SWEETS
3. Sweet Misunderstanding
"Maksud Light, Misa hanya salah paham?"Misa menatap Light tajam dengan mata penuh keraguan. "Jadi, perkataan Ryuuzaki itu apa? Bercanda?"
Light mengangguk lemah dan mengalihkan pandangannya pada jam dinding di ruang tamu Misa. Sudah jam 4.44 sore. itu berarti dia telah menghabiskan 3 jam untuk meluruskan kesalahpahaman. Light tidak mempermasalahkan apapun yang dipikirkan Misa. Yang dia takutkan jika Misa mengungkapkan pemikirannya pada Matsuda. Lalu Matsuda dengan bodohnya akan menerima prasangka Misa sebagai kebenaran dan menyampaikannya pada Yagami Souichiro, ayahnya. Finalnya… Light menggelengkan kepala. Ayah bisa saja mati kena serangan jantung karena Kira, tapi bukan karena kebodohan Misa dan Matsuda.
--
"Hatsyi!"suara bersin Matsuda meledak dalam kesunyian ruang penyelidikan. Mogi menyodorkan tisu pada Matsuda. "Terima kasih" Matsuda menyeka hidungnya "Siapa yang membicarakanku ya?" gumamnya lalu kembali menatap monitor yang menampilkan Misa,Light dan Ryuuzaki. "Suaranya kok ngga keluar ya?"
--
Light melirik ke arah kamera, ayahnya tidak bisa mendengar pembicaraan tak berguna ini karena Ryuuzaki sudah mematikan audionya. Ini sedikit membuatnya lega. Sementara Ryuuzaki dengan tenangnya memakan strawbery short cake dan memandangi brosur-brosur toko yang berserakan di atas meja. Tak terganggu sama sekali dengan tuduhan Misa.
"Light jangan cuekin Misa dong!" Misa menggembungkan pipinya "Kalau benar Ryuuzaki bercanda, Light harus menceritakan kejadian kemarin malam pada Misa"
Light menarik nafas. Dia sudah 13 kali menceritakannya, mau berapa kali sampai dia puas? "Aku pergi ke 'dokter' bersama Ryuuzaki untuk pemeriksaan kesehatan. Setelah itu seharian di ruang penyelidikan" walau aku tak punya ingatan sama sekali tentang itu "Dan itu saja…" sebenarnya begitu aku bisa mengingat semuanya, aku ada di toilet dan memuntahkan sesuatu. Yah, Ryuuzaki berdiri di sampingku dengan mata memelas sambil berkata 'sayang sekali…'.
"Hanya seperti itu? Lalu kenapa Ryuuzaki bilang" Misa berdiri, meniru gaya Ryuuzaki dengan tubuh membungkuk dan membelelakkan mata agar sama besar dengan milik Ryuuzaki "katanya 'Misa-san… kejadian kemarin malam itu RA-HA-SI-A'" Misa meletakkan jari telunjuknya di bibir dan mengerling pada Light. "Rahasia Kita… " Misa memasang senyum khas Ryuuzaki.
Mirip…
"Ryuuzaki dan Light punya rahasia berdua ya?!"Misa menggebrak meja dan mencondongkan tubuhnya, dengan meja yang membatasi mereka, hingga wajahnya berjarak sejengkal dari wajah Light. "Apa penjelasan Light untuk itu?"
"Amane-san… bukannya tadi sudah 13 kali Light-kun mengatakan kalau aku hanya bercanda"
Light menoleh pada Ryuuzaki yang duduk di sebelahnya. Makhluk yang secara biologis digolongkan sebagai ras manusia itu kini memegangi selembar brosur penuh gambar dengan telunjuk dan jempolnya. Dia melihat brosur itu penuh minat. "Amane-san hanya salah paham"
Light menghempaskan punggungnya ke sofa. Setelah dari tadi diam baru kali ini kau bicara, Ryuuzaki. Setelah sengaja membuat kesalahpahaman kau membantuku meluruskannya. Apa sebenarnya niatmu … L?
Misa kembali duduk dan memasang wajah 'gadis yang lega karena lulus ujian'. "Kalau Ryuuzaki sudah bilang seperti itu Misa percaya!" Misa tertawa riang.
Ryuuzaki melipat brosur dan memasukkannya ke saku celana, dia mengarahkan pandangan mata kepada Misa dan memberikan senyuman yang ganjil. "Syukurlah…"
Di kepala light mulai bermunculan 'penjelasan rasional atas kelakuan tak logis Ryuuzaki', ketika telpon di kamar berdering. Misa berlari dan menyambutnya. "Ya… Misa disini... Eh, syuting lagi?... Matsuuuu jangan kejam begitu doong… iya,iya… Misa siap-siap kok!"
