The Word That Can't Be Said
Epilogue : Your Happy Ending Wanna Be
Warning : Typo, Gs, Ooc
Main Cast : Kim Jong-In, Do Kyung-Soo
Cast: Baek-Hyun, Chan-Yeol, Lu-Han, Se-Hun (and EXO member as cameo)
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Rated : T
Seoul, South Korea.
Spring, 2006.
Ia keluar dari sebuah ruangan gelap dengan beberapa lembar foto ditangannya. Ia menyunggingkan seulas senyum ketika ia melihat lembar demi lembar dari foto yang baru dicetak itu. Ia lalu duduk disebuah kursi dengan meja lebar seukuran meja makan.
Suara pintu yang terbuka membuatnya mendongkak dan mendapatkan seorang laki-laki bertubuh jangkung menyembulkan kepalanya sambil tersenyum. Tangannya melesat menyembunyikan foto-foto itu dibalik sebuah buku.
"Jong-Ina! Jun-Myeon seongsaengnim tidak akan datang. Kita punya banyak waktu untuk bermain game. Aku membawa notebookku. Ayo?" Ajaknya berteriak dari pintu.
"Kau duluan saja. Aku akan pergi ke perpustakaan sebentar." Jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Sejak kapan kau ke perpustakaan—"
"Ya Park Chan-Yeol." Panggilnya dengan nada yang mengancam. Laki-laki bernama Chan-Yeol itu langsung menutup bibirnya rapat-rapat dan senyum bersalah.
"Keurae. Na kalkae. (Baiklah. Aku pergi.)" katanya lalu menutup pintu ruangan itu perlahan.
Jong-In kini mengambil kembali foto-foto yang tadi disembunyikannya. Keningnya kini berkerut serius memerhatikan foto-foto itu.
"Ah satu lagi.." ucap seseorang membuat Jong-In terlonjak kaget. Ia menoleh dan menemukan Chan-Yeol menyembulkan kepalanya lagi. Jong-In menyipitkan mata kearahnya. "Lokermu.. Ya seperti biasa."
Chan-Yeol tersenyum lebar lalu kembali menutup pintu itu. Jong-In menghela napas panjang beranjak lalu berjalan mengambil sesuatu dari dalam sebuah lemari kecil. Ia mengeluarkan sebuah album foto berwarna coklat tua yang lumayan tebal. Ia membuka halaman pertama album itu lalu menyelipkan foto-foto ditangannya disana.
Jong-In kini berjalan menuju perpustakaan dengan kamera yang menggantung dilehernya dan album coklat tebal ditangannya melewati lorong yang berisi penuh dengan loker abu-abu.
Ia bersikap biasa ketika melihat banyak hadiah yang memenuhi tempat diluar lokernnya. Ia berjalan mendekat dan memerhatikan hadiah-hadiah yang berserakan didepan lokernya. Ia lalu mendongkak melihat kearah atas loker. Kedua kakinya berjinjit dan meraba-raba atas lokernya dengan tangan mencari sesuatu.
Ia menghela napas panjang dan kembali berdiri normal ketika ia tidak menemukan apa-apa dari atas lokernya itu. Ia menunduk dengan wajah yang terlihat kecewa. Ia lalu berjinjit lagi dan memotret ruang kosong diatas lokernya itu.
Matanya menatap lemah hadiah-hadiah didepan lokernya. Wajahnya tidak menyiratkan perasaan senang melihat semua hadiah itu.
Tapi wajahnya yang bertanya menyiratkan kekecewaan.
...
"Jong-Ina. Lihatlah anak perempuan yang duduk dibelakangmu." Ucap Chan-Yeol dengan mulut penuh ketika Jong-In mulai melahap makan siangnya.
Jong-In mendongkak dan malah menatap tajam Chan-Yeol yang menunjuk beberapa anak perempuan yang tersenyum-senyum kearahnya dibelakang Jong-In dengan dagunya. Chan-Yeol berhenti mengunyah makanannya melihat ekspresi seram diwajah temannya itu.
"Kau kenapa? Tidak seperti biasanya." Kata Chan-Yeol hati-hati lanjut menyantap makan siangnya. Jong-In hanya menggeleng pelan menyantap makanannya yang terlihat tak nikmat sama sekali."Baiklah jika kau tak ingin bicara." Lanjut Chan-Yeol menyerah dengan sikap dingin laki-laki didepannya.
"Chan-Yeola. Tolong kau bagikan hadiah-hadiah didepan loker pada teman-temanmu." Katanya membuat Chan-Yeol mengeluarkan ekspresi bertanya. Chan-Yeol hendak mengatakan sesuatu tapi tidak jadi ketika Jong-In sudah melotot kearahnya dan hanya mengangguk menurut.
Jong-In akan meneguk air didalam botol yang diambilnya ketika ia melihat Chan-Yeol yang kini tersenyum sambil menatap sesuatu. Mata Jong-In bergerak mengikuti arah pandangan Chan-Yeol dan menemukan tiga anak perempuan yang sedang berbincang disebuah meja yang tak jauh dari mejanya.
Jong-In mengenal ketiga anak perempuan itu. Terutama perempuan yang berambut pendek yang duduk menghadap kearah dua anak perempuan lainnya. Itu Lu-Han, teman sekelasnya.
"Kalau bergitu aku pergi lebih dulu." Ucap Chan-Yeol setelah menelan minumannya. Ia lalu beranjak dengan tangan penuh membawa beberapa bungkus snack.
Jong-In hanya diam dengan mata yang memerhatikan Chan-Yeol yang kini sudah sampai dimeja anak perempuan itu ketika Lu-Han tak lagi disana. Chan-Yeol dan mereka terlihat akrab. Terutama dengan perempuan berambut panjang yang duduk tepat dihadapannya.
Kedua mata Jong-In memerhatikan perempuan yang kini terlihat sedang menahan tawa dengan tangannya. Salah satu dari mereka pergi dan menyisakan Chan-Yeol dan anak perempuan yang sedang tertawa itu duduk bersama.
Tangan Jong-In kini mengambil kamera yang menggantung dilehernya. Ia lalu menekan tombol shutter memotret Chan-Yeol dan anak perempuan itu.
Jong-In membelalak ketika melihat kepala Chan-Yeol mendekati kepala anak perempuan itu lewat lubang kecil pada kamera. Chan-Yeol lalu mengucapkan sesuatu ditelinga anak perempuan itu. Telunjuk kanannya menekan tombol shutter ketika Chan-Yeol masih berbisik ditelinga perempuan itu.
Ketika perempuan itu mendongkak, Jong-In langsung menyimpan kameranya lalu menunduk.
Bersembunyi dibalik poni panjang didepan keningnya.
...
Seoul, South Korea.
Summer, 2006.
Ia memasuki kamar dengan beberapa lembar foto ditangannya. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum yang berarti ketika melihat seseorang dalam fotonya. Detik berikutnya, senyuman diwajahnya hilang ketika ia membuka sebuah foto. Lalu seulas senyum kembali muncul diwajahnya. Ia terus merubah ekspresinya setiap kali ia membuka foto baru.
Ia menghela napas panjang ketika ia berhasil duduk didepan meja belajarnya. Tangannya kini bergerak membawa sesuatu diantara buku-buku diatas rak yang berada diatas meja itu. Ia mengambil album foto tebal berwana coklat miliknya. Terlihat tulisan Kim dengan huruf latin sambung disudut bawah kanan cover album itu.
Sudut bibirnya terangkat tersenyum senang karena akhirnya ia bisa mencetak foto-foto itu setelah semua kesibukannya di sekolah. Ia tidak punya waktu untuk mencetak hasil hobinya itu karena ia terlalu sibuk mengurusi segala keperluannya untuk mengikuti beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Tepatnya Inggris. Jadi baru liburan musim panas kali ini ia bisa melanjutkan mengisi albumnya.
Tangannya bergerak membuka halaman demi halaman album itu. Ia terus membuka halaman dari album itu hingga ia sampai di sebuah halaman yang masih kosong. Tangannya lalu bergerak memilih sebuah foto dari tumpukan foto yang baru dicetaknya tadi. Ia tersenyum halus sebelum akhirnya menempelkan foto diatas halaman kosong albumnya.
Ia menempelkan foto itu dibagian atas kiri halaman dengan solatip perekat berwarna lalu menuliskan sesuatu disisi kanan foto itu.
February 2006. Winter going to Spring.
She late again. I saw her in that morning.
We met.
Ia lalu tersenyum puas ketika melihat hasil pekerjaannya itu. Tangannya bergerak mencari foto lagi diantara tumpukan foto lain. Kini ia menempelkan dua foto tepat dibawah tulisan yang baru saja ia tulis. Dibagian tengah tepatnya.
She was in hurry.
So we crashed 크크크
She let her sticky notes fell down and i try to fixed it and gave her some message there.
"Jong-Ina?"
Suara panggilan seorang wanita dan ketukan pintu menyadarkannya dari semua kegiatan yang ia lakukan. Ia mendongkak dan menoleh kearah pintu kamarnya.
"Ne eomma?" jawabnya sambil masih duduk ditempatnya.
Seorang wanita setengah baya dengan rambut pendek cepak seperti model rambut pria menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar Jong-In.
"Kita pergi makan malam bersama Keluarga Lu. Sudah lama sekali kita tidak berkumpul bersama. Kita akan berangkat pukul tujuh, jadi siapkan dirimu."Jelasnya ketika Jong-In menoleh dengan wajah bertanya.
"Baiklah. Aku akan bersiap-siap setelah aku membereskan ini."Jawabnya dengan telunjuk yang menunjuk kearah mejanya.
