Sorry klo chapter ini terasa boring karena banyak kata yg sama dg GoF, pi story line-nya dah pas & klo di ubah justru jadi aneh.

Sorry jg klo kepanjangan, itung-itung olahraga mata.

Met baca ^0^

____________

Disclaimer : karakter-karakter yang berdaya jual mahal di sini masih punya J.K Rowling, klo ga penulis ga bakalan bingung mikirin THR lebaran yg.....hiks....hiks....

____________

Chapter 3 Gelora Pra Piala Dunia

Akira terjerembab keluar dari perapian keluarga Weasley, kehilangan keseimbangan dan membentur dinding perapian—nyengir menjengkelkan, Ron menariknya berdiri. Ia harus lebih sering membiasakan diri berpergian dengan bubuk floo. Disebelahnya Harry sedang memberitahu Fred bahwa Dudley memakan permen sihir mereka.

"Apa sebenarnya itu?" Akira bertanya pada Fred yang wajahnya berbinar riang.

"Permen lidah liar." kata Fred bangga "Aku dan George yang menciptakannya, dan kami selama musim panas ini mencari orang untuk mengetesnya."

Dapur kecil itu dipenuhi tawa dan saat memandang berkeliling, Akira melihat duduk di meja kayu yang digosok licin dua orang berambut merah yang belum penuh dilihatnya maupun Harry, walau mereka langsung bisa menduga itu pastilah Bill dan Charlie, dua kakak laki-laki tertua Weasley bersaudara.

"Apa kabar, kalian pasti Harry dan Akira?" sapa yang duduk lebih dekat dengan mereka, ia menjulurkan tangan besar yang langsung di jabat bergantian oleh Harry dan Akira. Tangan itu terasa kasar dan kuat serta dipenuhi kapalan, inilah pastilah Charlie yang bekerja di Rumania untuk menangani naga, pikir Akira. Sosok Charlie seperti si kembar, lebih pendek dan gempal daripada Ron dan Percy yang keduanya jangkung dan kurus. Wajahnya lebar dan menyenangkan, biasa di udara terbuka sehingga agak terbakar matahari.

Bill bangkit dan tersenyum, menjabat tangan Harry dan Akira juga. Bill merupakan kejutan bagi mereka berdua terutama Harry. Mereka tahu dari cerita Ron, Bill bekerja di Bank Sihir, Gringots dan dia pernah menjadi Ketua Murid di Hogwarts. Selama ini mereka membayangkan Bill seperti Percy dalam versi yang lebih tua—cerewet tentang pelanggaran peraturan dan suka memerintah orang lain. Ternyata Bill—tak ada kata lain cool. Dia jangkung dengan rambut panjang yang diikat ekor kuda. Pakaian Bill tidak akan tampak ganjil dipakai dalam konser musik rock, hanya saja sepatu botnya bukan terbuat dari kulit biasa melainkan kulit naga.

Mereka tidak sempat bicara lebih banyak lagi karena terdengar bunyi pop pelan, dan Mr Weasley muncul begitu saja di balik bahu George, belum pernah Harry dan Akira melihatnya semarah itu.

"Sama sekali tidak lucu Fred!" ia berteriak "Apa yang kau berikan pada anak muggle itu?"

"Aku tidak memberinya apa-apa, tadikan permenku jatuh." sahut Fred dengan tampang tak berdosa yang jelas tidak akan membohongi siapapun "Salahnya sendiri jika dia memakannya, aku tidak menyuruhnya makan."

"Kau sengaja menjatuhkannya!" raung Mr Wealey "Kau tahu ia akan memakannya, kau tahu dia sedang diet."

"Sepanjang apa lidahnya?" George memotong.

"Panjangnnya sampai semeter seperempat, sebelum orang tuanya mengizinkan aku mengecilkannya."

Tawa kembali meledak di ruangan itu.

"Tidak lucu!" bentak Mr Weasley "tingkah seperti ini merusak hubungan antara penyihir dan muggle! Kuhabiskan separoh hidupku berkampanye menentang perlakuan tidak senonoh terhadap muggle, tapi anakku sendiri…."

"Kami tidak melakukannya karena dia muggle." Fred berkata berang.

"Benar itu karena dia anak manja menyebalkan yang brengsek dan suka main ancam—benarkan Harry."

"Yeah, betul Mr Weasley." Harry menambahkan dengan semangat.

"Bukan itu masalahnya!" kata Mr Weasley marah "Tunggu sampai aku memberitahu ibumu."

"Beritahu aku apa?" terdengar suara dari belakang mereka.

Mr Weasley baru saja masuk ke dapur. Dia wanita pendek gemuk dengan wajah yang sangat ramah, meskipun saat ini matanya menyipit curiga.

"Oh halo Akira, Harry." menatap kedua anak itu tersenyum lalu kembali menatap suaminya "Beritahu aku apa Arthur?"

Mr Weasley tampak ragu, baik Harry maupun Akira tahu betapapun marahnya dia pada Fred dan George, dia tidak benar-benar akan memberitahu pada Mrs Weasley apa yang terjadi. Suasana hening sementara Mr Weasley memandang istrinya dengan cemas. Kemudian Ginny dan Hermione muncul di pintu dapur. Keduanya tersenyum pada Harry dan Akira. Harry membalas nyengir membuat wajah ginny semakin merah—ia memang sudah suka sekali pada Harry sejak kunjungan pertamanya ke The Burrows.

"Beritahu aku apa Arthur?" ulang Mrs Weasley dengan suara berbahaya.

"Tidak apa-apa Molly." gumam Mr Weasley "Fred dan George tadi…tapi mereka sudah kumarahi."

"Apa yang mereka lakukan kali ini?" tanya Mr Weasley "Kalau ada hubungannya dengan sihir sakti Weasley….."

"Bagaimana kalau kautunjukan pada Harry dan Akira di mana mereka tidur Ron?" kata Hermione dari pintu.

"Harry tahu di mana akan tidur." kata Ron "Dia tidur dikamarku saat—"

"Yeah tapi Akira tidak tahu dan kita semua bisa ikut." potong Hermione tegas.

"Yeah kami juga ikut." ujar George.

"Kau tetap ditempatmu!!" bentak Mrs Weasley.

Mereka berlima menyelinap dari dapur, melewati lorong sempit lalu menaiki tangga berderit yang berzig-zag ke tingkat atas.

"Apa sih sihir sakti Weasley?" tanya Harry sementara mereka menaiki tangga.

