Kresek kresek
Suara dari semak-semak mengundang rasa penasaran Sakura kecil. Ia yang tadi tengah bermain pasir di taman bermain ini perlahan meninggalkan tempatnya. Ia berpikir mungkin seekor kelinci tengah bermain di sana. Makanya, dengan langkah mengendap, kakinya menapak pelan mendekati semak itu. Takut-takut jika nanti malah mengusir sang kelinci.
"Aku akan menangkapnya dan aku akan memeliharanya," gumam Sakura kecil, terkikik senang memikirkan rencana yang nanti akan ia lakukan ketika kelinci itu ia tangkap.
Kresek kresek
Suara dari rumput itu semakin keras ia dengar. Barangkali Kelinci tersebut mendekat, Sakura berjongkok dan berjalan dengan posisi itu. Matanya bahkan tak berkedip jika saja kelinci itu melompat dan ia tak dapat menangkapnya.
Hingga tiba ia berada di depan semak-semak itu, Ia menahan nafas. Bersiap tangannya menyingkirkan semak-semak dari pandangannya. Bahkan ia menyiapkan diri untuk menangkap sang kelinci dan membawanya kerumah.
Sebelum ...
Bruk
Disclimer © Naruto by Masashi Kishimoto
© Tonari no Kaibutsu-kun
Warning : Jangan dicoret, Jangan dilipat, jangan disobek, jangan dirusak, jangan dijual story ini. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
Don't like? Don't read please. alur layaknya shinkansen (340km/jam).
Happy Reading.
Mata Sakura perlahan terbuka. Menarik dirinya dari dunia mimpi yang memanjakan dirinya tadi. Mengucek matanya pelan, ia memutuskan dirinya untuk bangkit mendudukan dirinya. Merenggangkan otot yang serasa kaku, ia menguap kecil. Mengumpulkan nyawanya hingga seratus persen terkumpul.
Tidurnya nyenyak semalam, tubuhnya fit dan sinar matahari yang menyeruak dari jendela sedikit membuat semangatnya mencuat keluar dari diri. Ia merasa hari seperti biasanya akan berulang hari ini. Semua akan biasa-biasa saja. Ya, Kecuali satu hal. Satu sosok pirang yang bersila di lantai tepat di sisi ranjangnya. Memandang dirinya dengan wajah tanpa dosa.
"Hmmm?"
"KYAA!"
Sakura langsung menarik selimutnya dan bergeser mundur ke sudut kasur yang menyatu dengan dinding. Memeluk selimutnya seakan ia telah menerima perlakuan tidak senonoh dari laki-laki pirang itu.
"Naru, kenapa kau di sini?" ucap Sakura dengan intonasi dan pandangan yang tajam. Mempertanyakan asal usul si mahluk pirang sampai berada di kamarnya.
Si pirang nyengir lebar. "Aku menjemputmu agar kita bisa pergi ke sekolah bersama," ujarnya.
Sakura semakin mengeratkan pelukannya pada selimut. "B-bagaimana kau bisa di sini? Siapa yang mengizinkanmu masuk?"
Naruto bertumpu dagu, matanya terpejam. "Umh, yah. Karena pintu rumahmu masih di kunci dan kuingat ada pohon mangga di samping rumah ini, aku pergi ke pohon itu dan memanjatnya. Aku menemukan jendela yang tak terkunci. Ya aku memasukinya. Dan betapa beruntungnya aku ternyata saat aku masuk aku menemukan Hero-Chan sedang tertidur."
Naruto tersenyum lebar usai menjelaskan kronologi dirinya masuk. Menatap Sakura yang saat ini membeku dengan pipinya yang merona. Bibirnya bergetar.
"M-m-menemukanku tidur? Ma-maksudmu saat aku, tidur?"
Naruto mengangguk. "Bahkan aku sudah memoto wajah tidurmu," Naruto menarik handphone dari saku jaket yang ia pakai dan menunjukannya pada Sakura.
"Lihat, sangat manis. Bahkan aku memakainya sebagai wallpaper." Naruto kembali memandang handphonenya.
Berbeda dengan Naruto yang tersenyum-senyum sendiri, Sakura hanya membatu di tempat serasa nyawanya telah melayang entah kemana.