Misa meletakkan gagang telepon lalu berlari kecil dan merangkul Light. "Maaf ya Light… Misa harus meninggalkan Light untuk bekerja… tapi tenang… Misa ngga akan selingkuh kok"
Selingkuh? Sejak kapan aku punya hubungan denganmu? Itu yang sebenarnya ingin di katakan Light. Tapi sikap gentlemannya melarang. Jadi yang keluar hanya deheman tak jelas.
"Bye Bye Light, Bye Bye Ryuuzaki" Misa menghilang di balik pintu diantarkan oleh pandangan light dan… Ryuuzaki yang memainkan Strawberi di dasar piringnya dengan garpu.
"Misa sudah pergi, sepertinya sekarang kita juga harus pergi Ryuuzaki. Tak sopan berada di kamar seorang wanita sementara orangnya tak ada" entah kenapa, Light merasa perlu menjelaskan semua yang berkaitan dengan norma sosial secara jelas bila bicara dengan Ryuuzaki.
Ryuuzaki melirik jam dinding lalu menusuk strawbery dengan garpunya. "Light, apa huruf pertama alfabet?" pertanyaan Ryuuzaki -yang mendadak- membuat Light bingung. "Jawab saja…"
"Huruf A"
Bersamaan dengan terucapnya A, dengan kecepatan cahaya (mungkin) Ryuuzaki mengarahkan garpu plus strawbery ke mulut Light. Dan… bagaikan sebuah tendangan penentu kemenangan di Final Piala dunia! GOOLLL!!
Light spontan menutup mulutnya dan merasakan sebuah strawberi telah bersarang di mulutnya. Wajahnya kecut.
Ryuuzaki memainkan garpu di tangannya. "Sudah kuduga, asam. Aku tidak suka strawbery yang asam"
Light tidak bisa menanggapi karena sekarang ada strawbery dalam mulutnya. Dia baru saja akan mengolah sang buah ketika Ryuuzaki berjalan ke arah pintu keluar. "Tidak sopan berada di kamar lady, sementara orangnya tidak ada" gumam Ryuuzaki pelan.
Light tanpa protes, lebih tepatnya tak bisa protes, berdiri dan mengikuti Ryuuzaki. Tepat ketika Ryuuzaki memegang kenop pintu, Pria berambut hitam itu menoleh dan menatap Light dengan mata penuh ide. Mata brilian sang jenius.
"Light-kun.. setelah ini tak usah kembali ke ruang penyelidikan…"
Light menelan strawberinya. "?"
Ryuuzaki meraih lengan Light, menggandengnya seperti anak-anak. "lebih baik Ke kamar saja dan melanjutkan permainan kita…"
Otak light dengan segera mengolah susunan kata Ryuuzaki. Sementara Ryuuzaki telah membuka pintu dan membawa dua tubuh remaja-dewasa itu berpindah dari kamar Misa ke lorong yang kosong.
"Ryuuzaki apa maksudmu dengan 'permainan kita'?" Tanya light akhirnya ketika sistem pengolahan kata di otaknya mengalami jalan buntu. Dia berjalan di belakang Ryuuzaki, berharap Ryuuzaki mau berhenti dan menjelaskannya, tapi itu tak terjadi.
"Bukan apa-apa…" Ryuuzaki terus berjalan menuju kamarnya dan Light "Aku hanya terpikirkan sebuah permainan dengan taruhan yang manis" intonasi Ryuuzaki saat mengucapkan manis, secara ajaib membuat Light merinding.
"Ryuuzaki, kau merencanakan sesuatu…"
Ryuuzaki mendadak berhenti, teringat sesuatu. Dia menggigiti kukunya, masih memunggungi Light. "Aku tadi meminta Watari untuk mematikan audio sampai jam 4.50…"
Light tersentak, dia melihat jam di tangannya, 4.59, tubuhnya membatu sejenak lalu seperti mendapat serangan sejuta volt berteriak
"AYAH!!"
Perkataan Ryuuzaki "lebih baik Ke kamar saja dan melanjutkan permainan kita…". akan jadi kunci chapter berikutnya! Mew udah kasi clue di chapter 2 & 3 tentang taruhan manis ala Ryuuzaki. /cat's grin/
Kasian Oom Yagami, harus mendengarkan…kata-kata itu. gimana nasibnya? Mew serahkan sama pembaca.
Next!
Aku hanya bisa memandangi Ryuuzaki. Hanya bisa memandangnya.. melihatnya… menatapnya… dan memandanginya… dan memandangnya… demi ayah, aku harus melakukan ini. Tapi… apa yang…!!... Ryuuzaki apa yang kau lakukan?!
4. Sugar Tower
Review meWw…?
