Tittle : Crash.

Rate : T.

Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort.

Author : Skinner Choi.

Pair : DaeLo.

Warning : BL, Yaoi, ANGST, Miss Typo(s), Aneh, DLDR, No Flamers, OOC, AU.

Chapter 3 : Evolution Paths.

Daehyun mencium bibir Junhong yang masih bungkam. Dingin, gemetar,dan ketakutan. Terasa sekali saat Daehyun mencium Junhong dengan begitu lembut. Begitu lembut dan Junhong hanya bisa diam karena sangat terkejut.

" Aku tau rasa sakit yang kau rasakan. Kau marah dan kesal. Kau juga lelah seperti ini, aku tau kau kesepian. Aku akan membantumu perlahan-lahan, aku janji. Aku akan menjagamu." Kata Daehyun tulus.

Junhong terdiam. Airmatanya kembali mengalir, dia memeluk Daehyun erat dan menangis keras. Kali ini tangisnya tersirat dia meluapkan semua emosinya.

Daehyun mencoba menenangkan Junhong. " Bagaimana bisa aku melukai malaikat tercantik-ku ini? Lihatlah betapa kacaunya dirimu. Hentikan dan lawan rasa takutmu itu. Lupakan masa lalumu. Aku janji aku tidak akan membiarkanmu melihat hal yang sama seperti dulu dan tidak akan pernah merasakan hal yang sama lagi. Jangan takut." Kata Daehyun lembut dengan senyuman yang cerah.

" … Tolong aku…" kata Junhong pelan sekali, tetapi masih tertangkap oleh pendengaran Daehyun. " Hiks… hiks… aku tidak mau ada yang menyakitiku… aku lelah seperti ini… aku tidak ingin ditinggalkan lagi… hiks hiks…"

Daehyun mengelus rambut Junhong sayang dan menepuk punggung Junhong perlahan.

" Uljimaa.. aku akan menolongmu. Aku tidak akan pergi, kau tidak akan sendirian, dan tak ada orang lain yang menyakitimu." Kata Daehyun. Dia sangat bersyukur Junhong bicara seperti itu.

Daehyun merapikan poni Junhong dengan perlahan, memandang wajah indah milik Junhong. " Berikan aku kepercayaanmu, dan semua akan kuurus, kau tidak akan tinggal di rumah sakit ataupun disakiti orang lain. Kau aman bersamaku." Kata Daehyun.

" Aku takut…aku takut sekali…" kata Junhong.

" Ssshh… Kau tidak perlu takut, kau punya aku, Junhongie…" kata Daehyun.

Junhong mengangguk mengerti. Setelah menenangkan Junhong, akhirnya Daehyun menidurkan Junhong di sofa, sepertinya Junhong sangat lelah dengan apa yang terjadi hari ini. Daehyun kemudian pergi menemui Jongup yang sudah menunggu dia luar ruangan.

" Apa yang terjadi pada Junhong? Dia dimana? Apa dia baik-baik saja?." Tanya Jongup khawatir.

Daehyun tersenyum kecil. " Dia sedang tidur, hyung jangan khawatir, aku tidak akan berbuat apapun padanya." Kata Daehyun.

" Aku ingin melihatnya." Kata Jongup.

" Biar kuobati dulu lukamu hyung." Kata Daehyun.

" Apa Junhong juga melukaimu tadi?." Tanya Daehyun.

" Aniya… kurasa aku sudah bisa mengatasi Junhong sekarang. Hyung tidak perlu merasa khawatir lagi." Kata Daehyun.

" Apapun yang terjadi jangan tinggalkan dia." Kata Jongup pelan.

" Aratta… Aku sudah pernah janjikan? Aku pasti bisa menyembuhkan traumanya." Kata Daehyun.

Setelah Daehyun selesai mengobati Jongup, mereka melihat Junhong yang masih tertidur di sofa. Jongup mengelus pelan rambut Red Maroon Junhong dengan penuh sayang.

