Pagi itu, Hijikata pergi ke taman sembari menghisap rokoknya. Setelah ia menghembuskan nafasnya yang berasap, ia baru menyadari bahwa ia sudah duduk di bangku taman.
Hidupnya sangat kacau.
Kondou-san memaksanya untuk mengepas baju untuk pernikahan kemarin, jasa dekorasi sudah mereka hubungi, undangan sudah tersebar. Seluruh sudut barak sudah dirapihkan, beserta dengan tembok yang sudah dicat ulang. Mereka akan melakukan pernikahannya di barak. Pernikahan, ya?.
Ingin rasanya Hijikata kabur, atau membunuh si mata ikan mati (sebagai opsi kedua) untuk mengakhirinya. Sumpah, ia masih sangat normal. Walaupun memang beredar rumor bahwa ia gay karena tidak pernah tertarik kepada lawan jenis, tapi Hijikata menolak mentah-mentah laki-laki yang sering menawarinya minum bareng di bar kabukichou.
Lagi pula, yang sebenarnya pantas dituduh gay adalah Gintoki. Kenapa ia bisa terlihat sangat normal dalam keadaan seperti ini?. Tiba-tiba, Hijikata tersedak dengan ludahnya sendiri.
" Jangan-jangan ia benar-benar...," terhenti dengan kata-katanya sendiri, Hijikata menggeleng. Itu tidak mungkin terjadi. Seorang tukang gali upil, jomblo ga laku seperti dia tidak akan tertarik dengan oni fukuchou ini. Tidak bahkan di neraka sekalipun.
" Itu dia, TOSHII!," mendengar suara teriakan yang memanggil namanya dari belakang, Hijikata menoleh perlahan. Kondou-san berlari dengan membawa gaun pernikahan dan Sougo membawa... cambuk?. Dengan senyum lebarnya seperti biasa, Kondou-san mengibarkan gaun itu.
" Pesanan gaun ukuran mu sudah sele... are? Toshi?," bagaikan ninja, Hijikata menghilang dalam sekejap mata. Ia menghela nafasnya di balik bayangan pohon taman, sambil tetap waspada mengawasi mereka berdua yang terus mencari keberadaan Hijikata. Ia menaruh tangan kanannya di atas dada dan meremas bajunya. Matanya yang tajam tidak bisa beralih dari sosok Kodou-san dan Sougo.
Ia lupa, bahkan di dunia ini pun, neraka tetap ada.
.
.
.
Ohayou, Darling!
Gintama milik Hideaki Sorachi-sensei
Warning's: OOC, Typo's, dll
.
.
.
Kondou menoleh ke sekelilingnya. Perasaan beberapa saat yang lalu ia melihat punggung Hijikata. Sangat disayangkan, sepertinya ia salah orang. Padahal ia sudah mendapat gaun yang berukuran pas untuk wakilnya itu.
" Hijikata-saaaan? Kau ada di mana, Hijikata-saaaaan?," tanya Sougo, mengibaskan cambuk yang ia bawa sambil terus memutarkan pandangannya dengan tidak niat. Ia sudah cukup puas dengan Hijikata yang menderita sekarang, jadi ia tidak terlalu tertarik untuk merepotkan dirinya sendiri lebih jauh. Lagi pula ia menantikan pernikahan Hijikata dengan danna, dengan begitu Kondou-san hanya akan melihatnya seorang. Kembali seperti dulu, ia sudah sangat senang walaupun kakaknya tidak akan pernah kembali.
Sougo memelankan jalannya dan terdiam, pandangannya yang kosong mengarah ke bawah. Seperti tidak sadar Kondou-san mendekatinya, ia tidak merespon saat Kondou-san menepuk pelan kepalanya, sampai Kyoukuchou itu memanggil namanya.
" Sepertinya Toshi sedang sibuk patroli. Lebih baik kita kembali, Sougo, semuanya sudah menunggu... Dia sangat bekerja keras," tangan Kondou menarik Sougo untuk berjalan di sebelahnya. Mata Sougo terbuka lebar melihat Kondou menggandengnya. Sama seperti dulu. Ia tidak sendirian lagi, bukan?. Mereka hanya berdua, tidak ada Hijikata yang mengambil tempatnya.
Pipi Sougo sedikit bersemu merah. Akhirnya, setelah ia terlalu lama berjalan di belakang mereka.
"..." Hijikata terdiam. untuk pertama kalinya, ia melihat ekspresi Sougo yang tidak pernah ia keluarkan selain di depan kakaknya. Mungkin ada baiknya kalau kali ini ia yang mengalah. Ia tidak bisa menyangkal kalau ia memang mengambil sebagian tempat Sougo di samping Kondou-san. Mungkin kali ini, ada baiknya kalau ia mengikuti permainan Sougo.
