Tirai jendela ruang tengah rumahnya masih bertahan tersingkap semenjak fajar belum menampakkan cantiknya. Pemuda dengan perawakan tinggi dibaliknya masih setia menahan kain lembut berwarna krem yang sudah menjadi penutup jendela tersebut sejak ia kecil. Pandangannya masih terarah pada bangunan kecil lain di halaman belakang rumahnya yang dapat ia lihat dibalik jendela. Samar, dirinya serasa melihat seekor burung dengan percikan api di dalam bangunan yang dikenal oleh dirinya sebagai gudang. Ia tidak begitu yakin dengan penglihatannya, hanya melalui jendela gudang dan jendela rumahnya ia mampu melihat. Selebihnya, ia sama sekali tidak berani menghampiri gudang tersebut. Terlalu takut dan asing. Takut jika apa yang ia lihat sekarang memang sama seperti mimpi yang menghantuinya selama seminggu ini —seekor burung berbulu api yang mendekam di dalam gudangnya, dan asing karena ia, semenjak ia bisa mengingat, kakeknya selalu melarangnya untuk masuk ke dalam gudang tersebut atau bahkan sekedar menghampirinya. Tapi dirinya tidak bisa memungkiri ada sesuatu yang membuncah dalam hatinya. Ini semua terasa ambigu dan memicu rasa penasarannya. Dirogohnya saku celana piyama yang ia kenakan, sebuah bandul kecil ia temukan dibaliknya. Sudah tidak aneh lagi ketika ia melihatnya, bandul dengan lambang seekor burung —mungkin— berada digenggamannya sekarang. Yang masih aneh baginya tentunya cara ia mendapatkannya dan mimpi yang ia dapatkan setelahnya, pohon oak pusat kota dan seekor burung raksasa dengan bulu terbakar.
"Channie, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya seorang pria dengan warna putih mendominasi rambutnya —Kakek Park.
Dengan segera pemuda bertubuh tinggi bernama Chanyeol tersebut memasukkan bandul yang ia pegang kembali ke dalam saku celananya. "Kakek?"
Pria yang dipanggil kakek tersebut memandang Chanyeol bingung. "Ada apa?"
Chanyeol langsung tersadar. Dengan segera kepalanya menggeleng seolah memberitahu sang kakek bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kau ada masalah?"
Lagi, Chanyeol hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Kakek Park berjalan menghampiri Chanyeol dan berdiri di balik jendela. Pandangannya diarahkan pada objek yang dilihat oleh Chanyeol sedari tadi, dan seketika matanya langsung menerawang jauh, seakan dapat menembus tembok gudang dan melihat apa yang ada dibalik gudang tersebut.
Sementara di sampingnya, Chanyeol masih bungkam. Ia masih ragu antara memberi tahu kakeknya atau tidak. Tapi ini sungguh mengganggu dirinya dan ia seperti tercekik karena pikirannya sendiri.
"Aku mandi dulu, Kek. Hari ini aku masuk pagi." Chanyeol berjalan menjauh dari kakeknya kembali ke kamar. Ia menyerah, mungkin sebaiknya ia simpan semua hal aneh yang dialaminya sekarang. Menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan pada sang kakek mengenai apa yang terjadi dengan harapan apa yang ada dalam mimpinya hanyalah bunga tidur biasa.
Yang terlewatkan oleh Chanyeol adalah ekspresi Kakek Park yang terlihat terkejut dibalik jendela. Mata yang awalnya menerawang ke arah gudang itu teralih pada langit yang mulai menampakkan cahaya. Cengkramannya pada tirai jendela semakin menguat.
"Sudah hampir tiba... Ya Tuhan, bagaimana bisa aku lalai..." gumamnya pelan.
.
.
.
Bunyi lonceng pintu kafe terdengar ketika Junmyun membukanya. Sesegera setelah ia memasuki kafe dengan nama XOXO itu, ia mendapati adiknya, Kyungsoo sedang duduk berhadapan dengan seorang pemuda yang tidak ia kenal. Pikirannya langsung dipenuhi tanya dan rasa khawatir. Adiknya tidak membuat masalah, kan?
"Anyeong..." Junmyun membungkuk hormat pada sosok yang ada di hadapan adiknya, Kyungsoo.
"Hyung, aku ingin menjadi koki di sini," ucap Kyungsoo tiba-tiba membuat Junmyun langsung menatapnya bingung.
