Tittle : Playful Love chapter 3
Pairing : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Xi Luhan, Oh Sehun, Lee Hyorin, and other.
Genre : Yaoi ( Boy x boy ), Mature scene, Romance, sisanya tebak sendiri.
Hello..hello..
Maaf baru bisa update, ada sedikit gangguan dan aku gak bisa masuk ke ffn , jadilah aku minta tolong temen aku dan syukurnya ini bisa tapi dia sibuk banget jadi sulit nyari waktu kosong. Maaf atas keterlambatannya ya :) ini chapter 3 nya aku harap kalian suka dan jangan lupa review ya..
Oh iya, review yang masuk gak bisa aku bales satu-satu, tapi aku udah baca kok dan semua bikin aku ngakak ketawa. Di chapter 3 ini mudah-mudahan gak ngebosenin. Terus karena sebagian ada yang minta NC nya dikurangi, dan sebagian minta dibanyakin jadinya aku ambil jalan tengah.. Semoga kalian suka :)
#####
Warning :
Banyak adegan dewasa tanpa cut, tanpa sensor jadi kuatkan iman dan lebarkan mata anda saat membaca.
Tidak diperuntukan bagi anak di bawah umur, anak masih polos, anak belum tercemar, orang lanjut usia dan wanita hamil ( ? )
Dilarang keras mencopy paste, atau memplagiat dan menyebar luaskan tanpa izin ( belagu banget ya ? hahaha), menghina dan mencaci author, menganggap cerita ini nyata, membenci pemain di cerita karena tidak suka dengan karakternya.
Indikasi : Menghilangkan kantuk, meningkatkan hormon, meningkatkan libido, menambah hormon adrenalin.
Efek samping : Mual, muntah, kejang-kejang, susah tidur, tidak enak makan, tidak enak tidur, kepikiran, dan penasaran.
…
…
….
Playful Love
Chapter 3
By : ParkShiTa
…
…
…
Previous chapter
Desahan mereka terdengar saling bersahutan. Baekhyun tersentak-sentak sesuai dengan irama gerakan Chanyeol. Sesekali Baekhyun meremas pantat Chanyeol, dan sesekali Chanyeol meraup bibir Baekhyun menghilangkan kesakitan Baekhyun.
"Aaahh..oohh..Chanyeol…lebih cepatt..aahh."
"Sudah sayang..aaahh…ahhh..ssshh.."
"Oohh…eeeuugghh..euuggghh.."
Tubuh Baekhyun tersentak lebih cepat. Dan ketika Chanyeol menyentuh sesuatu kenyal di dalam sana, Baekhyun melenguh dan menjemput orgasme pertamanya. Lalu kemudian di sepuluh tusukan terakhir Chanyeol menyemprotkan spermanya dalam.
"Aaahh.." mereka berdua melenguh lega. Tapi Chanyeol sepertinya belum puas. Jadi ketika ia selesai mengatur nafas, ia membalik cepat tubuh Baekhyun. Mengangkat kedua sisi kaki Baekhyun dengan lengannya. Setelah tubuh mereka kembali bersatu. Chanyeol bergerak brutal, menghajar prostat Baekhyun dengan gerakan cepat. Baekhyun melingkarkan tangannya di leher Chanyeol, menggigit pundak Chanyeol ketika ia merasakan lubangnya seperti robek.
"Aaahh..aahh..aahh..eeugghh..eeugghh.." Baekhyun mendesah dengan suara yang terdengar cepat, secepat gerakan Chanyeol di bawah sana yang membabi buta. Bahkan lebih cepat daripada ketika seseorang menembakkan peluru. Cepat. Dalam. Kasar. Dan menyakitkan.
"Aaah..oohh…Chanyeol. ini sakit."
"Tahan sayang! Tahan! Ini akan membuat kita terpuaskan ssshh..oohh.."
"Chan akuuhh mauu…" Baekhyun orgasme untuk yang kedua kalinya, dan Chanyeol masih menghajar prostat Baekhyun, namun temponya kini semakin pelan, dan di dua tusukan terakhir Chanyeol kembali menyemburkan spermanya, hingga mengaliri kedua paha Baekhyun dan menetes ke atas tanah.
"Aku rasa ini cukup. Kau harus fokus kelatihan. Kita tak memiliki banyak waktu." Ucap Baekhyun sambil menyingkirkan poni Chanyeol yang menempel di dahinya. Chanyeol mengangguk, lalu membawa tubuh keduanya keluar dari tempat persembunyian.
"Yeol, apa yang akan kau lakukan?" tanya Baekhyun.
"Berlatih." Chanyeol melingkarkan kaki Baekhyun di pingginganya. Meraih bola basket dan memantulkannya. Baekhyun melenguh kembali, gerakkan Chanyeol semakin membuat junior raksasa lelaki tinggi itu menusuk semakin dalam.
"Chan..eeugghh..eeuugghh…euggghh.."
"Kau menyukainya? Ini sensasi baru dalam bercinta Baek." Ucap Chanyeol dan kini mencoba memasukkan bola, masih dengan tubuh Baekhyun yang menempel seperti koala.
"Inihh..sakit..aaaahh..aaahh.."
"Yeol! Eeuugghh…aaahhh..oohhh.." Baekhyun kembali merasakan holenya dirobek ketika Chanyeol berlari kecil untuk mengambil bola.
"Chan akuuuhh.." Chanyeol merasakan sesuatu yang lengket mengalir di pahanya hingga ke kaki dan itu adalah sperma milik Baekhyun. Chanyeol melepaskan bola basketnya, lalu memegang pinggang Baekhyun. Mengangkat tubuh ringan itu, dan menusukkan kembali dengan arah yang berlawanan. Chanyeol bergerak cepat, hingga akhirnya ia melenguh.
"aaaahh.." Baekhyun masih melingkarkan kakinya, dan sprema Chanyeol masih menyembur deras.
"Baek, kau mau jadi kekasihku?" tanya Chanyeol sambil menatap mata Baekhyun.
"Baek, kau mau jadi kekasihku?" tanya Chanyeol sambil menatap mata Baekhyun dalam, berharap lelaki mungil di hadapannya akan mengangguk.
"Apa!?" Mata Baekhyun membulat menatap balik ke arah mata Chanyeol. Mencari sesuatu yang dia sendiri juga tak tahu. Kemudian dia mengalihkan pandangannya.
"Aku bersungguh-sungguh." Chanyeol memperbaiki posisi Baekhyun yang merosot ditubuhnya.
"Heuh sungguh ironis. Pernyataan cinta setelah melakukan seks."
….
….
….
Chapter 3
….
….
….
"Maafkan aku Baek. Mungkin kau mengharapkan seorang menyatakan perasaan padamu pada suasana yang romantis" Ucap Chanyeol dengan wajah kecewa.
"Mungkin. Tapi sama sekali tak pernah terlintas dipikiranku, ditembak oleh seorang pria. Sama sekali tak pernah." Sahut Baekhyun sambil menatap wajah Chanyeol serius. Tapi ketika maniknya bertemu dengan manik Chanyeol yang terlihat penuh harap Baekhyun tersenyum.
"Akan sangat bodoh bagiku untuk menolak perasaanmu Yeol. Iya, aku mau menjadi kekasihmu." Chanyeol memeluk Baekhyun erat, hingga Baekhyun kesulitan untuk bernafas. Ketika ada jarak diantara mereka, Chanyeol mengecup pelan dan singkat bibir Baekhyun.
"Tapi…" Baekhyun kehilangan suaranya, hal itu membuat Chanyeol menatap Baekhyun menuntut kelanjutan.
"Tapi apa Baek?"
"Bagaimana dengan ayahmu? Dia tak akan mungkin menerimaku sebagai kekasihmu. Aku lelaki dan yang terburuk adalah aku bukan anak dari kalangan atas."
"Itu menjadi urusanku. Kau tak perlu berpikir sejauh itu Baek. Dan aku senang, ternyata kau mau menerimaku." Chanyeol tersenyum dan mengelus pelan pipi Baekhyun yang berkeringat.
…
…
…
Chanyeol menggendong Baekhyun di pungunggunya sambil berjalan menuju arah rumah Baekhyun. Sepanjang perjalan mereka tertawa dan sedikit bercerita. Ketika Chanyeol mengencangkan gendonganya, Baekhyun akan meringis kesakitan. Mereka disambut dengan keterkejutan ketika ibu Baekyun membuka pintu. Awalnya ia hendak marah, tapi melihat kondisi anaknya yang "kata" Chanyeol terjatuh setelah berlatih basket, ibunya mengurungkan niatnya, dan langsung bersikap ramah ketika melihat sosok Chanyeol yang tampan dan terlihat berkelas.
