Title: IF YOU
Cast: -Oh Sehun
-Xi Luhan
-Other cast will appear
Genre: Angst, Fluff, Romance, Mystery, etc
Length: Chaptered [3/?]
Warning: Banyak typo bertebaran, menimbulkan efek samping seperti bosan, mual, etc. Ini FF GS, inget GS! Bagi yang tidak suka bisa meninggalkan FF ini sesegera mungkin. Dan ini merupakan FF untuk mengikuti giveaway ya, please support me and give your review~
.
.
-Previous-
"Baiklah, akan kujelaskan, pertama dia itu namja, rambutnya pirang blonde, atau semacam itulah wana rambutnya, kemudiaan dia pakai kemeja putih yang ada noda expresso dibaju dan celananya. Dan satu lagi, wajahnya seperti orang sombong dan angkuh. Jadi, apa kalian tahu dia siapa?" tanya Luhan setelah cukup menjelaskan dengan panjang lebar, dan menampilkan senyum manisnya.
Namun kedua resepsionis yang ada dihadapanya hanya diam membeku, seperti orang yang habis melihat hantu, " Hei, kalian kenapa? Kalian kenal tidak?" ujar Luhan, kemudian melambaikan tangan didepan kedua wajah sang resepsionis.
Dan seketika sang resepsionis mengalihkan pandanganya kearah Luhan kembali, "Jika yang anda maksud adalah Tuan Oh, dia ada dibelakang anda sekarang" ujar resepsionis tersebut.
Dengan segera, Luhan membalikan tubuhya, dan
"AAAAAAAAAHHHH"
.
.
Jika itu kau, apa yang harus aku lakukan?
Jika memang itu kenyataanya, apa yang harus aku lakukan?
Jika tidak ada pilihan lain, bolehkah?
~Rendezvous 1~
"AAAAAAAAAHHHH"
Luhan berteriak kaget ketika ia menoleh, ia mendapati namja itu berada dibelakangnya.
Dengan gaya angkuhnya, melipat kedua tangan didada dan mata yang menyorot tajam menatap Luhan.
"A.. Apa yang kau lakukan dibelakangku?"
Tanya Luhan berusaha agar tidak gugup. Bagaimana Luhan tidak gugup saat dipandangi seperti itu?
Dan Luhan mengakuinya, bahwa namja ini tampan. Wajahnya yang tampan, warna rambut pirang, dan juga jangan lupakan rahangnya yang tegas, menambah kharisma yang dimilikinya.
"Menunggumu selesai bicara hal yang tidak berguna"
Jawab namja itu dingin, tanpa menoleh kearah Luhan.
"Tak berguna? Aku bahkan berpikir keras bagaimana cara untuk tahu dimana kau tinggal" umpat Luhan,
"Upgrade dulu otakmu baru berpikir. Kau bisa meminta alamat ku dengan jelas pada kkamjong, hal yang mudah. Kenapa kau harus repot dengan otak bodohmu itu?"
Ujar namja itu lagi, membuat Luhan memanyunkan bibirnya dikatai bodoh.
"Lalu, kenapa kau menyuruhku kesini?" tanya Luhan, "aku bahkan harus berlari untuk sampai sini, dasar namja menyebalkan,"
Oh, yang barusan adalah umpatan Luhan dalam hati, jadi namja didepannya itu tidak akan mendengar umpatan Luhan untuknya lagi.
"Kau pikir aku tidak tahu? Kau mengumpat? Gadis idiot" ujar namja itu dalam hatinya.
"Ah, aku hampir lupa. Sekarang, ikuti aku"
Perintah namja itu pada Luhan, dan kemudian bangkit dari kursinya, diikuti oleh Luhan.
Mereka menggunakan lift untuk menuju tempat yang namja itu tuju, dan saat didalam lift Luhan memberanikan diri bertanya,
"Hei, siapa nama mu? Kita bahkan belum berkenalan.."
"Sehun"
"Ah? Ne, namaku Luhan, Xi Luhan, kau bisa memanggilku terserah padamu"
Ujar Luhan kemudian tersenyum canggung, yang tanpa Luhan sadari, Sehun melihat senyum itu melalui dinding lift yang buram, namun masih terlihat.
