XX
Wonwoo bangun dengan perasaan tidak familiar memenuhi kepalanya. Ini bukan kamarnya, tentu saja. Ini kamar barunya, diapartmentnya (apartment Mingyu juga). Padahal baru satu malam tidur disini, tapi ia sudah rindu kamarnya dirumah. Wonwoo mencoba mengumpulkan nyawa sambil duduk di pinggiran ranjang. Menatap pantulan dirinya di cermin yang menempel di dinding samping lemari pakaian. Cermin itu besar, seukuran tubuh Wonwoo dan menempel didinding. Cermin itu terletak sejajar dengan sisi atas tempat tidurnya, Wonwoo baru sadar kalau cermin itu 'eksis' dikamarnya pagi ini saat bangun tidur. Betapa cueknya dirimu Wonwoo.
Wonwoo keluar kamar dengan handuk tersampir dibahunya. Dia melihat jam didinding, jam 7. Masih ada waktu 2 jam untuk siap-siap berangkat kekampus. Wonwoo berjalan pelan kekamar mandi, menempelkan telinga ke pintu. Tidak ada suara, berarti tidak ada orang didalam. Wonwoo membuka pintu kamar mandi perlahan.
"Oh, m-maaf. Aku pikir tidak ada orang, pintunya tidak dikunci."
Wonwoo bicara sambil menunjuk pintu disebelahnya, Mingyu berdiri disana. Didepan wastafel, memegang sikat gigi ditangan kiri. Bertelanjang dada dengan celana selutut, Wonwoo jadi tidak enak melihatnya seperti itu.
"Aku pikir kau mau mandi bersama."
Mingyu menyeringai. "Kalau mau ayo,"
Mingyu membuka pintu masuk shower, memandang Wonwoo dengan seringai tambah tatapan menggoda. Wonwoo memutar matanya malas, yang tadinya merasa tidak enak jadi malas sendiri.
"Idiot."
Kemudian menutup pintu dengan tidak santainya. Wonwoo menyenderkan punggung kepintu kamar mandi. Memegang kedua pipinya,
"Kenapa rasanya panas?"
XX
Wonwoo memandang makanan yang tersaji dimeja dengan tatapan bingung.
"Kau memasak semua ini?"
Wonwoo bertanya pada Mingyu yang sudah mulai makan pasta miliknya.
"Menurutmu?"
Mingyu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.
Wonwoo memanyunkan bibir, kemudian mulai memasukkan satu suapan pasta kemulutnya. Enak, berarti Mingyu memang bisa masak.
"Terimakasih."
Wonwoo berucap sambil tersenyum kecil kearah Mingyu kemudian mulai menghabiskan pastanya.
"Sama-sama."
Mingyu berucap pelan nyaris tak bersuara, matanya masih tertuju kearah piring yang pastanya tinggal separuh.
XX
Wonwoo pergi ke perpustakaan siang itu. Bukan karena dia kutu buku atau karena dia suka, tapi karena tuntutan tugas. Tugas yang membuatnya harus duduk disini, dengan telinga tersumpal earphone dan 2 buku tebal (entah buku apa) terbuka didepannya. Sesekali ia mengerutkan dahi apabila ia menemui kata atau kalimat yang terlalu rumit untuk ia pahami, tak jarang ia sampai mengetuk dahinya sendiri dengan telunjuk saking pusingnya.
Kegiatannya terhenti saat seseorang melepas earphone yang bertengger ditelinga kanannya. Wonwoo menoleh,
"Hyung?Sedang apa disini?"
Yang ditanya cuma tersenyum, lalu mengangkat buku yang ada ditangannya. Wonwoo mengangguk paham, masih menatap orang disampingnya. Yang ditatap kemudian memasang earphone Wonwoo ketelinga kirinya lalu mulai tenggelam dalam kegiatan membacanya. Wonwoo mengalihkan pandangan dari orang itu lalu meneruskan kegiatannya yang tadi sempat terhenti. Kedua orang itu diam, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Wonwoo masih membaca sambil sesekali mencatat hal-hal yang ia anggap penting di note kecilnya.
"Mau kemana?"
Orang itu bertanya saat Wonwoo berdiri dari kursinya sambil melakukan peregangan kecil. Sudah setengah jam berlalu sejak pertanyaan Wonwoo pada orang itu tadi.
"Mencari referensi lain, yang ini kurang lengkap."
