Sehun memegang kenop pintu kamarnya. Tiba-tiba saja, ia memiliki ketidakmampuan untuk membuka pintu tersebut. "Hhh.." ia memegangi kepalanya, terasa sedikit pening.
"Maafkan aku, Sehun ... Aku tidak bisa mencintaimu ..."
"Tidak! Zitao, kau harus menjadi milikku! Apapun itu! Akan kulakukan semua hal agar kau menjadi milikku!" Sehun geram. Ternyata, ia mendengar gumaman Zitao. Saat ia menutup pintu kamar itu tadi siang, Sehun masih bisa mendengar ucapan Zitao yang lirih. Hal itu membuat Sehun sangat murka. Ini semua gara-gara Yifan brengsek itu! Ia telah berhasil membuat Zitao jatuh cinta pada dirinya.
Klik! Sehun membuka pintu kamar itu pelan. Zitao tengah tertidur pulas dengan tenang. Sehun merasa tenang begitu melihat paras Zitao yang cantik. Hatinya tidak berhenti mengagumi pemuda China itu. Perlahan, Sehun mendekati Zitao, kemudian duduk di tepi ranjang, memperhatikan Zitao yang tengah tertidur.
"Sayangku ..." ucap Sehun pelan, digenggamnya tangan Zitao, kemudian dikecup pelan. "Kau akan menjadi milikku sayang, itu pasti .." lanjutnya menyeringai.
Zitao mengeluh pelan, Sehun semakin menyeringai dibuatnya, ia merangkak mendekati Zitao. Hingga jarak mereka semakin menipis. Sehun tidak tahan. Ia ingin segera memiliki Zitao seutuhnya.
Seutuhnya.
Seluruhnya.
Termasuk tubuh Zitao.
-Oh Sehun, sadarlah! Zitao sedang sakit!
Sehun semakin menipiskan jarak mereka, sedikit lagi. Ia bisa mencuri ciuman di bibir Zitao malam ini. Zitao selalu saja menolak saat ia ingin mencium pemuda tersebut. Sehun sudah tidak tahan. Ia akan mendapatkan apa yang dia inginkan sekarang. Ciuman Zitao.
"...Yifan .."
DEG!
Sehun menatap pemuda dihadapannya terkejut. Apa yang baru saja ia katakan?! Yifan?! Hahaha, yang benar saja! "Tidak, Zitao, ucapkan Sehun. Sehun. Oh Sehun. Kau pasti bisa mengucapkan namaku, sayang," Sehun berusaha untuk tenang, dielusnya pipi Zitao.
Zitao mengerang sedikit. Sehun menyeringai tipis, "katakan Sehun, sayang .." bisiknya ditelinga Zitao. Zitao menggeliat tak nyaman.
"... Yifan ..."
AUTOMNE
Chapter Three
Rated: T+
Cast : Wu Yifan, Huang Zitao, Oh Sehun, Kai, and others
Warning: YAOI, TYPO BERTUMPUK KEK DAKI
DON'T LIKE, DON'T READ
NO SIDERS, NO BASH!
.
.
.
SEBELUMNYA, IRA PENGEN KASIH TAHU KALAU CHAPTER INI KHUSUS HUNTAO, DAN SEDIKIT BUMBU-BUMBU KRISHAN. MAAFKAN IRA JIKA READERS KURANG MENYUKAI CRACK PAIR. MAAFKAN IRA
ENJOY ^^
.
Sehun murka. Sangat. Ia tak tahan mendengar Zitao yang terus saja mengucapkan nama Yifan. Ditangkupnya pelipis Zitao, kemudian diciumnya bibir curve Zitao dengan kasar. Zitao tentu saja terkejut. Ia langsung tersadar dari tidurnya, dan sangat terkejut mendapati Sehun yang meraup bibirnya ganas.
"Eungh~eungh!" Zitao berusaha meronta. Ia berusaha melepaskan ciuman Sehun dengan memukul dada pemuda Korea itu. Namun, Sehun tak menggubrisnya. Digigitnya bibir bawah Zitao, memaksa agar lidahnya dapat leluasa masuk kedalam mulut Zitao.
Zitao merasa perih. Sakit. Dan tentu saja, lidah Sehun berhasil masuk kedalam mulutnya, bergeliat menjilati langit-langit mulutnya. Zitao menangis. Ia tidak ingin ini semua! Apa yang Sehun lakukan pada dirinya. "Huks.." mendengar tangisan Zitao yang tertahan, Sehun menghentikan aksinya.
