.

.

Pairing : Sasunaru

Rating : M

Genre : angst/horor/hurt comfort

Warning : m/m, OOC, violence, non con, hermaphrodite, etc...

.

.

Masashi Kishimoto©

.

.


"When I despair, I remember that all through history the way of truth and love have always won. There have been tyrants and murderers, and for a time, they can seem invincible, but in the end, they always fall. Think of it-always." – Mahatma Gandhi


.

.


Chapter 2 : The Devil


.

KONOHA

.

"KURANG AJAR! SIAPA YANG BERANI MELAKUKANNYA!"

Minato sangat murka. Dia berdiri dari kursi singgasananya, dadanya naik-turun tidak karuan.

"A..ampun Hokage-sama, ka..kami belum mengetahui siapa 'pelakunya'." ucap Kepala Desa Oto dengan tubuh gemetar ketakutan.

"APA KATAMU?", Minato beranjak dari kursi singgasananya, "DASAR TIDAK BERGUNA!" Teriaknya dengan wajah merah padam, tangannya sudah sangat gatal untuk mencekik leher tua itu.

Dia kehilangan figur seorang Ibu dan bawahan terbaiknya, sedangkan si tua bangka ini malah asik tidur dengan istri barunya!

"DAN KAU BARU MELAPORKAN KEJADIAN INI SETELAH 1 MINGGU..?"

Sang kepala desa hanya bisa megap - megap, dia kehabisan kata - kata.

"Hmm..." sang hokage tersenyum manis di buat - buat.

"KURONTOKKAN GIGI PALSUMU ITU SATU - PERSATU!" Desis Minato dengan aura membunuh.

"Hokage-sama!" Kakashi berdiri di hadapan sang hokage.

"Maaf atas kelancangan saya, tapi ini bukan kesalahan mereka. Saya mohon Hokage-sama, tolong tenangkan diri anda." Ucap kakashi sambil membungkuk dalam.

Sebenarnya dirinya juga sangat sedih dan marah mendengar berita itu.

Sang Hokage men-death glare Kakashi, "Jangan ikut campur urusanku! Minggir!" Seru Minato dengan gigi gemeretak.

Seperti predator dia menghampiri penghuni Desa Oto itu.

"To..tolong a...ampuni ka..kami..Hokage-sama, ka..kami tidak tahu apa – apa.." sang kepala desa dan pengawalnya bersujud meminta ampun, mereka sangat ketakutan, dan saking takutnya beberapa dari mereka sampai terkencing di celana.

"DIAM!" kakinya pun terangkat dan akan menginjak kepala orang tua itu.

Orang – orang yang hadir di ruangan terpekik ngeri, tidak pernah mereka melihat hokage semarah ini.

Mata Kakashi terbelalak, dia harus menghentikan ini! "Hoka- "OTOU-SAN!"

.

Kaki Minato berhenti di udara.

.

Seperti tersiram air es, dia tiba – tiba tersadar akan tindakannya.

Di letakkannya kembali kakinya ke lantai. Nafasnya memburu.

.

'Kami-sama, apa yang telah ku lakukan...' ucapnya dalam hati.

.

Mata birunya menangkap sosok seorang bocah laki – laki berusia 7 tahun berambut hitam, tengah berdiri tegak di depan pintu, menatap dirinya tajam.

Semua orang yang berada di ruang singgasana itu tertegun. Tangan mengusap mata masing – masing.

Tadi...apakah hanya halusinasi mereka? sepintas mata Sasuke-sama seperti semerah darah.

"Sasuke..." ucap Minato lemah. Amarahnya hilang entah kemana.

Menatap satu – persatu orang – orang yang bersujud di hadapannya, dia lalu menarik nafas panjang.

"Hhhh...," tangannya memijit – mijit keningnya.

"Kau!" Minato menunjuk sang kepala desa. "Dimana mereka di kuburkan?"

"Me..mereka di ku..kuburkan di belakang Ma..Mansion Uzumaki di Desa Oto, Ho..Hokage-sama.."

Minato lalu menutup matanya dengan telapak tangan kanannya. Matanya mulai berair.

"Kakashi, antar keluar orang –orang Oto ini."

Dia berjalan menghampiri Sasuke.

"SEMUA BUBAR!" perintahnya dengan suara lantang.

"BAIK, HOKAGE-SAMA!" sahut mereka serempak sambil membungkuk hormat.

.

.

TAP...TAP...TAP...

