CWTCH
HOMIN
Chapter 3
Cast adalah milik TVXQ dan mereka sendiri, cerita adalah milik saya pribadi.
.
.
"Kau pulang?" sapa Changmin pada Yunho yang baru kembali memasuki rumah.
"Iya." sahut Yunho sembari membungkuk, melucuti sepatu lari dari kedua kakinya. "udara pagi cukup membuat segar badan, juga tenang pikiran."
Changmin tersenyum miring. "Tidak biasanya kau akan jogging, jam berapa kau tadi pagi keluar, Hyung?"
"Sekitar pukul enam lebih, saat kau masih merebut selimut juga melingkari bantalku."
"Cih!" Changmin berdecih. Puas memperhatikan Yunho yang tengah mendongak, meminum banyak-banyak air putih dari dalam botol memanjang yang ia ambil dari dalam lemari pendingin, Changmin lantas berjalan menuju sofa, kemudian mengangkat kedua kakinya disana. "apa kita memiliki kegiatan hari ini, Hyung?"
Yunho menggeleng. "Kosong." jawabnya, seraya melucuti kaus tipis yang membungkus badan. "kau lupa kita sedang merayakan Lunar New Year? Ini adalah hari dimana kita akan berkumpul dengan semua keluarga."
"Jadi kita akan seharian berada dirumah?"
"Kalau kau mau, tentu bisa."
"Kalau aku mau?" ucap Changmin mengulangi kalimat Yunho, matanya menyipit, bibirnya berdesis. "kenapa kalimatmu harus seperti itu?"
"Yah, siapa yang tahu kalau kau nantinya akan keluar. Bertemu dengan KyuLine, atau berkencan dengan Nana, misalnya."
Changmin berdecak keras. "Kenapa akhir-akhir ini kau menjengkelkan sekali, Hyung."
"Aku tidak. Kurasa aku hanya bersikap biasa saja, hanya menebak. Kau terlalu banyak berfikir."
"Oh, begitu menurutmu?" suara Changmin meninggi, sementara Yunho hanya tersenyum samar, dengan memegang sebuah handuk kecil Yunho berjalan mendekati Changmin, lantas ia turut duduk diatas sofa yang sama. "kau tahu, aku membencimu. Kau sangat tidak menyenangkan sekali sekarang!" rajuk Changmin memberdirikan tubuh. Bahkan Yunho baru saja duduk disamping tubuhnya, namun Changmin sudah mengangkat badan dan menjalankan dua jenjang kakinya.
"Mianh."
"Don't say sorry! I hate you!"
Kepala Yunho berputar mengikuti gerakan kaki Changmin yang panjang. Orang yang paling dia pedulikan tersebut, terkadang terlalu mudah sekali marah, serta jarang sekali bisa menangkap rasa dari sebuah laku dan kata yang tak pernah bisa Yunho ucap melalui sebuah kata.
Pukul sepuluh pagi saat Yunho telah siap dengan semua baju penghangat yang telah melekat di badan, Changmin tak jua mau keluar dari dalam kamar.
"Changmin-ah?" panggil Yunho sembari mengetuk pintu kamar. "Changmin kau mendengarku?" ulangnya, namun Changmin tetap tak memberi jawaban.
Kenop pintu Yunho pegang, hendak dia putar namun telah tertarik lebih dulu dari dalam kamar.
"Ada apa" sungut Changmin bermuka kasar.
Sementara Yunho menanggapi dengan senyuman lembut. "Kau juga akan keluar?" tanya Yunho mendapati Changmin yang telah tampak menawan dengan busana yang dia kenakan.
"Iya." ketus Changmin.
"Hati-hati, aku juga akan keluar."
"Terserah saja." ujar Changmin melewati tubuh Yunho yang masih berdiri dihadapan pintu kamarnya.
Terlewati dengan kasar oleh tubuh Changmin yang serampangan berjalan, Yunho sempat terkaget bahkan ia sempat membuka mulutnya hendak bersuara. Namun lagi-lagi Yunho mengalah.
"Mau berangkat bersama denganku?" tawar Yunho, mengembangkan senyumnya, menyembunyikan desah dada.
"Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri."