"Zi .. Zitao ... aku ..." Sehun gelagapan melihati Zitao yang langsung menjauhi dirinya begitu ia melepaskan ciuman mereka. Zitao menangis. Makhluk lemah lembut itu tidak mengerti. Mengapa Sehun melakukan hal itu bahkan sebelum meminta izin darinya?
"Ukh ... Sehun, kenapa kau melakukan itu hah?! Brengsek kau!" teriak Zitao ketakutan. Ia melempari Sehun dengan bantalnya.
"Zitao, aku ... maafkan aku .. aku ..." Sehun tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia merutuki dirinya yang bodoh itu. Seharusnya ia tak melakukan hal tersebut. Itu sama saja dengan menyakiti Zitao. Namun, sedikit kegembiraan ada dalam dirinya. Ia berhasil mendapatkan ciuman Zitao, dan juga tangisan pemuda itu ditujukan pada dirinya, bukan Yifan lagi. Tanpa sadar, Sehun menyeringai puas.
Zitao ketakutan. Badannya bergetar. Selang infuse pada dirinya terlepas. Ia takut melihat Sehun. Kini, dirinya hanya menangis. Menunduk, tak berani menatap Sehun. Ia mulai berpikir ... Sehun seperti ...
Monster.
Ya, kau benar, Huang Zitao
"Aku ingin pulang .." isak Zitao lirih. Sehun membulatkan matanya. "Tidak Zitao, maafkan aku. Maafkan aku, melakukan hal yang seharusnya tak kulakukan pada dirimu. Zitao, maafkan aku," Sehun memohon maaf, ia berusaha menyentuh lengan Zitao. Namun, pemuda manis itu ketakutan padanya. Ia tahu itu.
Apa yang harus dilakukan Sehun sekarang?
-Bukankah kau aktor yang terbaik, Sehun?
"Maafkan aku, Zitao ... aku salah. Kumohon maafkan aku .." Sehun menundukkan kepalanya, air mata terlihat menetes keluar dari mata elangnya. Zitao terdiam. Memperhatikan Sehun yang kelihatan tak berdaya dihadapannya.
"Se ... Sehun ..." –bagus sekali, Oh Sehun. Zitao mulai luluh!
"Zitao ... kumohon maafkan aku ... tinggallah disini bersamaku ... aku mohon padamu, Zitao," isakan Sehun semakin terdengar.
Sehun sangat berbakat menjadi aktor!
Zitao luluh. Ia tidak tahan melihat Sehun menangis. Dengan perlahan, didekatinya Sehun, kemudian direngkuhnya. "Aku memaafkanmu, Sehun ..." ucapnya pelan, memeluk tubuh Sehun yang masih bergetar akibat tangisan. Tentu saja, Sehun tersenyum licik.
"Berjanjilah kau akan tetap bersamaku, Zitao ..." Sehun kembali berpura-pura lemah. Ia menangis dalam dekapan Zitao. Pemuda China itu tentu saja tidak rela melihat tangisan Sehun. Ia pun menangis pelan. Mengusap surai lembut Sehun. "Berjanjilah, Zitao .." ucap Sehun lagi.
"... Aku berjanji, Sehun ..."
.
.
.
.
.
"You're done with your punishment, Mr. Wu?"
"Yes, madam,"
"So, you can sit back at your place. And don't come late again, Mr. Wu,"
"Yes, madam, I hear you,"
Yifan duduk kembali di kursinya. Ia hanya memperhatikan dosennya yang tukang marah itu menjelaskan. Sesekali ia mencatat apa yang diterangkan oleh sang dosen. Yifan sedikit menggerutu. Jika saja ia tahu dosen yang mengajar adalah seseorang nenek tua yang menyebalkan, ia tak akan mengambil jurusan manajemen bisnis. Mungkin ia akan masuk bidang kedokteran seperti Kai, namun ia tidak memiliki minat dalam hal kedokteran. Sastra? Hahaha, cukuplah Zitao yang mengambil jurusan tersebut.
.
.
Ya, Zitao-
Zitao-nya.