" Aku bukan kakak yang baik… Bahkan padaku saja dia takut. Melindunginyapun aku tidak bisa." Kata Jongup.

" Melindungi tidak harus selalu terlihat saat kau melakukannya. Kau sudah berusaha semampumu." Kata Daehyun.

" Terimakasih Daehyunnie… Aku tidak tau harus membalasmu dengan cara apa…" Kata Jongup.

" Aku tidak akan minta balasan papaun padamu hyung. Asal Junhong sembuh itu sudah cukup bagiku." Kata Daehyun.

.

.

.

.

.

" Bukan, lipatlah diagonal seperti ini, itu masih salah." Kata Daehyun yang mengajari Junhong melipat kertas origami untuk membuat bangau.

Junhong hanya melihat Daehyun kosong, lalu kembali berkutat dengan kertasnya yang sejak tadi tidak membuahkan lipatan origami.

" Junhongie, ayo coba ikuti aku." Kata Daehyun mencoba meminta perhatian dari Junhong.

Akhirnya Daehyun menyerah karena Junhong tidak mau mendengar dan memperhatikan. Sejak Daehyun marah waktu itu Junhong mau menurut pada Daehyun, dia tidak mau bersama orang lain, hanya Daehyun satu-satunya orang yang diberi kepercayaan, dan satu-satunya orang yang hanya boleh berada di dekatnya.

" Huuh… Apa susahnya sih melipat origami saja…" Gerutu Daehyun pelan. Dia ingin mengajari Junhong agar bisa seperti orang normal biasanya.

" Junhongie…" panggil Daehyun.

" …"

" Junhongie, ayo kita ngobrol… Ceritalah sesuatu." Kata Daehyun yang tak digubris oleh Junhong yang sedang asyik dengan kertas origaminya.

" Junhongie…!." Kesal Daehyun. Lalu Junhong menoleh kearahnya,

Daehyun menikmati sejenak paras Junhong sambil tersenyum senang. " Aku beritau sesuatu padamu." Kata Daehyun lembut. Junhong masih menatap Daehyun dengan tatapan polosnya. Lalu Daehyun mengambil origami burung yang ia buat tadi.

" Jika kau bisa membuat seribu origami bangau, maka 1 permintaanmu akan dikabulkan." Kata Daehyun.

Junhong masih diam mengamati origami bangau milik Daehyun. " Ada beberapa orang yang membuat seribu origami bangau agar orang yang dikasihinya bisa sembuh dari penyakit." Kata Daehyun.

Junhong kembali berkutat dengan kertas miliknya, Daehyun mendesah kesal lagi. Sekarang memang Junhong sudah tidak takut padanya, tapi Junhong jarang sekali bicara dengannya. Daehyun ingin sekali bicara banyak hal dengan Junhong.

Tapi setidaknya jika Junhong seperti ini sudah membuat Daehyun sedikit lega. Jujur, Daehyun sangat senang karena Junhong sudah mau percaya padanya.

" Ini apa?." Tanya Junhong sambil menunjuk sebuah mp3 player milik Daehyun.

" Ini untuk mendengarkan musik." Jawab Daehyun ramah sambil memasangkan sebelah earphone ditelinga Junhong dan satunya ia kenakan sendiri.

Lalu Daehyun memutar sebuah lagu. Junhong terdiam dan begitu menikmati lagu itu. Rasanya dia berdebar-debar, kenapa tidak dari dulu saja dia merasakn sesuatu yang menyenangkan? Batin Junhong.

" Apa kau suka?." Tanya Daehyun.

Junhong mengangguk sambil tersenyum senang dan Daehyun terpaku memandang wajah Junhong. Jantungnya berdebar-debar cepat. Dia tidak pernah sekalipun melihat Junhong tersenyum secantik ini sejak pertama kali dia melihat Junhong bertahun-tahun lalu hingga sekarang.

" Kau… kenapa melihatku seperti itu?." Tanya Junhong bingung.

Daehyun tersadar dari lamunannya, lalu mengelus pipi Junhong dengan sayang. " Kau terlihat begitu cantik saat tersenyum jadi jangan pernah murung lagi." Kata Daehyun.

