAAAA

.

.

"Kenapa kau memandangiku seperti itu terus?" tanya Gaara risih kepada pemuda yang baru dikenalnya dengan nama Neji itu. Dari tadi Neji selalu menatapnya tanpa henti, membuat Gaara risih.

Neji menggeleng. "Tidak, hanya saja kau terlihat manis ketimbang tampan," jujurnya membuat kedutan kesal Gaara muncul. Untuk informasi, Sabakuu Gaara sangat anti jika disebut manis.

"Ah.. Maaf Tuan rambut PANJANG, saya rasa anda juga terlihat CANTIK dengan rambut seperti itu." Timpalnya datar menahan kekesalan dengan menekan kata panjang dan cantik.

"Hmm.. Padahal menurut orang-orang ini membuatku semakin tampan." Gaara hampir saja muntah ketika mendengarnya. Sementara itu Neji memainkan rambutnya OOC.

"GAARA!" teriakan cempreng Kiba cukup membuat Gaara menghentikan laju mulutnya yang saat itu ingin membalas perkataan norak pemuda Hyuuga didepannya. Tanpa banyak tunggu lagi, ia melangkahkan kakinya menghampiri Kiba yang seperti nya tidak sendirian.

"Shikamaru?" tanya Neji heran ketika mendapati pemuda Nara itu berdiri didepan kelasnya. Gaara mengernyit, oh.. temannya toh.

"Aku bersama dia," jawab Shikamaru santai sembari menunjuk kearah Kiba dengan jari jempolnya, santai.

Kiba menggembungkan pipinya kesal. "Dia mengikutiku terus, Gaara!" Adu Kiba kepada Gaara. Sementara Gaara hanya menatapnya datar, entah apayang sedang ada dalam pikiran pemuda pecinta pasir itu.

Mendengar itu Neji menyeringai, "Tidak biasanya eh Shika?" godanya kepada pemuda malas itu.

"Mendokusai," timpal Shikamaru seperti biasa.

Dan berakhirlah empat pemuda itu dengan makan siang bersama di kantin.

'Aneh.. kenapa Neji tidak menanyakan Sasuke? Dan kenapa dia terus menerus mengajak bicara pemuda gothic itu?' batin Shikamaru. Tapi, kemudian ia mendengus geli saat menyadari sesuatu.

.

.

AAAAA

.

.

Mungkin hari ini hari sial bagi Naruto dan hari keberuntungan untuk Sasuke. Lagi-lagi, Naruto harus berurusan dengan bocah ababil macam Sasuke dengan kasus yang sama yaitu tabrak menambrak, namun entah kenapa Naruto merasa pemuda didepannya itu melakukannya dengan sengaja?

"Mau kemana kau Dobe? Melarikan diri dari tanggung jawab, eh?" ujar Sasuke ketika Naruto terus melangkahkan kakinya meninggalkan.

"Seharusnya kau meminta maaf padaku bocah-Teme! Kau yang menabrakku."

Sasuke berlari mengejar dan segera mencegat didepan Naruto.

"Kalau begitu aku yang tanggung jawab."

"Tidak perlu. Aku sibuk."

"Kau akan membuatku berhutang. Uchiha tidak suka berhutang," Sasuke beralasan.

Naruto mendesah lelah. "Kalau begitu anggap saja semuanya lunas. Minggir!" perintahnya mulai kesal. Apa maunya sih bocah didepannya ini?

"Tidak!"

"Minggir!"

"Tidak!"

"Minggir brengsek!" Naruto emosi.

"Hn."

"Gah! Cepat katakan apa maumu?!"

Sasuke menyeringai. "Nanti malam aku akan mengajakmu makan malam," pintanya tidak nyambung dengan tanggung jawab yang dibilang Sasuke.

Naruto memandang Sasuke heran. "Dasar bocah aneh! Tidak bisa. Hari ini aku ada janji," jawab Naruto ketus mengingat pesan kakeknya tadi.

"Kalau begitu aku akan menemanimu seharian, sebagai tanda tanggung jawabku," Sasuke maksa.

Merasa percuma jika harus berdebat, akhirnya Naruto mengalah. Bukannya Naruto tidak bisa menghadapi Sasuke saat ini, tapi Naruto tahu bagaimana sifat Uchiha itu. Secara dia sudah berpengalaman menghadapi Itachi, yang tingkahnya sungguh mirip dengan bocah didepannya ini. Dan Naruto tidak sedang mood untuk menghadapi kekeraskepalaan dan sifat Egois Uchiha didepannya ini.

Naruto pun berjalan kearah parkiran, dengan Sasuke yang terus mengikutinya. Yah.. hari ini Naruto habis bertemu dengan Itachi yang kebetulan sedang ada jadwal kuliah,setelah selesai urusannya dengan sang Uchiha sulung ia segera pulang dan berniat keMarkas Akatsuki, yang kini beberapa anggotanya tengah menunggunya disana. Namun,sialnya dia malah bertemu bocah ayam dibelakangnya ini. Mau tak mau ia akan membawanya. Sepertinya tidak buruk, lagian Naruto sudah punya rencana sendiri.

"Masuk!" perintah Naruto seraya membuka pintu mobil sport hitamnya. Tak banyak bicara, Sasuke dengan senang hati mendudukan dirinya dimobil yang tak kalah mewah dengan mobil miliknya itu.

"Hn."

Segera Naruto mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Kemana?" tanya Sasuke memecah keheningan. Sasuke tak menyadari bahwa dirinya telah bersikap diluar Uchiha.

"Ikut saja, tak usah banyak tanya," jawab Naruto datar.

"Hn."

Sasuke hanya memerhatikan Naruto yang kini tengah menyetir dengan tenangnya, sesekali memainkan handphonenya. Entah siapa yang Naruto hubungi, toh dia tidak peduli sama sekali. Sasuke merasa dirinya begitu payah dalam hal mencairkan suasana, jujur saja tadi dia sudah sangat berusaha, namun akhirnya kesunyian juga melandanya. Sasuke sendiri termasuk dalam kategori orang yang menyukai suasana kesunyian,namun pada keadaan sekarang ia benar-benah merasa tak nyaman, terkesan canggung.

'Chk.. Kenapa rasa nya sangat sulit untuk sekedar mengobrol saja?' batin Sasuke yang sadar atau tidak itulah akibat dari sifat pelit bicaranya. Hampir saja ia akan melemparkan beberapa patah kata, sebelum Naruto menginjak rem, dan mobilnya berhenti sepenuhnya.

"Kita sudah sampai. Cepat turun!" perintah Naruto membuyarkan Sasuke yang kini merasa tersinggung karena merasa diperintah. Demi kuburan Madara yang udah keramat! Uchiha tidak menerima perintah. Dia tidak tahu bahwa Itachi telah melunturkan peraturan itu.

"Jangan memerintahku!" sahut Sasuke ketus.

Naruto tak menghiraukan Sasuke, dia segera bergegas kearah sebuah mansion. Sasuke memandang takjub pada bangunan didepannya, selama ini yang ia tahu mansionnya adalah mansion termewah yang dia lihat, tapi hari ini sepertinya anggapannya harus ia ralat karena bangunan didepannya jauh lebih luas dan mewah dari mansion kebanggaannya, mungkin tiga kali lipatnya.

'Hmm.. Aku takkan heran kalau mengingat bagaimana kekayaan Senju,' pikirnya. Kakinya melangkah megikuti Naruto yang kini sudah masuk kedalam mansion. Sasuke disambut oleh para pelayan, dia hanya mengangguk untuk membalas.

Naruto menoleh kebelakang,"Kau tunggu diruangan ini bersama Mereka" tunjuk Naruto kepada Yahiko,Nagato dan Sasori. "Aku akan menemui kakekku dulu" lanjutnya.

"Hn."