"Astaga! Jadi kau Park Chanyeol, Putra dari Pengusaha sukses Park Yunho yang terkenal itu?" Baekhyun masih ingat jelas, bagaimana kim Kibum -ibunya-memekik bahagia. Dan menyetujui ketika Chanyeol berkata bahwa ia akan menginap untuk semalam. Chanyeol tersenyum, setidaknya ia sudah menakhlukan hati calon mertuanya, walaupun ia tahu ibu Baekhyun akan tetap marah ketika tahu anaknya berpacaran dengan seorang pria.
Chanyeol keluar dari kamar mandi, tubuh berkeringat membuatnya merasa risih, jadi ia meminta izin untuk mandi dan meminjam beberapa pakaian Baekhyun. Seharusnya ia tahu, jika tubuh Baekhyun itu sangat mungil, bahkan baju yang kata Baekhyun sangat kebesaran di tubuhnya sama sekali tidak pas di tubuh Chanyeol. Entah Chanyeol merasa kepalanya yang terlalu besar, hingga baju itu tak muat untuk masuk, atau kerah dikaos Baekhyun yang terlalu kecil.
Jadi ia memilih menyimpan baju itu kembali dan lebih memilih bertelanjang dada, dengan menggunakan celana olahraganya saja. Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun tertidur diatas ranjang dengan nyenyak. Lelaki mungil itu telah usai mandi lebih dulu, dan ternyata lebih memilih untuk tidur lebih dulu juga. Chanyeol berjalan pelan ke arah ranjang, sama sekali tak ingin membangunkan kekasih barunya.
Chanyeol berbaring, matanya menatap ke arah langit-langit kamar Baekhyun. Kamar itu terlalu feminim bagi Chanyeol, bahkan Baekhyun memiliki beberapa boneka yang ia pajang di atas mejanya. Juga pernak-pernik girly yang Chanyeol yakin Hyorin bahkan tak memilikinya, yang terpenting adalah aroma manis dan lembut dari kamar Baekhyun, sama seperti aroma tubuh lelaki mungil itu. Chanyeol mengangguk paham, sisi kefeminiman Baekhyun yang telah menariknya ke dalam dunia menyimpang ini. Ia tak tahu sampai kapan hubungan ini bisa terjalin, dan sampai kapan ia bisa tahan berada disamping Baekhyun tanpa menyentuhnya. Ia terkadang bingung, hal yang ia rasakan sekarang cinta atau hanya sebuah hasrat.
Chanyeol menoleh ketika merasakan pergerakan disampingnya. Disana Baekhyun berbalik menghadapnya dengan mata terpejam. Chanyeol mengenyampingkan tubuhnya, menatap lekat ke wajah malaikat disampingnya. Ia tahu, Baekhyun memang benar-benar cantik untuk ukuran pria , dan terbukti hal itu telah membuat orientasi seks Chanyeol berubah. Chanyeol memperhatikan mata Baekhyun, hidung kecilnya dan bibir mungil yang paling ia sukai. Chanyeol mendekatkan wajahnya, mengecup bibir itu secara lembut namun bertubi.
Sial! Chanyeol kembali menegang. Kenapa ia tak bisa semenitpun tak terangsang oleh Baekhyun. Tapi Chanyeol tak ingin kelepasan, Baekhyun sudah kelelahan. Sudah cukup tadi ia menghajar lubang Baekhyun tanpa ampun, dan Chanyeol tahu lubang Baekhyun pasti lecet. Chanyeol menghela nafas, mencoba mengontrol hasratnya yang kembali meledak. Ia bodoh, karena telah melakukan hal yang membuat dirinya terangsang, harusnya tadi ia segera tidur dan tidak mencium Baekhyun seperti itu.
Tapi hasrat Chanyeol seolah lebih kuat daripada logikanya, jadi ia menyerang bibir Baekhyun. Melumatnya dengan perlahan tapi dalam, Baekhyun melenguh tapi tak bangun. Mungkin lelaki kecil itu memang kelelahan. Chanyeol merapatkan tubuhnya agar bisa menggesekan batang kemaluannya dengan milik Baekhyun, dada telanjangnya ia rapatkan dan bergesekan dengan tangan Baekhyun, hal itu membuatnya semakin menggila dan beberapa menit dengan kegiatan itu Chanyeol merasa orgasmenya akan segera menjemput, jadi ia segera berjalan ke arah kamar mandi dengan cepat.
Ketika pintu kamar mandi ditutup, ketika itu Baekhyun membuka matanya. Ia tersenyum menatap ke arah pintu kamar mandi, ia tak pernah membayangkan jika seorang Park Chanyeol yang ia kagumi, malah berbalik mengagumi dirinya, tepatnya tubuhnya. Dan Baekhyun berbangga akan hal itu.
Pagi menjelang dan Chanyeol mendapati dirinya tertidur seorang diri. Ia baru sadar jika ia berada dikamar Baekhyun. Melihat tidak ada sosok Baekhyun yang seharusnya berada disampingnya, Chanyeol memutuskan untuk keluar setelah mencuci wajah dan mengenakkan seragam olahraganya lagi. Chanyeol menuruni tangga, rumah Baekhyun tidaklah besar, namun rumah itu terlihat rapi dan bersih. Bahkan aroma Baekhyun melayang-layang disekitar rumah itu, atau mungkin seluruh keluarga Baekhyun menggunakan parfum yang sama, entahlah Chanyeol tak terlalu memikirkannya, ia hanya tahu jika aroma itu telah membuatnya jatuh cinta semakin dalam.
Disana, di dapur. Berdiri Byun Baekhyun yang nampak sedang membantu Kibum memasak. Kibum yang menyadari kehadiran Chanyeol tersenyum senang, dan meminta Chanyeol untuk duduk dan mendekat. Chanyeol menyetujuinya dan mengambil duduk di meja makan yang berhadapan dengan dapur. Chanyeol tahu darimana sifat cerewet Baekhyun di dapatkan, dan terkadang kemiripian dua orang didepannya membuatnya terkikik.
"Jadi, bisa bibi tahu darimana awal hubungan kalian?" tanya Nyonya Byun, Chanyeol nyaris tersedak makananan dan Baekhyun mendadak gugup.
"Hub..Hubungan apa?" tanya Baekhyun. Kibum mengernyit.
"Hubungan pertemanan kalian Baek, Oh astaga! Kenapa anak ibu bisa bodoh begini? Demi Tuhan Baek, yang duduk dihadapan kita adalah putra dari seorang milioner, dan bagaimana bisa kau yang berasal dari kalangan biasa bisa mengenalnya." Ucap Kibum berlebihan.
"Oh soal itu Bi. Kebetulan aku adalah ketua tim basket di sekolahku, dan Baekhyun memiliki minat akan itu tapi tak memiliki bakat. Ketika ia gagal dalam audisi keduanya, aku berniat membantunya, setidaknya ia bisa memantulkan bola dengan baik. Dan oh, aku hampir lupa. Kami ini sekelas." Ucap Chanyeol dengan lancar. Nyonya Byun mengangguk mengerti.
"Jadi, secara tak langsung Chanyeol ini adalah pelatih rahasiamu Baek?" tanya Kibum lagi, dan Chanyeol maupun Baekhyun hanya mengangguk.
"Anakku ini, memang memiliki ketertarikan yang besar pada basket. Sejak kecil ia selalu ingin bisa bermain basket, bahkan ayahnya membuatkan lapangan kecil dihalaman belakang rumah ketika Baekhyun masih kanak-kanak, tapi sayang setiap mengikuti audisi di club sekolahnya ia selalu berakhir dengan mata yang berkaca-kaca. Tubuhnya yang kecil membuatnya selalu ditolak." Terang Nyonya Byun, dan Baekhyun hanya menghela nafas. Chanyeol yang melihat itu merasa Baekhyun sangat manis.
"Oh iya Bibi, nanti siang aku ada latihan lagi, berhubung tim basket sekolah kami akan bertanding dalam beberap hari, jadi bisakah aku mengajak Baekhyun untuk ikut?" tanya Chanyeol.
"Oh tentu. Tentu. Lagipula ini hari Minggu, dan dia memang jarang keluar di akhir pekan. Ia hanya akan bermalas-malasan di depan televisi, jadi menurut bibi itu ide yang bagus." Dan Chanyeol tersenyum senang.
