Hello, ini chapter 3! Tebak apa yang berubah, hihihi

Read my after notes, O.K?

WAJIB, DEMI KEMANUSIAAN! :p

.

.

.

Baekhyun tengah disibukkan dengan tugas akhirnya, penelitian yang sedang ia lakukan benar-benar menyita semua waktu dan tenaganya. Sehun selalu memarahi Baekhyun karena wanita itu tak memperhatikan kesehatannya.

"Aku hanya ingin cepat-cepat selesai." Begitulah alasan Baekhyun ketika ia bertemu Sehun untuk makan malam.

"Sebegitu ingin cepat pulangkah kau Baekhyun?" tanya Sehun sambil ia menyesap minumannya.

Baekhyun tersenyum, banyak alasan kenapa ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pendidikannya, diantaranya memang pulang ke Korea. "Begitulah." Jawabnya sambil senyum-senyum.

Oh Sehun menatapnya curiga, "Ingin pulang kerumah atau ingin cepat-cepat menikah dengan Chanyeol?" godanya.

Baekhyun membeliakkan matanya, lalu tersipu malu. "Ish, berhentilah!"

Sehun hanya terkekeh, kemudian melirik cincin yang menghiasi jemari Baekhyun. Semenjak kunjungan Chanyeol natal tahun kemarin, Baekhyun jadi lebih bersemangat kuliah. Bukan berarti sebelumnya dia tak bersamangat, namun setelah bertemu dengan Chanyeol ia jadi memaksa tubuhnya untuk bekerja lebih keras lagi.

Sehun tersenyum karena setidaknya Baekhyun punya seseorang yang membangkitkan semangatnya dari dalam. Dan tak lupa juga sekarang Baekhyun mulai memperhatikan penampilannya. Dasar wanita.

Baekhyun memakan makanan pesanannya dengan lahap, Sehun jadi bertanya-tanya apa anak itu sudah tidak makan selama tiga hari atau apa. "Baekhyun, pelan-pelan." Pinta Sehun, khawatir wanita itu tersedak. Benar saja tak lama kemudian wanita itu tersedak, Sehun hanya bisa menggelengkan kepalanya karena Baekhyun memang butuh banyak bantuan.

.

Baekhyun berhasil lulus ujian sidang, ia berhasil dan ia menangis sejadi-jadinya di pelukkan Natasha teman dekatnya. Chris, Robert, Natasha serta Leticia menungguinya ujian sidang. Akhirnya ia lulus, akhirnya ia bisa kembali ke Korea.

Malam harinya setelah ia merayakan kelulusan bersama teman-teman dekatnya, Baekhyun menghubungi Kyuhyun. Kakaknya benar-benar terdengar bahagia dan berjanji akan datang ke Inggris saat wisuda. Kyuhyun juga akan memberitahu ayahnya dan mengajaknya untuk bersama-sama datang ke Inggris. Sehun yang sudah tahu sejak siang mengiriminya bunga mawar ke apartemennya juga boneka teddy bear coklat yang lucu dan bisa bicara, memberi selamat dan meminta maaf karena Sehun harus ke Jepang hari itu juga.

Satu-satunya orang yang belum Baekhyun beritahu adalah kekasihnya, Park Chanyeol.

Ia kemudian menghubungi nomor Chanyeol.

Sudah 7 bulan mereka menjalani hubungan jarak jauh, tak jarang mereka bertengkar kecil. Sebagian besar karena Baekhyun yang manja namun Chanyeol tak bisa peka pada keadaan. Namun pada akhirnya, sebagai orang yang lebih tua dalam hubungan mereka, Chanyeol meminta maaf pada Baekhyun dengan caranya yang unik.

Saat ulang tahun Baekhyun di bulan Mei, Chanyeol mengiriminya paket berupa sekotak surat, berisi pesan-pesan ulang tahun dan memberi semangat pada Baekhyun dan 24 surat cinta dari Chanyeol, sesuai dengan umur Baekhyun.

Chanyeol bilang ia harus meminta prajurit bawahannya untuk menulis ucapan selamat ulang tahun untuknya, karena menurut pria itu, semakin banyak yang mendoakannya maka semakin selamat pula lah Baekhyun.

Baekhyun tersenyum membaca ucapan selamat ulang tahun dari prajurit-prajurit itu, kebanyakan mendoakannya agar cepat pulang ke Korea dan menikah dengan sang komandan agar Chanyeol tak terlalu galak. Surat-surat cinta dari Chanyeol juga membuatnya tertawa, kadang membuatnya terharu. Kekasihnya itu mungkin sedikit ketinggalan zaman, namun dalam lubuk hati Baekhyun, ia sangat menyukai kado yang 'ketinggalan zaman' itu.

Robert dan Chris tak henti-hentinya menggoda Baekhyun akan kado ulang tahun itu, namun bagi Natasha dan Leticia itu merupakan hal paling romantis, mereka sampai iri.

Chanyeol mengangkat telepon darinya.

"Halo, Baek?" terdengar suara Chanyeol yang berat dan Baekhyun sukai.

"Oppa, kau sedang apa?" tanya Baekhyun basa basi.

"Umm, aku baru saja akan menuju ke lapangan. Ada apa sayang?"

Pipi Baekhyun memerah setiap kali Chanyeol memanggilnya dengan sebutan itu.

"Tebak apa yang akan kuberi tahu padamu," Baekhyun tersenyum.

Terdengar Chanyeol memberi perintah pada bawahannya untuk mempersiapkan segalanya lalu kembali fokus pada perbincangannya dengan Baekhyun.