Wonwoo menunjuk dua buku tebal dimeja sebelum menghilang diantara rak-rak tinggi perpustakaan. Kadang Wonwoo sering takjub sendiri. Perpustakaan dikampusnya ini sangat luas, setidaknya jauh lebih luas dari perpustakaan-perpustakaan di universitas lain. Raknya besar-besar dan juga tinggi-tinggi. Jumlahnya juga terhitung banyak.
Wonwoo kadang berpikir, bisa jadi diantara rak-rak besar itu ada mahasiswa yang memanfaatkan keadaan sepi perpustakaan untuk berbuat hal-hal yang tidak-tidak. Iya, melakukan yang tidak-tidak. Seperti dua orang mahasiswa yang sedang berdiri berhadapan tidak jauh dari tempat Wonwoo menemukan buku yang dia cari. Mahasiswa yang satunya tampak berdiri dengan punggung bersandar di rak buku dibelakangnya. Wajahnya memerah malu-malu. Sedang yang satu lagi, yang lebih tinggi mengunci pergerakan pemuda didepannya dengan memposisikan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh pemuda itu. Ia menyeringai, puas membuat orang didepannya merona.
Untuk informasi, salah satu dari dua orang itu adalah Kim Mingyu. Kenapa Wonwoo bisa tahu?Seperti biasa rambut abu-abunya membuat Wonwoo mudah mengenali Mingyu dimana saja.
"M-mingyu…"
Tangan Mingyu terangkat untuk mengelus pelan pipi orang didepannya.
"Iya Jong-ie sayang?"Mingyu menjawab.
Sungjong tambah merona, sentuhan Mingyu pada pipinya dan panggilan sayang Mingyu barusan membuat Sungjong jadi gugup. Ia memandang kesembarang arah, tidak berani menatap Mingyu. Mingyu menyeringai, senang bisa menggoda pria manis macam Sungjong seperti ini.
Saat Sungjong mengedarkan pandangannya kekiri, tak sengaja ia bertemu pandang dengan Wonwoo yang menatap mereka datar. Sungjong terkejut dan reflek mendorong Mingyu menjauh darinya. Mingyu kaget, tapi langsung paham situasi saat ia mengikuti arah pandang Sungjong. Sungjong panik, sementara Mingyu malah memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia memandang Wonwoo dengan tatapan tidak suka. Wonwoo benar-benar datang disaat yang tidak tepat. Wonwoo balas menatap Mingyu dengan tatapan jijik. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Sungjong yang kini sedang memilin ujung sweeternya, tampak cemas.
"Maaf, kalau mau melakukan tindakkan yang berbau asusila jangan disini."
Sungjong memandang Wonwoo terkejut. Wonwoo diam sebentar lalu gantian menatap Mingyu yang masih setia dengan posenya tadi. Tatapan sinis terlihat jelas dimatanya. Wonwoo tidak mau repot-repot menyembunyikkan rasa jijiknya pada Mingyu saat ini.
"Mengganggu mata. Kalian bisa pakai toilet kampus kalau mau."
Kemudian berbalik pergi, wajahnya kembali datar. Bertambah satu poin kebrengsek-an seorang Kim Mingyu bagi Wonwoo sekarang.
XX
"Setelah ini kau kemana?"
Wonwoo menoleh,"Aku?Kurasa pulang, aku sudah tidak ada jam kuliah lagi setelah ini."
"Mau minum sebentar bersamaku?"
Wonwoo menghentikan langkahnya, memandang Jisoo yang berdiri disebelahnya.
"Kita bisa minum latte atau semacamnya di café depan kampus."
Jisoo tersenyum, senyum tampan biasa. Wonwoo tampak berpikir sejenak, rasanya tidak apa kalau menghabiskan sore dengan Jisoo. Lagipula ia juga tidak ada kerjaan setelah pulang dari perpustakaan barusan.
"Baiklah."
XX
"Kudengar kau tinggal diapartment sekarang."
Jisoo memulai pembicaraan setelah sekian lama hening diantara mereka. Wonwoo mengangguk, tersenyum miris setelahnya tanpa ia sadari.
"Pindah 2 hari yang lalu."
Wonwoo meminum capuccinonya. Jisoo memperhatikan Wonwoo sebelum kembali bertanya,
"Kenapa wajahmu seperti itu?Apa apartmentnya membuatmu tidak nyaman?"
Wonwoo mendongak, alu menggeleng pelan disertai senyum kecil.
