Hari Minggu yang cerah, santai, dan damai. Kesibukan tidak banyak. Masalah pun tidak ada.

Waktu yang tepat untuk berbelanja, bukan?

Sebenarnya, Jingga sendiri tak tau jawabannya. Dia tidak pernah hobi belanja, dan dia tidak tau dimana asiknya belanja. Hanya saja karena kebetulan ini hari minggu tenang yang menyenangkan, suaminya libur, dan dia perhatikan lemari pakaian anak-anaknya mulai terasa kosong lagi, dia memutuskan untuk berbelanja hari ini.

Tentu saja dia tidak mengajak seisi rumahnya ke mall, hanya untuk mencari beberapa pakaian. Dia hanya mengajak Gempa dan Blaze saja, sisanya dia titipkan pada Boboiboy di rumah. Awalnya sih Blaze yang meminta untuk ikut, Jingga merasa harus ada yang mengawasi Blaze selama dia memilih baju, jadilah dia mengajak Gempa juga. Dia yakin putranya yang sekarang sudah 11 tahun itu bisa mengurusi adiknya yang agak-agak hyper itu.

"Ooh! Itu aja Bu! Bagus!" Jingga, yang sedang sibuk melihat-lihat tumpukan baju, menoleh ke arah suara. Tampak putranya yang berusia 8 tahun tengah menunjuk-nunjuk sebuah baju yang digantung. Sebuah baju kaos berwarna merah, dengan logo api berwarna hitam ditengahnya. Wanita itu tertawa lembut, typical Blaze.

"Hmm, tapi kira-kira Blaze cukup nggak?" Sang Ibu melangkah kesana, menyerahkan beberapa pakaian yang sudah dipilihnya ke Gempa, dan mengambil baju yang ditunjuk Blaze tadi. Dia mencoba mengukurnya di tubuh anaknya, tersenyum lebar melihat ekspresi riang putranya.

"Tuh! Cukup Bu! Ambil ya, buat Blaze, ehehe."

Jingga masih mempertahankan senyumannya, melihat tag harga di baju itu. Hmm, masih bisa dijangkau lah. Tidak gila-gilaan banget. Belum lagi… mata wanita itu menatap ke satu titik. Aha! Diskon 50%! Yeah!

"Baiklah~ Ibu ambil yang ini~"

"Yeah!"

Gempa menatap kejadian di depannya dalam diam, senyum tenang terulas di wajahnya. Adiknya yang itu masih kanak-kanak sekali. Dia berpikir, kapan ya kira-kira sifat kekanakan Blaze akan menghilang? Wah, bakalan garing deh di rumah…

.

.

Harmony Fear

A Family Drama (and failed romance)

And sorry in advance for the OOCness

Warning! Contain BoboiboyxOC pairing

Also, some crazy pairing… like, really crazy…

AU

AnonyNeko

2017

.

.

2. Mom's Favourite

Jingga menghitung pakaian yang sudah fix akan dibelinya, setelah mengambilnya kembali dari Gempa. Wah, wah, tunggu dulu, Taufan dan Solar belum dapat~! Wanita itu langsung mengerutkan kening, dan kembali melihat-lihat jajaran pakaian anak-anak di hadapannya. Memang agak sulit mencari pakaian untuk dua anaknya yang itu.

Taufan suka memakai baju yang tidak terlalu formal, tidak terlalu berantakan, tidak terlalu santai, tidak terlalu tipis dan tidak terlalu norak. Dan Jingga hampir yakin pakaian yang dia maksud itu juga tidak ada. Sementara di sisi lain, entah dia reinkarnasian dari orang modis macam apa, Solar selalu ingin pakaiannya itu 'unik', seperti katanya, dan mencerminkan identitas dirinya. Dikasih yang terlalu plain ditolak. Dikasih yang terlalu rame dibuang. Terlalu bergambar tidak dianggap. Dan yang terlalu murah pun dilempar oleh anak 5 tahun itu, Demi Tuhan!

Dia memberi mandat pada Gempa untuk mengawasi Blaze, karena dia benar-benar harus konsentrasi untuk mencari pakaian-pakaian untuk dua putranya itu. Targetnya sih untuk membelikan minimal 2 baju untuk masing-masing putranya. Kan tadi sudah dikatakan, lemari mereka mulai terasa hampa.

