Remake dari Kak Valeria Verawati yang judulnya "Pacarku Juniorku".

Jadi kalau ada cerita yg mirip atau persis seperti ini itu wajar ya, namanya juga remake :)

Novel ini adalah salah satu Novel favorit aku jaman sekolah dulu loh.

Jadi kupikir kayanya kalau diremake dengan member Bangtan cukup seru juga.

Semua alur cerita sesuai dengan Novel aslinya, cuma beberapa situasi akan disesuaikan dengan konsep boy x boy & imajinasiku :p

Sekali lagi aku bikin FF with no GS, semuanya cowok cakep yeee…

& mungkin karakter-karakter di sini adalah OOC. Tapi aku usahain supaya gak terlalu berbeda dengan karakter asli mereka, konsep 'Yoongi si manis galak' selalu aku tanamkan kok dipikiranku hihi.

Happy reading, semoga suka ya! ^^

Main cast: Min Yoongi (Uke)

MinYoon / JiHope / ChanJin / NamJin

Featuring: All BTS member & other Idol yang belum aku tentukan.

Rating T, Humor, Slice of Life, Fluff.

Yaoi, boy x boy.

DON'T LIKE DON'T READ.


Chapter 3

Pagi ini cerah banget. Matahari mempersembahkan sinarnya yang paling hangat buat bumi. Semilir angin pagi ikut bertiup sepoi-sepoi membuat semua orang bangun pagi dengan semangat dan ceria, siap memulai hari baru.

Yoongi sudah duduk di meja makan bersama Mama sambil melahap roti bakar buatan Mama. Di sebelah piringnya juga sudah tersedia segelas susu cokelat.

"Mama nggak ikutan makan roti?" tanya Yoongi heran melihat mamanya yang hanya menghirup segelas susu hangat.

"Nggak. Kamu makan aja. Mama lagi malas sarapan."

"Mama ini nggak tau jaga kesehatan ya! Sarapan itu penting kan, Ma!"

"Iya, Mama tau. Mama kan tetap minum susu sebagai ganti sarapan. Kamu habiskan aja makanan kamu lalu berangkat. Nanti kamu telat loh."

Yoongi cuma mengangguk sambil melirik jam tangannya.

"Nanti sore Mama usahakan pulang cepat," kata Mama. "Kita makan malam sama-sama."

"Benar, Ma?"

"Iya. Jadi kamu masak cepat, ya. Biar pas Mama pulang, kita bisa langsung makan. Di kulkas ada ayam goreng sama nugget, nanti pulang sekolah kamu goreng aja sedikit untuk makan malam."

"Iya, aku ngerti."

Teet... teet...!

Suara bel rumah berbunyi. Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini? Nggak biasanya loh.

"Biar Mama yang buka pintu." Mama mencegah Yoongi yang sudah mau bangkit dari duduknya.

Yoongi kembali duduk dan menghabiskan roti bakarnya yang tinggal dua suapan lagi. Mama berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu.

"Pagi, Tante...," sapa seorang cowok imut berseragam SMA begitu mama Yoongi membukakan pintu.

"Pagi. Temannya Yoongi, ya?" tanya Mama ramah tapi agak heran. Tumben ada cowok cakep yang datang ke rumah pagi-pagi.

"Iya, Tante. Saya Jimin," kata Jimin sambil menebar pesona senyum mautnya.

"Kok Tante nggak pernah liat ya?"

"Soalnya saya teman barunya Yoongi, Tante."

"Oh. Kalau begitu, masuk dulu yuk. Yoongi masih sarapan," ajak mama Yoongi ramah.

"Makasih, Tante," sahut Jimin, lalu mengekor di belakang Mama.

"Yoongi, ada teman kamu nih," kata Mama.

Yoongi menoleh ke asal suara. Dan...

"Brruahh...!" Susu yang baru saja masuk ke mulutnya kontan dimuntahkannya kembali gara-gara kaget.