"Ne?" Suho mengerjap. Dia salah dengar, kan?
"Koki di sini tidak bisa memasak, jadi aku mengajukan diri jadi koki."
"Tunggu dulu, Kyung-ie! Kau tidak bisa..." Junmyun tidak berhasil menyelesaikan ucapannya ketika didengarnya bunyi ledakan dari arah belakang kafe.
Semua mata kini membulat kaget termasuk pemuda yang tidak dikenal oleh Junmyun. Tanpa menunggu waktu lama, pemuda tersebut langsung membungkuk pamit pada Junmyun, dan berlari tergesa ke belakang kafe —mungkin ingin memeriksa keadaan.
Sepeninggalnya pemuda tadi, Junmyun kembali melihat ke arah Kyungsoo.
"Apa maksudmu tadi? Kau tahu kau masih kuliah? Aku tidak akan membiarkanmu kerja sebelum kau lulus."
"Tapi jadi koki adalah impianku, Hyung."
"Aku tahu itu. Tapi bibi sudah menitipkanmu padaku, jadi kau harus menurutiku kali ini, Kyung-ie."
"Tapi Hyung..."
"Aku tidak akan melarangmu menjadi koki, sungguh. Tapi selesaikan dulu kuliahmu." Mata Junmyun melembut menatap ke arah adik sepupunya, berharap pemuda dengan perawakan lebih mungil darinya itu mengerti.
Kyungsoo yang mendengar penuturan kakaknya tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menundukkan kepalanya, putus asa. Padahal menjadi koki adalah impiannya sedari dulu. Persetan dengan kuliah yang diperintahkan oleh ayahnya, karena itu bukan sungguh-sungguh dunia yang ingin ia geluti. Ia sungguh ingin mengasah kemampuan memasaknya di sini, di kafe ini. Helaan nafas berat terdengar kemudian keluar dari mulut Kyungsoo.
Tangan Junmyun langsung tergerak menepuk pelan bahu Kyungsoo. "Bersabarlah... setelah kau lulus kuliah, aku akan membantumu sebisaku agar kau bisa jadi koki."
Selalu kata menenangkan itu yang keluar dari mulut Junmyun dan Kyungsoo hanya bisa mengangguk pasrah pada akhirnya. Kepalanya masih menunduk dengan pandangan menjelajahi lantai. Ia masih merasa berat untuk mengangkat kepalanya, karena ketika ia menatap kakaknya satu hal yang ia tahu, ia tidak punya kesempatan menjadi koki di kafe ini sekarang. Lagi, helaan nafas kembali terdengar. Namun sesaat setelah itu mata Kyungsoo membulat sempurna ketika tanpa sengaja matanya tertumpu pada sesuatu tidak jauh darinya. Pandangannya kini terfokus pada kaki kursi tempat sang pemilik kafe tadi duduk. Dengan sesegera yang ia mampu, ia menghampiri benda tersebut, berjongkok dan menjulurkan tangannya pada sebuah benda yang tergeletak di sana dengan nafas tertahan.
"Kyung-ie, ada apa?" Junmyun menghampiri Kyungsoo yang sekarang tengah berjongkok menatap sesuatu dalam genggamannya.
"Hyung..." panggil Kyungsoo dengan posisi masih berjongkok. Junmyun yang mendengar itu hanya menggumam menjawab panggilan Kyungsoo. "Sepertinya memang ada yang lain selain kita," sambung Kyungsoo yang membuat Junmyun mengernyit tidak mengerti. Namun ketika Kyungsoo menyodorkan sesuatu yang ia ambil di dekat kaki kursi tadi pada Junmyun, mata pemuda itu langsung membulat sempurna.
"Ini..." Tangan Junmyun tergerak untuk mengambil barang yang disodorkan oleh Kyungsoo. Itu adalah sebuah bandul dengan ukiran lambang seperti kristal es. Sebuah bandul yang memiliki ciri khas seperti milik mereka berdua namun dengan ukiran lambang yang berbeda.
.
.
.
Langkah tergesa Minseok menghampiri Jongdae yang saat ini tengah membereskan dapur kafe yang berantakan.
"Ya Tuhan, ada apa sebenarnya ini Jongdae-ah?" Tanya Minseok yang langsung membantu Jongdae membereskan semua kekacauan yang terjadi.
