My Boyfriend is A Nine Tailed Fox
Previos in My Boyfriend is A Nine Tailed Fox
Disaat gapaian tangannya melemah dan ia merasa dirinya akan semakin memasuki dasar danau. Sebuah tangan besar berhasil menangkap dan merengkuh tubuhnya. Hal terakhir yang ia lihat ialah, sepasang mata biru langit dan rambut kuning keemasan.
Naruuto...
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : kiriko mahaera
Rate : T
Genre : Fantasy, Romance.
Warning : AU (scholl-life), OOC, Typo, Misstypo, etc.
Don't like? Don't read!
Based on Korean Drama My Girlfriend is A Nine Tailed Fox.
Sumarry : Seandainya ada seorang pemuda yang baru saja kau kenal langsung menanggapmu sebagai kekasihnya. Bagaimana perasaanmu? Senang, sedih, terkejut atau bingung bagaimana harus menyikapinya? Hinata tahu jawabanya. Chapter III update.
Neji. Pemuda berambut coklat itu menatap sendu pada sebuah bingkai foto yang berada di atas sebuah meja yang terletak di sudut ruangan. Bingkai foto itu diapit dua bingkai foto lainnya tapi pandangannya terfokus pada bingkai yang kedua. Bingkai yang pertama berisikan fotonya sendiri yang diambil beberapa bulan yang lalu, saat ia baru saja memenangkan sebuah lomba di kampusnya. Universitas Tokyo Daitaima, atau lebih sering disebut Todai university. Ia memegang sebuah trofi sambil tersenyum tipis ke arah kamera. Sedangkan yang ada di dalam bingkai kedua, terdapat selembar gambar seorang gadis berambut indigo yang panjangnya mencapai pinggang si gadis. Gadis itu tersenyum lembut sambil memegangi setangkai bunga lavender yang sengaja ia tempelkan ke pipi porselennya. Gaun ungunya sedikit berkibar karena terpaan angin. Yang terakhir diisi oleh sebuah foto seorang gadis yang kira - kira berusia 12 tahun. Gadis itu mengenakan seragam basket sekolahnya dan ia tengah memeluk sebuah bola basket. Rambut panjangnya yang berambut coklat diikat satu ke belakang. Senyum ceria terpatri di wajah cantiknya. Perlahan tangannya terulur dan menyentuh bingkai foto yang kedua secara hati - hati, seolah benda itu mudah rapuh.
"Hinata," lirihnya, mata keperakan miliknya masih menatap sendu pada sosok yang ada di sana. Sudah hampir satu hari, jika dihitung secara 24jam. Tapi sepertinya adiknya lebih tepatnya adik sepupunya itu telah menghilang lebih dari 24 jam. Ia kembali mengingat saat ia mengetahui adiknya hilang.
Kesal. Tentu saja. Bahkan tak hanya kesal, amarah pun berkecamuk di dadadanya. Terlebih dengan alasan yang menurutnya konyol. Tapi kalau itu semua memang kehendak yang kuasa. Pantaskah ia marah? Mungkin ada alasan di balik semua ini. Ya, tak mungkin tak ada karena di balik kata mengapa. Takkan mungkin ada asap jikalau tak ada api.
Flashback:
Pemuda berambut coklat yang sebatas tengkuknya itu tengah berjalan menuruni anak tangga. Ia baru saja keluar dari kelasnya beberapa menit yang lalu. Sesekali ia membalas sapaan teman - temannya dengan senyum simpulnya.
Drrtt.. Drtt...
Merasa ada yang bergetar di saku celananya, pemuda ini pun segera merogoh sakunya dan meraih smart phone-nya kini bergetar. Sudut bibirnya terangkat ke atas ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Hallo," katanya setelah ia menekan tombol answer di ponselnya.
"Ha-halo Neji," jawab si lawan bicara
"Ya ada apa? Kalian sudah pulang. Bagaimana kemahnya?" Neji merenteti si penelpon tadi dengan pertanyaan basa basi miliknya. Kini ia berjalan di koridor kampusnya menuju halaman.
"Y-ya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Ta-tapi..."
"Hm? Tapi apa?" Neji terus saja berbicara di ponselnya sampai ia tiba di halaman dan terus berjalan menuju tempat di mana ia memarkirkan mobil sport miliknya.
"Ehm... I-itu,"
Neji masih terdiam menanti lanjutan dari lawan bicaranya. Tapi samar - samar, ia dapat mendengar seseorang yang sepertinya berada di dekat lawan bicaranya sedari tadi terus mendesak si lawan bicara untuk segera mengatakan sesuatu.
"Hi-hinata."
Neji menautkan kedua alisnya bingung. Kenapa nama adiknya disebut - sebut.
"Oiya di mana Hinata? Aku ingin berbicara dengannya." Yeah, meskipun ia bisa bertemu adiknya nanti. Tapi, tidak ada salahnya kan? Jika berbicara sebentar dengannya.
"Se-sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan de-denganmu... Mengenai Hinata."
Deg...
Entah kenapa. Pemuda ini merasa pembicaraan ini akan menjurus pada hal yang serius. Hanya perasaannya saja atau bukan, jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya.
Kenapa firasatku buruk? Semoga saja tidak terjadi apa - apa.
"Ya, ada apa dengan Hinata?" Akhirnya, ia melemparkan pertanyaan yang sedari tadi ia simpan dalam benaknya.
Neji bisa mendengar si lawan bicara menghela nafasnya sebelum melanjutkan. "Hinata... Di-dia."
"Dia tertinggal di kawasan perkemahan." Kali ini bukan suara si penelpon pertama yang menyahut, melainkan temannya.