Entah mengapa Changmin seolah amat marah oleh ucapan Yunho yang terjadi di pagi hari. Bahkan itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan guyonan Changmin sendiri yang tak jarang mengatakan Yunho bodoh, gay, orang yang berantakan, dan semacamnya. Yunho tak pernah marah dengan Changmin yang demikian, namun nyatanya kini Changmin yang merajuk sebab ucapan yang tak sungguh-sungguh Yunho artikan bahwa Changmin keterlaluan.
Siang belum benar-benar datang, namun kediaman Changmin sudah kosong tak bertuan. Changmin melesat menggunakan mobilnya, bahkan sebelum Yunho memasuki kendaraan yang dia parkir sejajar dengan milik band-matenya tersebut.
Tak ada kata selamat jalan atau hati-hati mengemudikan kendaaan dari Changmin sebelum dia menghilang, bahkan seruan jangan pulang terlalu malam dari Yunho pun tak dia perhatikan, Changmin hanya focus pada lingkar kemudi mobil, lantas dia melesat dengan tak lagi memberi Yunho salam.
Terlepas dari tak berkedip mengamati mobil Changmin yang menghilang di persimpangan, Yunho kemudian bergerak mendudukkan badan didepan kursi kemudi kendaraan. River milik Eminem ia putar keras-keras, menemani roda yang berputar cepat menerobos padat jalanan siang. Entah akan kemana ia menuju, Yunho hanya berjalan kedepan berusaha tak memperdulikan belakang badan.
Sementara itu, Changmin dan kendaraan putihnya berhenti berputar di basement car park gedung apartemen Khyuhyun, teman karibnya.
"Kau mengganggu liburanku, Evil!" desis Kyuhyun saat membuka pintu apartemennya dengan masih mengenakan piyama.
"Ish! Kau jorok sekali. Minggir, aku mau masuk!" Bukan rumah sendiri, namun Changmin kuasa menyingkirkan tubuh Kyuhyun dari ambang pintu rumah.
"Ada apa lagi kau ini." Tanya Kyuhyun yang telah tanggap ada yang tak benar dari laku Changmin.
"Kau tak pulang bertemu dengan keluargamu?" Tak menaggapi pertanyaan Kyuhyun, Changmin justru berbalik mengeluarkan tanya.
"Aku sudah, kemarin hari."
"Lalu apa kau juga akan masih menemui mereka hari ini jika kemari hari kau sudah bertemu dengan mereka semua?"
Kyuhyun menggeleng. "Tidak. Aku bisa menemui mereka minggu depan lagi."
"Aku juga sudah menemui orang tuaku kemarin hari, saat selesai mengikuti even Valentine's day. Dan aku juga tidak menemui mereka lagi hari ini, sama sepertimu aku juga bisa menemui mereka minggu nanti." Changmin merutuk panjang. Dia bercokol diatas sofa Kyuhyun yang berwarna kecokelatan.
"Lalu apa masalahmu?" Kyuhyun menguap malas. Dia turut melingkarkan tubuhnya diatas sofa.
"Yunho-Hyung meninggalkanku lagi hari ini. Setelah pagi-pagi sekali dia keluar rumah untuk jogging, yang mana kegiatan itu sangat jarang sekali dia lakukan, dia selanjutnya membuatku geram sebab dia mengataiku terlalu banyak pikiran karena aku mangatakan dia akhir-akhir ini begitu menjengkelkan."
"Kau tahu Changmin?" Kyuhyun membenarkan letak selimut tipis yang membungkus tubuhnya. "kau hampir menyerupai gadis remaja yang sedang mengalami masa naik turun darah."
"Shut up!" geram Changmin. "kau semakin membuatku mual."
"Kau terlalu sensitive tapi tidak dapat menangkap rasa yang mungkin saja Yunho-Hyung tidak dapat katakan melalui kalimat-kalimat biasa."
"Ish! Kau sama saja seperti dia. Atau jangan-jangan sekarang kau sedang ingin mengeluarkan diri dari Kyu-line dan berpindah mendukung U-Know Yunho itu?"
Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepala, dia tersenyum manahan tawa. "Kau memang terlalu banyak berfikir."
"Kyuuu!" lagi-lagi Changmin merajuk.
"Tak perlu berteriak seperti itu. Aku benci suara tinggimu." Kyuhyun memutar mata, beranjak meninggalkan sofa. "kau sudah makan siang? Mau makan apa? ada mie instan, spaghetti instan, dan bubur instan." tawar Kyuhyun setelah meneguk air mineral.