"Otou-san, apa yang terjadi?" tanya Sasuke sambil mengimbangi laju langkah sang hokage.

Minato melirik Sasuke yang ada di sampingnya, kemudian menatap lurus ke depan. "Terjadi pembunuhan di Desa Oto..."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Lalu?"

"Mereka berdua adalah Mantan Kepala RS Konoha dan Mentor di Sekolah Militer Konoha."

"Mereka di makamkan di Konoha?" tanya Sasuke.

"Tidak, mereka di makamkan di Desa Oto." Balas sang hokage datar.

"Siapa pelakunya?"

"Masih belum diketahui, si tua mesum itu tidak menjalankan tugasnya dengan benar!"

'Si sialan itu, akan ku pecat dia nanti!' ancam minato dalam hati

Sasuke memegang dagunya, berpikir. "Jangan – jangan...pelakunya orang yang pernah berkhianat di Negara Hi? kalau tidak salah menurut arsip istana hanya dua orang yang belum di ketahui jejaknya, namanya-"

"Orochimaru dan Yakushi Kabuto. Mereka adalah buronan kelas S di negara ini," sela sang hokage.

Matanya penuh kebencian. Dia memiliki dendam pribadi kepada dua orang itu.

"Sepertinya mereka mulai bergerak kembali. Tou-san, mereka harus segera di habisi, kalau tidak, pasti akan ada korban lain." saran Sasuke dengan wajah stoicnya.

.

Minato tiba – tiba berhenti berjalan. Wajahnya terlihat serius.

.

"Sasuke...Otou-san ingin minta tolong kepadamu." Minato menatap wajah Sasuke dengan lekat.

"Hn!" Air muka Sasuke tidak berubah, tetap tanpa ekspresi.

"Tou-san akan pergi ke Desa Oto untuk..beberapa hari..."

"Jadi, segala kuasa di Istana Tou-san serahkan kepadamu...Kakashi juga akan ikut membantumu." Wajah Minato tampak gusar seperti memikirkan sesuatu.

"Hn." Ucap Sasuke singkat, matanya penuh selidik. "Kenapa Otousan harus kesana?"

Sang hokage tersenyum kecut. Jujur saja, dia sangat tidak ingin Sasuke mengetahu hal ini sekarang.

Uhh...Damn!Lidahnya terasa kelu.

Mata Sasuke menatap tajam seperti elang. Dia mengamati gerak – gerik sang hokage. 'Sangat mencurigakan,' batinnya.

Minato merasa tidak nyaman dengan tatapan Sasuke. Dengan senyuman yang dipaksakan, dia pun berkata-

"Maaf Sasuke, Tou-san akan menjelaskan semuanya setelah Tou-san kembali dari Desa Oto..."

.

Sang Hokage mengambil nafas panjang, lalu menatap mata Sasuke dengan serius.

.

.

"Tou-san akan mengenalkan 'DIA' kepadamu."

.


oOo


.

Days later...

.

Desa Oto

.

"Naruto-kun, ternyata kau adalah anak kandung dari Hokage-sama," ucap nenek Chiyo sambil mengelus kepala Naruto.

"Kau mengingatkanku kepada almarhum cucuku di Suna dulu," lanjut nenek Chiyo dengan air mata mengalir di kedua pipinya.

Naruto memandang Nenek Chiyo dengan mata kosong. 'Hokage-cama?...Otou-cama?..' ucapnya dalam hati.

"Otou-cama?" tanya Naruto menatap wajah Nenek Chiyo.

"Iya..nak, kau tidak sendiri, masih ada Minato-sama...," balas nenek itu dengan senyuman sedih.

Mendengar nama ayahnya di sebut, mata biru Naruto kembali bercahaya. Terpancar harapan besar di sana.

"Ini bukanlah perpisahan terakhir...ingatlah...apabila kau dalam kesulitan, berkunjunglah ke tempat nenek...nenek akan sekuat tenaga membantumu," wajah tuanya terlihat sangat khawatir.

Naruto mengangguk, kemudian memeluk erat tubuh tua itu.

.

.

.

'Otou-cama...' ucapnya dalam hati, matanya memandang lekat sosok pria dewasa di hadapannya.

Sosok dingin yang bersamanya di dalam kereta hanya diam membisu, wajahnya memandang keluar jendela.

Minato begitu terhanyut dalam lamunannya sendiri, hingga dia tidak memperdulikan sekitarnya.

