:D
*reader hanya menatap dengan pandangan, 'Elu siapa. Datang-datang meringis begitu!'*
Sini, saya ciumin satu-satu *ditempeleng* Saya kangen ama kalian, sih :3
Entah apa yang harus kupikirkan saat ini. Begitu banyak hal yang terjadi padaku hingga rasanya otakku untuk pertama kalinya, tidak bisa mencerna apa yang sebenernya terjadi. Bahasa keren dan gaulnya, What the hell is going on? Alias, neraka apa yang tengah berlangsung. Itu terjemahan alaynya.
Rasanya baru tadi saja aku berbaris di padang gersang, panas, dan membuat kulitku yang putih tanpa lulur ini mungkin terkena radiasi sinar matahari. Belum lagi di alam Reformasi itu. Heck, nama alam-nya aja norak gitu. Sekalian aja ubah jadi alam Gotong Royong.
Oke. Ini mulai tidak nyambung.
Dan rasanya baru tadi aja aku terdampar di Kutub Utara berkedok Hawaii itu. Dan mengingat-ingat itu, mau tak mau aku harus ingat juga pada benda nista dan laknat yang sekarang tengah berkepak-kepak dengan suara mengerikan di balik punggungku.
Sumpah, ini sayap punya pikiran sendiri, ya? Pengen banget aku budeg aja daripada denger suaranya. Hanya saja... Oh, men! It's disgusting, embarassing, devastating, insulting, annoying, dan bling-bling! Ya, bling-bling! Karena saat aku sempat lihat kaca tadi, aku langsung mengernyit silau oleh kemilau sinarnya itu tanpa polesan urang-aring itu.
Dan sayap itu terus berkepak-kepak tak peduli teriakan hatiku yang frustasi buat bikin dia diem, atau lebih bagus lagi, nyungsep ke dalem deh di tubuhku.
Pink. Transparan. Glittering. Kupu-kupu style.
Wotdepak! Itu lebih buruk ketimbang sekedar bermimpi bahwa keriput Itachi menurun padaku melalui gen!
Gak ikhlas! Gak niat! Gak becus! Itulah umpatan yang kuikrarkan dalam hati kepada persekutuan geje nan sok eksis di alam formasi tadi, atau kemarin? Entahlah.
.:oOo:.
Uchiha Yuki-chan (not so) proudly presents...
Naruto (c) Masashi Kishimoto.
Stupid Mission of Stupid Devil by Stupid.. errr... Who? (c) Uchiha Yuki-chan
Sasuke is Yuki's toilet's cleaner *burnt*
Rate: T.
Genre: Humor/ Romance / Fantasy.
Warning: What do you expect from my fics? Ofcourse, OOCness here and there. Include the using of Bahasa anak gaoehl. Plot kurang ngena. Romance minim. Bagi para penggemar fanatik si Sasuke Uchiha, silahkan klik back button atau tutup tab/windows sebelum kalian memberi flame pada saya
I ain't gaining any commercial advantage by publishing this fic. Thank You.
.:oOo:.
Aku tak tahu apa yang harus kupikirkan. Aku tak tahu aku harus kemana, dimana, dan kemana. Layaknya alamat palsu-nya Ting Ting Ayu, aku kini tersesat. Setelah pingsan karena syok melihat refleksiku di layar kaca (?), aku pingsan dan dengan tidak elitnya (dan KEBETULAAAANNNN, banget!) jatuh gedebuk di tempat sampah samping gedung perkantoran.
Lengkaplah kelaknatan ini. Masa jaya dan terhormatku sebagai seorang Uchiha harus berakhir dengan menyedihkan. Selanjutnya apa? Manusia yang akan kutemui dan menjadi partnerku adalah seorang banci?
Hah.
Jika iya, aku bunuh diri aja deh.
Dan kini, aku tengah duduk di jalanan sepi nan sempit di antara gedung-gedung pencakar langit. Gelap, hujan rintik-rintik, dan suara bergemuruh. Belum lagi tikus yang berkeliaran kesana-kemari di sekitarku.
Well, I'm in a so gembelest state. Aku yakin, kalian yang merupakan fansgirl dan fansboy Sasuke Uchiha pasti akan menangis tersedu-sedu membayangkan keadaanku ini. Menangislah. Kasihanilah. Simpatilah. Sudah dua hari saya tidak makan di Solaria...
Ehem!
Pokoknya laknat banget.