"Mianhae Hyung, aku meledakkan mesin kopinya." Jongdae menghentikan aktifitasnya lalu menundukan kepalanya, menyesal.
Minseok yang mendengar itu langsung melihat ke arah mesin kopinya di pojok depan dapur dan matanya langsung membulat sempurna ketika dilihatnya benda itu sudah tidak berbentuk sebagaimana mestinya. Ia hanya mampu mengeluarkan helaan nafas. Ingin rasanya ikut meledak dan melampiaskannya pada Jongdae yang kini menundukkan kepala dihadapannya. Tapi sesegera mungkin ia tahu, itu tidak akan menyelesaikan masalahnya. Maka yang bisa Minseok lakukan adalah kembali membuang nafas.
"Bisakah kau jelaskan, kenapa bisa seperti itu?" Tanya Minseok dengan suara tertahan dan Jongdae tahu, saat ini Minseok tengah dengan sekuat tenaga menahan amarahnya.
"Tombol off-nya tidak berfungsi lagi. Aku sudah mematikannya bahkan mencabut kabelnya, tapi mesinnya tetap menyala Hyung..."
"Apakah ini lelucon, Jongdae-ah?"
Dengan segera kepala Jongdae menggeleng, "sungguh Hyung, aku tidak mengada-ngada."
Pandangan Minseok masih menusuk pada pemuda dihadapannya. Namun setelah melihat wajah pemuda itu yang kini pucat pasi ditambah dengan mata yang berkaca-kaca akhirnya Minseok menyerah. Ia kembali membuang nafas dengan kasar.
"Aish! Mungkin sebaiknya kau menjauh dari barang-barang elektronik Jongdae-ah... kau hampir merusakkan semuanya."
"Mianhae..." Hanya kata itu yang mampu Jongdae ucapkan berulang kali.
Minseok yang mendengarnya kembali menghela nafas. Hari ini begitu banyak kejutan baginya. Ia berdiri dan memeriksa mesin kopi satu-satunya yang kafenya miliki. Memeriksanya sejenak. "Kita sungguh tidak bisa memperbaikinya. Hari ini kafe kita terpaksa tutup..." keluhnya setelah mesin kopi yang meledak itu selesai ia periksa. Perkataan maaf dari Jongdae masih bisa Minseok dengar yang sesungguhnya menambah intensitas rasa kesal dalam otaknya. Tapi mau bagaimana lagi, marah-marah pada Jongdae pun tidak akan mengembalikan mesin kopi itu.
"Belilah mesin kopi yang baru, Jongdae-ah. Kafe kita hari ini mungkin akan tutup."
Jongdae langsung menatap Minseok dengan tatapan penuh terima kasih sebelum kata-kata selanjutnya keluara dari pemuda di hadapannya.
"Dan biaya pembelian kopi dipotong dari gajimu."
—dan itu langsung membuat Jongdae kembali melemas. Bayangkan saja, berapa bulan harus ia lewati dengan gaji tidak penuh?
.
.
.
Dua pemuda berseragam SMA itu masih asyik merapikan sampah-sampah di halaman belakang sekolahnya. Bel masuk sudah berbunyi beberapa saat yang lalu, tapi mereka berdua masih berada di luar kelas, atau bahkan dilarang memasuki kelas untuk menjalani hukuman. Jika itu skorsing, mungkin mereka berdua masih bisa bernafas lega, karena terdaftar absen di buku daftar hadir siswa tapi memang mereka yang dipaksa tidak masuk sekolah. Tapi ini lebih merugikan dari pada itu. Mereka dipaksa absen di kelas tapi dengan keberadaan mereka di sekolah untuk menjalani kerja sosial di sekolah mereka. Sudah tidak terhitung gerutuan keluar dari mulut kedua siswa itu. Merutuki wali kelas mereka yang memberi mereka hukuman untuk kerja sosial selama satu minggu di sekolah hanya gara-gara mereka membolos satu hari.
"Kapan ini selesai..." Sehun meratapi nasibnya sambil memisah-misahkan sampah sekolah ke dalam karung, menampatkannya sesuai dengan kelompoknya.
"Harusnya saat itu kita tidak bolos..." sahut Jongin sambil mengikat satu karung sampah yang telah penuh.
"Kenapa kau mengungkit itu lagi? Kita kan tidak membolos, buktinya kau berakhir di rumah sakit, Jongin-ah."
