Akashi bukannya tidak mengerti, tapi dia masih sulit untuk menerima semua ini. Bukan Akashi tidak pernah menyangka, tapi Akashi tidak mau percaya.
Kuroko Tetsuya ada di lantai dua, meringkuk di balik pintu kamarnya. Sedang Akashi ada di lantai satu menonton televisi, hanya pura-pura. Kuroko menahan isak tangisnya, tapi bagi Akashi itu cukup memekakan telinga.
"Aku mencintainya." Kuroko bergumam putus asa. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, dia tidak bodoh untuk menyadari perasaannya ini, tapi Kuroko juga mengetahui, tidak seharusnya ini terjadi.
"Akashi-kun, kenapa begini?" Kuroko merintih, rasanya menyesakkan sekali. Jatuh cinta pada sesama pria saja sudah salah, apalagi kepada seorang pria dan bukan manusia.
Kepada siapa Kuroko harus mengadu? Kepada siapa Kuroko bisa bercerita? Perasaannya salah, cintanya hina, dan tidak semua orang bisa menerimanya. Bagaimana dia harus menghadapi semua ini? Tidak mungkin dia menodai Akashi yang suci, Kuroko tidak ingin Akashi pergi lagi karena ini.
Akashi masih memandang kosong televisi, bukan dia tidak perduli, tapi dia juga tidak tau bagaimana harus menghadapi situasi ini. Kedatangannya kesini untuk melindungi adiknya, bukan menyakitinya, apalagi memberikan harapan palsu padanya. Tapi, Akashi tidak mungkin menyambut perasaan Kuroko Tetsuya. Tidak ada yang membenarkan hubungan seperti ini, apalagi dengan saudara kandung sendiri. Ingin rasanya Akashi mengatakan yang sebenarnya, ingin rasanya Akashi mengatakan pada Kuroko bahwa ini salah, tetapi sebagai malaikat, ada banyak aturan yang membelenggunya. Dia tidak boleh bertindak diluar logika manusia.
^My Angelf^
Kuroko bergegas menghapus air matanya, ia harus segera menemui Akashi di bawah sana. Akashi pasti bertanya-tanya tentang sikapnya yang seolah menjaga jarak dari Akashi sejak masih sekolah hingga pulang ke rumah, dan Kuroko tidak ingin Akashi curiga.
Gerakan Kuroko terdengar sangat halus di telinga Akashi, tak heran jika banyak yang tidak menyadari kehadirannya selama ini. Akashi masih terus berpura-pura menonton televisi, sesekali mengganti channel untuk lebih meyakinkan lagi. Kalau bukan karena ketajaman inderanya yang tinggi, mungkin Akashi takkan menyadari kalau Kuroko sudah ada disampingnya saat ini.
"Akashi-kun."
"Astaga Kuroko! sejak kapan kau di sini?" Akashi terlonjak dari kursi, remot televisi dalam genggaman melompat tinggi, Actingnya sungguh meyakinkan sekali.
"Sejak tadi Akashi-kun."
"Bohong."
Kuroko tersenyum mendengar sangkalan Akashi. "Sudah tau nanya," balasnya.
Kuroko memposisikan diri duduk di samping Akashi, ia merebut remote televisi dan mencari acara yang menarik hati.
"Akashi-kun?" panggil Kuroko memecah keheningan diantara mereka.
"Ya?"
"Apa kau sudah bertemu dengan Haizaki-kun?" tanya Kuroko memulai topic yang memang sudah sangat ingin ia tanyakan pada Akashi.
"Untuk saat ini belum." Mencoba mencairkan ketegangan di hatinya, Akashi mencomot cemilan dalam toples di atas meja di hadapannya.
"Rupa Haizaki-kun itu seperti apa?" tanya Kuroko lagi.
"Dia bisa menyerupai manusia, atau makhluk tak kasat mata dan lain sebagainya." Jawab Akashi seadanya. Mencicipi cemilan yang diambilnya, Akashi mengernyit tak suka. Makanan manusia tidak pernah cocok dengan lidahnya.
"Maksudku, bagaimana aku bisa tahu bahwa itu adalah Haizaki-kun?" tanya Kuroko lagi, tak puas dengan jawaban Akashi.
"Maaf Kuroko, tapi aku tidak bisa memberitahumu." Tanpa sadar Akashi justru memasukan cemilannya ke dalam mulut Kuroko.