Dan aku rasanya pengen pergi, tapi tidak tahu kemana. Ini dimana saja aku tak mengerti. Karena begitu bangun dari bak sampah, aku langsung jatuh terduduk dan bersandar aja di tembok di samping bak sampah tersebut. Terlalu lemah dan terlalu gengsi untuk menggunakan kembali fungsi anatomi tubuhku yang baru. Heck, akan kubuktikan kepada persekutuan sok eksis itu bahwa aku tidak butuh sayap co-pas dari Barbie Fairy Tophia ini.
Apaan! Lebih baik gue ngesot aja kemana-mana.
Daripada bengong, lebih baik aku menyanyi saja dan memperdengarkan suaraku yang sebelas dua belas ribu dengan Daniel Pedrosa ini (?). Lagu apa yang lagi nge-trend?
Ah ini aja.
Tanpa testing vokal dulu layaknya moderator di acara kondangan pengantin, aku langsung menyanyi.
"If I'm not the one, then why does your soul feel glad, today?" ujarku dengan suara yang sangat merdu, hingga saat aku melirik ke sekitar, tikus-tikus yang berkeliaran berhenti sejenak dan memerhatikanku, "If I'm not the one then why does your hand fit mine, this way? If I'm not the one then why does your heart return my call? If I'm not the one would you have the strength to stand at all?"
CTAR! CTAR! GLEGER!
Dan suara petirpun menyambar diiringi semakin derasnya hujan.
"You don't wanna run away but you can't take it you don't understand. If you're not made for me then why does your heart tell you that you are?"
Aku, layaknya remaja galau to the max yang menjomblo di malam Minggu, aku semakin menyanyi dengan penuh penghayatan. Bahkan mataku udah memejam dan kedua tanganku udah memegang sebuah sapu ijuk bekas dari dekat bak sampah dan kugunakan sebagai gitar bohongan.
Well, Sasuke. Kau melaknatkan dirimu sendiri. OOC gila!
"Is there anyway that you can stay in my AAAAAAARRRRR– Uhuk! Uhuk!" dan dengan tidak elit dan nistanya, lagu itu harus kuakhiri dengan suara batukku layaknya kakek-kakek usia kronis. Aku membuang sapu ijuk berkedok gitarku itu ke sembarang arah, untuk kemudian menggunakan tanganku untuk menepuk-nepuk dadaku.
Sigh. Dari dulu aku tidak bisa menyanyikan bagian dari reff lagu itu. Nadanya itu lho, tinggi banget.
"Well, sayang sekali. Padahal kulihat para tikus sudah berkumpul menikmati konser tunggalmu."
Kegiatanku menepuk-nepuk dadaku terhenti saat mendengar suara itu. Mataku yang semula terpejam menahan sakit karena terbatuk, membuka dan secara otomatis, melihat sepasang kaki menapak di atas tanah di depanku.
Tanpa pikir panjang, aku mendongak dan mendapati seorang Maria Ozawa berdiri di depanku.
.
Oke, tak peduli betapapun aku berharap itu sungguhan, namun itu tidak. Alih-alih cewek seksi, seorang pemuda berambut panjang tengah tegak di depanku dengan sikap menantang. Jangan mesum dulu, usap dulu darah dari hidung kalian. Maksudku, dia berpose dengan melipat kedua tangannya di depan dada sembari sedikit mengangkat dagunya.
Aku menaikkan sebelah alisku saat menatapnya, lalu menolehkan kepalaku ke sana-ke mari, mencari manusia yang mungkin tengah diajak berbicara oleh orang itu.
Merasa yakin bahwa tidak ada orang lain selain kami, aku memutuskan untuk kembali bernyanyi. Karena ayolah, dia tidak mungkin bisa melihatku 'kan? Kami beda alam!
Aku membungkuk, mengambil kembali sapu ijuk yang tergeletak. Memejamkan kedua mata, lalu kembali bernyanyi, "If you don't need m–."
"Jangan kau teruskan. Sekalipun para tikus tampak menikmatinya, tapi sungguh, suaramu itu sumbang."
JLEB.
Nyanyianku berhenti. Entah, sekalipun aku yakin bahwa ia tidak sedang berbicara denganku, tetapi aku merasa kok omongannya nyindir aku banget gitu lho.
Aku menatapnya, dan memastikan kemana arah matanya mengarah. Mata lavendernya mengarah ke kedua onyx-ku. Dan aku menoleh, mengira ia berbicara pada sesuatu di belakangku. Sekalipun aku tahu bahwa itu tak mungkin karena di belakangku hanya ada tembok. Well, mungkin saja ia adalah orang gila yang habis ditinggal nikah ama pacarnya.