"Tapi kalau kita tidak berniat bolos, aku tidak akan ada di rumah sakit."
"Tapi kalau kita tidak membolos, anak itu akan mati tertabrak!" Kesal Sehun yang membuat Jongin langsung bungkam. "Sudahlah, lupakan saja!" sambung Sehun sambil kembali memilah-milah sampah.
Jongin masih termenung. Ia sandarkan dirinya di tembok bangunan sekolah. Matanya menangkap awan putih yang berarak di atas sana.
"Hei, Sehun-ah!" Panggilnya yang dibalas oleh gumaman pemuda berambut pirang disebelahnya. "Tidakkah kau merasa aneh..."
Sehun langsung menghentikan aktifitasnya dan memandang Jongin penuh tanya.
"Tidakkah kau heran, kenapa aku bisa ada di tengah jalan secara tiba-tiba?"
Sehun hanya mampu bungkam mendengar pertanyaan Jongin. Ia memilih diam menunggu ucapan selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Jongin. Sejujurnya ia pun penasaran, tapi ia belum berani bertanya pada Jongin secara langsung, dan ia berharap ia akan mendapatkan jawabannya secara langsung dari mulut sahabatnya itu. Dan mungkin sekarang, Sehun akan menemukan semua jawaban atas pertanyaannya.
"Jika kau menganggap aku tahu..." Jongin berhenti sejenak. Ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum kembali berucap, "aku sungguh tidak tahu." Jongin menatap Sehun dengan senyum yang ia paksakan. "Juga angin itu..."
"Itu datang dariku," potong Sehun cepat membuat Jongin langsung terpaku. "Kau pasti menganggap aku gila, tapi entah kenapa, aku merasa angin itu datang dariku."
"Iee... kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" Jongin menatap Sehun dengan senyum jahilnya. Tapi melihat Sehun yang malah balas menatap Jongin dengan serius membuat senyum itu perlahan menghilang. "Eh, kau serius?"
Sehun mengedikan bahunya. "Entah kau akan percaya atau tidak, tapi aku merasa memang sudah terbiasa dengan angin sejak aku kecil. Jadi, jika aku bilang aku seperti bisa mengendalikan angin, tidak kah itu menggelikan?" Sehun menengadahkan tangannya dan kemudian tertawa geli —mentertawakan pemikirannya sendiri. "Tidakkah kau berpikir, kau juga seperti bisa berpindah tempat dengan praktis?"
Jongin langsung terperangah mendengar penuturan Sehun. Ia belum pernah berpikiran ini sebelumnya, tapi ini cukup menarik untuk ia pikirkan.
"Ini bukan pertama kalinya kau mengalami hal ini, kan, Jongin-ah?" Tanya Sehun hati-hati yang kembali membuat Jongin tersentak. Itu benar, kejadian di jalan waktu itu memang sudah tidak asing lagi baginya. Ia pernah mengalaminya beberapa kali dari semenjak ia kecil, dan bodohnya Jongin sama sekali tidak pernah ambil pusing mengenai hal ini.
"Tentu saja bukan," jawab Sehun sambil mengedurkan bahunya. "Aku temanmu sejak kecil, dan aku ingat aku pernah melihat kejadian serupa namun tidak sedahsyat kemarin."
Jongin dan Sehun kini terdiam. Dalam pikiran mereka telah penuh dengan apa yang diucapkan oleh Sehun tadi. Mereka terlalu bodoh untuk baru memikirkannya sekarang. Seakan lupa dengan hukuman mereka, kini mereka sama-sama menerawang mencari jawaban dari semua pertanyaan yang lahir dari pikiran mereka.
"Jongin-ah!" panggil Sehun membuat Jongin menengadah menatapnya. "Aku mendapatkan ini seminggu yang lalu lewat mimpiku. Jika pikiranku benar, apa kau juga mendapatkan hal yang sama?" Sehun menyodorkan sebuah bandul kehadapan sahabatnya itu yang sukses membuat Jongin tersentak kaget.
"Sehun-ah, ini..."
Sunggingan senyum asimetris terpantri di wajah Sehun, "sepertinya kau juga mendapatkannya."
"Ya Tuhan!" Jongin menatap Sehun dengan mata membulat. Entah kenapa ada perasaan takut menyelubungi hatinya.
"Ini benar-benar..." Sehun menghentikan ucapannya. Ia menatap Jongin dengan pandangan ragu. "Sebenarnya kita ini apa?" lirih Sehun dengan bibir bergetar.
