*14 MEI* PAR3
CAST:
kim minseok
xi luhan
kim joon myun aka suho
zhang yi xing aka lay
byun baekhyun
wu yi fan aka kris
.
luhan menarik tangan minseok dan membawa minseok dari tempat itu , luhan bisa membaca dengan jelas gerakan bibir yeoja itu yang berkata
"selanjutnya adalah dia"
.
suho berdiri di taman paviliun, dia menghelankan nafas panjang.
"kenapa mereka bisa sampai ada di sini"
"saya sendiri tidak tau sajangmin"
sesosok mahluk tinggi besar berpakayan kesatria, berrambut hitam legam sedang berlutut di belakang suho
"stuma"
"saya sajangmin "
"apa yang harus aku lakukan satu murid ku sudah menjadi korban dan sekarang putraku ikut terjebak di sini"
"sajangmin anda tak perlu menghawatirkan tuan muda saya percaya luhan dapat melindunginya, di antara kami ber tiga luhan lah yang terkuat "
suho menundukan wajahnya dan menatap sosok lain yang berdiri di atas genteng paviliun, sosok yang hampir sama dengn sosok yang berlutut di belakang suho hanya saja dia berrambut putih kotor.
"idego"
sosok itu mengalihkan perhatiannya, dan menatap suho
"saya sajangmin"
"kita harus menemukan pohon kembar itu segera, semua tak akan selesai jika kita tak menemukannya "
"saya akan mencoba mencarinya kembali sajangmin "
sosok yang berrambut putih itu pun hilang.
"dan kau stuma fokus lah mencari pohon itu "
"baik sajangmin, anda tak perlu hawatir anda jelas sudah tau kemampuan luhan sajangmin"
"yah aku sangat tau kemampuannya, tapi di sini segala kemungkinan bisa terjadi, aku akan mencari sesuatu pergilah bersama idego"
"baik sajangmin"
dan sosok itu pun ikut menatap bulan purnama yang sedikit tertutup awan
"aku percayakan putraku padamu xi luhan
.
luhan hanya tersenyum dan segera menatap namja yang sibuk memakan rotinya,
'anda sedang meragukan kemampuan saya sajangmin, benar benar mengecewaka' batin luhan
luhan kembali menggigit apel yang ada di tangan kirinya dan tangan kananya sibuk mengibas ngibaskan kipasnya,
"lu "
"hem"
"apha ahu bhisa"
"telan makanan anda baru berbicara"
Minseok menelan makanannya dengan susah payah dan merogoh ranselnya mengambil sebuah minuman dan meneguknya
"ada ke sini bukan untuk piknik kan tuan muda"
"aku manusia aku butuh makan lu"
"ah saya tau "
"tapi lu apa kau tak bisa menghilang dan membawaku ketempat appa?"
luhan menatap namja di sampingnya malas
"tak bisa"
"dasar payah "
luhan menatap minseok tajam.
"sayangnya saya bukan stuma dan idego yang bisa berpindah tempat sesuka mereka, saya ini tipe petarung dan bukan tipe siluman yang senang melarikan diri seperti mereka"
"stuma idego siapa lagi itu"
luhan menatap minseok malas
"anda sungguh tak tau siapa mereka?"
"tak tau memang siapa mereka"
"lupakan saja "
KRAKK
KRAKK
Minseok dan luhan menatap sebuah pohon kecil di sana ada seekor gagak yang terus mengepakkan sayapnya, luhan memincingkan matanya perasaannya mulai tak enak, minseok yang melihat gagak itu seperti kesakitan segera mndekatinya dan luhan menarik tangan minseok, luhan melingkarkan tangannya di leher minseok dan semakin mendekatkan tubuhnya dan tubuh minseok, minseok memegang tangan kekar luhan dengan ke 2 tangannya,
"ada apa lu"
"diam lah"
luhan terus menatap sekelilingnya.
BRUK
gagak itu terjatuh ke lantai dan mati seketika.
BRAKKK
Mata luhan berubah menjadi hitam dan kipasnya pun telah berubah menjadi pedang, menatap sebuah kotak yang tiba tiba terjatuh di depannya, darah segar mengalir dari kotak itu, minseok meneguk ludahnya kasar.