Atau, itu karena Jingga mulai sibuk dan jarang menyetrika.

Sang anak yang bertanggung jawab, Gempa, hanya sweatdrop melihat jiwa belanja Ibunya mulai bergelora. Dia bisa menebak Ibunya sedang mencarikan baju untuk siapa: Taufan dan Solar. Dia tidak mengerti deh, kenapa itu dua orang banyak syarat banget sih milih pakaian doang. Terutama adiknya tuh. Dia masih berusia 5 tahun, dan rasanya Solar lebih mengerti tentang fashion daripada dirinya. Gempa merasa sedikit kalah.

Pikiran Gempa kembali menapak bumi ketika Blaze nyaris saja berlari ke suatu tempat. Untungnya dia bisa menahan adiknya itu, dan bertanya untuk apa dia hendak pergi tadi.

"Aku capek kaak, mau nyari tempat duduk." Blaze merengut, sesekali melirik Ibunya. "Kenapa Ibu lama banget sih kak?"

"Milihin bajunya kak Taufan sama Solar."

"Oh."

Sekosong-kosongnya otak Blaze, dia mengerti predicament Ibunya.

"Tapi Blaze masih capek kak Gempaaa. Capeeekk." Anak itu mulai mengeluh lagi. Kedua kakinya sudah mulai pegal, dan dia hampir saja duduk di lantai kalau Gempa tidak menegur adiknya.

"Hm, kakak juga capek sih." Mata Gempa menyusuri daerah sekitarnya, mencari-cari tempat duduk. Masalahnya adalah mereka tidak boleh jauh-jauh dari Ibu mereka. Kalau tersesat di mall luas begini kan parah ya. Gempa juga tidak tau pusat informasi dimana, jika mereka tidak sengaja terpisah dengan Ibu mereka dan harus mencari petugas seperti petunjuk Ayah mereka dulu. "Coba cari-cari tempat duduk yang deket sini deh, Blaze."

Yang diberi mandat langsung bertindak, dia menolehkan kepalanya kesana-kemari. Sesekali dia akan berjalan untuk memperluas wilayah pengelihatannya. Aduuh, kakinya pegal. Ternyata benar peringatan dari kak Taufan, pergi ke mall sama perempuan itu melelahkan. Padahal awalnya Blaze tidak percaya karena ini kan Ibunya, dan Ibunya itu tidak seperti Ibu-Ibu lainnya. Ternyata… uhuhuhu…

Ditengah-tengah pencarian, mata Blaze akhirnya melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Entah apa itu, yang jelas itu bukanlah salah satu dari sekian jenis tempat yang bisa diduduki. Tidak, itu adalah sebuah pakaian.

Nah, Blaze ini bukanlah seorang 'pengamat fashion' seperti adiknya, tapi yang satu ini jelas bisa menarik perhatiannya. Bocah itu menyipitkan mata, dan melangkah mendekati tempat dimana baju itu dipajang.

Diikuti kakaknya, yang heran melihatnya. "Hei, kau mau kemana?" Gempa mengikuti langkah adiknya dengan agak terburu-buru. Takut-takut mereka menghilang dari jarak pandang Ibunya nanti. Namun rupanya adiknya tidak berjalan jauh, dia berhenti di depan sebuah baju berwarna putih yang dipajang tak jauh dari tempat mereka tadi. Merasa heran dengan tingkah sang adik, Gempa menanyakan tujuan sebenarnya dari Blaze.

"Liat tulisannya deh, kak Gempa." Bocah 8 tahun itu menunjuk baju di hadapannya. Sang kakak semakin heran, dan mengalihkan tatapannya ke tulisan yang tercetak di baju itu. Dia mengernyitkan alis.

Mom's favourite!

Oke, dia sering melihat baju-baju seperti ini, dipakai biasanya oleh anak-anak berusia dibawah 10 tahun. Dia tidak mengerti dimana anehnya dari pakaian ini. "Kenapa memangnya?"

"Mom's favourite itu artinya favorit Ibu kan?" Blaze berkata sambil mengingat-ingat pelajaran bahasa Inggris dari kakak tertuanya. Kemudian dia menatap mata kakaknya yang ada disampingnya dengan pikiran yang masih berjalan-jalan dengan liarnya. "Kira-kira, siapa ya dari kita bertujuh yang pantas pake baju begitu?"