.
.
.
Chanyeol memasukan sebuah kunci pada pintu gudang rumahnya. Harusnya ia berangkat kuliah pagi ini, tapi rasa penasarannya membuatnya harus merelakan jam kuliahnya itu demi menemukan seekor burung berbulu api di dalam gudang itu. Ia tertawa sekilas, mentertawakan pemikirannya sendiri. Mana mungkin ada burung semacam itu, kan? Tapi kejadian yang ia alami pagi ini membuatnya terdorong untuk datang ke gudang. Ditambah dengan Kakek Park yang tiba-tiba memberinya kunci gudang dan memintanya untuk memeriksa isi gudang —hal yang sangat dilarang baginya dahulu.
Suara gesekan kayu tua terdengar kala Chanyeol berhasil membuka pintu gudang tersebut. Nafasnya tertahan dengan deguban jantung yang menggila. Ia sungguh gugup dengan pemikiran apa yang akan ia lihat di dalam gudang. Namun nafasnya berangsur normal ketika ia memasuki gudang itu sepenuhnya. Tidak ada apapun. Hanya barang-barang tua dengan beberapa tikus, jaring laba-laba, dan tumpukan debu di sana. Selebihnya tidak ada apapun.
"Haha, lihatlah Park Chanyeol, tidak ada apa-apa di sini." Tawa penuh kelegaan langsung keluar dari mulutnya. Dengan langkah ringan ia semakin masuk ke dalam gudang dan duduk di salah satu kursi berdebu di sana.
"Sepertinya aku terlalu stres hingga memimpikan hal itu..." gumamnya dengan helaan nafas lega. Punggungnya langsung bersandar nyaman di kursi dengan mata yang tertutup. Ia masih mempertahankan posisi itu hingga dirasa ada hawa panas yang melingkupinya. Dikibaskan tangannya di depan muka, mencoba memberi sedikit angin pada tubuhnya yang mulai berkeringat kepanasan. Pikirannya langsung bertanya mengenai keadaan panas yang tiba-tiba melanda dirinya. Chanyeol membuka matanya melihat keadaan dan bertepatan dengan itu dirinya langsung terjengkang kaget.
"Ya Tuhan!" Teriaknya tidak percaya melihat makhluk yang kini berdiri anggun dihadapannya. Itu seekor burung yang ia lihat di mimpinya dan yang ia lihat pagi ini di balik jendela. Chanyeol ingin berlari tapi tubuhnya serasa terikat, sama sekali tidak bisa digerakkan. Bahkan suaranya pun tercekat ditenggorokan. Ya Tuhan, jika memang ini adalah akhir hidupnya, ia berharap setidaknya ia bisa mengucapkan kata perpisahan untuk kedua orang tua dan kakeknya.
Tanpa diduga oleh Chanyeol, burung tersebut menjulurkan kepalanya ke arah Chanyeol dengan bunyi lirih yang merdu. Chanyeol terpaku. Ia masih takut tapi entah dari mana, tangannya serasa terdorong untuk mengelus kepala burung tersebut. Ia sama sekali tidak berpikir mengenai api yang melingkupi tubuh burung yang mungkin bisa membakarnya. Tangannya masih menggapai kepala burung tersebut dan mengelusnya. Lembut, itu yang dirasakan kulit Chanyeol ketika menyentuh kepala sang burung —dan sejuk. Matanya membulat tak percaya, segera ia tarik tangannya ketika menyadari bahwa fraksi sejuk yang ia rasakan kontradiksi dengan panas yang harusnya dihasilkan oleh api. Keterkejutannya tidaklah hilang ketika melihat tangan kanan yang ia gunakan untuk mengelus lembut burung tersebut terbakar oleh api. Tapi sungguh, ia sama sekali tidak merasa kepanasan saat ini. Aneh? Tentu saja, Chanyeol tahu itu. Jika ia dalam keadaan normal, mungkin dirinya akan langsung berteriak ketakutan dan lari terbirit keluar. Tapi ini tidak. Dirinya tidak setakut tadi setelah ia mengusap pelan kepala burung tersebut. Malah rasa sayang pada burung tersebut tiba-tiba muncul. Chanyeol kembali melihat sang burung dihadapannya. Ia menatap mata burung tersebut dan seolah mengerti apa yang dimaksud oleh burung tersebut, Chanyeol mengikuti arah pandang burung tersebut hingga sampai pada sebuah peti yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Chanyeol berjalan menghampiri kotak tersebut dan membukanya. Tidak ada apapun di dalamnya kecuali sebuah buku usang yang telah dimakan waktu yang ia temukan. Dengan tangan satunya yang tidak dilingkupi api, Chanyeol mengambil buku tersebut. Maksudnya ingin membukanya langsung, namun sebuah teriakan membuat gerakan tangannya terhenti. Seorang pemuda tanpa di sangka Chanyeol memasuki gudang dengan raut khawatir dan bersamaan dengan itu burung berbulu api tersebut menghilang.
