Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 3
Baru saja Sasuke akan membuka pintu kamarnya saat dia masih melihat cahaya di sela pintu kamar orang tuanya. Dalam diam dia melangkah, memastikan apakah orang tuanya memang belum tertidur atau tidak.
Perlahan dia mendorong pintu itu. Seolah dihantam sesuatu Sasuke tiba-tiba lupa kapan terakhir kali dia menginjakkan kaki di kamar yang dulunya sering dia datangi ini. Atau mungkinkah dia memang sudah lupa, waktu memang cepat berlalu.
"Ah—Sasuke, kau sudah kembali?" Fugaku bertanya setelah dia menoleh dan mendapati putra bungsunya dalam keadaan yang kacau.
Sasuke hanya mengangguk dan terus berjalan melewati ayahnya yang berdiri dalam balutan piyama. Ibunya tersenyum, lelah, terlihat jelas. Tanpa sepatah katapun dari Sasuke, dia bisa merasakan anaknya itu merebahkan kepala di pangkuannya—hal yang sering dia lakukan bertahun-tahun yang lalu.
Mikoto hanya tersenyum dan mulai mengelus lembut rambut Sasuke. "Tidurlah, Sasuke. Kau pasti lelah." Ya, dia tahu anaknya bukanlah sosok yang manja, ini adalah pertama kalinya sejak dia berumur enam tahun. Sedikit banyak dia merindukan sifat Sasuke yang seperti ini.
Ayahnya sendiri tak berkata apa-apa, malam ini saja dia akan membiarkan anaknya seperti itu.
Mata Sasuke terpejam, kehangatan ibunya memang tidak berubah. Melihat ibunya yang tanpa riasan dan perhiasan mahal menggantung di tubuhnya membuat Sasuke bernostalgia pada masa kecilnya.
Sebentar saja, biarkan begini. Dia butuh setidaknya tempat beristirahat sebelum hari esok menamparnya lebih keras lagi.
"Sasuke, ayah tahu ini bukan saat yang tepat, tapi kau pasti tahu kalau kau harus bertindak cepat" Fugaku membuang napas "Cepat atau lambat, hal ini pasti akan diketahui oleh media—"
"—lagipula, kau itu laki-laki. Sekalipun ayah kecewa, tapi kau harus tetap bertanggung jawab"
Sasuke bangkit dan tersenyum sesaat pada ibunya yang terlihat sedih "Aku tahu. Tapi, Naruto sendiri yang bilang tidak mau menikah denganku"
"Saat ini, Uchiha sedang berada di posisi puncak. Ada banyak orang di luar sana yang berniat menjatuhkan kita" Fugaku menatap anaknya yang tertunduk. "Dan jangan lupakan Sakura, semua orang tahu kalau dia kekasihmu, dan pada akhirnya kau harus menikahi orang lain, ayah tidak tahu komentar macam apa yang akan kau terima"
Sasuke akhirnya menatap ayahnya "Mengenai Sakura, ayah tak perlu khawatir. Kami sudah berpisah sejak malam dimana aku bertemu Naruto, sepertinya tidak banyak yang peduli pada hal itu."
"Benarkah? Padahal Sakura adalah gadis yang baik" Suara Mikoto terdengar sedih "Ibu pasti akan merindukannya"
"Sudahlah ibu, baik aku dan Sakura sudah merasakan ketidakcocokan satu sama lain, jadi untuk apa diteruskan"
Mikoto tahu Sasuke terdengar ragu saat mengatakan itu. "Kau masih mencintainya, sayang." Yakinnya berkata sambil membelai rambut anaknya.
"Mungkin iya. Tapi—"
Sasuke menatap satu-satunya jendela kaca di kamar itu "—sekarang kan sudah ada Naruto."
"Jadi, kau yakin akan menikahinya?" Timpal Fugaku, sebelah alisnya terangkat.
"Belum" Sasuke kembali tertunduk.
Lagi-lagi Fugaku membuang napas "Sasuke, dari kecil ayah sudah mengajarkan nilai-nilai kebijaksanaan padamu. Tapi kenapa untuk hal seperti ini kau malah terlihat bimbang. Ini adalah masa depanmu, maka kau yang harus menentukannya—"
"—bukan ayah atau ibu, tapi kau. Lagi pula kau sudah dewasa. Kau tentu tahu mana yang terbaik untukmu"
Sasuke terdiam. Di satu sisi, dia merasa harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Naruto. Tapi, sebagian hatinya seolah masih menginginkan Sakura. Bagaimana pun sejak mereka berpisah, Sasuke masih sulit melupakannya.