Deg...
Neji hampir saja melepaskan genggamannya dari ponsel miliknya dan menghentikan kegiatannya menyalakan mesin mobil pandangannya terkunci pada apa yang ada di depannya, sebenarnya bukan itu yang ada i dalam pikirannya, melainkan...
Apa! Tertinggal? Itu artinya...
"Ya, dia masih di sana Neji. A-aku..." Kembali si penelpon pihak pertawa yang bersuara. Ia melanjutkan dengan suara yang lirih dan sepertinya ia sudah tak sanggup untuk meneruskan kata - katanya.
"Baiklah, sekarang kau ada di mana?" tanya Neji lagi. Nada bicaranya seketika berubah, dari yang awalnya hangat menjadi dingin.
"A-aku masih di sekolah."
"Baiklah aku akan segera kesana."
Klick
Setelah percakapan tadi berakhir. Neji segera melajukan mobil sportnya ke tempat yang dimaksud.
Selama dalam perjalanan, pikirannya tertuju pada Hinata. Untungnya ia tak kehilangan kendali saat mengendarai mobil pribadinya. Neji segera memarkirkan mobil sport miliknya di tempat parkir yang disediakan pihak cafe dan segera menemui ketiga sahabat adiknya. Dalam perjalanannya tadi, ia dan ketiga sahabat adiknya telah membuat janji melalui pesan singkat.
Ia bisa melihat ketiga gadis itu duduk berkumpul di salah satu meja yang terletak di sudut dan menghadap langsung ke luar dan dibatasi sebuah jendela kaca yang besar.
Tanpa basa - basi lagi ia langsung menghampiri ketiganya dan berkata. "Ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian."
Sakura yang menyadari aura yang tak nyaman dari Neji segera bangkit, mewakili kedua temannya untuk berbicara. "Neji, kami bisa menjelaskan semuanya."
Flashback off
Krieeet...
"Kakak." Neji segera menolehkan kepalanya saat ia mendengar suara yang berasal dari belakangnya. Ia pun menemukan seorang gadis yang mengenakan piyama biru muda yang beraksen garis - garis spiral. Rambut coklatnya tergerai agak berantakan, mungkin ia lupa menyisiri rambutnya.
Neji kembali menatap barisan bingkai foto tadi setelah melihat si pemilik suara tadi sekilas.
"Kakak belum tidur?" tanya si gadis. Ia segera mengambil tempat di sebelah kakaknya dan ikut mengamati objek yang tengah dilihat kakaknya.
Neji kembali menoleh pada adiknya sekilas. "Kau sendiri?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan adiknya tadi. Ia kembali menatap objek yang sedari tadi ia amati.
"Sepertinya aku... Tidak bisa tidur," jawab si gadis. Ia menghela nafas pelan sebelum ia beranjak dan berjalan menuju bangku yang terletak tak jauh dari sana. "Kenapa kak Hinata belum pulang?" Gadis tadi kembali melemparkan pertanyaan saat ia sudah menghempaskan tubuhnya.
Neji segera mengalihkan pandangannya pada adiknya itu dan berjalan mendekatinya. "Entahlah, mungkin ia sedang berada di suatu tempat." Setelah menjawab demikian, Neji pun mengambil tempat di sebelah gadis tadi kemudian ia mengarahkan pandangannya pada sang adik yang kini menatapnya bingung, dengan alisnya yang mengernyit serta mata yang sedikit menyipit
"Bukannya besok kau sekolah, Hanabi?" tanya Neji. Rupanya ia ingin mengalihkan pembicaraan.
Gadis yang disapa Hanabi tadi menangguk pelan. "Apa besok kakak tidak ada kelas?" tanya si gadis yang bernama Hanabi tadi.
"Menurutmu?"
Hanabi nampak terkejut dengan jawaban sang Kakak. Ia membulatkan matanya dan menatap kakaknya heran. "He! Mana ku tahu. Yang kuliah itu kan kakak." Setelah berkata demikan. Hanabi langsung menggembungkan pipinya, pertanda ia tak suka dengan jawaban yang diberikan Neji.
Neji terkekeh pelan, ia mengusap helaian coklat yang senada dengan warna rambutnya. Hanya saja miliknya lebih pendek. "Ayo cepat tidur, ini sudah larut malam."
Hanabi kembali menghela nafas serta menggeleng pelan. "Aku tidak bisa tidur kak," jawabnya lirih.
Mendengar jawaban dari sang adik. Tiba - tiba sisi nakalnya muncul. Salah satu sudut bibirnya terangkat dan mata keperakannya berkilat jahil. "Kau takut ya?" tanyanya iseng.
Wajah yang sedari tadi terbenam di lipatatan lutut itu tiba - tiba saja mendongak. Hanabi segera membelalak padanya. "Tidak!"
Neji tidak berkomentar apa - apa. Ia semakin menatap dalam sepasang mata adiknya dan seolah - olah meremehkan.
Hanabi yang sepertinya mengerti maksud Neji, berdiri secara spontan. "Aku tidak takut. Lagipula aku bukan anak kecil lagi, " sambungnya kemudian.
Neji terkekeh pelan, rencananya berhasil. "Tapi kau itu tetap adik kecilku. Hanabi sayang..." Neji mengacak pelan rambut Hanabi yang memang sudah acak - acakan.
"Kakak..." Hanabi merengek manja, ia menggembungkan pipi gembilnya seolah - olah merajuk. Sambil melepaskan tangan besar Neji yang bertengger di pucuk kepalanya.