Setelah itu, Naruto pergi meninggalkan keempat pemuda itu diruangan khusus yang disediakan Naruto untuk kumpul bersama teman-temannya.

YaNaSas memandang heran kearah Sasuke yang kini tengah menyamankan dirinya disofa yang terletak diarah yang berlawanan dengan mereka bertiga dengan cuek.

Hening.

YaNaSas saling bertukar pandang,sebelum akhirnya mereka melanjutkan kegiatan masing-masing, Sasori memaikan kembali boneka kayunya. Nagato, kembali memakan permen supermanisnya dengan khusyu(?) dan Yahiko kembali dengan kehebohan gamenya. Kini Sasuke yang balik menatap heran mereka. Dalam benaknya ia bertanya, Apakah Naruto suka berteman dengan orang-orang autis?

"Gomen membuat kalian menunggu lama," ucap Naruto yang tiba-tiba datang mengalihkan mereka. Dibelakang Naruto berdiri beberapa pelayan yang membawa cemilan dan berbagai makanan manis, membuat YaNaSas memekik girang. Dan sekali lagi Sasuke merasa heran dengan tingkah ke tiga pemuda di depanya yang rada- rada autis, menurutnya. Naruto duduk disofa tunggal samping kiri Sasuke.

"Arigatou, Naru-Senpai," ucap mereka kompak minus Sasuke yang masih cengo dengan tingkah ajaib mereka

"Hmmm." Naruto mengangguk sebagai balasan.

"Anoo.. Siapa dia Senpai?" tanya Sasori menunjuk kearah Sasuke dengan wajah datar khasnya.

Ah.. Iya! Naruto hampir saja lupa.

"Dia Adik Itachi,Uchiha Sasuke," jawab Naruto singkat. Sasori manggut-manggut mengerti, sementara Yahiko dan Nagato diam saja,karena mereka memang sudah tau dari awal. Jangan lupakan! mereka adalah Hacker jenius. Kalau masalah data-mendata seseorang jangan ditanya.

Mendengar nama Itachi disebut-sebut,membuat Sasuke merasa kesal . "Jadi, kau benar pacar Itachi?" tanya Sasuke memastikan, membuat mereka semua menoleh kearahnya.

"Menurutmu?"

Sasuke mengedikan bahu sebagai jawaban,"Kurasa aku bertanya karena tidak tahu, Dobe." Jengkel juga karena pertanyaannya dijawab pertanyaan.

"Hey kau sopanlah sedikit pada Naru-Senpai!" tegur Yahiko keras karena tak terima Narutonya disebut Dobe. Sedangkan Naruto hanya mendengus keras. Bocah ini benar-benar menyebalkan, pikirnya.

"Sudahlah itu tidak penting," Naruto mengintrupsi "Dan kau diam saja, Teme!" lanjutnya membuat Sasuke cemberut dan Yahiko menyeringai puas.

"Kalian tahu aku memanggil kalian bertiga untuk apa?" tanya Naruto kepada YaNaSas. Mereka menggeleng kompak minus Sasori yang mengangguk.

"Baiklah.. Aku ingin kalian berdua ," tunjuk Naruto kepada YaNa "Mencari informasi mengenai Hebi dan seluruh Anggotanya"

'Hebi? Bukannya Itu Nama organiSasi Yakuza No.1 di Jepang?' batin Sasuke yang kini ikut menyimak 'untuk apa dia melakukan ini?' lanjutnya kepo.

"Hebi? Siapa yang berurusan dengan mereka?" tanya Nagato yang kaget karena menurutnya Hebi sangatlah berbahaya.

"Soal itu nanti kita bahas lagi, setelah Itachi dan Shino datang," jawabnya.

Lagi-lagi Sasuke kaget dibuatnya, apa hubungan Itachi dengan ini semua? Namun dia tetap diam.

"Dan kau Sasori, aku memanggilmu kemari untuk meminta pesananku. Bagaimana?"

"Ya, Aku bawa." Kemudian, Sasori mengambil sebuah kotak kecil disakunya.

"Ini," Sasori menyerahkan kotak itu kepada Naruto.

Naruto membuka kotak itu, yang ternyata adalah sebuah jam tangan berwarna perak yang terlihat mahal. Namun, jangan salah dengan penampilannyanya, karena itu adalah sebuah jarum penembak bius. Naruto segera mengenakannya, ia terlihat begitu puas.

"Bagus. Kurasa aku harus memberimu hadiah, kau minta a–"

" Ijinkan aku bermain dengan Dei-chan, Senpai" potong Sasori cepat. Naruto melotot mendengarnya, sementara Sasori nyengir polos.

"Hentikan perilaku mengerikanmu Sasori! Lebih baik kau mencari kekasih yang pantas!" seru Naruto geram.

Sasori manyun "Tapi Senpai, aku benar-benar mencintai Dei-chan!" katanya ngotot.

"Hey pedofil sialan! Aku tak kan membiarkan adikku dekat-dekat denganmu!" semuanya mengarah kearah Kyuubi yang kini tengah melotot mengerikan kepada Sasori. Kyuubi yang baru saja datang dan akan masuk kedalam keruangan, tapi sempat mendengar percakapan terakhir itu tentu saja geram.

"Hey rubah! Aku bukan pedofil! Aku masih 18 tahun, dan mukaku tak kalah imut dengan Dei-chan!" belanya narsis nan OOC membuat semua orang sweatdropp.

"Grrr... dan Deidara 6 tahun! BAKA!"

"Cinta tak memandang umur!"

"DIAM KALIAN BERDUA!" teriak Naruto melerai. Sungguh ia pusing menghadapi sifat kekekanakan para anak buahnya, kadang ia berpikir lebih baik menghadapi ceramahan kakeknya yang memakan tiga jam itu.

Semuanya terdiam, takut melihat raut wajah Naruto yang kini tengah menampakan kekesalan yang kentara, matanya menyorot bahaya. Bahkan Sasuke yang melihatnya terbelalak kaget dan ada rasa takut dalam hatinya. Padahal, selama ini ia tak pernah merasa takut pada seseorang.

'Orang macam apa dia?' pikirnya.

"Naru.." suara baritone Itachi mengalihkan. Semuanya bernafas lega dengan kedatangan Itachi yang mencairakan ketegangan. Lalu, mereka duduk tertib disofa yang kosong.

"Outoto?" heran Itachi melihat sang adik berada disana.

Sasuke tak menyahut sama sekali,dia malah berpura-pura tidak melihat. 'Cih kenapa dia kesini sih?' batinnya mendecih sebal, tidak menyadari bahwa dirinyalah yang KENAPA DISNI.

"Aku yang membawanya, Tachi," jawab Naruto, Itachi hanya mengangguk kemudian mendudukan dirinya didekat Kyuubi.

Semuanya terdiam.

"Sebelumnya, aku akan memberitahu sesuatu dulu kepada kalian. Sasuke, sebaiknya kau juga mendengarkan ini!"

"Kau akan mengerti setelah kau mendengarnya Outoto," jawab Itachi seakan mengerti arti pandangan yang Sasuke layangkan kepada Naruto.

"Hn," jawabnya malas.

"Tolong putar rekamannya, Tachi!" perintah Naruto kepada Itachi. Itachi menurut. Sasuke yang melihatnya mendengus geli. Seorang Itachi diperintah? Menggelikan.

Kemudian, Itachi memutar rekaman percakapan Kabuto tempo Hari dicafe. Mata Sasuke terbelalak saat mendengar isi percakapan itu. Dia menggeram, rahanngnya mengatup menahan amarah. Apa-apaan ini? Sasuke melotot, meminta penjelasan kepada Naruto.

"Cukup! Matikan Tachi"

"Hn"

"Apa maksud semua ini?! Kalian sebenarnya siapa?" tanya Sasuke dengan ekspresi antara kaget, bingung dan marah. Marah kepada orang yang bercakap dalam rekaman itu .