Sehun tersenyum sebentar, tapi kemudian senyum itu hilang saat pintu lift terbuka. Sehun terus melangkahkan kakinya, hingga tiba didepan sebuah kamar nomor 520.
Sehun masuk kedalam kamar tersebut diikuti oleh Luhan, setelah berada didalam Luhan dibuat takjub dengan dekorasi vintage dan barang – barang antik yang diletakkan diatas meja dekat ruang tamu.
Tapi kemudian Luhan menyadari apa maksud Sehun menyuruhnya kesini, setelah melihat keadaan apartemen Sehun yang jauh dari kata baik.
"Bersihkan apartemen ini, aku tidak mau melihat ada debu yang tertinggal"
Ujar Sehun santai sembari berjalan kearah kamarnya yang berada disisi paling ujung.
Dugaan Luhan tepat!
Luhan membelalakan matanya tak percaya, belum sempat Luhan menyuarakan protesnya, Sehun kembali bersuara,
"Aku tidak menerima protes apapun, dan satu lagi, jangan menyentuh barang yang ada diatas meja itu, jika ada barang yang tergeser 1 senti saja, kau tau akibatnya"
Sehun menunjuk meja yang berada dipojok dinding ruang tamu yang berisi barang-barang antik milik Sehun yang sempat dilihatnya tadi.
..
..
Setelah selesai membersihkan apartemen Sehun yang hancur berantakan tadi, kini Luhan sedang duduk bersender diatas sofa milik Sehun.
Sejak sejam lalu, Sehun belum juga keluar dari kamarnya. Luhan menatap pintu kamar Sehun lama.
Hingga akhirnya Luhan tertidur disofa yang ia duduki tadi. Dan tak berapa lama kemudian, Sehun keluar dengan wajah pucat pasi,
"Lapar.. Aku lapar" Sehun berjalan dengan pelan dengan berpegangan dengan tembok untuk menuju dapur.
Sehun membuka semua lemari yang ada didapur, mencari makanan yang dibutuhkannya saat ini. Kemudian membuka lemari pendingin dan hanya menemukan sebotol air bewarna merah.
Sehun terburu – buru membuka botol tersebut, hingga tanpa sengaja Sehun menjatuhkan botol yang dipegangnya, membuat isi nya tumpah hampir separuhnya.
Luhan terbangun ketika mendengar suara ada yang jatuh, dengan segera Luhan bangkit menuju asal suara,
"Astaga, apa yang terjadi?"
Ujar Luhan panik ketika melihat botol yang isinya tumpah dan juga Sehun yang sedang terduduk lemas.
Luhan menghampiri Sehun memapah nya untuk bangun dan mendudukan Sehun diatas sofa.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" tanya Luhan,
"Aku la.. par" Jawab Sehun, masih dalam keadaan lemas.
"Tunggu disini, aku akan membuatkan bubur untukmu"
Grep!
Sehun menarik tangan Luhan yang hendak berdiri menuju dapur,
"Tidak perlu, bawakan saja aku botol tadi, cepat" ujar Sehun memberi perintah.
"Kau tidak akan kenyang jika hanya minum sirup, kau diam saja disini, aku akan membuatkan bubur"
Ujar Luhan masih bersikeras.
"KAU YANG DIAM! AKU MENYURUHMU MENGAMBIL BOTOL ITU, BUKAN MEMBUATKAN BUBUR!" Bentak Sehun.
"Tak perlu membentakku, tuan Oh Sehun. Kalau kau tidak mau, ambil sendiri botol itu, aku mau pulang" Luhan bangkit, menyambar tasnya dan berjalan keluar apartemen sebelum suara Sehun menginterupsinya.
"Kalau kau keluar dari apartemen ini, berarti kau juga harus keluar dari kedai itu" ujar Sehun dengan sisa – sisa tenaganya, "Kau boleh keluar dari sini atas persetujuanku, nona Xi Luhan-ssi"
"Sial," Luhan membalikan tubuhnya, menatap Sehun dengan raut tak suka. "Sedang sakit saja, masih bisa mengancamku" umpat Luhan dalam hati.