Ron dan Ginny tertawa meskipun Hermione tidak.

"Mum menemukan setumpuk formulir pesanan saat ia membersihkan kamar Fred dan George" kata Ron "Daftar harga panjang untuk barang-barang ciptaan mereka—cuma lelucon kau tahu kan. Tongkat sihir palsu, permen-permen aneh dan banyak lagi. Sangat menakjubkan aku tidak tahu mereka membuatnya selama ini."

"Sudah lama kami mendengar ledakan dari kamar mereka, tapi tidak pernah mengira mereka akan benar-benar menciptakan sesuatu." Ginny menambahkan "Kami kira mereka hanya suka bunyinya."

"Hanya saja sebagian besar benda itu—yah semuanya sebetulnya—agak berbahaya." kata Ron "Dan kalian tahu kan, mereka berniat menjualnya di Hogwarts semester nanti, mum marah sekali. Dia melarang mereka membuat barang-barang seperti itu lagi. Nilai OWL yang mereka dapatkan juga tidak setinggi yang diharapkan mum."

"Lalu terjadi pertengkaran hebat, mum ingin mereka bekerja di kementrian sihir seperti dad, tapi mereka bersikeras hanya ingin membuka toko lelucon."

Saat itu pintu di bordes kedua terbuka dan ada wajah terjulur keluar, memakai kacamata bergagang tanduk dan tampak jengkel sekali.

"Hai Percy." sapa Harry.

"Oh Halo Harry." kata Percy "Aku baru saja membatin, siapa yang membuat begitu banyak keributan?—aku sedang bekerja tahu—ada laporan yang harus kuselesaikan untuk kantor dan agak susah berkonsentrasi jika orang bergledak-gleduk lewat tangga."

"Kami ngak geledak-geleduk." ujar Ron sebal "Kami jalan biasa, sory deh kalau ngeganggu kerja top secret kementrian."

"Bikin laporan apa?" tanya Akira.

"Laporan untuk Departemen Kerjasama Sihir Internasional." kata Percy sok "Kami sedang menstandarkan ketebalan kuali, beberapa kuali import agak ketipisan, kebocoran terus meningkat 3% dalam setahun ini."

"Oh ya—dan itu akan mengubah dunia" Ron Berkata sinis "Halaman utama Daily Prophet kurasa, Kuali bocor…"

Wajah Percy merona merah, membanting pintu kamarnya hingga menutup sementara kelima anak itu kembali menaiki tangga. Teriaka-teriakan di dapur kembali terdengar oleh mereka, sepertinya Mr Weasley sudah menceritakan masalah permen itu.

Ini pertama kalinya Akira melihat kamar Ron—tidak jauh beda dengan kondisi kamarnya di asrama—sama berantakan maksudnya. Hanya saja di sini lebih meriah dengan dominasi merah menyala, dindingnya penuh poster-poster tim Quiditch favorit Ron—Chudley Cannon yang saling melempar bola dan melambai, di sudut kamar ada akuarium kering yang dihuni oleh kodok hijau gendut berwajah muram—oke…selera yang unik untuk hewan peliharaan, dan sebagai pengganti Scrabers, seekor burung kecil imut yang telah mengantarkan surat Ron pada Akira, meloncat-loncat dan memekik bising di sangkarnya.

"Diam Pig!!" bentak Ron menyelinap diantara dua dari lima tempat tidur yang telah dijejalkan ke dalam kamar itu "Fred dan George akan tidur disini bersama kita." ia menjelaskan pada Akira dan Harry "Kamar mereka diisi Charlie dan Bill, sedangkan Percy tidak bisa diganggu."

"Er…kenapa burung hantu itu kaunamakan Pig?" Harry menanyakan hal yang juga dipikirkan Akira.

"Karena Ron tolol." kata Ginny "Nama yang sebenarnya adalah Pigwidgeon."

"Yeah—dan itu sama sekali bukan nama yang tolol." Ron berkata sinis "Ginny yang kasih nama, dia menganggap nama itu manis—tapi sudah terlambat burung itu tidak mau menyahut jika dipanggil dengan nama lain terpaksa namanya Pig."

"Dia menyukainya, nama Pigwidgeon itu." Akira mengatakan perasaan Pig membuat wajah Ron makin berkerut jengkel.

"Percy senang bekerja rupanya." kata Harry seraya duduk di salah satu tempat tidur.

"Senang?!" ulang Ron sebal "Dia terobsesi, kurasa dia tidak akan pulang kalau Dad tidak memaksanya—jangan pernah sekali-kali menyebut nama bosnya. Menurut Mr Crouch…seperti kukatakan pada Mr Crouch….Mr Crouch berpendapat…pertunangan mereka bisa diumumkan setiap saat."

"Bagaimana liburan musim panas kalian, kau menerima kue dari kami Harry?" Hermione bartanya.

"Ya, thanks kue-kue itu menyelamatkan hidupku."

"Lalu…Apa kakakmu pulang liburan ini Akira?" Hermione memandang Akira.

"Tidak, katanya masih banyak hal yang harus dikerjakannya."

"Ooh…"gumam Hermione prihatin.

"Dan apa kau sudah mendapat kabar dari…..?" Ron langsung berhenti saat melihat Hermione menatapnya tajam. Harry tahu Ron akan bertanya tentang Sirius dan ia setuju itu bukan topik yang baik untuk dibahas di depan Ginny. Ron dan hermione seperti halnya Akira dan Harry turut terlibat meloloskan Sirius dari kementrian karenanya keprihatinan mereka terhadap Sirius sama dengan Harry.

Untunglah kecurigaan Ginny terhadap obrolan yang terpaksa terputus itu teralihkan akibat kemunculan Bill dipintu dengan ekspresi yang aneh.

"Ada seekor anjing sangat besar muncul di depan rumah, setahuku Mum tidak terlalu suka anjing—tapi hentah kenapa ia sepertinya menyukai hewan itu"

"Itu pasti Rooku, dan dia serigala bukan anjing" Akira berkata, melangkah keluar diikuti yang lain, tapi Ginny melesat mendahului, ia memang sangat menyukai serigala berbulu seputih salju itu.

Mereka menjumpai Rooku sedang duduk sopan disebelah perapian. Sepertinya pertengkaran sudah berhenti di dapur, karena mereka hanya mendapati Mrs Weasley sedang memasak dengan wajah yang terlihat masih jengkel.

