Seharusnya Naruto yang ada di sana, bukan Sasuke.
Ingin sekali ia menghentikan semua ini. Berlari dan menarik Sasuke pergi dari sana. Tapi ia tidak bisa. Badannya berhianat; tidak mau bekerja sama. "Tolong kami, Tuhan."
Dan di ujung kesadarannya, terdengar sayup-sayup teriakan seseorang, "Polisi! Ada Polisi! Lari!"
Pungut Aku, Papah!
Oleh:
Neng Hinata
Naruto Milik Mashashi Kishimoto
"Sasuke!" satu nama yang terlintas, saat Naruto bangun.
"Apa, Dobe?" jawab seseorang di balik tirai.
Kemudian Naruto membuka tirai itu, dan menemukan Sasuke sedang duduk selonjor, bersandar di tempat tidur. Naruto langsung turun dari tempat tidurnya dan berdiri menunduk di samping Sasuke. "Maaf," dia bilang.
"Hn."
.
Itachi sudah meregistrasi semua biaya rumah sakit untuk Hinata dan juga kedua orang bodoh yang sedang berbaring di samping kanan kirinya. Dia duduk di antara tempat tidur keduanya.
Dari pagi hingga siang itu, Naruto dan Sasuke terus saja diomeli sama si Abang Itachi. Itachi bilang, kalau saja dia tidak pergi keluar untuk mencari minum, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada keduanya. Tadi malam itu ternyata suara Itachi, dia menipu semua orang yang ada di sana dengan beteriak "Ada Polisi!" Itu satu-satunya cara yang dapat Itachi temukan agar semua orang pergi dari sana. Setelah semua orang berlari menjauh, Itachi langsung membawa Naruto dan Sasuke ke rumah sakit ini.
"Apa kalian benar-benar idiot?"
Keduanya hanya memutar bola mata masing-masing. Entah sudah berapa kali Itachi mengucapkan kalimat itu, mereka sampai bosan begini.
Ya, anggap saja mereka idiot. Memang kenyataanya seperti itu kan? Tapi, apa lagi yang dapat mereka lakukan selain itu?
"Gini aja," Itachi bilang, "jadi TKI di Arab, gimana?"
TKI di Arab? Arab? Mendengar itu, Naruto langsung ingat judul koran bekas gorengan yang kagak sengaja dia baca; "Pergi dengan Satu Nyawa, Pulang dengan Potongan Kepala"
"KAGAK!" teriak Naruto yang langsung dapat jitakan dari Sasuke.
"Kalau di Malaysia?"
TKI di Malaysia? TKI? Di MALAYSIA? Mendengar itu, doi langsung inget Sakura, kembang desa yang pergi merantau ke Malaysia. Dia bawa koper segede gedung, eh, pulang-pulang perutnya malah jadi melendung.
"GUE MASIH PERAWAN!" teriak Naruto makin histeris yang langsung dapet tendangan dari Itachi.
"Kalau di Korea?" tanya Itachi lagi.
TKI di Korea? Korea? Mendengar itu, tiba-tiba satu per satu personil SNSD jotoh dari lagit. Mendekati Naruto dengan two piece melekat di body mereka yang, ugh! Mantap, coy! "Oppa!" sapa mereka dengan gaya imut yang kagak pernah bisa ditolak ama Naruto.
Iler Naruto langsung ngeces ke mana-mana. Untung doi punya dua sahabat yang selalu senan tiasa, siap sedia buat nendang mukanya kalo doi lagi mupeng kayak gini.
Dan mereka pun menghela nafas bersama.
Hinata masih saja betah dalam tidur panjangnya. "Apa kau tidak bosan di sana, Hinata? Apa kau tidak merindukanku? Atau kau marah padaku?"
Dokter bilang, kalau Hinata belum pernah mendapat vaksin sebelumnya. Ini cukup menghawatirkan.
Penanganan pertama sudah dilakukan, suntikan globulin imun yang dikombinasikan dengan vaksin juga sudah dilakukan. Separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan dan sisahnya disuntikan ke otot, di daerah pinggang.
Dalam 28 hari belakangan, sudah diberikan 5 kali suntikan. Suntikan pertama untuk menentukan risiko adanya virus akibat bekas gigitan. Sisa suntikan diberikan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28. Kemungkinan, Hinata sudah bebas dari inveksi virus.
Hanya saja, ada luka di kepalanya, luka yang sangat parah. Mungkin anjing itu melempar Hinata sampai kepalanya terbentur sesuatu yang keras. Tentu, lemparan itu bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.
Dan tangis Naruto pecah lagi hari itu.
