Kyumin story
Genderswitch (gs)
Romance
sorry for typo(s)
Chapter 2
AKU sudah bersiap-siap check in bersama enam orang lainnya pada pukul 12.30, hari ini keberangkatan tim ELF CORP untuk training di Amerika, ketika mendapati Kyuhyun sedang menuju ke arahku. Melihatnya lagi membuatku sedikit gelisah. Aku tidak mungkin bisa berbicara seperti orang normal dengannya, apalagi dengan gayanya hari ini yang bahkan lebih seksi daripada seminggu yang lalu. Hari ini dia mengenakan jins berwarna gelap dan kaus putih yang dilapisi sweatshirt bertuliskan Texas A & M.
"Hei," ucapnya ketika sudah berdiri di sampingku.
Aku membalas sapaannya. Kyuhyun hanya membawa sebuah koper hitam yang agak kecil.
"Oya, terima kasih untuk minggu lalu. Aku Lee Sungmin." Aku mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya. Kyuhyun membalas uluran tanganku sambil tersenyum dan berkata,
"I know, aku Cho Kyuhyun."
"I know," ucapku.
Aku menelan ludah sebelum membalas senyumannya. Aku hampir lupa dengan senyum mematikannya itu. Aku sempat kaget bahwa dia masih mengingat namaku. Tapi aku segera menenangkan diriku yang mulai merasa sedikit berlebihan.
Proses check-in berjalan cukup lancar, sehingga kami masih memiliki banyak waktu untuk menunggu waktu boarding di ruang tunggu. Aku sedang sibuk membaca novel ketika mendengar Kyuhyun bertanya, "Kau mau?" sambil menyodorkan sepotong Doublemint yang masih dibungkus kertas metalnya kepadaku. Aku hanya tersenyum, mengambil satu potong dan memasukkannya ke tasku.
"Kenapa tidak dimakan ?" tanya Kyuhyun ingin tahu.
Aku memandangnya beberapa detik sebelum menjawab,
"Aku baru saja meminum obat anti mual, takut bermasalah dengan perut nanti jika dicampur."
Kyuhyun mengangguk dan aku pun kembali pada bacaanku. Tapi baru saja aku membaca satu paragraf, suara Kyuhyun melayang kembali kepadaku.
"Kau sering mengalami motion sickness?"
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengangguk.
"Khusus untuk pesawat atau kapal laut juga ?" tanyanya lagi.
Kini matanya betul-betul memandangku. Aku yang kaget dengan tatapan matanya merasa sedikit terkesima. Untung aku sedang duduk, kalau berdiri kemungkinan besar aku sudah jatuh tersungkur ke lantai.
"Paling parah kapal laut. Jika pesawat aku merasa sudah lebih baik. Biasanya aku berusaha membayangkan bahwa aku sedang ada di mobil dengan kecepatan tinggi. Kalau mobil biasanya tidak ada masalah, selama jalannya tidak berkelok-kelok. Tapi aku tidak pernah ada masalah jika naik kereta api," jelasku panjang-lebar.
Kyuhyun tersenyum simpul. Dan untuk beberapa detik aku tidak bisa bernapas. Aku bertaruh pada diriku sendiri bahwa senyuman Kyuhyun tidak akan membawa efek samping kepadaku setelah ini. Untung kemudian Kyuhyun mengalihkan perhatiannya untuk melihat-lihat area ruang tunggu. Aku kembali membuka novelku pada halaman yang kubatasi dengan telunjukku. Tapi aku tahu Kyuhyun akan melayangkan pertanyaan selanjutnya tidak lama lagi, jadi aku berusaha secepat mungkin membaca satu paragraf yang menutup Bab 4.
"Kau suka membaca novel?" tanya Kyuhyun lagi.
Benar kan...
Aku mengangguk tanpa mengangkat wajah dari buku.
"Klasik?"
Aku selesai membaca paragraf itu dan mendongak untuk menatap wajahnya. Aku mengangguk lagi, tapi sebelum sempat menjelaskan alasanku, seseorang mengumumkan bahwa penumpang first dan business class dipersilakan masuk ke kabin. Aku segera membereskan barang-barangku dan berjalan menuju belalai. Sudah bertahun-tahun aku menggunakan pesawat sebagai metode transportasi, tapi tetap saja aku masih merasa sedikit... tidak nyaman.
Kyuhyun meremas bahu kananku dan berkata,
"Biar aku duduk di sebelahmu. Aku akan menjagamu agar tidak mengalami motion sickness."