Akira mengambil koper besar berisi keperluan sekolahnya yang tergeletak di sebelah kaki Rooku "Thanks Rooku." ujarnya menepuk kepala besar serigala itu. Sementara Ginny langsung berjongkok dan memeluknya.

"Anjing itu pintar sekali" puji Mr Weasley seraya mengacungkan tongkatnya pada seonggok kentang di tempat cuci piring, membuat kentang-kentang itu berputar lepas dari kulitnya cepat sekali "Ia bahkan menekan bel, aku ingin tahu bagaimana kau melatihnya?"

"Saya tidak melatihnya." jawab Akira jujur "Dan Rooku serigala."

Kita akan makan di kebun." kata Mr Weasley, tak terlalu menggubris ralat Akira "Tak cukup untuk dua belas orang di dalam sini—Kalian bisa tolong bawakan piring dan garpu ini lalu susun di luar, Charlie sedang membereskan mejanya!"

Akira kembali ke kamar Ron untuk meletakkan tasnya sementara yang lain kepayahan membawa peralatan makan ke kebun.

Saat Akira kembali turun ia mendengar suara gedebuk seru dari kebun. Sumber kebisingan ini baru diketahuinya sesampai di sana. Bill dan Charlie sedang mengacungkan tongkat, membuat dua meja tua terbang tinggi di halaman saling bertabrakan dan masing-masing meja tampak berusaha saling menjatuhkan yang lain. Sementara di tepi pagar tanaman Fred dan George bersorak menyemangati, Ginny, Ron dan Harry tertawa sementara Hermione diam tercabik antara rasa geli dan cemas.

Meja Bill menghantam meja Charlie dengan bunyi gubrak keras, mematahkan salah satu kakinya. Terdengar derak dari atas dan mereka semua mendongak. Kepala Percy terjulur keluar dari jendela di lantai dua.

"BISA DIAM TIDAK SIH?!" raungnya.

"Sory Perce." Bill nyengir "Bagaimana kemajuan pantat kualinya?"

"Buruk sekali!" keluh Percy dan ia membanting jendelanya, terkekeh Bill dan Charlie mendaratkan kedua meja dengan aman ke rumput, kedua ujungnya merapat kemudian dengan satu jentikan tongkatnya Charlie menempelkan kembali kaki mejanya dan menyihir taplak meja hentah dari mana.

Tepat pukul tujuh makan malam dimulai, membuat Akira sangat bersyukur sekali karena datang hari itu. Kesembilan Weasley, Harry, Hermione dan Akira menyantap berpiring-piring masakan lezat Mrs Weasley di bawah langit biru gelap. Bahkan Mrs Weasley menyiapkan menu istimewa untuk Rooku dan Crookshanks—sebongkah tulang jumbo, irisan tebal daging dan tuna segar.

Mr Weasley menyihir lilin-lilin untuk menerangi kebun yang mulai gelap sebelum mereka menyantap wafel dengan es cream blueberi buatan sendiri. Saat makan malam usai, ngengat berterbangan rendah di atas meja dan udara yang hangat dipenuhi aroma rumput dan mawar liar membuat Akira yang kekenyangan merasa senang sekaligus mengantuk. Badannya yang pegal karena kerja sambilan tadi siang makin terasa.

Ron memandang berkeliling untuk memastikan semua anggota keluarga sedang sibuk bicara "Jadi kau sudah dapat kabar dari Sirius belakangan ini?" bisiknya pelan pada Harry.

Hermione memandang sekeliling, memasang telinga tajam-tajam.

"Yeah." jawab Harry pelan "Dua kali. Sepertinya dia baik-baik saja. Aku menulis kepadanya kemarin, mungkin dia akan membalasnya sewaktu aku di sini"

Harry mendadak teringat alasannya menulis surat pada Sirius dan sesaat sudah bermaksud akan mengatakannya pada Ron dan Hermione. Tetapi dia tidak ingin membuat mereka cemas sekarang, tidak saat dia sendiri merasa bahagia dan damai lagipula Akira berkata bekas lukanya sakit bukan karena Voldemort ada di dekatnya, mengetahui hal itu saja sudah cukup membuatnya tenang.

"Astaga sudah jam berapa sekarang?" celetuk Mrs Weasley tiba-tiba, memandang arlojinya "Kalian seharusnya sudah ada di tempat tidur—kalian harus bangun subuh untuk ke tempat pertandingan. Harry, Akira kalian tinggalkan saja daftar keperluan sekolah kalian, akan kubelikan besok di Diagon Alley sekalian dengan yang lain, mungkin sudah tidak akan ada waktu lagi setelah piala dunia. Pertandingan berlangsung lima hari pada piala dunia yang lalu."

"Terima kasih Mrs Weasley, kalau begitu saya akan meminta Rooku membantu anda." kata Akira.

"Kalau dia bisa melakukannya aku akan sangat tertolong." ujar Mrs Weasley senang.

Rasanya baru saja Akira membaringkan diri di kamar Ron untuk tidur, dia sudah dibangunkan oleh Mrs Weasley.

"Sudah waktunya bangun, Akira." bisiknya seraya pergi membangunkan Harry dan Ron yang tidur di sebelahnya.

Akira memaksakan diri bangkit, sejujurnya dia masih ingin meletakkan kepalanya di bantal dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Dia dapat mendengar Ron bergumam tidak jelas saat Mrs Weasley membangunkannya dan melihat siluet Harry yang meraba mencari kacamatanya. Di kaki kasur Akira melihat dua sosok besar berantakan muncul dari balik selimut yang kusut.

Mereka berpakaian dalam diam, masih terlalu ngantuk untuk bicara. Kemudian sambil menguap dan menggeliat kelimanya turun ke dapur, mendapati kedua anak perempuan sudah duduk di sana dengan mata setengah terpejam.

Mrs Weasley sedang mengaduk isi panci besar di atas kompor sementara Mr Weasley duduk di depan meja memeriksa segebuk tiket perkamen. Dia mendongak ketika kelima anak itu masuk dan mengembangkan tangannya agar mereka bisa melihat penampilannya.

"Bagaimana?" tanyanya "Kita disuruh menyamar apa aku seperti muggle?"

Saat itu Mr Weasley memakai sweeter golf dan celana jins butut yang agak kebesaran sehingga ditahan dengan ikat pinggang kulit besar.

Harry bertukar pandang dengan Akira sekilas sebelum berkata"Yeah, mirip sekali." mereka tersenyum.