Luhan hanya tidak menyadari bahwa Sehun bisa membaca pikiran nya. Jika Luhan menyadarinya, sudah dipastikan tidak akan ada lagi umpatan yang keluar dari mulut manis yeoja itu.
"Cepat ambilkan botol itu," perintah Sehun, mau tak mau Luhan berjalan menuju dapur dengan menghentak – hentakkan kakinya.
"Kau bisa menghancurkan lantai apartemenku, jika cara jalan mu seperti itu" ujar Sehun membuat Luhan memelankan langkah kakinya.
Luhan meletakkan botol itu dihadapan Sehun dengan sedikit membanting mungkin? Membuat Sehun tertawa dalam hatinya. Bagaimana bisa yeoja berumur 24 tahun merajuk dengan wajah dan tingkah laku seperti anak kecil?
"Ini sudah larut, kau boleh pulang" Luhan semakin kesal setelah mendengar ucapan Sehun barusan.
Luhan pikir karena sudah larut, ia akan disuruh menginap disini, setidaknya tidur disofa Luhan tidak keberatan.
"Kau tidak menyuruhku menginap?" tanya Luhan dengan hati – hati.
"Menginap? untuk apa? Rumah mu dekat dari sini, untuk apa menginap?" Sehun sedikit tertawa, karena tubuhnya masih lemas. Ia harus menunggu Luhan pulang baru bisa meminum air dari botol itu.
"Dekat? Aku harus berlari 30 menit untuk sampai disini, kalau berjalan kaki mungkin 45 menit, ini sudah malam, tidak akan ada bus lagi malam ini" ujar Luhan dengan muka yang cemberut.
"Kau bodoh? Kau hanya perlu berjalan10 menit dari sini untuk sampai rumahmu"
Luhan berpikir sebentar, kemudian dengan tiba – tiba Luhan membuka tirai jendela, dan benar saja dugaanya.
Luhan melewati jalan memutar yang cukup jauh, padahal jika ia tidak melewati halte, ia hanya perlu melewati jalan besar setelah keluar dari jalan kecil rumahnya.
Luhan merutuki diri nya sendiri yang terlalu bodoh, "Arraseo, aku pulang" ujar Luhan kemudian keluar dari apartemen Sehun dengan langkah gontai.
Sedangkan Sehun hanya diam sejenak, setelah dirasa Luhan benar – benar pergi, Sehun dengan segera meraih botol yang ada dihadapannya dan meneguk habis minuman nya.
..
..
..
Pyororong~ The phone rang~ 5,6,7,8 Pick up! Pick up! Pick up! Pick up! Pick up! If you won't pick up the phone, I would'nt forgive you! zoockzoockzoockzoock! zoockzoockzoockzoock! Pyororong~ Pyororong~ Why not answer?
Ringtone ponsel Luhan terus berbunyi, namun sang pemilk masih enggan membuka selimut tebal yang masih menyelimuti tubuh mungilnya
"Eunghh.." hanya suara lenguhan yang terus keluar dari bibir plum yeoja itu.
Sekali lagi, suara ringtone ponsel nya berbunyi lagi, kali ini Luhan -sang pemilik ponsel membuka matanya sedikit dan meraih ponsel yang ia letakkan dimeja samping tempat tidurnya.
"Yeob..."
"Yak! Luhan! Kau ada dimana, hah? Ini sudah jam berapa? Kedai bahkan sudah dibuka, dan kau belum menampakkan batang hidungmu, huh?"
Luhan menjauhkan ponsel nya dari telinganya, menyelamatkan telinganya tentu saja, setelah mendengar ocehan Baekhyun yang beruntun, bahkan Luhan belum menyelesaikan ucapan nya tadi.
"Aku masih dirumah, Baek. Dan tolong kecilkan volume suara mu itu, aku bisa tuli mendengar suara mu yang melengking itu"
Baekhyun hanya mendengus sebal diujung telepon, tapi bukan Baekhyun nama nya jika ia langsung menghentikan ocehanya.