Wanita itu tersenyum sambil mengangguk. Ia lalu menutup pintu kamar itu dan Jong-In kembali menyelesaikan menata foto diatas mejanya.
...
Suasana hangat kembali terasa ketika Ayah Jong-In, Mr. Kim, melontarkan sebuah lelucon yang membuat semua orang dimeja itu tertawa. Sebenarnya tidak semua orang dimeja itu tertawa karena Jong-In hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya kehabisan kata-kata dengan lelucon ayahnya yang menurutnya kurang lucu.
Jong-In menoleh dan mendapatkan Lu-Han yang juga hanya tersenyum melihat para orang tua tertawa puas. Detik berikutnya mereka saling memandang ketika Lu-Han menoleh kearahnya. Lu-Han lalu menggedikan bahu merasakan hal yang sama dengan Jong-In.
"Omong-omong, Jong-Ina, kau akan melanjutkan sekolahmu kemana?" tanya seorang pria paruh baya sambil tersenyum kearah Jong-In. Pria itu merupakan Mr. Lu, ayah dari Lu-Han.
"Aku berencana kuliah di Inggris." Jawab Jong-In yakin membuat Mr. Lu yang kini sedang meneguk air dari gelasnya mengangguk pelan. Disebelahnya, Mrs. Lu mengeluarkan ekspresi kaget yang tidak berlebihan.
"Kalau begitu sama dengan Lu-Han." katanya dengan nada yang terderngar excited. Jong-In seketika menoleh kearah Lu-Han dengan wajah bertanya.
Lu-Han tersenyum sambil mengangguk ketika Mr dan Mrs Kim memandang kearahnya dengan tatapan bertanya.
"Jong-In mengambil jurusan jurnalistik. Bagaimana denganmu, Lu-Han?" tanya Mrs. Kim.
"Benarkah? Aku juga mengambil jurnalistik." Jawab Lu-Han dengan wajah sumbringah. Mulut Jong-In sedikit terbuka takjub dengan semua kebetulan ini.
"Apa jangan-jangan kalian juga memilih universitas yang sama?" tanya Mr. Kim dengan wajah penasaran.
"Aku memilih XX University. Kau?" tanya Lu-Han setelah menyebutkan nama universitas yang dipilihnya. Kedua mata Jong-In membulat.
"Daeeeebak! Benarkah? Aku juga memilih XX University!" jawabnya sedikit excited. Ia lalu mengangkat tangannya untuk mengajak Lu-Han untuk berhigh-five. Tangan Lu-Han bergerak menepuk tangan Jong-In sambil tertawa.
"Apakah kalian merencanakan semua ini?" tanya Mrs. Kim dengan nada dan wajah yang dibuat menggoda.
Jong-In dan Lu-Han yang sedang tertawa langsung terdiam dan menoleh kearah Mrs. Kim dengan tatapan bingung. Sedangkan Mr. Kim, Mr. Lu, dan Mrs. Lu menatap mereka berdua dengan tatapan jahil dan menggoda mereka.
"Setelah kalian menjadi teman sekelas disekolah, kini kalian ingin berada di satu universitas?" tanya Mr. Lu dengan nada menggoda dan tatapan jahil.
Jong-In dan Lu-Han saling memandang dengan mulut yang sedikit terbuka kebingungan kemana arah obrolan ini. Lu-Han mengerutkan keningnya berpikir lalu bergumam ketika ia menyadari sesuatu.
"Ah anieyo! Bukan begitu!" kata Lu-Han tiba-tiba ketika ia mengerti maksud orang-orang dimeja itu. Jong-In menatapnya masih kebingungan. "Kami benar-benar tidak merencanakannya. Bahkan aku baru tahu sekarang kalau Jong-In memilih universitas dan jurusan yang sama denganku."
Mulut Jong-In terbuka sambil mengangguk pelan ketika ia mengerti apa maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang diucapkan kedua orangtuanya.
"Dia benar. Kami sama sekali tidak merencanakannya." Kata Jong-In ikut membantah asumsi-asumsi aneh yang kedua orangtuanya pikirkan.
"Lihat mereka lucu sekali. Keduanya bersekongkol agar bisa terus bersama. Cocok sekali." Kata Mrs. Lu dengan wajah jahil dan nada suara yang dibuat seakan-akan berbisik.
"Iya, membuat iri saja. Aku jadi ingat masa muda hahaha.." kata Mrs. Kim yang membuat orangtua dimeja itu tertawa berbarengan.
Mulut Lu-Han dan Jong-In kini membentuk huruf 'O' melihat reaksi orangtua mereka yang salah sangka. Mereka saling memandang dengan tatapan bertanya dan bingung. Tiba-tiba kening Lu-Han berkerut, wajahnya khawatir dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika orangtuanya terus berasumsi seperti itu.
"Cobalah berjalan-jalan atau makan malam berdua." Ucap Mr. Kim setelah tawa diantara mereka mereda.
Mata Lu-Han membelalak kaget setelah mendengar kalimat yang terucap dari mulut ayah Jong-In. Ia hendak membantah tapi ia terlalu bingung dan kehabisan kata-kata. Ia lalu menoleh kearah Jong-In yang kini sudah menatapnya dengan wajah bingung dan juga kaget.
Jong-In bergeming sambil memerhatikan orangtuanya. Mencoba mencerna apa maksud dari semua yang mereka bahas. Ia lalu melihat kearah Lu-Han yang terlihat bingung dan khawatir dengan kemungkinan terburuk yang juga dipikirkannya. Kata-kata orang tua mereka kini terus terngiang-ngiang dikepalanya.
Lihat mereka lucu sekali. Keduanya bersekongkol agar bisa terus bersama. Cocok sekali.
Cobalah berjalan-jalan atau makan malam berdua
...
Ia memandang lurus jalanan Apgujeong dengan tatapan kosong. Poni tebal diatas keningnya bergerak halus terkena angin yang berhembus lewat kaca mobil yang terbuka. Kedua telinganya disumbat earphone yang mengeluarkan dentuman keras dari suara musik rock yang ia pilih.
Ia menoleh ketika ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh lututnya. Kedua matanya menemukan Mrs. Kim yang sepertinya berkata sesuatu yang tidak bisa Jong-In dengar karena ia menggunakan earphone.
"Eomma kira dari tadi kau mendengarkan." Katanya ketika Jong-In melepaskan earphone dari telinganya.
"Jwiseonghaeyo eommonie." Ucap Jong-In sambil mengangguk meminta maaf pada Ibunya itu.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Mrs. Kim sambil menoleh kearah Jong-In yang sudah mengeluarkan ekspresi bertanya. "Lu-Han."
"Maksud eomma?" tanya Jong-In dengan nada biasa karena ia kini merasa benar-benar bingung dengan perkataan ibunya.
"Iya, bagaimana Lu-Han menurutmu? Menurut eomma, dia anak yang baik. Ia selalu menurut dan mendengarkan nasihat yang orangtuanya berikan. Dia juga tidak pernah membantah. Sama sepertimu." Jelas Mrs. Kim membuat kepala Jong-In sedikit flashback pada masa-masa kecilnya. "Apa dia masih seperti itu? Bagaimana Lu-Han disekolah?"
Jong-In mendongkak dan memandang kearah Ibunya. Ia lalu menunduk sambil memainkan earphonenya.
"Dia pintar." Singkat Jong-In dengan kepala yang masih menunduk.
"Lalu?"
"Dia juga baik pada juniornya." Lanjut Jong-In tak minat dengan topik obrolan yang sedang dilakukannya dengan Mrs. Kim yang kini mengangguk-nganggukan kepalanya pelan.
"Bagaimana hubungan kalian berdua?" tanya Mr. Kim dibalik kemudinya membuat Jong-In tak habis pikir dan hanya menghela napas panjang.
"Dia teman yang menyenangkan. Kami berteman baik." Jawab Jong-In dengan nada penekanan dikata 'teman'. "Tidak ada yang berubah. Semuanya sama seperti ketika kami masih kecil." Jawab Jong-In bermaksud mengatakan bahwa hubungannya dengan Lu-Han hanya sekedar teman baik. Tidak lebih.
Terdengar desahan napas panjang dari kedua kursi depan mobil itu membuat Jong-In menggerlingkan matanya dan kembali menatap kearah jalan. Keheningan menyelimuti mereka.
"Kalau begitu, cobalah untuk dekat dengannya." Ucap Mr. Kim memecahkan keheningan diantara mereka. "Kami berempat sudah merencanakan makan malam untuk kalian berdua minggu depan."
"Ne?" kata Jong-In memastikan kalau ia memang salah dengar dengan nada yang sesopan mungkin.
"Menurut eomma Lu-Han sempurna. Ia cantik, pintar, dan penurut." Kata Mrs. Kim membuat Jong-In ternganga dengan kening berkerut ditempatnya. "Jarang ada perempuan yang sempurna seperti Lu-Han."
"Tapi eomma—"
"Apa lagi yang kurang dari Lu-Han?" potong Mrs. Kim dengan nada yang meninggi membuat Jong-In tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Bukan seperti itu eomma. Kami masih sekolah, kenapa eomma dan appa sudah memikirkan hal-hal seperti itu?" tanya Jong-In mencoba melawan dengan wajah heran tapi masih bernada sopan.
"Karena kalian masih muda, jadi kalian bisa saling mencocokan diri." Jawab Mr. Kim dengan nada tanpa emosi.
"Tapi, appa, eomma, bagaimana—"
"KIM JONG-IN! BERHENTILAH MEMBANTAH!"
Jong-In terdiam ditempatnya kehabisan kata-kata ketika Mr. Kim berteriak kepadanya. Ia memandang keluar jendela setelah membanting tubuhnya kesandaran kursi mobil dengan perasaan marah, kecewa, dan juga bingung.
