Title : Beautiful
Cast :
Ong Seongwoo
Kang Daniel
Wanna One's member
Genre : Family, Brothership
Length : Chaptered
Note : Based on teaser and Mv movie version Wanna One "Beautiful"
Part 2
Seongwoo membuka buku referensinya dan membacanya dengan tenang. Ia selalu belajar disela-sela istirahatnya saat bekerja. Sudah menjadi rutinitas sehari-hari pemuda yang kini sudah berusia 23 tahun itu. Baginya, tidak boleh ada waktu yang ia sia-siakan karena itu berarti ia akan lebih lama lagi bertemu dengan Daniel.
"Seongwoo, kau sudah makan?"
Salah seorang teman Seongwoo menyodorkan roti pada pemuda itu. Seongwoo tersenyum dan menggeleng.
"Aku sudah makan di kampus sebelum kemari tadi."
"Wah, kau rajin sekali. Saat bekerja pun masih sempat untuk belajar."
"Aku harus berusaha keras agar aku bisa segera bertemu dengan Daniel."
Ya, teman-teman Seongwoo sudah tahu cerita hidup pemuda itu. Mereka sudah tahu siapa Daniel dan hubungannya dengan Seongwoo. Mereka pun dengan senang hati membantu Seongwoo menyebarkan berita kehilangan di semua media.
"Sudah ada perkembangan?"
"Belum. Tapi entah mengapa aku merasa aku akan bertemu denga Daniel sebentar lagi"
"Darimana kau tahu?"
Seongwoo menatap langit yang kini mulai berwarna biru tua. Daniel sangat suka memandang langit saat sore. Setiap hari ia menemani adiknya itu duduk di halaman depan rumah untuk menikmati setiap pergantian warna cakrawala. Dari kebiasaan itu, kini Seongwoo juga ikut menyukai pemandangan langit sore.
"Aku tidak tahu. Hanya saja aku bisa merasakannya." Seongwoo tersenyum kecil sambil terus memandang langit. "Aku merasa Daniel sangat dekat denganku."
oooOooo
Rutinitas Daniel adalah bekerja. Setiap hari ia memeras keringat dan tenaganya untuk bekerja di sebuah mini market yang letaknya tidak jauh dari tempatnya tinggal bersama teman-temannya. Daniel hanya bersekolah sampai SMP. Selebihnya, umurnya ia habiskan untuk mengabdi pada orang lain.
"Selamat datang. Selamat berbelanja."
Kalimat ini sudah ribuan kali Daniel lontarkan pada pengujung mini market, hingga rasanya ia takut kelepasan ketika berada di rumah lantaran seringnya ia mengucapkan kalimat itu.
Tidak ada kata lelah dalam kamus Daniel. Kehidupan yang keras telah menempanya menjadi sosok yang tangguh dan tidak bergantung pada orang lain. Ia sudah lebih dari cukup merasakan pahit manisnya lika-liku hidup. Bahkan dia masih membantu Daehwi dan Guanlin yang masih duduk di bangku SMA. Bukan membantu dalam hal akademis, Daniel cukup tahu diri bahwa dirinya tidak sepandai itu untuk mengajari kedua adik kecilnya. Namun ia membantu membiayai mereka bersekolah, paling tidak sampai mereka lulus SMA.
Terkadang Daniel berpikir, kehidupan macam apa yang dimilikinya ini. Diumurnya yang masih begitu muda, ia harus menerima kenyataan kalau ia harus kehilangan anggota keluarga, Ia harus kehilangan sosok kakak yang sangat disayanginya, sosok yang menjadi pusat dari segala gravitasi kehidupannya. Diumurnya yang masih sangat belia, ia harus bertarung melawan kerasnya kehidupan seorang diri. Daniel bahkan pernah mengutuk Tuhan, ia menganggap Tuhan tidak adil padanya.
Namun semua pemikiran sempitnya itu mulai terkikis dan berubah saat ia bertemu dengan Jisung dan yang lainnya. Mata Daniel terbuka saat ia tahu bahwa ada orang-orang yang bernasib sama dengannya. Kehilangan, ditinggalkan, dicampakkan, dan dilupakan oleh orang-orang yang mereka sayangi. Dari merekalah Daniel belajar, belajar untuk menjadi orang yang tidak manja dan cengeng, belajar untuk menjalani kehidupan sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Daniel sadar, tugasnya hanya satu, selalu bersyukur bahwa Tuhan masih menyayanginya dengan mengirimkan orang-orang yang baik seperti Jisung dan teman-temannya yang lain. Orang yang ia yakini tidak akan pernah meninggalkannya lagi.
oooOooo
"Pukulanmu harus lebih cepat, Jihoon."