"Yoongi... kamu kenapa?" Mama yang melihat reaksi Yoongi ikutan kaget.

"Ngapain lo ke sini?!" bentak Yoongi begitu berhasil mengendalikan diri.

"Yoongi... jangan kasar begitu dong," kata Mama lalu mengambil lap di meja makan dan membantu Yoongi membersihkan noda susu yang muncrat ke seragamnya.

Yoongi nggak peduli dengan noda di bajunya. Ia maju mendekati Jimin tanpa memedulikan Mama yang sedang berusaha membersihkan seragamnya. Mama cuma bisa menghela napas. Dia sudah mengerti sifat putra semata wayangnya ini.

"Gue tanya sekali lagi, ngapain lo ke sini?!" tanya Yoongi tanpa mengecilkan volume suaranya.

"Pagi, Yoongi. Sori ya, udah bikin lo kaget. Baju lo kotor, ya? Nanti gue cuciin deh," kata Jimin tanpa menjawab pertanyaan Yoongi.

Yoongi jadi tambah keki. "NGAPAIN LO KE SINI? JAWAB!"

"Ya ampun, Yoongi... galak banget sih lo. Ini masih pagi. Jangan marah-marah gitu dong. Gue ke sini mau jemput elo. Kita berangkat sekolah bareng yuk..."

"NGGAK MAU!" tegas Yoongi.

"Kok gitu sih, Yoongi? Gue udah bela-belain bangun pagi-pagi demi ngejemput lo ke sekolah, masa lo malah nggak mau berangkat bareng gue sih..."

"Itu bukan urusan gue. Sekarang lo pergi!" usir Yoongi.

"Yoongi!" tegur Mama yang langsung menarik lengan Yoongi agar ikut dengannya ke belakang.

"Apaan sih, Ma?" protes Yoongi setelah ia dan mamanya sudah berada di dapur.

"Kenapa sih kamu kasar gitu sama dia? Dia kan bermaksud baik sama kamu. Mama nggak suka kamu bersikap sekasar itu," nasihat Mama.

"Memang kenapa? Ini rumah kita, aku berhak mengusir dia dari rumah ini karena aku nggak suka sama dia."

"Tapi bukan begitu caranya. Kamu kan bisa menggunakan cara yang lebih halus."

"Kenapa sih Mama ngebelain dia?"

"Mama nggak ngebelain dia. Mama cuma nggak suka sama cara kamu yang kasar itu."

Yoongi manyun mendengar ucapan Mama. Dia nggak bisa membantah karena sama sekali nggak tau harus ngomong apa.

"Ayolah... Bicara baik-baik sama teman kamu itu," ujar Mama sambil menggandeng tangan Yoongi kembali ke hadapan Jimin yang menunggu di ruang tamu.

"Maaf ya, Nak Jimin... Yoongi memang agak ceplas-ceplos kalau ngomong. Tapi dia nggak bermaksud jahat kok sama kamu. Nak Jimin jangan marah, ya," ujar Mama lembut.

Yoongi melotot ke arah mamanya.

"Mama! Mama ngapain sih baik-baikin..."

"Hush!" Mama langsung balik melotot ke arah Yoongi sebelum putranya itu menyelesaikan kalimatnya.

Mau nggak mau Yoongi pun diam. Bibirnya maju lima senti karena kesal. Persis kayak mulut bebek.

"Nggak apa-apa, Tante. Saya ngerti kok. Saya memang salah, datang pagi-pagi tanpa ngasih tau Yoongi lebih dulu," kata Jimin.

"Bagus kalau lo sadar!" sahut Yoongi keki.

"Yoongi!" hardik Mama yang langsung membuat mulut Yoongi kembali tertutup.

"Nak Jimin ke sini mau jemput Yoongi, kan?" tanya Mama ramah.

"Iya, Tante," jawab Jimin.

"Ya sudah, kalian berangkat saja sekarang sama-sama. Nanti keburu telat loh," ujar Mama.