...
...
...
Baekhyun sempat menganga melihat apartemen Chanyeol yang begitu luas. Apartemenya seluas ini, bagaimana dengan rumahnya. Begitu pemikiran seorang Byun. Chanyeol berjalan ke arah kamarnya, Baekhyun yang sempat canggung hanya mengikuti langkah Chanyeol. Mata Baekhyun tertuju pada pajangan-pajangan di atas meja ruang tamu Chanyeol yang berisi piala-piala serta beberapa piagam yang terpasang di dinding. Baekhyun baru tahu, ternyata Chanyeol sudah berbakat sejak kecil.
Baekhyun berjalan mengitari ruang tamu Chanyeol, di meja di depan tv yang besar bahkan Baekhyun melihat dengan jelas ada beberapa mainan yang semuanya berhubungan dengan basket. Di sisi lain dinding ada beberapa foto Chanyeol ketika sedang bertanding, atau ketika memegang piala. Dan yang paling menyita perhatian Baekhyun adalah sebuah foto keluarga yang cukup besar, ada Chanyeol disana dengan jas hitam yang membuatnya semakin tampan, disampingnya ada pria paruh baya yang Baekhyun tahu adalah ayah Chanyeol, dan di depan mereka duduk seorang wanita yang cantik dan anggun dengan gaun merah yang terlihat elegan dan mahal.
"Itu ibuku!" Chanyeol keluar dari kamar, dan seketika hidung Baekhyun menangkap aroma mint yang memenuhi ruang tamu. Chanyeol baru selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang basah.
"Dia cantik."
"Hm, aku tahu."
"Sepertinya wajahmu diturunkan dari ibumu." Kembali Baekhyun berucap dan Chanyeol mengangguk. Wajah Tampan dan mempesonanya memang ia dapat dari ibunya, hanya kharisma dan kewibawaannya saja yang ayahnya turunkan padanya.
"Kau mau minum apa Baek?" tanya Chanyeol.
"Ah tidak perlu Yeol. Hm, ngomong-ngomong jam berapa latihanmu?" tanya Baekhyun. Chanyeol melihat ke arah jam tangannya.
"Jam 3 sore."
"Apa? Dan kau memintaku datang jam 11 ke apartemenmu?" tanya Baekhyun. Chanyeol tersenyum, meraih bungkusan yang ia letakkan tadi diatas meja ruang tamu.
"Aku hanya ingin mengobatimu. Aku tahu lubangmu pasti lecet." Entah mengapa Baekhyun bersemu ketika Chanyeol mengatakan itu dengan frontal. Chanyeol segera menarik Baekhyun menuju sofa ruang tamu. Mendudukan tubuh Baekhyun, membantunya melepaskan jaketnya dan meletakkannya dengan rapi.
"Berbaringlah Baek, aku akan mengobatinya." Ucap Chanyeol dan Baekhyun menurut. Chanyeol membantu Baekhyun melepaskan celananya, lalu celana dalamnya. Entah mengapa Baekhyun masih merasa sedikit malu, apalagi ketika mata Chanyeol menatap lekat ke arah lubangnya dan juga kejantanannya.
"Jadi, tadi kau ke apotek untuk membeli ini?" tanya Baekhyun dan Chanyeol mengangguk.
"Aku menghajar lubangmu kemarin dengan sangat kasar, bagaimana bisa aku berpura-pura bodoh dan tak peduli." Ucap Chanyeol yang kini sedang menekan tube tersebut. Ketika jemari Chanyeol bergerak mengoles dengan gerakan lembut, Baekhyun merasa tubuhnya menegang.
Begitu pun Chanyeol, namun ia berusaha untuk menahan hasratnya. Jemari Chanyeol bergerak pelan dan semakin dalam, Chanyeol bisa melihat jika lubang Baekhyun lecet di pinggirnya. Baekhyun merasa perih dan nyaman dalam waktu bersamaan.
Tangan Baekhyun yang awal menutup wajahnya, kini bergerak turun dan tak sengaja menyentuh sesuatu milik Chanyeol yang ternyata sudah menengang.
"Chanyeol? Kau?"
"Maaf Baek!" Chanyeol segera bangkit dan meninggalkan Baekhyun yang masih menatapnya terpaku. Dia tak tahu jika seorang Chanyeol akan terangsang secepat itu. Chanyeol berjalan ke dapur, mencuci tangannya lalu mengambil air di dalam kulkas. Meneguknya dengan cepat, ia hanya ingin menghilangkan hasrat sialannya, kenapa ia bisa menjadi pria mesum seperti ini. Ia mengumpat hormon sialanya dalam hati.
"Chanyeol?" suara Baekhyun terdengar rendah dan serak, dan itu terdengar seperti desahan di telinga Chanyeol.
"Baek, menjauh dariku! Aku mohon!" Chanyeol berucap tanpa menatap Baekhyun, tangannya masih terpaku di depan pintu kulkas.
"Kenapa? Karena setiap berada di dekatku kau akan terangsang?" Baekhyun mencoba berjalan mendekat.
"Kau sudah tahu itu, jadi sebaiknya kau menjauhiku dulu Baek, setidaknya sampai lubangmu sembuh." Ucap Chanyeol. Baekhyun tersenyum, lalu memegang pundak Chanyeol.
"Hei! Aku tak masalah sama sekali Chanyeol. Jika hasratmu menggebu-gebu, jika kau ingin menyentuhku. Kau bisa melakukannya, aku tak akan masalah. Itu memang sakit, tapi aku mencintaimu dan setiap aku mengingat itu rasa sakit itu akan sirna."
"Tidak Baek! Aku seperti serigala kelaparan ketika melihatmu. Kau ingat? Kita sudah dua kali melakukan seks, dan selalu saja aku menghajarmu tanpa ampun."
"Tebak apa! Aku memang membayangkan itu setiap malam Yeol. Kau yang menusukku dengan liar dan brutal." Baekhyun berucap untuk menghibur Chanyeol.
"Baekhyun?"
"Chanyeol. Dengarkan aku! Aku bahkan tak pernah membayangkan akan menjadi kekasihmu, sama sekali tak pernah Yeol. Dan sekarang? Apa yang lebih membuatku menjadi orang beruntung ketika menjadi kekasih seorang Park Chanyeol, dan tubuhku dipuja sedemikian rupa?" Baekhyun mendekat, melingkarkan kedua tangannya di leher Chanyeol.
"Jika hasratmu memang meledak, lakukan! Lakukan itu padaku, kapanpun kau mau, dimana pun, lakukan itu Yeol! Karena aku akan sangat menyukainya. Jangan pikirkan tentang lubangku yang kesakitan atau tidak, karena ketika kau mendengar aku mendesah itu artinya aku merasakan nikmat yang sama." Baekhyun mendekatkan lidahnya untuk menjilat bibir Chanyeol. Baekhyun tak tahu kenapa dia berkata demikian, yang dia inginkan hanyalah membuat Chanyeol senang dan tidak kecewa padanya.
"Jadi? Dimana kita akan melakukannya sekarang?" tanya Baekhyun nakal, Chanyeol masih termenung namun setelahnya ia tersenyum.
"Kau menginginkan di dapur?" tanya Chanyeol sambil menyeringai. Baekhyun nampak berpikir.
"Boleh juga, kita belum pernah mencobanya bukan?" ucap Baekhyun lalu menarik leher Chanyeol dan menciumnya. Menyalurkan nafsu mereka. Bibir mereka bertautan dalam,basah, lengket, hangat dan manis. Mereka menyukai sensasi bibir masing-masing. Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun ke atas meja dapur, masih dengan bibir yang saling bertautan. Bibir Chanyeol beralih pada leher Baekhyun yang terekspos, menjilat dan menggigit kecil. Baekhyun mengangkat kedua tangannya keudara ketika jemari Chanyeol melepas pakaiannya.
Chanyeol tersenyum ketika melihat hasil karyanya kemarin sore. Menatap setiap inchi tubuh Baekhyun, dan Baekhyun memalingkan wajahnya, entah mengapa ia masih sedikit merasa malu dengan tatapan intens dari Chanyeol.
"Apa kau hanya akan menatapku seperti itu?" ucap Baekhyun tanpa menatap Chanyeol. Chanyeol menyeringai ketika tersadar, lalu ia menolehkan kepala Baekhyun ke arahnya dan kembali meraup bibir itu dengan kasar dan dalam.