Dia tidak menyadari bahwa tubuh kecil yang sedang duduk di hadapannya, menatapnya dengan penuh kekaguman sambil tersipu malu.

.

Naruto tersenyum lebar, matanya berbinar, hatinya berbunga – bunga. Mulutnya terus menggumamkan sesuatu, tanpa melepaskan pandangan dari sosok sang hokage.

.

.

"Otou-cama...Otou-camaku..."

.

"Milikku..."

.


oOo


.

Sesampainya di Istana Namikaze, Naruto melihat ayahnya dengan tergesa – gesa keluar dari kereta.

"Tou-cama.." dia memanggil ayahnya. Tubuh kecilnya berusaha turun dari kereta yang tinggi itu.

Sekali lagi, TIDAK ada yang menolongnya.

Kaki kecilnya tersandung tangga kereta, dan dia pun jatuh terjerembab ke tanah.

"Itaii..." Naruto bangkit dari tanah dan melihat kedua lututnya berdarah.

Mendengus kecil, dia hanya menepuk - nepuk lukanya seakan -akan dirinya tidak merasa sakit.

"Aku adalah lelaki yang kuat, aku tidak akan menangis kalena luka kecil!" Tegasnya.

Matanya kembali memandang sekitar, mencari sosok ayahnya.

"Ah! Itu dia Tou-cama!" teriaknya girang.

Dia pun berlari masuk ke dalam Istana dengan riangnya.

Para penjaga menatap heran kepada anak kecil itu, tapi tidak menghentikannya karena mereka tahu anak kecil itu bersama sang hokage.

.

.

Mulut mungilnya ternganga melihat keindahan dan kemewahan sekitarnya. 'Ini..cepelti di negeli dongeng' pikirnya senang.

"Lual biaca-" BRUUKK "ADUH!" Naruto jatuh terduduk di lantai, kepalanya terbentur pinggir vas bunga besar.

Tangan kecilnya memegang sisi kiri kepalanya, "Dalah..!" Grrr...dia merasa marah, sudah cukup rasa sakitnya hari ini.

Mana si brengsek yang menubruknya tadi!

Sapu tangan hitam terjulur di hadapan wajahnya, "Maaf Nona, saya tergesa – gesa tadi, apa anda baik – baik saja?" suara datar itu terdengar di telinga Naruto.

Ternyata yang menubruknya adalah bocah laki – laki seusianya juga.

Si sialan ini malah tetap kokoh berdiri, sedangkan dirinya tersungkur memalukan di lantai.

Naruto lalu berdiri dan menatap nyalang ke bocah berambut raven itu. Sapu tangan yang di tawarkan di acuhkannya.

Sasuke memandang Naruto dengan intens, tatapannya sulit di artikan.

'Kenapa bocah ini menatapku tanpa belkedip, cepelti tidak pelnah melihat olang caja!' Rutuk Naruto dalam hati. Dia merasa risih.

"Laki – laki...bukan pelempuan," desisnya

Seperti di tampar, Sasuke tersadar dari lamunannya. "APA?"

"Kau tuli ya? Aku ini laki – laki," tegas Naruto.

.

Tangan Sasuke yang masih terjulur, ditaruhnya kembali ke saku celananya. Hilang niatnya berbaik hati.

Di amatinya penampilan Naruto dari ujung kepala sampai ujung kaki.

'Seperti pengemis' umpatnya dalam hati.

Kepalanya lalu menunduk. "Menjijikkan," gumamnya.

"Apa kau bilang?" Naruto kecil mendekat ke tempat Sasuke berdiri.

Damn! Ternyata dia jauh lebih tinggi daripada dirinya.

Naruto bertambah kesal karena harus menengadahkan kepalanya untuk menatap bocah tidak sopan ini.

Kepala Sasuke kembali tegak, matanya menatap dingin tubuh mungil di depannya.

"KAU MENJIJIKKAN!"

"Tampang dan gendermu tidak sesuai, DOBE!" Hina Sasuke.

.

Setelah perkataan menyakitkan dari Sasuke, sejenak suasana menjadi diam.

Hingga Sasuke memutuskan menambah garam di luka Naruto yang sudah meradang.

.

"Heh!..Tidak menarik." Dengusnya kasar. Sorot matanya merendahkan.

Amarah Naruto kecil tersulut, dia pun lalu menerjang, memukul Sasuke dengan membabi buta.

Sasuke menyeringai.

Dia dengan santainya menepis semua serangan Naruto.

.