"Sebelumnya aku ingin kau berjanji untuk merahasiakan ini semua, Teme," Sasuke menangguk. "Apa kau pernah dengar organisasi bernama Akatsuki?"

"Hn," Sasuke berpikir sebentar sebelum ia menoleh cepat kearah Naruto. "Jangan-jangan..."

"Ya, kau benar. Kami adalah Akatsuki," potong Naruto mengerti kemana arah Sasuke berbicara. Tenggorokan Sasuke tercekat mendengarnya. Organisasi yang ia kagumi selama ini. Oraganisasi yang ia pikirkan anggotanya adalah orang-orang gagah, intelek, menakutkan, misterus, dll.

Ternyata?

Mata Sasuke memperhatikan setiap wajah anggota Akatsuki? Aneh, kekanakan, autis,sangat muda dan tidak mencerminkan orang-orang yang hebat, pengecualian Naruto dan Itachi, pikirnya mulai pusing dengan semua ini.

Tunggu!

Kalau Akatsuki adalah mereka jadi Naruto?

"Kau Kitsine?" Tanya Sasuke Tak percaya kepada Naruto.

"Ya," jawab Naruto santai.

Sekali lagi Sasuke terperangah tak percaya, jadi selama ini ia telah mengagumi Naruto? Ya, Sasuke diam-diam menganggumi sosok Kitsine yang ia anggap Pahlawan.

"Kau telah mengetahuinya, Sasuke. Aku harap kau mau bekerja sama dengan kami," ujar Naruto sambil memakan keripik kentangnya dengan khitmat

"Shino! Sebaiknya kau keluar!" perintah Naruto selanjutnya. Kemudian, Shino keluar dari persembunyiannya.

"Anda selalu menemukan saya Kitsine-sama. Sepertinya hanya anda yang menyadari kehadiran saya," ujar Shino sembari melemparkan pandangan kearah teman-temannya yang kini tengah memandangnya heran. Naruto hanya terkekeh kecil.

"Wah! Sejak kapan kau disana Insect freak?" tanya Kyuubi mewakili pertanyaan teman-temannya yang lain.

"Sejak awal," jawabnya datar.

'Hah? Ko bisa kita tak merasakan kehadirannya?' batin mereka semua kompak.

"Jadi bagaimana, Suke?" tanya Naruto kembali ketopik yang seharusnya.

Sasuke nampak berpikir. "Baiklah.. Karena ini menyangkut keluargaku dan aku," putusnya. "Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanyanya membuat Itachi teersenyum senang mendengarnya.

Akhirnya Naruto menjelaskan kepada Sasuke dan semua anggotanya yang ada disana tentang apa rencananya dan apa yang harus mereka lakukan. Dan dari penjelasan Naruto mereka yakini benar bahwa situasi yang mereka hadapi ini sungguh serius dan berbahaya.

'Baiklah, mungkin dengan cara ini aku bisa lebih dekat dengan Naruto dan menjauhkan Itachi darinya. Setelah itu, aku akan mencari cara agar Naruto bisa tunduk kepadaku. Tapi, sepertinya Naruto bukan orang yang mudah untuk ditaklukan,' batin Sasuke sembari memandang Itachi dan Naruto bergiliran .

"Baiklah, untuk rencana lebih lanjut, kita bahas pada pertemuan berikutnya besok lusa dimarkas. Dan, tolong hubungi semua anggota," jelas Naruto menutup pertemuan kali ini.

.

.

Naruto tidak tahu bahwa arti dari rasa tanggung jawab yang dikatakan tadi Sasuke adalah yang akan menemaninya seharian itu benar-benar SEHARIAN! Lihat saja tatapan bertanya dari kedua nenek dan kakeknya Uzumaki Mito dan Hasirama Senju dan tatapan kesal dari Kyuubi yang mereka layangkan kepada sang Uchiha bungsu, yang saat ini sedang berada dimeja makan malam bersama mereka, tepat disebelah Naruto. Satu kalimat yang terbersit dibenak Naruto. 'Bocah Teme ini benar-benar membuatku pusing' karena Sasuke terus saja menempel kepadanya.

"Nii-san.. Kenapa orang ini ada disini?" tanya Kyuubi kesal, ketika diarasa acara makan malam bersama kakek dan neneknya yang jarang terjadi terusak oleh pemuda berwajah tembok didepannya.

"Ha-ah..," Naruto mendesah. "Dia tidak membawa mobil kesini Kyuu, tadi dia ikut Nii-san."

"sSdahlah Kyuu.. idak boleh begitu! Itu tidak sopan. Wajah cemberutmu terlihat jelek," nasehat neneknya lembut membuat Kyuubi tertekuk. Dan Kyuubi yakin pada saat itu ia melihat seringai kemenangan diwajah Sasuke.

"Ehm..," Hasirama mendehem, "Jadi,Namamu siapa Nak?" tanya Hashiama akhirnya.

"Uchiha Sasuke," jawab Sasuke penuh hormat.

"Ah.. kau pasti cucu Madara? Dan putra ugaku, benar?"

"Ya.."

"Hahah.. Sifat dingin dan wajah stoic kalian begitu mirip," celetuknya tiba-tiba. Dan Sasuke kali ini yang dapat memastikan ia mendapat pandangan mengejek dari Kyuubi.

"Sudah-sudah mengobrolnya nanti saja lanjutkan. Sekarang semuanya makan!" tukas Mito akhirnya.

Setelah makan malam yang begitu mengesalkan, menurut Kyuubi. Karena sang kakek terus saja mengajak Sasuke mengobrol membahas mengenai hubungan Senju-Uchiha, dan mengabaikan dirinya yang sebenarnya adalah cucu kandung yang jarang sekali mengunjungi mansion kakeknya. Sasuke dan Kyuubi akhirnya pulang diantarkan Naruto. Dan kalian tau apa yang terjadi? Disepanjang perjalanan Naruto hanya mendengar pertengkaran kekanakan dari mereka berdua. DAMN! Rutuk Naruto jengkel.

.

.

AAAAA

.

.

Itachi memasuki kamar Sasuke dengan ragu, tapi dia perlu berbicara dengan Sasuke sekarang. Itachi merasakan ada yang aneh dengan adiknya itu. Dengan sekali lihat saja Itachi menyadari ada yang berbeda dengan tatapan Sasuke kepada Naruto, tatapan yang sangat ia kenal.

Ceklek

"Sasuke.." panggil Itachi lembut. Sasuke tengah berbaring ditempat tidurnya membelakangi Itachi. Namun Itachi tau, Sasuke belum tidur. Ia menghampiri adiknya dan duduk dipinggir ranjang Sasuke.

"Aku tau kau belum tidur Outoto"

"..."

"ha-ah," Itachi menghela Napas berat. "Baiklah.. Sasuke, dengarkan aku. Aniki ingin memberitahu sesuatu padamu."

"..."

"Kau tahu kan aku bukanlah orang yang bodoh untuk menyadari sesuatu?"

"..."

"Aku tahu arti pandanganmu pada Naruto-kun ,Outoto"

"..."

"Asal kau tahu Outoto, Naruto adalah orang yang bahaya jika dijadikan seorang musuh."

"Apa maksudmu Itachi?" desis Sasuke akhirnya menyahut, walau masih dalam posisi membelakangi Itachi, enggan melihat wajah kakaknya.

"Aku belum selesai," tukas Itachi.

Dan Sasuke lebih memilih diam kembali.

"Jika kau berniat menaklukan Naruto, kau harus berpikir seribu kali. Biarpun kita adalah Uchiha, aku tahu kau kuat dan jenius, tapi semua itu tak cukup. Ingatlah diatas langit ada langit, dan diatas Uchiha ada Senju. " ucap Itachi panjang lebar.