Ia merasa marah, tak mengerti dengan orangtuanya yang memutuskan hal ini tanpa membicarakannya dulu. Ia kecewa dengan sikap kedua orangtuanya itu. Ia bisa saja menurut dan mengacuhkan egonya. Tapi ia bingung karena ia menyukai seseorang, seseorang yang mungkin bisa dijadikan alasan untuk menolak semuanya. Tapi ia yakin alasannya itu akan ditolak mentah-mentah oleh kedua orangtua didepannya.
"Kim Jong-In." Panggil Mrs. Kim dengan nada yang lebih lembut daripada sebelumnya. Jong-In menoleh kearahnya dan menatap lemah wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Kau anak eomma satu-satunya. Kami ingin kau percaya dengan pilihan kami berdua sebagai orangtuamu. Percayalah, eomma selalu ingin memberikan yang terbaik." Ucap Mrs. Kim sambil menggerakan tangannya mengusap kepala Jong-In dari kursi depan. "Kita semua sudah saling mengenal dengan baik, bukan?"
"Menurutlah pada kami sekali ini saja. Lagi pula kau tidak punya pilihan lain." Ucap Mr. Kim masih fokus mengemudi.
Sejak kapan aku tidak menurut padamu, Appa.
Jong-In yang memandang Ayahnya kini memandang Ibunya dengan tatapan yang memohon. Memohon karena mungkin saja keputusan mereka masih bisa berubah. Tapi Mrs. Kim kini hanya tersenyum sambil mengusak kepala Jong-In.
"Kami ingin yang terbaik untukmu." Bisik Mrs. Kim membuat kedua mata Jong-In memanas, meredakan emosinya yang mulai memburu.
Ia kembali menatap jalanan itu. Dengan tatapan yang lebih menyedihkan. Matanya yang merah meneteskan kristal air mata ketika ia berkedip. Perjalanan itu terasa sangat lama dengan keheningan dan ketegangan yang masih menyelimuti mereka.
Mobil itu kini berjalan pelan dengan kesedihan dikursi belakang.
...
Suara dering ponsel membangunkan tidurnya yang tak nyenyak. Ia mendongkak dan mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan yang masih gelap karena tirai jendela yang belum dibuka itu. Tangannya meraba-raba daerah disekitar bantal mencari ponsel yang masih berdering.
"Yeoboseyo.." ucapnya setelah menyentuh layar ponsel itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Jong-Ina jaljasseo? (Kau tidur nyenyak?)" tanya seseorang ditelepon dengan suara yang agak serak dan suara ingus yang ditarik di hidungnya. Jong-In hanya menggeleng tak sadar bahwa seseorang yang bertanya itu tidak akan bisa melihatnya.
Detik berikutnya terdengar suara tangis dibalik ponsel Jong-In membuat Jong-In sadar sepenuhnya. Tangannya bergerak menjauhkan layar ponsel dari telinganya bermaksud membaca nama seseorang yang meneleponnya itu.
"Lu-Hana.. sudahlah.." ucap Jong-In setelah menempelkan ponsel itu disamping telinganya kembali.
"Aku tidak bisa membantah mereka. Tapi aku dan Se-Hun.." seseorang dibalik ponsel Jong-In itu tidak melanjutkan kalimatnya karena tangisnya mulai terdengar lagi. Jong-In menghela napas panjang teringat dengan masalah perjodohannya dengan Lu-Han tadi malam.
"Aku juga tidak bisa membantah." Ucapnya dengan nada yang terdengar putus asa membuat tangisan Lu-Han yang terhenti berlanjut lagi.
"Eotteokhae.. (Bagaimana ini..)" gumamnya sambil terus terisak. Jong-In bergeming tidak menjawab. Tangannya bergerak mengacak-ngacak rambut hitamnya.
Jong-In menatap lurus kamar gelapnya dengan tatapan kosong. Ia teringat masa-masa kecilnya bersama Lu-Han. Ia tak habis pikir bagaimana bisa hubungan persahabatannya bersama Lu-Han berakhir seperti ini. Ia benar-benar tak pernah membayangkan orangtuanya akan bersikap seperti ini. Ia pikir tindakannya selama ini yang selalu menurut pada orangtuanya bisa membuat mereka percaya pada Jong-In sepenuhnya.
Tapi kenyataannya mereka tidak percaya pada Jong-In. Bahkan untuk persoalan cinta sekalipun. Jong-In tak mengerti dengan penjelasan orangtuanya soal 'memberikan yang terbaik', karena menurut Jong-In mereka sama sekali tidak tahu apa yang terbaik untuknya.
Bagaimana mereka tahu bahwa menjodohkan Jong-In dan sahabatnya yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri itu yang terbaik? Apakah mereka sudah tahu apa yang akan terjadi jika Jong-In dan Lu-Han bersama? Apakah semuanya akan berjalan baik dan bahkan menjadi jalan yang terbaik?
Sikapnya yang selalu menurut sama sekali tidak bisa membantunya kali ini. Sikap itu kini malah menjadi penghalang karena ia tidak biasa membantah pada kedua orangtuanya. Dan sayangnya, semua pertanyaan-pertanyaan yang terus melayang dipikirannya itu tidak bisa ia ucapkan begitu saja pada orangtuanya.
"Aku berpikir untuk menurut saja. Tapi Se-Hun.. aku tidak bisa membayangkan wajah kecewanya. Aku..aku terlalu mencintainya." Ucap Lu-Han sambil terisak memecahkan keheningan diantara mereka. "Se-Hun bahkan berkata ia akan mengikuti program beasiswa ke Inggris untuk menyusulku jika aku diterima."
"Ah anak itu.." gumam Jong-In dengan mata yang masih menerawang, "Dia akan sangat membenciku." Lanjutnya dengan kepala yang membayangkan jika junior di clubnya itu membencinya karena rencana menyedihkan ini. Jong-In terdiam dengan mata yang menerawang membayangkan segala kemungkinan buruk—bahkan terburuk—jika semua ini benar akan terjadi.
Pagi hari pada musim panas yang seharusnya penuh dengan keceriaan tidak lagi ia rasakan. Paginya kini hanya diselimuti keheningan, kegalauan, dan kekecewaan.
Didalam kamarnya yang gelap dan sunyi.
...
"Aku sedang berjalan melewati gerbang sekolah. Kau?" ucapnya menjawab pertanyaan dari seseorang dibalik ponsel. Matanya mengedarkan pandangan ketika ia berhasil melewati gerbang sekolah.
"Aku akan bermain bersama Se-Hun.."ucapnya dengan nada riang seperti biasanya. Detik berikutnya, terdengar suara desahan napas panjang, "Dan menjelaskan semuanya."
Jong-In seketika berhenti mengedarkan pandangannya setelah mendengar kalimat yang diucapkan seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Lu-Han. Ia lalu menghela napasnya dengan kepala yang menunduk.
"Baiklah. Semoga beruntung." Kata Jong-In dengan mata yang menatap lurus kearah sneakers putihnya.
Ia kembali berjalan menelusuri jalan menuju gedung sekolahnya. Tangannya sesekali bergerak menekan tombol shutter pada kamera kesayangannya. Ia membidik lapangan hijau didepannya yang selalu ia pakai untuk bermain bola bersama dengan teman-temannya itu. Ia lalu membidik gedung sekolah tempat ia belajar selama tiga tahun terakhir yang terlihat megah tapi tampak sederhana dan menyiratkan perasaan menyenangkan.
Ia terus berjalan dengan mata yang terus mengintip dari lubang kameranya. Langkahnya terhenti ketika ia menemukan seorang perempuan berambut panjang yang sedang duduk dikursi penonton lapangan itu. Telunjuk Jong-In langsung menekan tombol shutter ketika perempuan itu sedang membaca sebuah buku. Ia membidik wajah perempuan yang kini sedang tersenyum itu.
Jong-In menjauhkan kamera dari wajahnya untuk melihat sosok asli dari perempuan yang baru saja dibidiknya. Ia lalu mendekat dengan langkah pelan dan ragu-ragu.
"Jeogiyo.." ucapnya membuat perempuan itu mendongkak dan menoleh kearahnya. Detik selanjutnya perempuan itu menutup bukunya dan langsung berdiri untuk membungkuk sopan kearahnya.
"Apakah aku mengganggu?" tanyanya membuat perempuan didepannya itu terpaku lalu langsung menggeleng cepat berkata tidak.
Ia lalu bergerak mendekati perempuan itu dan duduk disebelah tempat perempuan itu terduduk tadi. Kepalanya mendongkak melihat kearah perempuan yang masih berdiri terlihat kebingungan.
"Duduklah." Ucapnya ramah sambil tersenyum dan tangan yang menepuk bangku mengajak perempuan itu untuk duduk disebelahnya. Kedua mata perempuan itu melebar, berikutnya ia duduk disebelah Jong-In.
Kedua sudut bibir Jong-In terangkat keatas ketika perempuan itu duduk disebelahnya. Ia bisa mencium wangi parfum perempuan itu. Jong-In tahu bahwa perempuan itu mengganti parfumnya musim semi lalu.
Jong-In dan perempuan itu terlibat dalam obrolan singkat dan sederhana. Setiap Jong-In bertanya, perempuan itu selalu menjawab dengan semangat seperti seorang murid SD yang ditunjuk gurunya. Meskipun awalnya perempuan itu terlihat canggung dan gugup, tapi akhirnya perempuan itu sudah bisa merasa nyaman didekatnya.
"Kalau begitu, maukah kau menemaniku untuk berkeliling?" ajak Jong-In seketika membuat kedua mata perempuan itu melebar kembali. Jong-In tersenyum melihat reaksi yang dibuat perempuan itu. Karena Jong-In menyukainya.