Yifan memegangi tengkuknya. Ia kembali teringat pada Zitao. Ia merasa cukup lelah dengan semua ini. Namun, mau bagaimana lagi? Setiap hal yang Yifan pikirkan, pasti ujung-ujungnya, ia akan teringat pada Zitao. Bahkan ketika ia memikirkan bus yang tak kunjung datang di halte, ia kembali teringat saat Zitao mengomel akan bus yang penuh sesak dan sempit.
Yifan harus bagaimana lagi? Bagaimana caranya agar Zitao lenyap dari pikirannya? Berbotol-botol wine telah ia minum, dan berpuluh-puluh batang rokok telah ia hisap. Ia bahkan mengganti gaya rambut dan warna rambutnya, karena gaya rambutnya yang dulu dan warna pirang itu yang Zitao sukai.
Nyatanya, Yifan tidak bisa.
Ia tidak bisa jika harus melupakan Zitao. Setiap saat, Zitao berada dipikirannya. Selalu menghantui malam-malamnya dan ia semakin berhalusinasi. Mendengar suara Zitao yang memenuhi ruang apartemennya, memanggilnya lembut, membuatnya kian depresi. Halusinasinya semakin kuat, bahkan saat temannya memanggil nama seseorang, ia mendengarnya mengucapkan Zitao. Ketika ia mengetik tugas kuliahnya, ia malah mengetik nama Zitao disana. Ketika ia memperhatikan senior-nya bermain basket, ia kembali melihat Zitao bermain basket dengan lincahnya.
Yifan tidak akan pernah bisa. Sekalipun ia akan menikah dengan seorang wanita maupun pemuda cantik nantinya, ia tak akan pernah bisa melupakan Zitao.
Oh, Tuhan, kepalanya sakit sekali
Yifan mengerang pelan, dipeganginya kepalanya yang sakit.
"Woaw, snow!" gumaman teman kuliahnya membuat Yifan memperhatikan jendela. Salju mulai turun. Ya, salju putih yang akan memenuhi Canada itu.
Dan salju yang akan mengingatkan Yifan, betapa bahagianya ia dulu merayakan natal bersama Zitao.
Oh tidak, Yifan kembali mengingat Zitao.
.
.
.
.
.
...
Bulan desember tiba. Salju turun semakin deras, bahkan badai salju kerap kali datang ketika malam. Zitao menghangatkan badannya di ruang tengah. Ia duduk dekat dengan perapian. Memperhatikan Sehun yang menghias pohon natal dengan cantik.
"Sehun, natal bahkan masih lama .." ujar Zitao berkomentar. Ia merasa Sehun terlalu cepat memasang pohon natal dan mendekorasinya. Sehun menoleh kepada Zitao, kemudian tersenyum lembut kepadanya.
"Kau suka natal, bukan begitu, Zitao?"
Zitao tersenyum. Inilah yang ia sukai dari Sehun. Sisi lembutnya yang memanjakan dirinya. "Terimakasih, Sehun ..." ucapnya sendu. Sehun hanya melemparkan senyum kepada si cantik, kemudian memasang bola-bola warni pada pohon natal. Disaat tinggal bintang saja yang perlu dipasang, Sehun menoleh kepada Zitao. Zitao menatapnya. "Kemarilah .." gumam Sehun. Zitao menurut. Ia mendekati Sehun.
"Pegang ini," perintah Sehun, menyerahkan bintang pohon natal pada Zitao. Pemuda China itu diam saja menatap manik hazel Sehun.
Hup!
Zitao terkejut. Sehun menggendongnya. "Se.. Sehun? Kenapa kau menggendongku?" Tanya Zitao heran.
"Bintangnya Zitao ..." jawab Sehun. Ah, kini Zitao mengerti. Sehun ingin Zitao yang memasang bintang pada pohon natal itu. Tangan lembut Zitao pun memasangkan bintang emas itu pada puncak pohon natal. Sehun menatap puas pada pohon natal itu, kemudian memperhatikan Zitao yang digendongnya. Senyum menenangkan itu membuat hati Sehun semakin menginginkan Zitao.
Ia segera menurunkan Zitao, kemudian menatap si cantik yang masih memandang pohon natal itu. "Zitao .." panggil Sehun. Zitao segera menoleh. Senyumannya masih menghiasi wajah cantik itu. Sehun menggenggam tangannya.
"Natal ini ... pintaku hanya satu,"
"... Apa itu?"