Aku menatap dalam matanya, memastikan bahwa ia tidak bisa melihatku. Tetapi saat aku melangkah ke samping, kedua matanya mengikuti pergerakanku.
Saat aku melakukan gerakan berdiri-jongkok-berdiri-jongkok, kedua matanya ikut naik turun, mengikuti gerakanku.
Aku memiringkan ke kiri dan ke kanan kepalaku, gerakan matanya mengikuti.
Dan saat aku membuat gerakan melingkar dengan kepalaku di depan wajahnya, gerakan matanya juga ikut memutar mengikutiku.
Dan saat aku–
"DIAMLAH BODOH! KAU MEMBUATKU PUSING!"
CTAS!
Dan aku tiba-tiba merasa ada petir menyambar kepalaku, bersamaan dengan terdorong kerasnya tubuhku hingga menabrak tembok di belakangku.
"Ah!" Aku mendesah –wait, jangan ngeres dulu. Ulap dulu darah dari hidung kalian itu. Maksudku, aku mendesah sakit, mengelus punggungku yang –Oh, Jashin– masih tertempeli (?) sayap murahan itu. Sedangkan tanganku yang satunya meraba dahiku, merasakan rasa panas yang ada di sana.
Gila, itu tadi bukan petir sungguhan, kan? Laknat banget, masih untung aku tidak amnesia dan masih ingat bahwa diriku adalah keturunan The Oh So Mighty Uchiha.
Aku terbangun, masih mengelus pelan kepalaku. Dalam hati tentu saja panik, bagaimana kalau sambaran petir (?) tadi membuat bekas luka gores di dahiku? Mending kalau disangka saudara jauhnya Harry Potter, kalau bekas luka itu entar disangka orang sebagai keriput?
Uchiha pasti beken jadi konsumen nomor satu produk anti aging.
Sudahlah. Aku OOC sekali di sini.
Aku menatap kesal ke arah pemuda di depanku. Dan Oh Tuhan, dia masih membalas tatapanku. Padahal kan aku tak kasat mata gitu lho. Aku ini iblis yang keren –lupakan benda laknat glittering yang berkepak-kepak di punggungku itu–, dan dia manusia, kan? Jadi tidak mungkin dia bisa melihat–
"Apa?!"
–ku, kan?
Merasa ragu, aku masih menatap kedua matanya. Menelusuri tubuh pemuda itu –wait, itu terkesan dan terdengar ambigu. Pandanganku meneliti dirinya, dan dia tampak seperti manusia biasa.
Bentar.
Manusia?
Wait!
Mendapat pemikiran baru, kedua mataku langsung sedikit membelalak menatapnya dengan mulut yang sedikit membuka, yang secara otomatis membakar hangus tampang cool dan flat andalan Uchiha.
Manusia?
Pertama kali kutemui...
Berarti dia...
"Partnerk–," gumamku lirih, namun segera terpotong oleh suaranya.
"Apa lihat-lihat!" bentaknya dengan nada yang lebih jutek ketimbang nada yang digunakan Itachi saat ada orang yang mergokin dia pakai krim anti aging harga ratusan ribu dollar. Yeah, itu lebe.
Aku menaikkan sebelah alisku, lalu dengan ragu, aku menunjuk depan hidungku sendiri dan berucap lirih, "Hn?"
Fyi, Hn disini berarti 'Kau berbicara padaku? Demi Jashin, kau melihatku? Yang benar saja!'.
Pemuda itu mendengus sembari menyeringai, "Tentu saja, siapa lagi."
Dan aku melongo saat mendengar jawabannya. Kubiarkan imej Uchiha yang so cool dan anti melongo idiot, untuk luntur hanya selama sepersekian detik.
Berarti dia bisa melihatku, ya?
Otak jenius Sasuke Uchiha loading proses.
10 %
40%
40,9%
100%
GREP!
Dengan cepat kedua tanganku menyilang di dadaku. Namun kedua tanganku segera menutupi area bawah pusarku saat aku sadar bahwa aku bukan perempuan dan daerah privatku tidak berada di sana.
F*ck! Sh*t! F*ck! F*ck! F*ck sejuta kali.
WOTDEPAAAAAAAAKKKKK!
Ingin aku berteriak nista dan keras seperti itu dengan suara ala rocker, mencoba melampiaskan rasa frustasiku. Kenapa laknat banget hidupku bahkan saat aku sudah mati?