"Tidak, aku cukup nyaman disana. Mungkin karena aku belum terbiasa jadi ya seperti itu, aku yakin lama-kelamaan aku pasti bisa menyesuaikan diri."
Diam sebentar,"Siapa yang memberitahu Hyung tentang ini?"
Jisoo cuma tersenyum,"Tidak ada yang aku tidak tahu tentangmu Jeon Wonwoo."
Wonwoo mendengus, tanpa sadar merajuk. Jisoo tertawa melihat ekspresi merajuk milik Wonwoo, menggemaskan sekali.
"Haha, maaf maaf. Aku tahu dari Seungkwan, kau tahu kan dia seperti apa. Dia bilang padaku kemarin kalau kau pindah ke apartment."
Jisoo melanjutkan bicaranya setelah berhenti tertawa. Wonwoo bingung, perasaan dia belum bilang Seungkwan kalau dia pindah.
"Dia tahu dari Ibumu, katanya waktu itu dia ingin mengantarkan novel yang dia pinjam darimu ke rumah. Tapi setelah sampai Ibumu malah bilang kalau kau sudah tinggal terpisah. Dia bilang kau mulai tinggal diapartment sejak kemarin."
Jisoo menjawab seakan bisa membaca pikiran Wonwoo. Wonwoo membulatkan mulutnya, jadi Ibu yang bilang. Eh, tapi Ibunya tidak bilang macam-macam kan?
"Kau tinggal sendiri?"Jisoo bertanya sambil mengaduk kopi hitamnya.
"Ya, begitulah." Bohong, Wonwoo bohong.
Hening kembali melanda mereka. Wonwoo jadi sibuk dengan pemikirannya sendiri. Seungkwan sudah tahu kalau dia sekarang tinggal diapartment. Kalau Seungkwan tahu, cepat atau lambat Jihoon dan Soonyoung juga akan tahu nanti. Yang dia harapkan cuma jangan sampai mereka tahu kalau dia tinggal bersama Mingyu. Kalau mereka tahu, entah apa yang harus Wonwoo katakan nanti.
Wonwoo melamun sambil menumpukan dagunya ke atas meja dengan kedua tangan dijadikan bantalan. Jisoo cuma diam memperhatikan Wonwoo yang melamun. Jisoo menatap Wonwoo lekat-lekat, sebuah senyum terbit diwajahnya. Wonwoo imut sekali kalau sedang berpikir seperti itu. Pandangan Jisoo berubah serius,
"Em, Woo-ya.."
Wonwoo mengangkat kepalanya, ponselnya berdering.
"Halo?Ya, Ini Wonwoo. Dengan siapa saya berbicara?"
"…"
"Oh, begitukah?Kalau begitu saya akan segera pulang. Yaya, terimakasih."
Sambungan terputus dibarengi dengan Wonwoo yang kelihatan membereskan barangnya.
"Hyung maaf, seseorang menelponku barusan. Dia bilang karena aku penghuni baru jadi saluran air atau gas atau semacamnya diapartment itu harus diperiksa. Aku duluan ya, maaf aku pergi lebih dulu seperti ini."
Wonwoo tersenyum tidak enak pada Jisoo, Jisoo balas tersenyum seperti biasa.
"Pergilah, aku tak apa. Kita bisa meneruskan obrolan kita lain waktu."
Wonwoo tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. Setelah pamit Wonwoo langsung pergi dari café itu, berjalan menuju halte terdekat. Jam setengah 6, langit masih lumayan terang. Jisoo ditinggal sendirian sore itu, menatap cangkir didepannya kosong. Ia alihkan pandangannya kearah kiri, melihat keluar jendela café. Jalanan lumayan ramai, mungkin karena ini adalah jam pulang kantor. Jisoo menghembuskan nafas pelan.
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghapus masa lalu?"
XX
Wonwoo terbangun malam itu saat ia mendengar pintu apartmentnya diketuk lumayan keras. Wonwoo menoleh untuk mengecek waktu, jam 1 dinihari. Siapa yang bertamu sepagi ini?Wonwoo kesal juga sebenarnya, waktu tidurnya itu berharga dan malah sekarang harus terganggu seperti ini. Wonwoo menyempatkan diri untuk membasuh muka sekedarnya, setidaknya ia harus memastikan wajahnya layak untuk berhadapan dengan entah siapapun itu yang bertamu. Wonwoo sempat melirik kearah rak sepatu sebelum membuka pintu, sepatu Mingyu tidak ada. Apa dia belum pulang ya?Wonwoo mengedikkan bahu, bukan urusanku. Kemudian membuka pintu apartmentnya.