Chanyeol menjilat dan menggigit putting Baekhyun, salah satu kegiatan yang paling ia suka ketika bercinta dengan Baekhyun. Dada Baekhyun memang tidak sebesar dada wanita diluaran sana, tapi entah mengapa Chanyeol selalu merasa kehilangan kendali ketika bibirnya menyentuh putting menegang itu.
"Eeuummhh.." Baekhyun menahan desahannya. Baginya ini terlalu nikmat. Ia mendorong pelan kepala Chanyeol yang masih menyusu padanya seperti bayi raksasa.
"Jangan buang-buang waktu. Kita tidak butuh pemanasan. Ingat kau akan berlatih setelah ini Yeol." Baekhyun memperingatkan sambil tersenyum ke arah Chanyeol. Chanyeol tak menjawab hanya menyerang kembali bibir Baekhyun.
Lalu dengan gerakan cepat seolah sudah terlatih, Chanyeol menurunkan celana Baekhyun, kemudian menurunkan celananya sendiri, tanpa melepasnya. Celana pendek tak bersalah itu hanya menggelantung di kedua betisnya tak tentu arah.
Chanyeol menarik kedua paha dalam Baekhyun, sehingga tubuh Baekhyun nyaris terpentuk rak kayu diatasnya. Baekhyun menggenggam junior Chanyeol, mengocoknya cepat. Chanyeol mendongak dengan mata tertutup.
"Aaahh…Baek..lebih cepaattt…aahh..aahh.." Chanyeol mendesah. Dan Baekhyun merasa bangga akan itu. Jiwa bitchy nya ternyata sudah mengusai dirinya. Baekhyun yang polos dan lugu, telah berganti dengan Baekhyun yang nakal dan agresif. Tapi mungkin hanya berlaku diatas ranjang dan itu hanya bila lawan mainnya adalah Chanyeol.
Tanpa banyak basa-basi, Chanyeol melepaskan cengkraman Baekhyun dari juniornya. Lalu mengarahkan juniornya kelubang berkedut milik Baekhyun.
"Aaakkkhhh.." Baekhyun memekik kesakitan. Lubangnya yang sudah lecet, bahkan mungkin salep yang dioleskan Chanyeol belum bekerja sepenuhnya. Dan sekarang harus merasakan batang panjang dan besar milik Chanyeol kembali. Chanyeol tak bergerak, bagaimana pun ia tak tega melihat Baekhyun kesakitan.
Chanyeol mencaci dirinya sendiri, bisa-bisanya ia lebih mementingkan nafsunya ketimbang kekasihnya sendiri.
"Baek, maafkan aku!" bisik Chanyeol dengan wajah tertunduk. Baekhyun yang masih mengernyit kesakitan menatap Chanyeol. Ia menghela nafas, lalu meraih wajah Chanyeol.
"Hei! Kenapa kau minta maaf Yeol. Kau tak salah, aku juga menyukainya Yeol." Ucap Baekhyun. Sebenarnya ia sangat merasa kesakitan, dan lebih berharap jika saat ini bisa berbaring di atas kasur yang empuk ditemani selimut hangat. Tapi ia terlalu dibutakan oleh cintanya terhadap Chanyeol.
Baekhyun turun dari atas meja, berjalan ke arah Chanyeol dengan wajah menggoda, Baekhyun benar-benar terlihat seperti pelacur kelas atas. Menarik tengkuk Chanyeol, lalu menciumnya ganas. Ketika tautan mereka terlepas, Baekhyun berdiri disamping Chanyeol, lalu menyingkirkan semua benda yang ada di atas meja bar.
Tubuh mungilnya menaiki meja bar, dan ia tidur terlentang diatas sana. Chanyeol mengernyit heran melihat tingkah Baekhyun yang sangat nakal.
"Tuan Park! Bisakah kau masukki aku sekarang? Tubuhku benar-benar menginginkan ini.." Baekhyun menggerakkan ibu jari kakinya dengan sensual di batang kemaluan Chanyeol hingga batang itu tegak kembali.
"Didalam sini." Lalu ia mengangkang.
"Kau yakin Baek?" Chanyeol bertanya menyakinkan.
"Apa aku terlihat bercanda?" suara Baekhyun terdengar mendesah. Dan tanpa pikir panjang Chanyeol segera memasukkan juniornya.
"Aaakkhh.." Baekhyun memekik kembali, sambil menggapai sebuah jeruk disisi kirinya. Jemarinya meremas itu kuat, ini jauh lebih sakit daripada pertama kali mereka melakukannya.
"Bergerak Chanyeol!aaahhh…" Baekhyun membuat suara-suara seksi untuk menggoda Chanyeol, padahal di dalam hatinya ia ingin berteriak kesakitan.
"Aaahh..ssshh…Baekk… ooohh…aahh.. Baekhyun..aaahh." Gerakan –gerakan Chanyeol diiringi oleh suara desahannya. Gerakan Chanyeol sangat cepat, mungkin ia lupa arti kata lambat bila sedang mengerjai tubuh Baekhyun.
Tubuh Baekhyun tersentak-sentak, ia memejamkan matanya. Ia merasakan sakit yang luar biasa, tapi ketika Chanyeol meraih jemarinya dan menarik tubuhnya mendekat Baekhyun membuka matanya. Ia memegang kedua lengan Chanyeol dengan tubuh tersentak-sentak.
"Aaahh..Chanyeol… lebih ..aahhh.."
"Baek..Ini nikmat aaahhh.."
"Teruss Yeol…aaahh…ahh.. teruss.."
Disetiap hentakan Chanyeol, remasan Baekhyun di lengan Chanyeol akan semakin erat hingga lengan Chanyeol memerah. Tapi keduanya tak ada yang peduli, mereka hanya butuh mencapai klimaks dengan segera.
"Chan..oohh…lebih dalam..aahh… akuhh..akuhh.. sampai..aaahh." Baekhyun menjemput orgasmenya paling pertama, Chanyeol mempercepat gerakannya. Masuk lalu keluar, dan begitu terus hingga delapan tusukan terakhir.
"Haaahh.." Sperma Chanyeol menyembur dengan dalam. Cairan kental itu memenuhi lubang Baekhyun, hingga merembes keluar. Baekhyun lemas, ia mengatur nafasnya. Ketika Chanyeol bernafas lega, ia menarik kedua lengan Baekhyun dan memeluknya. Tubuh mereka sama-sama lengket, dan Chanyeol rasa ia harus mandi lagi.
"Baek. Lain kali jangan pernah memintaku untuk melakukan ini jika kau sendiri kesakitan. Aku seperti setan jika berhadapan dengan tubuhmu, dan tidak akan memberi ampun. Jadi…" ucapan Chanyeol terputus, karena Baekhyun meletakkan ibu jarinya di bibir Chanyeol.
"Jadi, hajar terus lubangku sehingga aku akan terus mendesahkan namamu, hingga aku tak sadarkan diri." Ucap Baekhyun lalu mengecup bibir Chanyeol kilat.
Ia terlalu beruntung untuk mendapatkan Chanyeol, jadi sebisa mungkin ia ingin membuat Chanyeol puas, tidak ingin mengecewakan Chanyeol walaupun itu berarti ia harus membuka kedua pahanya lebar-lebar setiap saat. Yang ia tahu, ia sangat, sangat dan sangat mencintai Park Chanyeol.
…
…
…
Baekhyun bertepuk tangan ketika Chanyeol berhasil memasukan bola ke dalam ring. Ini memang hari Minggu, dan kegiatan belajar mengajar di sekolah ditiadakan, namun bagi tim basket sekolah mereka yang akan bertanding 3 hari lagi, kata libur akan dicoret dalam kamus mereka. Senyum Baekhyun sama merekahnya dengan senyum Minho dan pelatih mereka. Sesekali Chanyeol melirik ke arah Baekhyun ketika ia sedang memantulkan atau mengoper bola dan akan mengedipkan satu matanya nakal ketika ia berhasil mencetak angka.
Sang pelatih memberikan banyak pujian pada Chanyeol hari ini, dan anggota tim yang lain juga nampak senang, akhirnya mood kapten mereka kembali lagi. Minho yang selalu memperhatikan Chanyeol, sedikit mengernyit ketika ia selalu mendapati Chanyeol melihat kesisi lapangan, dan disana ia dapat melihat sosok kecil yang selalu ada setiap mereka latihan ataupun bertanding. Namun bedanya, kali ini Chanyeol menghargai eksistensi itu. Padahal biasanya ketika Chanyeol sudah terjun kelapangan, orang-orang yang berada diluar lapangan hanyalah batu bagi Chanyeol, begitu yang Minho tahu.
