Café de Romancé

Sasuke mengantarkan Naruto pulang setelah gadisnya inipuas makan ramen, bagaimanapun juga Sasuke tidak suka kalau Naruto terus-terusan marah pada ibunya. Dan sebagai calon menantu yang baik, maka Sasuke akan mencoba berbicara pada Kushina, kalau dirinya akan mengajari Naruto sampai tunangannya ini mengerti.

"Suke… kenapa harus pulang?" rengek Naruto, ah sepertinya gadis tercintanya ini takut akan kemarahan Kushina.

"apa kamu nggak mau pulang? Bagaimana kalau Kyuubi dan Deidara mencarimu, hm? Lalu papa Minato dan mama Kushina?"

"mama nggak mungkin cemas, yang ada malah aku nanti dimarahi mama. Aku takut Suke..." rengekan Naruto ternyata tidak berhenti disitu, membuat Sasuke jadi gemas sendiri setiap kali melihat sikap kekasih hatinya ini.

"kenapa harus takut? Nanti aku akan bicara pada mama, kalau kamu akan aku berikan les-private. Pasti mama nggak akan marah lagi." Hibur Sasuke, mengelus lembut surai pirang milik Naruto, tidak lupa seulas senyum menenangkan yang selalu berhasil membuat para gadis diluaran sana jatuh pada pesonanya, andai saja Sasuke mau mengumbar senyum tersebut.

"tapi... aku nggak mau belajar.." rajuknya. Sasuke baru ingat kalau gadisnya ini memang sedikit susah diatur soal pelajaran.

"hmm? Kenapa? Kamu nggak mau masuk universitas yang sama denganku, sayang?" tanya Sasuke, beginilah caranya untuk memancing semangat belajar Naruto. Universitas yang sama dengan dirinya.

"mau… tapi belajar itu membosankan Suke… yang ada nanti aku malah ketiduran." Elak Naruto, entah kenapa gadis ini selalu punya alasan untuk mengelak setiap perkataan Sasuke.

"ya sudahlah kalau kamu nggak mau kuatur. Terserah padamu saja. Tapi jangan merengek padaku jika mama marah padamu ataupun kita berbeda universitas." Tukas Sasuke, dia tidak terlalu suka berdebat dengan Naruto, Sasuke juga nggak akan memaksa Naruto untuk selalu menuruti kata-katanya. Mimik wajah Naruto berubah panik saat mendengar penuturan Sasuke barusan. Dirinya tidak mau beda universitas, sudah cukup mereka berpisah saat SMU, jangan sampai diperguruan tinggipun dirinya berpisah dengan Sasuke.

"Suke... aku nggak mau beda universitas... pokoknya kamu harus satu universitas denganku. Aku nggak mau pisah lagi." Rengek Naruto. Gadis manis ini bahkan menarik-narik lengan Sasuke demi mendapatkan perhatian penuh dari tunangannya. Matanya sudah berkaca-kaca dan hendak menangis.

"kan kamu sendiri yang nggak mau belajar... meskipun ujian masuk masih lama, tapi semuanya kan harus disiapkan sejak lama."

"baiklah... aku mau belajar sama Sasuke... tapi setelah belajar kamu harus mentraktirku ramen.. ya? Ya?" usul Naruto, selalu saja berakhir dengan ramen. Tapi Sasuke tetap menyetujui usulan kekasihnya ini. Yah daripada Naruto sama sekali tidak mau belajar?

"iya." Dan keduanyapun tiba di kediaman keluarga Namikaze-Uzumaki, tempat dimana gadis pirang ini tinggal.

Café de Romancé belong to me

Naruto milik Masashi-Kishimoto sensei…

Rate T

Romance, drama mungkin

Warn: femNaruto. Typo, bahasa ambrul adul dan nggak sesuai EYD. Cerita aneh dan pasaran. If you don't like, please, read it! Yaaa… sapa tau aja ntar jadi suka? Hehehe. Happy reading!

Chapter 3

"Naru-chan setuju dengan usulanmu itu, Sasuke-kun?" tanya Kushina antusias. Sesaat setelah Sasuke duduk bersama Naruto diruang tengah.

"iya ma… mama nggak marah kan sama Naruto?"