Kalimat adiknya itu, sadar tak sadar, mau tak mau, menghentikan pikiran Gempa juga.

Hei, arti pertanyaan itu kan kurang lebih sama dengan 'siapa anak favorit Ibu diantara kita bertujuh?' Uuh, dia tidak pernah berpikir tentang hal sedemikian rupa. Masalahnya, ayolah, siapa yang akan kepikiran ya kan?! Ibunya selalu baik dengan mereka semua, tidak pernah pilih kasih. Satu dibelikan, semua pasti dapat. Satu disayang, semua pasti juga disayang. Tidak ada istilah 'kesayangan' bagi Ibu mereka.

Tapi sepertinya dia juga memikirkan hal itu dengan serius. Dia tak sadar dengan panggilan sang Ibu sejak tadi.

.

.

"Ahahaha~ akhirnya Ibu bisa juga milihin baju bagus buatku~"

Suara tawa nyaring dari Taufan—yang sedang berputar happy—bergema di dalam kamarnya, yang dia bagi bersama Halilintar dan Gempa. Tapi bukan hanya trio kembar itu saja yang ada di kamar mereka saat ini, keempat adik merekapun lengkap ada disana. Awalnya mereka semua berkumpul disana untuk melihat Halilintar yang memainkan sebuah games di PCnya, sampai Gempa dan Blaze datang membawa beberapa plastik berisi pakaian yang dibelikan oleh Ibu mereka tadi.

"Memangnya selama ini kau pikir baju dari Ibu jelek, gitu?" Halilintar berkomentar agak ogah-ogahan, dia memperhatikan baju yang dibelikan Ibunya untuknya seusai dia kalah dalam gamenya.

"Y-ya bukan sih… cuma yang ini bagus banget, gitu kak Hali…" Yang tadi berputar ceria langsung berhenti, dan duduk di tempat tidurnya, yang ada diantara tempat tidur Halilintar dan Gempa. "Kan aku gak pernah nolak baju yang dibeliin sama Ibu. Gak kayak Solar." Kalimat sambungan darinya yang agak nyindir itu sukses menarik perhatian sang adik yang dimention, yang tadinya sedang sibuk mengobrol dengan kembarannya.

"Apaan sih kak?! Kapan juga aku nolak baju dari Ibu!"

"Well, duh! Aku punya rekaman catetannya kok! Dari kamu udah bisa ngomong malahan!"

Dan ributlah dua orang itu, yang sebenarnya sama-sama pernah melempar pakaian pemberian Ibunya. Para saudara lain sudah biasa, tidak terganggu, dan tidak ada yang niat melerai juga.

Itu, sampai sesuatu konek lagi di pikiran Blaze. Bicara soal pakaian…

"Oh ya. Tadi aku ada lihat baju di mall, sama kak Gempa." Blaze, yang sedang berbaring santai di tempat tidur kak Hali-nya, membuka topik baru. "Aku jadi keinget kita semua. Kepikiran sampe sekarang… gara-gara tulisannya."

"Baju apa emangnya? Tulisan apa?" Ice, yang duduk di lantai sambil senderan di kaki tempat tidur yang sama dengan kakaknya yang bicara itu, merespon sehabis menguap bosan. Pertanyaannya dijawab berbarengan oleh Blaze dan Gempa, sanggup membuat permainan games Hali berikutnya terhenti, sukses membuat adu mulut antara Taufan dan Solar berhenti, sukses menyadarkan Thorn yang nyaris terhanyut ke alam mimpi.

"Tulisannya 'mom's favourite'. Diantara kita, siapa ya?"

Kesunyian melingkupi kamar itu—oh, dihiasi dengan sebuah seruan dari PC di depan Hali yang menyatakan kalau karakternya kalah.

Yah, sekali lagi, tentunya mereka semua tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Tidak pernah terlintas sedetikpun di kepala mereka kalau Ibu mereka bisa pilih kasih. Ibu mereka itu sosok yang lembut, pengasih dan penyayang meski terkadang agak keras kepala. Tapi well… ada beberapa dari mereka yang tidak pernah kena marah… ya kan? Hmm…

"Halah, palingan juga Gempa." Suara yang memecah kesunyian muncul dari Taufan, yang menghela nafas. Tentu saja, adiknya yang satu itu kan yang paling bertanggung jawab, paling tenang, paling rajin, dan paling-paling lainnya deh. Ibu macam apa yang gak sayang sama anak macam begitu?