Aku hanya bisa memandangnya selama beberapa detik dengan mulut terbuka.
Ketika tangan Kyuhyun menyentuh bahuku, aku dapat merasakan sengatan listrik yang membuat jantungku berhenti berdetak.
Lee Sungmin, ayolah. Jangan berlebihan. Dia hanya ingin memastikan supaya dirimu baik-baik saja, aku mengomeli diriku sendiri.
Kyuhyun yang sepertinya sadar bahwa dia telah membuatku merasa tidak nyaman menarik tangannya dari bahuku. Kyuhyun sepertinya berpikir reaksiku disebabkan rasa "takut terbang" bukannya karena rasa "jantungku hampir meledak karena laki-laki paling tampan yang pernah kulihat selama setahun belakangan ini menyentuhku", sehingga aku bisa mulai mengatur pernapasanku agar kembali normal.
Aku mendapat tempat duduk paling depan di sebelah jendela, dan seorang ibu yang sudah beranak dua dari tim kami duduk di sebelahku. Tetapi kemudian Kyuhyun membujuknya untuk bertukar tempat duduk dengannya agar dia bisa duduk di sebelahku. Ibu itu tentunya tidak bisa menolak Kyuhyun yang sepertinya sudah bisa merayu wanita semenjak dia masih ada di dalam kandungan.
Selama tiga puluh menit belakangan ini aku memang bertanya-tanya pada diriku sendiri, mengapa laki-laki yang seminggu lalu sepertinya jutek padaku ini tiba-tiba bisa berubah jadi super-ramah? Aneh.
Ketika pesawat kami siap lepas landas Kyuhyun bertanya padaku, "Ingin pegang tanganku?"
Aku menggeleng. Biasanya aku cukup berani untuk melewati seluruh penerbangan sendiri, selama tidak ada turbulence. Aku sangat beruntung karena sempat mengkonfirmasi Yahoo sebelum berangkat dari rumah, hari itu kami akan terbang dengan cuaca cerah. Tetapi itu bukan alasan utama mengapa aku tidak mau memegang tangan Kyuhyun. Membayangkan tangannya menyentuh bagian tubuhku, walaupun hanya tanganku, sudah cukup membuatku bergidik memikirkan sengatan listrik yang akan menyerangku. Terutama karena aku tahu apa maksud sengatan listrik itu. Sepertinya aku mulai menyukai Kyuhyun. Sayangnya hal tersebut hanya dialami olehku, karena sepertinya Kyuhyun tidak terpengaruh sama sekali.
Kami duduk berdampingan, berdiam diri. Tetapi keheningan kami terasa nyaman. Sesekali Kyuhyun akan melirik ke monitorku sehingga kepalanya berada sangat dekat dengan wajahku dan aku dapat mencium aroma samponya, sebelum kemudian dia kembali ke monitornya dan mengganti channel untuk menonton film yang sama denganku.
Setelah makan malam dan menonton satu film lagi, aku memutuskan untuk tidur. Jam tanganku yang masih menunjukkan waktu Korea, sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Aku melihat ke arah samping, dan mendapati Kyuhyun sudah pulas di kursinya dengan bantal dan selimut yang mulai turun dari bahunya. Kulihat dia agak menggigil, mungkin karena AC kabin terlalu dingin. Aku lalu mengatur AC itu untuk tidak mengarah ke tubuhnya, lalu mengikuti jejaknya memejamkan mata. Sambil mulai terlena, aku tersenyum pada diriku sendiri. Tingkah laku Kyuhyun dan wajahnya ketika sedang tidur mengingatkanku pada sosok namja yang kukenal lima belas tahun yang lalu, yang namanya dimulai dengan huruf Y... Astaga, sepertinya aku sudah mulai gila! Sejenak mataku kembali terbuka lebar. Tapi aku segera menenangkan diri, dan memejamkan mata lagi.
Malam itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku bermimpi tentang Yoochun. Di dalam mimpiku aku sedang berada di Miami, menikmati sinar matahari yang menyinari wajahku. Yoochun berdiri di sampingku. Wajahnya dihiasi senyumnya yang khas. Lalu aku mencium aroma vanila bercampur suatu aroma musky lainnya. Aroma yang cukup maskulin dan menyegarkan. Tiba-tiba aku mendengar ada orang memanggil namaku. Aku mencoba mencari arah suara itu, tapi tidak menemukannya. Beberapa saat kemudian aku merasakan guncangan yang cukup dahsyat, sepertinya Miami sedang terkena gempa bumi. Lalu aku tersadar. Ternyata guncangan itu datang dari tangan berukuran besar milik Kyuhyun. Aku buru-buru memfokuskan mataku.