Junhong hanya menunduk saat tau jawaban Daehyun.

" Junhongie…" Panggil Daehyun. Junhong segera menoleh lagi kearah Daehyun.

" Mulai sekarang panggil aku hyung, arachi?." Kata Daehyun.

" Junhong mengangguk mengerti. " Daehyun… hyung…" kata Junhong.

" Kurucho, seperti itu." Kata Daehyun sambil mengacak rambut Junhong.

Saat itu Junhong merasa senang dan begitu nyaman dengan perlakuan Daehyun yang begitu memanjakannya. Dan saat itu Junhong sudah benar-benar memberikan semua kepercayaan dan hidupnya pada Daehyun. Seolah menemukan kembali jalan dan pegangannya.

" Aku belum memberimu hadiah saat ulang tahunmu waktu itu kan? Aku akan berikan sesuatu padamu." Kata Daehyun.

" Apa?." Tanya Junhong.

" Kau pasti akan tau nanti." Kata Daehyun.

Keesokkan harinya Junhong masih tidur. Kali ini dia sudah mau tidur di atas tempat tidur. Beberapa menit kemudian Junhong bangun. Perutnya lapar, dia ingin Kimbap untuk sarapan hari ini. Junhong membuka pintu sambil mengucek matanya dan menguap.

DUUKK!

Junhong terkejut saat kakinya menabrak sesuatu. Dilihatnya ada sebuah kotak yang lumayan besar dan ada pita yang menghiasi.

Junhong penasaran apa isi kotak itu. Diapun mengambil secarik kertas diatasnya. Ucapan selamat ulang tahun dari Daehyun dan perminta maafan karena terlambat memberikan hadiah. Lalu dibukanya kotak itu dan seekor anjing melompat kepelukan Junhong dan menjilati wajah Junhong.

Junhong tertawa senang. Dia suka sekali anjing. Kemudian Junhong pergi ke dapur untuk mencari Daehyun.

" Daehyun hyung!." Panggil Junhong.

Daehyun berbalik dan langsung mendapat pelukan dari Junhong. " Terimakasih!." Kata Junhong senang. Daehyun terkejut, lalu melihat anjing yang ia hadiahkan sedang berlarian di kaki Junhong. Daehyun tersenyum senang dan membalas pelukan Junhong.

" Aku tau kau akan menyukainya." Kata Daehyun senang. " Berikan nama untuk anjingnya." Lanjut Daehyun.

Junhong berfikir sejenak. " Zelo." Katanya.

" Zelo? Baiklah mulai sekarang namanya Zelo." Kata Daehyun sambil mengangkat anjing itu tinggi.

" Hyung." Panggil Junhong.

" Ada apa?." Tanya Daehyun.

" Aku lapar." Kata Junhong.

Daehyun kembali mengacak rambut Junhong dengan sayang. " Aku sudah siapakan Kimbap untuk sarapanmu. Tapi gosok gigi dulu baru boleh sarapan." Kata Daehyun.

Junhong langsung berlari ke kamar mandi dan menyikat giginya. Setelah itu Junhong segera duduk manis di meja makan dan Daehyun segera menyiapkan Kimbap di piring Junhong.

Daehyun memandang Junhong yang makan dengan lahap itu. Sekarang dia sudah lega dan bersyukur Junhong sudah berubah total.

" Junhongie." Panggil Daehyun.

Junhong menoleh kearah Daehyun " Ada apa?." Tanya Junhong.

" Apa kau tidak ingin menemui Jongup hyung-mu?." Tanya Daehyun lembut.

Junhong menghentikan makannya lalu menggeleng pelan. " Aku… takut…" kata Junhong.

" Kenapa? Dia tidak akan menyakitimu." Kata Daehyun.

Junhong menggeleng lagi. " Dia bisa saja menyakitiku." Kata Junhong.

" Aniya… Lihat, apakah dia pernah memukulmu? Apa dia pernah memarahimu?." Tanya Daehyun. Junhong menggeleng.

