Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

The Black Queen 2

Chapter 3

The Girl and First Riot

Suasana pagi itu senormal yang bisa dihadirkan pagi pertama pada awal tahun ajaran baru. Seluruh penghuni asrama Slytherin keluar dengan rambut setengah kering, dasi longgar dan jubah berkelepakkan karena belum terkancing. Beberapa sibuk menjejalkan buku-buku ke tas yang sudah menggelembung. Mata yang bengkak dan raut wajah setiap anak hanya menyatakan satu hal. Setelah berlibur dua bulan lamanya dan merasa bosan, mereka ingin tambahan libur satu minggu lagi saat sekolah dimulai.

Hal yang sama dirasakan oleh Narcissa. Setelah beberapa malam pada liburannya diselingi mimpi buruk, malam pertama di Hogwarts-pun sama sekali jauh dari damai.

Narcissa berjalan sambil memijit kening, tasnya berulang kali membentur anak-anak yang berseliweran di lorong kamar. Bahkan Narcissa tidak sempat berhenti untuk memelototi orang yang berani menabraknya. Dia sangat merindukan hari dimana dia bisa tidur, merawat diri, belanja, makan enak, dan tidur lagi. Tanpa kekhawatiran apapun.

"Aku rasa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Aku tidak tahu McGonagall bisa seceroboh itu…" gumam Yvonne yang berjalan merendengi Narcissa.

Suara Yvonne serak karena kurang tidur dan Narcissa hanya membalasnya dengan gumaman tak kalah serak sambil terus memejamkan mata. Pikirannya terbang menuju Aula Besar, memikirkan berapa cangkir kopi yang harus dia minum hari ini.

Akhirnya setelah seluruh anggota badannya menyusul pikirannya ke Aula Besar, Narcissa menuang kopi dan menambah gula banyak-banyak, lupa akan dietnya, dan menghirup kopi panas itu perlahan. Rasa panas dan manis yang menyenangkan menjalari ujung-ujung jarinya dan menghangatkan pipinya, menyadarkannya.

Kesibukan terasa menekan di Aula Besar. Para Prefek mengatur murid kelas satu yang bingung, takut, atau yang paling banyak, kelewat bersemangat. Sebagian Prefek membantu para kepala asrama membagikan daftar pelajaran baru yang telah diperbanyak dari daftar asli. Narcissa melirik sekilas perkamen-perkamen di tangan Slughorn yang dibagikan pada murid kelas satu sampai lima.

Narcissa mencabut tongkat sihirnya dibawah meja, lalu mengeluarkan segebung perkamen hasil-tidak-tidur-nya tadi malam. Sambil mengetukkan tongkatnya dengan irama berbeda, Narcissa merapal mantra yang rumit dan segera saja tulisan pada perkamen itu saling berkedip dan berpindah.

Kericuhan terjadi beberapa detik saat pembagian jadwal sehingga tidak ada yang mempedulikan Narcissa. Kemudian semua anak berombongan meninggalkan meja makan dengan enggan, sementara Narcissa, anak-anak kelas enam dan kelas tujuh lainnya menunggu kepala asrama mereka karena pengaturan jadwal mereka bersifat individual.

Ketika Slughorn memulai dengan memanggil Avery yang kelas tujuh, Narcissa diam-diam melirik ke sekumpulan anak kelas tujuh lainnya. Narcissa melihat Lucius duduk dengan gayanya yang biasa. Tegap dan dingin, tepat di tengah pengikutnya, memandang pengurusan jadwal dengan ekspresi bercampur antara ini-adalah-hal-terpenting-sedunia dan aku-tidak-membutuhkan-hal-payah-ini-lagi.

Jarak beberapa orang di meja itu seolah menambah lagi jarak diantara mereka. Kedekatan mereka pada malam sebelumnya seolah menguap. Mungkin ada beberapa orang yang mempertanyakan objektifitas Lucius atas apa yang direncanakannya di kelompok kecil mereka. Dan hal itu membuat Lucius menjauhi Narcissa.

Narcissa berusaha menahan diri untuk menghapus air mata yang tergenang saat Lucius maju untuk mendiskusikan jadwalnya dan berlalu untuk mengikuti kelas pertama. Ada keyakinan pada diri Narcissa, saat dia melihat Lucius keluar aula tanpa sekalipun memandangnya, bahwa harapan Lucius akan mengantar Narcissa untuk pergi ke tiap kelas seperti dulu, sama kosongnya dengan isi perut Narcissa.

