0ooo..._Sewu Kutho_...ooo0

Pairing: Sasunaru (Naru as a girl, but if you like U can move her to YAOI)

Rating: T

Genre: romance/hurt

A/N: Sebuah fict Jawa asli. Terinspirasi dari lagu Sewu Kutho-Didi Kempot. Sepeti biasa, Kino pasti selalu buat fict dengan lagu yang menyertai. Dan kali ini, Kino menggunakan lagu Sewu Kutho-Didi kempot. Apabila ada reader tidak mengerti setiap kata dari lagu ini, misalkan reader dari luar pulau Jawa, di bawah lirik ada keterangan yang terkait dengan baitnya yang Kino beri tanda kurung (). Mohon agar lagunya diputar saat sudah ada peringatan di dalam cerita. Setiap lagu akan membantu menyampaikan setiap emosi yang ada.

Summary:

Seribu hari mencarimu.. Seribu hati tlah kutanya akan mu, namun kau tiada menampakkan diri.. haruskah ku menyerah dalam sepi? Fict Jawa asli.

Sosok mata onyx mengusap keringat yang mengucur deras dengan punggung tangannya,

"Sebenarnya dimana kamu, Dobe.."

---------------------------o0o-------------------------

---o0o--------------o0o----------------o0o------------------o0o---------------o0o-----------------o0o-------------o0o----------------o0o----------------o0o----------------o0o---

.

.

""""""""""SONG'S WARNING: EREN-TAKKAN PISAH"""""

Yang lalu..

"Ma-maafkan aku!!"

Ia menggigit bibir bawahnya. Air mata meluncur deras dari dua pelupuk mata.

Sasuke menangkap kedua tangan Naruto. Menciumnya dalam penuh perasaan. Naruto merasakan gelora yang ia rindukan. Telunjuk yang terluka di bekap erat. Darahnya mengalir di telapak tangan Sasuke. Sasuke yang menyadari tangan Naruto terluka, begitu saja menghisapnya tanpa seijin Naruto. Naruto hanya mengeram sakit. Sasuke tersenyum.

"Maafkan aku, Teme.." suara Naruto serak oleh tangis.

Sasuke berhenti mengulum telunjuk Naruto. Memandangi raut imut dan manis yang terpancar jelas di wajah kekasihnya.

"tak apa, Dobe.." Sasuke mengecup lembut bibir Naruto sekilas. "senang rasanya kembali dipanggil Teme olehmu.."

Keduanya tertawa tulus satu sama lain.

Sasuke menarik tubuh Naruto dalam satu dekapan hangat yang lama. Pelukan erat yang berujung ciuman penuh rasa rindu.

.

----------------Chapter 3--------------

.

Naruto mengernyit dalam ciuman. Dengan perlahan ia memisahkan diri dengan Sasuke. Sepelan mungkin agar Sasuke tidak merasa ditolak.

Tubuh mereka terpisah. Sasuke tidak paham dengan Naruto.

"Kenapa, Dobe?"

Naruto mempersiapkan diri.

"Ini seharusnya tidak boleh terjadi.."

Sasuke tersenyum, "Ya.. Kau tak boleh pergi lagi dariku.."

Sasuke bersiap memeluknya kembali. Tetapi lengannya segera di tepis dengan kasar oleh Naruto. Tak bisa dipungkiri ini membuat Sasuke sangat kecewa.

"ada apa, Dobe?" Sasuke mencoba bersabar.

"Aku akan menjadi milik orang lain, Teme.."

Sasuke tersenyum. Ia telah menduga kalimat ini akan diungkap oleh Naruto yang polos.

Sasuke menempelkan dahinya ke dahi Naruto. Menatapnya lekat-lekat. "Apa kau masih mencintaiku?"

Naruto memejamkan matanya erat. Tak berani menatap Sasuke. "A-aku masih mencintaimu, Teme.. Tap-tapi.."

Sasuke menarik dagu Naruto mendekat.

"Tatap mataku, Dobe."

Naruto tak bergerak.

"Tatap mataku, Dobe!!" Sasuke mengeraskan volumenya. Naruto akhirnya menurut. Mereka kini saling bertatapan.

"Aku tahu.. Kau telah dilamar oleh -siapa?Gaara?" Sasuke tersenyum sungging. "Aku tak peduli.. Akan kubawa kau kemanapun menjauh dari sini.. Kita lari.."

Naruto memandang kekasihnya. Tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar darinya.

Naruto menjauh dan berpaling dari Sasuke. Ia kembali mengirisi bawang yang sempat terhenti.

"Pergilah, Teme.. Jangan dekati aku lagi."