Hell! Ini ga banget.
Tidak hanya aku tampak 'polos' di depan orang lain untuk pertama kalinya, setelah terakhir kali aku telanjang adalah saat berusia tujuh tahun. Aku pada waktu itu, dengan nekat dan tak tahu malu, stripping di halaman rumah dan mandi dengan air dari selang yang biasa dipake pembantu buat basahin rumput taman sembari berteriak-teriak "Wohooo! Segerrr! Kakak, ayo lepas baju dan ikut mandi!". Dan tragisnya (?), semua itu berakhir dengan menangisnya aku setelah telingaku dijewer keras oleh Ayahku yang mungkin malu tetangganya yang melihat aksiku mengira bahwa keturunan bungsu Uchiha sudah mengalami gangguan mental sejak lahir.
Balik lagi, tidak hanya sekarang aku tampak 'polos' di depan orang lain, namun yang paling membuatku ingin makan tikus mentah-mentah karena frustasi adalah ketika sadar bahwa yang pertama kali melihat perut six pack pertamaku adalah seorang lelaki!
Lelaki! LELAKI! COWOK! PEMUDA! JANTAN (?)!
B*NGSAAAAAAAAAAATTTTTTTTT!
Padahal gue udah saving diri gue buat Taylor Swift.
Laknat!
Nista!
Gember Proletaaaaaaarrrrr!
"S-siapa kau?" gumamku sembari menatap tajam pada pemuda di depanku. Semakin dongkol saja rasanya saat ia malah menyeringai sembari menatapku dengan tatapan seorang maho yang ketemu cowok seksi telanjang di gang sepi seperti ini.
"Apa yang kaututupi? Memang ada sesuatu yang spesial di balik sana?" ucapnya dengan pandangan meremehkan.
Dan aku tak mampu menahan geraman yang terdengar dari mulutku. Tidak hanya dia melihatku dalam keadaan 'polos'ku, namun sekarang dia tidak memberi apresiasi pada bentuk keeksotisan Uchiha?!
Kayak elu punya badan kayak model L-Man aja!
"Aku tanya, kau siapa?" ulangku, memutuskan untuk membatalkan keinginanku untuk mengucapkan kalimat yang sempat mampir di pikiranku tadi itu.
Pemuda itu mendengus, "Dasar, beraninya makhluk rendahan sepertimu menanyaiku lebih dahulu."
Hah?
Makhluk rendahan? Oi, dilihat dari lubang sedotan yang terikat erat dengan karet dan dilihat dari Antartika dalam keadaan lampu mati pun, tidak mungkin aku adalah makhluk rendahan. Pertama, aku Uchiha. Kedua, aku Uchiha. Dan ketiga, aku Uchiha.
Intinya, apapun, Uchiha tidak mungkin nista!
Babiiiiiiii!
"Kau manusia, kan?" tanyaku, belum melepaskan tutupan tanganku dari daerah privatku, "Dengar saja, aku–."
"Kalau kau ingin berucap bahwa kau adalah Iblis tidak sempurna yang dengan bodohnya nyanyi-nyanyi lagunya Daniel Bedingfield di dekat tong sampah penuh tikus ini, Ya, aku tahu," ujarnya tenang, mengambil posisi santai layaknya anak pantai yang sedikit alay –bersedekap dada, dan menumpukkan berat badannya pada sebelah kakinya.
Aku terdiam, sedikit mengernyit heran.
Wait, dia manusia, kan? Tetapi, mengapa dia bisa menebak benar siapa diriku yang sebenarnya? Acuhkan saja hinaan yang ia ikutsertakan pada kalimatnya tadi –aku sudah, entah mengapa, terbiasa dengan hinaan akhir-akhir ini–, tetapi...
Demi apa, dia tahu aku ini adalah iblis?
Well, memang, jika ia bisa melihatku, ia pasti juga bisa melihat sayapku dan pasti sudah menyangka bahwa aku bukan manusia. Ya, mungkin saja dia menyangka aku manusia gila yang keluyuran tengah malem dengan memakai sayap palsu hasil nyolong properti drama di opera, tetapi tidak mungkin ada sayap buatan yang berkepak-kepak sendiri, bukan? Seingatku sih...
Tetapi, sekalipun dia bisa melihat bahwa aku memiliki sayap, mengapa dia bisa tahu bahwa aku adalah iblis? Kenapa ga nyangka bahwa aku malaikat saja? Kan wajahku sudah mencukupi syarat tuh.