"Umm, apa ya, apa berat badanmu naik lagi?" goda Chanyeol.

"Ish! Bukan itu, coba tebak lagi!" perintah sang putri.

"Ayolah Baekhyun, kau tahu aku paling tidak bisa menebak-nebak."

Baekhyun terkekeh dan membuat Chanyeol ikut tersenyum, "Aku lulus ujian!" Baekhyun mengumumkan dengan nada riang.

"Kau serius Baekhyun? Selamat sayang, akhirnya kau lulus juga, aku hampir mati menantimu disini." Ujar Chanyeol senang.

Baekhyun terkekeh, kekasihnya memang suka berlebihan, "Kau berlebihan, kalau begitu apa kau akan datang dihari kelulusanku dua bulan lagi?" tanya Baekhyun bersemangat.

Yang ia ajak bicara terdiam, membuat wanita yang tengah bahagia itu jadi mengerutkan keningnya, "Oppa, apa kau mendengarku?"

"Uh, ya sayang, aku akan mengabarimu nanti soal itu, yang pasti aku sangat senang kau akhirnya bisa lulus, aku bangga padamu," ujar Chanyeol lembut, Baekhyun bisa membayangkan senyum Chanyeol saat itu, oh ia sangat rindu akan dirinya, walaupun mereka hanya pernah bertemu sekali, namun bersama Chanyeol, wanita itu merasa semua yang ia lewati itu nyata adanya.

"Aku merindukanmu, Baek", ujar Chanyeol kemudian, membuat pipi tembam sang kekasih bersemu.

"Aku juga..."

.

.

.

Dibulan September, Baekhyun akhirnya merayakan kelulusannya. Disampingnya kini adalah Kyuhyun dan sang ayah. Wanita itu tampak cantik, namun ada yang kurang diwajahnya, senyumnya tidak seceria Baekhyun biasanya, terimakasih pada Park Chanyeol.

Sehari sebelumnya...

Kyuhyun dan sang ayah datang ke Manchester bersama-sama. Baekhyun sangat senang ketika bertemu mereka di bandara, ditemani oleh Sehun tentunya.

"Lihatlah! Adik kecilku sudah besar sekarang", Kyuhyun dengan sumringah memeluk adiknya. Sedangkan sang ayah menyapa Sehun hangat seperti anaknya sendiri.

"Sudah lama tidak berjumpa, Sehun, bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Byun sambil tersenyum.

Sehun membalas senyumannya, "Baik, tetapi hari ini Baekhyun membuatku sedikit kerepotan karena ia terlalu bersemangat untuk menjemput anda serta kakaknya di bandara, sampai-sampai aku harus bangun pagi sekali."

Byun Jongkook serta Kyuhyun tertawa mendengarnya, sedangkan Baekhyun hanya cemberut kemudian mencubit perut Sehun.

"Ayah, bagaimana kalau kita makan siang dahulu?" ajak Baekhyun manja. Siapalah Byun Jongkook jika tak menuruti apa yang anak gadisnya mau.

Malam harinya Baekhyun sibuk dengan handphone cantik miliknya, ayahnya sedang beristirahat dikamar tamu di apartemen Baekhyun, sedangkan kakaknya sedang asyik menonton pertandingan bola di TV.

Kyuhyun melirik kearah adiknya yang sedang memandangi handphone dengan intens, alisnya berkerut dan bibirnya mencebik, "Ada apa, Baek?"

Baekhyun menghembuskan nafas, kemudian melirik kakaknya galak, "Apa temanmu tidak berniat untuk mengabariku dia akan datang atau tidak, oppa?" ujarnya kesal.

Kyuhyun langsung menepuk jidatnya seperti baru teringat sesuatu, "Astaga, Baek! Aku lupa mengabarimu, Chanyeol tidak bisa kesini", ujarnya lembut dan hati-hati.

Baekhyun hanya menatap Kyuhyun meminta penjeleasan lebih lanjut.

"Kau tahu 'kan bagaimana seorang tentara bekerja?"

Mendengar itu Baekhyun hanya bisa menghela nafas, rasanya ingin menangis, bukan karena kekasihnya yang tidak bisa datang, namun karena lelaki itu tidak memberitahunya secara langsung ketika mereka berbicara lewat telepon beberapa hari yang lalu. Baekhyun sangat ingat ketika ia berbincang dengan kekasihnya itu, ia sama sekali tidak membicarakan soal pesta kelulusan, mereka berbincang tentang hal-hal yang ingin Baekhyun lakukan setelah ia kembali ke Korea. Chanyeol juga tak memberitahu apapun tentang pekerjaannya.

"...dan pekerjaannya kali ini sangat mendadak, Baek"

Baekhyun kemudian mengagguk dan mematikan handphonenya. "Baiklah, kalau begitu aku tidur lebih awal, aku tak ingin kelihatan lelah besok, selamat malam, kak!", ujar si cantik kemudian ia menuju kekamarnya, meninggalkan sang kakak yang merasa tidak enak.

Kenyataannya Baekhyun sama sekali tidak tidur, dalam hatinya ada sedikit percikan rasa kecewa bahwa kekasihnya tak bisa datang di hari istimewanya, hari yang ia tunggu-tunggu dan wanita itu yakin kalau Chanyeol juga menunggu hari dimana ia akhirnya lulus. Namun sedikit banyak Baekhyun mengerti kalau pekerjaan kekasihnya memang selalu menuntut lelaki itu untuk siap siaga, dan menjadikan kepentingan pribadinya menjadi nomor kesekian. Hati wanita itu terasa ngilu, ia harus rela akan kenyataan itu. Ia harus selalu rela dan mengerti ketika Chanyeol tidak bisa selalu ada bersamanya, disisinya kapan saja wanita itu mau.