"Ya.."
Dan Mingyu langsung menumpukan tubuhnya kearah Wonwoo bahkan sebelum Wonwoo sadar kalau yang mengetuk pintu barusan adalah Mingyu. Wonwoo agak terhuyung kebelakang, badan Mingyu itu besar. Dia bahkan lebih tinggi beberapa cm dari Wonwoo.
"Yak, Mingyu-ya. Kau kenapa?Hei, bangun. Kau itu berat idiot!"
Wonwoo berusaha memposisikan tangan kiri Mingyu agar melingkar kelehernya. Bau alcohol menguar dari badan Mingyu. Pantas dia seperti ini, Mingyu mabuk.
"Ah kau ini, tidak tahukah kau kalau tubuh raksasamu ini berat. Kau-ahh- berat."
Wonwoo terus memapah Mingyu menuju kamarnya, masih sambil mengomel betapa merepotkannya Mingyu.
"Hah, idiot."
Wonwoo menatap Mingyu yang sekarang sudah berada diatas kasurnya. Nafasnya ngos-ngosan. Padahal Wonwoo cuma memapah Mingyu dari pintu menuju kamar, tapi lelahnya seperti ini.
"Drrtt"
Wonwoo celingukan, ponsel Mingyu berdering dan suaranya cukup ribut menurut Wonwoo. Mingyu masih belum sadar, tidak ada tanda-tanda mau mengangkat telponnya. Wonwoo mendengus, lalu mulai meraba-raba jaket dan saku celana Mingyu. Saat ia sedang sibuk mencari ponsel Mingyu yang terus berbunyi, tiba-tiba Mingyu menarik kedua pergelangan tangan Wonwoo. Ditariknya keras sampai Wonwoo tertarik jatuh ke atas badannya.
Wonwoo terkejut, lalu menatap Mingyu. Wajah Mingyu persis dibawah wajahnya, wajah mereka terlampau dekat. Hidung mereka bahkan bersentuhan, Wonwoo masih terus memperhatikan Mingyu. Dia merutuk dalam hati, kenapa dalam situasi seperti ini dia malah membeku sendiri?Mingyu sudah membuka matanya sekarang, kedua matanya menatap Wonwoo tajam. Pandangan Mingyu yang semula tajam berubah lembut. Ditatapnya Wonwoo dalam-dalam. Wonwoo gugup, kenapa Mingyu menatapnya seperti itu?Ponselnya Mingyu sudah berhenti berdering, mungkin lelah menunggu untuk diangkat.
Mereka masih saling tatap seperti itu selama beberapa saat sebelum akhirnya Mingyu melepas cengkramannya di tangan kanan Wonwoo lalu gantian mengelus pipi pemuda didepannya. Pipi Wonwoo halus, dan putih sekali. Dalam jarak sedekat ini Mingyu dapat dengan jelas mencium aroma shampoo Wonwoo yang menguar dari rambutnya. Wonwoo mematung, merinding merasakan sentuhan halus tangan Mingyu dipipinya.
"Hyung.."
Mingyu bersuara hampir menyerupai bisikan, Wonwoo kembali menatapnya. Dilihatnya Mingyu sedang tersenyum kecil kearahnya. Wonwoo tergagap ingin bicara.
"Drtt."
Ponsel Mingyu berbunyi lagi, dan dengan itu Mingyu kembali memejamkan matanya. Cengkraman pada tangan Wonwoo melemas, Mingyu sudah kembali tidak sadar. Meninggalkan Wonwoo dengan wajah merona, juga debaran jantung yang berdetak tidak biasa. Wonwoo langsung bangun dari posisinya lalu mengambil ponsel Mingyu yang ternyata tersimpan di saku dalam jaketnya.
"Hal-"
"Yak!Kim Mingyu!Kau baik-baik saja kan?Apa kau selamat sampai apartment?Kau tidak salah masuk apartment kan?Kau ini bodoh atau apa sih?!"
Wonwoo menjauhkan ponsel Mingyu dari telinganya, dilihatnya dilayar tertulis nama Seokmin disana. Suaranya sudah mirip loudspeaker. Keras sekali. Wonwoo kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Kali ini dengan jarak yang menurutnya aman.