"ADA APA INI!" Seru seseorang dengan suara menggelegar.

.

Naruto menghentikan serangannya.

Di belakang Sasuke dia melihat ayahnya dengan ekspresi garang berjalan ke arah mereka.

"Otou-"BUKK" Sasuke memanfaatkan kesempatan dengan memukul keras ulu hati Naruto.

BRUKK! Naruto tersungkur di hadapan Sasuke, tangan kirinya memegangi perutnya.

"O..Otou-cama..." tangan kanan Naruto terulur ke arah ayahnya, "Tolong..."

Matanya berair menahan sakit. Bayangan ayahnya semakin lama semakin kabur.

Di tengah kegelapan yang di rasakannya, samar –samar dia mendengar bocah raven itu berkata-

.

"Otou-sama? Hei, siapa kau sebenarnya?" nada suaranya tetap tanpa perasaan.

.

Ohh..betapa Naruto begitu membencinya!

.

'Mulai cekalang dia adalah mucuh telbecalku.' Sumpah Naruto kecil sebelum kegelapan meliputinya, dan dia pun tidak sadarkan diri.

.

.

.

"Uhh..." Naruto mulai tersadar dari pingsannya. Dia merasa mual, dunia serasa berputar.

Sambil mengusap mata dengan tangan kecilnya, Naruto berusaha bangun dari tempat pembaringannya.

Seluruh tubuhnya terasa sakit. Terutama bagian kepala, perut, dan lututnya. Dilihatnya ketiga bagian itu telah diperban.

'Apa yang cebenalnya teljadi?...dimana aku?,' dia memaksakan diri untuk duduk dan melihat keadaan sekelilingnya.

Sepertinya dia berada di kamar seseorang. Barang - barang di kamar tersebut menunjukkan bahwa pemiliknya adalah seorang yang sangat maskulin. Terlihat dari berbagai macam perlengkapan tempur dan sebuah katana besar berwarna hitam yang bertengger di dinding berwarna biru malam itu.

"Hmm..kamal ini begitu culam...cepelti apa pemiliknya ya..?" ucap naruto dengan lemah, tangan kirinya memegang kepalanya yang mulai berdenyut sakit.

"Cemuanya celba walna bilu dan hitam, menggelikan..." dia nyengir, membayangkan hal yang lucu untuk melupakan rasa sakitnya.

.

Bersandar di kepala ranjang yang sangat besar itu, Naruto mulai mengingat kejadian menjengkelkan sebelumnya.

"Dasal teme...aku tidak akan memaafkannya..."ucapnya dengan nada marah. Belum pernah dia membenci seseorang seperti ini, apalagi baru pertama kali bertemu. Kata almarhum gurunya dulu, kebencian akan membuahkan kesengsaraan dan kehancuran. Tetapi, entahlah... ada sesuatu dari anak berambut raven itu yang membuatnya otomatis membencinya.

"KAU SUDAH BANGUN."

Sasuke dengan coolnya bersandar di pintu, menatapnya dengan intens.

Mata Naruto membesar, "A..apa...cejak kapan kau di citu!" teriaknya, terkejut.

Sasuke tidak menjawab. Dia terus memandangnya dengan dingin.

Naruto merasa sangat terganggu dengan kehadiran Sasuke. 'Aku tak akan kalah!' gerutunya, dia pun membalas tatapan Sasuke dengan sama dinginnya.

Perlahan tetapi pasti Sasuke datang mendekat, sikap arogan bocah raven itu membuatnya ingin muntah.

Dia menatap Sasuke penuh curiga, 'Mau apa ci teme ini?'

Sorot mata Sasuke yang semula dingin kini berubah penuh kebencian.

Melihat perubahan yang begitu drastis, dia merasa terancam, dia ingin berada sejauh mungkin dari jangkauan bocah mengerikan tersebut.

Tetapi, belum sempat dia mengambil keputusan, Sasuke dalam sekejap sudah berada di atas ranjang, di atas tubuhnya...

Tangan kiri Sasuke menahan kedua pergelangan tangannya dengan kuat hingga sirkulasi darahnya seperti akan putus, sedang tangan kanannya menjambak rambut pirang sebahu Naruto dan mengangkat kepalanya hingga wajah mereka berdekatan.

Jantung Naruto berdegub begitu kencang...nafasnya tidak teratur...dia merasakan dirinya terserang panic attack. Betapa tidak, pemandangan horor terpampang didepan wajahnya.