TAP
TAP
Dua sosok bocah berdiri di atas kotak itu mereka berdua tersenyum ke arah minseok, luhan menatap tajam ke 2 bocah itu.
"anyeong hyung kita bertemu lagi "
"anjing itu benar benar nakal "
"haruskah kita menyingkirkannya noona?"
" hem"
"kalian pikir kalian siapa?"
TAP
TAP
ke 2 bocah itu trun dari kotak itu dan tersenyum menyeramkan ke arah luhan, tak lama kotak itu berserak dan terbuka lalu sesosok yeoja berhanbok putih muncul, rambut hitamnya yang tergerai wajahnya yang berlumurah darah, juga hanbok putihnya tak luput dari bercak bercak darah. mata minseok membola, luhan melepas pelukannya di leher minseok,
"ada apa tuan "
"yeoja itu, yeoja yang kita temui di jembatan dan juga yeoja yang tadi berada di kamar itu"
luhan menghelankan nafasnya dan kembali menatap ke 2 bocah itu.
"apa yang kalian lakukan? kalian memanfaatkan orang mati? benar benar memalukan"
ke dua bocah itu hanya tersenyum pada luhan dan detik berikutnya yeoja di belakang mereka menghilang dan muncul tepat di belakang minseok, luhan tak tinggal diam dia segera menyerang yeoja itu, tapi yeoja itu hanya menghindar, dan tanpa luhan sadari jaraknya dan minseok bisa dikatakan jauh.
"kenapa kau terus menghindar mahluk rendah "
yeoja itu tersenyum, langkah luhan terhenti dan segera melihat ke belakang, bisa di lihat minseok terus menatap luhan dan luhan baru menyadari sesuatu
"kalian sengaja memisahkan ku dari nya"
luhan berbalik dan mendekati minseok namun langkahnya terhenti saat yeoja itu berdiri tepat di depan nya, menghalangi langkah luhan luhan tak segan segan mengiaskan pedangnya.
sementara itu minseok terus menatap luhan yang berada di depannya
"anyeong oppa"
Minseok membalikkan tubuhnya di sana bocah yeoja itu berjalan mendekati minseok sedangkan bocah satu lagi menghilang entah kenama.
"apa mau mu?"
"aku ingin mengajak oppa pergi bersama kami ?"
"aku tak mau"
"oppa yang membunuh soeun, "
"apa maksudmu?"
"yang harusnya mati itu oppa tadi hanya saja appa di bantu oleh anjing nakal itu jadi soeun yang harus menggantikan nya, jadi secara tak langsung oppa lah yang membunuhnya"
minseok terus memundurkan langkahnya
bruk
Minseok terjatuh dan tak bisa lagi berserak karna kakinya kini di genggam oleh bocah namja
"hyung mari kita pergi bersama"
"aku tak mau"
GREB
Mata minseok membola kala merasakan tangan kecil pucat dan dingin itu melingkar di lehernya dan merasakan sebuah kepala menempel pada kepalanya, yeoja kecil itu memeluk minseok dari sisi kirinya.
"ikutlah bersama kami maka kau akan selamat oppa"
Bisik yeoja kecil itu, tubuh minseok membeku, apa lagi saat dagu bocah yeoja itu berada di atas kepalanya dan rambut panjangnya perlahan lahan menutupi kepala minseok.
JLEB
Yeoja kecil itu menghilang begitu saja saat pedang luhan tepat nenancap di punggungnya,
"anjing nakal kau akan tau akibatnya."
yeoja kecil ituberdiri di belakang namja kecil satunya
"ayo kita pergi ada orang lain yang mesti kita urus "
"baik noona"
Mereka pun menghilang, sebelum menghilang yeoja itu tersenyum misterius pada minseok.
GREB
Minseok tiba tiba memeluk luhan dan luhan hanya mengelus punggung dan rambut minseok , lalu menatap mayat yeoja berhanbok putih itu yang kini terkapar di lantai
'mahluk macam apa mereka? memanfaatkan tubuh dan jiwa yang telah mati, siapa orang yang melakukan ini sebenarnya' batin luhan
.
Minseok dan luhan kembali berjalan setelah minseok mulai tenang, minseok memberhentikan langkahnya dan menatap ke sebuah ruangan.