Melihat ekspresi Hanabi yang menurutnya lucu. Tak ayal membuat pemuda Hyuuga ini tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Hei! Kemarilah," ujarnya setelah ia bisa menguasai dirinya. Neji menepuk pelan pahanya, yang seolah - olah menyuruh gadis kecil itu beristirahat di pangkuannya.
Hanabi menatap wajah dan paha kaki Neji secara bergantian. "Aku tidak mau!" jawabnya ketus sambil melipat tangannya di depan dada.
Neji menautkan kedua alisnya bingung. Biasanya gadis itu sangat senang jika ia tidur di pangkuannya, tapi kenapa ia malah menolaknya mentah - mentah. Ah! Neji baru ingat, kejadian itukan sudah lama sekali. Yaaa mungkin itu terjadi lima tahun yang lalu. "Kau tidak perlu malu Hana." Neji berkata santai, seolah ia tahu apa isi kepala gadis itu.
Hanabi agak terlonjak juga saat mendengar perkataan kakaknya. Mata peraknya sedikit melebar, tapi ia tetap pada pose cool-nya. Di dalam benaknya, tersemat sebait tanya.
Darimana dia bisa tahu?
"Bukankah dulu kau sangat senang jika tidur di pangkuanku, hm?" tanya neji. Masih mencoba merayu.
Iya, dan itu dulu sekali.
Hanabi tidak menjawab. Ia hanya menatap kakaknya datar.
"Hei, jangan memasang wajah yang seperti itu. Kau membuatku ingin tertawa saja," ujarnya seraya kembali terkekeh.
Gadis berambut coklat itu memandang kakaknya sekilas. Kemudian, ia mendengus sebal sambil memalingkan wajahnya. "Aku tidak akan melakukan hal kekanak - kanakan seperti itu." Setelah berkata demikian. Ia melenggang, meninggalkan Neji yang masih sibuk mentertawakannya. Sangat - sangat bukan Neji yang dikenal banyak orang di luar sana. Apa jadinya jika mereka tahu, Neji yang cool itu tertawa seperti ini. Mungkin para penggemarnya akan berteriak histeris.
.
My Boyfriend is A Nine Tailed Fox
Suara kayu bakar yang terus dilahap api, memecah kesunyian malam. Indahnya cahaya bulan purnama yang terpantul permukaan air danau yang tenang, menambahkan kesan tersendiri bagi penikmatnya. Di sini, di alam bebas ini dua insan yang berbeda gender ini, terdiam satu sama lain. Membiarkan suara api yang melahap mangsa penerangnya untuk berkoar - koar bersama cahayanya.
"Ke-kenapa kau menyelamatkanku tadi, seharusnya kan..." Gadis indigo atau yang lebih sering disapa Hinata ini kembali menundukan kepalanya setelah berkata demikian. Seolah mempersilahkan sang api untuk kembali bersuara.
"Seharusnya apa?" tanya si pemuda. Ia menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya pada api unggun yang ia buat.
Hinata kembali mengangkat kepalanya dan memandang sekilas pada si pemuda berambut pirang yang bernama Naruto tadi. "Seharusnya... Kau biarkan saja aku mati tenggelam," lirihnya pelan, nyaris tak terdengar.
"Mana mungkin aku membiarkan kekasihku mati begitu saja!" Meskipun ia mengatakannya dengan sangat pelan. Rupanya gumamannya tadi masih bisa didengar si pemuda.
Heh! Apa katanya tadi?
Kekasih?
Mata bulan gadis itu membulat sempurna. Wajahnya menampakan sebuah ekspresi terkejut yang luar biasa. "Apa!" Mungkin karena kaget atau apa. Gadis ini secara spontan berdiri dan menghadap langsung pada pemuda yang juga sedang berdiri tak jauh darinya.
Ini gila!
"K-kau pasti bercanda," desisnya.
"..." Naruto tak bergeming sedikit pun. Ia hanya melirik gadis itu sekilas dan kembali melihat api unggun buatannya. Seolah itu lebih menarik daripada memperhatikan si gadis.
Hinata mengangkat kedua sudut bibirnya. Membentuk sebuah senyuman kecil "Lelucon yang bagus."
Hinata semakin melebarkan senyumnya dan tertawa pelan. "Kau tahu, kau berbakat menjadi seorang komedian." Hinata terkikik pelan sambil membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.
Naruto, dia hanya memperhatikan gadis itu dalam diam. Ia terus saja membiarkan gadis Hyuuga itu bertingkah aneh sendirian. Hingga akhirnya ia membuka suara. "Ini bukan lelucon. Aku serius." Ia memandang lurus Hinata, seakan ia memang tak main - main dengan ucapannya.
"Lagipula aku tak tertarik menjadi seorang komedian," sambungnya kemudian.
Deg!
Tawa Hinata seketika hilang dan berganti menjadi sebuah raut keterkejutan yang luar biasa. Entah sudah yang keberapa kali, pemuda yang ada di hadapannya ini berhasil membuatnya kaget. Dengan seluruh tekad yang ia kumpulkan, Hinata memberanikan dirinya menatap pemuda yang kini berdiri tak jauh darinya.
Melihat tatapan matanya saja, Hinata sudah tahu kalau pemuda itu benar - benar serius. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian dan memantapkan hatinya. Hinata balas menatap tajam Naruto sebelum berkata. "Atas dasar apa. Kau... menjadikanku kekasihmu?"
Bagai menabuh genderang. Hinata seolah mengibarkan bendera perang yang seakan menantang Naruto. Tak ada lagi ketakutan di pikirannya. Rasa penasaran membuatnya lebih berani dibandingkan yang tadi.
"Janji," tukas Naruto, singkat. Menjawab pertanyaan dari Hinata.
Janji?
