Heyyyaaaa!

Setelah menunggu selama dua minggu (lebih, mungkin?), akhirnya CHAPTER 3 UPDATE! Di chapter ini identitas sang polisi mulai terkuak. So, buat kalian yang penasaran dengan sosok sebenarnya dari polisi misterius ini, langsung aja, deh…


DISCLAIMER: NARUTO © Masashi Kishimoto, this fic © ME

WARNING: AU, OOC, TYPO!

~ Happy Reading, All ~


"Jadi ... Anda ingin bertemu dengan kakak saya?"

Sang polisi mengangguk. "Kau tak keberatan, kan?"

Sebenarnya, aku keberatan, batin Hinata. Namun, dia tidak mengekspresikan perasaannya itu di depan sang polisi. Dia hanya mengangguk, karena dia tahu, kalau menolak, sang polisi pasti akan mengumbar berbagai alasan agar dapat menemui Hyuuga Neji di kediamannya.

"Kalau begitu, bisakah kita berangkat sekarang?" tanya sang polisi. Tidak ada perubahan dari raut wajahnya. Namun, dari nada yang ia gunakan, Hinata tahu kalau orang ini agak mendesaknya.

"Maaf, tapi kalau sekarang, Anda tak bisa..." lirih Hinata, dengan kepala yang masih ditundukkan.

"Kenapa?"

"Kakak saya ada jadwal rapat OSIS hari ini. Kalau ada rapat, biasanya dia pulang agak sore, kira-kira dua jam lagi…"

"Oh? Saya tidak memintamu mengantarkanku menuju rumahmu, kan? Kalau kakak sepupumu sedang tidak ada di rumah, kita bisa ke sekolah, atau ke tempat di mana dia sedang berada sekarang."

Hinata—untuk yang kesekian kali—mendongak saking kagetnya. Mengunjungi Neji-nii di sekolah, katanya? Gila! Mana mungkin aku mau melakukannya! Bisa jadi buah bibir orang-orang satu sekolah, aku!

"Apa harus sekarang? Tidak bisakah kita menunggu sampai kakakku sampai di rumah?"

Polisi berambut spike dikuncir ke atas itu menggeleng. "Tidak bisa. Kalau menunda-nunda, masalah akan semakin lama terselesaikan."

"Tapi, mengapa kakak saya juga ikut terlibat?! Padahal, dia tidak ada di TKP saat kejadian berlangsung!"

"Karena itulah saya ingin bertemu dengannya."

"Kenapa? Kenapa Anda sangat ingin bertemu dengan kakak saya?!"

Sang polisi terdiam. Sorot matanya tiba-tiba diliput keraguan. Ada sesuatu yang tak ingin diberitahukannya pada siswi di hadapannya, untuk saat ini. Ya, untuk saat ini. Mungkin, suatu saat dia akan memberitahukannya—atau mungkin tidak, jika dugaannya salah.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," jawabnya akhirnya.

"Apa yang ingin Anda pastikan? Anda masih tidak percaya kalau kakak saya tidak ada TKP waktu kejadian berlangsung?"

"Sebenarnya bukan itu…" Sang polisi lagi-lagi menggantungkan kalimatnya. "Ada hal lain… Tapi, saya mungkin akan memastikannya juga jika ada waktu."

Hinata tidak berkata apa-apa. Ketakutan dan kecemasannya mulai tergantikan oleh amarah. Di satu sisi, dia memang merasa takut membayangkan apa yang akan terjadi jika polisi ini memberitahu pada Neji bahwa adik sepupunya diduga sebagai pelaku 'pembunuhan'. Namun di sisi lain, dia merasa kesal dengan polisi yang bahkan tidak mau memberitahu alasan sebenarnya mengapa dia ingin sekali bertemu dengan Neji.

"Jadi … Bisakah kau mengantarku sekarang? Ke sekolahmu, atau ke tempat di mana Neji-kun berada," pinta Polisi, memecah kesunyian di antara mereka berdua.

Tanpa menjawab perkataannya atau menggelengkan kepala, Hinata melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Dia sebenarnya tidak ingin, sangat tidak ingin terlibat dengan masalah yang satu ini. Apalagi, jika kakaknya atau anggota keluarganya yang lain ikut terlibat dalam masalahnya.

Sang polisi berjenggot lancip yang sejak tadi 'memaksa' untuk dapat bertemu dengan Neji memperhatikan tingkah Hinata. Dia memaklumi kalau anak itu sepertinya benar-benar stress karena status barunya sebagai seorang 'terduga'. Dia sebenarnya tidak ingin membuat siswi sekolahan yang samasekali belum mengerti tentang dunia kriminal terlibat dalam kasus semacam ini. Namun, dia seorang polisi... Sekaligus seorang mata-mata yang banyak menangani kasus terorisme. Kasus yang satu ini sudah menjadi tanggungjawabnya sebagai polisi 'spesial'.