Setelah beberapa detik menyebalkan yang terasa lama, Narcissa akhirnya menjadi anak kelas enam yang pertama dipanggil. Dia menabrak Travers, anak kelas tujuh terakhir, sampai bahunya sakit sekali. Beberapa anak terkekeh menganggap Narcissa terlalu tegang.

Slughorn, seperti yang diduga Narcissa sebelumnya, menyambutnya dengan antusiasme berlebihan. Slughorn dapat disimpulkan telah menjalani liburan dengan sangat baik hanya dengan melihat perutnya. Jubah beludrunya terlihat semakin mengencang. Narcissa menganggapnya hebat. Karena dengan adanya masalah-masalah di bulan lalu, dimana beberapa anak asramanya dituduh menjadi Pelahap Maut dan membunuhi orang -sebagian tuduhan memang benar-, Slughorn sangat cepat memulihkan diri.

Narcissa tersenyum sampai pipinya sakit dan akhirnya membungkuk saat Slughorn memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia akan berbisik.

"Aku dan… Abraxas telah memutuskan untuk melupakan dendam lama…" desis Slughorn.

Narcissa mengangkat alisnya untuk bertanya dendam apa, tapi ternyata Slughorn belum mau berbagi.

"Dia… ah… mengirim kartu yang sangat bagus dan indah, karena datang ke pemakaman istrinya kemarin dulu."

"Ah…" respon Narcissa sekedarnya. "Bagus sekali…"

"Yah, sekarang kau tidak perlu canggung lagi," Slughorn terkekeh pelan. "Datanglah bersama Lucius ke pesta awal tahun ajaran yang akan aku adakan. Aku akan menganggap kalian tamu kehormatan…"

"Hmmm… Terima kasih undangannya, Profesor…" gumam Narcissa berusaha kedengaran antusias.

Slughorn dan pestanya, seperti yang Narcissa kacaukan bulan Februari lalu, tampak sebagai target empuk dari rencana kekacauan yang sedang diusahakan Pelahap Maut kecil. Narcissa sesungguhnya memilih untuk tidak datang sama sekali, yang bukan seperti Narcissa biasanya yang dulu suka sekali pesta.

"Nah! Narcissa!"

Slughorn kembali pada suara normalnya yang berdentum. "Hasil yang sangat luar biasa sekali! OWL yang sempurna! Kau tetap bisa mengambil Sejarah Sihir. Binns mau menerima murid dengan nilai A. Dan harus kuakui, aku sangat bangga dengan nilai Ramuan-mu! Transfigurasi! Arithmancy! Astronomi! Mantra! Dan lihat nilai Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam-mu! Out…"

"Saya tidak akan mengambil Sejarah Sihir, Profesor!" Narcissa memotong Slughorn dengan tergesa. Khawatir siapapun akan mendengar nilai Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam-nya.

"Oh, baiklah, baiklah… Tidak sabar untuk memulai kelas baru, ya? Betul-betul Narcissa! Nah, baiklah kalau begitu… Ini jadwalmu, Nak…"

Slughorn mengetuk perkamen dengan tongkatnya beberapa kali, lalu menyerahkannya pada Narcissa.

Narcissa melirik Pemeliharaan Terhadap Satwa Gaib yang menjadi pelajaran pertamanya hari ini. Dia menghembuskan nafas lega karena masih bisa menghindari aroma-aroma kotoran binatang paling tidak seminggu lagi.

Genevive bergabung saat semua anak kelas enam telah menerima jadwalnya.

"Bagaimana? Aku belum mendengar apa-apa…' gumamnya cemas.

Yvonne dan Eva merapat dengan segera.

"Ruang kelas jauh dari Aula, Gen. Aku tidak tahu apakah masih sempat untuk kelas tujuh. Dan Travers seharusnya lebih peka lagi kalau dia mau bergabung dengan kelompok yang dianggapnya keren…"

Sambil bicara Narcissa mengeluarkan jadwalnya, menduplikasinya lewat lambaian tongkat, lalu mengetuk-ngetuk kembali jadwalnya sambil merapal cepat mantra. Lalu dia mengeluarkan jadwal kelas tujuh milik Travers yang dicurinya saat Narcissa pura-pura menabraknya tadi.

Huruf berkedip dan berganti-ganti. Narcissa dengan segera membakar perkamen lainnya yang telah dia utak-atik saat di meja makan tadi.

Narcissa belum selesai dengan pekerjaannya ketika Profesor Kettleburn, guru Pemeliharaan Satwa Gaib, tergopoh-gopoh masuk menabrak mereka berempat. Untuk pria tua dengan satu-setengah tungkai, keributan yang dihasilkannya cukup untuk memperoleh perhatian para guru.