"Mama!" pekik Yoongi kaget mendengar ucapan mamanya.

"Kenapa memangnya, Yoongi? Kalian kan satu sekolah. Lebih baik kamu berangkat bareng Jimin daripada desak-desakan naik bus."

"Mama apa-apaan sih? Lebih baik aku desak-desakan naik bus daripada harus berangkat bareng dia. Aku paling nggak suka mengandalkan orang lain."

"Yoongi, hari ini Jimin terlanjur datang ke sini. Kasihan dia kalau kedatangannya sia-sia. Tapi itu bukan berarti setiap hari kamu harus berangkat sama dia. Cuma buat pagi ini aja kan," kata Mama lembut sambil membelai rambut putra semata wayangnya itu.

Mendengar kelembutan suara Mama dan kehangatan tangan mama yang meresap ke setiap helai rambutnya, Yoongi jadi nggak kuasa untuk membantah. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.

"Oke, hari ini gue ikut elo ke sekolah. Tapi kalau besok-besok lo berani datang ke rumah gue tanpa seijin gue, awas lo!" ujar Yoongi mengancam.

"Oke deh, Yoongi..." Jimin tersenyum puas.

"Ya udah, aku berangkat dulu ya, Ma," pamit Yoongi sambil mencium kedua pipi mamanya.

"Hati-hati di jalan, ya!" kata Mama lembut.

"Saya berangkat dulu ya, Tante. Terima kasih banyak atas bantuannya." Jimin pamit sambil tersenyum.

Mama cuma balas tersenyum. Dan Yoongi yang melihat senyum kedua orang itu cuma bisa mendengus kesal. Tampaknya Jimin udah berhasil merebut hati Mama dan perlahan-lahan menyusup ke dalam kehidupan Yoongi.


.

(^-^)

.


Jimin mengendarai sedan hitamnya dengan senyum terkembang. Dia puas banget karena berhasil memenangkan pertarungan pagi ini dan mengantar pujaan hatinya ke sekolah. Bahkan ruangan dalam mobil sengaja dia semprot pakai Bayfresh biar wangi.

Perjuangannya mengorek informasi dari JHope agar memberikan alamat rumah Yoongi juga nggak sia-sia. Lega rasanya.

Mobil yang dikendarainya melaju pelan. Sengaja, biar waktu berduaan bersama Yoongi jadi lebih lama. Jimin ingin menikmati setiap meter yang dilaluinya bersama Yoongi dengan penuh perasaan.

"Lo ngapain senyum-senyum sendiri? Bikin gue merinding, tau!" tegur Yoongi heran saat melihat cowok di sampingnya nggak berhenti memamerkan deretan gigi putihnya.

"Nggak kenapa-napa kok. Gue cuma lagi senang aja," jawab Jimin.

"Gue ingetin ya, ini pertama dan terakhir gue berangkat bareng elo ke sekolah. Elo nggak usah kegeeran dulu. Gue ikut lo karena terpaksa, tau!"

"Nggak apa-apa kok. Ini udah cukup bikin gue happy."

Hening sejenak di antara mereka. Yoongi melempar pandang ke luar jendela, lalu menoleh menatap Jimin.

"Elo itu aneh, ya?"

"Mungkin."

"Kenapa sih elo ngedeketin gue?" tanya Yoongi. "Udah jelas gue ini Sunbae lo. Apa lo nggak malu ngedeketin cowok yang umurnya lebih tua dari elo? Apa nggak ada cowok seangkatan elo yang cakep dan bisa lo godain?"

"Gue cuma mau elo."

"Tapi gue nggak mau! Lo tuh emang otak di dengkul ya?"

"Maybe."

"Dasar cowok aneh! Mana ada yang mau sama cowok aneh kayak elo..."

"Ada kok... ya elo..."

"HAH? MIMPI KALI YEE...!" Yoongi nggak tahan lagi sambil teriak lebay.


.

(^-^)

.