Baekhyun kemudian tersenyum, memberi semangat pada dirinya sendiri kalau ia mengerti akan pekerjaan Chanyeol, bahwa ia seharusnya bangga mempunyai kekasih yang bertanggung jawab seperti lelaki itu.

.

.

.

Teman-teman seperjuangannya saat ini sedang membantu Baekhyun bebenah apartemen, karena ia akan segera kembali ke Korea. Ayahnya dan juga Kyuhyun sudah kembali ke Korea seminggu yang lalu sehari setelah acara wisuda berlangsung karena lagi-lagi alasan pekerjaan yang tak bisa diganggu.

Baekhyun tersenyum melihat teman-temannya dengan antusias membantunya memasukkan barang kedalam dus-dus besar. Chris dan Natasha yang paling bersemangat.

"Baekhyun, can I have this photo?" tanya Leticia sambil memegang foto dirinya yang sedang bersama dengan Baekhyun pada saat liburan musim panas dua tahun lalu.

Baekhyun mengangguk, "Yes, ofcourse you can have it, Cia", katanya kemudian melanjutkan kegiatannya memasukkan buku-buku kedalam dus.

"Baekhyun¬", kali ini suara Robert yang memanggilnya, "Harus aku taruh dimana kotak ini?" tanya lelaki itu sambil mengangkat kotak berwarna merah muda cerah pada Baekhyun. Itu kotak hadiah yang berisi surat-surat cinta dari Chanyeol.

"Umm, yang itu taruh di meja saja, aku akan menaruhnya di koperku", jawabnya sambil tersenyum. Tiba-tiba ia merasa sedih merasuki dirinya karena Park Chanyeol belum juga menghubunginya.

Sudah 2 minggu ini ia tak bicara dengannya...

Wanita 24 tahun itu sudah mengirimi kekasihnya pesan, menanyakan keadaannya dan apa yang sedang ia lakukan, namun sama sekali tak ada balasan dari lelaki itu. Kadang jika Baekhyun sedang sendirian, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri, apakah menjalin hubungan dengan Park Chanyeol adalah keputusan yang tepat? Apa menjalin hubungan dengan lelaki itu adalah hal yang ia inginkan? Lelaki itu bukannya tidak sering meninggalkannya tanpa kabar, membuat dirinya khawatir juga walaupun seharusnya ia tak perlu seperti itu. Apakah seperti ini rasanya berpacaran, begitulah yang selalu ada dipikiran Baekhyun. Jika ia menilik teman-temannya yang berpacaran, nampaknya tidak seperti ini. Jika sudah berpikiran seperti itu, Baekhyun hanya bisa menghela nafas, kemudian menggelengkan kepalanya, ia yakin kalau hubungannya dengan Chanyeol memang sedikit berbeda. Hubungan jarak jauh dengan intensitas berkomunikasi yang tidak terlalu sering. Ya itulah mereka, mau tak mau ia harus menerima kehidupan percintaannya yang pertama berjalan seperti saat ini.

Malam harinya ketika semua teman-temannya sudah pulang, Baekhyun mengambil kotak hadiah dari Chanyeol yang Robert taruh diatas meja makan. Ia memandanginya kemudian membawa kotak itu kedalam kamar untuk ia taruh didalam koper. Lalu ia tertidur sambil memegang handphone, memperlihatkan percakapannya dengan Chanyeol yang dulu-dulu.

.

.

.

Chanyeol baru saja tiba di markas tempatnya tinggal dini hari setelah dua minggu lebih ia pergi ke perbatasan untuk melaksanakan tugasnya. Menjadi seorang lelaki single, pekerjaan seperti itu tak bisa dihindarkan, atasannya selalu saja beralasan, 'kau kan masih sendiri, tak ada yang menunggumu dirumah', ia hanya bisa menurut walaupun dalam dirinya ingin menolak. Kalau bukan karena Baekhyun yang akan merayakan wisuda, Chanyeol mungkin akan baik-baik saja, tapi tugas itu datang bertepatan dengan hari penting kekasihnya. Sebelumnya Chanyeol sudah berencana untuk pergi ke Manchester untuk menemui Baekhyun dan memberikan selamat secara langsung, kemudian membawanya kembali ke Korea bersama.

Hal yang menambah buruk suasana adalah keterbatasan signal ditempatnya bekerja, ia tak bisa menghubungi kekasihnya, ia yakin wanita itu akan marah ketika ia menghubunginya lagi.

Bicara soal signal, ia kemudian mengambil handphonenya kemudian menyalakannya.

Hal pertama yang muncul adalah senyum Baekhyun, penghias wallpaper handphonenya sekaligus pelepas lelah.

Lelaki itu tersenyum, kemudian membuka kotak pesan, isinya adalah sang kakak, ibunya dan satu yang spesial adalah dari Baekhyun.

Apa kau baik-baik saja?

Balas aku, aku khawatir.

Aku ingin bicara denganmu, aku kesepian...

Kau dimana? Apa pekerjaanmu sudah selesai? Maafkan aku kalau aku mengganggumu.

Aku merindukanmu. Hubungi aku ketika kau sudah bisa

Chanyeol tersenyum membaca itu semua, namun dalam hati ia sedikit merasa bersalah pada Baekhyun yang jelas-jelas selalu mengkhawatirkannya. Ia kemudian melirik jam dinding, pukul 1.30 berarti di Manchester sudah pukul 9.30, ia pun kemudian menghubungi Baekhyun.