"Aku ingin, kita bisa bersama, seperti malam ini ..." Sehun menatap mata Zitao sendu.
Zitao terdiam. Ia hanya menatap Sehun penuh arti. Tangan Sehun kini mengelus pipinya yang halus. Zitao masih diam. Sehun menunduk, kemudian memeluk Zitao, menyembunyikan wajahnya dibalik ceruk leher si cantik. Kemudian ia bergumam pelan. "Terima kasih untuk keajaiban-mu, Zitao,"
Zitao membalas pelukan Sehun. Dipeluknya pemuda itu. Tanpa sepatah kata pun, tanpa pergerakan apa pun, Sehun bisa merasakan kehangatan Zitao yang sedari dulu ia inginkan. Beginikah kehebatan Zitao? Sehun takjub pada pemuda ini. Ia akan memberikan segala yang Zitao pinta dan melakukan segalanya untuk mendapatkan Zitao.
"Sehun," Zitao melepaskan pelukan mereka. "Aku sudah mendengar semuanya," lanjutnya. Sehun tak mengerti, apa yang dimaksud oleh Zitao-nya(?).
"Maksudmu?"
"...Perjodohanmu ..."
Sehun merasa kakinya melemas, mood-nya yang sedang bagus seketika itu turun dengan sangat drastis. Mengapa Zitao bisa mengetahui ini semua? "Zitao .. darimana kau tahu?"
"...Bukan maksudku menguping, Hun. Dua hari yang lalu, saat aku terbangun dimalam hari karena merasa penghangat ruangan tak berfungsi, aku mendengar teriakanmu dari luar. Kau sedang berbicara dengan orangtuamu tentang perjodohanmu, bukan?" jawab Zitao, tersenyum manis dihadapan Sehun. "Seharusnya kau tidak perlu seperti ini, Sehun ... kau harus menjauhiku mulai saat ini. Biarlah aku kembali ke apartemenku, jalani rutinitasmu seperti biasa, begitu pun denganku. Semua yang telah kita lakukan ini salah, Sehun .. kau hanya merasa kasihan padaku, kau tidak mencintaiku dan aku mengetahui hal tersebut,"
"Tidak Zitao! Jangan berkata seperti itu! Aku mencintaimu dan tetap akan seperti itu! Aku bahkan tidak menerima perjodohan tersebut! Aku tidak setuju dengan perjodohan bodoh itu!" elak Sehun.
"Tapi, Sehun, orang tuamu-" Sehun menempelkan jari telunjuknya di bibir curve milik si cantik. Mengisyaratkannya untuk diam.
"... Maukah kau mengabulkan permintaan natal-ku, Zitao?" ucap Sehun lirih. Zitao menunduk. Ia tidak bisa seperti ini terus. Ia menyayangi Sehun hanya sebatas sahabat dan kakaknya. Tidak lebih. Cintanya pada Yifan bahkan masih sama seperti dulu. "Aku ingin kita bersama, hanya itu, Zitao .. kau bahkan sudah berjanji padaku untuk tetap berada disampingku, kumohon jangan pergi, Zitao, kumohon!" untuk kesekian kalinya, Sehun kembali memohon.
Zitao tak kuasa. Ia sudah berjanji pada Sehun untuk tetap bersamanya. Bagi Zitao, janji adalah mutlak dan kewajiban. Ia akan memegang janjinya, dan tidak akan pernah berusaha mematahkan janji tersebut. "Ya, aku sudah berjanji padamu, Sehun ..."
Sehun tersenyum. "Terima kasih, Zitao .."- Zitao hanya mengangguk pelan. "Sekarang sudah malam, lekaslah kau pergi tidur. Besok kau ada kuliah kan?"
Zitao mengangguk. Kemudian ia naik kelantai atas menuju kamar Sehun. Sebelum ia naik ke tangga, ia masih bisa mendengar ucapan Sehun, "Selamat malam, Zitao. Mimpi indah,"
"Selamat malam, Sehun. Kau juga," ucap Zitao, dan ia lekas pergi ke kamar Sehun. Sehun memperhatikan Zitao, hingga ia yakin kamar itu telah dimasuki Zitao dan ditutup rapat. Kemudian, diambilnya handphone-nya, dan berusaha menelepon seseorang.
"Lakukan. Sekarang juga,"
.