"Mana Bill, Charlie dan Per—Perc…" George gagal menahan kuap

"Mereka ber-apparete." kata Mrs Weasley mengangkat panci besar itu ke atas meja dan mulai menyendokan bubur ke mangkuk-mangkuk "Jadi mereka bisa tidur sebentar lagi."

"Jadi mereka masih di tempat tidur." gerutu Fred menarik buburnya mendekat "Kenapa kami tidak ber-apperete juga?"

"Karena kalian belum cukup umur dan belum ujian!" sahut Mrs Weasley berang.

"Eng…kita harus lulus ujian untuk bisa ber-apperete?" tanya Harry.

"Oh—tentu saja." kata Mr Weasley menyelipkan tiket ke saku belakang jinsnya agar aman "Departemen transportasi sihir terpaksa mendenda dua orang kemarin gara-gara ber-apperete tanpa lisensi. Tidak mudah ber-apperete, dan kalau tidak dilakukan dengan benar komplikasinya bisa sangat buruk, kedua orang yang kuceritakan ini terbelah."

Mendengar perkataan Mr Weasley, semua yang di meja langsung menghentikan suapannya.

"Er…mereka terbelah?" tanya Harry.

"Mereka meninggalkan separo tubuh mereka." kata Mr Weasley sekarang menuangkan saus banyak-banyak ke buburnya "Jadi tentu saja mereka tidak berdaya terpaksa menunggu Pasukan Pembalikan Sihir Tak Sengaja untuk menolong mereka."

"Apa mereka tidak apa-apa?" kali ini Akira yang bertanya.

"Tidak." kata Mr Weasley tanpa berbelit-belit "Tetapi mereka harus membayar denda yang sangat besar dan kurasa mereka tidak akan mencobanya lagi dalam waktu dekat. Kita tidak boleh bermain-main dalam hal ber-apperete ini."

Akhirnya suapan terakhir sudah habis. Mereka meninggalkan The Burrows membawa ransel masing-masing, melambai ringan pada Mrs Weasley.

"Selamat bersenang-senang." Kata Mrs Weasley "Dan jangan bikin kehebohan!" ujarnya pada si kembar.

Udara masih dingin sekali dan bulan masih bersinar pucat, tapi itu menguntungkan bagi Akira yang terbiasa menjadi loper koran di pagi hari, karena begitu mencium aroma embun ia langsung tersadar sepenuhnya. Langit juga masih gelap hanya sedikit sekali warna hijau pucat di kaki langit di sebelah kanan mereka yang menandakan subuh segera datang.

"Jadi bagaimana cara para penyihir ke piala dunia tanpa menarik perhatian?" Harry bertanya pada Mr Weasley saat mereka sedang menuruni bukit.

"Ini memang problem pengorganisasian yang sangat besar." Mr Weasley menghela napas "Persoalannya kira-kira seratus ribu penyihir akan datang untuk menonton piala dunia Quiditch, dan tentu saja kita tidak memiliki tempat sihir yang cukup luas untuk menampung mereka semua. Oleh karena itu kami harus mencari tanah kosong yang nyaman dan menjalankan pengamanan anti muggle sebanyak mungkin. Seluruh kementrian menyiapkan hal ini selama berbulan-bulan tentunya. Pertama-tama kami harus mengatur kedatangan secara bergiliran, mereka yang tiketnya murah harus tiba dua minggu sebelumnya, dalam jumlah terbatas dengan menggunakan transportasi muggle. Beberapa ber-apparete tentu saja, tapi kami harus menetukan jarak aman di mana mereka bisa muncul yang jauh dari para muggle. Ada hutan strategis yang bisa digunakan untuk tempat ber-aparete. Sedangkan bagi mereka yang tidak ingin atau tidak bisa ber-aparete kami menyediakan portkey, suatu benda yang digunakan untuk mengangkut penyihir dari suatu tempat ke tempat lain pada waktu yang telah ditentukan. Bisa berangkat serombongan besar sekaligus, jika diperlukan. Ada sekitar dua ratus portkey yang diletakan di tempat-tempat strategis di seluruh Inggris dan yang paling dekat dengan kita adalah yang puncak Bukit Stoashead—jadi ke sanalah kita sekarang."

Mr Weasley menunjuk ke depan, ke arah gundukan besar hitam yang menjulang di balik Desa Ottery.

"Benda-benda macam apa portkey itu?" tanya Harry ingin tahu.

"Bisa apa saja." ujar Mr Weasley "Barang yang tidak akan menarik perhatian muggle sehingga tidak akan diambil…barang-barang yang mereka pikir cuma sampah."

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak kecil gelap dan basah menuju ke desa, keheningan hanya dipecahkan oleh langkah-lajngkah mereka. Langit perlahan sekali bertambah terang sementara mereka melewati desa. Kegelapan yang semula pekat mulai memudar menjadi biru tua. Semua merasa tangan dan kakinya nyaris beku, sementara Mr weasley berulang-ulang menengok arlojinya.

Mereka tidak punya sisa napas untuk berbicara ketika mulai mendaki Bukit Stoatshead, hanya Akira yang tampaknya tidak terpengaruh. Kadang-kadang mereka terhuyung terperosok ke lubang kelinci atau tergelincir gerumbulan lumut lebat yang licin.

Akira yang pertama kali mencapai puncak bukit, meninggalkan yang lain agak jauh di belakang. Ia menghirup napas panjang merasakan kesegaran pagi. Suasana yang sudah lama dirindukannya pikir Akira, tinggal di apartemen sempit ditengah kota London selalu membuatnya berpikir ia ada di penjara dan sekarang dia bebas.

Setiap helaan napas Harry membuat dadanya sakit dan kakinya mulai susah digerakan, sedikit lega ketika akhirnya telapak kakinya menyentuh tanah datar. Ia sangat heran sekaligus jengkel melihat Akira yang sama sekali tidak terlihat lelah dan justru sangat hidup, tersenyum melambai pada mereka dari puncak bukit.

"Whew!" keluh Mr Weasley terengah saat akhirnya sampai ke puncak, mencopot kacamatanya dan menggosokannya ke sweter "Yah cukuplah—kita masih punya sepuluh menit…"

Hermione yang terakhir sampai di puncak bukit memegangi sisi perutnya.