"M-maksudmu janji apa? Aku sama sekali tak pernah berjanji seperti itu..."
Bagaimana bisa? Aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu. Mana mungkin aku memiliki janji aneh seperti itu.
Pemuda itu. Naruto, masih menatap dalam manik pualam milik Hinata. Ia meletakan kedua tangannya di belakang kepala dan mengarahkan pandangannya pada langit malam seraya menghembuskan nafasnya pelan. "Aku berjanji pada diriku sendiri." Ia kembali memandang gadis itu dan berjalan mendekatinya sambil bersedekap.
Hinata masih terdiam di tempatnya, bahkan saat Naruto mulai berjalan mengitarinya. Ia hanya mampu melihatnya. Bahkan ketika Naruto sudah berhenti tepat di belakangnya. Hinata tak mampu untuk membalikan tubuhnya barang sejenak. Sepertinya ia terlalu sibuk memahami maksud si pemuda. Tapi sekeras apa pun ia mencoba untuk menggali otaknya, itu akan percuma. Sebab, sang pemudalah yang tahu jawabannya. Kalau sudah begini, apakah ia harus kembali tercebur ke dalam danau?
"Kau ingat dengan gua yang kau masuki siang tadi."
Hinata menelan cairan salivanya dengan ragu sebelum ia menjawab. "Y-ya." Tergagap, pelan nyaris tak terdengar.
Naruto mulai menurunkan tangannya dan meletakannya di saku celananya. "Apa kau menemukan ukiran di dinding gua yang bergambar rubah ekor sembilan?"
Hinata kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat di mana ia berjalan menelusuri bagian - bagian gua tadi. Ah! Ya. Dia ingat itu. Akhirnya gadis bersurai indigo itu pun mengangguk lemah.
Naruto kembali mendekati Hinata yang masih membelakanginya, hingga jarak di antara mereka hanya terpisah oleh beberapa langkah saja.
"Kau tau." Naruto mulai berbicara, dan mendekatkan wajahnya pada telinga Hinata, hingga gadis itu bisa merasakan hembusan nafasnya.
"Aku adalah si rubah yang ada di gambar itu. Bukankah sudah ku katakan kalau aku ini Kyuubi. Siluman rubah ekor sembilan." Setelah berkata seperti itu, ia kembali menjauhkan wajahnya. Menunggu respon dari gadis yang ada di depannya.
Glek
Ja-jadi dia benar - benar seorang siluman.
Hinata menelan ludahnya dengan susah payah. Lidahnya terasa sangat berat dan kaku. Jangankan untuk bicara, menelan ludah pun jadi sangat sulit sekali. "I-ini mustahil," desisnya, tak percaya.
Naruto mengerutkan alisnya, bingung. "Bu-bukankah hal yang seperti itu hanya ada dalam legenda pada zaman - zaman dahulu," lanjut Hinata. Masih dengan suara lirihnya.
"Aku memang dari zaman dahulu, tepatnya zaman heian."
"Mana mungkin!" Secara spontan ia berbalik menghadap Naruto dan tanpa sadar ia telah meninggikan suaranya. "Itu sudah beribu tahun yang lalu, kau... Jangan mengada - ngada." Kali ini, nada suaranya sudah kembali seperti biasa.
Naruto mendecak sebal. Ia kembali melipat tangannya di depan dada. "Aku memang dari zaman heian dan aku telah terkurung di sana selama seribu tahun. Jadi mana mungkin aku mengada - ngada."
Kenapa sulit sekali memberi tahu gadis ini!
Tentu saja sulit. Dia ini lahir di zaman yang berbeda dengan zamanmu yang dulu. Jadi mana mungkin dia bisa mempercayaimu.
Hei! Aku tak meminta pendapatmu innerbodoh.
Naruto kembali mengarahkan pandangannya pada sosok yang berada tak jauh darinya itu, setelah ia memejamkan matanya sejenak. Hinata, masih tak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Berkali - kali gadis berusia 17 tahun itu mengerjapkan matanya. Antara masih tidak percaya dan bingung. Tapi hati dan pikirannya menyuruh untuk bungkam. Mungkin saja pemuda yang mengaku kyuubi ini akan memberikan penjelasan selanjutnya.
Pemuda berambut pirang itu, melangkah mendekati Hinata dan menjajarkan posisinya dengan gadis itu. Hingga bahu mereka sejajar dengan posisi yang saling berlawanan. "Kau tahu." Naruto menolehkan kepalanya sebentar pada Hinata yang masih memandang lurus ke depan. "Aku pernah berjanji... Jika suatu saat ada seseorang yang bisa melepaskan segel kurungan itu maka sebagai ucapan terima kasih... Jika dia laki - laki, aku akan menjadikannya sebagai saudaraku. Tapi jika dia perempuan, maka dia akan menjadi kekasihku." Tepat di akhir kalimatnya, Naruto kembali menolehkan kepalanya pada Hinata, dan untuk menambahkan kesan dramatis. Ia sengaja memberikan penekanan pada kata kekasih.
Jedderr
Bagai tersambar petir di tengah malam seperti ini. Di saat yang sama pula, Hinata merasa seperti ditimpa oleh sebuah batu besar dan tergelinding ke dasar jurang. Tapi... Bukankah gadis itu sudah pernah terjatuh ke jurang?.
"Dan kau orang yang berhasil membuka segel itu." Di tambah dengan apa yang dikatakan pemuda ini, maka lengkaplah sudah penderitaannya. Rasanya ia sudah tak tahan lagi, ingin menangis. Tapi apakah dengan menangis semua masalahnya akan terselesaikan.