"Apa katamu? Masih dirumah? Kau gila? Sebaiknya kau bergegas kesini sebelum kau benar – benar dipecat, Lu" ucap Baekhyun. Luhan mengernyitkan dahinya bingung.
"Bukankah Jongin sedang pergi ke jepang hari ini? Jadi dia tidak akan tahu kalau aku telat hari ini" ujar Luhan yang masih tidak mengerti ucapan Baekhyun.
"Otakmu tertinggal di mimpimu ya? Jongin memang sedang tidak ada disini, tapi kau tau disini ada siapa?"
"Memangnya siapa? Kenapa kau terdengar panik sekali"
Baekhyun menepuk jidatnya, "Ya Tuhan, kenapa aku punya teman sebodoh dirimu, Lu. Disini ada Sehun!" ujar Baekhyun
"Oh, hanya Sehun, kenapa harus pan.. MWO?! Sehun? Oh Sehun maksudmu?" tanya Luhan, mata nya membola ketika menyadari orang yang sedang menunggunya saat ini.
"Kau pikir siapa lagi?" Baekhyun mendengus.
"Mati aku!" Luhan menepuk jidatnya, "Baek, katakan padanya aku akan sampai dalam 30 menit, ah, ani, 15 menit, aku akan tutup telepon nya" belum sempat Baekhyun menjawab, dari seberang telepon hanya tertinggal suara sambungan telepon terputus.
"Astaga anak itu benar – benar"
Setelah sambungan telepon terputus, Luhan segera masuk kedalam kamar mandi dan bersiap. Namun berbeda dengan Baekhyun yang berusaha agar jantungnya tidak berdebar berlebihan.
Baekhyun mencoba mentralkan nafasnya sebelum akhirnya menyapa Sehun,
" H.. Hai Sehun-ssi" Sehun menoleh sebentar, mendapati Baekhyun yang berdiri disampingnya dengan senyum canggung.
"Mana Luhan?" tanya Sehun
"Dia akan sampai disini 15 menit lagi, jadi tunggulah sebentar lagi"
Sehun tidak menjawab, ia hanya diam kemudian menyesap kopi yang sudah dipesannya tadi, sedangkan Baekhyun yang merasa tak direspon segera kembali mendekati Kyungsoo.
..
15 menit kemudian Luhan belum juga menampakkan batang hidungnya, dan Sehun hanya menampakkan wajah datarnya.
Baru dimenit 20 Luhan sampai dengan nafas yang terengah – engah. Tanpa mencari, Luhan sudah bisa melihat Sehun dengan pandangan keluar jendela dan wajah datarnya. Luhan menetralkan nafasnya sebelum menghampiri Sehun,
"Kenapa kau hanya berdiri disana?" mendengar ucapan Sehun, Luhan segera menghampiri Sehun dan duduk dikursi yang berhadapan dengan Sehun.
"A.. Ada apa?" tanya Luhan.
Sehun memberikan sebuah map yang berisi beberapa kertas, dan Luhan hanya mengernyitkan dahinya bingung.
"Itu tentang kesepakatan antara kau dan aku, aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun, jika kau tidak setuju, bersiaplah untuk dipecat" ujar Sehun sedikit sarkastik, kemudian meninggalkan Luhan dengan kebingunganya.
Setelah kepergian Sehun, Luhan mulai membaca kesepakatan yang dibuat Sehun, dan saat membaca kalimat pertama, Luhan hanya bisa membelalakan mata nya tak percaya,
Kesepakatan antara Oh Sehun dengan Xi Luhan:
Xi Luhan diharuskan untuk tinggal bersama Oh Sehun diapartemennya.
.
.
.
To Be Continued
Hai~~ Gimana? Udah cukup panjang belum? Banyak yang bilang chap kemaren terlalu pendek kan? Jadi ini dipanjangin, semoga tidak membosankan ya^^
Oh ya, FF ini dipost setiap hari sabtu atau minggu, tergantung waktu nya ya. Makasih yang sudah mau review^^
Last,
REVIEW Juseyo..