"Dengan senang hati." Jawab perempuan itu dengan senyuman lebar diwajahnya membuat Jong-In ingin mengarahkan lensa kamera kearahnya.
Mereka kini berjalan menelusuri koridor sekolah. Jong-In terus memotret bagian-bagian sekolah yang menurutnya bagus untuk dijadikan objek. Kenangan tepatnya. Jong-In tahu sedari tadi ia menahan senyumnya karena ia tahu bahwa sedari tadi perempuan yang kini berjalan dibelakang Jong-In itu memerhatikannya.
Ketika ia menoleh, perempuan itu langsung mengedarkan pandangan kesekitarnya. Jong-In mendengus geli lalu menekan shutter untuk mengambil gambar perempuan itu dengan kameranya.
"Aku ke toilet dulu. Kau berkelilinglah duluan." Katanya membuat perempuan itu mengangguk dengan wajah yang terlihat agak kaget.
Jong-In lalu langsung melesat dan berlari kearah toilet laki-laki. Tapi bukannya masuk kedalam toilet, Jong-In malah berbelok dan berjalan mendekati mesin minuman yang berada tidak jauh dari pintu toilet bersimbol laki-laki berwarna biru itu.
Tangannya bergerak memasukan beberapa keping koin kedalam lubang kecil pada mesin minuman itu. Ia kini melipat kedua tangannya didepan dada dengan kening yang berkerut. Matanya bergerak pelan memerhatikan satu demi satu jenis minuman yang akan ia pilih. Telunjuknya hendak menekan tombol dibawah sejajar kaleng soda. Tapi detik berikutnya ia menghentikan tangannya.
Tunggu.. kalau tidak salah ia tidak begitu suka soda. Apa cola saja?
Matanya kini berputar dengan kening berkerut. Tangannya ditarik kembali dan terlipat didepan dada. Ia lalu mengacak rambutnya terlihat kebingungan. Jong-In menghela napas panjang lalu menekan tombol soda yang tadi hendak dipilihnya dengan cepat.
Ah apa saja..
Ia kini berlari kearah koridor utama dengan kepala yang menoleh kekiri dan kekanan mencari seseorang. Ia lalu berlari melewati koridor yang berisi loker-loker. Ia berlari melewati sebuah loker dengan dua kaleng soda ditangannya. Jong-In kini berlari mundur kearah loker yang dilewatinya tadi. Terlihat tulisan Kim Jong-In menggunakan hangeul didepan pintu loker itu.
Tangannya lalu bergerak membuka loker dan mengambil sesuatu dibagian atas loker. Tangannya mengaduk isi loker itu mencari sesuatu. Ia kini menyunggingkan seulas senyum ketika tangannya berhasil meraih sesuatu. Kedua sudut bibirnya terangkat ketika ia melihat kipas kecil bergambarkan tokoh kartun Pororo ditangannya.
Kedua kakinya berlari cepat menelusuri koridor utama menuju kearah kantin tempat seseorang yang mungkin menunggunya disana. Bibirnya membentuk lengkungan senyum ketika menemukan perempuan berambut panjang tadi yang sedang duduk di salah dsatu meja. Ia menghentikan langkahnya seketika.
Tangannya yang penuh bergerak memegang kamera yang tergantung dilehernya dengan susah payah. Ia menghela napas dan sedikit mengumpat ketika ia tidak berhasil melakukannya. Ia lalu menyimpan benda-benda itu diatas tempat duduk disampingnya.
Lensa kameranya kini sudah mengarah pada senyuman diwajah perempuan itu. Dengan cepat, telunjuk Jong-In menekan shutter pada kameranya.
"Minumlah." Ucapnya sambil meyodorkan sekaleng soda ditangannya ketika ia berhasil berdiri didepan meja tempat dimana perempuan itu duduk. Perempuan itu tersenyum lebar dengan tangan yang bergerak menerima kaleng itu membuat Jong-In tidak bisa menahan pipinya untuk naik.
"Gomabseubnida sunbaenim.. (Terimakasih senior..)" Katanya sambil mengangguk dan tersenyum kearah Jong-In.
Jong-In menganggukan kepalanya pelan lalu duduk dihadapan perempuan itu. Ia mulai meminum sodanya dengan mata yang tak bisa berhenti memerhatikan perempuan dihadapannya itu.
"Heoksi.. (Mungkinkah) Kau mengenalku?" tanya Jong-In dengan wajah penasaran memastika bahwa ia memang tidak salah orang.
"Tentu saja! Sunbae kan sangat populer karena sunbae jago mengambil foto." Jawab perempuan sedikit bersemangat setelah meneguk sodanya membuat Jong-In kembali tersenyum.
"Benarkah?" tanyanya lagi dengannada polos yang sedikit dibuat-buat.
"Eeei.. Masa sunbae tidak tahu." Jawab perempuan itu dengan wajah jahil. Detik berikutnya mereka tertawa bersama. "Hm.. Jong-In sunbae sendiri.. apakah mengenalku?" tanya perempuan itu membuat Jong-In berhenti tersenyum dan mengangguk pelan.
Ia mengedarkan pandangan mencoba mencari alasan kenapa bisa ia mengenal perempuan itu. Karena tidak mungkin ia mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Kau bukannya penulis cerita pendek di mading?" tanya Jong-In setelah berhasil menemukan alasan lain membuat perempuan itu tersenyum dan mengangguk. "Kau juga dekat dengan Chan-Yeol." Lanjutnya tersenyum kecil dengan nada pelan.
"I..iya dia senior yang lucu.. ehm maksudku.. sunbae lihat saja sendiri kelakuannya jika sudah menjahili anak-anak lain." Jawabnya membuat Jong-In tersenyum miris ditempatnya. "Tapi dia juga sering membuat aku dan Baek-Hyun kesal."
Jong-In tahu ia merasa sedikit kecewa. Andaikan ia bisa sedekat itu dengannya. Ia juga tidak bisa menyalahkan Chan-Yeol yang memang dekat dengan perempuan itu. Chan-Yeol tidak pernah tahu masalah perasaannya. Karena ia memang tidak mau memberitahukannya kepada siapapun.
"Tapi kau dan Chan-Yeol terlihat cocok." Ucapnya tanpa disadari dengan kepala yang kembali mengingat-ingat sedekat apa perempuan didepannya itu dengan Chan-Yeol.
Ia lalu pura-pura sibuk memainkan kamera ditangannya. Ia sadar perempuan itu mematung ditempatnya. Karena itu ia tidak berani menatapnya setelah ia berkata begitu. Ia kini melirik perempuan yang kini sedang menunduk dengan sudut matanya. Kini hening menyelimuti suasana diantara mereka berdua.
"Kau tidak kepanasan? Aku membawa ini dari dalam lokerku." Ucapnya memecahkan keheningan mencoba kembali mencairkan suasana sambil menyodorkan sebuah kipas yang diambilnya dari loker.
Perempuan itu mendongkak dan menatap kipas ditangannya lekat-lekat. Kedua tangannya lalu bergerak menerima kipas yang disodorkan Jong-In dengan senyuman tipis diwajahnya. Jong-In ikut tersenyum melihatnya.
"Sunbaenimeun Pororo johahaseyo? (Apa senior menyukai Pororo?)" tanya perempuan itu masih tetap menunduk memandang kipas ditangannya.
"Tidak terlalu. Kipas itu pemberian seseorang." Jawab Jong-In sambil tersenyum. Ia masih ingat perasaan senang yang ia rasakan ketika ia mendapatkan hadiah itu pada hari ulangtahunnya. Memang bukan hadiah yang spesial. Tapi itu diberikan seseorang yang spesial baginya.
"Bolehkah aku tahu siapa..? Maksudku yang memberikan kipas ini pada sunbae?" tanya perempuan itu sambil memandang penuh harap kearahnya.
Ia menoleh dan menatap wajah perempuan itu sejenak dengan wajah lurus berusaha menahan ekspresinya. Keningnya dibuat berkerut sambil mengalihkan pandangannya. Ia terus berpikir jawaban lain karena tidak mungkin jika ia mengatakan yang sesungguhnya.
Ini mungkin kali pertama ia bisa mengobrol dan berada dekat dengan perempuan itu. Tapi ini bisa menjadi yang terakhir. Jong-In sudah tak menyimpan harapan pada perempuan itu, Ia juga tidak mau perempuan itu menaruh harapan lagi padanya. Karena Jong-In kini tidak mungkin bisa merubah keadaan.
"Keulssae.. (Aku tidak yakin../Entahlah..)" jawabnya dibuat sesantai mungkin membuat perempuan yang terpaku selama beberapa detik itu mengangguk dan tersenyum tipis. Jong-In bisa melihat sebersit kekecewaan dari senyuman tipis itu.
Bodoh, lihat apa yang telah kau lakukan, ucapnya dalam hati merasa bersalah setelah melihat ekspresi yang dikeluarkan perempuan itu. Batinnya kini terus berperang.
"Aku harus pergi." Ucapnya membuat perempuan itu mendongkat pelan. "Hmm kipas itu untukmu saja."
Tolol. Kau seharusnya mengambil dan menyimpannya.
"Eh tapi sebelum aku pergi. Ayo kita befoto bersama." Ajak Jong-In tersenyum kearah perempuan itu. Perempuan itu terlihat soul-less. Detik berikutnya, Jong-In menyesali ajakannya.
Kau memang 100% bodoh Kim Jong-In.
Perempuan itu mengangguk pelan terlihat enggan. Jong-In pura-pura senang dan bergerak mendekati perempuan itu.