"Yoongi, tadi gue liat lo turun dari mobil hitam di tempat parkir," ujar V begitu sampai di kelas pagi itu. "Mobilnya siapa tuh?"

Kelas mulai ramai. Yoong sedang duduk di bangkunya bersama JHope, yang nyasar dari kelas sebelah gara-gara bete nggak ada teman ngobrol. Jin duduk di depan mereka.

"Mobil Jimin," jawab Yoongi singkat.

"Hah? Jimin!" seru V, JHope, dan Jin bersamaan.

"Hus! Ngapain sih pake teriak segala? Emangnya kenapa kalo gue ikut mobil tuh anak kutu?"

"Tapi... kok bisa?" V nggak percaya. Rasanya ajaib kalo cowok kayak Yoongi yang nggak suka mengandalkan orang itu mau berangkat ke sekolah bareng orang lain yang nggak dia kenal baik.

"Gue terpaksa, tau! Pagi-pagi dia datang ke rumah gue, 'ngejilat' nyokap gue, dan bikin gue dipaksa Nyokap untuk berangkat bareng dia ke sekolah. Kalian kan tau, gue paling nggak bisa membantah kata-kata Nyokap. Biarpun gue sering ngelawan, ujung-ujungnya selalu aja gue nurut sama Nyokap."

"Jimin ke rumah lo?!" tanya Jin heran.

"Iya. Dan gue yakin ini pasti gara-gara elo, Hob," jawab Yoongi. "Elo kan yang ngasih tau nomor telepon dan alamat gue ke Jimin? Hayo ngaku!"

"Hehehe... iya sih, Yoongi." JHope malah nyengir. "Tapi gue nggak tau kalau dia bakal nekat datang ke rumah lo pagi-pagi."

"Kayaknya Jimin serius naksir elo deh, Yoongi," kata Jin.

"Gue nggak peduli dia serius atau nggak. Yang penting, gue nggak suka sama dia. Bagi gue, semua cowok itu sama aja, habis manis sepah dibuang. Gue nggak akan membiarkan diri gue menjadi salah satu korban mereka."

"Yoongi, jangan menyamaratakan semua orang kayak gitu dong. Banyak kok pasangan yang awet sampai masa tua mereka. Banyak juga cowok yang bisa setia sama pasangannya. Lo harus mulai membuka hati," nasihat Jin lembut.

"Benar, Yoongi. Contohnya Chanyeol hyung pacar Jin. Chanyeol hyung setia banget kan, Jinnie?" tambah V sambil melirik Jin yang pipinya bersemu merah karena malu.

"Kok malah bawa-bawa Chanyeol hyung sih?" rajuk Jin.

Chanyeol hyung itu pacar Jin. Sudah satu setengah tahun mereka pacaran. Chanyeol hyung dulu Sunbae mereka di SMA Bangtan. Tapi sekarang dia udah lulus dan kuliah di salah satu universitas swasta di Seoul. Chanyeol hyung dan Jin memang pasangan serasi. Cakep dan cantik. Kalau mereka lagi jalan berdua, pasti bikin ngiri orang-orang yang melihat mereka.

"Mungkin Chanyeol hyung memang beda. Tapi mencari cowok yang seperti lo maksud itu kaya mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami. Satu banding seribu. Kalau gue membuka hati, belum tentu gue dapat cowok yang baik kaya Chanyeol hyung," kata Yoongi.

"Tapi kalo elo nggak mulai membuka hati, gimana lo bisa tau cowok itu baik atau nggak?" bantah JHope.

"Dan untuk yang pertama, lo bisa belajar membuka hati lo untuk Jimin...," sambung Jin.

"Kok kalian semua ngotot banget sih ngejodohin gue sama Jimin? Gue udah bilang, gue nggak suka sama dia. Dia tuh lebih muda daripada gue. Gue nggak mau pacaran sama brondong. Nyokap gue pernah menikah dengan laki-laki yang lebih muda darinya dan akhirnya malah dikhianati. Gue nggak mau seperti itu," kata Yoongi sewot.