Sasuke menegang mendengarnya.' Itachi menyadarinya? Kuso!' batin Sasuke kesal.

"Asal kau tahu Itachi.. Aku. Bukan. Dirimu." Desis Sasuke berbahaya menekan disetiap kata-katanya.

"Aku tahu," sanggah Itachi. "Aku hanya mengingatkanmu. Dan aku takkan membiarkanmu ,Sasuke." Setelah mengucapkan itu Itachi berdiri dan pergi.

Tap

Tap

"Aku tidak butuh Nasihatmu. Dan ini semua bukan Urusanmu." Langkah Itachi berhenti mendengar kalimat itu terlontar dari mulut adiknya. Itachi mengepalkan dua tangannya, sebelum melangkah keluar.

.

.

AAAAA

.

.

Seorang pemuda berkulit pucat dan berrambut raven keluar dari sebuah mobil sport Hitam, kaki jenjangnya menapak tanah dengan segala kebebasannya, mata onyxnya menyapu tajam kesetiap penjuru tempat, hidung mancungnya menghirup aroma alam seakan dahaga dengan segala udara disekitarnya.

"Aku bebas...," lirihnya. Wajah tanpa ekspresinya menoleh kebelakang. "Aku tidak sabar untuk menghancurkan sulung Uchiha itu," ucapnya datar namun terdengar bahaya dan sebuah obsesi didalamnya.

"Ya.. kami mengandalkanmu, Sai-san."

"Khekhe.. Kau tak usah khawatir, Kabuto."

Orang yang dipanggil Kabuto hanya mengangguk seraya tersenyum puas.

"Kau tahu, Kabuto?"

"?"

"Ada yang harus kurebut kembali sesuatu yang seharusnya menjadi milikku darinya..," ujarnya pela, namun masih terdengar jelas diteling Kabuto.

"Apa itu?" tanyanya penasaran.

"Naruto.."

Mata Kabuto melebar, sebelum seringai yang sangat lebarnya bertengger diwajah liciknya.

'Ini semakin menarik,' batin Kabuto, seraya terus berjalan mengikuti Sai.

.

.

AAAAA

.

.

Cinta adalah hal yang menyakitkan. Dan kalimat tersebut dibenarkan oleh Hyuuga Neji. Saat ini Neji tengah menatap wajah Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan. Yang pasti ia merasa sakit hati saat ini. Ia merasa menjadi orang bodoh bisa mencintai pemuda berhati batu didepannya itu. Kenapa dengan mudahnya pemuda didepannya ini mengatakan putus, sekali lagi PUTUS dia tegaskan ,setelah beberapa menit yang lalu dirinya digagahi oleh pemuda didepannya yang kini tengah memakai baju yang tadi ia tanggalkan.

"Apa maksudmu, Suke?" tanya Neji getir. "Apa selama ini kau memang tak pernah mencintaiku Suke?"

"Kau seharusnya tahu itu Neji," sahut Sasuke datar seolah tidak peduli.

Mendengarnya Neji mengepalkan tangannya kuat hingga dirinya yakin bahwa kuku-kuku jarinya menancap dalam pada telapak tangannya. Matanya terpejam menahan dirinya agar tidak mengeluarkan air mata yang dapat membuatnya kehilangan harga diri sebagai pewaris Hyuuga Corp.

"Baiklah..," lirihnya pahit. "Terimakasih untuk selama ini, Sasuke," ujarnya sedikit bergetar.

"Hn," gumam Sasuke mennggapi. Sasuke menatap Neji yang kini bertubuh polos. "Kau tahu Neji?"

Neji menoleh kearah Sasuke sekilas sebelum mengalihkan pandangannya kearah lain.

"Kau adalah orang tertulus yang pernah kutemui, selain ibuku," ujar Sasuke seraya tersenyum tipis.

Neji tertegun mendengarnya, ia segera menoleh kearah Sasuke cepat. Mata lavender nya menatap sorot onyx yang kini tengah menatapnya lembut. Kemudian ia tersenyum kecil kepada Sasuke. Ini kali pertama Sasuke mentapnya seperti itu.

"Kau lebih pantas menjadi sahabatku dari pada Kekasihku, Neji." Neji tertegun kembali, sebelum ia mengangguk "Ya.. Kau benar, Suke"

"Hn," setelah itu Sasuke meninggalkan Neji sendiri dikamar yang kini tengah merenung dengan pikirannya sendiri.

Neji kini tengah tersenyum lembut, ia kira Sasuke sejahat yang ia pikirkan. Ternyata ia justru sangat memikirkan perasaan Neji. Karena jika hubungan mereka terus berlanjut maka Neji akan menjadi seorang yang terus disakiti karena secara tidak langsung mengharapkan sesuatu yang tak mungkin, yaitu dicintai Sasuke. Dan Neji kini tahu alasan mengapa Sasuke memutuskan hubungan dengannya, yaitu karena Sasuke tidak mau menyakiti Neji terus menerus.

"Arigatou.." lirih Neji.

Jika memang ia tak bisa mencintai Sasuke sebagai kekasih, maka Neji akan belajar mencintai Sasuke sebagai sahabatnya.

Benar!

Secara tak langsung Sasuke memintanya demikian. Dan Hari ini Neji menyadari sesuatu, Sasuke selalu mengabulkan apa yang ia minta termasuk ketika Neji yang selalu mengajak Sasuke Bercinta terlebih dahulu. Sasuke tak pernah meminta apapun darinya.

.

.

AAAAA

.

.

Naruto termenung dikamar yang sangat mewah bercat biru langitnya. Akhir-akhir ini ia mendapatkan masalah yang tidak biasanya. Sehingga hal itu membuatnya agak stress. Sejenius-jeniusnya seorang Naruto pasti ada batas titik jenuhnya juga kan? Toh dia juga adalah manusia biasa.

"Apa aku bisa mempercayai bocah Uchiha-Teme itu ya?" tanyanya entah pada siapa. Naruto mengkerutkan dahinya berpikir,"Jika memang ada seseorang Uchiha yang lebih bahaya dari Itachi,maka aku yakin bocah Teme itu orangnya" gumamnya melanjutkan.

"Jika aku membuat bocah itu membelot, maka Akatsuki bisa saja terancam. Sebaliknya, jika bocah itu memihak, maka Itachi dan Akatsuki juga aman. Tapi dari apa yang kulihat bocah itu masih naif." Bisiknya pusing. Naruto meremas rambut pirangnya frustasi.

"Aku harus mempunyai rencana cadangan dan berusaha agar tidak terlalu melibatkan Itachi," gumamnya kemudian.

Lalu..?

Klik

"Moshi-moshi, Kyuu?"

["Nii-san!]" sahut disebrang sana girang. ["Kyaaaa! Apa itu Naru-niiSan, un!"] terdengar suara bocah yang heboh yang sepertiya sedang berlari ["Diam Dei! KAA-SAAAN!"] Teriak Kyuubi kalap, sepertinya Deidara sedang mencoba merebut handphone milik Kyuubi [Deiii-chaaan! Jangan ganggu Nii-sanmu!"] teriak seorang wanita yang diketahui Kushina itu.

Naruto tersenyum geli mendengar kehebohan keluarganya, memang tak pernah berubah. Ia yakin saat ini wajah Deidara sedang cemberut dan Kyuubi sedang menyeringai menang.

["Ada apa Nii-san?"] tanya Kyuubi akhirnya.

"Kau harus memberi Dei-chan mainan dari tanah liat lagi Kyuu...," ujar Naruto sembari terkikik geli.

["Chk, langsung saja Nii-san!"] dengus Kyuubi tidak suka ketika Kakak kesayangannya memanjakan sang adik. Padahal dirinya sendiri jauh lebih manja jika dibandingkan.

"Kau ini Kyuu.. bersikap manislah sedikit kepada Adik-adikmu!" Nasehat Naruto.