Ah, daripada ribet, mending tanya langsung.
"Kau siapa?" ulangku lagi layaknya kaset rusak.
Pemuda itu memutar bola mata sembari tangan kanannya menyilang depan dadanya.
Dan kedua mataku terbelalak kecil saat melihat bahwa sebuah cahaya terbentuk di tangan kanannya. Sebuah sinar biru yang berkumpul dan tampak terang di gang yang sepi ini.
Sinar biru cerah yang memiliki bentuk. Panjang. Dan–
"Jika kau ulangi lagi," pemuda itu mengarahkan sinar dengan panjang sekitar satu lengan itu, ke depan wajahku, "Aku tidak akan segan-segan menambah luka di dahimu lagi dengan Sword de Soleil ini, Iblis rendahan."
–itu Pedang.
Dan ciyus miapa enelan, namanya norak.
-oOo-
"Pakailah. Aku tidak mau disangka membawa hewan peliharaan ketika malaikat atau iblis lain berpapasan denganku di dunia ini."
Sebelah mataku berkedut keki saat kepalaku dengan tidak elitnya terlempari sebuah kain. Bukan hanya itu saja, sudah berapa hinaan yang ia lontarkan kepadaku sejauh ini? Hewan peliharaan, makhluk rendahan, tikus, kecoak, kuman, kera, anjing, dan hinaan lain yang semua pada intinya sama, hewan.
Sigh.
Dan bahkan aku belum mengetahui siapa dia? Apa dia? Mengapa dia bisa melihatku? Dan benda apa yang tadi tampak keren muncul begitu saja dengan ajaibnya di lengannya? Dan aku yakin bahwa itu bukan trik sulap.
Dengan pasrah, aku mengambil apa yang masih menutupi muka dan sebagian kepalaku. Saat aku melihatnya, aku melihat satu celana jeans dan satu kemeja. Dan ketika melihat kemeja yang aku pegang, sebelah mataku berkedut keki lagi dan tanpa banyak omong, aku melemparnya balik pada pemuda itu yang dengan sigap menangkapnya.
"Apa? Kau tidak mau memakainya?" ujarnya tenang.
Aku hanya diam dan meliriknya dengan dongkol. Pandangan mataku yang keki padanya sudah cukup memberi jawaban bahwa, 'No way in the bloody hell am I going to bloody wear that bloody stuff!' lengkap dengan acungan jari tengah imajiner.
Aku memutuskan untuk mengacuhkannya dan akan mulai memakai celana jeans ini. Aku merasa legah karena sekarang aku akan punya sedikit harga diri lagi setelah semalam suntuk menjadi orang primitif, keluyuran kesana-kemari tanpa pakai baju. Meski sekarang cuma dengan celana saja, tapi tak apa. Toh untung juga bagiku karena dengan demikian, dadaku yang bidang ini tetap tereskpos dengan segala keeksotisannya.
Namun, belum sempat aku memasukkan sebelah kakiku pada lubang celana, celana jeans itu terlepas dari kedua tanganku dan saat aku menoleh, aku mendapati pemuda itu melotot padaku.
"Setelah aku repot-repot mengambil ini dari toko pakaian, kau sekarang tidak mau menghargai usahaku dengan memakainya? Kalau begitu, tidak usah pakai apa-apa saja sekalian!" bentaknya dengan judesnya, sampai aku heran, apakah dia tidak bisa bersikap cool sedikit saja? Dari tadi bentak-bentak terus layaknya Ibu-Ibu yang kalah saing koleksi perhiasan baru dengan Ibu-Ibu tetangga.
"Ck!" decakku pelan, menghadapnya, lalu memberinya pandangan datar dan tidak tertarik, sekalipun aku pengen banget segera memakai celana itu dan berhenti tampil tolol seperti ini, "Ayolah, aku tidak mungkin memakai kemeja itu."
"Kenapa? Toh ini bukan baju perempuan."
"Tapi itu menjijikkan!" ujarku dengan nada meninggi, merasa dongkol karena dia bersikap layaknya seorang Ibu yang rempong sendiri memilihkan baju untuk putrinya yang akan menjalani kencan pertama, "Seumur hidup, aku tidak pernah bermimpi menyentuh, alih-alih memakai, kemeja tipis dengan corak kembang-kembang yang biasa dipakai oleh cowok homo itu!" sergahku sembari menunjuk jijik pada kemeja berwarna orange kembang-kembang kuning dan pink yang ada di tangannya.
"Jadi, kau tak mau?" ujarnya kalem, yang segera kurespon dengan anggukan semangatku.
