Previous Chapter: Kyuhyun meminta izin untuk tinggal bersama Sungmin. Sungmin kaget bukan main, mana mungkin dia membiarkan seorang buron untuk tinggal bersamanya.


"MWO?!" Setengah berteriak Sungmin mengutarakan kekagetannya.

"Ma... Maksudku biarkan aku meminjam kamar mandimu," Kyuhyun meralat ucapannya.

"Kamar mandiku?" Sungmin mengulangnya.

Kyuhyun mengangguk. "Ne, biarkan aku tinggal di kamar mandimu untuk sementara waktu. Aku janji tidak akan mengganggumu atau menyakitimu."

Sungmin menggeleng keras. "Andwae, andwae."

"Semua orang mencariku karena mereka mengaggapku sebagai pembunuh. Asal kau tahu, aku sama sekali tidak membunuh direktur itu. Percayalah padaku. Kau satu-satunya harapanku saat ini," ujar Kyuhyun memelas.

Jujur saja, Sungmin tidak ingin mempercayai kata-kata namja yang sekarang sedang berlutut di hadapannya. Tapi hati kecil Sungmin berkata lain. Hati kecilnya menerima sinyal dari matanya yang sedang menatap Kyuhyun. Ya, mata Sungmin melihat Kyuhyun yang tampak rapuh dan putus asa. Sungmin tidak melihat Kyuhyun yang ada di hadapannya sebagai pembunuh. Nalurinya berkata bahwa ia harus menolong orang itu.

"Ta… tapi," Sungmin yang awalnya jelas-jelas menolak mulai ragu. Kebimbangan bergejolak di hati dan pikirannya.

"Izinkan aku menempati kamar mandimu. Aku berjanji, aku tidak akan mengganggu atau menyakitimu. Aku hanya butuh tempat untuk tinggal dan… bersembunyi." Kyuhyun menunduk saat mengucapkan kata terakhirnya.

"Kalau kau tidak bersalah kenapa kau bersembunyi?"

Kyuhyun seperti tertampar mendengar pertanyaan Sungmin. "Aku tidak tahu kenapa aku terus berlari dan bersembunyi. Hanya saja aku tidak bisa memunculkan diriku untuk saat ini," Kyuhyun mencoba menjelaskan meskipun ia sendiri terlihat bingung saat menyusun kata-katanya.

"Sampai kapan?" tanya Sungmin.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Entahlah. Kurasa sampai keadaan di luar sana mulai tenang," Kyuhyun sendiri ragu dengan jawabannya. "Jadi, bagaimana Agasshi Lee Sungmin?" tanya Kyuhyun masih memohon.

"Kau akan tinggal di mana? Bagaimana kalau orang rumahku tahu?"

"Aku akan menempati kamar mandimu," Kyuhyun terlihat berpikir. "Kau boleh mengunciku dari luar kamar mandi. Dan aku akan keluar saat kau ingin menggunakan kamar mandimu. Aku tidak akan membuat kegaduhan. Aku hanya akan menggunakan kamar mandimu saat kau sedang ada di kamar. Jadi orang lain akan mengira kau yang menggunakan kamar mandi. Bagaimana, Agasshi Lee Sungmin?"

Sungmin terdiam beberapa saat dan menatap Kyuhyun yang penuh rasa memelas sekaligus memohon. Ia tahu dirinya tidak akan tega melihat orang yang begitu memerlukan pertolongan darinya. "Ba… baiklah," ujar Sungmin akhirnya.

Kyuhyun terlihat girang bukan main. Lesung pipitnya terlihat lagi. Karena terlalu senang Kyuhyun refleks menggenggam kedua tangan Sungmin yang berada di pangkuan Sungmin. Sungmin yang kaget dengan gerakan cepat menarik tangannya.

"Mi… mian," Kyuhyun menyadari ketidaksopanannya. "Kamsahamnida, kamsahamnida, Agasshi Lee Sungmin. Kamsahamnida," kata Kyuhyun sambil menundukkan kepalanya berkali-kali.

"Sudahlah, jangan seperti itu," ujar Sungmin risih. "Satu lagi, kau tidak perlu memanggilku seformal itu. Kau cukup memanggilku Sungmin," lanjut Sungmin.

"Ne, Sungmin," sahut Kyuhyun masih memamerkan lesung pipitnya. Ia bangkit dan menuju kamar mandi di sudut kamar Lee Sungmin.

Kyuhyun melepas kunci yang terdapat pada lubang kunci bagian dalam dan memasang kuncinya di bagian luar. "Sekarang kau bisa mengunciku dari luar."

Kemudian Kyuhyun masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dari dalam. Menunggu untuk Sungmin menguncinya dari luar kamar mandi.

Lima detik kemudian pintu kamar mandi itu terbuka. Kepala Kyuhyun terlihat melongok. "Kau tidak mengunci pintunya?" tanya Kyuhyun heran karena ia masih melihat Sungmin yang masih belum berubah posisinya. Terduduk di kasurnya.