"Sekarang tinggal cari portkey-nya." kata Mr Weasley, memakai kembali kacamatnya dan menyipitkan mata mencari-cari di tanah "pasti tidak besar. Ayo…"

Mereka menyebar mencari walau Akira dan Harry sebenarnya tidak yakin dengan apa yang seharusnya mereka cari, baru beberapa menit terdengar teriakan membelah keheningan.

"Di sini Arthur! Di sini nak, sudah ketemu"

Dua sosok jangkung membentuk siluet berlatar langit berbintang di sisi lain bukit.

"Amos!" sapa Mr Weasley, tersenyum seraya melangkah mendekati laki-laki yang berteriak itu. Yang lain mengikutinya.

Mr Weasley bersalaman dengan penyihir berwajah kemerahan, berjenggot coklat lebat. Salah satu tangannya memegangi sepatu bot usang.

"Ini Amos Diggory, anak-anak." kata Mr Weasley "Dia bekerja di Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Gaib, dan kurasa kalian kenal dengan anaknya Cedric?"

Cedric Diggory adalah pemuda luar biasa tampan, berusia kira-kira tujuh belas tahun. Dan kapten sekaligus seeker tim Quidditch Hufflepuff di Hogwarts.

"Hai!" sapa Cedric memandang berkeliling pada mereka semua.

Semua membalasnya kecuali si kembar yang hanya mengangguk, mereka tidak pernah sepenuhnya memaafkan Cedric karena mengalahkan tim Gryffindor, dalam pertandingan pertama tahun ajaran lalu.

"Perjalanan jauh Arthur?" tanya Amos.

"Tidak juga, kami tinggal di balik desa—kau?"

'Harus bangun pukul dua ya Ced?, aku akan senang kalau dia sudah lulus ujian ber-apparete. Tapi…aku tidak mengeluh demi piala dunia Quidditch" Amos Diggory dengan ramah memandang keempat bersaudara Weasley, Harry, Hermione dan Akira "Semuanya anakmu Arthur?"

"Oh, bukan hanya yang berambut merah" Mr Weasley menunjuk anak-anaknya "Ini Hermione, Akira dan Harry—teman-temannya Ron."

"Jenggot Merlin" kata Amos Diggory, matanya melebar "Harry—Harry Potter"

"Er—yeah." kata Harry.

Walau dia sudah terbiasa dengan orang-orang yang memandangnya penuh rasa ingin tahu sewaktu bertemu dengannya, terbiasa dengan mata mereka yang langsung bergerak ke arah bekas luka berbentuk sambaran kilat di dahinya. Tetapi itu tetap membuatnya salah tingkah.

"Ced sudah cerita tentang kau tentunya." kata Amos "Cerita pada kami tentang pertandingannya melawanmu tahun lalu…aku bilang padanya Ced ini bisa diceritakan kepada cucu-cucumu, kau— mengalahkan Harry Potter."

Harry tidak tahu harus menanggapinya bagaimana maka ia diam, sementara Fred dan George tampak jengkel dan Cedric terlihat tidak enak.

"Sudah hampir waktunya." kata Mr Weasley cepat-cepat menarik keluar arloji dari kantungnya lagi "Apa masih ada yang kita tunggu Amos?"

"Tidak, keluarga Loongvode sudah ada di sana sejak minggu lalu dan Fawcet tidak berhasil mendapatkan tiket." kata Mr Diggory "Tidak ada lagi kaum kita di sekitar sini."

"Kurasa tidak." kata Mr Weasley "Semenit lagi—sebaiknya kita bersiap" ia memandang Hermione, Harry dan Akira "Kalian hanya perlu menyentuh portkey-nya, satu jari sudah cukup."

Dengan sudah payah, karena ransel mereka besar-besar, mereka bersepuluh berdesakan mengitari sepatu bot butut yang dipegang Amos Diggory. Berdiri dalam lingkaran rapat, sementara angin dingin menyapu puncak bukit. Tak seorang pun bicara selain Mr Weasley.

"Tiga…" ujarnya seraya menatap arlojinya "Dua….satu…."

Terjadinya begitu saja Akira merasa seakan ada kaitan di tengkuknya yang mendadak ditarik ke depan tak tertahankan. Kakinya terangkat dari tanah, ia dapat merasakan bahu yang lain berbenturan dengan bahunya. Mereka semua melesat ke depan dalam deru angin dan pusaran warna. Dan kemudian…..

Kakinya menghantam tanah, Hermione terhuyung menabraknya dan disebelahnya Ron nyaris menubruk Harry jatuh. Portkey jatuh di sebelahnya dengan bunyi 'bluk' yang keras.

Akira mendongak, Mr Weasley, Mr Diggory dan Cedric masih berdiri tegak, meskipun baru tampak diterpa angin kencang. Yang lain bergeletakan di tanah seperti lalat yang baru dipukul jatuh.

"Tujuh lewat lima dari bukit Stoastshead." terdengar suara berkata.

Mereka berpisah dengan Cedric dan Ayahnya yang menuju tempat perkemahan di sisi timur. Berjalan dengan susah payah di lapangan berkabut, diantara deretan panjang tenda. Sebagian besar terlihat biasa, pemiliknya jelas mencoba membuatnya semirip mungkin dengan kemah muggle. Tetapi agak meleset dengan menambahkan cerobong asap, penarik lonceng atau baling-baling.

Mereka sudah sampai di tepi hutan, tempat yang paling atas dan di sini ada tanah kosong dengan papan kecil yang ditancapkan di tanah bertuliskan WEEZLY!!.

'Tidak bisa dapat yang lebih baik lagi" kata Mr Weasly senang "Lapangan Quidditchnya persis di balik hutan, kita sudah dekat sekali." Dia menurunkan ransel dari punggungnya "Baik!" ujarnya bersemangat "Tak diizinkan pakai sihir, karena jumlah kita di tanah muggle terlalu banyak. Kita akan mendirikan tenda ini dengan tangan. Tak akan terlalu sulit, toh muggle melakukannya sepanjang waktu—nah Harry menurutmu kita mulai dari mana?"

Harry yang seumur hidupnya belum pernah diajak ke acara liburan apapun, apalagi berkemah tidak bisa banyak membantu—begitu juga Hermione yang memang tidak terlalu menyukai acara di udara terbuka. Akhirnya Akiralah yang sedikit berguna, mendirikan tenda seharusnya bukan hal sulit baginya mengingat setengah dari hidupnya lebih banyak dihabiskan di alam liar—walau ia akan lebih ahli dengan kayu dan atap jerami daripada kain parasit dan paku besi yang terpancang. Mr Weasley sendiri lebih banyak mengganggu daripada membantu karena ia jadi terlalu bersemangat menggunakan palu. Tetapi akhirnya tenda mereka berhasil didirikan.