" Dia selalu baik kan padamu? Dia kakakmu. Dia yang merawatmu dan menyayangimu. Kau harus berani. Ada aku disini jadi kau tidak akan disakiti siapapun." Kata Daehyun. Junhong terdiam.

" Kau percaya padaku kan?." Tanya Daehyun. Junhong mengangguk. Lalu Daehyun menggenggam tangan Junhong.

" Kalau begitu tak ada yang perlu kau takutkan." Kata Daehyun lembut.

Junhong mengangguk kecil tanda mengerti. " Good boy. Besok kita akan menemuinya nee…" kata Daehyun.

Sebenarnya Junhong sedikit tidak yakin jika besok harus menemui Jongup.

Seharian itu Junhong terus bermain dengan Zelo hingga kelelahan dan tertidur di sofa. Kemudian Daehyun menghampiri Junhong yang tidur sambil memeluk Zelo. Daehyun mengelus rambut Junhong pelan merapikan poni Junhong yang sudah sedikit panjang.

Tangan Daehyun turun ke pipi putih Junhong, lalu ke bibir milik Junhong.

' Cantik.' Batin Daehyun.

Lalu perlahan Daehyun mencium bibir milik Junhong dengan penuh kelembutan. Setelah itu Daehyun tersenyum. Dia sangat senang melihat wajah Junhong yang sedang tidur. Kemudian Daehyun mengambil selimut dan menyelimuti Junhong.

" Sleep tight, my precious…" gumam Daehyun sambil mengecup dahi Junhong.

.

.

.

.

.

Keesokkan harinya Daehyun membangunkan Junhong. Awalnya Junhong masih ingin tetap tidur. Alasannya adalah lelah. Junhong tau hari ini dia harus menemui kakaknya, tapi dia masih takut. Dia terus mengulur-ulur waktu.

" Palli, cepatlah mandi Junhongie, ayo tepati janjimu." Kata Daehyun.

" Nanti saja hyung, aku masih mau main dengan Zelo." Kata Junhong.

" Zelo harus makan, jadi kau harus mandi dulu sambil menunggu Zelo makan." Kata Daehyun sambil mengambil Zelo dari Junhong.

" Hari ini aku tidak mau sarapan Kimbap!." Gerutu Junhong yang tidak mau menyerah merepoti Daehyun.

" Aku sudah masakkan Kimbap untukmu." Kata Daehyun.

" Aku ingin Gogi dan Topuki!." Kata Junhong.

" Kau sengaja ya?." Tanya Daehyun kesal.

" Aku memang ingin itu hyung. Ya sudah kalau tidak mau! Aku tidak mau mandi!." Kata Junhong lalu masuk ke kolong tempat tidur.

Ya, sekarang jika Junhong permintaannya tidak dituruti dia akan kembali sembunyi di bawah tempat tidur hingga Daehyun mau mengabulkan keinginannya. Daehyun mendesah kesal.

" Baiklah baiklah, aku akan bawakan Topuki dan Gogi untukmu, sekarang mandilah." Kata Daehyun.

Akhirnya Daehyun segera keluar dan membeli makanan yang diinginkan oleh Junhong. Sedangkan Junhong sedang bingung sendiri memikirkan alasan apa yang akan dia katakan lagi pada Daehyun.

Setelah mandi dan berbenah diri Junhong mematut dirinya di depan cermin. Dia tau Daehyun sangat ingin dia bertemu dengan kakaknya. Tapi trauma itu sulit untuk disembuhkan. Selain itu dia akan keluar rumah dan akan bertemu banyak orang. Dia takut sekali. Dia belum punya keberanian untuk melihat dunia luar lagi.

Tak lama kemudian Daehyun datang membawakan Gogi dan Topuki untuk sarapan mereka.

" Setelah sarapan kita bersiap-siap nee…" kata Daehyun.

" … Haruskah?.." Tanya Junhong tidak yakin.