"Tetapi celananya aku mau," tambahku, "Ayolah, toh kau tidak rugi karena kau tidak membelinya, tapi MENCURInya," ujarku dengan memberi penekanan pada kata 'mencuri'. Aku heran, apa semua malaikat dan iblis yang turun ke Bumi musti nyolong pakaian dulu buat nutupin badan? Atau hanya iblis tidak sempurna sepertiku saja yang kebagian apes tidak dikasih secarik kainpun ini? "Sini kemarik–."
Srek.
Dan belum sempat aku selesai ngomong, celana itu sudah terbelah menjadi dua secara vertikal.
"–kan..."
"Sudah kubilang, jika kau tidak menghargaiku, tidak usah pakai baju," ujarnya kalem, dan dengan tampang dosa dan santainya, membuang celana itu ke tempat sampah, tak peduli dengan tatapanku yang mengikuti terbuangnya celana itu dengan pandangan yang wajar diberikan seorang pengemis yang ngelihat orang lain membuang makanan sisa di tempat sampah, "Tetapi, tenang saja. Aku tidak akan membiarkan keluyuran bugil begitu. Hanya saja, kau perlu untuk diajari cara berterimakasih."
Aku menelan ludah melihat tatapannya yang menyeringai padaku.
Wait... dia tidak bermaksud melakukan hal yang 'enggak-enggak' padaku, kan? Dia tidak benar-benar homo kan?
Dan pemuda itu membungkuk, mengambil keluar sesuatu dari kantung plastik hitam yang tadi ia taruh di tanah. Setelah ia berdiri tegak dan menghadapku,
Siiiing.
Bunyi dengingan kecil itu terdengar bersamaan dengan tampaknya kembali pedang sinar biru di tangan kanannya, sembari tangan kirinya menyodorkan sesuatu yang membuatku makin terbelalak dan menyesal kenapa tadi tidak menuruti perintahnya.
"Kau harus memakai kemeja itu dengan ini," ia menyeringai licik, "Atau aku memaksamu dengan kekerasan, Iblis?"
-oOo-
Well, kupikir ini tidak adil dan tidak masuk akal.
Sama sekali.
S.A.M.A. S.E.K.A.L.I.
Biasanya, dimana-mana, bukankah tokoh dark di film-film atau novel-novel itu selalu tampak keren? Ia tidak hanya tampak seksi, ganteng, macho, mempesona, namun ia juga memiliki sayap gede, hitam kekar, dan baju ala dark knight yang segelap malam. Juga ia akan memiliki sebuah aura yang mampu mengintimidasi, bahkan sesama iblis sekalipun. Dengan segala kekuatan dan kekuasaannya, ia bisa membuat makhluk lain segan. Dan yang penting, dimana-mana, Iblis itu punya HARGA DIRI!
Itulah pemikiranku akan deskripsi iblis atau tokoh-tokoh dark lainnya yang sering kubaca di novel atau kulihat di film. Tetapi, sekarang aku tahu bahwa semua itu bullshit. Ya, bullshit. Kalau gak gitu, itu semua benar, hanya aku saja yang sial banget dapat peran iblis buntung seperti ini.
Tidak hanya aku dengan tidak elitnya dibuang ke dunia, tepatnya di Kutub Utara. Tetapi aku juga dihadiahi sepasang sayap co-paste dari Barbie Fairy Topia yang sulitnya masaolloh buat dikontrol dan seolah ia punya pikiran sendiri. Dan tidak hanya aku harus dikatai, dinistai, dihina, dicerca, dilaknat, oleh tak hanya Persekutuan geje nan sok eksis Alam Formasi itu, tetapi juga oleh makhluk cowok yang bahkan aku tak tahu apa dan siapa dia.
Ini tidak masuk akal S.A.M.A. S.E.K.A.L.I. kaaaannn?!
Dan sekarang, dia berlagak sok bossy dengan mengatur-atur diriku ini dan itu. Dan aku hanya pasrah saja karena dia saja yang kebetulan banget punya kekuatan dan pedang keren itu dan aku saja yang apes banget dengan kekuatan nol dan keluyuran kesana-kemari hanya dengan modal tubuh dan sayap. Itupun sayap laknat itu muncul hanya saat ada bintang jatuh.
Intinya, aku dan dia bagai upil dengan duren (?).
Dan sekarang, thanks banget sama dia yang nambah penderitaanku. Harga diriku yang semula tinggi dan menjadi nol, kini semakin minus dengan keadaanku sekarang.