Tapi … Mungkin akan lebih baik jika aku mencairkan suasana di sini dulu sebelum memastikan 'sesuatu' pada Neji, pikir polisi berumur empat-puluh-tahunan itu. Dia pun membuka mulutnya, lalu berkata, "Hinata-chan. Kenapa kau tidak menelepon kakakmu dulu sebelum kita berangkat ke sekolahmu? Barangkali, dia sudah pulang ke rumah."

Hinata menghentikan langkahnya. Menelepon Aniki? batinnya. Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati karena tidak memikirkan ada cara seperti itu. Cara yang mungkin bisa menjadi solusi atas kebimbangannya tersebut.

"Ah... Benar juga.." jawab Hinata. Dia lantas mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, lalu mulai menekan tombol-tombol yang akan menghubungkannya dengan Neji di luar sana.

Tiiit… Klik!

Telepon terangkat, diikuti dengan suara laki-laki di seberang sana.

"Halo, Hinata?"

"Kak Neji..."

"Ada apa? Hei, kau sudah pulang, ya?"

"Umm.." Hinata bingung harus menjawab apa. Diliriknya pria yang memperhatikan komunikasinya dengan Neji.

"Biar aku yang bicara padanya," ujar sang polisi akhirnya.

Ragu-ragu, Hinata menyerahkan ponselnya pada Pak Polisi. Keringat kembali bercucuran di pelipis Hinata ketika dia melihat sang polisi mulai melakukan percakapan dengan kakak sepupunya.

"Selamat siang, Neji Hyuuga."

"Maaf, sebelumnya, boleh saya tahu siapa Anda?"

"Saya Nara Shikaku, tutormu waktu itu. Kau ingat?"

"Nara Shikaku? Oh ya, tentu saja! Bagaimana kabar Bapak? Baik-baik saja, kan?"

"Aku senang kau mengingatku. Maaf, tapi kita bisa melakukan percakapan santai itu lain kali. Ada hal lain yang perlu aku bicarakan denganmu."

"Eh? Apa itu soal kompetisi? Mau ada kompetisi IPA lagi?"

"Tidak, bukan soal kompetisi atau semacamnya. Nanti kuceritakan. Ngomong-ngomong, kau ada di mana sekarang?"

"Aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah."

"Di mana tepatnya? Sudah dekat rumah?"

"Umm.. Ada apa memangnya? Bapak ada di rumah saya? Oya, Bapak menelepon pakai HPnya Hinata, ya? Bapak sedang bersamanya?"

"Ya. Saya sedang bersama Hinata. Neji-kun, bisakah kau datang ke kantor polisi Konoha sekarang?"

"Eh? Sekarang?"

"Ya. Ada hal penting yang harus segera saya bicarakan padamu. Ini menyangkut Hinata dan teman-teman sekolahmu."

"Berarti, Anda dan Hinata sekarang berada di kantor polisi?!"

"Ya. Cepatlah ke sini!"

"Ba.. Baiklah! Aku akan menuju ke sana."

Klik!

Sambungan terputus. Sang polisi melirik ke arah Hinata yang sedari tadi memperhatikan percakapannya dengan mulut yang menganga.

"Anda... Sudah lama kenal dengan kakak saya?" tanya Hinata.

"Hmm, bagaimana, ya.. Kalau lama, sih, sebenarnya nggak terlalu. Tapi, aku cukup mengenalnya."

"Sebenarnya, Anda ini siapa? Dari percakapan yang saya dengar, Anda tidak bilang ke Kak Neji kalau Anda ini seorang polisi, tapi seorang tutor. Apa maksudnya itu?"

Sang polisi tersenyum misterius. "Aku yakin kau sudah menduga jawabannya."

Hinata terperangah. "Anda orang yang mengajar kakak saya dalam persiapan menghadapi kompetisi IPA?"

Polisi bermata tajam itu mengangguk. Hinata tidak dapat berkata apa-apa selain "Wow!". Seorang polisi merangkap menjadi tutor? Apa tidak sulit membagi waktu? Ah, tapi itu tidak penting. Masih ada satu hal lagi yang mengganjal pikiran Hinata...

"Darimana Anda tahu soal saya? Saya tidak pernah melihat Anda mengajar Neji di rumah."

"Neji sendiri yang memberitahu tentangmu."

"Eeeeh? Apa yang Aniki bicarakan soal aku?"

"Tidak banyak. Hanya mengatakan kalau dia punya seorang adik sepupu bernama Hinata. 'Dia juga pintar dan rajin seperti aku. Namun, terkadang dia suka tidak percaya diri. Jangankan menjawab soal atau berargumentasi, dia sebenarnya berpotensi menjadi seorang pemimpin,' begitu katanya."

Pipi Hinata memerah. Dia memaki kakaknya yang penyayang tapi kadang-kadang suka melebay-lebaykan sesuatu. Tentu saja, dia memaki kakaknya dalam hati demi menjaga imagenya yang (mungkin) sudah 'buruk' di mata Pak Polisi.