"Tidak mau semua. Makananmu sama sekali tidak sehat, masih enakkan eggs sandwich buatan Yunho-Hyung ."
"Kurasa kau tidak sedang marah. Kau hanya merindukan orang itu sekarang." tebak Kyuhyun, asal bicara.
"Mulutmu!" sentak Changmin.
"Hey! Tunggu, aku tak sepenuhnya salah. Memang sudah berapa hari kau tak akur dengan dia?"
"Siapa yang bilang tak akur? Kami baik-baik saja, hanya jarang bercanda seperti yang sudah-sudah." Changmin memoncongkon bibirnya.
"Mungkin ada yang salah." Tebak Kyuhyun lagi.
"Apa? kami tidak pernah bertengkar sebelumnya." ucap Changmin menimbang jawabannya.
"Mungkin saja dari ucapan atau kelakuanmu yang tak kau sadar telah melukai hatinya. Yah, karena Yunho-Hyung adalah orang yang diam dan menerima, akhirnya dia tak sedikitpun mengatakan keberatannya padamu."
Mendengar tutur Kyuhyun, Changmin lantas berpikir panjang. Dia mengingat ulang tentang semua laku dan ucapnya yang telah dia katakan serta lakukan kepada kakak laki-lakinya tersebut. Namun semakin dia menimbang dan mengingat ulang, geram dan kesal kian menderam pikiran dan diri Changmin yang sedang berusaha diam.
"Tanggal delapan belas sebentar lagi bukan? Kau mau apa untuk ulang tahunmu nanti?" Kyuhyun memutus kusut pikiran Changmin mengingat ulang semua kejadian terbelakang dengan Yunho.
"Sebentar lagi apanya, tanggal ulang tahun Yunho-Hyung saja belum datang."
Kyuhyun mendadak tersedak. Bubur instan dalam mulutnya kembali menyembur keluar. "Kau benar-benar bodoh Changmin-ah. Kau pikir kenapa kita mengikuti even Valentine's day kemarin hari? Itu karena tanggal enam sudah terlewati, apa kau tidak ingat hari kasih sayang kemarin itu tanggal berapa?"
"Holy squid!" umpat Changmin. "jadi.."
"Jadi kau a dead shit. Just go die already! You are a crap, man! Bagaimana kau bisa melupakan ulang tahun orang yang bahkan sudah belasan tahun tinggal dan tidur bersama denganmu?" Kyuhyun menunjuk wajah Changmin dengan ujung sendok yang dipegangnya. "sekarang kau masih mengatakan Yunho-Hyung menjengkelkan? Kau memalukan!" tunjuk Kyuhyun.
"Kenapa kau tak mengingatkanku, Kyu!" Changmin meremas kepalanya.
"Kurasa aku bukan ibumu." Kyuhyun memutar mata. "kemana saja kau selama awal bulan? Jangan bilang kau berkencan dengan Nana sampai-sampai kau lupa pada semua."
Changmin mendengus. "Kau lebih menakutkan dari ibuku."
"Hey kau mau kemana?" teriak Kyuhyun pada Changmin yang bergerak lincah meninggalkan sofa, lantas kembali mengenakan sepatu pada dua kakinya. "tanggal enam sudah tidak bisa kau kejar, man! Kau sudah terlambat."
"Shut up, or I'll crush your fucking bird!" Changmin menunjukkan taring.
Kyuhyun hanya tertawa, tawa lantang yang mengantar Changmin keluar meninggalkan rumahnya. Entah apa yang akan Changmin lakukan, sebab benarlah Kyuhyun bahwa Changmin tak akan bisa lagi mengejar atau mengembalikan tanggal enam untuk kembali terulang. Entah apa yang membuat Changmin lupa, jelas ia pun kini menyesali kelalaiannya.
Roda mobil Changmin melesat kilat meninggalkan kediaman Kyuhyun. Pikirannya bercabang kali ini, antara geram dan sesal berjubel mengisi rongga yang masih berisi udara. Mendesak sang badan untuk melakukan tindakan yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya.
Changmin berhenti pada grocery store tak jauh dari kediamannya. Entah apa yang sedang ia akan lakukan, tangannya hanya menarik apapun yang sedang ia pikirkan.