Terjatuh ke suatu tempat yang entah di mana, tertinggal rombongan sekolah dan yang terakhir, terjebak bersama seorang pemuda yang mengaku sebagai siluman dan lagi pemuda itu menganggapnya sebagai seorang kekasih. Ini gila!.
Tapi sekeras apapun ia menahan airmatanya. Bulir - bulir bening itu pada akhirnya tertumpahkan begitu saja, meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan.
"A-aku..." Gadis itu sudah tak sanggup lagi melanjutkan kata - katanya. Hingga akhirnya bibir mungil Hinata hanya mampu mengeluarkan isakan - isakan kecil. Ia membekap mulutnya sendiri dan menangis, secara perlahan tubuhnya merosot hingga ia terduduk di hamparan rumput yang sedari tadi dipijakinya.
Naruto begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka gadis itu akan menangis seperti ini. Dari awal ia pun tak ingin membuatnya menangis seperti itu. Dengan perasaan campur aduk, pemuda berambut pirang ini mendekati gadis itu dan berjongkok di depannya. Ia mengulurkan tangannya dan mencoba menenangkan gadis itu. Awalnya ia berniat untuk membelai gadis itu dan membawanya ke dalam dekapannya, tapi ia urungkan niatnya itu. Takut, alih - alih jika gadis itu berhenti menangis. Bagaimana jika gadis ini menangis lebih keras lagi. Jadi ia hanya membiarkan gadis itu menangis sendirian.
.
My Boyfriend is a Nine Tailed Fox
Gadis ini berkali - kali mengubah posisi tidurnya dengan gelisah. Sesekali ia mendecak dan mengacak - ngacak rambut merah mudanya.
Sreeek
Ia menyingkap selimut merah muda miliknya dan membuka kedua kelopak matanya yang sedari tadi menyembunyikan manik emeraldnya. Ia mengerling pada jam berbentuk stroberi yang terletak di meja samping tempat tidurnya.
03:00 pm
Drrt drrrt
Benda berbentuk persegi itu bergetar pelan. Sakura menoleh, dan ia mendapati ponselnya tengah bercahaya. Ia pun segera mengambil ponsel merah mudanya.
2 message recieved
Jari - jari lentik miliknya menari dengan begitu lincah di atas ponsel layar sentuhnya. Membaca dan membalas pesan tadi secepat kilat. Ia meletakan kembali ponsel miliknya di atas meja kecil yang terdapat di samping tempat tidurnya.
Ah! Benar juga.
Gadis merah muda ini terlonjak girang, ketika sebuah ide muncul di benaknya. Ia kembali meraih ponselnya, mencari sesuatu di list phone book-nya. Setelah menemukan apa yang ia cari gadis itu segera menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel tadi ke telinganya.
"Maaf, nomor yang anda tuju berada di luar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi."
"Ya Tuhan kenapa tidak bisa! Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Hinata."
Yah... Semoga saja.
.
"Amiiin."
Gadis berambut pirang ini mengakhiri doanya dengan meletakan tangannya ke dahi sebelum mengitari bahunya dan berakhir dengan kecupan ringan. Ia kembali berjalan menuju ranjangnya dan berbaring di atasnya. Sekali lagi ia berdoa sebelum memejamkan kedua matanya.
Sama seperti gadis pirang ini. Gadis bersurai coklat ini pun melakukan hal yang sama, meskipun berada di tempat yang berbeda.
.
My Boyfriend is a Nine Tailed Fox
Hinata terus saja menangis dalam lipatan kakinya. Bahunya bergetar pelan seiring dengan suara tangisan yang meluncur dari bibirnya. Naruto hanya mampu terdiam melihat gadis itu yang terus terisak, sebenarnya ia juga merasa khawatir pada gadis itu tapi... Apa yang bisa ia lakukan sekarang?
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu terlontar dari bibir Naruto. Jujur saja, ia bingung harus bersikap seperti apa. Saat ini hanya kata itu yang terlintas di benaknya. Ia sendiri juga tak tahu dari mana kata itu berasal.
"Maaf." Ia kembali menggumamkan kata maaf dan berharap agar gadis itu menghentikan tangisnya. Tapi si gadis itu tetap saja menangis tanpa memperdulikan kata - kata maaf yang dilontarkan pemuda itu.
"Maaf," katanya sekali lagi. Gadis itu masih mengacuhkan si pemuda.
"Maaf a-" Belum sempat ia berbicara. Gadis itu sudah menginterupsinya terlebih dulu.
"Bisakah kau diam..." ujar Hinata dengan suaranya yang serak dan parau. Tanpa mendongakkan kepalanya, rupanya ia masih enggan menatap wajah Naruto.
"Ta-tapi," ujar Naruto ragu.
Hinata mengangkat kepalanya dan memandang sengit pada Naruto. "Apakah kata maafmu bisa mengembalikan keadaan?" tanyanya sarkastik.
"Aku..." Naruto berkata lirih dan memandang sayu pada gadis itu.
Seketika itu juga Hinata bangkit dan berdiri dari posisinya tadi. "Aku terjebak di tempat ini. Tertinggal rombongan dan aku tak bisa pulang!" seru Hinata masih sambil terisak.
Naruto menengadah, memandang gadis yang kini berdiri di depannya. Ia masih diam, menunggu apa yang akan dikatakan gadis itu.
"Bertemu dengan siluman sepertimu. Tercebur ke danau. Dan sekarang aku..." Hinata kembali terisak. Ia tak mampu melanjutkan kata - katanya.
Miris
Kata itu yang ada muncul dibenaknya. Saat melihat si gadis yang terus saja terisak, entah kenapa terbersit rasa penyesalan di sana. Sama seperti gadis itu, ia pun berdiri di depan si gadis yang terus saja meracau sambil terisak.