"Hei Yeol-ah!" Minho berlari dan mengalungkan lengannya pada pundak Chanyeol ketika Chanyeol akan berlari ke sisi lapangan untuk menyapa Baekhyun.
"Hei! Ada apa?" tanya Chanyeol dan ia mengurungkan niatnya. Minho memberi sebotol air mineral untuk Chanyeol dan Chanyeol menerimanya dengan senang hati.
"Apa kau yang mengajak lelaki itu?" tanya Minho sambil menunjuk keberadaan Baekhyun dengan dagunya, Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun yang sedang memainkan ponselnya.
"Iya."
"Bagaimana bisa?"
"Apanya?" tanya Chanyeol tak mengerti dan melepaskan rangkulan tangan Minho, jujur ia sedikit risih.
"Kau! Kenapa bisa mengenal lelaki berisik itu?"
"Oh. Ia datang padaku dan memintaku mengajarinya. Lagipula aku kasihan padanya, ini sudah tahun kedua tapi ia tetap tidak lulus audisi."
"Itu karena ia tidak berbakat sama sekali. Dan oh iya, sepertinya kau harus berhati-hati dengannya."
"Kenapa?" tanya Chanyeol lagi.
"Aku dengar dia memiliki ketertarikan pada Hyorin. Jaga kekasihmu kawan!" ucap Minho dan Chanyeol menatap Minho , pura-pura terkejut.
"Hei! Hyorin tak mungkin berpaling dariku, untuk lelaki seperti dia." Ucap Chanyeol sambil tersenyum angkuh, dan Minho terkikik. Lalu mereka kembali ketengah lapangan ketika pelatih membunyikan peluitnya.
Latihan selesai dan kini Chanyeol dan Baekhyun berjalan berdampingan. Sesekali Chanyeol melirik Baekhyun yang selalu sibuk dengan ponselnya, dan Chanyeol membenci fakta ketika kehadirannya sama sekali tak dihargai.
"Kau tahu Baek?" ucap Chanyeol dan Baekhyun menoleh sekilas lalu kembali menatap ponselnya.
"Apa?"
"Sekarang ponselmu masuk sebagai hal yang paling aku benci di dunia ini." Ucap Chanyeol lalu berjalan mendahului Baekhyun. Baekhyun terkesiap dan ia merutuki dirinya, ia baru ingat sejak tadi ia terlalu sibuk dengan ponsel miliknya.
"Chanyeol tunggu!" Baekhyun berlari secepat yang ia bisa untuk mengejar Chanyeol.
"Hei! Kau marah?" tanya Baekhyun. Chanyeol diam, dan tetap berjalan.
"Yeol!" Baekhyun sedikit merengek.
"Menurutmu?" Chanyeol berhenti dan menatap Baekhyun. Baekhyun menghela nafas.
"Aku minta maaf. Ada gadis berisik yang terus mengangguku sejak tadi."
"Dan kau meladeninya?" tanya Chanyeol.
"Tidak. Aku hanya membalas ucapannya yang menurutku tidak sopan." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol menghela nafas lalu mendorong pelipis Baekhyun dengan telunjuknya.
"Sama saja bodoh."
"Yeol!" Baekhyun kembali memanggil namanya.
"Aku tidak senang ketika ia mengancamku. Itu benar-benar mengangguku."
"Boleh aku tahu siapa dia?" tanya Chanyeol dengan suara yang terdengar lembut.
"Kau tak perlu tahu."
"Apa dia Kim Taeyeon?" tanya Chanyeol dan Baekhyun memandang Chanyeol tak percaya.
"Hm. Kau benar. Gadis itu benar-benar licik. Dia mengancamku."
"Semenakutkan apa ancamannya? Aku penasaran." Ucap Chanyeol.
"Dia mengancam akan membeberkan berita tentang aku yang menyukai Hyorin." Ucap Baekhyun, dan Chanyeol tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Baekhyun protes.
"Hei! Dengar! Itu adalah ancaman yang sepadan ketika seorang mengancam akan mengambil permen dari seorang anak kecil jika ia tidak mau menuruti kemauannya. Ayolah Baek, itu hanya ancaman biasa, sama sekali tidak mengancam keselamatan jiwamu." Ucap Chanyeol.
"Tapi itu tetap saja menganggu Yeol. Bagaimana kalau sekolah sampai tahu? Itu pasti menjadi hal yang memalukan. Lagipula dia itu bodoh atau bagaimana? Memangnya apa yang membuatku terlihat menyukai Hyorin?" ucap Baekhyun.
"Ya sudah kau tinggal katakan itu padanya. Tanyakan apa buktinya, dan darimana ia bisa mengambil kesimpulan!" ucap Chanyeol lagi dan Baekhyun mengangguk, lalu mengetik beberapa pesan. Chanyeol menghela nafas pelan lalu meninggalkan Baekhyun. Baekhyun tak menyadarinya, ketika ia mendongak dan melihat kesamping Chanyeol telah hilang. Dan lelaki mungil itu mendapati Chanyeol berjalan beberapa meter di depannya.
"Hei Yeol! Kenapa meninggalkanku?"
"Aku masih marah, asal kau tahu Tuan Byun." Ucap Chanyeol.
"Aku akan membelikanmu es krim." Ucap Baekhyun dan Chanyeol menggeleng masih berjalan mendahului Baekhyun.
"Rasa stroberi." Kembali Baekhyun berucap.
"Aku tak suka."
"Dua es krim rasa pisang?"
"Tidak mempan."
"Dua es krim + 1 buah pancake coklat?"
"Maaf, tidak merubah apapun." Chanyeol kembali berucap dan sedikit menyeringai tanpa diketahui oleh Baekhyun. Baekhyun berlari dan meraih tangan Chanyeol, lalu sedikit menjinjit untuk membisikan sesuatu.
"Okay deal!" ucap Chanyeol lalu merangkul pundak Baekhyun sambil tersenyum senang. Baekhyun menggeleng pelan sambil tersenyum. Dan mereka berjalan beriringan menuju apartemen Chanyeol.
"Bagaimana dengan, aku yang menginap di apartemenmu malam ini. Lalu kau bisa melakukan apapun padaku sampai kau puas? Ini penawaran terakhir dan aku tak punya ide lagi."
…
…
…
Baekhyun sedang merapikan seragam sekolahnya serta buku pelajaran yang akan ia gunakan besok, setelah tadi Chanyeol mengantarnya kerumah untuk mengambil barang-barang tersebut dan meminta izin pada kedua orangtua Baekhyun, yang ternyata menyetujuinya. Baekhyun mengamati kamar Chanyeol yang sangat besar, terlihat sederhana namun terkesan elegan. Tidak banyak barang-barang yang Chanyeol simpan, lebih tepatnya hanya barang-barang yang memiliki fungsi saja yang berada dikamarnya. Tidak penuh dan sesak seperti kamar Baekhyun yang lebih mirip dengan kamar perempuan.
Mata Baekhyun tertuju pada tirai yang tertiup angin, disana ada sebuah balkon yang cukup besar. Dengan sebuah kasur panjang bersantai, meja bundar kecil dengan dua buah kursi,sebuah kursi goyang dan beberapa pot bunga. Baekhyun berjalan keluar dan angin malam langsung menerpa wajahnya hingga beberapa helain rambutnya terangkat. Benar-benar indah, pemandangan kota Seoul malam dan terlihat dari atas ternyata seindah ini.
"Apa yang kau lakukan diluar Baek? Disini dingin." Ucap Chanyeol yang tiba-tiba berdiri di pintu kaca balkon. Baekhyun menoleh lalu tersenyum.
"Ini indah Yeol." Ucap Baekhyun dan Chanyeol mengangguk lalu berjalan mendekat. Baekhyun dapat mencium aroma shampoo dan sabun mahal milik Park Chanyeol.
"Iya. Sama seperti dirimu." ucapChanyeol lalu mengecup leher Baekhyun.
"Chanyeol, Aku jadi berpikir. Jika dunia seindah ini, kenapa cinta sesama jenis tidak dianggap indah? Kenapa itu harus dianggap hal yang menjijikan?" tanya Baekhyun dan Chanyeol mengeratkan pelukannya.
"Dengar Baek. Tidak semua orang menganggap dunia ini indah. Jika semua orang memiliki pemikiran yang sama, maka berita tentang kasus bunuh diri itu adalah kebohongan. Karena setiap sudut pandang orang berbeda." Ucap Chanyeol.