Bugh! Bugh!
"Lebih cepat lagi!"
Bugh! Bugh!
Inilah kegiatan yang dilakukan Daniel, Seungwoon, Jisung, Jaehwan dan Jinyoung setiap membersihkan ruang latihan. Menonton Jihoon berlatih memiliki keseruan tersendiri bagi mereka. Terkadang mereka menggoda Jihoon dengan mengatakan kalau Jihoon tidak cocok menjadi seorang fighter dengan tubuh mungil dan wajah imutnya itu.
"Wah, Jihoon yang imut sudah tidak ada lagi."
"Padahal dulu dia yang paling cengeng diantara kita semua."
"Jangan dekat-dekat Jihoon kalau kalian tidak mau dipukul."
"Jihoon, pukul pelatih dengan keras!"
"Tunjukkan pukulanmu yang paling bagus pada pelatih!"
"Hei, kalian mau dipukul ya?! Jangan mengganggu Jihoon latihan!"
Daniel dan yang lainnnya langsung terbirit-birit menjauhi ring tempat Jihoon berlatih. Namun mereka terkekeh melihat pelatih yang mengomel kesal pada mereka. Jihoon hanya geleng-geleng kepala, ia sudah terbiasa dengan tingkah absurd teman-temannya itu.
"Awas kalau kalian tidak membersihkan ruangan dengan baik. Tidak ada jatah makan malam untuk kalian."
Suara omelan pelatih masih terdengar bergema di ruang latihan. Baik Daniel ataupun yang lainnya tidak ada yang mendengarkan omelan itu. Toh masih ada Jisung, Seungwoon dan Jaehwan yang bisa memasak.
Daniel mendekati Jaehwan dan Seungwoon yang sedang membersihkan samsak yang tadi sore dipakai latihan oleh Jihoon.
"Sekarang aku tahu kenapa pelatih belum menikah."
"Memangnya kenapa?"
"Mana ada wanita yang mau dengan pelatih yang galak dan tukang mengomel seperti ibu-ibu itu?"
"Pfft~ benar juga kau."
"Daniel, Jaehwan, Seungwoon! Kalian tidur diluar malam ini!"
Tiga orang yang dipanggil namanya itu hanya tertawa tertahan mendengar ancaman pelatih. Mereka tahu kalau pelatih sangat menyayangi mereka, jadi tidak mungkin mereka akan tidur diluar. Seperti itulah pelatih, terlihat keras di luar namun sebenarnya sangat menyayangi mereka semua.
oooOooo
Seongwoo dan Minhyun berhadapan satu sama lain. Sepasang manik mereka saling bertatapan intens. Nafas mereka sudah berderu cepat dan peluh membanjiri tubuh mereka dengan deras
Tidak, kalian jangan salah paham. Seongwoo dan Minhyun tidak sedang berkelahi atau berselisih paham. Mereka sedang berlatih bela diri untuk ujian masuk kepolisian. Dalam syarat yang ditentuka, paling tidak peserta harus menguasai teknik dasar bela diri untuk dapat masuk ke akademi kepolisian. Karena itulah mereka berlatih keras agar dapat lolos seleksi.
"Kau siap?"
"Aku selalu siap."
Keduanya saling menyerang, memukul dan menangkis lawan dengan gesit. Baik Seongwoo maupun Minhyun sama-sama menguasai teknik bela diri dengan sangat baik walaupun hanya teknik dasar dan beberapa teknik yang sedikit lebih sulit.
Bruk!
Seongwoo berhasil membanting Minhyun ke matras. Mereka kemudian berbaring sambil mengatur nafas mereka yang terengah-engah. Senyum menghiasi wajah mereka yang penuh dengan keringat.
"Kau benar-benar hebat."
"Kau juga hebat. Perlawananmu tadi sangat gesit.""
"Tapi akhirnya kau bisa membantingku, kan?"
Seongwoo dan Minhyun tertawa bersama. Tidak ada hari yang mereka lewatkan tanpa canda dan tawa. Bersahabat sejak kecil membuat keduanya tahu arti satu sama lain.
"Aku yakin kita bisa masuk ke akademi polisi bersama."
"Tentu saja. Bukankah kita berdua sama-sama berusaha dengan keras?"
Seongwoo membuka sebotol air mineral dan meneguknya sedikit, kemudian ia memberikannya pada Minhyun.
"Besok mau berangkat jam berapa?"
"Bagaimana kalau sepulang kuliah kita langsung berangkat? Testnya diadakan sampai sore. Kita masih bisa menyusul."