"Ya Tuhan, kita harus memadamkannya!" Ucap pemuda tersebut panik. Ia segera keluar untuk mengambil air dan handuk basah. Menyiram tangan Chanyeol dengan air dan membebatnya dengan handuk basah. Bermaksud untuk mematikan api yang masih menyala di tangan Chanyeol. Namun sia-sia, karena api itu masih menyala.
"Baek-ie tenanglah, aku tidak apa-apa."
Sayangnya ucapan Chanyeol sama sekali tidak didengarkan oleh pemuda yang bernama Baekhyun tersebut. Dirinya terlalu panik hingga akhirnya memutuskan menutup tangan kanan Chanyeol yang baginya terbakar api itu dengan kedua tangannya. Tak urung hal tersebut membuat kedua telapak tangan Baekhyun terbakar dan Chanyeol langsung berteriak menghentikan.
.
.
.
Setelah Jongdae pergi untuk membeli mesin kopi baru, Minseok kembali menemui kedua tamunya di kafe. Ia menghampiri pemuda yang ia tahu bernama Kyungsoo dan kakaknya dengan membawa camilan dan dua cangkir kopi instan —mengingat ia tidak bisa membuat kopi saat ini. Sambutan senyuman langsung didapatkan oleh Minseok ketika dirinya telah berada tepat dihadapan tamunya. Minseok langsung memposisikan diri duduk dihadapan mereka setelah menghidangkan apa yang ia bawa pada kedua tamuanya.
"Jadi, bagaimana Kyungsoo-shi? Sudah kau bicarakan dengan kakakmu?" Tanya Minseok seramah mungkin.
Kyungsoo tersenyum dan mengangguk. "Sudah, tapi yang kami bicarakan lebih serius dari masalah lamaran kerjaku, Minseok-shi."
Minseok mengernyit bingung ketika mendengar penuturan Kyungsoo. Melihat hal itu, Junmyun langsung menyodorkan sebuah bandul dengan ukiran kristal es pada Minseok.
"Ini milikmu, kan?" Tanya Junmyun memastikan.
Wajah kaget langsung terpahat di paras Minseok. Ia sesegera mungkin mengambil bandulnya. "Di-dimana anda menemukannya?"
"Apakah itu berharga?" Junmyun tidak memperdulikan pertanyaan Minseok dan lebih memilih melontarkan pertanyaannya.
"Ten-tentu saja, bandul ini peninggalan ibuku," bohong Minseok dengan tangan yang semakin memegang erat bandul miliknya.
"Benarkah? Bukan dari mimpi anda seminggu yang lalu?" Tanya Junmyun yang membuat Minseok untuk kesekian kalinya tersentak kaget.
"Hyung, jangan menakutinya," lirih Kyungsoo yang kemudian menatap Minseok dengan senyum manisnya. "Maafkan Hyungku, Minseok-shi. Yang kami maksud adalah..." Kyungsoo menghentikan ucapannya sejenak dan memilih menjulurkan tangannya ke arah Minseok. Memperlihatkan bandul miliknya dan milik Junmyun kepada Minseok. "Kami juga mengalami hal yang sama denganmu, Minseok -shi. Tidakkah ini yang disebut takdir?"
.
.
.
Jongdae keluar dari toko mesin setelah membeli satu mesin kopi dan meminta penjualnya untuk mengirimkannya ke kafe XOXO. Wajahnya sudah tidak terlihat murung, malah sebaliknya senyum lebarnya selalu terpasang di wajahnya dengan setia. Ia telah kembali ceria setelah beberapa saat yang lalu terlihat murung.