["Sudahlah.. Nii-san telpon bukan mau menasehati aku saja kan?"] timpal Kyuubi malas.

"Ha-ah.. Ya ya ya.. Nii-san mau kamu melakukan sesuatu," jawab Naruto akhirnya ketika mendengar Nada malas dan tak suka dari Kyuubi.

["Apa? Apa ini Misi Nii-san?!"] pekik Kyuubi senang karena mendapat Misi.

"Ya bisa dibilang begitu juga..."

["Siap Nii-san! Misi apa?!"] semangatnya.

"Aku menugaskanmu untuk menjaga Itachi-"

["A-APA?!"] teriak Kyuubi memotong ["Jangan bercanda Nii-san! Ini tidak lucu!"] protesnya keras.

Naruto menjauhkan telponnya dari telingannya saat mendengar teriakan Kyuubi yang memekakan telinga itu.

Naruto menghela Nafas berat "Nii-san serius Kyuu. Dan ini juga masalah yang sangat serius" tukasnya.

["Kenapa Nii-san memberikan misi konyol ini kepadaku? Kenapa tidak meminta yang lain saja sih! Yang benar saja aku harus menjaga manusia Keriput menyebalkan sialan itu! Demi tuhan! Satu menit saja aku mungkin sudah tak tahan jika terus bersama makhluk itu!"] rengek Kyuubi sembari menghina habis sang Uchiha.

"Dengar Kyuu.. hanya kau yang bisa melakukan ini semua. Nii-san juga takkan bertindak tanpa berpikir. Ayolah.. hitung-hitung untuk memperbaiki hubungan buruk kalian." Kata Naruto tenang, yang sukses membuat Kyuubi bertambah dongkol diluar sana.

"Dengar Kyuu.. alasan Nii-san memberikan misi ini juga Untuk keluarga kita juga.." dan akhirnya Naruto Menjelaskan semua alasannya kepada Kyuubi panjang lebar, dan dengan sangat terpaksa sekali lagi DENGAN SANGAT TERPAKSA, Kyuubi akhirnya menyetujui tugas dari kakaknya dengan berat hati dan tak ikhlas. Jika telah menyangkut keluarganya, apa boleh buat?

"Nii-san sangat percaya pada mu Kyuu,dan buat Nii-san bangga kepadamu" ujar Naruto setelah mendengar Kyuubi menyutujuinya.

.

.

"Cih! Sial!" gerutu Kyuubi setelah menutup telponnya dengan Naruto.

"Kuso! Kuso! Kusoo! KUSOOOOOOOO!" teriaknya kesal.

"URUSAI NII-SAN!" teriak Shion diluar sana marah-marah karena kakaknya berteriak-teriak ga jelas.

'Ini semua gara-gara Keriput sialan itu! Seperti bayi saja harus dijaga!' Kyuubi marah-marah dalam hati karena takut Shion semakin kalap diluar sana.

Hey Kyuu menjaga yang dimaksud Naruto bukan menjaga layaknya bodyguard kali. Itachi itu bahkan jauh lebih kuat daripada dirimu Kyuu... chk chk chk..

.

.

AAAAA

.

.

Ada berjuta tanya yang terpatri dibenak Naruto saat ini. Dengan pandangan aneh Naruto memandangi serangkai bunga mawar merah ditangannya. Lantas pandangannya beralih kearah pemuda yang saat ini tengah berpose dengan tangan terlipat didepan dadanya.

"Untuk apa kau memberiku bunga?" tanyanya heran. Lucu sekali, selama ia hidup 22 tahun di dunia, ia tak pernah sekalipun menerima serangkai bunga mawar merah dari seorang pria, jika ada itupun bukan bunga mawar merah, akan tetapi bunga ucapan selamat atas prestasi atau lainnya.

"Hn."

Naruto memalingkan wajahnya sedikit kesal ketika mendapat jawaban aneh itu. "aku kembalikan. Sepertinya kau salah orang" ujar Naruto sembari memeberikan bunga mawar itu kepada Sasuke.

Sasuke menatap tajam kerah Naruto "Tidak. Ini untukmu!"

Sekali lagi Naruto memandang aneh kearah Sasuke ,ia mendengus atas jawaban keras kepala sang Uchiha bungsu. "tidak mau" jawabnya ketus.

"Dobe.."

"Teme,apa maksudnya semua ini? Tiba-tiba saja kau memasuki ruanganku,dan dengan wajah menyebalkanmu itu kau melemparkan bunga ini tanpa berbicara apapun? Konyol sekali" tanyanya tak habis pikir

Beberapa saat yang lalu..

Sasuke saat ini sedang menunggu Naruto selesai mengajar difakultas Ekonomi Kakaknya. Digenggamnya serangkai bunga mawar merah untuk ia berikan kepada Naruto. Setahunya, ketika ia membaca sebuah buku 'cara menaklukan seorang gadis' ia harus memberikan bunga kepada gadis yang diincarnya, karena semua gadis menyukai hal yang romantis. Sasuke berpikir seorang Uke juga pasti demikian,karena dimata Sasuke, gadis dan uke itu sama. Sama-sama berada dibawah, oleh karena itu pastinya kesukaan mereka sama. Namun Sasuke melupakan Fakta bahwa Naruto adalah seorang superior seme. Dengan sabar Sasuke menunggu disebuah kursi panjang didepan fakultas, sesekali ia menatap jam yang bertengger ditangannya.

"Misi menaklukan Namikaze Naruto dimulai," gumamnya sembari menyeringai.

Tak lama kemudian kelas yang ditunggunya pun berakhir. Sasuke dengan cepat berdiri, berniat ingin segera menemui Naruto, teapi Niat suci nya ia urungkan dikala ia melihat Naruto tengah berbincang dengan orang yang tak lain adalah Uchiha Itachi,sang kakak. Ia melihat Naruto sedang mengusap-usap puncak kepala Itachi sembari tersenyum lembut, sebelum ia beranjak berbalik meninggalkan sang Uchiha Sulung sendiri. Tangan Sasuke terkepal melihatnya, entah kenapa ada perasaan marah melingkupi hatinya ketika melihat adegan itu.

'Cih.. Nikmatilah masa-masa terakhirmu dengan si Dobe itu baka-Itachi,' batinnya sembari menyeringai penuh amarah.

Dengan kesal Sasuke mengikuti Naruto yang saat itu tengah berjalan dan berbelok kearah ruangan. Sepertinya, itu merupakan ruangan khusus dosen miliknya. Tanpa mengetuk pintu dahulu Sasuke langsung menyelonong masuk keruang kerja Naruto. Dan dengan hati yang masih kesal ia melemparkan bunga itu kedepan meja Naruto tanpa aba-aba.

Dan begitulah hasilnya.

Kembali kewaktu Normal..

"Hn."

"Cih.. Perbaikilah sopan santunmu bocah," kata Naruto datar. "Kau boleh pergi sekarang. Dan, bawa bunga milikmu itu," lanjutnya mengusir.

Dan dengan santainya Sasuke malah duduk disofa yang berada diruangan itu tanpa menghiraukan Naruto yang saat ini kesal setengah mati karena ulahnya. Naruto bangun dari kursinya, ia berjalan kearah sofa yang diduduki Sasuke dengan membawa bunga ditangannya, dengan santainya Naruto membuang bunga tersebut kearah tong sampah. Tidak menghiraukan deathglare Sasuke yang tak terima dengannya.

"Kau pikir aku seorang gadis? .. Atau jangan-jangan kau pikir aku seorang... Uke? Kau pikir aku akan senang menerimanya? Jangan mimpi Uchiha! Jika kau berfikir begitu, segeralah perbaiki pola pikir yang kekanakanmu itu," kata Naruto tepat Sasaran, seakan bisa membaca apa yang Sasuke pikirkan.