"E-ehh, bukan deh, kak Taufan…" yang namanya disebut menyanggah, menggaruk pipinya nervous. Dia tidak suka mendengar nada bicara kakaknya, seolah-olah ucapannya itu tidak tergoyahkan(?). "Aku aja gak pernah dapat hak istimewa apapun deh… Palingan juga Thorn, kan dia yang paling diperhatiin sama Ibu…"

Tentu saja pikiran Gempa mengacu ke adik bungsunya itu. Yah, Thorn kan anak bungsu. Dimana-mana juga orang tua pasti paling suka manjain yang bungsu kan? Ibarat kakak-kakaknya udah dapat sama rata semua, kasihan yang paling akhir belum dapat, malah diduakali lipatkan. Apalagi kan si Thorn terkadang suka bertindak sendiri tanpa bilang-bilang dulu, bikin Ibu mereka rada-rada parno.

"…Bukan aku lah, kak." Suara kalem dari Thorn menyahuti ucapan sang kakak. "Aku malah sering diomelin, kalau mau ngapa-ngapain harus bilang dulu katanya…" bocah 5 tahun itu menghela nafas. Jelas-jelas tidak menyukai saran orang tuanya itu. "Mungkin itu kak Blaze, kan apa aja yang diminta kak Blaze pasti dikabulin sama Ibu…"

"Eh, eh? Kok jadi aku?" Blaze langsung terduduk. Wajahnya menunjukkan ekspresi aneh antara tidak percaya dan kaget-kaget-senang. "Gak semuanya juga kali~ Malah aku yang paling gak dipercaya Ibu, ngapa-ngapain harus diawasin kak Gempa lah, atau kak Hali lah…" anak 8 tahun itu sedikit merengut. "Paling juga kak Hali, kan anak tertua, bisa diandalin, gak banyak ganggu lagi."

Yang namanya disebut langsung mendengus geli. "Apa kau gila, tidak mungkin aku." Katanya, sambil mematikan PCnya. Dia menganggap pembicaraan ini lebih menarik. "Aku justru yang paling dilepas sama Ibu. Dituntut jadi contoh buat kalian juga, jadi salah dikit dimarahin." Halilintar menghela nafas. Jadi kakak tertua memanglah berat. Kenapa nggak Taufan aja hah?(?) "Paling si Solar tuh, gak pernah diomelin meski banyak maunya dan banyak salahnya kan…"

"Lah? Aku? Dan kok pake ngehina sih kak?" Solar, yang berdiri tak jauh dari Taufan, menatap sang kakak tertua dengan tatapan jengkel. "Gak diomelin sih, tapi disuruh ambil semuanya sendiri. Didengerin doang, dibantu juga nggak." Bocah itu mengingat-ingat perlakuan sang Ibu padanya. Memang kelihatannya dia jarang ditegur, tapi dia jarang diperhatikan juga. Hiks. "Kalau ada yang paling diasuh, tuh kak Ice. Apa-apa maunya pasti dikasih, diurusin banget deh."

Yang bersangkutan langsung berdecak, mendengar namanya disebut sang adik. "Ya jelas dikasih, habis aku disiksa dulu. Angkatin jemuran lah, sapuin lantai dua lah, bersihin meja lah." Ice menggelengkan kepalanya dengan gaya agak dramatis, entah bagaimana anak 7 tahun itu bisa tampak dramatis. "Aku sering banget disuruh-suruh, tau. Tuh, kak Taufan baru bebas banget. Tugasnya disini cuma main sama jadi senang doang."

"Hei, hei! Bebas apanya?" Taufan, yang sejak tadi mengikuti kegiatan tuduh-menuduh ini, sedikit terkejut karena menjadi sasaran penuduhan berikutnya. "Apa kemauanku malah ditentang terus. Mau sepak bola takut kena tendang, mau nyoba skateboard takut jatuh di aspal. Terlalu suka hura-hura belum bisa diandalkan katanya. Kan aku udah bilang tadi, si Gempa tuh!"

"Kok aku lagi sih kak? Duuh, bukan aku kok. Mungkin aja kakak."