"Nggak semua cowok brondong bakal berkhianat, Yoongi. Bokap gue aja lebih muda tiga tahun dari nyokap gue dan hubungan mereka baik-baik aja sampai sekarang. Benar nih, lo nggak suka sama Jimin?" sahut V.

"Tau ah!" Yoongi jadi keki mendengar kata-kata ketiga sobatnya itu.

Jimin... Jimin... Sejauh apa ya nama itu akan menyusup dalam kehidupan Yoongi.

Heaven knows deh!


.

(^-^)

.


Yoongi berjalan menyusuri koridor sekolah menuju toilet yang ada di ujung koridor, tepat di sebelah ruang perpustakaan. Langkahnya agak tergesa-gesa karena perutnya mules banget. Pasti gara-gara makan tteobokki kebanyakan pas istirahat tadi. Yoongi memegang perutnya, memohon agar perutnya mau bersabar sampai dia tiba di toilet.

Yoongi buru-buru memasuki bilik WC dan membuka pintu WC yang pertama. WC sekolah ini nggak bersih-bersih amat. Tapi lumayanlah, nggak bau kok. Ada empat bilik di dalamnya. Selain itu juga ada tiga wastafel yang berdempetan dan memanjang, lengkap dengan cermin besar di atas wastafel itu. Makanya, toilet di SMA Bangtan ini juga merupakan salah satu tempat nongkrong favorit para murid.

Ada yang ke WC karena memang kebelet pipis atau pengin buang air besar, ada yang karena pengin cuci tangan, cuci muka, cuci kaki, atau sikat gigi. Tapi ada juga yang ke toilet khusus buat istirahat, ngumpet dari kejaran guru piket, bahkan ngegosip. Multifungsi banget, kan!

Aaah... leganya, batin Yoongi tersenyum puas. Perutnya mulai tenang setelah semua beban itu dikeluarkan. Baru saja Yoongi mau membuka pintu WC, ia mendengar ada orang-orang yang kasak-kusuk di depan. Ke WC kok bareng-bareng. Biasanya ijinnya harus satu-satu. Jangan-jangan mereka bolos, lagi.

Yoongi nggak jadi membuka pintu dan tetap di dalam WC sambil pasang kuping. Biasalah... kepo!

"Bam, lo bawa lipbalm, nggak?" tanya seorang cowok yang suaranya rada cempreng. "Gue minta dong!"

Cowok yang dipanggil itu nggak menjawab.

"Bambam, lo dengar nggak sih?" tanya cowok bersuara cempreng itu sekali lagi.

"Sabar kek. Nih," dumel cowok yang bernama Bambam itu.

"Eh, habis ini kita ke mana nih?" tanya si cempreng. "Masa ngumpet di toilet terus."

"Mmm... Kita kabur lewat belakang aja. Biasanya pintu belakang kan nggak dikunci," jawab cowok yang dipanggil Bambam. "Lalu kita ke rumah tante gue yang tinggal di daerah sini. Kita bolos sampai pelajaran kelima aja."

"Tapi pintu belakang kan sering dijaga Pak Kwangsoo," tampaknya si cempreng nggak setuju.

"Ya kita hati-hatilah, jangan sampai kelihatan sama Pak Kwangsoo," sahut si Bambam.

"Kalau gagal gimana?" tanya si cempreng sedikit cemas.

"Lo tenang aja. Serahin ke gue," si Bambam menjawab dengan percaya diri.

"Bam, lo udah dengar belum?" tanya si cempreng. "Katanya tadi pagi si Jimin berangkat bareng Suga Sunbae, ketua OSIS kita itu."

"Udah, gue udah denger," jawab si Bambam.

"Lo nggak panas, Bam? Lo kan naksir Jimin?"

"Gila! Gue panas abis lah! Apa sih bagusnya tuh cowok? Mentang-mentang dia ketua OSIS, sok galak dan sok berkuasa banget! Pasti dia yang kegatelan ngedeketin Jimin gue," maki si Bambam kesal.