Wanita itu tidak mengangkat teleponnya. Chanyeol kembali mencoba menghubunginya namun nihil, Baekhyun tak menjawabnya.

Kalau begitu, besok ia memutuskan untuk pergi kerumah Kyuhyun untuk menanyakan perihal adiknya yang sulit dihubungi.

.

Chanyeol harus bersyukur dengan tidur selama 4 jam yang ia dapat, ia sama sekali tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan Baekhyun. Ia pun kemudian mengecek jam di handphonenya jam 12 siang, kemudian ia melihat notification sebuah pesan dari Baekhyun.

Aku sudah sampai di Korea.

Dengan itu Chanyeol langsung bangun dan turun dari tempat tidurnya, dengan cepat ia mengambil handuk dan mandi. Sedikit merutuki dirinya karena ia tidak tahu kalau kekasihnya sudah pulang, ia pasti lupa.

Dengan memakai seragamnya – tentu saja, ia harus bertemu dengan Byun Jongkook, yang benar saja – kemudian ia segera berangkat kekediaman kekasihnya, tentu setelah memberikan instruksi ini dan itu pada bawahannya.

Ia memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah keluarga Byun yang luas. Lelaki itu disambut oleh pelayan rumah tersebut, kemudian bertemu dengan Kyuhyun yang baru saja turun dari lantai dua.

"Park! Kapan kau sampai disini?" tanyanya terkejut kemudian menghampiri temannya. Kedua laki-laki berseragam itu melempar senyum yang hanya mereka tahu artinya. "Adikku sedang tidur, ia kelelahan katanya", lanjut Kyuhyun tanpa ditanya.

Chanyeol mengangguk, "Aku merasa bersalah padanya, karena sudah menghilang selama hampir 3 minggu", ujar Chanyeol tiba-tiba mencurahkan isi hatinya pada Kyuhyun yang hanya tertawa pelan.

"Yeah, adikku memang khawatir, tapi aku yakin ia mengerti." Jawab Kyuhyun mencoba menenangkan temannya. Ia kemudian melihat jam tangan, "Sudah saatnya makan siang, sebentar lagi ayahku akan sampai dirumah, bagaimana kalau kau bergabung saja, siapa tahu Baekhyun akan bangun saat makan siang," ajak Kyuhyun.

Chanyeol tiba-tiba menjadi kaku karena Kyuhyun bilang kalau ayahnya akan makan siang dirumah. Hubungannya dengan Byun Jongkook belum begitu jelas, apakah berjalan dengan baik atau tidak, namun lelaki itu tidak perlu takut bukan?

Jika ingin menikahi anak gadisnya, dekati dulu ayahnya.

Kemudian Chanyeol mengangguk dan mengikuti Kyuhyun menuju ruang makan. Mereka berbincang-bincang, kadang Chanyeol menggoda temannya yang saat ini sedang mendekati seorang wanita yang lebih tua darinya.

"Ngomong-ngomong darimana kau tahu kalau adikku sudah pulang?", tanya Kyuhyun.

"Ia mengirimiku pesan," jawab Chanyeol.

Kyuhyun kemudian membuang nafas kasar, "Dasar, aku yakin saat ia turun dari pesawat hal yang pertama ia lakukan adalah mengabarimu, kau apakan adikku sampai bisa seperti itu?"

Chanyeol hanya tersenyum, kalau apa yang dikatakan oleh Kyuhyun itu benar, maka Chanyeol akan sangat senang, karena artinya Baekhyun selalu ingat dengannya.

Bersamaan dengan itu Byun Jongkook memasuki ruang makan, disebelahnya adalah Baekhyun yang menggelayut di lengan sang ayah, sangat amat manja dengan piyamanya yang berwarna kuning bergambar bebek-bebek kecil, serta rambut yang diikat seadanya.

"Ayah, aku mengantuk tapi aku lapar," katanya manja.

"Kalau begitu kau makan dulu, lalu kau bisa tidur lagi", jawab ayahnya sabar.

Chanyeol kemudian berdiri dan memberi hormat ketika ia bertemu pandang dengan sang jendral. "Selamat siang." ujarnya sopan.

Byun Jongkook hanya mengangguk sekilas, kemudian menoleh kearah anak perempuannya yang bersembunyi dibalik punggung sang ayah. Ia pun kemudian tertawa, "Baekhyun-ah, lihat siapa yang datang, kau tidak ingin menyapanya?" goda Byun Jongkook sambil berjalan menuju meja makan.

Baekhyun hanya mengikuti ayahnya, sambil menundukkan kepalanya karena ia malu sekali sudah bermanja-manja didepan Park Chanyeol. Baekhyun kemudian duduk disebelah oppanya yang tiada henti terkekeh melihat kejadian itu. Sang adik tak segan-segan memukul lengan oppanya.

"Park Chanyeol, sejak kapan kau sampai disini?" tanya Byun Jongkook yang sudah duduk ditempatnya.

"Siap, 20 menit yang lalu", jawabnya.

Baekhyun memperhatikan keduanya, kekasihnya terlihat kaku sekali saat berbicara pada ayahnya, dan ayahnya juga tak kalah kaku, ia memasang wajah angkuhnya ketika bicara dengan Chanyeol.

"Kalau begitu ayo kita makan, kasihan Baekhyun kelaparan", ujar Kyuhyun.