"Kita melakukan ini bersama." Kata Jong-In sambil membentuk 'V' ditangan kanannya. Perempuan itu tersenyum lemah dan mengangguk.
"Hana.. duul.. (satu.. dua..)"
Click.
"Terimakasih kau sudah menemaniku untuk berkeliling. Semoga kita bisa bertemu lagi." Pamit Jong-In. Ia lalu mengangguk sopan dan berjalan menjauhi meja tempat perempuan itu duduk yang tetap bergeming.
Jong-In melangkahkan kakinya cepat dengan penyesalan yang menggunung. Dadanya terasa sesak ketika ia melihat raut wajah perempuan yang disayanginya itu terlihat kecewa dan sedih. Perempuan itu mungkin kini membencinnya. Tapi ia tidak punya pilihan lain.
Ia terus berjalan dengan tatapan kosong. Ia tidak percaya karena mungkin ia telah menyakiti hati perempuan yang ia sayangi. Tangan kanannya mengepal menahan marah. Mungkin ini terdengar aneh, tapi ia marah dan kecewa pada dirinya sendiri.
Kaki kanannya menendang sebuah tempat sampah yang kini sudah terpental jauh mengeluarkan amarahnya. Ia lalu berputar dan berlari kembali kearah kantin. Mungkin ia bisa mencoba untuk merubah sedikit keadaan.
Matanya melebar dengan langkah yang terhenti ketika ia mendengar suara isakan tangis dari arah kantin. Ia melangkah pelan sambil mendengar suara tangis itu dengan hati-hati. Ia kini bersembunyi dibalik tiang mengintip kearah kantin melewati lubang kecil pada kameranya dan menekan tombol shutter.
Dadanya terasa semakin sesak ketika ia melihat perempuan yang disayanginya menangis keras dengan bahu yang bergetar dihadapannya. Kedua tangannya mengepal berusaha menahan getarannya. Ia kini membenci dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kyung-Sooya mianhae.."
Ucapnya berbisik meskipun ia tahu perempuan itu tidak bisa mendengarnya. Ia lalu berbalik dan melangkah pergi dengan kepala yang menunduk. Meninggalkan perempuan itu mengangis keras ditempatnya.
Ini mungkin akan jadi salah satu hal yang paling disesalinya.
..
..
..
London, England.
Spring, 2014.
Kedua tumitnya yang ditutupi sepatu formal berwarna hitam berjalan melewati jalur pejalan kaki di kawasan Knightbridges. Ia menggunakan kemeja putih dengan blazer hitam diluarnya. Dilehernya melingkar dasi hitam dengan motif bintik segi banyak berwarna broken white.
"Aku baru saja selesai mengambil izin cuti. Sebentar lagi aku akan menjemputmu." Ucapnya dengan ponsel yang menempel ditangan kirinya.
"Baiklah. Kau mau makan siang bersama?" tanya suara seorang wanita dari balik ponsel itu. Jong-In melirik jam ditangan kanannya yang memegang sebuah tas kantor hitam.
"Baiklah. Sampai bertemu nanti, Lu-Han." Jawabnya lalu menekan layar ponselnya untuk memutuskan sambungan.
Ia berjalan cepat dengan mata yang terus menatap layar ponselnya dan tidak memerhatikan jalanan yang penuh dengan manusia didepannya. Sampai bahu kanannya menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Oh my God, I'm sorry. This is my fault. I'm too busy reading my work." Ucap wanita yang ditabraknya dengan aksen birtish yang kental sambil membereskan barang-barangnya yang terjatuh.
Wanita itu berambut hitam panjang yang dibuat ikal, menggunakan kemeja putih dengan lace berbentuk deretan bunga berwarna hitam pada setiap sisi kemeja itu. Wanita itu juga menggunakan rok sepan hitam yang mengembang yang dibubuhi garis putih pada bagian bawahnya.
Jong-In berlutut untuk membantu wanita itu membereskan barangnya yang terjatuh. Tapi ia terpaku ketika tangannya hendak membawa sebuah binder yang terbuka didepannya. Matanya membelalak kaget ketika membaca isi dari halaman binder yang terbuka itu.
Rahasia Kemenangan Gangnam High School dalam Seoul Photos Festival
"Excuse me. But that is mine." Ucap wanita itu yang kini berhasil membuat Jong-In langsung mendongkak dengan tatapan kaget. Ia kini menatap lekat-lekat wanita yang juga menatapnya kaget dengan mulut yang sedikit terbuka.
Wanita itu adalah perempuan yang menghabiskan waktu musim panas terakhirnya bersama Jong-In di Seoul.
...
Aroma Americano menguar ketika seorang pelayan perempuan menaruh sebuah cangkir dihadapannya. Jong-In tersenyum lalu mengucapkan terimakasih pada pelayan yang kini pergi setelah menaruh secangkir latte dihadapan seorang wanita yang menunduk didepannya.
Setelah beberapa detik, kedua tangan wanita itu bergerak menangkup secangkir latte dengan latte art berbentuk angsa diatasnya. Cafe ini memang terkenal oleh latte artnya yang unik dan indah. Jong-In kini memerhatikan wanita yang tersenyum ketika melihat bentuk angsa yang tertera dalam cangkirnya.
Tangan kanan wanita itu tiba-tiba bergerak mengaduk isi clutch bag tembus pandangnya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Wanita itu lalu memotret hiasan angsa pada cangkir tersebut membuat Jong-In terkekeh.
"Yeppeo janhayo.." ucap wanita itu setelah mendengar kekehan yang dikeluarkan Jong-In yang kini mengangguk mengakui akan keindahan gambar angsa diatas latte itu.
"Sudah berapa lama kau disini? Apa kau bekerja disini? Atau kau belum lulus dari kuliahmu?" tanya Jong-In setelah meneguk Americano dari cangkir putih dihadapannya. Wanita dihadapannya mendengus geli mendengar pertanyaan yang dikeluarkan Jong-In secara bertubi-tubi.
"Bukankah seharusnya kau menanyakan kabarku dulu, Sunbae?" kata wanita itu sambil tersenyum membuat Jong-In tertawa kecil ditempatnya.
"Baiklah bagaimana kabarmu?" tanya Jong-In mengalah setelah selesai tertawa. Wanita dihadapannya tersenyum setelah menyeruput lattenya.
"Bisa sunbae lihat sendiri. Aku sangat baik." Jawab wanita itu sambil tersenyum membuat Jong-In tidak bisa menahan kedua sudut bibirnya untuk tidak terangkat.
Senyuman itu. Jong-In merindukan senyuman itu. Senyuman tipis yang tidak terlalu lebar dan tidak melengkung. Senyuman yang memang sangat tipis. Tapi Jong-In menyukai senyuman itu. Bahkan ia ingat kapan terakhir ia melihat senyuman itu.
"Ya.. kau terlihat baik. Mm, rambutmu sedikit bergelombang sekarang." Ucap Jong-In. "Tapi kau tetap cantik."
Jong-In tidak menyadari ucapan terakhirnya karena ia terlalu sibuk 'menganalis' bagian demi bagian dari wajah wanita dihadapannya itu. Dari mulai alis tipis hitamnya, bulu matanya yang pendek, bola mata, hidungnya yang mungil, pipinya yang bersemu merah, hingga gerakan pelan tangan wanita itu ketika sedang menyangkutkan rambutnya dibelakang telinga.
Jong-In lalu terkekeh ketika ia sadar pita hitam-putih yang dipakai wanita itu hampir jatuh dan hanya menggantung diujung helaian rambutnya. Tangan kanan Jong-In bergerak mengambil pita itu lalu memakaikannya kembali diatas telinga kiri wanita itu dengan gerakan halus.
"Kyung-Soo, kau sepertinya sangat sibuk sampai-sampai tidak sadar kalau pitamu hampir terjatuh." Ucap Jong-In santai tak sadar kalau ia membuat wanita itu terpaku dan pipinya memerah setelah kembali duduk lalu meminum kopi dicangkirnya. "Jadi.. Sudah berapa lama kau disini? Apa kau bekerja disini? Atau kau belum lulus dari kuliahmu?" Wanita itu kini tertawa membuat Jong-In juga tertawa dibuatnya.
"Oh well.. Aku berada disini setelah sunbae satu tahun lulus dari sekolah menengah, kini aku mengisi halaman cerita bersambung pada sebuah majalah remaja, dan aku—tidak bermaksud sombong—sedang mengerjakan project novel terbaruku." Jawabnya dengan mata yang berbinar dan tangan yang terlengkup bersama terlihat excited.
Jong-In tersenyum sambil bertepuk tangan pelan setelah bergumam kagum dengan bibir yang membentuk huruf 'o'. Ia merasa ikut senang dan bangga mendengarnya. Meskipun ia sudah mengetahui tentang itu semua.
"Bagaimana dengan sunbae?" tanya wanita itu setelah menyeruput lattenya.
"Aku baik. Aku menjadi fotografer tetap sebuah majalah bisnis dan keuangan." Jawab Jong-In membuat Kyung-Soo terlihat agak kaget.
"Bisnis dan keuangan? Aku pikir sunbae sama sekali tidak tertarik dengan dunia itu." Ucapnya membuat Jong-In mengulaskan senyum masam.
"Ya kau benar. Tapi dengan keberadaanku sekarang aku tidak mungkin pergi ke hutan untuk memotret singa, bukan?" jawabnya membuat Kyung-Soo seketika terbahak dengan tangan yang menutupi tawanya membuat Jong-In ingin menambil kameranya dan mengabadikan momen langka itu. "Aku juga jatuh cinta pada kota ini, kau tahu." Lanjutnya sambil menoleh kearah jendela yang berada jauh dari meja tempat mereka duduk.
"Jatuh cinta? Pada London? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Kyung-Soo lalu kembali tertawa ditempatnya.