"Aku akan meng-uploadnya. Siapa tahu Hero-chan akan jadi terk-"
"Kyaa, berikan padaku!" Tangan Sakura melayang mengambil handphone Naruto cepat. Membawa dirinya sebagai penguasa penuh akan handphone tersebut.
"Teme! kembalikan!" Naruto hampir mendapatkan handphone itu kembali sebelum tatapan tajam Sakura menghentikannya. Ia langsung menunduk takut.
"Bagaimana cara menghapusnya?" risau Sakura. Menyentuh semua sudut layar. Mencoba semua opsi menu dan menemukan satu sub menu yang bertuliskan 'Dellete'. Wajah Sakura berubah sumringah dan langsung mengklik tombol di layar itu. Ia mendesah lega, sebelum ia menemukan lebih banyak fotonya tersimpan di galeri Naruto.'Berapa banyak foto yang dia ambil?'
Ia hampir menjerit jika saja pintu kamar tidak terbuka secara paksa.
"Sakura, ada ap-" Mebuki Haruno terpaku di tempatnya.
Dan Sakura tahu, musibah telah datang lagi padanya. Harinya benar-benar seperti biasa. SEPERTI BIASA!
"Haha Sakura bertingkah seperti itu?"
"Ha'i, Aku juga tak menyangka Hero-Chan sangat menyukai ramen. Wajahnya penuh dengan kuah ramen. Aku kerepotan beberapa kali membersihkannya," Naruto mengangguk-angguk saat menceritakannya.
"Maafkan Sakura, Naruto-kun," ujar Kizashi dengan sedikit tawa yang terselip di setiap katanya. "Dia memang sedikit tomboy."
"Ayah!" Sakura menatap tajam Kizashi Haruno yang kini tengah terbahak.
"Kau ini, tak sopan membentak ayahmu," peringat Mebuki yang duduk di samping Kizashi. Mengoleskan selai pada roti miliknya.
Sakura merasa dianak tirikan sekarang. Bagaimana tidak, setelah tadi ibunya menemukan ia dan Naruto di kamar dan membawanya ke ruang tamu, semua yang ia kira akan menjadi musibah malah bertambah parah menjadi bencana.
Memang, awalnya suasana mencekam melingkupi ruang tamu. Ayah dan Ibunya menatap mereka penuh selidik. Seakan mereka berdua-Naruto dan Sakura-telah melakukan hal tidak pantas di kamarnya tadi. Tapi entah bagaimana ia lupa lagi, semuanya berubah terbalik saat Naruto mulai bercerita. Tentang dirinya-Naruto-, tentang ia dan tentang mereka berdua.
Dan lihatlah, Ayahnya, Ibunya dan Naruto bagai keluarga yang tengah bercanda di saat sarapan. Saling tertawa bersama membicarakan dirinya sebagai objek candaan.
"Kau itu perempuan Sakura, harusnya lebih bisa menjaga sikapmu agar lebih peminim. Setidaknya untuk diluar rumah. Jangan samapai merepotkan Naruto-kun," ceramah sang Ibu membuat moodnya semakin down.
"Aku berangkat!" Sakura langsung angkat berdiri setelah menyelesaikan sarapannya. Menjinjing tas dan beranjak pergi keluar. Meninggalkan orang tuanya dan Naruto yang masih berkutat di meja makan.
"Maafkan dengan sikap Sakura, Naruto-kun. Dia mungkin menyusahkanmu," ungkap Mebuki sekali lagi yang ditanggapi senyum oleh Naruto.
"Tak apa, Haruno-san. Aku senang berteman dengan Hero-Chan. Dia gadis yang baik," timpal Naruto tulus. Bangkit dari duduknya bersiap menyusul Sakura.
Kizashi mengangguk, "Tolong jaga Sakura." ia tersenyum. Naruto mengangguk.
"Tentu saja. Aku ingin menyusul Hero-chan. Permisi." Naruto langsung beranjak pergi setelah diberi izin oleh mereka-Ibu dan Ayah Sakura.
"Haah, Sakura mengingatkanku pada seseorang ketika Ayah masih muda," ujar Kizashi membuka koran harian.
"Jangan mengungkit-ungkit masa lalu."
Kizashi tertawa mendengarnya. Membuka halaman baru pada koran yang ia baca.
"Harusnya kau sadar darimana dia mendapat sifat seperti itu."