"Hei, tenanglah." Sekali lagi, ia mencoba menghentikan isakan si gadis.
"A-aku ingin pulang..."
Naruto mengacak rambutnya frustasi. Sepertinya ia memang harus bertindak sedikit lebih keras pada gadis itu.
"Tenanglah." Mungkin, satu kesempatan bisa ia berikan.
Hinata tetap tak merespon, ia masih saja terisak, setidaknya ia tak meracau.
Naruto kembali menghela nafas gusar dan dalam satu kali hembusan nafas, ia menatap langsung mata gadis itu dan mencengkram bahu yang kini bergetar.
"DIAMLAH DAN DENGARKAN AKU!"
Hening.
Usahanya tak sia - sia. Dengan satu kalimat saja, gadis itu menghentikan isakannya.
"Maaf." Ia melepaskan cengkramannya.
"Aku tak bermaksud menyakitimu. Tapi, aku ingin kau mendengarkanku. Sedikit saja."
Hinata terdiam, ia menatap Naruto dengan matanya yang masih berkaca - kaca.
Sebelum memulai perkataannya. Naruto menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. "Pertama aku ingin meminta maaf, telah membuatmu sekacau ini. Tapi sungguh aku tak ada maksud untuk membuatmu seperti itu." Naruto menundukkan kepalanya sekilas, dan kembali memandang gadis yang ada di depannya setelah beberapa detik.
"Untuk masalah yang itu, aku sendiri pun tak tahu kenapa kau bisa sampai ke sini. Mungkin saja Tuhan mengirimkanmu untukku." Naruto pun kembali melanjutkan perkataannya.
Mengirimkanmu untukku.
Kata - kata itu terus terngiang di telinga Hinata. Entah kenapa... Saat mendengar kata yang satu itu, ia merasakan sesuatu yang aneh di sana.
Ini seperti takdir, tapi...
Masih dalam posisinya saat ini, yakni berdiri di depan seorang gadis. Naruto kembali melanjutkan. "Tapi... yang pasti, aku ingin berterima kasih. Karena kau, aku berhasil keluar dari segel terkutuk yang telah mengurungku selama seribu tahun." Untuk yang ke sekian kalinya. Naruto kembali memberi jeda pada kalimatnya untuk mengambil nafas dan membuangnya melalui kata selanjutnya.
"Maka, sebagai ucapan maaf dan tanda terima kasihku. Aku... Akan membantumu keluar dari tempat ini." Naruto kembali menatap mata Hinata, disertai sebuah senyuman yang tulus.
Seketika itu pula raut wajah Hinata berubah 180 derajat. Dari yang tadinya loyo, kini wajah itu menampakan sebuah keceriaan dan ketidak percayaan dalam satu ekspresi. Seolah melupakan apa yang membelenggunya. Ia memberanikan diri untuk menatap pemuda itu penuh dengan harapan dan berbinar - binar. Semoga saja, pemuda itu tak berbohong.
"Kau yakin?" tanya Hinata, meyakinkan Naruto.
"Tentu saja," jawabnya, masih sambil tersenyum.
"Lalu kapan kita akan keluar dari tempat ini?" tanya Hinata penuh harap - harap cemas.
"Sekarang juga."
"Heee! Be-benarkah?"
Naruto hanya mengangguk riang tanpa menghilangkan cengirannya.
Senang. Tentu saja, mungkin kata itu tak cukup menggambarkan perasaannya. Entah harus dengan apa, ia mengekspresikannya. Jika, seandainnya ia selincah Ino, Ten Ten dan Sakura. Mungkin ia sudah berteriak sambil melompat - lompat kegirangan. Akhirnya, Hinata membungkukkan badannya sebagai rasa terima kasih. "Terima kasih."
Setelah berkata seperti itu ia segera berlari mengambil tas kempingnya dan kembali menghampiri Naruto.
"Kau sudah siap?" tanya Naruto.
Hinata yang pada saat ini tengah melihat keadaan di sekelilingnya, langsung tersentak begitu saja saat pemuda itu menanyainya. "I-iya," jawab Hinata sambil menangguk pelan. Ia segera menghampiri Naruto dan berdiri di dekatnya.
"Kita akan berjalan ke arah yang mana?" Hinata bertanya sambil kembali memandang sekeliling tempat itu.
Naruto mengerutkan dahinya. "Arah?" tanyanya heran.
Hinata mengangguk dengan cepat. "Bukankah, kau akan membantuku?"
"Kenapa harus menanyakan arah?" Bukannya menjawab, Naruto malah melemparkan pertanyaan lain.
Hinata menautkan kedua alisnya heran. "Ta-tapi kan..."
Naruto terkekeh pelan. Kemudian, ia berjalan menghampiri Hinata dan meraih tangan gadis itu ke dalam genggamannya.
"Eh?" Mata bulan Hinata membulat sempurna ketika pemuda itu menggenggam tangannya secara tiba - tiba.
Masih sambil menggenggam tangannya. Naruto mulai melangkahkan kakinya dan berjalan menuju jembatan yang terdapat di tepi danau. Mereka terus berjalan, hingga keduanya tiba di ujung. Naruto sengaja membawanya ke sana, karena di sanalah cahaya bulan terkumpul sempurna.
Mereka bisa melihat bayangan mereka yang terpantul di permukaan air danau karena terkena pantulan sang dewi malam.
Hinata kembali mengernyit. Di dalam benaknya terdapat berjuta tanda tanya di sana.