Saat makan, Byun Jongkook mengajak Chanyeol berbincang sedikit-sedikit kekakuan diantara mereka mulai mencair seiring perbincangan yang mereka lakukan, sedangkan Baekhyun tak ada habisnya mencuri-curi pandang pada kekasihnya yang baru pertama kalinya ia lihat mengenakan seragam. Hal itu tertangkap penglihatan Kyuhyun yang hanya bisa menyeringai, adiknya tentu saja akan begitu.

Setelah selesai makan, Baekhyun menyibukkan diri untuk mengupas apel, sedangkan ayahnya sudah bersiap untuk kembali ke kantornya. Chanyeol buru-buru berdiri, membuat Byun Jongkook menatapnya.

"Izin! Apakah saya boleh mengajak Baekhyun keluar hari Sabtu ini?" ujar Chanyeol.

Baekhyun membelalakkan matanya, kemudian menaruh pisau yang ia pegang. Kyuhyun juga tak kalah terkejut namun tetap melanjutkan memakan apel yang adiknya kupas. Menyaksikan pertunjukan menarik antara temannya dan sang ayah.

Byun Jongkook menaikan alisnya, "Mau kau ajak kemana Baekhyun?" tanya Byun Jongkook, "Lebih spesifik."

"Makan malam di Myeongdong, karena ia bilang ingin makan malam di Myeongdong ketika ia sudah sampai di Korea." Jelas Chanyeol.

Baekhyun kemudian tersenyum, ia dan Chanyeol bahkan belum sempat berbicara satu sama lain, namun lihatlah kekasihnya itu. Benar-benar membuatnya gila.

"Kalau begitu, malam ini saja, hari Sabtu aku ingin Baekhyun ada dirumah karena kupastikan tempat makan disana akan ramai, kau boleh kesini jika kau mau."

"Siap!"

Dan dengan itu Byun Jongkook pun pergi, ketika Baekhyun baru saja akan protes.

"Ish, ayah ada-ada saja, mana ada orang berkencan dihari kamis begini!", ujar Baekhyun sambil marah-marah.

Kyuhyun tertawa, kemudian berdiri, bersiap untuk kembali bekerja juga. "Chanyeol, beri aku tumpangan, aku akan ke tempatmu. Tunggu sebentar aku harus ke kamar mandi."

Chanyeol mengangguk.

Baekhyun yang sedang kesal malah semakin kesal. Ia menghela nafas kasar, "Apa kau tidak ingin menyapa kekasihmu ini?" katanya sinis, kesal karena Chanyeol hanya berdiri memandanginya yang masih duduk.

Chanyeol tersenyum kemudian menghampiri Baekhyun dan berlutut didepan wanita yang sedang kesal tersebut.

"Maaf, aku tidak bisa menghubungimu hampir tiga minggu ini."

Baekhyun masih tetap diam, dalam hati bersorak karena Chanyeol sadar dan merasa bersalah.

"Lalu?" tanya Baekhyun kali ini masih galak.

Sang kapten mengerutkan keningnya, "Lalu?" tanyanya balik.

Baekhyun semakin cemberut, laki-laki dihadapannya ini memang benar-benar butuh banyak bantuan. "Aduh, oppa! Kalau wanita sedang kesal begini, hibur lah, peluk atau apa, jangan diam saja begitu", jelas sang wanita dengan nada seperti seorang ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya yang ketahuan kabur dari sekolah.

Chanyeol kemudian meraih tangan Baekhyun untuk berdiri, kemudian membawa wanita itu kedalam pelukannya. Hampir satu tahun bersama akhirnya Baekhyun pulang juga, dan pelukan Chanyeol kian erat ketika ia merasakan kalau wanitanya itu tersenyum.

"I miss you", bisik Baekhyun.

"Me too, akhirnya kau pulang juga", jawab Chanyeol.

Baekhyun pun mengeratkan pelukannya pada Chanyeol, benar-benar senang melihat lelaki itu sehat dan saat ini memeluknya.

"Nanti malam jemput aku, jangan terlambat! Kau harus membawaku pergi secepatnya sebelum aku mati bosan", pinta Baekhyun.

Chanyeol mengendurkan pelukan mereka kemudian menatap Baekhyun, "Kau baru sampai disini, dan kau sudah bosan?"

"Eung, Kyuhyun dan ayah tidak dirumah, aku pun tidak ada pekerjaan, jadi pastinya aku akan bosan sekali", jelas Baekhyun.

"Baiklah. Kau juga harus mandi ya. Lihat dirimu, piyama bebek dan sandal kelinci, menarik sekali bukan?", goda Chanyeol.

Menyadari perkataan Chanyeol, wanita itu pun langsung melepaskan pelukannya. Pipinya bersemu merah, antara malu dan marah. "OPPA!" kemudian ia pun berlari ke kamarnya yang ada dilantai dua, meninggalkan Chanyeol yang tertawa karena tingkah kekasihnya.

.

.

.

Chanyeol buru-buru pulang kerumah ketika rapat selesai, sudah jam 6 dan ia harus sudah menjemput Baekhyun dirumahnya pukul 7.

Dengan jeans, kaos putih polos dibalut dengan jaket kulit yang tak ia tutup, Chanyeol pun berangkat ke kediaman Baekhyun. Sadar kalau ia tak membawa apa-apa, ia pun mampir untuk membeli buket bunga ditempat biasa ia membeli bunga untuk ibunya.

Sesampainya dirumah Baekhyun, Chanyeol disambut oleh kekasihnya yang sedang ada diruang tengah, sibuk menata kue-kue yang kelihatannya baru jadi di dalam toples bening.