Semuanya mundur untuk mengagumi hasil karya mereka. Tak seorangpun yang melihat kemah ini akan berpikir kemah milik penyihir, Harry mengakui—hanya saja, ia menatap Akira tampaknya mereka memiliki pemikiran yang sama. Jika Bill, Charlie dan Percy datang nanti jumlah mereka akan menjadi sebelas. Hermione tampaknya juga menyadari hal ini ia melempar pandangan bertanya pada Harry dan Akira saat Mr Weasley melangkah masuk.

"Akan sedikit sempit." ujarnya dari dalam "Tapi kurasa kita semua bisa masuk—masuk dan lihatlah."

Setelah saling bertukar pandang ketiga anak itu menerobos masuk dan ternganga, karena mereka mendapati flat berkamar tiga model lama lengkap dengan kamar mandi dan dapur.

"Sihir." di belakang Akira, Hermione bergumam jengkel sekaligus kagum "Seharusnya sudah kuduga."

"Cool….." Harry berkomentar setengah takjub setengah senang.

Oke….dalam hal yang satu ini sihir memang lebih keren, Akira harus menyetujui.

Namun selain ketiga anak itu tampaknya tidak ada yang terpukau dengan keanehan tenda mereka.

"Kita akan membutuhkan air." Mr Weasley memungut katel berdebu di lantai.

"Aku melihat tanda keran air di peta." kata Ron "sepertinya terletak di sisi lain lapangan."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kau, Harry, dan Akira ke sana dan mengambil air untuk kita—sementara yang lain akan membantuku mencari kayu."

"Tapi kita punya oven." protes Ron "Kenapa kita tidak—"

"Ron, pengamanan anti muggle." kata Mr Weasley, wajahnya berseri penuh gairah "Kalau muggle asli berkemah mereka memasak dengan api di luar, aku sudah pernah melihatnya."

Setelah tur kilat ke tenda anak perempuan yang agak lebih kecil tapi tanpa bau kucing, Harry, Ron dan Akira menyebrangi bumi perkemahan membawa ketel dan panci kecil.

Kini seiring dengan meningginya matahari dan menipisnya kabut mereka dapat melihat hamparan tenda yang bertebaran di segala penjuru. Mereka berjalan pelan melewati deretan tenda itu, memandang berkeliling dengan penuh minat. Akira baru menyadari, betapa banyaknya komunitas penyihir. Jika setiap penyihir di dunia dikumpulkan mungkin jumlahnya nyaris menyamai ras-ras di dunia tengah. Tapi tetap saja mereka kalah jumlah dari arthon—sebutan muggle/manusia biasa bagi ras dunia tengah.

Para pekemah lain juga mulai bangun dimulai dari keluarga yang memiliki anak kecil. Ini pertama kalinya bagi Akira maupun Harry melihat penyihir sekecil ini. Seorang anak laki-laki, usianya tidak lebih dari 2 tahun berjongkok di depan tenda berbentuk piramida, memegang tongkat sihir yang terlalu panjang untuknya dan dengan tertarik menusuk-nusuk siput di rerumputan yang perlahan makin menggelembung seperti balon yang ditiup. Saat mereka lewat ibu anak itu bergegas keluar.

"Berapa kali sudah kubilang Kevin" bentaknya "Jangan sentuh tongkat ayahmu" lalu dengan lambaian ringan ia melayangkan tongkat itu dari tangan anaknya dan mengembalikan siput yang malang itu ke ukuran semula.

"Er…matakukah yang tidak benar, atau semuanya yang berubah menjadi hijau?" tiba-tiba Ron berkata saat mereka berbelok mengikuti jalan setapak ke lapangan.

Ternyata bukan mata Ron yang salah. Mereka memasuki kawasan berisi sekelompok tenda yang ditutupi shamrock lebat, sehingga kelihatan ada bukit-bukit hijau berbentuk aneh bermunculan dari tanah. Shamrock merupakan tanaman dengan daun oval berhelai tiga yang dipakai sebagai lambang negara -wajah antusias tampak dari tenda-tenda yang pintunya terbuka lalu dari belakang mereka mendengar nama mereka dipanggil.

"Harry, Ron, Akira!"

Seamus Finniganlah yang memanggil. Semus merupakan teman kelas empat yang sama-sama di Gryffindor. Dia duduk di depan tendanya sendiri yang juga tertutup shamrock, bersama seorang wanita berambut pirang yang tentunya ibunya dan sahabatnya Dean Thomas yang juga dari Gryffindor.

"Suka dekorasinya?" tanya Seamus, nyengir "Kementrian tidak terlalu senang."

"Ah, kenapa kita tidak boleh menunjukan warna kebangsaan kita?" keluh Mrs Finnigan "Kalian harus lihat apa yang ditempelkan para penyihir Bulgaria di tenda-tenda mereka. Kalian akan mendukung Irlandia kan?" dia menambahkan memandang Harry, Ron dan Akira.

Setelah meyakinkan bahwa mereka memang mendukung Irlandia, ketiga anak itu kembali melanjutkan perjalanan lagi. Meskipun setelah agak jauh Ron nyeletuk "dikelilingi mereka bisa bilang apa kita?"

"Apa yang ditempelkan penyihir Bulgaria di tenda mereka?" tanya Akira.

"Ayo kita lihat ke sana" ajak Harry menunjuk deretan tenda yang agak tinggi di bukit dengan bendera Bulgaria—putih, hijau dan merah—tepat ditengahnya.

Tenda-tenda itu tidak ditutupi tanaman hidup, melainkan semuanya ditempeli poster yang sama. Poster pria berwajah masam dengan alis hitam lebat. Gambar itu tentu saja bergerak tapi yang dilakukannya hanyalah cemberut dan merengut.

"Krum." Ron bergumam pelan.

"Apa?" tanya Akira.

"Krum—Viktor Krum, seeker Bulgria." Ron menjelaskan "Dia luar biasa hebat, masih muda lagi—baru delapan belas atau sekitar itulah—dia jenius. Tunggu saja nanti malam kalian akan lihat sendiri."