"Jadi sampai kapanpun percintaan sesama jenis akan dianggap hal yang menjijikan?"
"Mungkin iya, mungkin tidak. Buktinya diluar sana ada cukup banyak orang yang menerimanya." Ucap Chanyeol lagi, lalu membalik tubuh Baekhyun.
"Jadi. Apa sejauh itu pemikiran seorang Byun Baekhyun sekarang? Apa kau menyesal karena telah menjadi salah satunya?" tanya Chanyeol dan Baekhyun menggeleng.
"Seharusnya aku yang bertanya Yeol. Apa kau menyesal karena menerima pernyataan cintaku?" Chanyeol tersenyum lalu memeluk Baekhyun.
"Ayo kita masuk! Ada banyak pasang mata diluaran sana." Ucap Chanyeol sambil menggiring Baekhyun kembali kekamar. Chanyeol menutup jendela sekaligus pintu balkon tersebut, lalu menutup tirainya.
"Baek? Kau tak ingat dengan janjimu tadi sore?" tanya Chanyeol dan Baekhyun mengangguk. Baekhyun naik keatas ranjang , bersandar pada kepala ranjang, membuka satu persatu kancing piyamanya lalu melemparnya sembarang.
"Sesuai janjiku Tuan Park, silahkan nikmati aku!" ucap Baekhyun nakal. Chanyeol tersenyum lalu menghimpit tubuh Baekhyun dan menciumnya.
Memegang kepala Baekhyun dengan kedua telapak tangannya, menyatukan bibir mereka dengan mesra. Chanyeol mengeratkan tangkupan tangannya pada wajah Baekhyun, memperdalam ciumannya. Baekhyun hanya mampu membuka mulut namun matanya tertutup erat.
Chanyeol benar-benar memiliki hasrat bercinta yang besar, dan Baekhyun tahu itu. Ia mencoba mengimbangi lidah Chanyeol yang dengan lihai mendorong dan mengaitkan pada lidahnya. Terkadang Chanyeol menyedot dengan keras lidah Baekhyun, ataupun bibir bagian bawahnya hingga membuat Baekhyun mengernyit sakit, namun sayangnya dia menyukai itu.
Baginya semua sentuhan yang Chanyeol berikan adalah hal yang paling membuatnya mabuk dan lupa daratan. Seperti saat ini, dimana ketika jemari Chanyeol bergerak perlahan menuju punggungnya, mengusapnya dengan lembut dan dalam.
Baekhyun melepaskan tautannya dan menatap Chanyeol. Chanyeol sedikit memiringkan kepalanya, merasa bingung dengan arti tatapan Baekhyun.
"Yeol, tidakkah aku terlihat murahan dimatamu?" tanya Baekhyun. Chanyeol mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Chanyeol sedikit tidak menyukai pertanyaan Baekhyun, apalagi di tengah-tengah percintaan mereka.
"Kita baru berpacaran beberapa hari, dan kita sudah bercinta berulang kali. Tidakkah itu terlihat seperti aku seorang lelaki murahan?"
"Hei, Baek! Apa bercinta dengan kekasihmu bisa disebut murahan?" tanya Chanyeol sambil menggerakan jemarinya di sekitar pipi Baekhyun, membelainya lembut.
"Tapi Yeol, bahkan kita sudah bercinta dihari pertama kita bicara setelah dua tahun tak menyapa, dimana ketika itu aku belum menjadi kekasihmu." Ucap Baekhyun lagi, ia masih menatap Chanyeol namun tatapannya menyiratkan sebuah perasaan yang sulit ditebak oleh kekasihnya.
" Aku tidak mengerti Baek, sama sekali tidak mengerti dengan topik pembicaraanmu." Ucap Chanyeol, ia mendesah kecewa lalu turun dari tubuh Baekhyun dan bersandar di kepala ranjang, tepat disamping Baekhyun.
" Aku tidak memiliki maksud lain Yeol, aku hanya ingin tahu seperti apa aku dimatamu. Apakah aku terlihat menjijikan, sama seperti ketika kau mengetahui tentang perasaanku?" Baekhyun menundukan kepalanya. Ia sama sekali tak bermaksud merusak acara bercinta mereka, namun Baekhyun hanya ingin tahu.
"Baek! Aku sama sekali tak pernah menganggapmu menjijikan, bahkan ketika kau menyatakan perasaanmu. Aku sudah bercinta denganmu sebelum itu, dan aku sama sekali tak merasakan sesuatu yang menjijikan. Mungkin kau masih memikirkan tentang penolakanku, aku minta maaf Baek, aku hanya belum yakin ketika itu. Aku sama sekali tak menganggapmu menjijikan, apalagi murahan. Aku bersumpah." Chanyeol berucap dengan sungguh-sungguh, Baekhyun bisa merasakannya dan melihat dari sorot mata Chanyeol yang menatapnya dalam.
" Aku percaya Yeol, tentu aku percaya. Hanya saja aku ingin tahu, seperti apa aku dimatamu."
"Kau…Kau jauh lebih indah daripada bintang yang bersinar di malam hari, dari bias cahaya matahari di atas air laut, dari pemandangan kota yang terlihat dari atas pegunungan. Kau jauh lebih indah dari karya sastra William Shakespares, kau jauh lebih indah dari alunan nada yang diciptakan Beethoven, lebih cantik dari bunga pertama yang mekar di musim semi, dari salju pertama yang turun di Bulan Desember. Kau jauh lebih indah dan cantik dari itu Baek. Semua yang ada pada dirimu sangat indah, semua tak ada pengecualian. Dan aku telah jatuh terlalu dalam pada pesonamu Baek."
"Chanyeol?" Baekhyun berkata dengan suara yang bergetar. Ia merasa terharu dengan semua ucapan kekasih raksasanya.
"Aku bukan hanya memandangmu sebagai pemuas hasratku. Tidak sama sekali. Aku mencintaimu, dan tubuh ini memang selalu membuatku kecanduan. Aku bercinta denganmu karena rasa cintaku dan hasratku yang bercampur menjadi satu. Disetiap sentuhanku selalu ada cinta yang terselip Baek, aku memang sedikit kasar ketika menyentuhmu, tapi aku berani bersumpah jika setiap inchi bagian tubuhmu yang aku sentuh ada cinta yang tersalurkan di dalamnya." Chanyeol kembali melanjutkan ucapannya.
Baekhyun tersenyum, ia meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya. Mencium bibir kekasihnya berulang kali. Ini sudah cukup, ia sudah tahu seberharga apa dirinya di mata Chanyeol. Ia tak meragukannya lagi. Apa yang Chanyeol katakan memang benar. Percintaan mereka bisa dibilang sedikit kasar, namun Baekhyun tahu sentuhan-sentuhan yang Chanyeol berikan berlandaskan cinta.
"Maafkan aku Yeol. Aku telah merusak acara kita." Ucap Baekhyun. Chanyeol tersenyum, melepaskan tangannya dari genggaman Baekhyun dan beralih memegang pipi putih Baekhyun.
"Tidak apa-apa Baek, kau pantas menanyakannya. Dan aku meminta maaf padamu, karena tidak bisa mengendalikan hasratku ketika berada disampingmu." Baekhyun tersenyum, beitu juga Chanyeol. Mereka terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan membawanya turun ke dadanya.
"Ayo lanjutkan Yeol!"
"Kau yakin?"
"Tentu."
"Tidak akan menanyakan hal-hal aneh lagi di tengah-tengah acara kita?"
"Hahaha..tidak akan Yeol."
"Baiklah. Darimana aku bisa memulai Baek?"
"Sesukamu. Tubuhku adalah milikmu." Ucap Baekhyun, dan diakhir ucapannya Chanyeol kembali membawa Baekhyun dalam sebuah ciuman, kali ini sangat lembut namun tetap penuh nafsu.
Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun, lalu menarik selimut hingga sebatas dada.
"Chanyeol. Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun bingung. Chanyeol ikut memasukkan dirinya ke dalam selimut. Duduk disamping Baekhyun.
"Aku memang tergila-gila dengan tubuhmu, tapi aku bukan orang gila yang menghajar lubang kekasihnya secara beruntun dalam kurun waktu sehari. Aku tahu kau lelah Baek, kau memang lelaki, tapi tenagamu tidak beda jauh dari seorang perempuan" Ucap Chanyeol. Lalu meminta Baekhyun untuk duduk diantara selangkangannya. Baekhyun menurut, lalu ia bersandar pada dada Chanyeol.