"Halah, gak mungkin. Pokoknya sekali kamu tetep kamu."

"Masuk akal sih, kak Gem…"

"Eeeh, bukan! Bagaimana kamu tau kalau itu bukan kamu, Ice?"

"Iya tuuh, diajakin bantu Ibu terus, enaknya!"

"Itu bukan ngajakin, tapi ngemaksa, tau?! Kak Blaze yang sering diajak bercanda tuh!"

"Bercanda, bercanda apanya?! Dibilang berisik terus! Udah deh, kalau bukan kak Gempa ya Thorn!"

"Kok aku lagi kak… kan aku udah bilang tadi bukan aku… Paling kak Solar,"

"Aduuh, aku lagi! Kak Hali itu lho, bisa juga kan!"

"Sudah aku bilang bukan aku."

Dan kericuhan pecah lagi di kamar itu. Suara bersahut-sahutan terdengar, dengan volume yang semakin meninggi dari waktu ke waktu, saling tuduh-menuduh satu sama lain. Aneh rasanya, hanya karena perkara satu kalimat saja bisa jadi bahan tengkar ketujuh saudara ini. Memang ya, selama mereka semua masih tinggal serumah, rumah ini gak bakalan pernah sepi.

Debat kusir itu diputus oleh sang Ayah, yang masuk ke kamar dengan sedikit kasar.

"Kenapa ini ribut-ribut?"

"Ayah!" demikianlah, perhatian ketujuh-tujuhnya langsung beralih ke Boboiboy yang nongol di pintu. Yang omong-omong hanya bisa diam saja ketika tiba-tiba diserbu ketujuh putranya. "Ayah! Ayah! Siapa sih anak favoritnya Ibu?"

Otak Boboiboy, yang tadinya penuh terisi berita-berita politik yang ditontonnya, berusaha mencerna kalimat pertanyaan anak-anaknya. Favorit? Jadi sejak tadi mereka meributkan siapa dari mereka adalah favorit Ibu mereka? Sampai-sampai perdebatan mereka bisa didengar sampai ke tetangga di sebelah tetangga sebelah(?). Ya Tuhan.

Untuk menjawab mereka, dia harus menenangkan mereka semua dulu, dan berusaha untuk mengumpulkan mereka di ketiga tempat tidur yang ada di kamar ini. Yah, dia tahu sesekali anak-anak yang memiliki saudara akan memikirkan hal ini. Bukan berarti dia pernah sih, kan dia anak tunggal. Tapi Jingga sering menceritakan perdebatan masa kecilnya dengan kakaknya, jadi dia tahu lah pikiran anak bersaudara itu seperti apa.

"Nah, nah, kenapa kalian berpikir begitu?" ujar Boboiboy sambil mendudukkan diri di sebuah kursi, yang merupakan kursi di hadapan meja belajar milik… Taufan? Ya, milik Taufan, kalau tidak salah. "Tidak mungkin Ibu kalian bisa memilih yang favorit diantara kalian. Itu sih mustahil."

"Kenapa mustahil? Pasti ada yang dia lebih sukain diantara kami kan? Kan?" Sang pemilik kursi belajar—Taufan—tetep ngotot sama Ayahnya. Membuat sang Ayah mulai sakit kepala. Setaunya sih, Jingga tidak mungkin bisa pilih-pilih kasih kepada anak-anak, apalagi anak-anaknya sendiri… ya kan?

"Ibu kalian itu sayang dengan kalian semua," Boboiboy tersenyum tipis. "Dia tidak akan bisa memilih. Jika kalian tanyakan padanya, pasti dia jadi pusing memikirkannya. Kalian itu memiliki keunikan diri masing-masing, hal yang membuat Ibu sayang kalian, dan tentu saja hal-hal itu tidak bisa dibanding-bandingkan. Begitu."

"Kenapa gak bisa?"

"Karena tentu saja semuanya berbeda. Contohnya, hmm…" mata sang ayah menatap putra-putranya satu persatu, mencari yang cocok dijadikan contoh. "Sifat Gempa yang bertanggung jawab, sama sifat Blaze yang kekanakan. Dari kalian berdua, sifat-sifat itu yang Ibu kalian suka. Dan seandainya disuruh memilih mana yang lebih baik, kan keduanya itu tidak ada dalam jenis yang sama? Jadi tidak bisa dibandingkan begitu saja." Boboiboy kemudian nyengir. "Sifat-sifat kecil kalian semua membuat Ibu kalian jadi lebih bahagia, dan senang bersama kalian. Tidak mungkin dia meninggalkan anak lain demi seorang anak favorit, itu mustahil, seperti yang Ayah katakan tadi."