Mengingat soal image membuatnya kembali murung. Apa jadinya jika teman-teman sekolahnya sampai tahu masalah ini? Dia pasti akan dikucilkan dan diberi gelar 'Pembunuh' atau 'Serigala Berbulu Domba' oleh teman-temannya, sama seperti gelar yang diberikan Haku padanya.

Haku... Zabuza... Siapa sebenarnya mereka? Mengapa mereka nampak sangat membenciku? Aku tak merasa memiliki masalah dengan mereka, bertemu saja baru tadi. Apa mereka orang yang tak sengaja lewat di jalanan tempat Shion jatuh? Mungkin, mereka sangat terburu-buru sehingga merasa sangat kesal ketika ada peristiwa yang menghambat jalan mereka.., pikir Hinata. Apa sebaiknya, aku tanya saja pada Pak Polisi, ya?

"Eto.., Nara-san.."

"Ya?"

"Aku.. ingin bertanya soal Haku dan Zabuza."

"Hem?" sang polisi membetulkan posisi duduknya.

"Se.. Sebenarnya, mereka berdua itu siapa?"

"Aku juga belum terlalu tahu. Menurut kabar pertama yang didapat anak buahku, mereka berdua adalah orang yang kebetulan lewat di jalan tempat Shion terjatuh. Anak buahku masih mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang mereka berdua."

"O-ooh.."

Entah kenapa, Hinata merasa aneh dengan tingkah mereka berdua. Hati kecilnya mengatakan, kalau mereka bukan orang-orang yang cuma kebetulan lewat saat kejadian berlangsung. Namun, Hinata menganggapnya sebagai sugestinya saja karena informasi yang didapat kepolisian belum jelas.

Tok, tok, tok!

Pintu di belakang mereka diketuk tiga kali dari luar. "Masuk!" titah Shikaku. Seorang pria berkacamata bulat warna hitam memasuki ruangan. Dari pakaian dan perawakannya, Hinata pikir, orang itu adalah bawahannya Shikaku.

"Shikaku-sama, ada pemuda yang mencarimu," kata pria itu.

"Oh, sudah datang, ya.. Suruh dia masuk, Ebisu."

"Tu.. Tunggu! Anda sudah tahu kalau dia mau menemui Anda..?"

"Tentu saja, karena aku sendiri yang memintanya menemuiku."

"Hai', Shikaku-sama!" Ebisu keluar dari ruangan dengan kecepatan yang luarbiasa, lalu kembali lagi hanya dalam beberapa detik saja. Di belakangnya, seorang pemuda berambut panjang sepunggung berjalan dengan hati-hati.

"Silakan masuk, Neji Hyuuga."

Sepupu laki-laki Hinata itu pun melangkahkan kakinya memasuki ruangan dengan wajah terpana. Sedangkan pria berkacamata bulat itu sudah menghilang dari pandangan orang-orang yang ada di ruangan tersebut.

"Senang bertemu kembali denganmu, Neji Hyuuga."

-to be continue-


Fyuh, akhirnya selesai jugaa.. *ngelap keringet*

Makasih banyak buat para reviewer yg nggak cuma meluangkan waktunya buat baca fic misteri pertama saya di fandom ini, tapi juga menyempatkan diri untuk menuliskan kritik, saran, dan opini mereka di kotak review maupun PM. Makasih juga buat kalian yang nggak log-in, tetapi tetap memberi dukungan dan opinya.

Untuk yang kesekian kalinya, saya minta maaf karena Naruto masih belum muncul di chapter ini :'( *digamparin reader yg udah nyempetin baca fic gaje ini demi ngelihat adegan NaruHina*

*pipi merah seketika*

Hiks.. Saya sungguh2 minta maaf.. Saya memang author yang nggak becus.. :'()

Saya terpaksa menunda kemunculan Naruto agar alurnya nggak terkesan buru-buru. Nanti Naruto pasti muncul, kok.. Tunggu aja tanggal mainnya. #lho? Emangnya film -_-''

Baiklah, sebagai penutup, saya akan… PROMOSI!

Yeah, saya mau promosiin cross misteri Naru+FT saya yg judulnya 'Tersesat'. Pairnya Gray x Anko. Kalo berkenan, silakan dibaca^^ (dan direview! Yaah, harap maklum. Beginilah nasib author baru yg miskin review ._.v)

Oke, deh, seperti biasa, sebagai penutup (lha, tadi bukan penutup?), saya mau mengucapkan….

PLEASE REVIEW

Yeah! Review kalian berarti banget buat author baru seperti saya! Jangan sungkan2, kalo ada pendapat/kritik yang pengin disampaikan, tulis aja di kotak review. Kritik yg membangun sangat saya nantikan demi kelangsungan (?) fic ini.

Salam,

Lyvia F.