Mata Sasuke yang semula hitam kini menjadi semerah darah, pola aneh melingkari bola mata merahnya.

Dia ingin berteriak, dia ingin berontak, tetapi seperti membeku tubuhnya tidak bisa bergerak sedikitpun, dia di handle seperti boneka mainan.

Bibir Sasuke mendekat ke telinganya, hembusan nafasnya membuat bulu kuduk Naruto berdiri.

"Kau lelap sekali tidur di ranjangku, dobe." Ucap Sasuke datar.

"Kau tahu..kita ini adalah saudara tiri...Otou-san telah menceritakan semuanya kepadaku," lanjut si bocah raven.

'Caudala tili?..Tidak...tidak mungkin...Tou-cama..kenapa..?' batinnya menjerit, kalau saja dia bisa bergerak, dia pasti akan berlari menemui ayahnya dan bertanya langsung.

Merah bertemu biru.

Sasuke menyeringai, wajah tampannya berubah sangat mengerikan dengan amarah yang siap meledak.

"Aku akan menghancurkanmu!" "Kau kerikil penghalang! Tahta Hokage adalah milikku!" desisnya di wajah Naruto.

Tubuh kecilnya mulai gemetar.., sosok Sasuke sekarang seperti bukan manusia bagi Naruto.

Dia mengingat buku dongeng yang pernah di bacanya dulu...buku tentang iblis yang menyamar menjadi malaikat untuk memakan jiwa manusia. Dalam bayangan polosnya, Iblis itu sekarang adalah Sasuke.

'Di..dia..bukan manucia, di..dia..iblis..!'

'Otou-cama...aku akan melindungi Otou-cama..cupaya iblis ini tidak memakannya..!' Walau dalam keadaan ketakutan dan tidak berdaya, dirinya tidak akan menyerah. Tidak...tidak semudah itu, dia adalah anak yang kuat.

"Heh! Ha..ha..kasihan sekali..kau begitu terobsesi dengan orang yang tidak menginginkanmu!" Sasuke menyeringai lebar ketika cahaya di manik biru itu mulai meredup.

"Otou-san tidak akan pernah mencintaimu..dia sangat membencimu.."bisik Sasuke dengan kejamnya di telinga Naruto.

Dari manik biru yang indah itu, mengalir air mata yang tak terbendung lagi.

Puas melihat hasil perbuatannya, Sasuke lalu melepaskan cengkramannya.

Masih berada di atas tubuh mungil tersebut, Sasuke mengamati wajah Naruto dengan pandangan merendahkan, bibirnya tersenyum mengejek. Bagi seorang yang stoic seperti dirinya, ini merupakan hal yang sangat langka. Belum pernah dia bertindak dan bereaksi selepas ini kepada orang lain seumur hidupnya.

Anak kandung Otou-san memang beda...

Sayang sekali dia laki – laki...kalau dia perempuan segalanya akan lebih menarik...

Dirinya kembali mengamati bocah pirang itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, terutama ekspresi menderitanya. Sasuke kecil dengan rakusnya menyimpan dan mengingat semua ekspresi dari sosok mungil tersebut dalam memorinya.

Naruto hanya bisa pasrah, tubuhnya lunglai tidak ada tenaga. Mata merah Sasuke memaksanya untuk submissive.

Merasa cukup. Sasuke lalu bangkit berdiri dan turun dari ranjang megahnya. Tanpa menoleh kebelakang dia berjalan menuju pintu. Sebelum melangkah keluar melewati pintu, Sasuke mengucapkan kata – kata yang akan menghantui Naruto sampai dia dewasa nanti...

.

"Hn!"

.

"SELAMAT DATANG DI NERAKA, DOBE."

.

.

.

.


TBC


.

A/N : Thank's for the reviews ^^.

Terima kasih untuk semua masukannya...

Author akan berusaha lebih baik lagi. Mohon maaf banyak kata - kata kasar dalam cerita.

Naruto anak yang cukup cerdas, namun level intelektualnya masih jauh di bawah Sasuke.

Sasuke masih kecil tapi bertindak dan berpikir seperti orang dewasa. Dia hanya menampakkan sisi gelapnya kepada Naruto...

Sebaliknya, Naruto sangat haus akan kasih sayang Minato, dia seorang father complex...dan ini akan menjadi salah satu sumber masalah Sasuke di masa mendatang.

.

So...(^.^)

C U Next Chap...

.

Love,

.

Cl0v3rl34f