"Oppa!", sapa Baekhyun semangat kemudian menghampiri kekasihnya yang mengulurkan buket bunga pada Baekhyun. "Untukku?" tanya Baekhyun sok polos.

Chanyeol mengangguk, "Yes, sebagai permintaan maaf karena sudah menggodamu tadi siang."

Baekhyun terkekeh, "Uhhh, terimakasih!", katanya sambil memeluk buket bunga itu. "Kita berangkat sekarang? Atau kau ingin minum dulu?" tawar Baekhyun.

"Tidak perlu, kalau kau sudah siap, ayo berangkat", ajak Chanyeol. "Oh, ya, ayahmu ada dirumah?" lanjut Chanyeol.

Baekhyun menggeleng, sambil menaruh buket bunga pemberian Chanyeol dan mengambil tasnya yang tergeletak di sofa. "Ayah sedang keluar, katanya ia harus menghadiri jamuan makan malam", jelas Baekhyun.

Chanyeol baru saja akan membuka mulut untuk menanyakan Kyuhyun, namun dengan cepat Baekhyun memotongnya, "Kakakku juga ikut."

.

Chanyeol mengendarai mobil dengan hati-hati mengingat ia sedang membawa seorang wanita yang ia sayangi dan juga anak perempuan satu-satunya dari orang yang ia hormati, belum juga wanita disebelahnya ini adalah adik dari sahabat dekatnya.

Baekhyun terlihat sangat cantik – memang kapan ia tidak cantik, Park – prajurit itu susah payah untuk tetap konsentrasi pada jalanan. Wangi parfum mint Chanyeol dan strawberry dari Baekhyun memenuhi mobil kesayangan Chanyeol. Wanita itu memakai rok bermotif bunga-bunga biru sedikit diatas lutut, juga atasan turtle neck warna putih, kakinya dibalut dengan sepatu high heels warna senada, tidak terlalu tinggi, semua yang dipakai Baekhyun malam itu sama sekali tak berlebihan, semua terasa pas.

Chanyeol mengajak Baekhyun untuk makan ditempat yang wanita itu sukai. Lampu restoran yang redup tak bisa menutupi binar diwajah Baekhyun yang selalu memesona Chanyeol.

"Oppa mau pesan apa?" tanya Baekhyun.

"Pilihkan untukku, Baek", pinta Chanyeol.

Baekhyun mengangguk-anggukkan kepalanya, bibirnya mengerucut dan ekspresi wajahnya amat serius membaca buku menu. Mata birunya bergerak-gerak seiring rentetan kata yang ia baca.

"Apa menu paling sehat di restoran ini?" tanya Baekhyun pada pelayan yang menunggu mereka.

Sang pelayan memberikan rekomendasinya, "Kalau begitu aku pesan itu", katanya.

Pelayan pun pergi setelah menulis makanan yang dipesan oleh Baekhyun, dan wanita itu tampak puas.

"Kau harus makan makanan yang sehat, oppa. Aku tahu kau pasti tidak memperhatikan makananmu", ujar Baekhyun sambil tersenyum.

Chanyeol terkekeh, "Begitulah, prinsipku adalah yang penting aku kenyang."

Baekhyun menggelengkan kepalanya tidak senang, "Mulai sekarang aku akan memperhatikan makanmu."

Chanyeol hanya bisa mengangkat bahunya, "Oke, aku akan menurut kalau begitu."

Wanita bahagia yang duduk dihadapannya kemudian menatapnya, seakan ia ingin meminta sesuatu darinya.

"Apa? Jangan menatapku seperti itu, Baek", ujar Chanyeol jadi salah tingkah.

Baekhyun terkekeh, "Oppa..."

"Hm..."

"Thank you so much", bisik Baekhyun.

"Untuk?"

"Untuk segalanya, kau begitu baik."

Chanyeol tersenyum, "Mungkin karena aku lah satu-satunya laki-laki yang pernah kau kencani"

Baekhyun menggeleng, "Kalau kekasih pertamaku adalah kau, aku tidak butuh yang lain."

.

Setelah makan malam dan berjalan-jalan, Baekhyun merengek minta diajak ke sungai Han. Baekhyun tiada hentinya memberi serangan-serangan mematikan berupa senyum manis pada Chanyeol yang pada akhirnya mengantarkan prajurit itu untuk mengikuti segala hal yang Baekhyun mau.

Salah satunya adalah makan ddeokbokki.

"Ahjussi, tolong beri bonus untukku ya", ujar Baekhyun dengan mata berbinar, tangannya bertaut satu sama lain, seperti seorang anak kecil yang sedang menantikan mainannya. Baru Chanyeol akan mengeluarkan uang dari dompet, Baekhyun kemudian menepis tangannya dan membayar makanan yang ia beli menggunakan uangnya.

Mereka akhirnya duduk-duduk di tepi sungai, dengan Chanyeol yang kewalahan karena ddeokbokki yang Baekhyun beli sangat pedas. Pria itu tidak tahan pedas.

"Oppa, minum, minum", tawar Baekhyun sambil memberikan sebotol air mineral pada Chanyeol.

"Kau sangat lucu, lihatlah wajahmu merah sekali", goda Baekhyun sambil tertawa kecil.

Chanyeol kemudian mengelap keringat di pelipisnya, "Kau menertawakanku. Tega sekali kau, Baekhyun."