.
"Zi, Zitao, bangunlah Zitao,"
Zitao merasa pipinya basah. Perlahan, ia bangun dari tidur cantiknya, dan mendapati Sehun tengah menangis dihadapannya. Pemuda Korea itu mengguncang tubuh Zitao. "Sehun?! Ada apa?!" Zitao sangat terkejut, ia langsung berdiri, kemudian menatap Sehun yang tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
"Zitao ... orang tuaku .." Sehun berusaha mengucapkan sesuatu, namun tangisannya tak dapat dibendung lagi. Zitao sangat khawatir. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!
"Sehun, tenanglah. Apa yang terjadi?"
"Zitao ... mereka ... rumah ... terbakar ..." ucap Sehun sesegukan. Otak Zitao tidak lemot. Ia segera mengerti apa yang dikatakan Sehun. Ia pun terkejut, kemudian menatap Sehun sendu. "Sehun?! Ini bercanda bukan?! Rumah orang tuamu terbakar?! Apakah mereka baik-baik saja?!"
"Zitao .. mereka ... mereka tidak dapat ditolong lagi ..." Sehun ambruk. Ia langsung menangis di pundak Zitao. Zitao masih tidak percaya ini semua. Bagaimana bisa rumah orang tua Sehun terbakar? Dan orang tuanya tewas?! Oh tidak! Ini pasti sangat buruk!
"Sehun ... Sehun .." Zitao menangis. Ia memeluk Sehun yang menangis dengan diam. Ia tahu, Sehun pasti sangat terluka.
-Dan sebenarnya kau salah, Huang Zitao
"Zitao ... aku tak mempunyai apa-apa lagi ... hanya dirimu yang kupunya saat ini ..." suara Sehun tertahan. Zitao tak kuasa untuk ikut menangis, merasakan kepedihan Sehun.
"Sehun, Sehun, dengarkan aku. Aku akan tetap berada disisimu, aku berjanji, Sehun, aku berjanji," ucap Zitao. Berusaha menenangkan Sehun. Kini, dihadapannya tak lebih seorang Sehun yang lemah. Zitao tahu itu. Ia memeluk Sehun yang menangis dipundaknya. Ia tidak ingin Sehun merasakan luka yang dalam, sama seperti dirinya. Sehun mengalami nasib yang sama seperti Zitao. Zitao juga kehilangan orang tuanya saat ia berada di SMA karena kecelakaan.
Mereka sama.
Mereka kehilangan orang tua mereka.
Kau salah, Huang Zitao, kau bahkan tak tahu apapun
"Zitao ... apa yang harus kulakukan ..." Sehun kembali menangis dipundak Zitao. Zitao terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Sehun. Hanya tangisan pelan yang dikeluarkan oleh Zitao. Ia menatap pemuda Korea dihadapannya. Sungguh hati Zitao tak sanggup melihat Sehun seperti ini. "Aku akan menjagamu, Sehun ... aku berjanji ..."
...
Yifan menghembuskan nafasnya pelan. Jam kuliahnya sedang kosong, daripada ia terusik dengan kelasnya yang mulai berisik itu, lebih baik ia keluar sekarang. Sejak kemarin, ia belum makan apapun, hanya segelas wine dingin saja yang ia minum. Dan sepertinya, penyakit mag-nya akan segera tiba. Sebelum hal itu terjadi, ia segera melesat menuju kantin kampus.
Dan sekarang, dihadapan Yifan sudah ada spaghetti dan kopi susu. Ia tersenyum melihat kopi tersebut. Zitao sangat suka melarangnya meminum kopi. Berkali-kali Zitao mengomel, bahkan membung semua kopi instan yang baru Yifan beli. Hal itu tentu saja membuat Yifan sedikit kesal, dan mereka ribut hanya gara-gara itu. Dan pada akhirnya, Yifan tak tahan melihat bibir kecil Zitao yang berkomat-kamit memarahinya. Jadi Yifan tarik saja tengkuk itu, dan mencuri ciuman dari bibir Zitao. Yifan masih ingat, bagaimana meronanya pipi Zitao gara-gara hal tersebut.
"Zitao .." gumam Yifan tersenyum.
"Siapa itu Zitao?"
DEG!
Yifan sangat terkejut mendapati seseorang kini berada dihadapannya. Seorang pemuda manis kini berada dihadapannya, tersenyum memperhatikan Yifan yang sedang terkejut.