"Mengapa ada banyak anak kelas satu di kebunku?" teriaknya entah kepada siapa.

"Silvanus? Ada apa?"

McGonagall menghampirinya tergesa. Narcissa yang sejak tadi membakar segebung perkamen mengira dia mencium bau terbakar dari dirinya sendiri. Ternyata setengah jubah Profesor Kettleburn-lah yang menyebabkannya.

"Aku seharusnya mengajar kelas enam kukira? Tetapi anak-anak kecil itu yang datang berbondong-bondong dengan jadwal mata pelajaranku pada jadwal mereka. Kau salah atur jadwal, Minerva! Mana ada anak kelas satu belajar Pemeliharaan Terhadap Satwa Gaib? Seharusnya mulai kelas tiga!" cerocos Profesor Kettleburn dengan nada yang meninggi.

"Aku tidak pernah salah!" seru McGonagall tersinggung, cuping hidungnya mekar.

"Aku baru mengimpor Kepiting Api dari Fiji! Dan mereka tidak suka keramaian! Bagaimana bisa sepi apabila anak-anak itu semua mendekat dan ingin memegang permata-permata di tempurungnya! Mereka galak sekali! Lihat yang disemburkannya padaku!"

Profesor Kettleburn menunjukkan jubahnya yang terbakar dan terus merepet, tetapi McGonagall tetap pada pendiriannya.

"… anak kelas satu itu mungkin tersasar…"

"… salah satunya keluar kandang dan menyemburkan api sejauh satu meter! Untung aku belum mati…"

"Silvanus! Tenang!"

Tapi Profesor Kettleburn belum mau dibujuk, dia mencengkram McGonagall kuat-kuat sambil berdesis takut.

"Aku lupa izinku untuk memelihara Kepiting Api belum diperbaharui tahun lalu… Kalau Kementerian tahu…"

Belum selesai apa yang akan dikatakan Profesor Kettleburn, seorang Prefek Ravenclaw tergopoh-gopoh masuk Aula, memeluk tasnya yang sobek.

"Tolong! Profesor Flitwick tergencet di kelas Mantra!"

Sekarang semua guru yang tersisa di aula menghampiri sumber keributan tersebut.

"Puluhan murid mendapat kelasnya jam pertama ini!"

"Itu tidak mungkin! Aku sendiri yang mengatur jadwal-jadwal mereka!" McGonagall masih membela diri.

"Em… Saya tidak ingat pernah mengambil Ramalan sejak saya kelas tiga…" Narcissa menyela McGonagall, berpura-pura bingung meneliti jadwalnya sementara dengan susah payah menahan tawa.

"Apa?" dentum Slughorn, kumisnya bergetar panik. "Mana? Tapi aku baru saja membuat jadwalmu?"

Jeritan terdengar dari luar Aula Besar. Beberapa anak berlari masuk saling mendorong dan menginjak, beberapa jatuh terserimpet jubah mereka sendiri.

"Kura-kuranya kabur semua!" teriak anak yang paling depan.

"Itu Kepiting Api! Kalian membuat mereka gusar! Awas kalau sampai terjadi apa-apa pada mereka yang berharga!"

Profesor Kettleburn jelas lebih memikirkan si Kepiting Api dan juga izinnya yang telah kadaluarsa dibanding keselamatan murid-murid. Dia menerjang lautan anak-anak yang berusaha masuk ke aula.

"Silvanus!" teriak McGonagall putus asa.

Profesor Kettleburn dengan segera tenggelam di antara anak-anak yang ricuh.

"Lalu bagaimana, Minerva?" tanya Slughorn gugup.

Bunyi gedubrakan dan suara berpuluh-puluh botol pecah mengalihkan perhatian mereka. Disusul bunyi ledakan yang familiar seperti ketika salah memasukkan bahan ke dalam ramuan. Bau menyengat sekarang menguar dari ventilasi bawah tanah.

Narcissa melihat beberapa anak keluar dari tangga bawah tanah. Anak terdepan adalah Snape, berasap dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Kelas anda banjir, Profesor!" teriak Snape kepada Slughorn sebelum anak-anak kelas lima yang berat tubuhnya tiga kali Snape menyeruduknya sampai jatuh. "Raknya runtuh…"

Hanya itu yang sempat dia katakan sebelum tenggelam dikerumunan anak-anak yang berlari. Slughorn menguak keras ketika anak-anak yang berbau ramuan busuk, berasap, berlendir, memenuhi aula.

"Segera ke bawah dan amankan situasi, Horace! Aku akan ke koridor…" seru McGonagall.