Setelah puas makan, mencocokan lidahnya dengan makanan Korea lagi, Baekhyun masih belum mau diajak pulang, bukan berarti Chanyeol tidak senang akan hal itu, justru sebaliknya, ia malah bersyukur Baekhyun betah pergi berlama-lama dengannya. Keduanya masih berada di tepi sungai Han, berdua didalam mobil Chanyeol yang hangat. Wanita blasteran itu menyandarkan tubuhnya di jok mobil, kekenyangan. Sama halnya dengan Chanyeol, yang sengaja menyalakan radio yang entah mengapa menyiarkan lagu-lagu slow yang membuatnya mengantuk.

"I love you, Baekhyun." Bisik Chanyeol sambil meraih tangan Baekhyun.

"Me too."

Mereka pun bertukar senyum, kemudian kembali menikmati malam yang tenang dengan Chanyeol yang masih menggenggam tangan Baekhyun, sesekali mengecupnya.

.

27, November Seoul

Hari itu cuaca cukup dingin, namun Baekhyun yang sekarang sudah mempunyai pekerjaan di RS tak jauh dari rumahnya tak patah semangat, bagaimana tidak? Hari ini adalah hari ulang tahun Chanyeol, kekasihnya yang selalu sibuk! Baekhyun berencana untuk membuatkan makan malam untuk kekasihnya yang sudah janji akan datang kerumahnya malam ini. Dokter Jo selaku dokter yang bekerja sama dengannya sudah memberi izin pada Baekhyun untuk pulang duluan karena memang tak ada pasien yang butuh di periksa kondisi kejiwaannya.

Maka di sore hari ia memutuskan untuk belanja ke supermarket, membeli bahan makanan yang akan ia masak.

Baekhyun adalah wanita yang peduli akan gizi, tak heran jika sekarang ia menjadi orang yang mengatur makanan yang ada dirumahnya. Semenjak Baekhyun kembali ke Korea, kulkas dirumahnya selalu dipenuhi makanan sehat. Keranjang buah yang biasanya hanya berisi buah seadanya, kini selalu berganti-ganti. Wanita itu akan marah jika ayah dan kakaknya tidak makan buah yang sudah ia beli. Ia juga mengganti gula yang ada di dapur dengan yang lebih sehat, susu, dan sari buah. Tak ada minuman keras seperti soju atau bir dirumahnya, dan itu sukses membuat Kyuhyun sedikit kesal pada adiknya.

Ditengah kesibukannya memilih-milih daging, seseorang menepuk pundak Baekhyun, membuyarkan konsentrasi sang psikolog.

"Baekhyun! Ternyata benar itu kau", sapa orang itu.

Baekhyun kemudian tersenyum lebar, dan menaruh keranjang belanjanya yang sudah setengah penuh. "Bora eonni!", ujarnya riang, kemudian memeluk wanita yang belakangan ini jadi kekasih kakaknya.

"Kenapa kau ada disini sendirian, kemana Chanyeol?", tanya Bora.

Baekhyun kemudian tersenyum, "Hari ini adalah hari ulangtahunnya, aku sedang berbelanja bahan untuk makan malam. Eonni bergabunglah!"

Bora kemudian cemberut, "Maafkan aku Baekhyun, tapi kakakmu mengajakku pergi keluar malam ini", jelasnya.

"Aish, kakakku pasti merepotkanmu terus ya? Bilang saja padaku kalau ia merepotkanmu, aku akan mengadu pada ayah."

Bora kemudian tertawa, "Tidak, kok! Ia bilang nanti malam ia harus bertemu temannya yang datang dari China. Entah siapa, ia tidak bilang padaku, mungkin Chanyeol kenal dengannya."

Baekhyun mengerjapkan matanya, "Benarkah? Aku akan coba bertanya padanya nanti."

Dengan begitu mereka pun berpisah, tentunya setelah sedikit bergosip tentang kekasih masing-masing.

.

Sampai dirumah, Baekhyun langsung menyibukkan diri di dapur. Bibi Kang juga ada di dapur sedikit-sedikit membantu Baekhyun.

"Wah, lihatlah, nona Baekhyun sudah jago memasak sekarang", puji Bibi Kang.

"Eiy, mana mungkin aku bisa menyaingi Bibi, itu tidak akan pernah terjadi", jawab Baekhyun sambil memotong cumi-cumi. "Oh ya, Bi, aku ingin kau memastikan masakanku tidak asin, OK?"

Baekhyun teringat saat Chanyeol sedang berkunjung ke Manchester dan ia memberikannya sup asin, sungguh sampai saat ini Baekhyun masih sangat malu jika terus mengingatnya.

"Siap, Tuan Putri."

.

Sudah pukul setengah delapan, Chanyeol belum juga datang. Baekhyun jadi cemas, tidak biasanya kekasihnya itu terlambat. Baekhyun sudah menghubungi pria itu namun handphonenya sedang tidak aktif.

Bibi Kang memperhatikan Baekhyun dari kejauhan, wanita itu cemberut sambil melihat makanan diatas meja yang sudah dingin. Ia memegang handphone ditangannya seolah takut kalau Chanyeol akan menghubunginya.

Baekhyun masih duduk di tempat yang sama sampai pukul sepuluh malam, dan itu membuat bibi Kang jadi khawatir.

"Nona, mungkin Tuan Chanyeol ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan." Ujar bibi Kang penuh pengertian.

Baekhyun kemudian tersenyum, namun senyum itu malah membuat bibi Kang jadi sedih. "Kalau begitu, bibi temani aku makan, aku belum makan."

Mereka pun akhirnya makan malam berdua, dalam kesunyian itu beberapa kali Baekhyun berusaha menahan tangisnya. Setelah selesai makan, tanpa berkata apa-apa ia kembali ke kamarnya.