"Kau?"-Yifan mengenali pemuda ini. Tentu saja, bagaimana Yifan bisa lupa dengan pemuda kikuk yang membebani pekerjaannya, lebih tepatnya hukumannya.
"Hehehe~ senang bertemu denganmu lagi, Yifan," pemuda itu terkekeh pelan. Yifan hanya mendecih, kemudian mulai menyendok spaghetti miliknya. "Ah, aku juga lapar. Tunggu aku disini yaa, aku ingin memesan makanan dulu!" pemuda itu-Luhan, dengan cepat melesat menuju kantin.
Yifan tak menghiraukannya sama sekali. Apa-apaan pemuda itu- pikir Yifan. Jelas sekali pemuda itu sangat tertarik pada dirinya. Dan Yifan jelas saja tidak menyukai hal tersebut. Yifan kembali mengomel dalam hati begitu melihat Luhan sudah duduk dihadapannya, dengan sandwich dan sekotak susu strawberry.
Ah. Zitao sangat menyukai susu strawberry. Jika mereka ke minimarket, pasti Zitao akan menyelipkan 5 kotak susu strawberry dalam trolly. Dan Yifan akan terkejut melihat 5 kotak susu yang tersusun rapi itu berada di dalam trolly. Begitu Yifan menatap Zitao, meminta penjelasan, si cantik hanya tersenyum kepadanya, pura-pura tidak tahu apapun. Tentu saja, Yifan akan luluh dengan sendirinya begitu melihat senyum Zitao.
Yifan lagi-lagi tertawa pelan mengingat kejadian itu. Luhan yang memperhatikannya pun ikut tertawa. "Apa yang membuatmu tertawa, Yifan?"
"Zitao, dia sangat suka susu straw,-" Yifan tersadar. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, kemudian menengguk kopi susu dihadapannya. Apa yang baru saja ia katakan? Bodoh sekali.
Luhan bingung dengan kelakuan Yifan yang nampak tak sehat. Dan daritadi, ia penasaran sekali dengan si Zitao yang Yifan sebut-sebut namanya sambil tersenyum. "Hei, aku boleh bertanya?"
"Tak boleh," ucap Yifan cepat. Luhan mendengus tak suka. Mengapa tadi Yifan tersenyum dan tertawa seperti orang gila dan kini menjadi dingin?
"Kau pelit," seru Luhan. Yifan tak mengindahkannya. Ia hanya fokus pada spaghetti miliknya. Bahkan, Yifan tak menatap Luhan yang sedari tadi menatapnya lekat. Tampaknya, Luhan takjub dengan ketampanan Yifan. Memang, sudah banyak wanita maupun pemuda cantik yang tertarik akan ketampanannya. Namun, Yifan sama sekali masa bodoh dengan hal tersebut. Hanya satu orang yang akan membuatnya tak berhenti tersenyum ketika memuji ketampanannya.
Hanya Zitao.
"... Sekarang aku boleh bertanya?" Luhan kembali mengeluarkan suaranya begitu melihat Yifan telah menghabiskan makan siangnya. Yifan menatapnya malas.
"Sudah kubilang tak boleh," ujar Yifan, kemudian beranjak dari tempatnya. Luhan terburu-buru menghabisi sandwich-nya dan segera mengikuti Yifan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Yifan kesal. Ia heran, ada apa dengan pemuda ini, ia mengikuti Yifan dari belakang, menatapi Yifan dengan tatapan kagum. Yifan merasa seperti seorang idol, dan ia tak suka dengan hal itu.
"Tak boleh bertanya,"-Luhan terkekeh melihat Yifan yang tampak kesal padanya.
Yifan pun melanjutkan langkahnya, tak memperdulikan Luhan yang terus mengekorinya dibelakang. Beberapa orang tampak tertawa pelan melihati Luhan yang mengikuti Yifan, layaknya seorang sekretaris yang mengikuti atasannya.
Mereka terus berjalan hingga Yifan berhenti di lapangan basket. Tampak senior-seniornya yang sedang membolos itu bermain basket disana. Yifan duduk, dan Luhan mengikutinya. Ia duduk disamping Yifan sambil meminum susu strawberry-nya. Yifan meliriknya, pemuda ini sungguh menyusahkan.