"Tapi, Bam... gue denger dari kakak gue yang sekelas sama Suga Sunbae, dia tuh anticowok. Jadi nggak mungkin kalau Suga yang deketin Jimin," ujar si cempreng.

"Anticowok? Mana mungkin! Lo pikir aja deh. Jimin itu kan keren abis, semua cowok-cewek pasti pada klepek-klepek sama dia, mana mungkin si Suga itu bisa tahan," bantah si Bambam.

"Tapi lo inget nggak... waktu kita MOS kemarin kan si Jimin ngasih surat cinta ke Suga. Jangan-jangan emang Jimin yang naksir sama Suga."

"Kalau memang Jimin suka sama Suga, itu berarti selera Jimin murahan. Apa bagusnya sih cowok kayak gitu. Sok galak, sok berkuasa, sok jual mahal, munafik!"

Brak!

Yoongi membuka pintu WC dengan wajah merah menahan marah. Yap! Kesabaran Yoongi cukup sampai di sini.

"Udah puas ngomongin gue?!" tanya Yoongi.

Kedua cowok yang masih berdiri di depan wastafel melotot kaget. Mereka sama sekali nggak menyangka bahwa Sunbae yang mereka gosipin sedang berada di dalam WC. Mampus deh!

"Masih ada yang mau diomongin tentang gue?"tanya Yoongi lagi.

Kedua cowok itu hanya menggeleng pelan.

"Asal lo berdua tau ya, gue sama sekali nggak berminat sama Jimin. Kalau di antara kalian ada yang naksir Jimin, silakan! Gue sama sekali nggak berminat jadi saingan," kata Yoongi.

Wajah kedua cowok itu berubah pucat. Mereka ketakutan melihat tampang Yoongi yang udah kayak serigala mini mau nerkam mangsa. Biarpun mini tapi tetep aja ngeri man!

"Tapi ingat, gue nggak suka ada orang yang ngomongin gue di belakang gue. Itu namanya pengecut!" kata Yoongi tajam. "Dan satu lagi, pintu belakang udah dikunci sejak kemarin sama Pak Kwangsoo, jadi kalau kalian berniat bolos, silakan cari jalan lain. Tapi hati-hati ya, kalian tuh masih baru di sekolah ini. Kalian nggak tau mana jalan yang ada jebakannya dan mana jalan yang benar-benar aman. Mau bolos juga ada aturannya, bro!"

Yoongi tersenyum sinis lalu keluar dari toilet dan kembali menuju kelas dengan perasaan masih kesal. Dia nggak menyangka ada anak kelas satu yang berani menghina dia.

Tapi bagi Yoongi, pantang yang namanya marah sama adik kelas lalu menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk menggencet mereka. Itu namanya nggak fair. Yoongi paling nggak suka harus berantem, apalagi kalau cuma gara-gara cowok. Nggak ada untungnya cari musuh gara-gara rebutan cowok.

Selama ini Yoongi nggak pernah tuh yang namanya cari-cari musuh. Ia selalu berusaha bersikap adil dan bergaul baik dengan semua orang. Makanya akhirnya semua memilih dia untuk jadi ketua OSIS. Itu karena semua temannya percaya pada Yoongi.

Waktu itu Yoongi hampir memperoleh 80% suara. Benar-benar kemenangan mutlak. Kalau hari ini sampai ada yang tega menjelek-jelekkan dia, ini benar-benar hal yang nggak terduga. Hal yang nggak pernah terbayangkan oleh Yoongi sebelumnya.

Soalnya nggak ada orang yang mampu membenci Yoongi, karena meskipun galak, dia tetap seorang teman yang baik buat siapa aja. Ini pertama kalinya dalam hidup Yoongi ada orang yang berani menjelek-jelekkannya.

Dan ini semua udah jelas pasti gara-gara makhluk bantet bernama Jimin itu.

Ya! Semua pasti gara-gara dia.


-TBC-