" Yorozuya, jangan- jangan dari awal..," Hijikata mengerutkan dahinya. Ia lalu berjalan dengan langkah yang pasti. Ada yang harus dia pastikan, sesuatu yang penting yang tidak ingin Hijikata lupakan.
.
.
.
" Entahlah,"
Hijikata tertegun mendengar jawaban Gintoki. Ia memukul tembok tempatnya bersandar, satu-satunya peghalang antara dia dengan Gintoki yang berada di dalam kamarnya. Menggertakkan giginya, ia meninggikan suaranya, walau masih bisa dibilang berbisik.
" Aku sedang tidak ingin macam-macam dengan mu, mata ikan mati, jadi jawab pertanyaanku," kata Hijikata dengan urat-urat kesabaran yang sebentar lagi putus. Ia hanya bertanya, dan Gintoki selalu berhasil membuatnya menjadi tidak sabaran. Apalagi saat ia sadar suara Kondou dan Sougo yang sudah kembali ke barak.
" Apa Sougo datang menyewa kalian?," tanya Hijikata dengan pertanyaan yang sama. Demi mayonaise, jika ia harus menginterogasi Gintoki, mungkin itu adalah tugas terberatnya sepanjang masa.
Gintoki terdengar seperti sedang berpikir-pikir, apakah ia sudi menjawab pertanyaan Hijikata secara cuma-cuma atau ia akan bermain-main dengan Hijikata lebih lagi. Tetapi setelah beberapa kali bergumam seperti ' apa yang ia katakan, ya?' atau ' aku ingin baskin robin', akhirnya Gintoki berhenti dan menyandarkan punggungnya ke tembok di balik Hijikata bersandar.
" Seingatku aku hanya mengikuti permainan bocah... Sama seperti mu bukan, Hijikata-kun?," kata-kata Gintoki memperjelas semuanya. Sougo memang meminta tolong kepada Yorozuya. Sama sepertinya yang mulai berpikir kalau ia akan mengikuti permainan Sougo.
" Bocah itu meminta ku bermain hingga ia merengek, benar-benar berisik..., dia bawahan mu kan? Sekali-kali ajari sibuknya orang dewasa," protes Gintoki, lalu meninggalkan Hijikata sendirian di sana. Hijikata hanya mampu untuk terdiam. Sougo sampai rela untuk merendahkan harga dirinya di depan Yorozuya. Hanya sebuah keajaiban atau Mitsuba yang mempu membuat itu terjadi.
Atau mungkin bahkan Hijikata.
" Hei, Yorozuya... Menikah sepertinya permainan yang sangat menarik."
.
.
.
Malam ini, bintang bertaburan dengan sangat indah di langit Edo. Shinsengumi sedang merayakan bersama yorozuya untuk pernikahan Gintoki dan Hijikata besok. Kagura menghabiskan stok nasi mereka yang diikuti Sougo (ia tidak ingin kalah walaupun hanya lomba makan). Yamazaki bermain badminton dengan Shinpachi, yang entah untuk ke berapa kalinya gagal mencetak skor. Dan di tengah ruangan yang ramai itu ada sebuah pajangan berbentuk gorilla telanjang. Mengapa mereka menaruhnya di sana?.
Hijikata kembali membawa sebotol sake dan cawan, duduk sendiri di dekat pintu dan meminum sakenya sendirian. Ia tersenyum tipis. Hari ini adalah hari terakhirnya menjadi laki-laki normal. Besok adalah hari pernikahannya. Pernikahannya. Pernikahannya. Pernika-
DUAAAKH!
Tembok di sebelahnya bergetar karena sebuah benturan. Kepala Hijikata mengalirkan darah segar. Ia lalu menyentuh kepalanya yang berdarah dengan perlahan. Tatapan Hijikata yang tadinya tenang, sekarang berubah menjadi sangat horror.
Yang benar saja. Besok ia akan menikah?!. Terlebih lagi, SESAMA JENIS?!.
Oh tuhan. Demi seluruh mayonaise yang pernah dia makan, Hijikata masih merelakan jika ia tidak bisa langgeng dengan Mitsuba, tetapi bukannya ini keterlaluan?. Sekarang ia tidak punya tempat lagi di Edo untuk kembali. Kembali sebagai laki-laki normal.
Kenapa ia tidak mencoba menghentikan semua ini dari jauh-jauh hari?. Apakah ia sudah gila untuk mengikuti permainan Sougo?. Sungguh bodoh. Hijikata merutuki dirinya yang bisa jauh lebih polos dari Sougo.
TBC
.
.
.
CHAP 3 SELESAAAI! BANZAI(^o^)/!
Tolong tinggalkan review, kritik dan sarannya, minna-san!
Aku sangat berterima kasih sudah membaca fanfic ini *membungkuk dalam*