Akhirnya tak beberapa lama setelah berdesakan dengan pembeli lain, Changmin kini telah berkutik sendirian didalam dapur, berperang dengan semua benda yang dia bawa pulang dari grocery store. Entah apa yang hendak ia buat, Changmin hanya sedang ingin memperbaiki kelalaiannya.
Hampir seharian penuh Changmin tak meninggalkan dapur, sampai-sampai pukul sepuluh malam datang menyapa, Changmin pun belum menyadarinya juga. Hingga akhirnya pukul sebelas malam Changmin baru mengistirahatkan tubuh tingginya diatas kursi meja makan. Semua makanan tersaji cantik diatas meja, kesemuannya adalah makanan yang Yunho suka, bahkan Changmin membuat Vanilla Cake dengan cerry merah berada dimuka, dessert manis yang menjadi favourite 'kakaknya'.
"Kenapa dia belum pulang juga." gumam Changmin setelah mengamati jarum pendek yang telah melewati angka sebelas, dan jarum panjang yang menunjuk angka sepuluh tepat.
Changmin pun sempat melirik wireless charger yang biasa Yunho gunakan, dipastikannya bahwa Yunho tak melupakan ponselnya diatas sana. Benar tak ada, sudah pasti Yunho membawa serta benda itu bersamanya, namun entah kenapa Yunho tak menjawab lima panggilan yang Changmin lakukan.
Mata Changmin menunduk mengamati makanan tak sederhana yang mulai mendingin diatas meja, wine didalam gelas beningpun juga telah kehilangan busa, namun Yunho tak jua kunjung membuka pintu rumah.
Sayup, mata Changmin terkantuk. Ia menunduk akan tetapi ia tak mau menyerah pada lelah yang menyerang raga, masih berharap pada Yunho yang akan segera tiba.
"Yoboseyou, Yunho-Hyungie?" dan harap Changmin pun disambut oleh getar ponselnya yang menunjukkan nama 'Yunho Hyungku', memanggil.
"Kau belum tidur, Changmin?" tanya Yunho dari seberang, suaranya parau layaknya manusia yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Changmin mendesah, namun kali ini dia tak mengeluarkan perasaann kesalnya. "Belum," sahut Changmin.
"Wae? Kau tidak apa-apa bukan?"
"Kenapa kau belum pulang juga, Hyung?" tanya Changmin.
Yunho lama tak memberikan tanggapan, entah apa yang dia sedang lakukan ditempatnya berada, semua hening, nyenyat tak bersuara. "Cepatlah tidur, Changmin-ah. Jaga kesehatanmu, jangan tidur terlalu malam. Apa yang sedang kau lakukan?" ucapnya kemudian, tak mengindahkan pertanyaan Changmin.
"Aku sedang bertanya padamu, kenapa kau belum pulang juga?" ulang Changmin, kendati meraung hatinya, namun Changmin kali ini tak sedikitpun meninggikan suara.
"Aku sudah dirumah, Changmiin." ucap Yunho, singkat.
"No way! Aku sama sekali tak melihatmu berada didalam rumah seharian ini. Kau juga tidak berada didalam kamarmu!" Changmin terkejut, suaranya turut melonjak keras.
"Aku dirumahku sendiri." lanjut Yunho kemudian.
"Oh, Wae?" suara Changmin melemah.
"Sebab, bukankah memang disini rumahku? Aku disana hanya menumpang denganmu."
Keduanya hening tak membuat suara, Yunho bagai telah menghilang dari sambungan suara walau sebenarnya ia masih ada. Changmin pun seolah telah kehilangan suara, sebab lidahnya tak lagi dapat mengolah kata.
"Sleep well, Changmin." ujar Yunho lembut, setelah hening memanjang.
"Hyung?" Changmin terbata "maafkan aku!" kisiknya.
"Tidak ada yang salah Changmin. Aku hanya berada dirumahku sendiri, tidak ditempat yang perlu kau khawatirkan bahwa aku akan mati." Yunho berusaha melucu, namun Changmin telah membeku dengan sesal yang sudah menyerupai palu.
"Selamat ulang tahun, Hyung." seru Changmin memberanikan diri. Ia memejamkan mata saat berucap, bahkan saat Yunho tak berada tepat dihadapannya, sesal dan ucapan Changmin tulus terucap dari dua belah bibirnya.