Naruto seolah mengetahui apa yang ada di benak gadis itu segera membuka suaranya seakan menjawab tanda tanya yang ada di kepala Hinata. "Dengarkan dan ikuti apa yang ku katakan." Tapi ia menjawabnya dengan sebuah kalimat instruksi.
Setelah berkata seperti itu, ia kembali menggenggam tangan Hinata yang satunya.
Hinata sempat merasa kaget. Tapi seperti apa yang diinstrusikan Naruto, maka ia hanya diam saja dan bersiap mendengarkan apa yang akan dikatakan pemuda itu.
"Sekarang pejamkan kedua matamu." Naruto mulai memberikan instruksi pertamanya.
Tanpa membuang waktu, Hinata segera memejamkan kedua matanya.
"Lalu, pirkirkan tempat yang akan kau tuju. Fokuskan pikiranmu pada satu titik." Naruto kembali mengeluarkan instruksinya yang kedua.
Seketika itu pula, pikiran Hinata tertuju pada rumahnya, ia terus memikirkan bagian - bagian dari rumahnya. Akhirnya ia memfokuskan pikiranya pada satu titik.
"Konsentrasikan pikiranmu pada titik itu. Dan jangan pernah membuka matamu, sebelum aku menyuruhnya. Kau mengerti," ujar Naruto mengakhiri kalimatnya.
Masih memejamkan matanya. Hinata menganggukan kepalanya, menandakan ia mengerti dengan maksud Naruto.
Naruto ikut memejamkan matanya, ia mulai berkonsentarasi untuk memasuki pikiran gadis itu. Ia terus saja berkonsentrasi, hingga akhirnya ia bisa menyatukan pikirannya dengan pikiran Hinata.
Wuusshh
Daun - daun di sekitar tempat itu berterbangan ditiup angin. Pohon - pohon juga ikut bergoyang, bahkan air yang tadinya tenang kini beriak dengan sangat ramainya. Keduanya bisa merasakan surainya masing - masing berterbangan dimainkan sang angin. Seiring dengan deru angin yang semakin berhembus kencang. Perlahan sebuah cahaya yang amat terang menyelimuti keduanya. Dalam sekejap cahaya itu menghilang bersamaan dua insan tadi.
.
Hening, setidaknya ini yang kini tengah dirasakan Hinata, ia tak lagi mendengar deru angin yang menari - nari menerbangkan anak rambutnya dan juga benda - benda yang di sekitarnya. Cahaya, ya cahaya yang begitu terang tak lagi mengusik matanya yang kini masih terpejam rapat - rapat.
"Selesai! Nah, ayo buka matamu."
Hinata bisa mendengar Naruto berseru girang di telinganya. Tanpa aba - aba lebih lanjut, Hinata segera membuka matanya dan menampakan sepasang manik lavender miliknya yang tadi sempat terpejam.
Hal yang pertama ia lihat adalah...
Tentu saja pemuda pirang yang ada di hadapannya. Pemuda itu tengah tersenyum lima jari. "Bagaimana, aku hebat kan?" tanyanya seraya berbangga diri.
Hinata tak menjawab, ia lebih memilih mengamati keadaan di sekitarnya ketimbang menghiraukan Naruto tanpa menyadari tanganya yang masih terbalut genggaman tangan Naruto.
"I-ini..." Hinata mengerjap, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sekali lagi, gadis berambut indigo ini memperhatikan keadaan sekitarnya sampai pada akhirnya.
"Ini benar - benar rumahku!" Gadis itu terlonjak dan memekik girang.
Hinata pun segera melepaskan genggamannya tadi dan berlari menuju gerbang rumahnya. Tanpa menyadari ekspresi Naruto yang sedikit kecewa saat genggaman tadi terlepas begitu saja. Meskipun begitu, ia mencoba menyembunyikannya dan tetap tersenyum.
Hinata tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Ia menatap penuh berbinar pada pintu gerbang rumahnya. Sekali lagi, ia menjerit tertahan tatkala jari telunjuknya menekan bel yang ada di dinding pagar rumahnya. Terlebih ketika ia mendengar sahutan dari dalam, dengan ekspresi gembira ia menjawab rentetan pertanyan dari pelayan yang menjawab belnya.
Tak lama kemudian gerbang besar itu pun terbuka, menampakan beberapa pelayan wanita dan pria. Mereka semua menyambut Nonanya dengan penuh suka cita. Yah, walaupun wajah dari mereka terlihat sangat lelah dan mengantuk tapi mereka tak bisa menyembunyikan raut bahagia yang terpancar.
Hinata mulai melangkahkan kakinya, masuk ke dalam gerbang tadi. Namun, langkahnya terhenti begitu saja saat ia teringat akan sesuatu.
Naruto
Tapi tidak ada siapapun di sana ketika ia membalikan tubuhnya.
"Ada apa Nona?" Seorang pelayan menatap heran pada Hinata yang sedang memperhatikan jalan kosong di depan gerbang kediamannya.
Hinata segera menolehkan kepalanya dan menjawab pertanyaan tadi. "Ah, t-tidak ada apa - apa."
.
My Boyfriend is A Nine Tailed Fox
Matahari mulai menampakan sinar keemasannya menggantikan sang bulan yang sudah kembali ke peraduan. Ditemani riuh cicit kicauan burung dan kokokan ayam yang memecah kesunyian pagi. Embun - embun jatuh secara perlahan, membasahi tanah ataupun rumput yang berada di bawah. Melalui ventilasi - ventilasi udara inilah, cahaya sang mentari masuk dan menyeruak ke dalam. Mengusik kenyamanan sang tuan putri yang masih bergelung di alam mimpinya.
"Eungghh."