"Dumbledore, dimana Dumbledore?" balas Slughorn panik, berharap dapat meninggalkan tanggung jawab.

"Kalian! Bantu Profesor kalian!" bentak McGonagall kepada Narcissa dan ketiga temannya yang sejak tadi hanya berusaha menyingkirkan anak-anak bau yang mulai memenuhi aula, sementara dengan susah payah masih menahan tawa.

"Eh? Saya rasa saya alergi, Profesor…" tolak Eva tidak bisa memikirkan alasan yang lebih baik sementara seringai lebar mulai mengkhianatinya.

Akhirnya McGonagall berlari mencoba menembus lautan anak-anak yang dikejar Kepiting Api dan yang dikejar banjir ramuan.

"Cissy!" Genevive mencengkram sikunya lagi. "Kita harus bagaimana?"

"Jangan keluar! Ada Kepiting Api!" ingat Eva masuk akal.

"Ke belakang, kau harus lihat bagaimana Rumah Kaca sekarang…" Narcissa bicara sambil akhirnya tertawa lepas sehingga dia kehabisan nafas.

Kesalahan Profesor Sprout adalah, dia menyimpan biji-biji puffapod di karung gandum biasa, bersatu dengan batang Snargaluff yang diam membeku. Puluhan anak yang salah jadwal memasuki ruang kaca nomor lima, sehingga siapapun yang ceroboh akan menjatuhkan karung-karung tersebut. Biji-biji puffapod itu tumpah dan tiba-tiba saja seluruh lantai bermekaran bunga. Sialnya batang Snargaluff sama sekali tidak menganggapnya indah, satu sentuhan getaran, batang-batang itu mengamuk. Beberapa jeratnya melecut anak-anak yang sudah berteriak panik. Beberapa menyabet dan menjalari kaca sampai pecah. Di rumah kaca nomor tiga, terdengar beberapa pot pecah juga. Beberapa anak yang menjatuhkan pot-pot tersebut, menjatuhkan juga bayi-bayi jelek Mandrake yang seolah bangkit dari pekuburan karena berlumur tanah dan menangis keras seolah hanya untuk itulah mereka ada.

Narcissa menutup kuping tepat pada waktunya, ketika beberapa anak pingsan ditempat.

Profesor Sprout, yang datang dari Aula Besar karena dia mengurusi dulu pembagian jadwal seperti Slughorn dan McGonagall, ikut pingsan sebelum dia mencapai rumah kacanya. Kabar baiknya, batang Snargaluff seolah ikut pingsan karena tidak melecut-lecut lagi. Tetapi tidak ada yang bisa menghentikan tangisan Mandrake.

Narcissa merasa pusing karena tangisan Mandrake seolah menembus tangannya sehingga otomatis dia berlari menjauh. Lupa akan teman-temannya, Narcissa kembali melihat ke belakang, tetapi dia tidak melihat Yvonne, Eva ataupun Genevive mengikutinya. Rombongan anak-anak yang juga menjauhi sumber tangisan Mandrake mendorong Narcissa menyusuri koridor. Lantai satu sudah kelewat ricuh karena ruang kelas banyak yang terdapat di lantai satu, sehingga Narcissa naik ke tangga lantai dua dan berusaha mencari dimana teman-temannya. Tampaknya tidak ada lagi murid-murid yang berada di kelas saat ini.

Peeves, yang menganggap kekacauan adalah pesta ulang tahunnya sendiri, terbang kesana kemari dengan tawa seperti orang gila. Melemparkan botol-botol tinta berwarna-warni ke semua kepala anak-anak, menambah histeria. Narcissa kembali terdorong ke lantai dua. Semua berlarian panik entah menghindari apa, sehingga menjatuhi baju jirah yang berderet-deret, menyebabkannya jatuh berkelontangan. Ternyata beberapa anak juga seperti Peeves, menganggap kejadian ini adalah tanda untuk bermain. Narcissa sempat melihat mereka tertawa-tawa dan saling menyerang dengan menggunakan mantra pada teman-teman mereka. Dan Narcissa hampir menyesali kericuhan yang dibuatnya sendiri saat dia nyaris tersambar mantra gelitik.

Akhirnya Narcissa berhasil berbelok ke koridor yan tampaknya dilupakan anak-anak karena koridor itu sepi. Tetapi Narcissa dapat melihat tanda-tanda anak-anak berlari kabur karena banyak sekali buku, botol tinta yang berjatuhan.