"ada apa tuan muda?"
"aku melihat sesuatu"
luhan menatap ke arah pandangan minseok, luhan memang melihat sesuatu bergerak di balik meja namun luhan tak merasakan ada yang aneh di sana, minseok segera berlari menghampiri sesuatu itu tanpa menghiraukan pekikan luhan.
minseok berdiri tepat di belakang namja berhanbok kuning, yang kini sedang memasukkan kepalanya ke bawah meja.
"LAY "
BRUK
Minseok berteriak senang kala tau namja itu siapa dan namja itu yang di ditahui bernama lay , memekik kesakitan karna kepalanya membentur meja, lay mengeluarkan kepalanya dari bawah meja dan matanya membulat saat melihat minseok dengan senyum cerahnya.
"TUAN MUDA"
Teriak lay tak kalah keras dari minseok
"apa yang anda lakukan di sini ?"
"aku-"
"tak bisakah kalian berbicara dengan suara normal?"
luhan menatap 2 manusia yang menatapnya, lay menarik lengan minseok dan menyembunyikan tubuh minseok di punggungnya, lay melempar beberapa kertas mantra ke arah luhan, luhan memutar bola matanya jengah dan mengibaskan kipasnya, dan dalam sekali kibas kertas mantra itu menghilang.
minseok memegang pundak lay
"lay dia"
"anda tenag saja tuan muda saya akan melindungi anda"
lay melangkahkan kakinya, minseok menepuk jidatnya sedang kan luhan menatap malas pada lay
"sebaiknya kau pergi siluman"
luhan kembali menghembuskan nafasnya dan menatap lay seakan akan meremehkan lay, luhan kembali mengibas ngibaskan kipasnya
"kau pikir hanya kertas mantra seperti itu bisa melukai ku? bahkan untuk menyentuh kulitku pun tak bisa "
lay menyinpan kertas mantra di lantai dan sedetik kemudian muncul seekor anjing yang tubuhnya di penuhi kertas mantara
"waw hebat juga bisa melakukan itu "
Anjing itu terus menyerang luhan dan luhan berhasil menghindarinya. hingga sebuah pedang melayang ke arahnya dan bersyukur respon luhan bagus hingga bisa menangkisnya
"sudah hentikan sampai di sini, jangan kau buang buang tenanga untuk melawanku"
"apa maksudmu?"
"lay dia itu anjing putih ku"
lay menatap minseok tak percaya
"benarkah"
Minseok hanya mengangguk lucu, luhan menarik tangan minseok dan menatap lay
"kau hebat juga, hampir saja kena kalo kena itu bisa menembus kulitku. pedang ,anjing, semua dari kertas mantra, sepertinya kau bisa mengendalikan kertas mantra."
luhan menatap pedang yang di lapisi kertas mantra.
"sudah lama juga aku tak melihat manusia yang memiliki kemampuan yang luar biasa setelah bocah tinggi berrambut pirang itu"
lay hanya cengo mendengar luhan berbicara
"kalian ber 3 tipe yang tak mudah mati"
"kau sungguh sungguh anjing putih lu"
luhan menatap aneh lay yang menunjukan wajah bodohnya.
luhan segera saja menarik minseok pergi,
"lay ayo pergi"
"ah ne "
lay segera mengambil pedangnya dan mengubah kembali anjingnya menjadi kertas mantra. lay segera berlari dan berjalan di belakang luhan dan mnseok, matanya terus menatap sosok luhan
"siapa bocah tinggi berrambut pirang yang kau maksud lu"
"entah lah yang pasti dia salah satu murid suho sajangmin, jika bukan karna janjiku yang telah melakukan sumpah setia, aku malas sekali menghadapi bocah itu, meski aku akui dia punya bakat dan kemampuan, tapi tetap di mataku hanya suho sajangmin lah manusia yang aku akui kehebatannya"
Minseok tersenyum banga pada appanya itu
"AHA AKU INGAT"
Minseok dan luhan memberhentikan langkah mereka dan menoleh ke belakang.