Dalam keheningan, kedua pemuda China itu hanya diam memperhatikan senior mereka bermain basket. Sesekali, Luhan menatap Yifan yang sama sekali tidak membalas tatapannya.
"Untuk apa kau mengikutiku?"-ah, akhirnya Yifan memulai percakapan!
Luhan ingin sekali bersikap angkuh sedikit, yah, contohnya mengatakan 'tak boleh bertanya' seperti tadi. Namun, menurutnya, itu hal yang sangat bodoh sekali, karena Yifan pasti akan diam dan mereka tidak akan pernah berbicara. "Aku hanya ingin mengikutimu, tak boleh?" Luhan balik bertanya.
"Tak boleh,"
"Huh, kau selalu melarang apapun,"
"Kalau kau tak tahan, mengapa tak pergi saja?"
"Tidak akan,"
Yifan menatap kesal Luhan. Pemuda disampingnya ini cukup menyebalkan dan keras kepala juga. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin bertanyaa~"
"Bertanyalah, cepat. Setelah itu, pergi dari sini,"
Luhan sedikit tak setuju dengan hal itu. Namun, daripada ia penasaran terus, lebih baik ia bertanya. Toh, ia masih bisa mengikuti Yifan esok hari. "Kalau begitu, aku akan bertanya 3 pertanyaan,"
Yifan mengangguk. "Setelah itu, kau harus pergi,"-dan kini, giliran Luhan yang mengangguk.
"Pertanyaanku yang pertama .." Luhan menarik napas sejenak. "Kenapa kau tak menayakan namaku, huh?"
Yifan nyaris saja jatuh mendengar pertanyaan Luhan. Apa-apaan anak ini. Apakah ia bodoh atau gila? Untuk apa menanyakan hal yang tak berguna seperti itu. Pertanyaan bodoh itu justru membuang sia-sia kesempatan Luhan untuk bertanya. Jika Yifan menjadi Luhan, maka mungkin ia akan menanyakan hal yang lebih spefisik seperti, dimana Yifan tinggal atau apa yang ia sukai.
"Untuk apa menanyakan hal yang tak berguna seperti itu?"
"Huh, kau harus menanyakan namaku, Yifan!" keluh Luhan, bibir kecilnya mulai mengerucut. Yifan menatapnya aneh.
"Bahkan Zitao bisa melakukannya lebih baik," gumam Yifan. Namun, Luhan masih bisa mendengarnya. 'Melakukan apa?'-batin Luhan bingung.
"Baiklah, siapa namamu?" Tanya Yifan. Lebih baik ia mengalah agar pemuda yang tak lebih tinggi darinya itu segera pergi.
Luhan tersenyum senang, "Xi Luhan! Aku dari China, sama sepertimu!"
Yifan tak terkejut mengetahui Luhan dari China. Mimik wajah-nya yang menunjukkan ia orang Asia sudah memberikan Yifan clue. "Cepat, apa pertanyaanmu selanjutnya," ujar Yifan tak sabaran.
"Baiklah. Kenapa kau tak menanyakan aku kuliah dalam bidang apa, Yifan?"
-Oh Tuhan! Yifan ingin menghilang sekarang juga! Itu benar-benar pertanyaan yang tidak penting!
Yifan mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya makhluk bodoh apa yang sekarang mengikutinya. "Kau kuliah dalam bidang apa, huh?"
"Hehehe, kau lucu sekali~ aku kuliah dalam bidang pendidikan kepelatihan olahraga. Keren bukan? Aku ingin sekali menjadi guru olahraga di SMP-ku di China~~" celoteh Luhan tak jelas. Yifan tak menanggapi. Ia hanya diam saja, menunggu pertanyaan terakhir Luhan.
"Nah, pertanyaan terakhirku .."-ini yang Yifan tunggu-tunggu. Luhan tersenyum memandang Yifan. "Kau harus menjawabnya, Yifan...
-Siapa itu ... Zitao?"
Mata Yifan membulat mendengarnya. Untuk apa Luhan menanyakan Zitao? Ah, ini pasti karena kecerobohannya yang terus saja mengingat Zitao dan tanpa sengaja mengucapkan nama Zitao berulangkali di hadapan Luhan. "Untuk apa kau menanyakan Zitao?"
Luhan hanya tersenyum, "... apakah dia kekasihmu, Yifan?"