Tak hanya aku harus memakai kemeja kembang-kembang orange nyolok banget dan tipis itu (sayapku sudah –entah bagaimana– kembali ke dalam tubuhku, jadi aku tidak perlu kerepotan dengan membuat lubang di bagian belakang punggung kemeja itu hanya untuk memberi ruang pada benda keparat itu), tetapi kini aku juga seolah bagai penggemar berat Elvis Presley dengan memakai celana biru kerlap-kerlip kotak-kotak ketat di bagian paha dan agak melebar di bagian tungkai kaki.
OMAIGODGIVEMEMYDAMNDIGNITYBA CK!
Well, syukuri aja deh. Masih untung cowok homo itu tidak menyuruhku memakai kain panjang yang dipasang melingkari kepala secara horizontal –seperti kain yang dipakai di kepala cewek-cewek Gipsy itu. Dan syukuri saja juga, meski tampak konyol, aku tidak harus memakai sepatu pantoefel hitam mengkilat dan dasi kupu-kupu untuk melengkapi penampilanku ini.
Aku mencoba untuk menarik keluar kembali kemejaku yang bagian bawahnya kumasukkan ke celana norak dengan ikat pinggang kulit itu, namun harus terpaksa aku masukkan kembali saat cowok itu membentakku.
"Keluarkan, atau kupaksa kau memakai baju balet," ujarnya sembari menyeringai, membuatku yakin bahwa dia senang banget melihat kenistaanku.
Well, bukankah itu sudah jelas?
Kuputskan untuk mengalah.
Kami terus berjalan, dan sepanjang waktu aku turun ke bumi ini, belum satu manusia pun kutemui. Karena aku masih berada di gang sepi semalam sampai pagi ini, di mana cowok homo itu memaksaku untuk tetap berada di sana sementara dia pergi entah kemana.
Toh aku tidak peduli.
Dan sekarang, aku pengen banget segera bertemu dengan manusia yang menjadi partnerku nantinya. Biar aku bisa terpisah dari cowok ini dan segera melepas segala atribut yang membuatku bahkan lebih tampak nista daripada sekedar keluyuran dengan keadaan telanjang.
Yah, aku lebih memilih naked kemana-mana daripada harus tampak konyol dengan kostum badut ini.
"Kau siapa?"
Aku menoleh dan menaikkan sebelah alisku saat mendengar ucapannya. Well, sekarang seseorang ingin mengetahui identitas orang lain, huh?
"Kau kan sudah menjawabnya kemarin," jawabku enteng, mengalihkan pandang kembali ke depan sembari terus berjalan.
Dan aku mendengarnya mendengus, "Maksudku, namamu? Sekalipun aku suka memanggilmu bodoh karena itu sesuai denganmu, tetapi tidak mungkin, kan?"
Aku diam saja, merasa kembali dongkol dengan sikap dan ucapannya yang gak ngehargai Uchiha banget itu.
Siiiingg.
"Jawab, atau kupaksa!"
"IYA-IYA! GUE SASUKE UCHIHA, BRENGSEK!"
Dan kalimat familiar ini pun terulang.
Jeez, itu orang ga pake ngancem segala kenapa sih?
"Uchiha?" gumamnya setelah pedang keren (nah, sekarang kalian tahu bahwa aku mupeng melihat pedang itu) itu menghilang kembali. Ia mendengus, "Jadi kau, ya?"
Aku menoleh padanya dan menaikkan sebelah alis, "'Jadi aku' apa maksudmu?"
"Diam!"
Ck! Dia memang emang dasarnya menjengkelkan atau lagi PMS sih
"Namaku Neji."
Dan nafasku tercekat sembari menatapnya sedikit dengan ekspresi syok.
Bukan, aku sebelum ini tidak pernah mengenalnya, melihatnya, atau mendengar namanya. Hanya saja, aku syok karena tanpa diminta, dia dengan PDnya memberitahu siapa dia kepadaku.
"Siapa?" tanyaku.
"Neji."
"Nanya."
Take that, bast**d!
Siiiingg
"Oke, ampun," dan aku angkat tangan.
.
.
.
"Kau mungkin heran kenapa aku peduli padamu, padahal sungguh, aku tidak peduli pada apapun yang terjadi dengan dirimu."
"Itu benar," gumamku, "Benar dalam artian aku heran dan benar dalam artian kau tidak peduli padaku."