"Kenapa?" dan reflek Kuroko menerimanya, mengunyahnya pelan sambil menunggu jawaban Akashi. Untuk sejenak mereka melupakan kegundahan hati yang sempat menghinggapi.
"Karena jika manusia tau ada iblis didekatnya, mereka akan lari sebelum digoda."
"Ah benar juga."
"Tapi Akashi-kun—" Kuroko ingin bertanya lagi, tapi Akashi keburu menyuapi. Dan seolah tau apa yang ingin Kuroko tanyakan lagi, Akashi melanjutkan penjelasannya tentang Haizaki.
"Iblis dan tuhan sudah membuat perjanjian. Iblis diijinkan menggoda manusia hingga batas waktu yang telah ditentukan. Untuk itu, baik tuhan maupun malaikat tidak berhak untuk menghentikannya. Yang bisa kami lakukan hanya membantu manusia untuk tidak terhasut oleh mereka, mencoba menebalkan keyakinan manusia untuk tidak mengambil jalan yang salah."
"Oh, aku mengerti. Seperti yang sering aku lihat di televisi, saat seseorang meragukan sesuatu ada dua mahluk di samping kanan dan kirinya yang berbisik untuk melakukan hal yang benar atau salah. Begitu kan?"
"Ya, kurang lebih begitu. Dan mereka tidak saling mengatakan bahwa 'ada iblis di samping kirimu, jangan dengarkan' atau 'ada malaikat di samping kananmu.'"
Baik Akashi maupun Kuroko sama-sama terkikik geli karna gaya penyampaian Akashi.
"Lalu, kenapa kami boleh mengetahui siapa Akashi-kun sebenarnya?" Lanjut Kuroko, masih menikmati cemilan yang berkali kali disodorkan Akashi.
"Itu karena aku berbeda—" Akashi menarik nafas sejenak dan menghentikan aktivitasnya menyuapi Kuroko. Ia menghadap ke arah Kuroko, begitupula dengan Kuroko yang menghadap ke arah Akashi, menandakan pembicaraan mereka semakin serius saat ini.
"—aku juga bagian dari kalian, karena itu aku boleh membuka diri pada kalian. Itupun dengan syarat kalian tidak boleh mengatakan pada orang lain kan? Lagipula kalian adalah orang-orang pilihan yang sudah membantuku membuat perubahan."
Kuroko tersenyum, meskipun tidak sepenuhnya mengerti tapi dia bersyukur bisa menjadi salah satu orang yang terpilih.
"Lalu, apa Haizaki-kun ada disampingku saat ini?" dengan wajah datarnya Kuroko menengok kanan-kiri, siapa tau Haizaki sedang membuntutinya saat ini.
Tetapi Akashi menggeleng dan tersenyum lembut pada Kuroko
"Selama aku ada disini, tidak akan ada iblis yang berani mendekatimu Kuroko."
"Aku akan selalu menjagamu." sambung Akashi.
Sekilas Kuroko merasakan kehangatan yang menjalar ke relung hatinya, sebelum akhirnya dia menyadari lagi tentang perasaannya, dan semua sirna.
"Kenapa Akashi-kun baik sekali padaku?" Kuroko menunduk, dan berujar lirih.
Tatapan Akashi mendadak berubah sendu, dia hanya menatap dalam adik yang dikasihinya tanpa bisa mengucap sepatah kata.
"Apa Akashi-kun merasakan hal yang sama?" Kuroko berbisik, entah pada siapa Kuroko bertanya, kepada Akashi atau dirinya sendiri?
Akashi memalingkan wajah, bohong jika dia tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Kuroko.
Hening,
Suasana mendadak hening, hanya suara televisi yang terdengar lebih jelas setelah sebelumnya teredam oleh percakapan mereka berdua.
Baik Kuroko maupun Akashi sama-sama diam. Mereka sama-sama menunduk, dengan Akashi menghadap televisi, sedang Kuroko menghadap Akashi.
"Akashi-kun?" suara lirih Kuroko kembali memecah keheningan.
"Ya?" masih tak mau menatap sosok adiknya, Akashi menanggapi seadanya.
"Apa malaikat pernah berbuat salah?"
Sudah cukup, Akashi tidak tahan lagi jika terus mendengar adiknya berujar lirih seperti ini, rasanya menyesakkan sekali.