Sudah ada antrean pendek saat mereka sampai di keran di sudut lapangan. Harry, Ron dan Akira ikut antre tepat dibelakang dua penyihir pria yang sedang berdebat seru. Yang satu penyihir sudah tua sekali mengenakan gaun malam berbunga-bunga dengan warna mencolok. Satunya lagi petugas kementrian sihir. Dia memegangi celana panjang bergaris-garis dan nyaris menangis saking putus asanya.

"Pakailah ini, Archie, ayolah. Kau tidak bisa berkeliaran dengan pakaian seperti itu." dia memohon "Si muggle di depan sudah mulai curiga."

"Aku beli ini di toko muggle." si penyihir tua membandel "Muggle pakai ini."

"Muggle perempuan yang pakai Archie, bukan laki-laki. Yang laki-laki pakai ini." kata si petugas kementrian dan dia melambaikan celana garis-garis yang dibawanya.

"Aku tidak mau!" kata si penyihir tua jengkel "Aku suka angin segar di sekeliling anggota rahasiaku, terima kasih."

Kalau saja tidak mengingat kesopanan ketiga anak itu pasti sudah meledak tertawa, tapi mereka terpaksa menahannya terutama karena merasa kasihan pada si petugas kementrian yang wajahnya sudah pias.

Berjalan lebih lambat sekarang karena beban yang dibawa, mereka kembali ke kemah berpapasan dengan banyak sekali orang yang mereka kenal salah satunya Oliver Wood mantan kapten Quidditch Griffindor yang baru saja lulus dan dengan bersemangatnya memberitahu mereka bahwa dia baru saja diterima di tim cadangan Puddlemere United. Dan sedikit lebih jauh dari tenda Wood, Harry melihat Cho Chang gadis sangat cantik yang bermain sebagai seeker tim Ravenclaw. Dia melambai dan tersenyum pada Harry—membuatnya menumpahkan cukup banyak air saat membalas. Untungnya Ron sedang memperhatikan serombongan besar remaja yang belum pernah dilihat mereka sehingga tidak terlalu memperhatikannya.

"Siapa kira-kira mereka itu?" tanya Harry "Mereka tidak berasal dari Hogwart kan?'

"Kurasa mereka berasal dari sekolah sihir di negara lain." kata Ron.

"Kalian lama sekali." kata George, setelah akhirnya mereka tiba kembali di kemah.

"Ketemu beberapa orang" Ron menjelaskan menaruh airnya "Apinya belum kau nyalakan?"

"Dad lagi bersenang-senang dengan korek apinya." kata Fred.

Mr Weasley belum menyalakan apinya, tapi bukan belum mencoba. Batang korek api bertebaran di tanah di sekitarnya sementara di sebelahnya Hermione dengan sangat sabar menjelaskan cara menggunakan korek itu.

"Oops!" katanya ketika berhasil menyalakan sebatang korek dan buru-buru menjatuhkannya karena kaget. Tapi wajahnya tampak senang sekali.

Mereka akhirnya berhasil menyalakan api walau masih dibutuhkan waktu sejam lagi sampai apinya cukup panas untuk digunakan memasak. Tapi disekitar mereka cukup banyak yang bisa dilihat terutama untuk Harry dan Akira selama menunggu. Tenda mereka rupanya berada searah dengan jalan menuju ke tengah lapangan, dan para pegawai kementrian tak hentinya melewati jalan itu, menyapa Mr Weasley. Mr Weasley terus-menerus memberi komentar terutama untuk Akira, Harry dan Hermione, anak-anaknya sendiri sudah tahu cukup banyak tentang kementrian sihir sehingga tidak tertarik

Akhirnya apinya siap dan mereka baru saja akan menggoreng telur dan sosis saat Bill datang bersama Charlie dan Percy.

"Baru saja ber-apparete Dad." kata Percy keras-keras 'Ah makan siang yang enak."

Mereka sudah setengah melahap makan siang saat Mr weasley melompat bangun melambai dan tersenyum pada seorang laki-laki yang berjalan ke arah mereka "Aha!" katanya "tokoh utama kita Ludo."

Ludo Bagman adalah orang yang paling mudah dikenali, bahkan mengalahkan si tua Archie. Ludo menggunakan jubah Quiddotch panjang bergaris-garis horizontal kuning cerah dan hitam. Gambar lebah raksasa terpampang di dadanya. Penampilannya mengesankan orang tinggi besar yang penampilannya kurang dipertahankan. Jubahnya tampak tertarik ketat di bagian perutnya yang besar—perut yang pasti tidak sebesar itu saat ia masih menjadi pemain Quidditch nasional Inggris. Hidungnya melesak, tapi mata birunya yang bulat, rambut pirangnya yang pendek dan wajahnya yang merah sehat membuatnya seperti anak sekolah bertubuh besar.

"Ahoi!!" seru Bagman riang. Dia berjalan ringan seakan ada pegas di kakinya dan jelas sedang bergairah sekali.

"Arthur, sobat!" sapanya ketika tiba di api unggun "Hari yang hebat, eh! Tak bisa kita mengharapkan cuaca lebih bagus dari ini, malam nanti tak berawan..dan semua berjalan sesuai rencana tidak banyak yang harus kukerjakan."

Di belakangnya serombongan petugas kemetrian yang tampak lelah buru-buru lewat, menunjuk bukit di kejauhan yang memancarkan api sihir berwarna ungu setinggi enam meter ke angkasa.

Percy bergegas maju dengan tangan terjulur, rupanya celaannya menganai cara Ludo menjalankan Departemennya tidak menghalangi Percy untuk memberi kesan baik.

"Ah ya, maaf." kata Mr Weasley tersenyum "Ini anakku Percy, dia baru mulai kerja di kementrian—dan ini Fred, eh bukan George, sory yang itu Fred—Bill, Charlie, Ron dan anak perempuanku Ginny—dan teman-teman Ron, Hermione Greager, Akira Zachary dan Harry Potter."

Bagman agak kaget mendengar nama Harry dan matanya—seperti yang sudah dihapal Harry, terangkat ke atas ke bekas lukanya.

"Anak-anak ini Ludo Bagman, kalian sudah tahu siapa dia. Berkat dialah kita mendapatkan tiket yang bagus sekali." kata Mr Weasley.

Bagman tersenyum, melambaikan tangan seakan itu soal kecil.

"Kalian bisa bantu tidak?" tanya Bagman "Aku sedang mencari-cari Barty Crouch. Mentri olahraga Bulgaria bikin repot, dan aku tidak mengerti sepatah katapun yang diucapkannya. Barty akan mengeti—dia bisa bicara kurang lebih 150 bahasa."