"apa yang kau ingat lay"
"kau"
lay menunjuk luhan dan luhan segera menangkis lengan lay yang menunjuk ke arahnya
"lancang sekali kau menujuk wajahku"
"kau adalah siluman bangsawan kan? siluman anjing putih salah satu siluman dengn derajat tertinggi di kasta siluman"
luhan tersenyum bangga
"yang sangat sombong, seenaknya dan tipe siluman yang malas berubah wujud"
senyuman luhan luntur seketikan dan di gantikan oleh kekehan minseok
"dari mana kau mendapatkan info murahan itu"
"suho sajangmin, beliau bilang kau ini siluman yang paling hebat yang pernah beliau lawan, namun kau ini terlalu sombong hingga membuat kau kalah dariBeliau, di tambah lagi kau tipe yang malas sekali berubah ujud bahkan kris hyung harus menunggu mu selama sebulansampai kau mau merubah dirimu seperti itu. dan latihan kau jadikan sungguhan hingga membuat kris hyung hanpir saja mati benar benar siluman yang seenajknya"
"kakek tua itu bosan hidup rupanya"
Minseok terbahak bahak mendengar penjelasan lay, lay itu memang polos, pelupa, dan tipe yang akan berbicara tanpa pikir panjang.
"jika saja situasinya tak seperti ini aku akan mengirim mu bertemu dengan malaikat pencabut nyawa"
luhan terus saja mendengus dan mulai berjalan kembali di ikuti oleh minseok di sampingnya dan lay di belakang mereka, minseok terus menatap luhan dari samping yang terlihat sangat tampan di lihat dari samping.
"tapi bocah siapa namamu?"
"zhang yi xing tapi aku biasa di panggil lay"
"kau sangat pintar memanfaatkan kertas mantra dengan menempel kertas mantra pada pedangmu hingga pedang mu itu bisa memusnahkan sekelas siluman"
lay hanya tersenyum mendengar pujian dari luhan.
" suho memang hebat, bukan hanya bocah pirang yang memiliki kemampuan yang hanpir sama dengan suho, dia punya bocah bermarga byun, yang bisa merasakan aura dan mengatur aura dengan mudahnya, juga memilikimu yang ahli dalam kertas mantra, aku jarang sekali melihat manusia yang dengan kemampuan seperti mu"
" lu ada apa dengan mu tak biasanya kau memanggil apPa tanpa embel embel sajangmin"
"rasa hormatku berkurang karna kakek tua berengsek itu mencemari nama baikku di depan murid muridnya"
lay dan minseok nya melongo mendengar pernyataan luhan dan mereka berpikir luhan itu mudah tersinggung
.
suho tertawa di bawah bulan purnama.
"luhan kau memang keras kepala dan dan mudah sekali tersulut emosi"
suho melangkahkan kakinya memasuki paviliun saat tangan putihnya membuka pintu di dalam telah berdiri 3 sosok dengan hanbok merahnya di ruangan itu berdiri yeoja berranbut panjang dan 2 bocah itu di sisi kanan dan kirinya
suho memasuki bangunan itu dan saat suho memasuki paviliun itu pintu itu tertutup dan ter dapat sebuah lingkaran dengan tulisan yang sama dengan yang dia temui di pintu gerbang, dan saat suho menatap ke arah di mana ke 3 sossok itu berdiri mereka telah menghilang
"mereka mengurungku di sini? lai pula pintu ini tak akan bisa di buka dari dalam sehebat apapun kemampuan ku, lagi pula tempat ini menekan aura ku sial "
TAP
baekhyun menghentikan langkahnya dan menelan ludanya kasar, kris yang melihatnya menghentikan langkahnya dan menatap baekhyun
"ada apa baek"
"ini tak mungkin"
dahi kris mengkerut
"apa maksudmu?"
"aku tak dapat merasakan aura suho sajangmin"
TRAK
lilin yang di pegang kris jatun ke lantai.