Sasuke memeluk erat pinggang Naruto dari belakang.

"kenapa kau seperti ini, Dobe.." Sasuke berbisik di telinga Naruto.

"padahal aku rindu.. rindu..sekali.." melas Sasuke mencium leher Naruto lembut.

Air mata Naruto kembali menetes.

"Aku sudah dijodohkan, Teme.." Naruto berusaha menahan air mata. "..orang tuaku ingin aku menikah dengan Gaara."

Sasuke mengernyit, "untuk apa Dobe? Tampan? Pasti aku lebih tampan! Soal harta pun, aku tak kalah dengan orang in.."

Mulut Sasuke ditutup oleh jari lentik Naruto. "bukan itu penyebabnya, Teme.."

"Lalu apa?"

"Ayahku punya janji tertulis dengan Gaara. Kami harus menikah sebelum usiaku 21 tahun.."

Sasuke tertawa. Naruto cengok. "Bukankah besok hari ulang tahunmu, Dobe?"

Naruto menunduk. "Ya.. dan nanti malam adalah resepsi pernikahanku.."

Sasuke berhenti tertawa secara bertahap. Kemudian pandangannya lurus pada Naruto. "Apa maksudmu..?"

"Kami telah menikah kemarin lusa.. dan malam ini malam resepsi terakhir.."

"Ja-jadi kamu.." Sasuke membelak.

"ya.. Aku telah menikah dengannya. Walaupun begitu, aku belum disentuhnya sama sekali." Naruto tersenyum memaksa, "dia baik sekali, ya.."

Sasuke memandang punggung Naruto tak percaya.

"Ta-tapi katamu kau cuma mencintaiku?"

Naruto menahan perasaan.

"Ya!! Aku mencintaimu!! Hanya mencintaimu, Teme!! Tapi aku hanya korban!!" tangisan Naruto pecah. Tubuhnya lengser pada dinding dapur.

Sasuke menangkapnya. Naruto dipeluknya erat. Membiarkan tubuh mungil itu meluapkan semua perasaannya yang terpendam selama ini pada dada tegapnya. Hanya di dadanya. Bukan dada Gaara.

Tanpa di sadari oleh mereka, sepasang bola mata kristal mengamati dari balik pintu dapur sedari tadi. Melihat semua yang terjadi. Sesosok gadis berkucir empat.

"Untung saja Gaara tidak dirumah.." lirihnya.

o0o~~~~~~~~o0o

Hotel Kirigakumen, Malam hari

Gaun putih nan indah membalut tubuh Naruto dengan sigap. Kini ia duduk di pelaminan. Dengan tata rias yang menawan, ia tampil dengan mempesona. Membuat siapa saja pria di acara itu terpaku akan manisnya sang mempelai wanita. Tak urung juga Sasuke yang menghadiri pesta itu atas undangan Temari yang dari tadi mengikuti kemana saja Sasuke pergi. Sasuke terbuai terlena menyaksikan keindahan kaum hawa yang dimiliki orang yang dicintainya.

'Dobe, kau cantik sekali..' batin Sasuke. Sayang sekali orang yang bersanding dengan Naruto bukanlah dirinya. Tapi orang lain. Orang dengan rambut merah batanya yang datar dan tanpa ekspresi. Orang yang rasanya punya sifat lebih dingin darinya.


Kinoshita no Shoujo

Naruto sedikit bercanda dengan Gaara. Mereka tertawa gembira. Sasuke tersenyum sungging. Hatinya hancur. Kepingannya sudah tak dapat dipungut lagi. Luluh redam tertanam dalam tanah yang tandus. Selama acara Sasuke harus menahan perasaannya. Begitupun Naruto yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya. Mencemaskan keadaan Sasuke.

MC Key berdehem di microfon. "Ehm.. Ehm.. Baiklah.. Kali ini hiburan live music dari kedua mempelai..! Kedua mempelai, dipersilahkan menaiki panggung.." katanya dengan sopan.

Naruto berdiri dengan anggun. Ia memandang Gaara yang tak merespon kata-kata sang MC. Ia masih duduk.

"Ayo, Gaara.." ajak Naruto.

Gaara memandang Naruto. Ia menggelengkan kepala. "Tidak, Naru.. Kamu duet saja dengan orang lain.. aku nggak ada mood buat nyanyi.." Gaara kembali menampakkan kedatarannya. Naruto bingung. Sementara MC Key udah mau ngacir aja. Terpaksa Naruto mendekati stage mungil tersebut. Sebelum beranjak, ia meminta izin pada Gaara untuk berduet dengan seorang tamu. Gaara menyetujuinya.

Naruto meraih mic yang di ulurkan MC Key.