"Jadi maksudmu aku tidak bisa menang jika melawan perempuan?" tanya Baekhyun.
"Kau lihat jari ini?" Chanyeol mengangkat jemari Baekhyun.
"Ini bahkan jauh lebih indah dan mungil dari milik perempuan diluaran sana."
"Yah, aku tahu. Jari ini menurun dari ibuku. Seperti kata ibuku, jari sepertiku ditakdirkan bukan untuk bermain basket, tapi untuk merajut."
"Aku kurang setuju. Jemarimu ditakdirkan untuk memenuhi ruang kosong diantara jemariku Baek." Bisik Chanyeol. Baekhyun bersemua hanya karena ucapan menggoda Chanyeol. Baekhyun merasa menjadi orang paling beruntung sekarang. Ketika kau bisa berpacaran dengan seseorang yang kau cintai, itu tidak jauh berbeda dengan ketika seorang fangirl bisa mengencani biasnya.
"Chanyeol. Bagaimana jika ayahmu tahu?" tanya Baekhyun, dan Chanyeol terdiam.
"Sudah aku katakan, biarkan itu menjadi urusanku, yang perlu kau lakukan hanya selalu berada disisiku. Mengerti sayang?"
"Mengerti kapten." Ucap Baekhyun. Chanyeol memeluk erat tubuh Baekhyun dari belakang. Menyesap aroma tubuh yang selalu dipujanya.
"Baek, apa lubangmu masih sakit?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk pelan. Chanyeol kembali mencium rambut belakang Baekhyun.
"Maafkan aku."
"Aku baik-baik saja Yeol. Ini memang sakit, tapi aku menyukainya ketika spermamu memenuhi lubangku." Ucap Baekhyun.
….
….
….
Baekhyun sampai di depan kelasnya, ia sedikit meringis ketika berjalan tadi. Dan untung mereka tak menggunakan bus untuk ke sekolah, Chanyeol menggunakan mobil pribadinya yang biasanya jarang ia pakai kesekolah mengingat seragam yang ia kenakan. Baekhyun menggeser pintu kelas, dan mendapati Jongdae tersenyum sumringah ke arahnya.
"Baek! Kemari!" Jongdae melambaikan tangannya dan Baekhyun berjalan mendekat.
"Ada apa?"
"Aku sudah membeli properti yang akan kita gunakan untuk menyemangati tim basket kita. Kau tahu, akhirnya tim kita jadi bertanding melawan tim dari sekolah Jaesun. Ah, aku senang mendengarnya, aku dengar mood Park Chanyeol kembali membaik. Aku bisa merasakan sebuah kemenangan kali ini. Nanti aku akan mentraktirmu makan sepuasnya, ketika taruhanku berhasil okay?"
"Terserah kau saja." Sahut Baekhyun sama sekali tidak tertarik. Jongdae adalah sahabatnya yang bermulut besar. Jadi Baekhyun sama sekali tidak tertarik dengan kata "akan mentraktirmu sepuasnya" sama seperti tahun lalu ketika ia menang bermain games dan berkata akan mentraktir Baekhyun sepuasnya, jelas Baekhyun memekik senang tapi nyatanya ia hanya diajak ke sebuah kedai mie murah dan Baekhyun bersumpah rasanya sama sekali tidak enak. Terakhir Baekhyun ingat, kedai mie itu gulung tikar karena sepi pelanggan.
"Hei! Kenapa kau terlihat tidak bersemangat hah?"
"Aku lelah Jongdae-ah. Aku begadang semalam."
"Begadang? Apa yang kau lakukan semalam? Bukankah kita tidak ada ulangan dan tugas hari ini? Lagipula kau kan tidak pernah belajar kalau tidak ada ulangan?"
"Yak! Memangnya aku begadang ketika ada ujian dan tugas saja?"
"Yah Baekhyun yang aku kenal seperti itu. Lalu kau lelah karena apa?"
"Kemarin_" Baekhyun bungkam, ia nyaris kelepasan untuk mengatakan pada Jongdae.
"Hei! Apa kalian sudah siap untuk sebuah kemenangan?" Jongdae berbicara dengan mulut besarnya sambil menghampiri teman-teman sekelasnya yang sedang berkumpul. Baekhyun menghela nafas lalu kembali melihat ke arah lapangan. Disana, Park Chanyeol sedang berdiri membentuk sebuah lingkaran bersama tim-nya.
Tadi saat sampai di sekolah, Chanyeol bergegas menuju ruang ganti tim basketnya. Ia sudah meminta dispensasi pada pihak sekolah untuk tidak mengikuti pelajaran. Pertandingan mereka membawa nama baik sekolah, dan merupakan pertandingan yang cukup penting, untuk itu pihak sekolah pun mendukung dengan sepenuh hati.
Baekhyun menatap ke arah Chanyeol yang terlihat mengagumkan ketika berlari di lapangan, Baekhyun tak menyangka akan menjadi kekasih dari seorang Park Chanyeol lelaki yang paling di idam-idamkan di sekolahnya. Tapi senyum Baekhyun mendadak luntur, ketika disana ia juga melihat Hyorin yang memberikan sebuah kedipan ke arah Chanyeol ketika lelaki jangkung itu berhasil memasukan bola dan Chanyeol membalas kedipan itu dengan membuat gerakan seolah memberi ciuman pada Hyorin melalui telapak tangannya.
Entah mengapa Baekhyun merasa sedikit nyeri pada bagian dadanya, ia sangat tahu perihal hubungan Chanyeol dan Hyorin, hanya saja kedekatan mereka membuat hatinya sedikit cemburu. Apalagi ketika teman-teman mereka menganggap jika hubungan Chanyeol dan Hyorin itu adalah nyata. Baekhyun berusaha tersenyum, menghilangkan rasa cemburunya ketika ia melihat beberapa teman-temannya menggoda Chanyeol dan Hyorin karena kemesraan mereka, dan tidak ada sama sekali penolakkan dari mereka.
"…hyun..Baekhyun!" Baekhyun tersadar dari lamunannya ketika mendengar seseorang memanggil namanya, itu adalah Jongdae yang melemparnya dengan kertas dari bangkunya. Baekhyun menaikkan alisnya, seolah bertanya "ada apa" Jongdae memberi isyarat tapi Baekhyun tak mengerti sama sekali dan ketika ia sadar mata teman-temannya mengarah padanya, barulah ia sadar jika kelas sudah nampak rapi, tidak ada suara, tidak ada gerakan mencurigakan, dan itu berarti Jung Songsaengnim, guru paling mematikan di Jeongshin high school sudah berada di kelas.
Baekhyun menelan ludahnya dengan susah payah, ketika tatapan tajam pria tambun di hadapannya mengarah tepat padanya.
"Kau tahu ini pelajaran apa?" tanya suara berat itu, Baekhyun menelan ludahnya kembali, suaranya tercekat.
"Ta..tahu songsaengnim, ini adala_"
"Jika kau tahu, kenapa kau malah melihat keluar HAH!? Apa pelajaranku membosankan?"
"Ti..tidak song_"
"Jika tidak, kenapa kau tidak memperhatikanku HAH!?Apa kau pikir pelajaranku mudah?"
"Sama sekali tidak_"
"Jika memang sulit, kenapa kau berlagak seolah kau adalah siswa yang pintar? Sekarang kau bangkit dari tempat dudukmu dan ikut aku!" Baekhyun membeku, seolah aliran darahnya berhenti. "Jangan pernah sekali-kali berurusan dengan macan Jeongshin, jika kau tidak ingin mati muda" itu adalah peribahasa yang sudah membudaya di sekolah Joengshin dan Baekhyun baru saja mendapat penghargaan karena melanggarnya.
Baekhyun bangkit ketika tatapan Tuan Jung semakin menyeramkan. Tuan Jung berjalan keluar kelas lebih dulu dan Baekhyun berusaha mengikuti dari belakang. Semua mata menatapnya dengan pandangan prihatin, dan ada beberapa yang nampak lega karena bisa bernafas untuk sesaat. Jongdae menatap Baekhyun iba, ia merasa bersalah sebagai seorang sahabat, namun Jongdae sudah berusaha memanggil Baekhyun sejak tadi namun Baekhyun tak mendengarnya.