"tentu saja nggak. Asalkan putri mama mau belajar. Tolong ajari tunanganmu ini ya Sasuke-kun. Buat dia jadi pintar sepertimu.." sahut Kushina. Sedari tiba tadi, Naruto hanya diam dengan kepala tertunduk, bahkan kalau dilihat-lihat seolah Naruto bersembunyi di belakang Sasuke.

"iya ma..."

"Naru-chan?" panggil Kushina.

"ya ma?" sahut Naruto kecil, dia merasa takut kalau mamanya masih marah padanya.

"sayang... mama nggak marah kok, kalau kamu mau belajar dengan Sasuke-kun. Jadi nggak usah sembunyi begitu..." bujuk Kushina.

"bener mama nggak marah lagi?" cicit Naruto.

"iya sayang... tapi kalau masalah ramen, keputusan mama tetap sama."

"uhh… mama menyebalkan…" rengek Naruto, entah pergi kemana rasa takutnya tadi. Memang semua putri dari keluarga Namikaaze ini tidak bisa terlalu lama marah ataupun takut pada kedua orang tua mereka.

"itu hukumanmu sayang…"

"ya sudah nggak masalah. Masih ada Suke yang mau mentraktirku ramen Ichiraku kok.." balas Naruto, sama sekali nggak mau kalah dengan mamanya.

"tapi kamu harus belajar dulu sayang.." sahut Sasuke ikut menimpali. Dirinya mendapatkan jawaban berupa pipi yang mengembung dan wajah cemberut Naruto. Hingga membuat pemuda ini gemas dan tidak segan-segan untuk mencubit kedua pipi tembam gadisnya.

"awawawa... swakwit Swukwe..." rengek Naruto, meraih kedua tangan Sasuke yang mencubit pipinya. Meminta kekasihnya ini untuk melepaskan cubitannya.

"manisnya…" bahkan cubitan Sasuke semakin gemas. Membuat rengekan Naruto semakin jelas terdengar. Interaksi dua anak muda didepannya ini membuat seulas senyum terukir diwajah Kushina. Ketiga putrinya sudah dewasa, bahkan masing masing dari mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Kyuubi yang sudah resmi menjadi istri Itachi, Deidara yang baru saja menikah dengan Sasori, lalu putri bungsunya yang sudah bertunangan dengan Sasuke.

"ahh… sepertinya sebentar lagi mama akan kesepian tanpa putri bungsu mama yang paling menggemaskan ini.." keluh Kushina, membuat keduanya memberikan perhatian penuh pada Kushina.

"mama tenang saja, sebentar lagi mama pasti mendapatkan pengganti si dobe ini kok." Sahut Sasuke, panggilan sayangnya keluar lagi.

"hmm… benar juga ya… tapi tetap saja rasanya sepi…"

"mama, kalau mama kesepian… mama minta ditemani papa aja, atau nggak buat anak lagi aja." Usul Naruto, tentu saja dengan wajah polos yang manis dan menggemaskan.

"hahaha… akan mama pikirkan itu." Dan mereka bertigapun kembali terlarit dalam obrolan.

Akuma-Kurama

Hari ini, Naruto terlihat sangat manja sekali pada Sasuke, bahkan gadis manis ini sampai meminta sang tunangan untuk menemaninya tidur siang diatap sekolah si pirang. Kalau saja Sasuke tidak mencintai Naruto dengan tulus dan segenap jiwa raga (halah), dijamin, pemuda raven ini pasti tidak mau repot-repot datang ke sekolah khusus putri tempat tunangannya belajar.

Bagaimana bisa Sasuke masuk kesekolah tersebut? Yang namanya sekolah khusus putri itu bukankah seorang siswa dilarang memasuki gedung sekolah kalau tidak ada acara resmi? Jawabannya karena sekolah tersebut milik Tsunade, nenek si pirang. Jadi bukan masalah besar bagi Sasuke untuk mendapat ijin kegedung sekolah ini.

"nee, Suke…" panggil Naruto pelan, matanya masih terpejam dan menikmati semilir angin sepoi yang menerpa keduanya.

"hn?"

"makasih… kamu udah mau datang…" lanjut si pirang. Sasuke menundukan kepala untuk melihat wajah si pirang, karena Naruto berbaring dengan kepala yang ada dikedua paha Sasuke.

"apapun buatmu." Jawaban Sasuke menuai senyuman manis dari Naruto.