Akashi menghadap Kuroko lagi, tersenyum lembut guna mengobati luka hati, tangannya ia ulurkan untuk membelai wajah Kuroko, sesekali memperbaiki surai Kuroko yang sedikit menutup mata.
"Seharusnya tidak, tapi pernah." Akashi menunduk lagi, teringat akan ayahnya dan dirinya sendiri.
"Benarkah?"
Astaga, apakah Akashi telah melemparkan harapan palsu lagi pada adiknya? Reaksi Kuroko membuatnya semakin merasa bersalah.
"Ya." kini Akashi yang berujar lirih.
"Lalu, apa yang terjadi pada mereka?" tanpa menyadari perubahan raut Akashi, dengan penuh antusias Kuroko ingin tau lebih jauh lagi. Tak dapat dipungkiri, hatinya berharap lebih. Mencoba mencari celah adanya kemungkinan ia bisa membenarkan perasaannya pada Akashi.
"Kau sendiri sudah mengetahui."
Kuroko menaikan sebelah alisnya, merasa heran dan tidak mengerti maksud malaikat dihadapannya.
"Kalau bukan karena itu aku tidak akan pernah bertemu denganmu." Sambung Akashi, memberi petunjuk lebih.
"Ah ya, aku ingat. Akashi-kun jatuh ke bumi karena dihukum." Kuroko tersenyum kecil mengingat pertemuannya yang pertama kali dengan Akashi.
Tapi, senyum Kuroko pudar lagi, perasaannya seperti roller coaster yang dengan cepat dapat melambung tinggi dan menukik tajam saat ini. Dalam hati ia mencari pembenaran, tapi dalam pikiran ia menyadari ini tidak bisa dibenarkan.
"Bagaimana jika kesalahan itu tidak bisa di ma'afkan?"
"Selama kita mengakui kesalahan itu dan berusaha untuk memperbaiki semuanya, serta bertekad untuk tidak mengulangi hal yang sama, kurasa tuhan akan memberikan ampunannya."
'Semoga saja.' Sambung Akashi dalam hati, sebelumnya dia tidak pernah sereligius ini.
"Aku tidak mengerti, kenapa ada hal yang tidak dibenarkan sedang kita tidak merasa melakukan kesalahan," lirih Kuroko lagi.
"Karna saat iblis sudah menggoda, akan ada banyak alasan untuk membenarkan sebuah kesalahan."
'Sekali kesalahan tetaplah kesalahan, selamanya tidak akan bisa dibenarkan. Tetsuya.'
-TBC-
.
.
Note:
Cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada hal yang tidak masuk logika, dimohon untuk memakluminya, jangan terlalu dianggap serius ya ^_^
.
.
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa review ya
.
.
Balasan Review:
Ma'af ya baru bisa balas review sekarang, reviewnya baru bisa dibaca, entah kenapa sempat tidak terlihat sebelumnya.
EmperorVer: suatu saat nanti pasti diungkapin kok, tapi gak tau kapan hehe. Terima kasih atas review dan semangatnya ^^ Ini udah di update sampai chapter 3 :D
Dhia484: adiknya Akashi itu Kuroko Tetsuya, nanti akan ada penjelasannya, mohon tunggu ya terima kasih atas reviewnya ^^
Deerwinds947: ini udah dilanjut ya terima kasih atas reviewnya ^^
Cielfuntom69: sebenernya saya juga masih berpikir apa yang terjadi, tunggu saja kelanjutannya ya terima kasih atas semangat dan reviewnya ^^
AkariHanaa: ini udah dilanjut ya terima kasih atas reviewnya ^^
Orange velvet cupcake: kue-san, review yang pertama udah dibalas sebelumnya ya, dan tentu saja saya masih ingat dengan kue-san. Akashi memang kadang seenaknya sendiri, dan sebenarnya dia tidak sepenuhnya membaca pikiran, karena indra Akashi itu tajam dan pandai memprediksi, Akashi jadi seolah bisa mengetahui masa depan. Disini pair utamanya memang AkaKuro, dan yang dipintu memang Haizaki, untuk selanjutnya masih saya pikirkan lagi, jadi entah apa yang akan terjadi, saya tidak akan ceritakan disini :p Terima kasih banyak atas reviewnya kue-san ^^