"Itu sudah lewat, Changmin." Kata Yunho setelah beberapa detik kembali membuat jeda.
"Aku tahu! Maafkan aku! Aku hanya benar-benar tak ingat sebab aku terlalu.. aku hanya , sebab." Changmin kembali terbata. "aku tidak lupa, aku hanya.. Hyung.."
"Kau lupa." sela Yunho.
"Euhm.. iya. Maafkan aku Hyung! Aku tidak tahu kenapa aku bisa lupa."
"Tidak masalah, aku paham. Mungkin ada hal lain yang harus kau ingat dan itu jauh lebih penting dari pada aku dan ulang tahunku."
"Hyungie, bukan begitu! Aku hanya benar-benar lupa. bahkan aku lupa bahwa aku sudah melewati tanggal empat belas kemarin hari." sanggah Changmin.
"Sudahlah, bukan masalah. kau cepat tidur saja. Have a good night, Changmin."
"Hyung, apa kau benar tidak akan pulang?" Changmin masih mengulang pertanyaan.
Yunho terdengar mengembuskan nafas berat, entah rasa cemas atau lega yang sedang ia rasa, Yunho tak pernah menyerukannya. "Aku sudah berada dirumah, Changmin." ucapnya kemudian, serta-merta membuat Changmin meremas kuat-kuat lembar tisu dalam genggaman.
"Baiklah. Selamat tidur, Hyung." ucap Changmin kemudian, kendati berat rasa kata diujung lidah.
Semuannya kembali menghening saat sambungan telephone terhenti. Yunho dan suaranya menghilang dari telinga, begitupun dengan Changmin yang tak lagi mengeluarkan suara. Ia kembali menatap makanan yang tak lagi panas, kue Vanilla cantik bahkan seolah berubah memucat seiring dengan semakin menggelapnya dunia diluar ruangan.
Changmin tetap berada ditempatnya bahkan sampai jarum jam hampir menunjuk angka dua lebih, Changmin masih tak meninggalkan kursi kayu ruang makan. Dia tak menyentuh makanan, Changmin hanya berdiam menemani malam menuju kembali pada siang.
Bahkan kantuk yang semula sambang pun kini benar-benar menghilang, mata Changmin membulat didalam kegelapan. Ponselnya berdering tak dia perhatikan, televisi menyala tanpa suara sedari siang hari tak pula ia matikan, Changmin hanya bercokol dengan dia dan pikirannya. Kemudian saat semua suara serasa mengilang dari dunia, mendadak sebuah tangan membuka pintu rumahnya.
Wajah kecil dengan bibir membulat, menawan mata Changmin seketika.
"Aku tahu kau tidak akan tidur."
"Hyung!" Changmin terkejut, nyaris mengembik. Dia beranjak meninggalkan kursi kayu lantas membuat langkah panjang menyerbu tubuh Yunho dengan pelukan. Dekapan hangat berisikan kerinduan bertalian dibawah temaram bohlam kekuningan.
Changmin tak mengerti benar dengan jenis perasaan yang sedang dia rasakan, semua hanya terasa sangat menyebalkan jika Yunho tak berbicara, tak bercanda, dan tak berada disampingnya. Segalanyapun tetiba terasa amat hangat, nyaman dan begitu lengkap saat Yunho ada, bahkan seolah bebungaan mendadak sedang bersemi didalam hatinya saat Yunho membalas dekapan yang dia ulurkan.
Mereka berpautan membetuk satu badan, Yunho tersenyum manis menghirup aroma maskulin bercampur vanilla dari tubuh Changmin, sementara Changmin sendiri menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher Yunho, entah apa pula yang sedang Changmin lakukan, sadar atau tidakkah dia, Changmin memejamkan mata disana.
"Jangan berubah." gumam Changmin menundukkan kepala.
.
.
.
.
.
Happy lovely B'day untuk Bambie Changminie.
Saya menegrti benar bahawa Changmin tidak akan pernah lupa akan ulang tahun Yunho-Hyungnya. But for some reason, maaf sekali disini saya membuat dia sedikit pikun hehehe.
Well, see you again, or.. later!
Love Love Love
Ino Cassio.