Mebuki kali ini tak menjawab. Enggan berkomentar lebih jauh lagi tentang itu.
"Kenapa lama sekali?!" Jambrudnya langsung melayangkan tatapan tajam pada Saphire Naruto yang baru saja mendekatinya. Bersilang tangan di depan dada meminta penjelasan.
"Apa yang mereka bicarakan padamu?"
Naruto menggaruk belakang kepalanya. "Tak ada, aku hanya menghabiskan Roti. Sayang kalau disisakan." Naruto tersenyum lebar. Sakura memicing.
"Mereka membicarakanku? Mereka menjelekanku?" tanya beruntun Sakura padanya. Membuat Naruto kesesusahan memikirkan jawaban yang harus ia berikan.
"Etto~, mereka hanya meminta alamat kedai ramen kemarin. Ah, Ya, alamat kedai ramen kemarin."
Sakura menghela nafasnya keras. Dari sudut manapun terlihat jelas itu semua hanya kebohongan. Ia berbalik, kembali meneruskan perjalanannya yang tertunda gara-gara menunggu Naruto tadi. Sedang dengan Naruto, ia mensejajarkan langkahnya dengan Sakura. Memandang wajah Sakura dengan senyum simpul yang tak mau gadis itu perdulikan. Bukan karena sebal, lebih berbahaya dari itu. Jantungnya. Jantungnya bisa meledak.
"Hah?!"
Sakura tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat membandingkan kertas milik Naruto dan dirinya. Angka merah yang tertera di sudut kanan atas bisa langsung berkata jika dialah yang kalah telak. Tiga angka berderet berbanding dengan dua angka berderet. Seratus untuk kertas Naruto dan sembilan puluh delapan untuk kertas yang lainnya.
"Aku ingin punya kucing." Gumam Naruto yang tak di hiraukannya. Ia meremas sedikit kertas nilai ujiannya.
"Kenapa? Kenapa?"
"Hm? Karena kucing itu kawai. Aku suka kucing."
"Aku tidak bertanya padamu!" Sakura menoleh cepat kearah Naruto. Pandangannya tak bisa dibilang ramah untuk saat ini. Membuat Naruto langsung ciut. Bagai anak kucing yang baru tersiram air.
"Baik, simpan hasil ulangan kalian dan kita mulai pelajarannya." ujar guru pengajar. mendengarnya Sakura memerhatikan pelajaran. tak ingin rasanya nilai yang ia punya lebih buruk dari ini.
Tuk
Sakura melirik bangkunya. Baru saja ia bisa melihat sebuah kertas jatuh ke mejanya. Mendapat sebuah surat kecil, ia membukanya dan membaca itu.
"Kalian semakin dekat saja. Aku iri. Haha hanya bercanda."
Sakura mengangkat alis, menatap pada bangku Ino yang pemiliknya saat ini melambai tangan kecil padanya.
Sakura tak membalas, hanya terdiam memerhatikannya.
"Hmm, apa yang kau baca, Hero-chan?"
"Bukan apa-apa," Jawab Sakura cuek bebek. Memilih berdiam diri dan tidak terlibat pembicaraan dengan si pirang di sampingnya ini. Rasa kesal sudah menumpuk dalam dirinya. Entah itu soal foto, keluarganya, dan sekarang dia telah menyalipnya dengan mendapat nilai sempurna tanpa cacat. Wajar untuknya agar tidak pernah bercakap-cakap dengannya selama seharian ini. Perduli amat dengan janjinya di atap beberapa waktu lalu.
"Hmmm, ada yang aneh."
"Apa?" Sakura melirik Naruto. Apa Naruto menyadari dirinya tengah sebal padanya?
"Kerumunan apa di bawah sana itu, Hero-chan?"
Sakura berjengit alis, ia kira dugaannya benar. Sedikitnya ia bersyukur mendapat tanggapan demikian. Setidaknya ia tidak harus mengulang kesalahannya lagi.
Mengangkat tubuhnya sedikit menilik pada jendela Iapun mendesah, "Hanya kerumunan gadis yang membuntuti Sasuke-kun."
"Kau tak ikut?" Tanya Naruto yang langsung dijawab gelengan oleh Sakura.
"Untuk apa?" Sakura kembali memusatkan atensinya pada buku yang tadi ia baca.