"Ehm.." deheman Naruto mengundang perhatian para tamu. Juga Sasuke dan Temari yang duduk di meja tamu. Sementara Gaara hanya memandangnya datar dari pelaminan.

"Saya, Naruto Uzumaki, akan mempersembahkan sebuah lagu untuk menghibur para hadirin sekalian.

Prok-prok-prok-prok...!

"Sebenarnya lagu ini bukan lagu duet. Tetapi, saya ingin ada sukarelawan dari salah satu hadirin laki-laki untuk berduet dengan saya disini.." senyum Naruto manis sekali. Para tamu laki-laki terpesona hingga lupa tidak mereson kata-kata Naruto.

Tanpa diduga, ada satu tangan terangkat dari kursi VVIP. Tangan Sasuke. Hati Naruto berdegup kencang seketika. Gaara melihat Sasuke dengan sedikit tatapan kecemburuan.

Sasuke berdiri meninggalkan Temari yang masih melihatnya heran.

Sasuke mengambil microfon yang di ulurkan MC Nacchi dan langsung stand by di atas stage, berdiri di samping Naruto. Potongan jas yang rapi dan ketampanannya membuat cewek-cewek yang hadir di sana terpukau dan hampir bleednose.

Sasuke menatap Naruto, kemudian para tamu secara bergantian. "Saya Uchiha Sasuke. Sebenarnya saya hanya tamu biasa. Tapi melihat kecantikan Naruto, saya jadi ingin berduet dengannya. Hehe.." Sasuke tertawa kecil. Para tamu laki-laki maupun wanita ikut tertawa.

Sasuke tersenyum pada Naruto. "Baiklah, lagu apa yang akan kita nyanyikan, Sang Mempelai Wanita?" Sasuke menunduk layaknya memberi hormat pada putri raja. Wajah Naruto memerah seketika. Gaara menangkap reaksi Naruto. Tapi ia masih diam.

"E.. Lagu dari Eren-Takkan Pisah.." kata Naruto menyopankan diri.

"Oke. Silakan di mulai." Sasuke memberi kode pada orchestra disana. Personilnya mengangguk.

Intro lagu dimulai..

Dentuman piano yang indah. Gitar ikut bertaut. Sasuke dan Naruto saling tersenyum.

Sasuke mengeluarkan suara emasnya,

"Sayang aku ingin berbicara kepadamu

Tentang apa yang tengah aku rasakan.."

Naruto memulai bait kedua,

"Ada apa - ada apa katakanlah semuanya

Ku 'kan dengarkan duhai cintaku.."

Sasuke menatap Naruto sekilas, kemudian beralih memandang hadirin. Tak enak ia melihat calon pengantin orang lama-lama. Kemudian melanjutkan,

"Bila nanti orang tuamu tak meridhoi

Dengan apa yang kurasakan padamu.."

Naruto kembali memberi pengertian dalam bait lagu ini..

"Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya

Begitupun orang tuaku.."

Sasuke,

"Kau takkan tinggalku.."

Naruto,

"Takkan pernah sayangku.."

Berdua,

"Janjimu, janjiku, untukmu.."

Reff, Sasuke mengeluarkan segala emosinya,

"Takkan ada yang pisahkan kita

Sekalipun kau telah tiada

Akan ku pastikan ku kan memeluk, menciummu di surga.."

Naruto pun tak kalah mencurahkan isi hati,

"Jangan kau pergi tinggalkan aku

Bawa aku kemana kau mau.."

Suara berpadu,

"Janjiku padamu jiwa dan ragaku, matipun ku mau.."

Naruto susah payah menahan jatuhnya air mata. Tak mau Gaara dan tamu yang lain melihatnya. Sasuke hanya mendongak, menatap kosong pada langit malam berjuta bintang yang meratapi nasibnya. Aula hotel ini memang tak beratap.

Gitar listrik ikut menyuarakan diri. Mengalunkan instrumen yang menggelora.

Sasuke merasakan luka hatinya ditaburi garam,

"Takkan ada yang pisahkan kita

Sekalipun kau telah tiada

Akan ku pastikan ku kan memeluk, menciummu di surga.."

Naruto menahan air mata,

"Jangan kau pergi tinggalkan aku

Bawa aku kemana kau mau.."

Sasuke,

"Janjiku padamu.."

Naruto,

"jiwa dan ragaku,"

Berdua,

"matipun ku mau.."

Dentuman piano kembali menutup lagu.

Prok-prok-prok-prok..!

Riuh rendah para hadirin membuat Naruto dan Sasuke menunduk memberi hormat.

"Terima kasih.."

TuBerColosys..

.

.

.

.

Mind to Review?