Alasannya datang ke One's Club juga karena dia merasa agak depresi dan kebingungan. Sekalipun selama ini dia sudah berusaha manghindari Sakura yang notabene salah satu aktris langganan Uchiha Production.
Tapi, tetap saja pertemuan seklilas dengannya mampu membuat Sasuke melemah dan seakan ingin meminta kembali. Tapi tentu, itu tidak dilakukannya.
Harga diri adalah segala-galanya bagi Uchiha.
Ah, sepertinya dia butuh istirahat.
"Apa? Ayahmu tahu kau hamil?!" Naruto terpaksa menjauhkan handphone-nya dari telinga. Jarang sekali bisa mendengar sepupunya berteriak seperti ini.
"Bisakah kau tidak berteriak? Aku bisa tuli tau!" Naruto bisa mendengar orang di seberang sana mendengus.
"Kau sendiri kenapa bicara bisik-bisik begitu!"
Cih! Kemana perginya otak jenius Gaara? Naruto memutar bola matanya.
"Tentu saja. Orang tuaku bisa bangun dan mendengarnya, bodoh!" Naruto sudah cukup bersyukur saat sampai di rumah ayah dan ibunya sudah tertidur. Terima kasih kepada penjaga yang bersedia membukakan pintu.
"Oke. Maaf, tapi bagaimana bisa?" Gaara bisa mendengar Naruto membuang napas kuat-kuat. Alis yang sangat tipis miliknya mengkerut.
"Sudah seminggu ini aku mual terus, ayah memaksaku untuk mengunjungi nenek Tsunade, tapi aku menolak. Aku bilang ini hanya masuk angin biasa dan akan segera sembuh"
"Lalu?" Jelas sekali lawan bicaranya ini penasaran.
"Tapi ayah tidak percaya, dan saat aku tertidur dia memanggil nenek untuk memeriksaku. Kemudian, kau tahu sendiri—"
Sunyi sesaat, hingga telepon genggam itu kembali bersuara "Lalu—apa yang akan kau lakukan?" Suara Gaara terdengar ragu.
"Aku butuh bantuanmu."
Suasana sarapan di kediaman Uchiha berlangsung dalam ketenangan seperti biasa. Hanya ada tiga orang di meja makan itu sejak setahun yang lalu, kakak Sasuke, Itachi, memutuskan untuk hidup terpisah. Alasannya sangat bodoh menurut Sasuke; dia ingin tinggal lebih dekat dengan perusahaan agar lebih mudah mengontrolnya.
Yang benar saja. Bahkan nenek yang tinggal di seberang jalan juga tahu kalau itu hanya 30 persen dari alasan sesungguhnya; bebas berduaan dengan kekasihnya. Dasar porno, pikir Sasuke.
"Dimana Sasuke Uchiha?!" Ketenangan itu terusik saat seorang pria berambut pirang datang menerobos untuk kedua kalinya.
Napas Minato memburu. Tidak ada tempat lain yang ada di otaknya selain kediaman Uchiha ini setelah menemukan Naruto tidak ada di sudut manapun di rumahnya.
"Apa-apaan ini, Minato?!" Fugaku geram, bagaimana bisa para penjaga meloloskannya.
"Di mana kau sembunyikan anakku, bocah?" Mata birunya menatap nyalang ke arah Sasuke.
Sasuke sendiri terlihat tenang sekalipun sebenarnya dia lumayan kaget "Aku tidak tahu. Semalam aku mengatarnya ke rumah kalian"
"Kau bohong! Kau—kalian pasti sedang merencanakan sesuatu?! Atau jangan-jangan kau mengatakan hal yang aneh kepada Naruto?!"
"Hal aneh apa maksudmu, Minato? Tenangkan dirimu! Di mana harga diri seorang Namikaze?"
Minato menatap tajam ke arah Fugaku "Harga diri kami, sudah hilang sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di rumah ini"
"Aku sungguh tidak tahu dia dimana." Sasuke menjawab sambil menatap ibunya yang mencoba tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca—mencoba menenangkan ibunya.
Tangan Minato terkepal erat, "Terserah kau mau bicara atau tidak, yang pasti kau tahu betul apa yang akan terjadi kalau sesuatu yang buruk menimpa anakku." Sekali lagi, Minato menatap Fugaku tajam sebelum pergi meninggalkan rumah mewah itu.