Ia mendengus, "Aku hanya ditugaskan untuk mengawasimu. Aku, yang merupakan Iblis tiga tingkat di atas tingkatmu yang rendahan ini...," ia melirik padaku dengan pandangan yang wajar diberikan oleh orang yang lihat kotoran anjing di jalan, "...tentu memiliki banyak urusan yang lebih penting dari ini."
Aku memutar bola mata, "Toh tidak seperti aku memintamu, kan?"
"Dan sekarang kau bersikap kurang ajar lagi."
"Wajar, kau membuatku jengkel."
"Wajar, aku atasanmu."
"Wajar, karena aku tidak mau menjadi bawahanmu. Salahkan persekutuan sok eksis di alam Formasi itu yang membuat kita berdua kerepotan."
"Wajar, karena kau memang banyak dosa dan memang pantas dijadikan iblis dan diberi kerepotan!"
"Wajar, karena lucu sekali, baru saja kau bilang bahwa kau sendiri juga iblis, bahkan tiga tingkat di atasku. Apakah itu berarti semakin tinggi tingkat, hidupnya dulu semakin banyak dosa?"
Siiiiiinnngggg
"Wajar bukan, jika sekarang kau merasakan lagi Sword de Soleil, tetapi kali ini di lehermu?"
Dan aku kembali terdiam dan kembali terus berjalan.
.
.
.
Aku merasa heran, sampai kapan gang sepi ini akan berakhir dan kami bisa menemui manusia? Aku rasanya tidak kuat berada lebih lama lagi di dekat pemuda ini, siapa tadi? Nehi? Neji? Ah ya, Neji. Tetapi bodo amat, aku akan memanggilnya Nehi. Rambutnya aja panjang berkilau layaknya Kajol gitu.
Oh, Tuhan, segeralah pertemukan aku dengan partne–
Drap drap drap.
Aku berhenti melangkah saat mendengar suara itu. Dan kupikir, Nehi juga mendengarnya karena ia juga berhenti melangkah di dekatku.
Drap drap drap.
Seperti suara langkah seseorang yang tengah berlari cepat. Yang jelas itu tidak mungkin suara derap langkah tentara yang tengah latihan gerak jalan (?). Karena simpel saja, ini gang sempit nan kumuh. Gak elit banget militer latihan di sini.
"Sepertinya ada seseorang," gumamku.
"Ya," balas Nehi lirih.
Drap drap drap.
Aku semakin menajamnkan pendengaran, dan kupikir Nehi juga demikian.
"Dia mendekat, Nehi."
"Iy– KAUPANGGILAKUAPA?!"
Drap drap drap.
Suara tersebut semakin mendekat, dan sekarang aku yakin bahwa arahnya berasal dari depan sana.
Dan taraaaaa!
Benar saja dugaanku, saat aku melihat seorang gadis muncul di balik tikungan sana dan langsung menabrakku sembari mencengkeram bagian dada dari kemeja kembang-kembang ngejrengku dengan kedua tangannya yang mungil.
"Sir, please, he-help me!"
Dan saat ia menatapku dengan kedua mata lavendernya, dan saat meminta pertolonganku dengan tubuhnya bergetar ketakutan, aku tahu dan sadar bahwa dialah manusia yang akan menjadi partnerku untuk beberapa waktu ke depan.
Well, meski aku sedikit kecewa karena yang kupeluk ini bukanlah Britney atau Rihanna, tetapi syukuri saja karena setidaknya yang menjadi partnerku bukanlah Ricky Martin.
tbcq
(To Be Continued, Qaqaaa~~)
SAYA KANGEN FFN! SAYA KANGEN FFN!
SAYA KANGEN NULIS! SAYA KANGEN PUBLISH! SAYA KANGEN BACA REVIEW! SAYA KANGEN MENGGAJE! POKOKNYA KANGEEEENNN! BEUDHZ UDHZ UDHZ! *alay
Fic SasuHina ini saya pilih sebagai fic pertama penanda bangkitnya saya dari kubur (?) :v Kenapa? Karena hanya update-an fic ini saja yang saya punya :v *baca: selama hiatus ga nerusin fic apapun*
Sungguh, saya kangen nih sama kalian. Banyak member/author dan readers baru nih. Generasi muda... Saya jadi merasa tuaaa sekali *emang*
Oh ya, saya denger, Neji udah mati ya, di manga-nya? Yasudah, turut berduka cita. Nih. Saya hidupin lagi doi disini :)
Review ya, cuy :* Tahun baru nih (?)
Terimakasih sebelumnya :)v
