Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Drama / Romance
Rated: T
Pairing: SasuSakuNaru
Warning: Alternate Universe, OOC tingkat tinggi, Dramatic, Angsty, chapter sangat pendek (kurang dari 2000 kata), Pairing masih belum ditentukan (baru akan terlihat pada dua chapter terakhir)
I'VE WARNED YOU ALREADY
The Melody of Loneliness
Story by: Akina Takahashi
Chapter 3: Naruto
"BRUKK" Sakura terjatuh dari tangga yang ada di halaman depan sekolah. Sepertinya ada orang yang sengaja membuatnya terjatuh.
Sakura bangkit dari jatuhnya. Menahan rasa sakit yang timbul akibat luka yang ada di lutut dan sikunya. Darah segar mengalir dari lututnya. Sakura berjalan tertatih-tatih. Rambut merah mudanya menutupi sebagian wajahnya.
Matahari bersinar terik memperparah rasa sakit yang di derita Sakura. Sakura hampir saja terjatuh untuk yang kedua kalinya jika tak ada yang menahannya. Sakura merasakan sepasang tangan besar yang terlihat kuat menangkapnya mencegahnya untuk terjatuh yang kedua kalinya.
"Kau tidak apa-apa?" Sakura menatap ke sumber suara. Seketika mata hijaunya menemukan sepasang mata biru yang terlihat khawatir.
"…" Sakura tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya kemudian berusaha bangkit namun gagal. Naruto kembali menangkap Sakura. Ia menggendong Sakura secara bridal style. "Turunkan aku." Sakura berusaha turun dari gendongan Naruto namun usahanya kembali gagal.
"Kau harus kubawa ke UKS." Ujar Naruto singkat.
"Uzumaki-san kumohon turunkan aku." Pinta Sakura memelas. Ia mulai merasa risih dengan tatapan gadis-gadis yang memandangnya jijik.
"Lihat anak siluman itu cari kesempatan!"
"Cih, beraninya dia cari perhatian dengan Naruto-kun"
"Menyebalkan"
Bisik-bisik tak mengenakkan itu makin membuat Sakura merasa tidak enak. Sepertinya Naruto juga merasakan perubahan raut wajah Sakura. Mata ceruleannya menatap mata emerald Sakura lembut. "Jangan dengarkan mereka."
Sakura hanya membenamkan wajahnya ke dada Naruto. Entah kenapa dadanya terasa sesak hingga ia merasa kesulitan untuk bernapas. Aku ingin pergi dari sini.
Naruto menatap gadis-gadis yang berbisik-bisik di sekitarnya dengan tatapan marah. Mata birunya berkilat "Jaga mulut kalian."
Sontak gadis-gadis itu segera menutup rapat-rapat mulut mereka, sedikit ngeri dengan perubahan sikap Naruto yang tidak biasanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto khawatir. Ia membaringkan Sakura di ranjang UKS kemudian segera mengambil antiseptik dan sebaskom air bersih serta kapas untuk membersihkan luka Sakura.
"…" Sakura tidak menjawab mata emeraldnya hanya memperhatikan pria blonde yang sedang membersihkan lukanya dengan lembut berhati-hati agar tidak membuatnya merasa sakit.
"Kalau sakit bilang saja." Naruto kembali mengambil kapas untuk membersihkan luka Sakura. Seketika matanya melebar melihat luka-luka yang ada di tangan dan kaki gadis itu.
Astaga, apa yang mereka lakukan padanya?
Naruto tak habis pikir, mengapa orang-orang di Konoha mampu berbuat sekejam itu pada gadis ini. Mereka menyiksa Sakura baik fisik maupun psikologis. Walaupun ia tidak begitu mengenal gadis yang ada di hadapannya ini, jiwa kemanusiaannya mengatakan kalau perlakuan mereka jauh di atas kata wajar.
Ia hanya seorang gadis polos yang tidak bersalah.
Tapi kenapa?
Kenapa mereka begitu tidak adil padanya?
Apakah ia tidak berhak hidup bahagia?
"Ano…" Sakura berusaha memecah keheningan yang sempat terasa tidak enak tadi. Ia membuyarkan lamunan Naruto dengan sukses.
"Ya, ada apa, Sakura?"
"Terima kasih." Sakura menundukkan wajahnya. Berusaha menghindari tatapan cerulean Naruto.
"Sama-sama." Naruto tersenyum lebar hingga memperlihatkan semua giginya.
"…" Wajah Sakura memerah melihat senyuman tulus Naruto. Seumur hidupnya tidak pernah ada orang yang tersenyum tulus untuk dirinya, kecuali ibunya sendiri. Ia kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sedikit berjengit ketika Naruto memberi antiseptik pada luka-lukanya.