.
.
Kekasih ...
Kekasih Yifan.
"Ya,"
.
.
.
.
"Kau bohong!"
"Apa maksudmu hah?! Pergilah dari sini!" bentak Yifan kesal. Luhan terkejut. Badannya langsung bergetar. Ia pun segera pergi, berlari menjauhi Yifan dengan mata yang berkaca-kaca.
Yifan memegangi kepalanya yang kembali sakit.
"Zitao ...
-aku membutuhkanmu ..."
.
.
.
"Ah ... sepertinya dewi fortuna berpihak padaku. Aku bahkan belum melakukan apa pun, dan pekerjaanku semakin ringan saja," Kai berjalan santai, keluar dari tempat persembunyiannya yang sedari tadi memperhatikan Yifan dan Luhan.
.
.
.
TBC
.
Mumumumu, ira kembalii^^
Hehehe, readers, menurut kalian, chapter ini membosankan gak? Atau justru kependekan? Maafkan ira jika readers kurang menyukai chapter kali ini. Maaf juga bagi Sehun lovers karena harus membuat karakter Sehun jadi jahat begini T_T
Balasan review Chapter 2:
LVenge : "Haai, hehehe belum tahu end-nya dengan pasti nih. Iya, iraa juga gak tega harus membuat karakter Tao ama abang Kris menderita. Thanks udah semangatin dan review ff iraa"
Huang Zi Mei : "Haai, iya ini udah lanjut kok beb :v aduh kasian atuh bang Kris-nya menderita T_T wkwk end-nya belum tau. Ahahah Sehun kan pangeran exo wkkwk. Thanks udah review"
yuikitamura : "Haai, aduh bikin merinding aja neng wkwk :D maafin ira harus buat crackpair beginiii, soal end-nya belum tahu heheh. Thanks udah review"
HUANGYUE : "Haai, wakwaw, Kai kan suruhannya si Sehun wkwkwk XD maaf yah chapter ini malah crack pair huhuhu. Thanks udah review"
Harumi Shiba0068: "Haai, ahaha iya jan sampe si Kris terpengaruh sama si albino licik XD thanks udah review"
beruanggajah: "Haai, waah makasih yaah udah nyadarin iraaa! Laff you deh :* wkwkk, maaf harus ada KrisHan di chapter inii. Thanks udah review"
luphbebz : "Haai, hehehe sama dong kita *tos* XD. Aduh, kalo itu sih belum tahu wkwk. Thanks udah review"
Dandeliona96 : "Haai, hehe makasih udah nyempatin baca ff abal-abal ini. Iya, Sehun-nya harus jahat dulu ini wkwk. Thanks udah review"
celindazifan : "Haai, sama, gabisa liat Tao menderita huhuhuu T_T. thanks udah review"
ajib4ff : "Haai, wkwk iya Sehun harus jahat dulu ikii. Thanks buat semangat, doa dan reviewnya"
panrao : "Haai, iya ini udah lanjut kok. Thanks udah review"
Fuyuka11 : "Nah elu muncul lagi XD semangatin gue aja dah wkwkwk. Thanks udah review"
Kirei Thelittlethieves: "Haai, iya ini udah lanjut kok. Thanks udah review"
invisible : "Haai, wkwk makasih pujiannya, jadi malu ihiy XD Thanks udah review"
Guest : "Haai, wkwk iya, makasih udah nyempatin baca. Huntao? Siip :D! thanks udah review"
sehunna : "Haai, KrisHan? Oke siip XD/ thanks udah review"
taoris : "Haai, iyaa iraa juga ga tega liat Tao tersiksa huhuhu. Secepatnya kalo bisa, aduh jangan dihancurin dong, kasian entar. Thanks udah review"
Xyln : "Haai, iya Sehun-nya dikasi peran jahat dulu wkwk, yah jangan ampe si Kris terpengaruh oleh si manis Luhan XD Thanks udah review"
Aiko Michishige : "Haai, iya ini udah dilanjut kok. Thanks udah review"
Tolong semangati saya, readers, karena mungkin dalam waktu kedepannya saya tidak bisa seaktif sekarang T_T
Dan untuk kakak2 kelas yang akan ujian, semangat! Semoga diberi kemudahan dalam menjawab soal ^^/
And again, MIND TO REVIEW? :)