Daehyun mengelus pipi Junhong lembut seperti biasanya. " Tenanglah, tidak akan ada yang akan menyakitimu diluar sana. Kau terus bersamaku kan? Jangan khawatir." Kata Daehyun tenang.

Junhong mengangguk, walaupun dia sangat ragu, dia tidak mau mengarakannya. Dia tau dia tidak seharusnya mengecewakan Daehyun dan kakaknya. Tapi yang pasti dia belum bisa berubah secepat ini.

Daehyun membantu Junhong memakai jaket turtle neck berwarna merah Maroon yang baru dibelinya kemarin. Daehyun berfikir sambil memandang Junhong, haruskah dia menambahkan topi untuk Junhong kenakan? Detik selanjutnya Daehyun menggeleng, sekarang musim semi, rambut Red Maroon Junhong akan lebih indah jika terlihat. Mungkin kacamata akan mempercantik Junhong.

Kemudian Daehyun memakaikan kacamata fashion miliknya pada Junhong.

" Duduklah." Kata Daehyun pada Junhong. Junhongpun duduk disofa, lalu Zelo melompat kepangkuan Junhong. Daehyun memasangkan sepatu boot yang juga baru dibelinya untuk Junhong kemarin.

" Nah, sempurna. Kau sudah cantik." Kata Daehyun sambil mengagumi namja yang sudah lama ia cintai itu.

" Aku ini namja hyung." Protes Junhong.

" Hahaha, aratta… Hanya saja, kau memang cantik Junhongie…" kata Daehyun sambil tertawa dan mengacak poni Junhong lembut.

Setelah itu merekapun keluar dari apartement Deahyun. Junhong terus menggandeng tangan Daehyun dan tangan satunya menggenggam tali yang mengikat Zelo.

Saat mereka akan keluar dari apartement, Junhong bisa melihat banyak orang berlalu lalang, dengan cepat rasa takut dan trauma itu kembali menyusup.

Langkahnya terhenti dengan cepat. " Hyung, a.. aku tidak bisa… aku tidak bisa…" kata Junhong takut, tatapan yang sama saat dia ketakutan dulu.

" Tenanglah. Mereka hanya orang biasa, mereka tidak akan melukaimu." Kata Daehyun.

" Terlalu banyak… terlalu ramai… aku takut hyung… ayo kembali…" kata Junhong dengan nada ketakutan.

" Kau bersamaku, tidak akan terjadi apa-apa. Diluar tidak seburuk yang kau bayangkan." Kata Daehyun mencoba meyakinkan Junhong.

Junhong menggeleng keras. " Shireo!." Kata Junhong keras sambil menepis Daehyun. " Aku tidak mau! Aku takut! Ayo kembali!." Kata Junhong kacau, perlahan langkahnya mundur menjauhi pintu keluar, matanya sudah mulai berair, dia kembali seperti dulu. Ketakutan, dan tidak ingin percaya…

.:: To Be Continued ::.

A/N : Hmmm, ada readers yang pernah Tanya ke aku di FB, dia kepo apa inspirasiku untuk bisa bikin FF Crash ini. Sebenernya kalian gak bakal percaya apa inspirasi dan teori yang aku gunakan… Dan aku mau jelasinnya juga susah, ntar kalian kira aku ini nggak waras…

Tapi karena aku sudah ditanya, maka akan aku jawab.

Insipirasiku datang saat melihat botol obat pembersih lantai di pojokan kamar mandi. Dan kemudian, jadilah FF Crash ini…

Aneh dan pasti nggak nyambung banget kan? Yes I know… sebenernya aku liat apa aja bisa jadi inspirasi bikin FF. karena Teoriku adalah " Apa yang keluar pasti akan masuk." Penjabarannya adalah, ketika boker kita mengeluarkan kotoran, dan inspirasi akan masuk sebagai gantinya. Jadi bikin FF paling enak adalah saat boker di kamar mandi.

Silahkan panggil saya Freak, tapi memang benar begitu adanya cara berfikir saya. Karena saya Eksentrik dari segala aspek kehidupan.