Naruto ikut menilik pada buku yang Sakura baca. Melihat sekilas sebagian paragraf yang terbaca. "Kau suka baca yang seperti itu?"
"Hey!" Sakura tersentak dan secara refleks menutup langsung bukunya. "Apa kau tak ada pekerjaan lain, Naru?"
Naruto mengangkat pundaknya, "Tak ada. Nilaiku di atas minimal, jadi aku tidak perlu meghkawatirkan nilaiku. Hero-chan tidak bosan belajar?"
Sakura mendengus, tak menjawab apa yang baru saja Naruto tuturkan. Apalah, bagai Naruto tengah menertawakan nilainya yang sedikit lebih rendah dari pemuda itu. "Aku bukan orang jenius yang tidak perlu belajar untuk mendapat nilai bagus seperti dirimu, Naru."
"Souka?"
Sakura menoleh, memerhatikan Naruto yang berjalan menuju lemari buku, mimilah-milah sebagian lalu duduk dengan satu buku di pegangannya. Ia sedikit sweatdrop, pasalnya apa yang Naruto bawa adalah sebuah buku 'Perawatan Kucing'. Ia pikir Naruto akan memilih buku yang lebih jenius lagi.
Tak mau mengurusi lebih jauh, Sakura melanjutkan proses belajarnya. Meski ada rasa aneh Karena Naruto tak seribut biasanya, tapi ia pikir setidaknya dia tak mengganggu waktu belajarnya. Sepertinya janji itu ditepati oleh Naruto.
"Naru, boleh aku tanya sesuatu?" Sakura meletakan pulpennya sembarang di atas meja. Memejamkan mata dan menarik nafas dalam. Mengeluarkannya seakan ia telah siap mengajukan apa yang ingin ia ungkapkan.
"Ne, tentang Ino, Kenapa kau menjauhinya?" Ucapnya. "Yang kutahu dia gadis yang baik, dia juga cantik. Dia juga bilang dia selalu memerhatikanmu."
"..."
Tak mendapatkan jawaban akhirnya Ia menghela nafas, menoleh langsung pada pemuda yang menjadi teman mengobrolnya.
"Maksudku, kau sebaiknya ..."
Sakura terbelalak, mulutnya bergetar dan wajahnya memerah. Tangannya mengepal keras.
"K-"
"K-k-ke..."
"KENAPA KAU TIDUR, BAKA!"
"Uwoah, masih benjol ternyata," Ucap Naruto terkagum-kagum. Menyentuh-nyentuh sedikit benjolan kecil di ubun-ubun kepalanya. Mengaduh kecil saat mengenai pusat rasa sakit di sana.
"Pukulanmu kuat juga, Hero-chan." Naruto memberikan senyum lebar pada Sakura membuat gadis itu memalingkan wajah sembari bersweatdrop. "Kau tidak normal," gumamnya.
Teringat akan sesuatu, Sakura lekas menatap Naruto kembali. Menahan Naruto dengan menarik lengan bajunya.
"Ada yang ingin kutanyakan. Kau kenal dengan Ino, 'kan?"
Terlihat jelas tubuh Naruto bergidik kala pertanyaan itu didengarnya. Sakura sendiri terheran-heran akan itu. Rasa penasarannya semakin memuncak.
"Kudengar kau selalu menjauhinya, boleh kutahu kenapa kau melakukan itu?"
Naruto memandang Sakura dengan pandagan horror. Meraih pundaknya kuat. Keringat kecil turun dari pelipis ke dagu pemuda itu.
"H-Hero-chan, kapan kau bertemu dengannya? Kenapa kau bisa bertemu dengannya?"
Sakura menaikan alis heras, "Kenapa? Dia satu kelas dengan kita. Jangan bilang kau tidak tahu?"
Naruto terlihat shock, melepas pegangannya pada pundak Sakura lalu berbalik. "Oh astaga, ini gawat. Ini bencana. Bencana yang gawat. Bencana besar yang sangat gawat. Darurat. Telepon 911. Ok , siap. Sebentar lagi." Gumam pemuda itu, berjongkok dan menutup telinganya.
Sakura tentu gelagapan, melihat reaksi Naruto yang berlebihan seperti ini diluar prediksinya.