"kau tak sedang bercanda kan baek"
"aku tak mungkin bercanda hyung "
BRUK
PRANG
TRANG
baeknyun dan kris menatap sekelilingnya terdapat banyak siluman yang mendekati mereka,
"suho sajangmin tak mungkin terbunuh"
kris menempelkan punggungnya pada punggung baekhyun
"itu memang benar sepertinya ada yang sengaja menekan aura suho sajangmin hingga membuat kita jadi santapan siluman siluman ini"
" kenyataan bahwa lenyapnya aura suho sajangmin membuat siluman siluman ini lebih agresif "
"aku menghawatirkan jungho hyung"
"aku pun sama baek"
mata luhan berubah warna dan dia terus menatap sekitar lay pun tak kalah waspadanya, lalu muncullah beberapa siluman di depan mereka
"aura yang menekan keberadaan mereka telah hilang jadi mereka sekarang bebas berkeliaran " ucap lay memandang ke seluruh siluman di depan mereka.
"suho sajangmin"
"appa kenapa"
"kakek tua itu tak mungkin mati, mungkin dia sengaja menghilangkan auranya untuk mengetes kalian bocah"
lay menatap luhan tak suka tapi luhan tak perduli.
"siluman siluman itu menatap minseok dan luhan jelas menyadarinya. luhan berdiri di depan minseok kalian menginginkannya langkahi dulu mayat ku, itu pun jika kalian mampu mahluk rendah"
lay menatap luhan yang memancarkan aura yang mengerikan.
"anjing putih lu"
luhan memandang lay dengan mata kelamnya
"pergilah bawa tuan muda, jangan habiskan tenagamu di sini aku bisa menanganinya sendiri"
"cih aku benci di perintah manusia itu aib bagiku"
"ini bukan perintah tapi permintaan "
luhan menatap lama lay dan pada ahirnya luhan menarik tangan minseok dan membawa pergi minseok menjauh dari siluman siluman itu, minseok menatap punggung lay.
"lay"
"bocah itu sangat hebat jadi kau tak perlu hawatir"
KREKK
pintu kamar itu di tutup oleh luhan dan luhan menggigit telunjuknya hingga mengeluarkan darah dan meneteskannya di pinggir pintu.
"beristirahatlah "
minseok menatap luhan dengan mata beningnya
"aku tak bisa tidur lu"
luhan menghelankan nafasnya dan menghempaskan tubuhnya
"kemari lah"
luhan menepuk perutnya dan minseok tersenyum lalu menjatuhkan kepalanya di perut luhan
"bagai mana jika aku tak ada apa kau tak akan tidur?"
"mungkin"
minseok menyamankan posisinya dan luhan mengelus kepala minseok
minseok membuka matanya di sana tak ada luhan, minseok segera berdiri dan membuka pintu di depanhya ada taman dan juga sebuah kolam kecil, di kolam itu berdiri seorang yeoja berhanbok merah darah, rambutnya pun masih rapih dan yeoja itu terlihat sangat cantik sekali. di depannya berdiri seorang namja dengan pakayan mentrinya, minseok tak dapat melihat sosok itu minseok hanya melihat punggung namja itu dan saat minseok akan melangkah mendekati mereka tiba tiba tanganya di genggam oleh seseorang, mata minseok membulat kala melihat orang di sampingnya, seorang yeoja yang memiliki wajah yang sama dengan yeoja yang berdiri di depan kolam hanya saja yeoja di sampingnya ini rambutnya tergerai bau amis tercium dari tubuhnya di tambah lagi hanboknya yang kotor, yeoja itu mendekatkan wajahnya pada minseok, minseok tak dapat bergerak sama sekali dan yeoja itu menyentuh pundak minseok, saat wajah yeoja itu semakin dekat dengan minseok
TRENG
lonceng di pergelangan tangan minseok berbunyi dan sosok iti menghilang dalam sekejap.
minseok mendudukkan dirinya, luhan sudah duduk di samping minseok
"kau baik baik saja?"
minseok menatap aneh luhan"
"apa maksudmu?"
l
uhan menarik jaket minseok dan menatap bahunya, luhan berdecak kesal dan luhan menarik lengan minseok lalu menyingsingkan lengan jaket minseok, mata minseok terbelalak saat melihat pergelangan tangnnya, di pergelangan tanganya ada bekas genggaman tangan berwarna hitam
"mahluk rendah beraninya mereka menyerang dalam mimpi"
TBC/END
ok ku rasa sampai di sini. ini geje sumpah ahhhh mian bila mengecewakan, bagai mana bagai mana part ini?
ok jangan lupa RNR NYA
n GOMAWO UDAH MAU BACA FF ANEH KU