Seusai ceramah kebapakannya, Boboiboy kembali menatap putra-putranya, memperhatikan reaksi mereka. Halilintar menatap ke sudut ruangan, dari ekspresinya kelihatan kalau dia mengerti, dan sedikit tersentuh—aww, Boboiboy menahan diri untuk tidak fanboying(?). Taufan sih kelihatan banget kalau dia tersentuh, setitik air mata tampak diujung-ujung matanya, dan dia sedikit terisak. Reaksi serupa diberikan oleh Ice, namun tanpa isakan, dan setetes air mata sudah mengalir begitu saja. Gempa menghela nafas dan tersenyum mengerti, seolah bebannya sudah terangkat dari pundaknya, membuat Boboiboy meragukan usia putranya yang itu. Blaze terlongo, ekspresinya seolah mengatakan kalau dia tidak menduga jawabannya akan jadi demikian, meski tak lama kemudian dia nyengir lebar lagi. Solar melipat tangannya di depan dada, mendengus dan memutar matanya seperti orang jengkel, namun dari rona merah di wajahnya Boboiboy menebak kalau dia senang dengan penjelasan itu—lagi, dia harus menahan diri agar tidak fanboying. Thorn yang lebih menunjukkan kalau dia senang mendengar penjelasan sang Ayah, dia tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.

Ahaha, anak-anaknya memang manis. Boboiboy tentu ingat ketika Jingga berkata padanya, kalau jika semua putranya tetap bertingkah manis seperti itu dia bisa kena diabetes di usia dini. Yang omong-omong dia katakan setiap hari. Kalau Jingga menceritakan tentang tingkah ketujuh putranya saat dia pulang kerja, pasti semuanya diceritakan, tidak pernah satu orang saja.

Sebenarnya, Boboiboy kagum dengan istrinya itu. Dipikir lagi… sebenarnya, Jingga tidak perlu terlalu bertanggung jawab kepada tiga putra tertuanya. Kan dipikir lagi itu bukan putranya, bukan anak yang dilahirkan olehnya. Tapi tidak, Jingga sama sekali tidak membeda-bedakan, dia menyayangi semua putranya dengan jumlah kasih sayang yang sama. Tidak ada yang lebih, tidak ada yang kurang.

Ahh, kok jadi dia yang ingin menangis(?).

"I-Ibu baik sekaliii…" suara serak-serak parau dari Taufan membuat Boboiboy sadar daratan lagi. "Padahal kan kita semua bandel-bandel…"

"Ahaha, ya sekarang kalian sudah tau, jangan terlalu nakal lagi ya sama Ibu."

"I-Iya Ayah!" jawaban kompak itu kembali menghangatkan hati Boboiboy. Aduuh, apa yang sudah dia lakukan sehingga Tuhan menganggapnya pantas mendapatkan tujuh malaikat kecil ini~ Dia melihat mereka mulai bicara satu sama lain lagi, entah apa yang mereka bicarakan. Sesekali tertawa, dan saling tuding. Mungkin sekarang saling tuduh tentang siapa yang paling nakal, ahaha~

Sampai, lagi-lagi, sebuah suara memecah suasana tersebut.

"Tapi itu kan Ibu… kalau Ayah gimana?"

Entah siapa yang mengatakannya, tapi itu membuat darah sang Ayah membeku seketika.

Here we go again.

.

.


A/N: Hayo, yang punya saudara pasti pernah berpikir tentang siapa favorit orang tua, barang sekali dua kali kan? Aku juga kok :D Meski kayaknya kalau aku tanyain ke ortu, jawabannya tidak sebaik jawaban Pak Boboiboy disana... hiks

Gak ada yang mau ngasih saran atau kritik gitu? Masa gak ada yang komplain sih? Kalau ada review ya ;) Makasih banyak juga buat yang udah memberi feedback buat chapter-chapter kemarin yaa :D

~AnonyNeko