"Iya, karena club sepak bola favotiku disini. Nae saranghaneun Chelsea. (Chelseaku yang tercinta.)" Jawabnya dengan wajah serius membuat Kyung-Soo lagi-lagi terbahak.
Mereka berdua kini tertawa bersama tidak sadar ada seorang pelayan tersenyum memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Jong-In lalu berhenti tertawa dan memerhatikan wanita itu mengipas-ngipas matanya yang mulai mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa. Setelah Kyung-Soo berhenti tertawa, mereka berdua terdiam dalam hening dengan pikiran mereka masing-masing.
"Bagaimana hubungan sunbae dengan Lu-Han eonnie? Apakah baik-baik saja?" tanya Kyung-Soo memecahkan keheningan. Jong-In langsung menoleh dan terdiam sejenak lalu akhirnya tersenyum sambil mendengus kecil dan menunduk.
"Sunbae," Panggil Kyung-Soo membuatnya sadar dari lamunannya dan mendongkak untuk menatap kearah Kyung-Soo, "Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Nada serius dari kalimat yang diucapkan Kyung-Soo membuatnya membenarkan posisi duduk lalu meminum sisa Americano dicangkirnya. Ia lalu mengangguk sambil tersenyum pada Kyung-Soo.
"Apa benar sunbae menggunakan fotoku untuk mengikuti sebuah festival?" tanya Kyung-Soo hati-hati membuat bibir Jong-In tertutup rapat. "Baek-Hyun bilang dia melihat foto dengan wajahku didalamnya pada festival musim gugur lalu, dan dia bilang bahwa nama yang tertulis adalah nama.. sunbae."
Jong-In kini terdiam ditempatnya dengan ekspresi yang terlihat bingung tak tahu harus melakukan apa. Ia tahu bahwa lambat laun Kyung-Soo akan tahu rahasia kecilnya. Ia akan segera tahu hobinya yang selalu memotret Kyung-Soo pada masa-masa sekolah menengah dulu.
Ia lalu mengangguk pelan menjawab pertanyaan Kyung-Soo. Memang benar ia mengikut sertakan sebuah foto untuk festival pada musim gugur lalu. Dan foto itu merupakan foto Kyung-Soo yang diambilnya pada saat mereka berada disekolah menengah. Jong-In masih sangat ingat akan hal itu.
"Dan aku sudah melihat web foto milik sunbae.." lanjut Kyung-Soo membuat matanya membelalak kaget. "Aku juga membaca setiap tulisan yang sunbae bubuhkan disetiap foto."
"Be..benarkah?" tanya Jong-In sedikit terbata karena kaget dengan kenyataan Kyung-Soo yang mengetahui webnya.
Webnya yang berisi foto-foto yang pernah ia ambil. Entah itu foto yang ia ambil pada saat ia tinggal di London, ataupun di Seoul. Tapi yang pasti, Jong-In membuat sebuah corner khusus yang menampilkan foto-foto Kyung-Soo pada saat sekolah menengah dulu. Bahkan sampai kuliah pun, Jong-In masih selalu diam-diam memotret Kyung-Soo ketika ia tahu bahwa Kyung-Soo melanjutkan sekolah di universitas yang sama.
Tapi selama ia tahu Kyung-Soo bersekolah di universitas yang sama, ia tidak pernah berani untuk menyapa Kyung-Soo. Ia merasa 'pura-pura tidak tahu' Kyung-Soo ada disekitarnya adalah pilihan yang terbaik.
"Kenapa..kenapa sunbae melakukan itu?" tanya Kyung-Soo dengan suara pelan sambil menundukan kepalanya dengan mata yang sedikit menerawang. Perasaan Jong-In kini campur aduk. Kaget dan bingung. Tenggorokannya terasa kering dan bibirnya tak kuasa untuk menjawab.
"Aku mohon jawablah.." ucap Kyung-Soo membuat Jong-In mendongkak dengan perasaan bingung.
"Karena aku peduli padamu." Jawabnya seketika membuat Kyung-Soo mendongkak dan menatap lama kearahnya.
"Apakah hanya karena sunbae peduli padaku, sunbae mau melakukan semua ini?"
Aku peduli padamu.. Aku tahu semua kegiatanmu saat disekolah menengah dulu. Aku tahu kau sering datang terlambat. Aku tahu kau selalu berdiam diri dikantin ketika bel masuk sudah berbunyi. Aku tahu kau selalu menulis cerita pendek di mading sekolah. Aku tahu kau suka menulis. Aku bahkan tahu saat kau mengganti parfummu. Aku mengetahui keberadaanmu bahkan sebelum kau mengetahui keberadaanku..
Semua kalimat itu hanya berputar dikepala Jong-In. Lidahnya rasanya terlalu kelu untuk mengucapkan itu semua. Ia hanya diam dan menjawab semua pertanyaan Kyung-Soo dalam kepalanya.
Aku tahu kau selalu menempelkan lollipop didepan lokerku. Aku tahu kau selalu memberiku hadiah saat aku berulang tahun. Aku tahu kalau kau yang memberikan kipas pororo itu. Aku tahu kau yang selalu memberiku mawar kuning atau coklat ketika valentine dan white day tiba. Aku hafal tulisan tanganmu. Aku tahu kau selalu menyimpan hadiahmu diatas lokerku karena mungkin kau merasa hadiah itu akan aman berada disana. Aku.. aku tahu kau menyukaiku..
Ia terus menjawab pertanyaan itu dalam kepalanya. Tak sadar bahwa semua perkataannya terucap dan Kyung-Soo yang terdiam bisa mendengarnya menganga sambil menahan tangis.
Ia tiba-tiba teringat dengan kejadian beberapa saat yang lalu. Ketika ia bertabrakan dengan Kyung-Soo dijalanan. Ketika ia melihat binder familiar berwarna kuning yang tergeletak dijalan dengan sebuah artikel lama menempel diatasnya. Dadanya terasa sesak mengingat Kyung-Soo masih menyimpannya. Ia takut Kyung-Soo masih berharap padanya. Hingga saat ini.
"Lalu kenapa? Ada apa denganmu? Aku mohon.. aku mohon jelaskanlah.." ucap Kyung-Soo dengan nada yang memohon sembari menahan tangis membuat Jong-In hanya bisa menahan napasnya dengan mata yang menerawang tak mampu melihat pemandangan yang menyakitkan dihadapannya.
Tangan kanannya kini bergerak membuka tas kerja hitam yang diletakan dipinggir kursi tempat ia duduk. Ia mengambil sesuatu yang terlihat seperti buku tebal berwarna cokelat. Ia menatapnya untuk beberapa saat dan akhirnya menyodorkannya pada Kyung-Soo. Ia mendongkak dan mendapatkan mata yag sedikit berkaca-baca menatapnya dengan tatapan bingung.
"Ini ambilah," kata Jong-In dengan suara berat dan tersenyum lemah menatap buku itu, "Aku mau kau menyimpannya sebagai kenangan."
Kedua tangan Kyung-Soo bergerak meraih buku itu. Ia lalu mengusap pelan covernya. Tapi sebelum Kyung-Soo sempat membukanya, Jong-In beranjak dari tempat duduknya sambil mengangkat tas kantornya membuat Kyung-Soo mendongkak.
"A..Aku harus pergi." Ucapnya dengan ekspresi ragu yang tersirat diwajahnya. "Semoga kita bisa bertemu lagi." Lanjutnya dengan nada ceria yang sedikit dipaksakan.
Jong-In menganggukan kepalanya sopan lalu berbalik dan melangkah meninggalkan meja itu. Ia lalu berjalan dengan sangat pelan melewati meja pesanan yang berada ditengah ruangan. Ia menoleh pelan ketika akan melangkahkan kakinya melewati pintu masuk dan mendapatkan sosok Kyung-Soo yang sedang membuka buku yang diberikannya.
Satu tangan Kyung-Soo terlengkup didepan mulutnya seperti menahan tangis. Jong-In langsung berbalik tak kuasa untuk melihatnya. Ia lalu kembali berjalan dan berbelok untuk menelusuri jalanan. Untuk terakhir kalinya, ia menoleh dan melihat sosok Kyung-Soo dari balik bingkai jendela cafe itu.
Kyung-Soo terlihat mendongkak dan memutarkan kepalanya seperti sedang mencari seseorang dengan gerakan cepat. Pandangannya terhenti ketika ia melihat sosok Jong-In dibalik jendela. Matanya yang mulai mengeluarkan tetesan air mata menatapnya dengan tatapan kaget dan senyuman tipis membuat Jong-In merasa seperti ditusuk belati dari belakang.
Jong-In menyunggingkan seulas senyuman terakhir sambil mengangguk kearah Kyung-Soo yang menganga dan mulai bangkit dari tempatnya. Ia berbalik dan berjalan dengan langkah lebar mulai meninggalkan cafe itu. Kepalanya menunduk menatap sepatu hitam di tungkainya. Dengan sebuah kristal air mata yang mulai jatuh dari sudut matanya.
Meninggalkan wanita yang terduduk dan menangis dengan kepala terlengkup diatas meja dalam cafe yang sepi.
Untuk yang kedua kalinya.
...
Tangannya mengulurkan sebuah buku berwarna coklat yang terlihat kusam ketika memandanginya selama beberapa saat. Kyung-Soo kini menatap buku itu bingung.
Kyung-Soo bingung karena bukannya menjawab pertanyaannya, pria itu malah menyodorkan sebuah buku tebal dihadapannya. Perasaannya yang bahagia, terharu, tak percaya, dan harapan yang mulai terbangun kembali bercampur aduk dengan semua rasa bingung dan semua pertanyaan 'kenapa' dikepalanya.