"Hebat sekali kau bisa membaca apa yang kupikirkan," ucap Sasuke dengan nada mengejek, lalu Sasuke berdiri dan berjalan kearah Naruto sehingga mereka kini dalam posisi berhadapan. Shapphire dan onyx saling melempar tatapan tajam seolah tak mau kalah.

Naruto memutar matanya bosan, "Mudah bagiku untuk membaca apa yang kau pikirkan,bahkan mungkin apa yang kau inginkan?" sahut Naruto arogan, dengan pandangan mengintimidasi tetap pada wajah pucat yang kini menyiratkan sebuah amarah didepannya.

'Sial!' batin Sasuke geram.

Lalu?

Tanpa aba-aba Sasuke tiba-tiba menyerang dan melumat bibir tipis Naruto dengan kasar,mata Naruto terbelalak namun ia tetap diam tidak memberontak dengan perlakuan Sasuke yang kini semakin ganas melumat bibirnya. Sasuke menyeringai dalam lumatanya, 'nikmat sekali' batinnya. Naruto dengan sengaja memancing Sasuke dengan membalas disetiap lumatannya, membuat Sasuke semakin mabuk dalam ciumannya,ia menekan tengkuk Naruto untuk memperdalam ciumannya, sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk memeluk pinggang Naruto intim. Sasuke menjilat bibir bawah Naruto berniat meminta izin memasuki rongga hangat milik Naruto, dengan suka rela Naruto membuka mulutnya, lidah Sasuke dengan sigap melesak kedalam rongga hangat dan memabukan milik Naruto, lidahnya mengabsen setiap deretan gigi Naruto, menghisap habis lidah Naruto dengan sangat bernafsu, memelintir mengajak perang lidah Naruto dengan rasa dominan yang tinggi sehingga kini Naruto menyerah. Dan...

Grep

Brugh

"Akh!" pekik Sasuke saat punggungnya dihempaskan kearah dinding dengan keras oleh Naruto. Kedua tangannya digenggam erat oleh sebelah tangan Naruto,dengan posisi kedua tangannya berada diatas kepalanya. Sasuke memberontak, matanya menyorot marah kepada Naruto yang kini tengah menyunggingkan seringai kepadanya. Sasuke bahkan tidak menyadari kapan dirinya berjalan mundur kearah dinding.

"Lepaskan!" perintah Sasuke terengah dengan wajah memerah sembari sekuat tenaga memberontak.

"Coba saja~," sahut Naruto dengan nada sing a song. Dengan cepat Naruto meraup bibir merah Sasuke dengan ganas, melumat, menghisap, menjilat dengan sangat ganas. Mulut Sasuke menutup rapat, tidak mengijinkan lidah Naruto yang kini berusaha menerobos masuk kedalam rongga mulutnya. Karena kesal akhirnya Naruto menggigit bibir bawah Sasuke dengan keras, mengakibatkan Sasuke memekik, terpaksa membuka mulut. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, lidah Narutopun melesak masuk mememelintir, mengobrak-abrik seluruh rongga manis Sasuke. Tak mau menyerah, Sasuke masih berusaha sekuat untuk mendominasi Naruto, namun nihil usahanya gagal,dan Naruto memenangkan pertarungan lidah itu. Mendominasi mulut Sasuke dengan sangat lihai dan panas, membalikan situasi yang terjadi. Tangan bebasnya menyusup kedalam kemeja Sasuke, dan memilin puting susu Sasuke dengan erotis.

"Ngghh..," Sasuke merutuk mulutnya ketika desahan itu keluar dengan tak terkontrol dari mulutnya. Naruto menyeringai mendengar desahan sexy itu. Kaki jenjangnya mengunci gerakan kaki Sasuke yang saat ini tengah berusaha memberontak. Dirapatkan tubuHnya lebih intim, mengakibatkan selangkangan mereka bergesekan. Ciuman Naruto semakin dalam, dalam dan dalam. Sasuke yang sudah tidak tahan dan sesak, lebih memberontak lagi..

"Mmmh!.. Mmmh!" teriaknya didalam ciuman itu. Dan Naruto akhirnya melepaskan ciuman itu. Matanya memandang Sasuke yang kini terengah berusaha menghirup udara sebanyak mungkin, dengan wajah yang sangat merah dan bibir yang semakin merah dan bengkak akibat ciumannya barusan.

'Manis sekali,' pikir Naruto.

"Be-brengsekh.. Hah..hah!" maki Sasuke dengan suara terengah.

Naruto menyeringai..

"Jika kau bermakud menjadikanku uke, maka berusahalah dengan sangat keras suke-chan~," goda Naruto seduktif. Matanya menyorot mengintimidasi kearah Sasuke dengan sangat, sehingga membuat Sasuke merinding saat melihatnya.

"Dan kurasa meskipun kau berusaha dengan sekuat tenagapun, itu percuma saja. Uh.. bahkan kau lebih pendek dariku," ujar Naruto dengan pandangan mengejek, Sasuke menggeram marah

'Sial ternyata dia lebih tinggi! Kuso,' batinnya kesal. Setelah menyadari tingginya hanya sebatas dahi Naruto.

"Oh ya! Kurasa' Sasuke juniormu' itu perlu pembesaran dahulu sebelum kau mau menjadikanku uke, Suke-chan~ hahaha," lanjut Naruto kejam, menghina ukuran Sasuke yang lebih kecil daripada miliknya. Dengan keras Naruto akhirnya melepaskan kunciannya terhadap Sasuke. Dan berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Sasuke yang tengah berdiri mematung diruang kerjanya.

Tap

Tap

Tap

Naruto berhenti didepan pintu. Tangannya mengepal kuat, diliriknya kearah selangkangan miliknya yang kini tengah mengembung bangkit .

"Ukh.. Dia membuatku bergairah lebih hebat dari Itachi," lirihnya seraya menahan sakit diarea selangkangannya. Dengan cepat Naruto melangkah kearah toilet, berniat meneruskan yang sempat tertunda tadi dengan bekerja solo.

Hahaha! Kasihan kau nar!

Sementara itu..

"AAAARGH!" teriak Sasuke marah, ditendangnya dinding tak berdosa didepannya.

"Sial! Dia membuatku marah! Brengsek kau NAMIKAZE NARUTO!" teriaknya kalap. Sasuke merasa dirinya terinjak injak, tak pernah sekalipun ia merasa dipermalukan seperti ini. Harga dirinya dijatuhkan begitu saja oleh Naruto, posisi semenya dengan mudahnya Naruto jatuhkan.

"Brengsek!" umpatnya kemudian.

Lalu?

.

.

.

"Hhhhfffptt.. haha... HAHAHAHAHAHHA!" tawanya sinting. "Kau membuatku semakin bersemangat untuk membuatku menjadikamu uke, Naruto! AHHAHAHA..!" ujarnya edan dan sinting dengan tawa yang terdengar mengerikan.

Ha-ah! Sepertinya Sasuke mulai stress!

.

.

AAAAA

.

.

Kiba menjambak rambutnya frustasi. 'Cih.. Kemana Uchiha ayam itu sih? Menghilang tiba-tiba. Gawat! Naru-Senpai pasti kecewa karena lagi-lagi aku kehilangannya,' batinnya lesu. Kemudian matanya memincing kearah pemuda yang saat ini selalu setia menemaninya setiap saat 'Dan kenapa dia selalu mengikutiku. Kami-sama, kenapa nasibku selalu nista,' lanjutnya merana.

"Sebaiknya kau jauh-jauh dariku Nanas!"

"..."

"Demi Tuhan! Aku sudah tak sanggup lagi!" serunya lebay. Sementara Shikamaru hanya memutar matanya bosan.

"Sudah kubilang, aku akan terus mengikutimu sampai aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku Kiba-chan."