Baekhyun berjalan di koridor sekolah, masih mengikuti sosok tambun di depannya. Mereka menuju lift sekolah, yang hanya boleh digunakan oleh guru dan orang-orang penting. Tuan Jung menekan angka 1, dan itu berarti menuju lantai dasar. Mereka tidak terlibat ke dalam percakapan, Baekhyun hanya berdiam di belakang Tuan Jung. Ketika pintu lift terbuka, langkahnya di bawa menuju sisi lain dari sekolah, yaitu lapangan sekolah. Baekhyun dapat melihat lapangan basket yang jelas dari sini. Ia sedang berada dilapangan sepak bola yang hanya berbatas jaring besi yang besar.
"Aku lihat kau memiliki ketertarikan pada olahraga, dari caramu yang terus melihat ke sisi lapangan. Sekarang aku akan mewujudkan mimpimu. Kelilingi lapangan ini sebanyak 10 kali. Dan jangan coba-coba untuk berbohong, karena aku sudah meminta seseorang untuk mengawasimu." Baekhyun hanya mengangguk.
"Dan aku harap. Kau akan jera dengan hukuman ini!" ucap Tuan Jung sebelum akhirnya meninggalkan Baekhyun. Baekhyun menghela nafas, ia melihat ke sekitar. Lapangan ini terlalu luas, bagaimana bisa ia mengelilingi ini sebanyak 10 kali.
"Hei anak muda!" Baekhyun menoleh dan mendapati seorang pria dengan seragam cleaning service sedang duduk di bawah pohon sambil melambaikan tangan kearahnya dan Baekhyun dapat melihat jelas jika orang tersebut membawa sebuah stopwatch di tangannya. Baekhyun menganga, slogan yang terkenal disekolahnya memang benar. Jangan pernah mencari masalah dengan macan Jeongshin.
Baekhyun mulai berlari pelan, sesekali ia meringis sakit pada bagian bokongnya. Dan ia jadi mengumpat Chanyeol, karena telah menyetubuhinya tanpa ampun kemarin . Mengingat Chanyeol, Baekhyun menoleh ke arah lapangan basket, nampak Chanyeol serius bermain dan sesekali mengkoordinir tim nya untuk mengubah formasi. Baekhyun menghela nafas, bahkan Chanyeol tak menyadari kehadiran Baekhyun karena terlalu fokus.
Baekhyun mengatur nafasnya, dan menumpukan tangannya pada kedua lututnya, ini baru putaran ke- 3 dan Baekhyun sudah merasa dehidrasi berat.
"Hei! Jangan berhenti! Atau aku laporkan!" suara itu membuat Baekhyun mendesis, dan ia kembali berlari. Baekhyun paling benci dengan orang bermulut besar yang suka mengadukan orang lain. Baekhyun berusaha berlari kembali. Dan ketika ia melihat ke arah lapangan, disana ada Chanyeol yang terduduk di bangku pemain saking lelahnya. Dan Hyorin yang masih memimpin tim pemandu soraknya. Terkadang mata Chanyeol melirik ke arah gadis-gadis yang mengenakan pakaian yang sangat minim.
Baekhyun jadi terbayang ucapan Chanyeol dulu, yang mengatakan jika ia masih menyukai pantat dan payudara wanita. Bagaimana Chanyeol tersenyum bersama teman-temannya ketika rok tim pemandu sorak itu tersingkap.
Terkadang para pemain basket yang masih beristirahat, saling menyiku ketika ada salah satu pemandu sorak yang membuat gerakan seksi. Baekhyun tidak terlalu ambil pusing dengan teman-teman Chanyeol, tapi ketika Chanyeol ikut menyeringai saat pemandu sorak itu sedikit menungging dengan posisi membelakangi mereka, Baekhyun merasakan sakit yang terdalam di dalam hatinya.
Baekhyun menatap tepat ke arah Chanyeol yang sama sekali tak terhalang apapun, posisi Chanyeol sebenarnya lurus menghadap ke arah lapangan sepak bola, namun karena kepala Chanyeol yang terus menghadap ke arah pemadu sorak di sampingnya ia jadi tidak menyadari kehadiran Baekhyun.
"WOW." Terdengar suara sorakan yang keras ketika tim pemandu sorak membuat gerakan melempar ke atas. Lalu membuat gerakan menaikkan satu kaki keudara yang membuat celana dalaman dibalik rok mereka terlihat jelas, dan disana Chanyeol dan teman-temannya tersenyum nakal.
Lalu, Chanyeol terdiam ketika matanya tak sengaja menghadap ke arah lapangan sepak bola, Chanyeol membeku sesaat. Dihadapannya, Baekhyun-nya sedang memandang kearahnya dengan wajah kecewa. Chanyeol menelan ludahnya, ia mencoba mengedipkan matanya berulang dan mengalihkan pandangannya tapi berakhir dengan kembali menatap Baekhyun.
Baekhyun juga terdiam, teriakkan dari pria yang memantaunya sama sekali tak digubrisnya. Hyorin berjalan ke arah Chanyeol dengan wajah senang, tidak menyadari ekspresi Chanyeol. Bahkan gadis itu memeluk leher Chanyeol dan duduk disampingnya, tapi merasa Chanyeol tak merespon Hyorin mengikuti arah pandang Chanyeol. Dan seketika gadis itu melepaskan pelukannya dan memandang Baekhyun dengan perasaan tak enak. Baekhyun baru tersadar ketika pria pemantau tersebut berteriak di depannya.
"Hei! Aku akan melaporkanmu! Ayo ikut aku!" ucap pria tersebut lalu menarik tangan Baekhyun paksa, Baekhyun sama sekali tak menolak. Dan ketika mereka sampai di depan kelasnya, pria itu mengetuk pintu dan seketika Tuan Jung keluar.
Sekali lagi Baekhyun merasakan nafas kelegaan dari teman sekelasnya, dan pandangan iba yang ditujukan padanya. Baekhyun membiarkan pria pesuruh tersebut mengadukan dirinya, suasana hatinya sedang tidak baik dan dia tidak dalam mood untuk membela diri.
"Sekarang kau pergi ke perpustakaan! Dan katakan bahwa kau sedang menjalani hukuman dariku! Aku akan memberi tahu pihak perpustakaan melalui telepon." Ucap Tuan Jung dan Baekhyun mengangguk, lalu berjalan lemas ke arah perpustakaan sendiri. Pria pesuruh itu tidak diminta lagi untuk mengawasi.
Baekhyun sampai di depan perpustakaan, ia berjalan menuju meja informasi.
"Permisi, saya adalah Byun Baekhyun. Siswa yang sedang menjalani hukuman dari Jung Songsaengnim." Ucap Baekhyun lemas, dan wanita paruh baya dengan lipstick berwarna merah menyala menurunkan majalah fashion yang ia bawa. Memandang Baekhyun dengan satu alis terangkat.
…
….
….
TBC
Sebelumnya aku mau minta maaf lagi teman-teman, seharusnya ff ini bisa update sabtu lalu tapi karena entah kenapa aku gak bisa masuk ke ffn jadinya aku tunda, nunggu temen aku yang ahli ngotak-ngatik laptop dan super sibuk punya waktu senggang. Hehehe..
Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan, maaf kalau masih flat. Sebenarnya aku masih mau memperlihatkan bagaimana mereka masih berusaha menyakinkan satu sama lain. Aku masih fokus ke masalah mereka berdua dulu, nanti baru aku bakal menghadirkan pemain-pemain berikutnya plus couplenya. Terus baru deh muncul masalah-masalah yang lebih rumit. Tapi untuk saat ini masih konflik yang ringan-ringan dulu.
Dan untuk adegan NC seharusnya di chapter ini ada 3 adegan NC tapi aku hapus dua. BUkan tanpa alasan, tapi berdasarkan review yang masuk ada beberapa readers yang minta NC nya dikurangin, trus ada yang minta biar ditambah. Jadi aku ambil jalan tengah ajah.
Aku harap kalian tetap suka, dan sebisa mungkin buat review ya. Aku juga butuh beberapa kritikan dan saran, dan juga rekomendasi couple mana yang mau dimunculin duluan. Suara terbanyak bakal aku ambil. Hehehehe...
Buat review-review yang terdahulu terimakasih banyak lho, semoga impian kalian bisa terwujud. Dan untuk yang review di chap ini aku doain supaya sukses dan semua impiannya terkabul. Hehehehe..
Dan untuk yang PM nannyain tentang ff ini dan tentang Something Between Us terimakasih lho, tapi aku masih belum tahu kapan bisa lanjut ff itu.
Sekali lagi terima kasih, maaf kalau banyak banget omongannya, maaf kalo typo.
EXO-L and all, mari kita saling bekerja sama. Kalian review aku nulis. Jaga kesehatan kalian :)