Dia mendengar suara seseorang menangis tersedu-sedu…

Narcissa terpaku selama sedetik, tetapi rasa penasarannya mengalahkan keinginannya untuk kembali ke koridor utama. Dengan berjingkat dia menghampiri pintu kayu sumber suara tersebut. Ternyata yang menangis adalah guru baru kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Guru itu ada dalam posisi yang aneh, antara berusaha menutup pintu dari dalam tetapi sebagian tubuhnya ada di luar, sehingga seperti orang yang akan menjepitkan diri.

Diluar kenyataan bahwa Narcissa bahkan tidak ingat nama guru baru ini, dia berusaha menarik wanita itu dari pintu.

"Jangan!" kata si Profesor sambil menahan pintu. "Jangan masuk! Ada boggart lepas!"

Narcissa menarik kembali tangannya dari guru itu seolah dialah boggart-nya.

"Kenapa dengan boggart-nya?" tanya Narcissa melengking karena tak yakin.

"Mereka lepas… Aku tidak bisa membiarkan mereka berkeliaran di koridor!" dia menoleh ke dalam kelas dengan takut-takut.

"Mereka?" ulang Narcissa tidak percaya.

"Tidak! Tidak! Aku adalah penyihir! Bukan wanita lajang yang tidak berguna seperti yang kalian pikirkan! Tunggulah sebentar! Ibu! Aku pasti bisa membanggakanmu!"

Narcissa hampir saja berlari ketika mendengar ocehan guru itu seolah dia sudah gila. Tetapi belum sempat berbalik, guru itu terjatuh, pegangan pintunya lepas sehingga menjeblak terbuka.

Narcissa melihat pemandangan paling aneh dan sulit di mengerti. Lalu menyadari, itu mungkin sisa-sisa apa yang dilihat dan hal yang paling ditakuti si guru tersebut.

Sekelompok orang, semuanya berpakaian muggle seperti tetangga Paman Orion, tampaknya sedang mengadakan pesta besar. Ada beberapa pasangan dan juga wanita seumuran guru tersebut, semuanya tampak sukses, bahagia dan memandang dengan mencemooh.

"Jadi, kapan kau menikah?" tanya salah seorang muggle.

"Umur sudah tua belum dapat pekerjaan tetap?"

"Sekolahmu dulu dimana, sih?"

Tiba-tiba muggle-muggle tersebut dikelilingi asap hitam. Mereka berjatuhan. Darah mengalir seiring menghilangnya asap hitam. Ada ibu Narcissa dikejauhan, berpegangan tangan dengan ayahnya… mata mereka membelalak kosong. Andromeda dengan perut terbuka… Sirius dengan leher menganga ada diatas tumpukan tubuh bibi Walburga, Paman Orion, dan Regulus. Teman-temannya tanpa sehelai benangpun berjajar di sisi mereka… Dan rambut pirang-putih itu… Lucius… Warna merah merembes ke helai-helai rambutnya…

Terdengar tawa dingin yang mirip ringkikan Banshee. Seseorang bertudung hitam berjongkok di tengah ruangan, pelan-pelan kepalanya mendongak menampilkan wajah putihnya yang berkilau, matanya merah, darah menetes dari bibirnya…

Masih terkikik yang membangunkan seluruh bulu kuduk Narcissa, Voldemort berseru kepadanya,

"Kemarilah… Jangan takut… Hihihihihi…"

Narcissa merasa suara itu menembus kupingnya lebih dalam daripada tangisan Mandrake sehingga dia hampir kehilangan pijakkan. Rasa takut yang di luar akal sehat. Kesadarannya mulai hilang ketika terdengar teriakan menggelegar dari belakangnya.

"Riddikulus!"

Pemandangan dihadapan Narcissa pecah menjadi seribu asap.

"Tertebas pedang sendiri?" desis seseorang menarik paksa siku Narcissa yang masih berdiri mematung.

Lucius nyaris menyeret Narcissa menjauhi kelas itu dan gurunya yang masih jatuh terduduk di ambang pintu.

"Mantra Protean pada seluruh perkamen induk jadwal pelajaran agar menjadi kacau sesuai keinginanmu? Sangat pintar, Cissy. Hanya saja kau seharusnya tidak mempedulikan guru-darah-lumpur itu tadi!"

Telinga Narcissa tampaknya berdenging karena dia merasa Lucius berbicara padanya dari jarak yang sangat jauh. Semua tampak masih berasap seperti tadi. Rasa dingin yang aneh mulai menjalari isi kepalanya sampai ke kaki-kaki Narcissa.

Tangan yang hangat seolah menyelomot dagu Narcissa yang bagai es. Wajahnya sedang ditengadahkan untuk menatap mata abu-abu dihadapannya.