"Naru, memangnya ada apa?" Sakura ikut berjongkok namun tiba-tiba Naruto berbalik dan kembali memegang pundaknya. Sakura sampai terkejut karena wajah Naruto terlalu dekat dengannya.
"Hero-chan, mulai dari sekarang, jangan pernah mendekatinya. Untuk selamanya jangan."
Sakura berkerut, "Untuk apa aku melakukan itu?"
"Pokoknya jangan mendekati dia!"
Sakura menggeleng dalam ketidakmengertiannya. "Tidak jika aku tak tahu akar permasalahannya."
"Hero-chan, percayalah padaku. Dia itu berbahaya!"
Sakura berkedip sebentar. "Apa maksudmu berbahaya? Pokoknya aku menolak."
"Kau mau berkelahi ya? kubilang jangan mendekatinya, ya jangan. Dia berbahaya." Naruto kini membentaknya. Memasang wajah yankee seperti saat pertama kali mereka bertemu.
Narmun Sakura tak goyah, menatap balik dengan pandangan sama tajamnya. "Sekali tidak ya tidak, Naruto!"
"Aku tak tahu apa yang dia pikirkan. Aku tak ingin kau terluka!"
"Terserah, aku tak mau tahu. Kau ceritakan atau kau harus menjauh dariku 3 meter?" Memang sedikit egois menurutnya, tapi apa salahnya. Ia hanya ingin lebih mengetahui tentang Naruto. Ia tak tahu apa yang ia rasakan, tapi jika Naruto menganggap dirinya penting, ia juga ingin menganggap pemuda itu penting juga untuknya.
Naruto akhirnya menyerah. Melonggarkan pegangannya pada pundak Sakura. "Haah~, Ino itu sebenarnya..."
Sakura mengetuk-ngetukan ujung pulpen pada meja belajarnya. Lampu kamar telah padam, hanya sorot cahaya dari lampu belajar yang meneranginya. Buku-buku memenuhi meja namun semua tidak menjadi objek pusat dari netranya. Jambrudnya justru memandang jauh ke langit malam yang bertabur bintang. Mengikuti kemana awan berarak.
Merasa tak bisa berkonsentrasi lagi, pada akhirnya ia membereskan semua buku. Memasukan semua keperluan untuk besok kedalam tas, lalu mematikan lampu belajarnya.
Berbenah diri dalam kasur sebelum ia memaksa dirinya untuk terlelap.
Bruk
Sakura kecil terjengkang setelah dirinya membentur sesuatu yang tak ia kenal. Mengaduh kecil, ia mengusap dahinya sembari menahan tangis. Rasa sakitnya tak tertahankan.
"Ah, maafkan aku, aku tak sengaja."
Sakura mendongak, melihat sosok yang kira-kira sebaya dengannya tengah berdiri dengan mimik polos khas anak-anak. Di dahi anak itu juga memerah, sama sepertinya. Dan ia bingung, apa anak itu tidak merasa sakit?
"Ayo, aku bantu."
Tangan mungil anak tadi terulur, memengang tangan mungil Sakura dan membantunya berdiri. Anak laki-laki itu juga membersihkan baju Sakura yang kotor, menepuk-nepuknya pelan.
"Terimakasih," Ucap Sakura. Mengusap air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.
Anak itu mengangguk dan juga tersenyum. "Sama-sama." Namun tak lama ia pun tersentak, seperti teringat akan sesuatu yang ia lupakan.
"Ne, maaf. Aku harus mencari kucing. Kucing hilang." Anak itupun menjauh darinya, menyusuri semak-semak taman yang cukup rimbun, meneriakan kata 'Kurama' cukup nyaring.
Sakura juga kurang mengerti, mungkin itu nama kucing yang dicarinya.
Karena tak melihat anak itu lagi, pada akhirnya Sakura berbalik. Lebih memilih pulang kerumahnya untuk mengobati dahinya yang masih berdenyut.
"Siapa dia ya? Aku belum pernah melihatnya."
TBC
Gak mau banyak cucol, malu udah lama gak muncul wkwk
Btw, Ino itu siapa yak? Ditebak-tebak aja, ya haha
Oh, chapter terakhir Lolicon akan secepetnya di update. Tunggu aja yang mau nunnggu, yang gak mau, harus nunggu. #Deeng
Sekian dan Wassalamu'alaikum.
Review?