"Kalau begitu besok sebelum kuliah aku akan meminta ijin pada bosku untuk tidak bekerja dulu."
"Bagaimana pulang dari test kita makan di warung bibi Im dulu?"
"Wah, boleh juga. Sudah lama aku tidak kesana."
Minhyun kemudian berdiri dan menarik Seongwoo agar ikut berdiri. "Ayo kita latihan sekali lagi. Setelah itu kita belajar untuk test besok."
Seongwoo dengan senang hati menyambut ajakan sahabatnya itu. Mereka pun melanjutkan latihan mereka sambil sesekali melempar candaan satu sama lain hingga malam menyapa langit kota Seoul.
oooOooo
Daniel berjalan pulang dengan riang sambil mendengarkan musik di ponselnya. Hari ini ia mendapatkan bonus dari bosnya karena bekerja dengan baik. Dalam pikirannya ia akan membelikan ayam goreng untuk teman-temannya. Pasti mereka sangat senang.
Namun langkah kaki Daniel terhenti ketika melewati sebuah showroom motor. Manik kelamnya memandang kagum pada sebuah motorsport yang dipajang di etalase showroom. Senyumnya merekah seiring dengan tangannya yang menyusuri kaca etalase dengan antusias. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan berfoto di depan motor itu.
"Wah, pasti keren kalau aku punya motor ini."
Daniel jadi teringat Seongwoo. Dulu kakaknya itu pernah bilang kalau ia ingin punya kendaraan yang bagus dan keren. Mereka berdua membayangkan kalau mereka akan punya motor yang bagus seperti motor yang dipajang itu.
"Nanti kalau aku sudah bertemu dengan Seongwoo hyung, aku akan membeli motor ini dan mengajaknya berkeliling kota dengan motor ini."
Tangan Daniel begerak di udara, menghitung berapa banyak uang dan waktu yang harus ia kerahkan untuk bisa membeli motor sport itu. Ia tertawa pelan, mungkin seumur hidupnya, baru kali ini ia memikirkan sesuatu yang sangat konyol. Membeli motor? Haha, jangan bercanda. Untuk makan saja sangat sulit, apalagi membeli kendaraan mewah itu. Rasanya mustahil.
Tetapi Daniel segera menepis semua pemikiran pesimis itu. Ia yakin kalau dirinya bisa membeli motor itu dan mengajak Seongwoo berkeliling kota. Hidup susah selama bertahun-tahun telah membuat rasa optimisnya lebih besar dari apapun. Daniel selalu menanamkan mindset bahwa semuanya bisa terjadi.
"Seongwoo hyung, aku pasti bisa membeli motor ini untukmu."
oooOooo
Seongwoo menyalakan lampu belajarnya dan membuka buku-buku latihannya. Ia melanjutkan mengerjakan soal-soal yang tadi tidak sempat ia bahas bersama Minhyun. Diluar, hujan turun dengan deras. Udara dingin seketika menguar dari celah-celah ventilasi yang terbuka.
"Ugh, dinginnya."
Seongwoo mengambil jaket yang tergantung di pintu kamarnya. Niat awalnya ingin mengenakan itu untuk menepis dingin. Namun kemudian ia teringat Daniel. Ia tidak tahu apakah saat ini adiknya itu terlindungi dari dingin dan hujan.
"Daniel, apa kau memakai baju yang hangat? Apa kau terlindungi dari air hujan?"
Pemuda itu pun kembali menggantungkan jaketnya. Tidak, ia tidak bisa bersikap egois dengan menghangatkan dirinya sendiri, sementara ia tidak tahu nasib adiknya diluar sana. Lagipula ia sudah berada di dalam kamar yang hangat dan nyaman. Udara dingin yang sedikit masuk tidak akan mengganggu konsentrasi belajarnya.
Jdar!
Seongwoo berjengit ketika petir menyambar cukup keras. Jantungnya berdebar keras. Ia tidak takut, tapi ia merasa khawatir. Daniel takut dengan petir. Dulu saat hujan deras seperti ini, Seongwoo akan terjaga sepanjang malam dengan memeluk Daniel yang meringkuk dipelukannya. Daniel bisa menangis sepanjang malam kalau hujan deras dengan petir yang menyambar. Jadilah Seongwoo harus menenangkan adiknya itu hingga tertidur dengan nyenyak.
"Daniel, apa kau masih takut dengan petir? Kuharap kau baik-baik saja."
.
.
.
.
TBC
Makasih banget buat yang udah baca dan review FF ini. Aku sangat menghargai apresiasi kalian buat FF ini ^^