Kehangatan yang familiar menyergap Narcissa lagi ketika hidungnya sudah menghirup aroma tubuh Lucius yang memeluknya. Air matanya seolah dicairkan, Narcissa merasa menangis tanpa suara, sementara Lucius berkali-kali mengusap rambutnya sambil merapalkan kata-kata seperti, semua baik-baik saja, sudahlah, tenanglah, dan seterusnya.

Kekacauan yang terjadi di sekitar mereka seolah lewat begitu saja di kepala Narcissa. Akhirnya terdengar suara menggelegar dari seluruh sudut kastil. Narcissa tidak tahu suara siapa itu, tetapi itu adalah perintah agar seluruh murid kembali ke Aula Besar dengan tertib.

Narcissa sama sekali tidak ingat bagaimana caranya sampai ke Aula Besar lagi. Kemungkinan Lucius menyeretnya dengan susah payah. Riuh rendah suara anak-anak yang panik, penasaran, dan ketakutan hanya berdenging ditelinganya. Baru ketika suara Dumbledore yang bergaung memenuhi aula, Narcissa mengangkat wajahnya yang basah oleh sisa-sisa air mata.

"Tenang!" seru Dumbledore sambil mengangkat tangannya.

Seluruh aula langsung hening kecuali bunyi dengung yang masih bergantung di udara.

"Terjadi kesalahan pada sistem administrasi sekolah saat ini…" lanjut Dumbledore pelan dan lunak.

Beberapa guru, terutama McGonagall, mendelik dengan kesal karena kredibilitasnya dipersalahkan.

"Agar kami bisa membereskannya dengan cepat, sekolah pada awal tahun ajaran ini diliburkan sementara…"

Dengungan semakin bertambah dengan bisikan-bisikan riang sehingga Dumbledore harus menenangkan mereka lagi.

"Sampai bertemu kembali besok…" ujarnya kalem seolah penambahan waktu libur tidak berarti apa-apa baginya.

Anak-anak sekarang berhamburan keluar dengan ribut. Narcissa tetap menenggelamkan diri di dada Lucius, merasa luar biasa pusing. Dari sudut matanya dia melihat Yvonne sedang dipaksa oleh Ketua Murid baru untuk membantu mereka. Yvonne sebenarnya adalah Prefek Slytherin yang dipilih oleh Dumbledore sendiri, mengalahkan Narcissa waktu mereka kelas lima tahun kemarin. Tapi Yvonne lebih suka tidak mengerjakan pekerjaannya. Entah karena tidak mau lebih bersinar dibanding Narcissa atau dia memang membenci birokrasi sekolah. Tetapi saat ini yang Narcissa rasakan adalah kelegaan yang bertubi-tubi melihat Yvonne, dan juga merasakan Lucius, hidup dan sehat tidak seperti boggart-nya tadi.

Arus anak-anak mendorong mereka menuju ke halaman. Kepiting Api Profesor Kettleburn tampaknya sudah berhasil diamankan, walaupun rumput di depan danau sekarang habis terbakar. Walaupun begitu, bau menyengat api dan tanah yang basah tidak dapat menutupi kesegaran pagi musim panas di halaman.

Narcissa mendongakkan kepala dan membiarkan hidungnya menghirup dalam-dalam aroma air tawar yang menyegarkan, dan ajaibnya, semua pemandangan boggart-nya seolah tersapu bersih.

"Satu! Dua! Yeah!"

Terdengar teriakan melengking dari ujung pohon terdekat. Rupanya ada yang sangat senang mendapat libur tambahan. Seorang anak lelaki, masih mengenakan jubah lengkap, meloncat dari ketinggian batang pohon yang merunduk ke danau. Dia tercebur ke danau yang tenang dan jernih.

Beberapa anak perempuan terkikik melihatnya dan berjalan menuju batu-batu danau yang licin.

Anak yang dengan keras menghantam danau, muncul lagi ke permukaan setelah beberapa detik menyelam. Dari rambutnya yang hitam dan menjurus ke segala arah walaupun basah, Narcissa mengenali James Potter, si pembuat onar Gryffindor.

"Ayo, Sirius!" teriaknya.

Beberapa orang menyusul menceburkan diri, kali ini hanya memakai celana pendek, membuat semua anak perempuan menjerit. Narcissa mau tidak mau meneliti Sirius yang tanpa-baju tersebut, selamat dan lehernya masih utuh. Lalu menghembuskan nafas dengan lega.

Akhirnya semua menikmati hari pertama sekolah. Narcissa hanya bisa terpaku dengan Lucius disisinya, bagaikan salah tempat.