"Mr Crouch." kata Percy mendadak bersemangat "Dia bisa lebih dari 200 bahasa! Mermish, Gobbledegok dan Troll…"

"Semua orang bisa bahasa Troll, tinggal tunjuk dan menggeram saja." kata Fred meremehkan.

Percy melempar pandangan marah ke arah Fred dan menyodok api keras-keras supaya ketel mendidih lagi.

Seorang penyihir tiba-tiba ber-apparete di sebelah api unggun mereka dan kekontrasannya dengan Ludo Bagman tidak bisa lebih parah lagi. Barty Crouch sudah agak tua, kaku memakai setelan jas bagus dan berdasi. Belahan rambut abu-abunya yang pendek dan lurus, nyaris tidak wajar. Sedangkan kumisnya yang tipis seperti sikat gigi seakan diratakan dengan penggaris. Sepatunya di semir mengkilap. Wow orang tua itu bahkan tidak akan tampak ganjil berjalan-jalan di Wall Street, pikir Akira.

"Kemana saja kau, Ludo?" kata Crouch dan ada ketidaksabaran dalam suaranya "Pihak Bulgaria mendesak kita menambahkan dua belas tempat duduk di boks utama."

"Oh jadi itu mau mereka" kata Bagman "Kukira mereka mau pinjam jepitan, aksennya tajam sekali."

"Dan aku juga mau bicara denganmu Arthur." kata Mr Crouch, matanya yang tajam memandangan Mr Weasley "Ali Bashir marah-marah. Dia mau bicara denganmu tentang pelarangan eksport karpet."

Mr Wealey menghela napas berat.

"aku mengirim burung hantu kepadanya soal itu minggu lalu. Sudah berkali-kali kuberitahu kepadanya, karpet didefinisikan sebagai barang muggle oleh Kantor Pendaftaran Benda-Benda Sihir yang Dilarang, tapi maukah ia memahami itu?"

"Aku ragu" kata Mr Crouch datar." Ia ingin sekali mengeksport ke sini. Ayo Ludo kita harus secepatnya bertemu delegasi Bulagaria."

"Sampai ketemu kalian semua nanti." kata Bagman "Kalian akan bersamaku di boks utama nanti—aku komentator." dia melambai, sementara Barty Crouch mengangguk singkat lalu keduanya ber-disapparete.

Kegairahan meningkat seperti awan yang tampak jelas di bumi perkemahan selewat tengah hari. Bahkan udara musim panas yang tenang serasa bergelora dengan antisipasi dan saat kegelapan melebar seperti tirai di atas ribuan penyihir yang menanti, kepura-puraan pun lenyap. Kementrian tampaknya sudah menyerah pada hal-hal yang tak dapat dihindari dan berhenti melawan tanda-tanda sihir yang bermunculan di mana-mana

Para pedegang ber-apparete setiap beberapa meter, membawa nampan dan mendorong kereta penuh berisi dagangan luar biasa. Ada mawar-mawar yang menyala—hijau untuk Irlandia dan merah untuk Bulgaria yang meneriakan nama-nama pemain dari masing-masing negara. Topi kerucut yang dihiasi shamrock yang menari-nari, syal Bulgaria berhiaskan singa yang benar-benar mengaum. Ada juga tiruan sapu firebolt kecil yang bisa terbang, boneka koleksi para pemain terkenal yang bisa berjalan dan bergaya di telapak tanganmu.

"Aku menabung seluruh uang sakuku selama musim panas untuk ini." Ron berkata ketika mereka melewati para pedagang, membeli suvenir. Walaupun Ron membeli topi shamrock yang menari dan mawar hijau, dia juga membeli boneka miniatur Viktor Krum yang berjalan bolak-balik cemberut menatap mawar hijau di saku Ron.

Akira memandang keramaian di sekelilingnya, ia sendiri tidak terlalu tertarik untuk membeli apa yang ditawarkan di situ, kecuali suatu teropong yang dilengkapi segala macam kenop dan putaran aneh—tapi ia sendiri sudah tidak menyimpan uang sepeserpun semua uang hasil kerjanya selama musim panas ini termasuk bonus yang diberikan Mr Streemly sudah diberikan ke Mrs Weasley untuk membeli kebutuhan Hogward yang tidak bisa dibilang murah. Tapi tiba-tiba ….

"Wow lihat ini!" Harry bergegas mendekati kereta dorong yang menjual teropong yang dilihat Akira.

"Omnicular!" kata si pedagang penuh semangat "kalian bisa mengulang permainan…melambatkan apa saja..dan bisa memperlihatkan penggalan permainan apa saja kalau diinginkan—murah hanya sepulu galleon."

"Jadi nyesel aku beli ini." Ron menunjuk topi shamrock menarinya dan memandang omnicular dengan wajah ingin sekali.

"Empat." kata Harry tegas kepada penjualnya.

"Jangan…tidak usah." kata Ron merasa tidak enak, ia memang selalu agak peka terhadap kenyataan bahwa Harry mewarisi harta yang sedikit lebih banyak dari orang tuanya.

"Kalian tidak akan dapat hadiah natal lagi." kata Harry menjulurkan omnicular kepada ketiga sahabatnya "Paling tidak selama sepuluh tahun."

"Cukup adil." Ron nyengir.

"Oh trims, Harry." kata Hermione "Dan aku akan membeli buku acara untuk kita lihat."

Sementara Akira masih tercenung menatap omnicular yang terjulur kepadanya dengan ekspresi ganjil, lalu ia tesenyum menatap Harry "Kali ini aku yang menduga kau bisa membaca pikiran orang lain."

"Eh?!!"

"Thanks Harry." Akira mengambil omnicular itu dari Harry mengabaikan wajah bingung temannya.

Dengan kantong uang yang lebih ringan (tetap kosong sama sekali untuk Akira) mereka kembali ke tenda. Bill, Charlie dan Ginny sama-sama memakai mawar hijau dan Mr Weasley membawa bendera Irlandia.

Dan kemudian suara gong membahana dari suatu tempat di balik hutan dan serentak lentera-lentera hijau dan merah menyala di pepohonan menerangi jalan menuju lapangan.

"Sudah waktunya." ujar Mr Weasley, sama bergairahnya dengan anak-anak itu "Ayo kita berangkat!"

______________

TBC

______________

MET HARI RAYA IEDUL FITRI 1430H MAAF LAHIR BATIN