Setidaknya dia sudah memastikan sendiri, dan sepertinya bocah itu tidak mau membuka mulut. Minato tidak bisa—tidak mau—percaya begitu saja pada apa yang Sasuke katakan. Tidak setelah apa yang dia lakukan pada anaknya.
Lagipula, Sasuke adalah orang terakhir yang Naruto temui sebelum menghilang.
"Kau yakin dengan ini?" Gaara menatap ragu orang di hadapannya.
"Tentu saja, ini adalah jalan terbaik. Aku akan kembali saat aku sudah siap." Mata biru itu menatap langsung ke lawan bicaranya.
"Tapi Naruto, aku yakin pasti orangtuamu tidak akan setuju kalau kau bermaksud mengasingkan diri seperti ini." Gaara menyentuh bahu sepupunya, entah mengapa Naruto terlihat agak kurus sejak dia hamil.
"Aku hanya tidak mau membebani orangtuaku. Lagipula, aku ingin belajar dari orang-orang yang setidaknya bernasib sama sepertiku." Naruto berkata sambil menatap segerombolan anak kecil yang tertawa bahagia.
Kepala merah itu tertunduk, tangannya masih setia di pundak sahabat sekaligus sepupunya.
"Sudah kukatakan berkali-kali, ini bukan salahmu ataupun salah Neji, ini hanya kecelakaan." Tangan kecoklatan itu menggenggam tangan lain yang tersampir di bahunya.
"Tapi, kalau bukan aku yang mengenalkanmu pada Sasuke, pasti hal ini tidak akan terjadi." Penyesalan terlihat jelas di garis wajah tampan Gaara.
Naruto menghela napas, "Hei, kau ini. Aku baik-baik saja, kau tahu! Ini semua terjadi karena aku yang tidak bisa menjaga diriku. Kau tidak usah merasa bersalah seperti itu. Lebih baik kau kembali, sudah hampir petang." Naruto meraih bahu Gaara dan memeluknya.
"Berjanjilah untuk tidak memeberitahukan pada orangtuaku di mana aku berada, cukup beritahu kalau aku berada di tempat yang aman dan aku pasti akan kembali da—"
"Jangan biarkan mereka mencarimu, katakan bahwa kau hanya butuh waktu dan tak ingin merepotkan mereka." Gaara hampir tersedak ludahnya saat menyela ucapan Naruto, yah, si pirang itu sudah mengatakannya tadi sewaktu mereka dalam perjalanan menuju tempat ini. Haruskah dia ulangi lagi?
"Bagus." Naruto tersenyum di bahu Gaara. "Terutama dari Sasuke" Bisiknya kemudian.
Bukannya Naruto itu kepedean atau apalah, dia hanya berusaha memikirkan kemungkinan yang terjadi. Siapa tahu saja kepala si brengsek itu terbentur sesuatu dan membuatnya berkeinginan mencari Naruto.
Jujur saja, dia adalah orang terakhir yang ingin Naruto temui di dunia ini.
Dalam diam Gaara mengangguk dan membalas pelukan hangat itu.
Sebelum Naruto berbalik, dia sempat melemparkan senyum pada Gaara yang sudah ada di balik kemudi mobil merah batanya.
Yah, ini adalah tempat dimana dia setidaknya bisa belajar, tempat yang cukup aman dan nyaman bagi orang-orang seperti Naruto—Horizon.
Saat kaki jenjangnya melangkah di balik pintu yang mulai usang, Naruto merasakan perasaan hangat entah dari mana. Hanya melihat beberapa anak kecil tertawa riang, atau seorang gadis berumur belia dengan perut yang agak membuncit.
Bibir tipisnya tersenyum pada salah seorang bocah berambut hitam sebelum memasuki ruangan berukuran tiga kali empat meter di hadapannya.
Tidak banyak barang yang bisa dia temui, hanya sebuah meja yang lapuk termakan usia namun kokoh di saat yang bersamaan. Lemari dengan dua pintu yang salah satu gagangnya hampir patah.
Naruto membalas senyum seorang wanita tua di balik meja, sebelum duduk di kursi lain di hadapan meja itu. Terdengar derit pelan saat Naruto menumpukan berat badannya.
"Jadi kau Naruto? Senang sekali kau mau bergabung bersama kami. Mereka biasa memanggilku Chiyo"
"Terima kasih juga sudah mau menerimaku." Naruto menunduk sedikit.
"Hahaha! Tentu saja! Kita semua keluarga di sini. Jadi, biar kukenalkan kau pada mereka." Chiyo beranjak dari kursinya diikuti Naruto.