Merayakan kebebasan yang tiba-tiba, beberapa anak langsung merebahkan diri di tanah, sementara yang lain menyanyi keras-keras dan berlarian juga menuju danau, melempar sepatu jauh-jauh dan saling menyemburkan air. Tampaknya ada yang segera mencuri minuman dari dapur. Botol-botol isi Butterbeer dan mead dicampur dan dikocok keras-keras sehingga isinya menyembur sampai jauh keatas. Seolah sedang pesta bir betulan. Aroma manis kacang, apel, anggur bercampur di udara.

Bahkan dari seluruh kegembiraan ini, Narcissa bisa melihat siapa yang bisa merusaknya. Beberapa anak dengan jubah Slytherin dikejauhan terlihat berhasil memalak mead dari anak-anak lainnya. Merasa mereka berjalan menghampirinya, Narcissa dengan cepat menjauhkan diri dari Lucius, yang sayangnya tidak cukup cepat. Evan Rosier yang ada di depan rombongan menyeringai melihat tanda-tanda kelemahan ini.

"Kau punya selera bagus untuk menciptakan suasana, ratu drama," teriak Evan sambil mengacungkan mead dingin hasil rampasannya. "Tapi kau tidak membuat mereka semua takut, kau membuat mereka senang. Lihat para jembel itu!"

Evan mengedikkan kepala ke arah gerombolan anak yang sedang berpesta. Beberapa Prefek tampak kewalahan membubarkan mereka. Peeves yang tampaknya selalu mengikuti arus keramaian sudah mulai menjatuhkan botol-botol tinta lagi, menambah kesenangan anak-anak.

"Tapi itu tidak adil!" seru seseorang berlari menghampiri mereka.

Ternyata Yvonne entah bagaimana berhasil kabur lagi dari tugasnya. Dia terengah-engah menghampiri mereka.

"Semua guru dalam pengawasan sekarang. McGonagall karena arsipnya bisa bocor. Slughorn dan Flitwick yang tidak bisa menguasai keadaan. Kettleburn yang surat izin memelihara Kepiting Api-nya habis. Sprout juga karena menyatukan biji puffapod dengan snargaluff di ruang kaca yang sama dan tak terkunci. Oh, dan guru baru bodoh itu yang membawa tiga boggart sekaligus ke kelasnya!"

Narcissa tidak tahu bagaimana Yvonne mengetahui ini semua dengan cepat, tapi rupanya hal ini tidak bisa memuaskan Evan.

"Jangan ikut-ikutan, sepupu! Kau bahkan seharusnya tidak tahu apa yang sedang kami bicarakan," dia mendelik tajam kepada Narcissa kemudian kepada Lucius, "Dan tidak ada yang berhasil kau singkirkan, bukan? Tidak ada poin kalau begitu, Lucius?"

"Pergi jauh-jauh, Evan!" usir Lucius, walaupun itu diucapkan dari sudut-sudut bibirnya.

Evan mendecakkan lidah, yang sangat menyebalkan Narcissa.

"Kami harus mempertanyakan kembali kemampuanmu memimpin, Lucius. Kau tahu, biasanya wanita bisa mengaburkan segalanya…"

"Kau mau ada orang yang tersingkirkan untuk hal ini? Baiklah!" potong Narcissa dengan emosi memuncak. "Slughorn akan senang menyingkirkan beberapa dari kalian. Dan bilang pada Travers, aku sama sekali tidak menyesal!"

Narcissa berbalik setengah berlari menuju kastil meninggalkan apa yang telah dia buat di belakang.

.

.

.

Pagi telah berlalu, dan setelah semua anak dipaksa untuk kembali ke ruang rekreasi masing-masing, koridor-koridor menjadi hening kembali.

Narcissa berjalan menyusuri koridor menuju ruang rekreasi Slytherin yang berbau aneh, sisa-sisa banjir ramuan yang dikeringkan. Dia berjalan diiringi oleh Slughorn. Setelah beberapa interogasi mendebarkan bersama Dumbledore sendiri, Narcissa merasa lega Dumbledore akhirnya percaya bahwa Travers-lah pelakunya. Narcissa tidak ingat bagaimana dia dengan meyakinkan mengoceh tentang jadwal pelajaran Travers yang bereaksi keras dengan mantra protean saat dia mencobanya. Bagaimanapun dia harus menutupi jejaknya sendiri apabila Dumbledore memutuskan untuk memeriksa tongkat Narcissa.

Slughorn yang marah, sedang dalam masa percobaan, dan tidak mau pusing lagi, membela Narcissa habis-habisan. Akhirnya keputusan dibuat saat itu juga, Travers akan diberi peringatan terakhir, dan akan dikeluarkan apabila mengacau lagi.