.

Hampir tengah malam Chanyeol baru pulang dari markas besar. Kepalanya pusing karena banyak terjadi perdebatan disana yang membuahkan hasil bahwa ia harus pindah tugas ke pulau Jeju. Mungkin menurut orang itu akan menyenangkan, bertugas di pulau yang indah berarti setiap hari ia bisa berlibur. Namun tidak bagi Chanyeol karena itu berarti ia harus pergi jauh dari Baekhyun. Lagi.

Yang benar saja, ketika ia tinggal di Seoul saja dia sulit bertemu dengan Baekhyun bagaimana ketika ia tinggal di Jeju? Ditambah lagi wanita itu sekarang sudah bekerja, mereka sama-sama sibuk.

Ia juga tidak lupa kalau malam ini ia punya janji untuk bertemu dengan Baekhyun. Chanyeol yakin kalau Baekhyun pasti akan marah sekali padanya karena tidak bisa menepati janji. Selama ini ia belum pernah merasakan kemarahan Baekhyun.

Pria itu kemudian menghela nafas. Setidaknya ia harus pergi ke rumah Baekhyun.

Sesampainya di depan rumah Baekhyun, ia ragu apakah ia harus masuk atau tidak. Namun pada akhirnya ia menghubungi Kyuhyun yang kebetulan belum tidur.

Chanyeol memarkirkan motornya sembarangan di pekarangan rumah keluarga Byun. Membuka helmnya disambut oleh Kyuhyun yang sepertinya juga baru pulang dari suatu acara.

"Lihat wajahmu, berantakan sekali. Kau dari mana?" tanya Kyuhyun.

"Dari markas setan." Jawab Chanyeol sekenanya.

Kyuhyun terkekeh. "Tugas apalagi kali ini, ceritakan padaku, tapi kau harus masuk dulu."

Sesampainya didalam, Chanyeol menceritakan semuanya pada Kyuhyun tentang bagaimana perdebatan yang terjadi di markas soal penempatan tugas. Kemudian ia juga tidak lupa cerita tentang janjinya pada Baekhyun, dan dengan sengaja Kyuhyun mengajak Chanyeol keruang makan dan melihat makanan yang sengaja adiknya itu sudah siapkan.

Chanyeol meringis. Baekhyun benar-benar niat memberikan kado spesial untuknya tapi ia bahkan tak bisa memberi tahu wanita itu kalau ia tidak bisa datang.

"Kalau begini aku makin tidak tega meninggalkan Baekhyun lagi", gumam Chanyeol.

Kyuhyun mengangguk, lalu mengambilkan sekaleng minuman sari buah untuk Chanyeol. Pria itu sungguh ingin memberi temannya sekaleng bir, namun jangan harap itu akan ada di kulkas, terimakasih pada Baekhyun.

Chanyeol menerima kaleng minuman itu, kemudian menatap temannya seakan berkata 'yang benar saja?' namun Kyuhyun hanya mengedikkan bahunya.

"Adikku tidak suka jika ada minuman beralkohol dirumah, mohon mengerti", jelas Kyuhyun.

Chanyeol pun meminum sari buah mangga itu, seperti ia minum alkohol. Kyuhyun ingin tertawa sebenarnya melihat Chanyeol, namun mengingat kondisi temannya yang sedang kacau, ia harus menahannya.

"Sebenarnya aku juga kasihan melihat adikku, kau tinggalkan terus sampai-sampai aku terkadang lupa kalau kau adalah kekasihnya." Kyuhyun akhirnya menyampaikan pendapatnya.

"Lalu aku harus bagaimana?"

Kyuhyun diam sejenak, ragu dengan apa yang akan ia katakan, tetapi Chanyeol nampak menunggu jawaban darinya, "Sebenarnya ada dua pilihan. Pertama kau putus dengan adikku, lalu membiarkan dia mencari lelaki lain yang tidak sesibuk kau," jelas Kyuhyun.

Chanyeol mengernyit, membayangkan putus dari Baekhyun benar-benar bagai cerita horror, tapi ia bisa mengerti perkataan Kyuhyun itu, tentu temannya ingin adiknya bahagia, Chanyeol sendiri pun merasa tidak tega. "Lalu yang kedua?" tanya Chanyeol.

"Tentu saja nikahi adikku secepatnya, dengan begitu kau bisa membawanya ke Jeju."

.

TBC

.

.

Pertama, terimakasih teman-teman yang sudah baca dan review dengan kata-kata sopan dan gemesin hehe, aku seneng bacanya, apalagi kalau didalem reviewnya tuh ada kata kata yang bikin semangat. THANK YOU! P.S : Kalau mau ngobrol boleh lewat PM. Maafin yaa updatenya lama, abis bener-bener jarang buka laptop kalo lagi liburan.

Yang kedua, jadi udah bisa nebak apa yang beda dari cara nulis aku? YEAY! Akhirnya aku pakai 'Oppa' dan sapaan lainnya! *clapclapclap* semoga suka ya. Aku juga di chapter ini mau nyampein bagaimana seorang Baekhyun yang punya konflik sendiri, alias dia ngebatin gitu pacaran sama tentara sibuk. Yha, aku sedikit tau sih soal kehidupan tentara soalnya ayah sama om aku itu tentara hehe, demikian juga sepupu aku yang sebentar lagi mau jadi tentara. Hidup aku dikelilingi sama mereka.

Ketiga, sebentar lagi mau lebaran nih, pokoknya diriku ingin meminta maaf sebesar-besarnya kalau ada salah yaaa *bow*