"What, what?" ucapku berusaha untuk fokus. Aku tidak rela melepaskan Yoochun dari mimpiku.
"Ming, bangun Ming, kau ingin sarapan apa?" tanya Kyuhyun sambil berusaha untuk membawaku ke alam sadar.
Aku kemudian tersadar bahwa aroma vanila dan musk yang tadi kucium masih ada, dan ternyata datang dari sebuah sweatshirt yang kini berada di pangkuanku. Aku berpikir aroma vanila itu mungkin salah satu campuran aroma parfumku, dan karena masih belum fokus juga aku lalu mengenakan sweatshirt itu sebelum berjalan menuju toilet untuk mencuci muka. Setelah mencuci muka dan bersiap-siap untuk keluar, aku mematuk diri di depan cermin dan tersadar bahwa sweatshirt yang kukenakan bukan milikku. Lalu aku melihat satu huruf A merah yang tercetak di sebelah kanan dadaku. Sadarlah aku bahwa aku sedang mengenakan sweatshirt Kyuhyun yang dia kenakan ketika berangkat kemarin dari Seoul. Buru-buru kurapikan rambutku yang terurai dan mengikatnya dengan karet di pergelangan tanganku. Kutanggalkan sweatshirt itu dan melipatnya dengan rapi sebelum keluar dari toilet.
Aku menemukan Kyuhyun sedang menyantap Fruit-Loops dari sebuah mangkuk.
"Terima kasih untuk sweatshirt-nya." Aku mengulurkan sweatshirt itu kepada Kyuhyun,
sambil melangkah ke kursiku. "Kembali," ucap Kyuhyun sambil mengambil sweatshirt itu dari tanganku.
"Kau yakin tidak membutuhkannya lagi?"
Aku pun hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya. Kyuhyun hanya tersenyum dan memberikan sweatshirt itu kepada seorang pramugari yang kemudian meletakkannya ke kompartemen kabin di atas kepala kami. Aku lalu menumpukan perhatianku pada sarapanku yang rupanya telah dipilihkan menjadi Fruit-Loops juga.
"Aku yang memilih sereal ini untukmu. Is it okay?"
Aku tersenyum sambil mulai menyantap sarapanku. Sebenarnya aku kurang suka Fruit-Loops, aku lebih suka sarapan dengan roti yang dilapisi selai coklat, tapi aku tidak tega mengatakan hal itu kepada Kyuhyun yang sudah cukup perhatian dan memastikan bahwa sarapanku sudah tersedia.
Aku membuka tutup jendela pesawat untuk melihat ke luar. Tetapi aku baru saja mengangkat tutup jendela itu sekitar lima sentimeter ketika menyadari bahwa sinar matahari yang sangat terang dan bisa membutakan mataku memasuki kabin. Kututup kembali jendela itu dan mulai menyantap serealku perlahan-lahan.
"Kau tadi malam tidak kedinginan?" tanyaku membuka pembicaraan setelah selesai sarapan.
"Lumayan, tapi aku melihatmu lebih kedinginan lagi , sampai meringkuk di kursi. Aku tidak tega."
Kenapa dia tidak meminta selimut dari pramugari saja buatku? Aneh, pikirku dalam hati.
"Oh, padahal tadi malam AC yang ke arahku sudah aku matikan," jelasku.
"Oh iya? Mungkin memang AC-nya yang terlalu dingin."
Kami kemudian tenggelam dalam percakapan lainnya, mulai dari pengalaman-pengalaman terbang kami yang penuh dengan nightmare hingga film. Kami kemudian terdiam beberapa saat ketika tiba-tiba lampu yang menandakan bahwa kami harus mengenakan sabuk pengaman menyala dan tidak lama kemudian suara kapten penerbangan kami mengatakan bahwa akan ada sedikit turbulence selama beberapa menit ke depan dan dia meminta para penumpang agar kembali ke tempat duduk masing-masing dan mengenakan sabuk pengaman. Lima menit kemudian aku sudah menutup mataku dan memohon kepada Tuhan agar guncangan itu berhenti. Aku mulai sedikit mual dan harus menelan ludah beberapa kali untuk mencegah agar tidak muntah. Untung kemudian guncangan itu berhenti dan aku berani membuka mata kembali. Aku baru sadar bahwa aku sedang meremas tangan Kyuhyun erat-erat.