Kyuhyun tidak tahu apa yang ada di pikiran Sungmin. Sungmin masih tidak percaya ia sedang menyembunyikan seorang buron di kamar mandinya. Sungmin mengalihkan pandangannya ke arah kamar mandinya. Dilihatnya wajah Kyuhyun yang heran karena menunggu respon Sungmin. Sungmin akhirnya berjalan mendekati pintu kamar mandi, mendorong kepala Kyuhyun sampai masuk ke dalam dan saat hendak menutup pintunya, Kyuhyun menahan pintu itu dengan tangannya. Pintu itu terbuka lagi dan kepala Kyuhyun muncul.

"Sungmin, bi... Bisakah kau memberiku..." Kyuhyun tergagap, ia sedikit menunduk. "... pisang?"

"Mwo? Pisang?"

Kyuhyun mengangguk pelan. "Aku melihat ada buah pisang di meja makanmu. Kau tahu, aku hampir dua hari ini tidak makan apapun. Jadi..."

Kruyuk kruyuk.

Ada suara-suara aneh yang berasal dari perut Kyuhyun. Kyuhyun nyengir sebagai ganti kata maafnya. Wajah Kyuhyun terlihat lucu seperti anak kecil yang ketahuan mengompol oleh orang tuanya. Sungmin menahan senyumnya.

'Penjahat apa yang seperti anak kecil begitu?' Sungmin geli sendiri.

Sungmin mendorong kepala Kyuhyun dan menutup pintu dan tidak lupa menguncinya. Baru saja pintu terkunci, terdengar dua ketukan dari dalam.

"Apalagi?" tanya Sungmin tanpa membuka pintu.

"Gomawo," sahut Kyuhyun dari dalam.

Sungmin menggelengkan kepala sambil menahan senyumnya.

'Apa benar dia buron?'


Sungmin memasukkan kunci kamarnya ke dalam saku celananya. Setelah mengunci pintu kamar mandinya, Sungmin mengganti rok sekolahnya dengan celana sedengkul yang lebih santai. Setelah itu Sungmin keluar dan mengunci pintu kamarnya. Untuk berjaga-jaga siapa tahu ada seseorang yang masuk ke kamarnya. Akan lebih aman kalau Sungmin mengunci kamarnya.

Lalu Sungmin turun ke lantai satu dan menuju ruang makan. Benar saja ada tiga buah pisang di meja makan. Sungmin mengambilnya. Kemudian Sungmin melirik ke dapur, rupanya Heechul sedang menyiapkan makan malam.

Sebelum kembali ke kamarnya, Sungmin membuka lemari penyimpanan yang berada persis di bawah tangga. Isinya macam-macam. Sabun, sikat gigi, pasta gigi, handuk, dan banyak lainnya yang memang sengaja disediakan untuk stok keperluan rumah. Sungmin mengambil peralatan mandi seperti handuk, sabun, shampo, dan sikat gigi serta pasta gigi.

Setelah memastikan semuanya lengkap, Sungmin menaiki tangga menuju lantai dua. Sungmin melewati sebuah pintu sebelum pintu kamarnya. Kamar orang tuanya.

Sungmin membuka pintu kamar itu. Kosong, seperti lama tidak digunakan. Sungmin tidak menghiraukan kondisi itu, ia melihat lemari pakaian besar yang ada di sudut kamar. Sungmin mendekatinya dan terlihat berpikir.

"Kalau kupinjam beberapa, tidak akan ketahuan bukan?" tanya Sungmin pada dirinya sendiri. Sungmin berdeham, "Silakan ambil semaumu, Minnie," ujar Sungmin dengan suara berat meniru seperti suara appa-nya. Sungmin tersenyum dengan bangga atas ide aneh yang baru saja dilakukannya.

Sungmin mengambil tiga buah baju dan tiga buah celana dari lemari orang tuanya. Tangan Sungmin penuh dan itu merepotkan dirinya sendiri untuk menutup dan membuka pintu, termasuk pintu kamarnya sendiri.

Sungmin meletakkan barang-barang yang dibawanya di atas meja belajarnya. Sungmin juga memakai kembali kacamatanya sebelum membuka pintu kamar mandinya.

Ketika Sungmin membuka pintu kamar mandinya, Sungmin kaget melihat apa yang ada di depan matanya.

Tubuh Kyuhyun terkulai lemah di dalam bath tub kamar mandinya yang tidak terisi air.

Sungmin mendekatinya dengan panik. 'Apa dia mati?'

"Hei, bangun." Sungmin menggoyang-goyang tubuh Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tetap diam dan tidak bergeming.

"Hei, kau..."

Zzz... Zzz...

"… tidur?" Sungmin menghela napas lega karena Kyuhyun ternyata hanya tertidur.

Sungmin menyalakan keran dan menampung air sebisanya dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Kemudian Sungmin berlari kecil mendekati bath tub.

Byur.

Sungmin menyiramkan air yang dibawanya tepat di wajah Kyuhyun. Kyuhyun terbangun dan perlahan matanya terbuka.

"Bangunlah. Sebaiknya kau makan dulu," ujar Sungmin.