Ia terus menahan tangisnya ketika pria itu berkata bahwa pria itu tahu tentang segala hal tentangnya. Pria itu bahkan tahu kalau ia selalu memberikan hadiah pada hampir setiap perayaan. Kyung-Soo merasa bahagia mendengarnya. Karena ternyata usahanya selama ini tidak ada yang sia-sia. Karena usahanya bisa membuat orang yang disayanginya senang.
"Ini ambilah," kata pria itu dengan suara berat dan tersenyum lemah menatap buku itu, "Aku mau kau menyimpannya sebagai kenangan."
Kedua tangan Kyung-Soo bergerak menerima buku itu. Buku itu memang terlihat kusam dan tua karena sudut-sudutnya terlihat sudah banyak yang terlipat. Kyung-Soo mengusap cover buku berwarna coklat itu dan menemukan sebuah nama pada sudutnya. Kim.
Gerakan tangan Kyung-Soo yang akan membuka halaman cover buku itu tertahan ketika pria dihadapannya itu beranjak dari tempat duduknya. Kyung-Soo mendongkak dan mendapatkan wajah bingung dengan alis berkerut menunduk menatap kosong meja didepannya.
"A..Aku harus pergi." Ucap pria itu. Kyung-Soo tahu pria itu terlihat ragu. "Semoga kita bisa bertemu lagi." Lanjutnya sambil tersenyum sambil memunculkan sedikit deretan gigi putih.
Kyung-Soo hanya bisa diam dan terpaku ketika pria itu mengangguk sopan dan perlahan pergi meninggalkannya. Ia merasa bingung kenapa ekspresi pria itu terlihat seperti itu. Ia bingung apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya pria itu rasakan.
Tangan kanan Kyung-Soo bergerak mulai membuka cover buku yang ternyata adalah sebuah album foto. Kedua mata Kyung-Soo bergetar ketika ia melihat sederet kalimat dengan tulisan sambung yang menjadi halaman pertama album itu.
Girl that i want to spend time with..
Kyung-Soo tak sadar bahwa ia menahan napasnya ketika ia mulai membuka halaman selanjutnya dari buku itu. Sebuah kristal air mata jatuh dari salah satu sudut matanya dan mengalir jatuh dipipinya.
My little sunshine.
Tangan Kyung-Soo mengusap tulisan dengan sebuah foto diatasnya. Foto itu berisikan potret dirinya dalam balutan seragam di kantin sekolah yang sedang tersenyum lebar sampai-sampai matanya tak terlihat.
Hari itu mendung. Tapi kurasa itu hari yang paling cerah karena aku melihatnya bersinar. Ia bersinar sampai-sampai sinarnya membuatku hangat.
Aku ingin selalu melihatnya bersinar meskipun hari sedang mendung.
Ia lalu membuka halaman-halaman selanjutnya dengan gerakan cepat sampai akhirnya sampai pada sebuah halaman yang berisi sebuah potret bunga mawar kuning dan sekotak coklat yang familiar.
Orang bilang bunga mawar kuning artinya adalah cinta rahasia.
Tapi apa arti dari sekotak coklat buatan rumah? Rasanya mengerikan, tapi aku tetap memakannya sampai habis.
Kyung-Soo tertawa kecil membacanya dengan bulir air yang mulai keluar tetes demi tetes dari matanya. Matanya membulat ketika ia menemukan sebuah amplop yang diselipkan diantara kedua halaman itu.
Tangan Kyung-Soo bergerak membawa amplop putih dengan gambar mawar kuning disudutnya. Jarinya perlahan membuka lipatan pada bagian atas amplop itu dan menemukan secarik kertas didalamnya. Perlahan Kyung-Soo membuka kertas itu yang ternyata adalah sebuah surat.
Spring 2006
Hey there.. my little sunshine.
Something happened to me for the first time. I've just got to know that all I ever think about is you.
I keep asking to myself, Am I crazy or..
Then i'm trying, trying to walk away. And I keep running from the truth.
But, Your shine got me hypnotized.
The lense of my camera can't stop looking at you. I try to find another thing trough that little hole, but the lense always ends up point at you. And all I've got is a hundred photos about you.
I can't stop to pretendthat these all nothing. But I used to know thatI'm your forever photographer. And you will always be my everything.
Maybe I'm not your perfect crush, but will you always there when my lense of camera try to find you?
I love you.
Sincerely,
Your crush a.k.a Your happy ending wanna be.
Air mata Kyung-Soo kini sudah mengalir deras dipipi. Sebagian jatuh dan membasahi secarik kertas berarti ditangannya. Tangannya menelengkup dibibirnya mencoba mereda suara tangis agar tidak terdengar beberapa orang yang berada di cafe itu. Ia mulai terisak dan bahunya mulai begetar. Tapi kedua sudut bibirnya tak bisa berhenti terangkat.
Ia mendongkak dan mencari sosok pria yang memberikannya semua ini. Kepalanya menoleh dengan cepat kekanan dan kekiri hingga akhirnya ia menemuka pria itu diluar jendela tersenyum lemah kearahnya.
"Jong-In sunbae.." panggilnya berbisik hampir tak bisa terdengar.
Kyung-Soo lalu beranjak dari kursinya bermaksud untuk mengejar sosok laki-laki yang masih berjalan dibalik jendela itu. Ia beranjak dengan gerakan tergesa-gesa sehingga membuat lututnya menabrak meja didepannya. Seketika album coklat itu pun jatuh ke lantai dengan sesuatu yang terselip dihalaman terakhirnya.
Kyung-Soo menghentikan gerakannya dan memandang lurus kearah sebuah amplop lain berwarna putih bersih dengan pita berwarna peach diatasnya. Tangannya mengambil amplop itu dengan gerakan pelan dan membuka isinya.
Tubuh Kyung-Soo melemas dan akhirnya ia jatuh terduduk diatas kursi cafe itu membuat seorang pelayan kaget dan terlihat cemas dimeja pesanan. Dadanya terasa sakit dan sesak bukan main. Bahunya kini bergetar hebat. Tangisnya meledak tidak memerdulikan orang-orang yang menatapnya heran.
Kepalanya lalu terlengkup diatas meja dengan bahu yang terus bergetar karena tangis. Dengan amplop indah dan tulisan berwarna perak yang terbuka pada tangannya yang melemas.
(Example for Wedding Invitation Card)
Wedding Invitation
Jong-In Kim
With
Lu-Han
At St. Pauls Cruch this Spring.
..
..
..
Seoul, South Korea.
Spring, 2020.
Ia berdiri dibalik beberapa staff dan kameramen dengan mata yang menatap lekat seorang wanita yang sedang duduk didepan kamera sambil tertawa membuat kedua sudut bibirnya terangkat. Wanita itu kini sedang berbicara menjawab pertanyaan yang diberikan wanita berambut pendek disebelahnya.
Kepalanya langsung menoleh ketika seseorang mencolek lengannya dengan kasar. Kedua matanya melebar senang ketika melihat pria tinggi dan wanita dengan eyes smile melambai kearahnya. Mereka berdua menggunakan snapback Supreme yang sama tapi dengan model yang berbeda tapi masih terlihat serasi. Pasangan itu tersenyum jahil kearahnya membuatnya ia mendengus sambil tersenyum.
Wanita yang memakai hoodie berwarna hijau tosca dengan jeans biru itu mendekat sambil memberikan sebuket bunga mawar merah padanya. Sedangkan pria tinggi yang menggunakan jaket bercorak seperti seragam tentara bertepuk tangan pelan tanpa mengeluarkan suara disampingnya. Kedua tangannya menerima buket itu lalu tersenyum lagi.
"Terimakasih sudah membantuku." Bisiknya setelah mencium buket mawar itu membuat pasangan itu langsung mengangguk dan mengacungkan jempol mereka tanpa suara. Lagi-lagi ia tersenyum dibuatnya.
"Ya.. hyung sesibuk itu sampai-sampai tidak bisa membeli bunga sendiri?" ucap seseorang dengan suara yang lumayan kencang membuat mereka bertiga menoleh mencari asal suara. Seorang pria tinggi setinggi dirinya dengan pakaian casual—kaos putih berkerah dan jeans—berjalan kearahnya dengan seorang bayi dipangkuannya.
"Ssshhhh!" sahut mereka bertiga dengan masing-masing telunjuk disimpan didepan bibir mereka. Pria itu buru-buru menutup bibirnya rapat-rapat. Ia lalu melakukan gestur yang sama pada bayi dipangkuannya.
"Tapi setidaknya aku membeli banyak makanan untuk kita semua. Aku yang traktir." Katanya dengan nada berbisik ketika pria dengan bayi itu sudah berdiri diantara mereka bertiga. Pasangan itu mengangguk dan tersenyum puas sambil mengacungkan tangan dengan jari telunjuk dan jempol yang disatukan membentuk gestur 'ok'. Pria dengan bayi juga melakukan gestur yang sama lalu mengangkat pelan tangan bayi sambil bergumam 'assa'.
"Sugohaesseoseubnida!" sahutan seseorang membuat mereka berempat menoleh kedepan kamera.
"Mereka sudah selesai!" bisik wanita dengan snapback dengan nada yang sedikit panik.
Mereka bertiga lalu berjalan pelan melewati staff-staff dan kameramen didepan mereka. Ia berjalan pelan dengan sebuket bunga dibalik badannya. Pasangan ber - snapback dan pria dengan bayi itu mengikutinya dari belakang dengan confetti ditangan mereka.