Gadis itu melenguh pelan saat merasakan temaram cahaya yang mengusik pejaman matanya. Belum lagi udara pagi yang menusuk kulit putih susu miliknya. Gadis itu menggeliat pelan sambil meregangkan kedua tangannya ke atas, serta membalik posisinya ke arah sebaliknya.
Saat ia berbalik, matanya menangkap siluet seorang pemuda yang kini berbaring dengan posisi kepala bertumpu pada lipatangan tangannya yang membentuk segitiga. Ia kembali menarik selimutnya sampai batas dagu dan menenggelamkan tubuhnya di sana dan kembali terpejam. Sepertinya nyawanya belum benar - benar terkumpul. Sampai - sampai ia tak menyadari kini, ada seorang pemuda berbaring di sebelahnya. Pemuda pirang dan beriris biru.
Sejak kapan ada makhluk tampan di sini?
Tapi, sepertinya wajah ini tidak asing lagi.
Tik
Tik
Tik
Jarum jam terus berputar pada porosnya. Menghitung detik demi detik waktu yang berlalu. Menemani si gadis yang masih berusaha berpikir sembari mengumpulkan kesadarannya.
"KYAAAAA!"
To Be Continued
Ahaha apaan nih chap? Gaje!
Ngelirik chap kemaren.
Kyaaaa *berisik!* banyak typo... Huweee #nangis gelundungan. Se-mo-ga hiks di chap ini typonya udah keminimalisir hiks... Amiiin *author yang aneh*
Wah... Maaf ya di chap kemaren sama chap ini NaruHinanya ga banyak terus romance-nya belum ada #nangis lagi di pojokan
Tapi diusahakan agar secepatnya ada kok #wink
Oh iya, saya mau kasih tau kenapa alasan saya ngebalik tokoh fict ini sama drama aslinya. Kalo di dramanya kan yang jadi siluman si cewek nah kalo di sini si cowok soalnya...
Jeng jeng...
1 Naruto itu kan jinchuriki jadi kalo menurut saya pas aja kalo dia jadi siluman. Kalo mau tau gimana dia pas mode siluman, liatin aja pas lagi kyuubi mode hahaha #digampar *ketauan malesnya*
2 Silsilah keluarga *apa hubungannya?* kan kalo Hinata jadi pihak human kan enak gak usah pake chara yang udah dead
MinaKushi: maksud loe? *ngasih deathglare*
Me: Gak maksud apa - apa kok Mom, Dad, anakmu yang satu ini cuma... *keringet panas dingin*
MinaKushi: Sejak kapan pula kami punya anak macam kau!
Me: Kok mom and Dad jadi batak gitu *garuk - garuk pala*
Readers: Woi! Lanjutin
Me: Oh iya ya hehe
3 Padahal kalo dipikir - pikir karakter Dae Wong Mi Ho ga jauh - jauh amat sama Naruto Hinata. Cuma, saya mau coba aja gimana kalo Hinata yang polos agak takut - takut sama Naruto yang periang. Kalo di dramanya kan Dae Wong yang periang takut sama Mi Ho yang polos haha.
Lagian saya pengen nyiksa Naruto kok muahahaha #disumpel.
Oke saatnya balasan yang gak login, yang login bisa liat 2pm eh maksud saya pm hehe...
Takoyaki : Eh ada Takoyaki bisa review fict. #shock digampar rame - rame
Salam kenal juga Tako-san *boleh panggil gitu?* Eh kurang apanya? Kurang garam kah? #plaaak! Ini udah di tambah lagi, mau read and review lagi gak *ngarep* hehe silahkan :)
nindy : Heeee o.O benarkah? Wah makasih lo yah hehe.
Kayaknya kamu mesti sabar banget deh, soalnya author ini tidak bisa update guntur. Paling banter update semut kekekek #dicekek.
Yosh udah update ni, mau read and review lagi gak? Kalau mau sih hehe... Silahkan :)
sasuhina-caem : Benarkah? #wink, kalo chap ini bagaimana?
Um, kayaknya nggak sama deh. Soalnya saya cuma ngambil idenya aja, selebihnya saya pake imagine saya. Maaf kalau mengecewakan #bungkuk 90 derajat
Ini sudah dilanjutkan, mau read and review lagi? *pasang muka melas*. Silahkan :)
Btw, makasih udah suka sama fict abal ini hehe...
ramdhan-kun : Iya ya kenapa TBC #plaaak!
Ini udah diupdate. Gimana? Mau read and review lagi? Saya gak maksa kok, cuma mendesak #jaah?. Silahkan :)
Gyurin Kim : Iya ya lama banget ni Author satu ckckck #plaak!
Penasaran ya? Mau tau? Mau tau? Mau tau? #plaaak! Hehe kita liat aja di chap - chap depan oke ;) hehe
Ini dah di update, maaf banget ya Gyurin ga bisa update guntur soalnya saya lagi sibuk sama duta saya hehe. So maukan maafin Author gaje ini dengan kamu membaca dan ngeriview hehe... Silahkan :)
Natsumi H : Wah, makasih aku jadi malu
iya diusahain biar gak males #plaaak! ni udah update, read and review lagi yaaa... #wink
Hyuna toki : Hai juga Toki :D, hehe sesuka Toki aja. Boleh Hae, Hae Ra atau Kiriko pke embel" nee-chan atau oenni juga boleh :)
Yosh makasih banyak buat yang udah meluangkan waktunya buat membaca, review atau sekedar melirik judulnya doank. Tapi itu sungguh membuat saya happy :)
Boleh donk saya minta feedback lagi, so review kalian sangat berharga buat saya
Mind review?
Salam lima jari :D