"beruntungnya aku punya kekasih sepertimu, Suke..."

"hn, kamu baru sadar itu sekarang? Kemana saja kamu selama ini, dobe..." goda Sasuke. Ah, bungsu Uchiha ini memang selalu Out Of Character kalau sudah bersama dengan Naruto.

"huh... dasar menyebalkan. Jangan panggil aku dobe, temen." Rungut Naruto kesal, dia bahkan membalas ejekan Sasuke.

"bisa berkata kasar, eh? Dobe-chan?" goda Sasuke lagi. Si raven memang suka sekali menggoda tunangannya. Dia suka setiap ekspresi yang dikeluarkan Naruto. Sasuke mengusap lembut pipi Naruto

"huh… aku nggak bodoh, teme!" seru Naruto, wajahnya sudah memerah, entah karena malu atau marah.

"benarkah? Tapi kenapa kemarin nilaimu dapat D?"

"itu karena… uhh karena…. Aku, uhm aku lupa belajar teme." Wajah Naruto terlihat kalang kabut saat mencari alasan tersebut, membuat Sasuke semakn gemas ingin menggoda Naruto lebih lanjut. Namun sayangnya, bel tanda sitirahat telah usai sudah berbunyi, membuat Sasuke membatalkan niatnya.

"sudah bel dobe, ayo kuantar kekelasmu..." ajak Sasuke, tapi Naruto sama sekali tidak mau beranjak dari posisi semula.

"kenapa?"

"nggak mau diantar... aku masih mau disini bersamamu..."

"manja sekali kamu hari ini sayang... ada apa?"

"aku cuma mau bersama Sasuke lebih lama. Habisnya setiap pulang sekolah, Sasuke selalu sibuk mengurus café..." ah, ternyata karena masalah itu.

"hey... kamu bisa datang kapanpun kamu mau, dobe. Aku nggak pernah melarangmu kan?"

"tapi... pasti nanti aku dicuekin sama Sasuke. Kamu pasti akan sibuk dengan kertas-kertas yang ada dimejamu..."

"hmm... kamu bisa menemaniku di café, aku nggak akan mengabaikanmu kok. Aku lebih senang kalau ternyata gadisku ini mau menemaniku bekerja.." rayu Sasuke, yah siapa tau saja berhasil dan dia bisa ditemani Naruto sepanjang hari.

"uhmm... baiklah." Akhirnya Naruto setuju dengan usulan Sasuke.

"bagus, nah kalau begitu, ayo kuantar kekelasmu." Naruto menangguk kecil dan berdiri dari posisinya, menepuk-nepuk rok bagian belakangnya untuk membersihkan debu.

"ayo..." Sasuke mengulurkan tangannya, bermaksud untuk menggandeng tangan kekasihnya ini. Mereka berdua berjalan dengan tangan yang saling bertautan, menyusuri lorong yang mulai sepi karena semua siswi yang sudah berada didalam kelas. Namun saat keduanya melintasi koridor kelas, banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya. Merasa suatu hal yang langka ada seorang siswa disekolah mereka. Ditambah lagi siswa tersebut sangat tampan. Sehingga jeritan histeris sama sekali tidak dapat dielakkan.

"selamat belajar dobe, nanti aku jemput." Sasuke mengantarkan Naruto tepat sampai kedepan kelas si pirang. Naruto mengangguk dan tersenyum kecil.

"aku tunggu… bye Suke." Naruto segera masuk kedalam kelas, yang mana seisi kelas sudah menatapnya dengan pandagan iri, heran dan lain sebagainya. Tapi yang menjadi objek pandangan sama sekali tidak peduli dan memilih duduk ditempatnya. Naruto sudah terlalu sering berada dalam situasi seperti ini.

.

.

.

.

To be continued…

Hahh…. Karena faktor kemalasan dan juga Kuu yang buntu ide, akhirnya cerita ini sama sekali nggak nyambung deh. Geje dan absurd. Aneh pula! Oh my God...

Yah, tapi Kuu hanya bisa berharap kalian mau baca ini dan kasih kritik dan saran kalian di kolom review. Nyehehehe... dan buat yang udah mau baca apalagi mereview cerita Kuu, Kuu ucapin tirema kasih sangat pada kalian. Arigatou minna...

Last, review kudasai...