Kyuhyun mengusap wajahnya yang sedikit basah. "Kau membawakan aku pisang?"

Sungmin mengangguk dan membawa langkahnya keluar kamar mandi. Kyuhyun mengikutinya.

Sungmin duduk menuju ranjangnya. "Itu. Aku membawakanmu pisang," tunjuk Sungmin ke buah pisang yang ada di meja belajarnya.

Kyuhyun mengambil pisang-pisang itu, "Gomawo," ujar Kyuhyun hendak kembali ke kamar mandi.

"Kau mau ke mana?" tanya Sungmin.

"Tentu saja kembali ke kamar mandimu," jawab Kyuhyun. Tangannya tidak tahan untuk menggaruk kepalanya karena heran dengan pertanyaan Sungmin.

"Ngng... Kau makanlah di sini," ujar Sungmin memberi tahu.

Kyuhyun mendekati Sungmin. Sungmin kaget dan mengambil bantal-bantal yang dijadikannya sebagai tameng.

"Yaa, kau mau apa?"

Kyuhyun berhenti ketika satu langkah lagi mencapai ranjang Sungmin. "Kau bilang aku makan di sini?" Kyuhyun mengulang perkataan Sungmin.

"Maksudku bukan di sini, di ranjangku. Tapi di... sofa itu," kilah Sungmin. "Pasti menjijikan makan di dalam sana. Kau tidak mungkin makan sementara di dekatmu ada closet. Lagipula aku ingin menggunakan kamar mandiku," lanjut Sungmin.

"Ne, Sungmin," Kyuhyun memundurkan langkahnya dan duduk bersila di sofa panjang berwarna hijau di dekat jendela.

Sungmin sendiri segera mengambil pakaian ganti dan handuknya untuk mandi sore sementara Kyuhyun sedang menikmati pisangnya.
...

Usai mandi Sungmin kembali ke kamarnya. Kyuhyun masih duduk di sofa. Sepertinya ia sudah menyelesaikan makannya. Pisang itu sudah tidak ada. Sungmin mengambil pakaian dan perlengkapan mandi yang tadi sudah disiapkannya. Sungmin memberikannya pada Kyuhyun.

"Ini baju appa-ku. Kau boleh memakainya setelah kau mandi. Kurasa kau sudah cukup lama tidak mandi eoh?" kata Sungmin memandangi baju Kyuhyun yang memang terlihat sudah lusuh.

Kyuhyun mengangkat sedikit lengannya. Ia bisa mencium bau keringatnya yang sudah bercampur dengan bau matahari, debu, dan banyak lagi. Sungmin benar, sebaiknya ia segera mandi. Sudah dua hari Kyuhyun tidak mandi, Kyuhyun hanya terus berlari, bersembunyi. Wajar saja tubuhnya sudah mulai mengeluarkan bau yang tidak sedap.

"Ne, aku mandi dulu, Sungmin." Kyuhyun menerima pakaian bersih dan perlengkapan mandi yang diberikan Sungmin. Lalu Kyuhyun menuju kamar mandi Sungmin.

Selama Kyuhyun mandi, Sungmin mengeluarkan beberapa buku dari tasnya. Ada tugas sekolah yang belum diselesaikannya. Sungmin pun mulai mengerjakan tugas sekolahnya. Sedang asyik mengerjakan tugasnya, Sungmin mendengar suara siulan dari arah kamar mandinya. Pasti Cho Kyuhyun yang sedang bersiul.

'Sepertinya sebuah intro lagu,' tebak Sungmin mengira-ngira.

Penasaran Sungmin mendekati kamar mandi dan menempelkan telinganya di pintu. Sungmin merasa pernah mendengarnya, meskipun setelah ia mencoba mengingatnya, Sungmin tetap tidak berhasil menemukan judulnya.


Sungmin mengetuk pintu kamar mandinya tiga kali.

"Wae?" sahut Kyuhyun dari dalam.

"Aku akan ke bawah. Ingat, jangan buat kegaduhan. Arraseo?"

"Arraseo, Sungmin."

Sungmin turun ke lantai satu untuk makan malam. Sepuluh menit yang lalu, Heechul sudah memintanya turun untuk makan malam. Karena Sungmin sudah tidak mendengar suara air dari dalam kamar mandinya, Sungmin berpikir bahwa Kyuhyun sudah selesai mandi.

"Minnie, apa kau tadi yang memakan pisang?" tanya Heechul saat dirinya sedang mempersiapkan makan malam untuk Sungmin dan Shindong. Sungmin memang terbiasa makan bersama asisten rumah tangga dan supirnya jika orang tuanya sedang tidak ada di rumah.

Sungmin memutar bola matanya, lalu menganggukkan kepalanya. "Ne," jawab Sungmin berbohong. Ada perasaan tidak enak sekaligus bersalah karena ia harus berbohong pada orang yang sudah merawatnya seumur hidup.

"Aigoo, kau sudah mulai suka makan buah pisang, eoh? Baiklah, besok akan kubelikan kau buah pisang yang banyak, ne?"

Sungmin menganggukkan kepalanya. Terpaksa.


TBC