"Maaf, sakit ya?" tanya Naruto khawatir. Walaupun Sakura tidak mengeluarkan suara apapun, ia tahu saat ini ia sedang menahan rasa sakit. Ia sempat melihat wajahnya yang tertunduk tampak mengernyit.
Sakura hanya menggeleng pelan.
"Yosh. Sudah selesai." Naruto bangkit setelah membebat luka-luka Sakura dengan perban.
"A… arigatou gozaimashita." Sakura bangkit dari duduknya kemudian memberi hormat pada Naruto.
"Tidak usah seformal itu." Naruto hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, canggung dengan perlakuan Sakura padanya.
"Tapi uzumaki-san…" Sakura tak dapat menyelesaikan perkataannya karena Naruto telah lebih dulu memotongnya.
"Panggil aku Naruto saja. Bisa kan?" Mata ceruleannya seakan memohon pada mata emerald Sakura. Tatapan sendu itu makin membuat Sakura merasa salah tingkah.
"Ta… pi…" Sakura tidak habis pikir kenapa kata-katanya seakan tersendat bila ia berbicara dengan pemuda yang ada di hadapannya ini. Wajahnya memerah. Ia belum pernah berada sedekat ini dengan seorang pria kecuali Sasuke.
"Na-ru-to." Naruto mengeja namanya perlahan seperti sedang mengajari balita berbicara. Mengamati perubahan warna di wajah Sakura yang sangat signifikan ia tertawa kecil.
"Naruto." Akhirnya Sakura membuka mulutnya. Ia tampak ragu-ragu memanggil nama teman barunya itu.
"Apa Sakura-chan?" ujar Naruto dengan nada jahil. Wajahnya menunjukkan senyum ceria yang biasanya selalu muncul di wajahnya saat ia senang.
"Ano… apa kau tidak takut padaku?" Sakura berusaha menahan suaranya. Ia berkata pelan. "Mereka bilang aku ini monster…"
Mata biru Naruto kembali bergejolak, banyak emosi yang melintas di mata indah itu.
"Naruto… sebagai penerus klan Uzumaki, kau harus menyegel kekuatan monster setengah siluman itu. Itulah sebabnya mengapa kau kupindahkan ke Konoha."
"Tou-san, apa yang akan terjadi bila aku menyegel kekuatannya?"
"Dia akan mati."
Naruto berusaha menepis berbagai pikiran yang datang. Ia tak habis pikir jika monster setengah siluman yang disebutkan ayahnya adalah seorang gadis lemah yang sangat polos. Saat itu ia sudah bertekad kuat akan melaksanakan tugasnya sebagai pewaris tunggal Klan pembasmi siluman, Uzumaki, dengan penuh tanggung jawab. Bahkan ia sudah menekankan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak boleh ragu-ragu membunuh monster itu karena monster setengah siluman memiliki kekuatan yang sangat besar dan dapat menimbulkan bahaya yang sangat besar bagi manusia.
Tapi… apa daya bila monster yang harus dibunuhnya adalah gadis cantik yang ada di hadapannya ini? Jujur saja sejak awal melihat gadis ini Naruto sudah tahu kalau gadis ini berbeda dengan gadis lainnya tapi alangkah kagetnya ia ketika mengetahui hal pahit ini. Gadis yang disukainya sejak pandangan pertama adalah seorang mesin pembunuh yang belum aktif dan harus segera dimusnahkan sebelum kekuatannya bangkit sepenuhnya.
Naruto menghela napas panjang lalu tersenyum membalas Sakura yang menatapnya dengan tatapan bingung. "Aku tidak takut padamu. Aku tidak peduli kau itu apa, aku tetap akan berteman denganmu." Jawabnya mantap, berusaha menyingkirkan segala keraguan yang ada pada dirinya.
"Terima kasih." Bisik Sakura pelan. "Terima kasih sudah mau berteman denganku." Senyuman manis terpasang di bibir gadis pink itu
Oh, Kami-sama… aku tak bisa membunuhnya.
Naruto hanya tersenyum simpul. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya.
Aku jatuh cinta padanya.
Aku jatuh cinta pada gadis yang harus kubunuh.
Kami-sama… apa yang harus kulakukan?
-TSUZUKU-
Pendek?
Emang.
Maksa?
Emang.
(Ni authornya stress ya?)
Chapter yang ini maksa abis. habisnya kalo ga kupublish sekarang ga tau kapan lagi bisa publishnya.
Oke... review please...
Thank's buat semua yang udah baca...
With Love,
Akina Takahashi