"Pokoknya kalau kau sampai salah masuk apartment aku tidak akan tanggung jawab, kau yang bodoh karena minum terlalu banyak padahal aku..eh tunggu. Mingyu?Kau disana kan?"
Orang itu bertanya setelah sekian lama ribut sendiri. Dasar bodoh, dia baru sadar sekarang kalau dari tadi Wonwoo cuma diam tidak ada kesempatan menjawab.
"Mingyu selamat sampai apartment, kau tidak perlu khawatir. Dia sudah tidur sekarang. Tenang saja."
Wonwoo menjawab kalem.
"Oh benarkah?Syukurlah kalau begitu, dia sering tidak tahu diri kalau sedang mabuk. Ngomong-ngomong aku bicara dengan siapa ya?"
Wonwoo berpikir sebentar,"Aku kakak sepupunya Mingyu. Sudah dulu ya, terimakasih sudah mengantar Mingyu dengan selamat. Selamat malam."
Kemudian Wonwoo memutuskan sambungan teleponnya tanpa berniat untuk mendengar lebih lanjut omongan Seokmin. Diletakkannya ponsel Mingyu ke meja belajar di kamarnya. Wonwoo menatap Mingyu sebentar sebelum memutuskan untuk mencopot sepatu dan kaus kaki yang Mingyu pakai. Dia membenarkan posisi tidur Mingyu sebelum menyelimutinya dengan selimut.
"Merepotkan."
Lalu berjalan keluar dan menutup pintu kamar Mingyu. Setelah beberapa saat hening selang kepergian Wonwoo, Mingyu membuka matanya perlahan. Menatap pintu dalam diam.
XX
Wonwoo berangkat pagi-pagi sekali hari itu, padahal kelas pertamanya dimulai jam 10 nanti. Wonwoo cuma tidak mau bertatap muka dulu dengan Kim Mingyu setelah kejadian semalam. Entah kenapa saat mengingatnya dada Wonwoo berdebar dan ia merasakan kedua pipinya memanas. Wonwoo jadi malu sendiri. Wonwoo sampai diarea kampus saat jam baru menujukkan pukul 7 pagi. Wonwoo menghela nafas, apa yang ia harus lakukan untuk menghabiskan waktu 3 jam menunggu kelasnya?
"Hyung!Wonwoo hyung!"
Wonwoo menoleh saat dirasa seseorang memanggilnya, Seugkwan ternyata. Seungkwan melambai-lambai semangat kearahnya, disamping tubuh pemuda itu ada Hansol juga. Wonwoo balas melambai sambil tersenyum. Saat sudah dekat dengan Wonwoo Seungkwan langsung menggandeng tangan Wonwoo erat. Hansol dibiarkan berjalan sendiri dengan wajah masam. Wonwoo tertawa melihat ekspresi Hansol yang menurutnya lucu.
"Hyung tumben berangkat pagi. Biasanya jam 9 kau baru datang. Apa kelas pertamamu mulai pagi?"
Seungkwan bertanya disela perjalanan mereka menuju kantin. Seungkwan masih setia menggandeng tangan Wonwoo.
"Tidak, aku cuma mau berangkat pagi saja. Sekali-kali berangkat awal tidak ada salahnya juga kan."
Seungkwan cuma manggut-manggut, karena memang masih terlalu pagi jadi Seungkwan mengajak Hansol dan Wonwoo untuk membunuh waktu dikantin. Seungkwan bilang apabila kita menunggu sambil makan, waktu akan terasa cepat berlalu. Wonwoo dan Hansol cuma mengiyakan, sudah terlalu hafal dengan hobi makan Seungkwan.
"Jihoon dan Soonyoung belum berangkat ya?"
Wonwoo bertanya setelah mereka mendudukan dirinya di salah satu kursi kantin.
"Jihoon hyung bilang dia otw kesini, kalau Soonyoung hyung entahlah. Hyung tahu kan dia seperti apa."Seungkwan menjawab.
"Benar juga, Soonyoung berangkat pagi itu keajaiban ya. Aku bahkan tidak yakin dia sudah bangun sekarang."
"Hai."
Jihoon datang sambil menepuk bahu Wonwoo pelan, lalu memposisikan diri duduk di sebelah Wonwoo.
"Tumben kau datang awal."
Jihoon bicara pada Wonwoo, yang diajak bicara tersenyum.
"Sedang ingin."