"Horizon dibangun sejak sepuluh tahun yang lalu, sudah banyak dari mereka yang datang dan pergi dari tempat ini—" Chiyo mulai menjelaskan sejarah singkat tempat ini sambil menuntun Naruto ke sisi kiri rumah yang ternyata sangat luas ini.
"Sebagian dari mereka memutuskan untuk pergi setelah melahirkan bayi mereka, dan sebagian dari mereka masih menetap setelahnya. Itulah sebabnya kau bisa menemukan beberapa anak kecil di sini." Wanita berambut putih itu menoleh dan tersenyum pada Naruto.
"Nah! Kalian semua! Kita kedatangan keluarga baru!" Chiyo berseru pelan mencoba mendapatkan perhatian gadis-gadis yang berada di ruangan dengan meja panjang ini.
Naruto tertegun saat mendapati seorang gadis, tepatnya bocah dengan perut yang agak buncit menoleh kepada mereka dengan memegang serbet kecil di tangan kirinya. Nampaknya dia sedang membersihkan meja makan ini saat Naruto datang.
Pemuda pirang ini tidak berani menebak berapa umurnya, yang pasti, Naruto yakin tidak akan lebih dari 15 tahun.
"Selamat datang! Aku Sasame." Seorang gadis yang Naruto yakin tidak jauh beda umur dengannya, menghampirinya lebih dulu. Perutnya jelas terlihat buncit, tujuh bulan sepertinya.
Naruto mengulurkan tangan membalasnya, tersenyum tipis sebelum menjabat tangan lain yang terulur ke arahnya.
"Aku Kurenai, jika butuh sesuatu jangan ragu untuk mendatangiku."
Tanpa mengetahui umurnya, Naruto tahu Kurenai adalah yang paling tua di antara mereka. Sekilas dia melihat perutnya yang sangat besar. Well, sepertinya sebentar lagi mereka akan kedatangan keluarga baru.
Naruto tak hentinya tersenyum, sepertinya dia seolah mendapatkan kembali jati dirinya setelah berada di tempat ini walau hanya sebentar.
Sesaat Naruto tertegun mendapati tangan lain yang jauh lebih mungil dari tangan-tangan sebelumnya terulur ke arahnya.
Dia adalah gadis yang tadi membersihkan meja saat dia baru tiba. Sepertinya gadis itu menyadari kekagetan Naruto, dia hanya tersenyum saat si pirang belum juga membalas jabatannya dan hanya terdiam menatapnya dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Haha! Naruto-nii tidak usah menatapku seperti itu, sekalipun umurku baru 14 tahun, tapi aku sudah kuat membawa beban lain di perutku." Gadis itu tersenyum lebar, masih mengulurkan tangannya.
Naruto kembali tertegun, dugaannya tidak salah. Memang tidak lebih dari 15 tahun. Tiba-tiba saja dia seolah mendapatkan kekuatan baru dari gadis ini—
—karena dia yang masih sangat muda saja terlihat kuat seperti ini, apalagi dirinya yang notabene seorang lelaki. Harusnya dia malu. Pfft! Naruto tertawa dalam hati dan akhirnya tersenyum kemudian menyambut uluran tangan mungil itu.
"Aku Moegi, senang berkenalan denganmu, Naruto-nii!" Gadis berambut gelap coklat itu masih terus tersenyum.
Tangan kecoklatan itu masih sibuk memindahkan barang-barangnya dari koper ke satu-satunya lemari di ruangan itu saat Kurenai tiba-tiba muncul dari pintu yang sengaja dia biarkan terbuka.
"Kau adalah yang ke dua di sini." Katanya sambil berjalan memasuki kamar sederhana itu.
"Huh?" Naruto menatap mata merah di hadapannya bingung.
Kurenai terkekeh pelan "Kau adalah lelaki kedua yang mendatangi tempat ini."
Naruto terdiam dengan mulut terbuka. Apakah ini alasan mengapa semuanya terlihat biasa saja saat dia mendatangi tempat ini. Kenapa Naruto sampai tidak menyadarinya. Bodoh memang. Mengingat tempat ini memang harusnya hanya sebagai rumah untuk para wanita yang butuh ketenangan.
Butuh kenyamanan dan perlindungan dari beratnya masalah yang mendatangi mereka di saat yang tidak diinginkan—kehamilan.
Tentu. Jangan lupakan fakta bahwa laki-laki TIDAK MUNGKIN hamil.