"Dalam mimpimu Nanas Cungkring!"

Saat ini Kiba dan Shikamaru tengah berjalan dikoridoor kampus, namun suasananya sangat sepi dikarenakan mereka berjalan didepan kelas-kelas yang telah bubar. Kiba menghentikan jalannya ketika ia mendengar suara dibelokan yang akan ia tuju. Shikamarupun ikut berhenti.

"Ada apa?" tanyanya kepada Kiba.

"Sssstt.." Dengan cepat Kiba membekap Shikamaru kemudian bersembunyi dii balik dinding.

Sayup-sayup ia mendengar suara wanita yang menyebut-nyebut Nama orochimaru.

"Dari yang kulihat Sasuke semakin gencar untuk mendekati Namikaze itu, Orochimaru-sama."

"Ya.. Sejauh ini semuanya berjalan seperti dugaan kita."

"Sepertinya mereka semua tidak menyadari rencana kita, orochimaru-sama."

"Baiklah.. saya akan segera menghubungi Kabuto-san"

Mata Kiba memincing marah, Namikaze? Kiba yakin yang dimaksud Namikaze disini adalah Naruto.

"Karin?" bisik Shikamaru setelah lepas dari bekapan Kiba.

"Kau mengenalnya Nanas?" tanya Kiba penasaran.

Ekor mata Shikamaru melirik kearah Kiba sebentar sebelum pandangannya beralih kembali kearah karin yang sepertinya sedang berdua dengan seorang lelaki.

"Kau tak memperhatikan? Dia teman sekelas kita, kekasih Suigetsu," jawab Shikamaru.

Kiba Nampak berpikir, "Ah.. Aku ingat!" Serunya pelan. "Tapi kenapa dia bersama laki-laki lain? Sepertinya dia mesra sekali..," lanjutnya heran ketika matanya menangkap sosok karin yang tengah mencium seorang pemda berambut putih.

Shikamaru mengangguk setuju, "Entahlah sepertinya ada yang tidak beres disini," lirihnya.

"Sebaiknya aku segera mencari, Gaara," ujar Kiba. 'Aku harus memberi tahu ini kepadanya,' lanjutnya dalam hati. Akhirnya merekapun berabalik arah, berniat kembali kekelas mereka. Membatalkan pencarian Sasuke.

Shikamaru mengikuti dibelakang. "Ya.. aku juga haru segera bertemu dengan Suigetsu," gumamnya pelan.

.

.

Lima orang pemuda tengah duduk disebuah kantin yang terlihat sepi. Wajar saja, mereka berlima saat ini tengah membolos matakuliahnya, otomatis kantinpun sepi karena sekarang bukan waktu unutk berisirahat.

Pemuda berambut violet dengan gigi runcing itu memulai pembicaraan, "Untuk apa kalian memanggilku kemari?" tanyanya heran sekaligus kesal juga karena telah membuatnya membolos. Begitu-begitu juga Suigetsu adalah anak yang rajin.

"Kami tidak memanggilmu gigi runcing! Si Nanas cungkring ini saja yang memanggilmu!" protes Kiba keras. Astaga! Kiba merasa sangat kesal sekarang. Niatnya hanya akan berbicara empat mata dengan Gaara saja. Kenapa malah berkumpul begini?

"Dan kenapa juga kau Gaara, mengajak model iklan shampo itu kemari?" tanyanya kepada Gaara dengan sebal sembari melirik kearah Neji yang saat itu tengah melayangkan tatapan maut kearahnya.

Gaara mendesah panjang sembari menggeleng frustasi. "Sepertinya aku bernasib sama denganmu, Kiba" ujar Gaara datar, matanya melirik kearah Shikamaru.

"ASTAGA!" Pekik Kiba lebay. Sedangkan Shikamaru dan Neji hanya memutar matanya sembari mendengus geli atas kelakuan calon uke-nya. Ya.. setelah putus dari Sasuke, Neji baru menyadari bahwa dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Gaara.

"Jadi untuk apa kau memanggilku Shika?" tanya Suigetsu lagi meralat pertanyaannya yang tadi.

Shikamaru menghela nafas malas sebelum menjawab. "Sejak kapan kau berpacaran dengan Karin?" tanya Shikamaru to the point. Semua orang mengalihkan perhatian kepada Shikamaru, penatap pemuda jenius itu dengan pandangan heran.

"Jadi, kau memanggilku kesini hanya untuk menanyakan itu?" tanya Suigetsu tak habis pikir, begitu juga dengan Neji yang aneh melihat Shikamaru menjadi kepo mengenai urusan cinta orang lain. Sejak kapan Nara Shikamaru peduli terhadap lingkungan? Sementara itu Kiba hanya terdiam sembari terus menyimak percakapanya. Sedangkan Gaara hanya diam dengan wajah datar.

"Jawab saja..," tukas Shikamaru.

"Sebulan yang lalu," jawab Suigetsu ketus. Shikamaru Nampak berfikir, dahinya mengkerut sedikit.

"Kapan Karin memberi tahumu mengenai Namikaze dan Itachi-san itu kepadamu, Sui?"

Kiba dan Gaara nampak saling bertukar pandang,memberi kode satu sama lain. Sedangkan Neji mulai tertarik dengan pembicaraan itu.

Suigetsu menaikkan sebelah alisnya bingung, ia ingin bertanya untuk apa Shikamaru menanyakan hal itu? Namun niatnya diurungkannya ketika melihat raut wajah serius yang terpatri diwajah yang biasanya malas itu. "Seminggu setelah berpacaran kalau tidak salah," jawabnya.

Shikamaru mengangguk mengerti, dengan otak jeniusnya ia menyusun puzle-puzle yang kosong dengan jawaban dari Suigetsu. "Kau pernah bertanya Karin mendapatkan informasi itu dari mana?"

"Sudah, tapi ia menjawab dari rekannya."

"Apa kau tahu Nama rekannya itu?" tanya Kiba tiba-tiba ikut dalam pembicaraan.

Suigetsu Nampak berpikir, "Aku tidak tahu" Suigetsu menggeleng cepat. Kiba terlihat menghela napas kecewa.

"Kenapa kalian bertanya tentang itu?" tanya Suigetsu menyelidik.

"Entahlah aku merasa ada yang ganjil dengan kekasihmu itu," jujur Shikamaru yang membuat Suigetsu mendelik tidak suka, ketika dirasa ada nada mencurigai didalamnya. Melihat raut muka Suigetsu Shikamaru menambahkan. "Aku melihat karin tadi tengah bermesraan dengan pria lain," katanya santai, tidak menghiraukan ekspresi Suigetsu yang kini tengah melotot tak percaya.

"Jangan bercanda! Karin tidak seperti itu!" sanggaHnya.

"Aku juga melihatnya. Percaya atau tidak," tambah Kiba.

Tubuh Suigetsu melemas, nampak ekspresi sakit hati diraut mukanya. Empat pemuda yang melihatnya ikut prihatin.

"Aku masih penasaran..," lirih Shikamaru. "Sui?"

"Hmm..." sahut Suigetsu lemas.

"Kenapa tiba-tiba Karin memberikan informasi itu kepada kamu?"

"Entahlah.. Tapi, kupikir karin hanya ingin membantu Sasuke untuk menglahkan Itachi. Mungkin?"

Ini dia!

"Sepertinya kau hanya dijadikan alat saja dengan wanita itu untuk rencananya," ujar Kiba menimpali.

"Rencana?" beo Neji menimpali.

Shikamaru mengangguk setuju. "Kiba benar. Tapi entahlah.. aku tidak tahu wanita itu merencanakan apa. Yang jelas dari apa yang kudengar saat tadi ia berbincang ditelpon pastinya wanita itu berbahaya,sepertinya dia bekerja pada orang yang disebut dengan nama orochimaru dan Ini melibatkan Sasuke." Imbuh Shikamaru menjelaskan. Gaara segera menoleh kearah Kiba seraya melotot meminta penjelasan. Kiba yang mengerti hanya mengangguk kecil membenarkan apa yang dikatakan Shikamaru.