Narcissa lega Dumbledore tidak mengadakan investigasi lebih lanjut dan tidak pula menanyakan bukti-bukti yang sebenarnya lemah. Narcissa sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Dumbledore, dan dia bahkan terlalu takut untuk menatap mata biru bening yang seolah sedang menggali isi pikiran Narcissa kalau mereka bertatapan.

"Aku akan mendetensinya berat-berat…" kata Slughorn memecah keheningan dan mengagetkan Narcissa.

"Oh…" gumam Narcissa akhirnya, berharap detensi apapun itu bisa menyibukkan Travers sehingga dia tidak sempat membalas dendam pada Narcissa.

Ruang rekreasi Slytherin, syukurlah, bebas dari banjir ramuan sehingga tidak berbau aneh. Slughorn masuk dengan angkuhnya dan menghampiri Travers diantara gerombolan anak laki-laki. Travers kebingungan karena ditempel oleh Slughorn dan dibawa keluar.

Ruangan sunyi senyap sementara Narcissa, yang tadi masuk dengan Slughorn seolah semuanya beres, menolak menyembunyikan diri sebagai pelaku sebenarnya dalam pembuatan onar hari ini.

Beberapa anak yang termasuk kelompok Lucius, ada yang tersenyum diam-diam, menunjukkan penghargaan. Beberapa yang terkena tangisan Mandrake masih terlihat linglung karena baru disadarkan. Ada beberapa yang tangan dan kakinya bilur karena snargaluff dan rambutnya masih warna-warni kena tinta Peeves. Evan dan teman-teman Travers menatap Narcissa garang seolah merencanakan bahwa Narcissa-lah yang harus tersingkir berikutnya.

Sepasang tangan menariknya pelan keluar dari kerumunan. Itu Genevive, membawa Narcissa kembali ke kamar anak perempuan. Eva ada disana, tetapi Yvonne entah dimana. Mungkin ikut rapat Prefek atau entah apa.

"Lucius berpikir ada baiknya kau tidak menonjolkan diri dulu," kata Genevive.

"Yah, kau dapat satu poin, Cissy!" seru Eva bangga.

"Yeah? Aku pikir dia harusnya objektif…" balas Narcissa sinis.

"Jangan bodoh, Cissy. Lucius mencemaskanmu…" kata Genevive lagi.

Narcissa menarik nafas pelan untuk mengendalikan diri. Terpikir olehnya apa yang akan dilakukan Slytherin lain kalau Evan Rosier sendiri menganggap apa yang dilakukan Narcissa hari ini tidak ada apa-apanya. Tapi terpikir lagi olehnya setelah kekacauan yang dia buat, hari ini tidak terlalu buruk.

Dia membawa kebebasan kepada semua anak-anak, yang dengan riang gembira menyambut libur tambahan, terjun berenang, berteriak, bernyanyi dan minum-minum. Sekecil apapun kebebasan, itu simbol keindahan hidup. Sesuatu yang mungkin akan sulit didapat di masa depan.

"Kalian tahu? Aku seharusnya ikut si sialan James Potter itu terjun ke danau. Aku yang menyebabkan ini semua, aku seharusnya yang bersenang-senang…" gumam Narcissa lebih kepada dirinya sendiri.

"Cissy, apa…" tanya Eva kebingungan.

"Aku akan tidur sebentar menggantikan kerja keras kita mencuri arsip jadwal McGonagall semalaman. Selamat tidur, E, Gen…"

Hanya dengan melepas jubah luar dan sepatunya, Narcissa merebahkan diri ke tempat tidurnya, memikirkan pesta mendadak di danau tadi pagi, Narcissa tertidur lelap. Tanpa sekalipun memikirkan boggart-nya dan dia tidak bermimpi buruk lagi hari itu.

.

.

.

Notes:

Boggart-nya Narcissa disini aku buat adalah kematian keluarganya dan orang-orang yang disayanginya, bukan hanya Voldemort. Ini jadi titik awal Narcissa yang lebih mementingkan keluarga dibanding Voldemort dan Pelahap Maut di buku-buku Harry Potter.

Semua keluarga Black punya karakter kuat. Disini aku coba kembangkan Narcissa lebih pemberontak. Sama seperti kakak-kakaknya, Sirius, dan juga Regulus!

Maaf banget kalo update-nya lama n kalo ceritanya kurang greget… Hehehe

Well, tetep ditunggu segala masukan, saran, n kritiknya ya…

Enjoy!