"I'm sorry," ucapku dan melepaskan tangannya.
"Aku ambilkan air hangat untukmu," ucapnya lalu berdiri dari kursinya dan menuju ke bagian belakang kabin.
Selama dia pergi aku mencoba menarik napas perlahan-lahan untuk menenangkan perutku. Tak lama kemudian Kyuhyun kembali duduk di sebelahku dengan segelas air hangat. Aku meminumnya perlahan-lahan, menunggu mualku kambuh lagi. Tapi rasa mual itu sudah pergi.
Beberapa jam kemudian pesawat kami mendarat di Los Angeles. Di sana kami harus menunggu sekitar tiga jam untuk mendapatkan penerbangan selanjutnya ke Cincinnati dengan Delta. Sekali lagi aku menelan obat anti motion sickness untuk mempersiapkan diri apabila ada badai salju yang tiba-tiba melanda Pesisir Barat dan menimbulkan turbulence di dalam penerbangan terakhir itu. Dan Kyuhyun tidak pernah meninggalkan sisiku.
Setibanya kami di Cincinnati, hari masih sangat pagi, dan karena kami sampai pada hari Minggu, kami tidak mendapatkan hambatan apa pun dalam perjalanan dari airport menuju hotel.
Ada sedikit rasa sendu yang menyentuhku ketika melihat matahari yang baru akan terbit dari timur dan udara yang masih cukup dingin untuk bulan Maret. Aku mengambil napas dalam-dalam dan mencoba menikmati saat-saat ini.
Aku tidak memperhatikan apa yang sedang dikerjakan Kyuhyun, tapi ternyata dia sedang memperhatikanku. Ketika sadar bahwa dia sedang memandangiku dengan saksama, aku langsung merasa risih.
"Apa ?" tanyaku padanya.
"Tidak apa-apa," jawabnya cuek, tapi dia tetap memandangiku.
"Ya!, stop it," ucapku yang mulai gelisah.
Kyuhyun lalu mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Selama sisa perjalanan ke hotel, Kyuhyun tidak menggangguku lagi.
Ketika tiba di hotel, ternyata kami sudah dipesankan empat kamar, yang masing-masing diisi oleh dua orang. Setelah berbagi kamar, kami kemudian berpisah menuju kamar masing-masing untuk beristirahat hingga waktu makan malam. Ketika aku baru saja akan beranjak ke tempat tidur, tiba-tiba ada bunyi ketukan di pintu kamarku. Kulirik alarm clock yang terletak di night stand yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku lihat teman sekamarku sudah tertidur pulas.
Dengan penuh keraguan aku mengintip melalui peep-hole. Kyuhyun sedang berdiri di luar. Aku buru-buru membuka pintu.
"Kenapa, kyu?" tanyaku ragu.
"Ming, maaf aku mengganggu..." Kyuhyun tidak meneruskan kalimatnya.
Aku berdiam diri menunggu apa yang ingin dikatakannya.
"Kau ingin makan tidak?" tanyanya cepat, sehingga aku harus mengerutkan keningku untuk mencerna kata-katanya. Aku mengembuskan napas agak keras sambil menahan tawa ketika aku sadar apa yang dia tanyakan. Laki-laki di mana-mana ternyata sama, pikirku dalam hati. Mereka selalu lapar, tidak peduli jam berapa atau di mana mereka berada. Kalau memang waktunya
makan, mereka harus makan. Meskipun sangat lelah, tapi mengingat betapa Kyuhyun
telah menjagaku selama penerbangan, aku akhirnya setuju menemaninya.
"Tunggu sebentar , aku akan mengganti pakaianku dulu," ucapku, lalu menghilang beberapa menit.
Dengan asal aku memilih menggunakan jins longgar dan melapis kamisolku dengan sweatshirt George Washington University yang sudah cukup lusuh. Aku lalu mengambil dompet dan keluar menemui Kyuhyun.
TBC
Anyeong, aku datang membawa chapter 2 J
Gimana ? gimana ? dengan jalan ceritanya menurut kalian ?
Jeongmal gomawo buat yang udah review, meskipun aku tidak menyebutkan nama kalian tapi aku membaca satu-persatu review kalian ko chingu~~
Dan untuk yang nanya ini remake dari novel karya Aliazalea , iya sayang ini remake dari situ karena aku suka sekali dengan ceritanya dan karena aku suka Kyumin jadi aku menggunakan nama mereka sebagai cast utamanya disini hehe
Cha~, terakhir RnR juseyo~~~ CHU~~