"Kudengar hyung tinggal diapartment sekarang."Itu Hansol yang bersuara, darimana Hansol tahu?Seungkwan tentu saja.
Wonwoo cuma mengangguk,"Iya, katanya supaya aku mandiri. Jadi aku disuruh tinggal diapartment."
"Sendiri?"Jihoon bertanya.
"Emm,"
Seungkwan bicara,"Jisoo hyung juga bilang kalian kemarin juga minum kopi bersama."
Wonwoo menoleh,"Ah itu, kami bertemu diperpustakaan kemarin siang lalu dia mengajakku minum kopi. Lagipula lama kami tidak ke café bersama."
Jihoon memicing matanya,"Mau sampai kapan kau seperti ini hah?Setidaknya kau berikan kode atau semacamnya pada Jisoo hyung. Jangan mengambang seperti ini terus."
"Kode apa?"
Wonwoo tidak mengerti. Atau Wonwoo tidak mau mengerti maksud omongan Jihoon?Jihoon memutar matanya malas.
"Ayolah Jeon Wonwoo, semua yang disini juga tau kalau Jisoo hyung itu suka padamu. Harusnya kau memberinya kesempatan untuk mendekatimu atau apa, jangan terus-terusan bersikap tidak peka seperti ini."
Wonwoo diam,"Berhenti membahas ini, Jisoo hyung itu tidak suka aku. Sudah berapa kali aku bilang, jangan suka menyimpulkan sesuatu secara sepihak saja. Jisoo hyung itu baik pada semua orang, bukan cuma padaku. Jadi berhenti bicara tidak jelas."
Jihoon mendengus,"Kau tidak bisa terus-terusan bersikap seperti ini, kau harus mulai membuka hatimu pada orang lain. Jisoo itu tulus padamu Woo, kau tidak boleh terpaku pada hal yang sudah berlalu. Aku tahu kau-"
"Jihoon-ah.."
Wonwoo menatap Jihoon, kali ini dengan pandangan memohon.
"Kumohon, jangan."
Wonwoo berujar pelan, dia kelihatan lelah. Entah lelah kenapa. Jihoon memandang Wonwoo sebentar. Tatapan kerasnya tadi berubah melembut.
"Maaf."Jihoon berujar pelan. Wonwoo tersenyum setelahnya.
"Tak apa."
Hansol memasang wajah bingung, tidak tahu apa yang Jihoon dan Wonwoo bicarakan. Seungkwan cuma menatapnya dengan tatapan kau-tidak-perlu-tahu. Memang, Hansol tidak perlu tahu masalah Wonwoo yang satu ini.
TBC
Untuk kakak-kakak yang minta ini dipanjangin,maaf sekali. Kayaknya aku belum bisa mengabulkan sekarang. Aku udah ngetik sampe chap kesekian dan itu semua dikisaran 2k+ semua. Mentoknya ya 2,7-an lah ya. Otakku juga kayaknya nggak nyampe kalo nulis lebih dari segitu,lagipula emang dari awal udah dirancang(?) untuk segitu tiap chapnya. Kalau aku tambahin takutnya malah kayak maksa,lagian menurutku feelnya bakal pas kalo porsinya segini ini terus. Jadii,maaf sekali belum bisa mengabulkan permintaan yang itu. Makasih kakak atas kritik dan sarannya,aku berharap walaupun aku belum bisa manjangin wordsnya untuk kedepannya kakak masih mau review untuk chap-chap selanjutnya. Saranghae kakakk (pose).
Aku pengen nulis fik ini serealistis mungkin,walaupun aku nggak tahu ini realistis apa enggak buat kalian. Kayak misalnya tentang rasa suka. Kalo aku,aku nggak bisa menyimpulkan kalo aku suka atau ada rasa sama seseorang cuman selang beberapa hari atau selang sebulan dua bulan setelah aku ketemu orang itu. Semuanya butuh proses dan perasaan itu sendiri juga. Butuh beberapa kejadian dan moment kecil supaya kita bisa semacam menyimpulkan kalo "Oh aku suka dia.","Oh aku cinta dia.". Kayak Wonwoo juga,dia butuh waktu entah untuk suka sama Mingyu apa Jisoo. Jadi ya,begitulah. Kalau fik ini mulai bertele-tele,hubungi aku. Hemm
Wonwoo disini nggak galak. Cuman dia itu model orang yang nggak banyak ngomong tapi sekalinya ngomong jleb nusuk ati.