Besoknya, Naruto melalang buana ke pasar. Tapi, sayang, doi perginya ama Sasuke, bukan Sarimin. Kalau ama Sarimin kan, lumayan. Cuma bilang, "Sarimin pergi ke pasar!" udah bisa dapet duit milyaran rupiah, one hundred year later tapi . Kalau sama Sasuke kan, jadi; "Sasuke pergi ke—Arg! Sakit, Teme!"
Oke, mereka pergi ke pasar. Kenapa, coba? Kagak, mereka bukannya mau ngedangdut di sana, tapi, mereka mau observasi. Iya, observasi, sapa tahu mereka bakal dapet inspirasi, yang notabene bisa dibilang pasar adalah pusat perputaran uang yang menjanjikan.
Liat aja, tukang jual obat di ujung sana, laris banget dagangannya. Pas Naruto ama Sasuke lewat, ntu tukang obat langsung nawarin barangnya. Dia teriak gini, "Obat mujarad nih, Mas! Kalo Anda sakit pilek, langsung ilang pileknya! Kalau sakitnya demam, langsung ilang demamnya! Jerawat juga, cuman sedetik, bez! Langsung ilang jerawatnya! Beneran! Suwer samber gledeg, dah!"
Pas banget sih, Naruto emang lagi rada sakit. Tapi, bukannya beli ntu obat, Naruto malah ngeloyor pergi sambil bilang, "Kagak deh, Bang, gue lagi sakit kepala!"
Banyak tukang lain yang mereka temui di pasar. Semua berjuang untuk dapet duit. Sama kaya Naruto dan Sasuke. Mereka mau ngumpulin duit yang banyak biar bisa bawa Hinata ke rumah sakit yang lebih gede, yang lebih canggih peralatannya. Biar Hinata cepet bangun.
Tukang-tukang di pasar bener-bener banyak macemnya, ada hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Dor!
Ada yang baik hati. Ntu, tuh! Si tukang kaus kaki. Ntu tukang emang tukang paling baik sedunia. Kudu ditiru. Orang dia bilang, "Sepuluh ribu tiga!" dikasihnya malah enam biji. Kagak baik gimana coba?
Ada lagi nih, tukang paling aneh sedunia; tukang gas. Bener-bener aneh tuh, orang. Udah tahu ada turunan, masih aja bilang, "Gas! Gas!" bukannya, "Rem! Rem!"
Terus, tukang roti. Tukang yang paling bisa bikin orang cengok. Pas dia ditanya "Ada apa, Pak?" ama polisi, gara-gara dia ketabrak metro mini, sempet-sempetnya, dia jawab, "Ada nanas, keju, cokelat sama moka." Padahal nyawanya aja udah hampir wassalam. Hem.
Okeh, lupakan si tukang bikin cengok itu. Naruto sama Sasuke keliling lagi, berdua, mereka nyoba cari ispirasi lagi. Kali ini, mereka kelilingnya pake motor. Boncengan berdua begini jadi inget sama film ababil jaman dulu, Galih dan Ratna. Oh! Galih! Oh! Ratna! "Oh! Gue bunuh lo!" kata seseorang di depan layar. Ehem. Lupakan.
Tapi, naik motor di pasar kayak gini bener-bener nguras tenaga. Jalannya itu loh, kayak lagi joget ala Dewi Persik. Geol sana, geol sini. Jungkir ke sana, jungkir ke mari. Ke bawah, lobang. Ke atas, jenggulan. Jenggulannya dua lagi. Apaan, tuh?
Hem. Ini nih, salah satu hal yang bikin pemeritah jaman sekarang pada sehat-sehat. Tiap hari, kerjanya lari-lari terus, sih. Lari dari tanggung jawab tapi.
Mereka berhenti dan parkir motor di tempat yang keliatannya kagak meyakinkan, yang bikin Naruto nyamperin tukang parkirnya buat nanya, "Parkir di sini aman nggak, Bang? Kalo ilang gimana?"
Ntu abang tukang parkir jawab, "Ya, terserah Mas-nya lah, mau beli motor lagi, apa kagak."
"Kampret!" kata Naruto dalam hati.
"Nemu?" Tanya Sasuke pas mereka jalan keliling pasar lagi.
Naruto cuma ngegeleng, tanda kalau dia belum menemukan inspirasi buat dapetin duit yang banyak. "Elu gimane?"
"Gue ada ide."
Bersambung…
Terimakasih, sudah membaca! Saya Neng, salam kenal!
Balasan…
Adinda: Haha. Makasi! Ini updetannya.
Darkflash: haha. Makasi! Ini lanjutannya.
Ehm: saya si, suka S.N, tapi ini genrenya kan bukan romance. Tau, ah. Gelap. Haha.
Lisasuke: haha. Makasi! Salam kenal!
Ikutanripiuw: haha. Haha. Aih, fave di hati? Ceile. Haha. Gila kamu. Haha. Sankyuu.