"Dia baru meninggalkan tempat ini tiga minggu yang lalu. Kembali ke negara asalnya."
Entah mengapa bahu Naruto merosot setelah mengetahui dia tidak sendiri. Bahwa ada pemuda lain yang sampai rela meninggalkan negaranya dan menuju tempat ini, semakin membuat Naruto nyaman berada di Horizon.
"Lalu—" Suara Naruto tercekat "—bagaimana dengan anaknya?"
"Selamat. Dia berhasil melahirkannya. Sungguh lelaki yang kuat." Kurenai tersenyum menatap mata biru Naruto. "Aku yakin, kau juga pasti bisa melakukannya." Lengannya terangkat menepuk pelan bahu Naruto, sebelum berbalik meninggalkan kamar itu.
"Terima kasih." Gumam Naruto pelan tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh wanita itu.
Kurenai hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh sebelum menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.
Meninggalkan Naruto yang larut dalam tumpukan debu tipis dan rasa penasaran akan kisah keluarga barunya.
Gaara baru saja akan membuka lembar lain pada buku yang digenggamnya ketika suara bel terdengar dari pintu apartemen minimalisnya. Dengan langkah berat dan terkesan malas, dia berjalan ke arah pintu itu, menarik gagangnya dengan kekuatan terendah yang dia miliki.
Menginterupsi kegiatan membacanya adalah hal yang buruk untuk dilakukan.
Namun sepertinya, membuka pintu ini adalah hal terburuk lain untuk dilakukan.
"Aku rasa kau salah alamat." Gerakan menutup pintunya ditahan oleh tangan lain yang lebih pucat.
"Aku rasa tidak, mengingat kau adalah orang yang mengetahui di mana Naruto berada."
Gaara mendengus kasar. Uchiha memang selalu to the point. "Aku tidak tahu, Uchiha."
Ternyata dugaan Naruto memang benar, si brengsek ini memang mencarinya.
"Dengar Sabaku, kemarin ayah Naruto datang dan mengacaukan sarapan pagi di rumahku."
Alis super tipis milik Gaara terangkat sebelah, "Ah, bisa kulihat dari kacaunya wajahmu."
Oh, jadi hanya karena ayah Naruto menerobos kediaman Uchiha makanya dia berada di sini. Di depan apartemennya, dengan kemeja formal yang tiga kancing teratasnya terbuka, wajah kusut dan sebelah tangan menahan pintu yang kapan saja bisa ditutup oleh Gaara.
Tipikal pria brengsek yang berpura-pura menawarkan pertanggung jawaban pada korban nafsunya.
Sasuke balas mendengus keras, "Terserah kau mau memberitahuku atau tidak. Tapi, setidaknya beritahukan padanya agar dia tidak terlalu idiot untuk mengambil jalan pintas. Seperti terjun dari lantai tiga puluh atau bahkan menggugurkan anak itu."
Sasuke mengakhiri kalimat terpanjangnya dengan helaan napas berat.
Gaara tersenyum meremehkan. "Dia tidak selemah kau, Uchiha. Dia tahu apa yang dia lakukan. Jadi sebaiknya kau juga lakukan apa yang harus kau lakukan. Bukannya menganggu waktu istirahat orang lain."
Gaara berniat menutup pintu itu lagi, saat tangan Sasuke lagi-lagi menghentikannya.
"Tolong beritahukan padanya agar tidak bertindak bodoh. Katakan padanya aku ada saat dia memang membutuhkannya."
Gaara terdiam. Apa kepala ayam Uchiha itu memang terbentur sesuatu?
Kenapa dia jadi merasa kasihan karena kalimat terakhir Sasuke yang terdengar SEDIKIT memohon? Tsk!
Kali ini Gaara kehilangan selera untuk menutup pintu itu dan memilih menatap punggung tegap yang perlahan menjauh.
To be continue...
Hyaaaah Minna! Gomen! Hounto! 7 April kemaren sy harus kembali ke Cikarang karena besoknya sudah mulai semester tiga. Dann! Di luar perkiraan saya teramat sangat sibuk T.T terlalu sibuk bahkan untuk membuka laptop.
Bahkan sampai 15 hari terbengkalai, padahal saya menargetkan minimal tiap 3 hari dan maksimal 7 hari. Demo.. semoga kalian puas, maaf cuma bisa segini ya~ Maaf juga banyak typos karena saya agak buru-buru ngetiknya XD
Arigatou ^^~~
April 17th, 2013.