Mendengar kalimat tersebut itu terlontar dari shikmaru, 5 pemuda tampan itu pun terdiam. Dengan pikiran masing-masing dalam benak mereka.

.

.

AAAAAA

.

.

Mobil sport merah melesat kencang dijalan raya yang terlihat jarang kendaraan. Sang pengemudi terlihat tidak takut dengan kecelakaan yang akan terjadi jika dirinya terus-menerus menjalan kan mobilnya dengan ugal-ugalan. Tangannya dengan lihai mengemudikan stir mobil,mata merah rubbynya menatap tajam kearah jalan raya.

"Damn! Kenapa aku harus bersamamu sih?!" gerutunya sepanjang jalan kepada pemuda yang kini tengah duduk disebelah joknya.

"Hn."

"Gah! Ini menyebalkan!"

"Hn."

"Diam kau Keriput!" bentaknya kepada Itachi. Sementara itu Itachi hanya bisa sweatdropp.

"Dari tadi yang terus berteriak itu kau, Kyuu..," kata Itachi datar membuat Kyuubi termenung Sedikit malu membenarkan perkataan Itachi.

"..."

"..."

Itachi melirik kearah Kyuubi yang kini terdiam. Wajah Kyuubi tertekuk dengan bibir agak sedikit manyun, membuatnya berekspresi layaknya balita sedang merajuk. Itachi mendengus geli melihatnya.

"Kau terlihat manis jika berekspresi seperti itu Kyuu-chan," celetuk Itachi yang membuat Kyuubi menggeram semakin kesal.

"Aku tidak manis! Dan berhenti memanggilku dengan sebutan terkutuk itu Keriput!" semprot Kyuubi karena tak mau dipanggil dengan embel-embel 'chan'.

"Ngomong-ngomong.. kenapa Naruto-kun menyuruh kita melakukan misi ini berdua?" tanya Itachi tiba-tiba mengalihkan. Kyuubi tersentak mendengar pertanyaan yang terlontar dimulut Itachi.

"entahlah.. tanyakan saja pada Nii-san!" jawabnya berusaha bersikap seperti biasa sebisa mungkin menyembunyikan hal yang sebenarnya.

"Hn. Aku akan merindukan Naruto selama dua Hari," keluh Itachi. Kyuubi mendengus tidak suka mendengarnya.

"Menggelikkan sekali," ejeknya ketika melihat wajah sok melas dari Itachi.

'Itachi benar-benar mengerikan jika bersikap uke seperti itu,' pikirnya sedikit ngeri merasa sang Uchiha sulung lebih pantas menyandang predikat Seme ketimbang Uke.

Ya sudah! Kau jadi ukenya Itachi aja Kyuu! Gimana?

.

.

AAAAA

.

.

Tuutt... tuuutt.. tuuuutt..tuu-klik..

"Ada apa Kiba-chan?"

"Baiklah.. Kau tunggu saja bersama, Gaara di Cafe milik Konan. Aku akan segera kesana!"

Klik

Naruto membalikkan stirnya dengan cepat merubah arah yang ia tuju menjadi kearah yang berlawanan. Membatalkan niat untuk pulang kemansionnya. Mobil sport orangenya melaju dengan kecepatan sedang,dipasangnya earphone ditelinganya sembari memutar lagu kesayangannya yaitu "to you all by Michi". Mulutnya sesekali melantunkan lagu seiring alunan musik yang tengah didengarnya. Tak terasa,tempat yang ditujupun sampai. Naruto memarkirkan mobilnya dengan cepat dan bergegas keluar. Dengan gaya cool dan kerennya Naruto berjalan santai menghiraukan tatapan memuja dari siapa saja yang menglihatnya. Ia sudah terbiasa. Mata birunya menyapu kesetiap penjuru cafe mencari dua orang yang telah menunggunya. Dan tertangkaplah 2 pemuda manis yang kini sedang melambaikan tangan kearaHnya.

"Menunggu lama?" tanyanya . Gaara dan Kiba menggeleng cepat, meskipun Gaara masih dengan tampang tak berekspresinya dan Kiba kontras dengan wajah cerianya. Naruto hanya tersenyum kecil melihat kedua pemuda yang telah dia anggap seperti adiknya itu, kedua tangannya mengelus surai yang berbeda warna dari kedua pemuda itu lembut, mengakibatkan mereka berdua merona.

Kiba bergelayut ditangan Naruto manja. "Naru-Senpai duduk disini..," ajaknya seraya menyeret Naruto duduk disebelaHnya. Sementara Gaara hanya memutar bola matanya 'Menyebalkan!' batinya sedikit cemburu, karena lagi-lagi Kiba mengambil kesempatan dalam kesempitan kepada Naruto. Uh.. dia juga mau dong! Gaara tuh ngefans banget sama Naruto.

Mereka bertiga memesan pesanan terlebih dahulu, sebelum membicarakkan perihal apa yang ingin disampaikan Kiba dan Gaara kepada Naruto, seraya menunggu kedatangan Konan juga. Hingga seorang gadis bersurai violet sebahu menyapa mereka dan ikut bergabung dengan ketiga pemuda itu.

"Konan-neechan!" sapa Kiba cempreng. Konan membalas dengan senyuman geli kearah Kiba.

"jadi ada apa nih?" tanya Konan dengan Nada yang terdengar sedikit penasaran. Ia mendudukkan dirinya disebelah Gaara.

"Sebaiknya kita makan dulu Konan-chan," Naruto berbicara setelah melihat seorang pelayan membawa pesanannya. Sementara yang lain hanya mengangguk setuju dan merekapun menyantap lunch yang dipesan mereka, minus Konan yang hanya minum jus melonnya.

Lalu setelah seleSai makan, Kiba dan Gaara pun menceritakan apa yang telah ia ketahui tentang karin dan rencananya. Sementara Naruto dan Konan hanya mendengarkan dengan mimik yang terlihat serius.

"Shikamaru? Apa dia itu teman Sasuke?" tanya Naruto kepada Kiba. Kiba mengangguk membenarkan. "Dia orang yang menarik," gumam Naruto membuat Kiba kesal.

"Dia itu tidak menarik Senpai! Masih menarik aku kemana-mana!" protes Kiba narsis banget yang sepertinya tidak terima. Yang lain sweatdrop.

Naruto hanya tertawa kecil seraya mengacak-ngacak rambut Kiba. " Iyaaa itu pasti!" sahut Naruto membuat Kiba kembali ceria.

"Konan, tolong beritahu Yahiko untuk mencari informasi mengenai pemuda yang bernama Shikamaru."

Setelah itu Naruto memberikan tugas dan pengarahan kepada ketiga anggotanya menegenai apa yang harus mereka lakukan. Dengan senang hati 3 anggotanya itupun mengiyakan apapun yang diperintahkan oleh pemuda yang sangat mereka kagumi itu.

...

Naruto berpamitan pulang duluan, sementara Kiba, Gaara dan Konan mengerjakan apa yang diperintahkan Naruto terlebih dahulu di kafe itu kepada mereka bertiga. Naruto berjalan kearah parkiran mobil, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang pemuda berparas pucat yang menghampirinya. Mata Naruto tak berkedip, meskipun wajaHnya terlihat tenang namun berbeda dengan hatinya yang saat ini sungguh kaget dan tak enak.

"Naruto-kun...," panggil pemuda bersurai ebony itu seraya melambai-lambai. Mata hitamnya berbinar tajam kearah Naruto. Naruto sedikit menahan nafas sebelum menjawab.

"Hmm.. Apa kabarmu Sai?"

.

.

TBC...