Ketika sampai pada jajaran kameramen, dia berhenti setelah menerima aba-aba dari wanita berambut pendek yang berdiri agak jauh darinya. Dia berdiri jauh dibalik seorang wanita berambut panjang yang berdiri memunggunginya. Ia menoleh dan menyuruh pasangan dan pria dengan bayi itu berdiri didepannya bermaksud untuk menutupi tubuhnya. Mereka bertiga mengangguk dengan bibir yang terus tertutup rapat lalu bergerak berusaha menutupinya.
"Hana.. duul.." bibir mereka mengucapkan kata yang sama tanpa suara lalu saling memandang satu sama lain.
"KEJUTAAAAAAAANNNNNNNNN!" teriak mereka bertiga sambil menembakan confetti membuat kedua wanita yang mengobrol menoleh dengan tatapan kaget.
"Woaaaaa!" teriak wanita berambut panjang histeris sambil menutupi mulutnya menahan teriakan yang mulai membahana. "Aku sangat sangat sangat sangat sangat sangat merindukan kaliaaaaannn!" sahutnya dengan tangan terbuka hendak memeluk mereka bertiga. Tapi mereka langsung mengeluarkan gestur 'tahan dulu' membuat wanita itu mematung ditempatnya.
"Jajjaaaaan! (Taraaaa!)" sahut mereka bertiga sambil menggeser tubuh mereka membuat semua orang kini bisa melihatnya.
"Kejutan.." ucapnya tersenyum halus dengan kedua tangan yang memegang buket mawar bunga didepan perutnya. Wanita itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Kedua tangannya bergerak menutupi mulut menahan tangis.
Ia bergerak mendekat sambil membuka tangannya hendak memeluk wanita itu. Ia tersenyum lega karena bisa mencium lagi aroma shampoo yang familiar dan sangat dirindukannya dari rambut wanita itu. Tangannya bergerak melambai halus kepala wanita yang kini menunduk dipelukannya.
"I miss you.." ucap wanita itu tak jelas dibalik pelukannya.
"Apa? Aku tidak bisa dengar." Katanya sambil tertawa kecil mendengar wanita yang amat dicintainya itu mengucapkan rindu dengan suara pelan. Tangan kanan wanita itu lalu memukul pelan tubuhnya. "Aa! Itu sakit." Ucapnya pura-pura kesakitan.
"Haruskah kita bubar?" ucap wanita ber-snapback sambil mendongkak pada pria disampingnya.
"Iya sepertinya kita semua harus pergi. Se-Hunnie kaja." Jawab pria tinggi dengan kening berkerut mengajak Se-Hun yang mengangguk-angguk setuju.
"Baiklah. Ayo bubar bubar." Ucap Se-Hun sambil merangkul wanita berambut pendek disebelahnya. Tapi tak dihiraukan oleh pasangan yang kini masih berpelukan itu.
Ia melepas pelukannya untuk menatap wajah wanita yang amat dicintainya itu. Ia lalu tersenyum membuat wanita itu juga tersenyum. Ia lalu bergerak mendekati telinga wanita itu.
"I miss you too.."
"Jaaadiiii, Happy Anniversary untuk kalian berdua!" ucap pasangan ber -snapback berbarengan sambil melemparkan sisa-sisa confetti dikepala dan tubuh mereka.
"Koroji koroji." Gumam Se-Hun sambil memberikan bayi dipangkuannya pada wanita berambut pendek disebelahnya.
"Terimakasih banyak. Aku merindukan kalian." Ucap wanita itu sambil memeluk pasangan ber-snapback, "Bagaimana liburanmu? Aku kesepian ketika kau pergi, Baek-Hyun." Lanjutnya membuat Baek-Hyun menatapnya skeptis lalu memeluknya erat.
"Aku juga sangat merindukanmu, Kyung-Soo. Kau selalu sibuk promosi novelmu ketika aku ingin mengobrol banyak padamu." Jawabnya pura-pura sedih membuat Kyung-Soo memutar kedua bola matanya sambil tersenyum.
"Kau tidak merindukanku?" tanya pria tinggi disebelah Baek-Hyun membuat mereka menoleh berbarengan.
"Sayang sekali tidak, Chan-Yeol sunbaenim." Jawab Kyung-Soo lalu menjulurkan lidahnya. Detik berikutnya mereka tertawa lalu berpelukan.
"Se-Hunnieeeee!" sahut Kyung-Soo sambil bergerak memeluk Se-Hun yang kini merunduk menyesuaikan tingginya dengan Kyung-Soo. "Aigo kwiyeowo! Apa kabarmu Se-Hun jr? Kau sangat mirip ayahmu." Kata Kyung-Soo sambil mencubit halus pipi bayi yang berada dipangkuan wanita berambut pendek. "Apakah kalian tidak memikirkan nama lain selain 'Se-Hun Junior'? Oh my God seriously.."
"Sepertinya tidak ada. Dia terlalu mirip Se-Hun." Kata wanita berambut pendek sambil menatap Se-Hun yang kini sudah bergabung dengan Chan-Yeol dan Baek-Hyun yang sibuk membuka makanan-makanan yang baru datang.
"Bagaimana jika kalian mempunyai anak perempuan yang sangat mirip denganmu? Apakah kau akan menamainya Lu-Han junior?" tanya Kyung-Soo sambil tertawa yang membuat Lu-Han juga tertawa.
"Chan-Yeol hyung, kapan kau akan punya bayi?" tanya Se-Hun santai tak sadar dengan tatapan tajam Baek-Hyun ditempatnya. "Bukannya kalian menikah lebih dulu daripada kami? Se-Hun junior butuh teman." Lanjutnya membuat Kyung-Soo dan Lu-Han yang sedang berjalan mendekat tertawa.
"Baek-Hyun takut tersaingi jika ada anak kecil dirumah. Kalian tahu sendiri Baek-Hyun tidak terlalu suka anak-anak." Jawab Chan-Yeol membuat sikut Baek-Hyun langsung mendarat diperutnya. "Appeo!"
Mereka semua kini tertawa bersama-sama melihat tingkah laku Chan-Yeol dan Baek-Hyun yang tidak pernah berubah. Ketika semua orang sedang menikmati momen yang jarang mereka rasakan itu, Ia malah berdiri cemas sambil menoleh kearah lain.
"Ey Hyung! Ppali hae! (Cepat lakukan!)" sahut Se-Hun ketika mata mereka bertemu membuat Ia semakin bingung ditempatnya.
"Jong-Ina ppali." Ucap Chan-Yeol membuat Lu-Han dan Baek-Hyun mengangguk setuju. Ia lalu menoleh kearah Kyung-Soo yang terlihat kebingugan karena tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Jong-In menunduk lalu menghela napas panjang. Kedua kakinya kini berjalan pelan mendekati Kyung-Soo yang masih bingung terdiam ditempatnya. Tangannya bergerak membuka sebuah kotak beludru berwarna merah yang isinya tak lain adalah sebuah cincin emas putih. Klise memang, tapi Jong-In kini berlutut dihadapan Kyung-Soo yang sudah membelalak kaget.
"I love you and I wanna be your happy ending. Will you marry me?"
Senyuman yang membuat harinya yang mendung menjadi cerah tampak dari wajah wanita dihadapannya itu. Matanya terlihat berkaca-kaca terharu meskipun cara yang Jong-In lakukan untuk melamarnya terlalu biasa dan sederhana.
Wanita itu akhirnya mengangguk membuat Jong-In tidak bisa untuk tidak menahan senyuman diwajahnya. Tangannya lalu bergerak memakaikan cincin itu pada jari manis tangan kiri Kyung-Soo.
Mereka kini bersorak germbira ketika Kyung-Soo dan Jong-In akhirnya berpelukan. Chan-Yeol bertepuk tangan keras dengan Baek-Hyun dan Se-Hun yang terus berteriak 'yehet' karena rencana mereka berhasil. Lu-Han pun ikut gembira sambil menggoyang-goyangkan bayi di pelukannya yang sedang tertawa lebar.
"Y-ye—yehet.." terdengar seseorang berkata 'yehet' membuat suasana seketika hening. "Yehet." Mereka semua langsung menoleh dan mencari asal suara. "Yehet yehet."
Mata mereka semua membelalak ketika mereka menemukan Se-Hun junior tertawa lebar sambil terus bergumam 'yehet'. Mulut mereka terbuka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar.
"Ini salahmu Baek-Hyun. Gara-gara kau kata pertama yang dikatakan Se-Hun junior jadi seperti itu." Kata Chan-Yeol dengan wajah yang masih kaget.
"Tapi kata itu dibuat Se-Hun." Jawab Baek-Hyun masih menatap Se-Hun junior dengan kaget.
"Aaaah Junioooorrr!" sahut Se-Hun kegirangan mendengar anaknya kini mengucapkan kata pertamanya.
"Kalian benar-benar mirip." Ucap Kyung-Soo sambil tertawa melihat Se-Hun yang kini menggendong Se-Hun junior sambil berkata 'yehet' bergantian.
..
..
..
Akhirnya epilogue keluar juga hehe maaf ya kayaknya telat banget ya?
Reviewnya dikit jadi aku kira kalian gak pada suka, jadi lambat deh updatenya hehe.
Iya ini ceritanya keinspirasi dari film Thailand yang judulnya The Crazy Little Thing Called Love. Abis author suka sama karakter P'shone nyaaa ;-;
Makasih banyak buat .16, yixingcom, DJ 100, sehunpou, Kaisoo32, Lee Dong Hwa, starbucks91, KaiSoo Shipper, dazzling huang, yoow ara, Kim Leera, dan vangezzty, karena udah pada baik mau review fictnya hehehe pokoknya makasih banyak xoxo
Makasih juga sama yang nyempetin buat baca hehe.
Sampe ketemu dicerita selanjutnyaaa^^
Regards,
Carnigeracerva