Sebelum melangkah pulang, Jongdae memutuskan berjalan-jalan sejenak di pusat perbelanjaan. Kafe terpaksa tutup hari ini, jadi tidak masalah kan jika Jongdae menikmati hari liburnya sekarang? Mungkin itu pula yang membuat senyumnya tidak lepas dari wajah persegi itu. Ia melangkah dengan riang memasuki berbagai toko hingga akhirnya sampai di sebuah toko yang menjual barang-barang lucu di dalamnya. Jika ia mempunyai kekasih, mungkin salah satu barang tersebut akan ia beli dan dihadiahkan untuk kekasihnya. Sayangnya sampai saat ini ia belum punya satupun.
Langkah kakinya terus bergerak menelusuri rak-rak di toko itu hingga akhirnya ia sampai pada sebuah rak yang dipenuhi oleh bola kristal. Dapat dilihatnya beberapa orang mencoba menempelkan telapak tangannya pada bola kristal tersebut dan sebuah aliran listrik dari pusat bola kristal terlihat menyambar telapak tangannya. Bukan menyambar dalam artian sebenarnya, karena aliran tersebut tertutup oleh kaca bola sehingga itu aman. Sebenarnya ada keinginan mencoba dari Jongdae, tapi mengingat dirinya yang selalu bermasalah dengan sesuatu yang berurusan dengan listrik membuatnya mengurungkan niat.
"Anda ingin mencobanya, Tuan?" Tanya salah satu penjaga toko ketika melihat Jongdae melihat orang-orang yang mencoba bola kristal itu dengan antusias.
Jongdae menggeleng pelan, "tidak." Ia tersenyum dan hendak beranjak pergi ketika penjaga toko memanggilnya kembali.
"Ini aman. Anda bisa mencobanya dan saya jamin tidak akan terjadi apapun." Senyum dari penjaga toko tersebut membuat Jongdae bimbang.
Jongdae terlihat menimbang yang kemudian mengangguk setuju. Mungkin sekarang tidak akan apa-apa, penjaga tokonya bilang tidak akan terjadi apapun, kan? Akhirnya, dengan percaya diri, Jongdae memutuskan untuk mencobanya. Ia mendekatkan telapak tangannya pada salah satu bola kristal tersebut. Sayangnya sesuatu yang tidak diinginkan Jongdae terjadi bahkan sebelum Jongdae menempelkan telapak tangannya pada bola kristal tersebut. Aliran listrik dari semua bola kristal yang ada di rak tersebut secara tak terkendali langsung menyambar ke satu titik di mana telapak tangan Jongdae mengarah. Ketidak terkendalian aliran listrik tersebut berakhir dengan semua bola kristal yang pecah karena tidak kuat menahan voltase listrik yang tiba-tiba naik dengan skala besar —dan sebuah ledakan besar pun terjadi yang diakhiri dengan kebakaran. Suara sirine kebakaran berbunyi. Dari toko tersebut secara otomatis langsung mengeluarkan air dari langit-langitnya ketika mendeteksi kepulan asap. Jongdae masih terduduk di sana dengan pandangan terkejut. Sebagian tubuhnya tergores pecahan kaca dan dapat ia lihat, tidak hanya dirinya yang terluka di sana, tapi orang-orang yang berada di toko juga.
.
.
.
Dua siswa itu masih berdiri tertunduk mendengar petuah dari guru berambut pirang dihadapannya, guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelasnya.
"Kalian mengerti, kan? Bapak tahu kalian mungkin kesal dan apa yang kalian lakukan untuk menyelamatkan gadis itu juga benar. Mungkin kalian harusnya mendapat penghargaan. Tapi ini tetap peraturan sekolah, jadi saya harap kalian tidak melanggarnya lagi. Mengerti?"
Dua siswa itu mengangguk paham. Ruang guru pada siang itu sepi dan mereka bersyukur karena setidaknya guru-guru lain tidak ikut campur memarahi mereka. Kedua siswa tersebut tidak bisa membayangkan jika di sana ada guru BP mereka, maka dapat dipastikan omelan dari wali kelasnya kini bukanlah apa-apa dibanding omelan guru BP yang terkenal akan kesadisannya itu.
"Pak Wu, jangan terlalu keras, mereka masih anak-anak," ucap salah satu guru yang tiba-tiba masuk ke ruang guru. Ia merangkul kedua siswanya dengan penuh sayang. Luhan —itulah nama yang tertulis di name tag yang tersemat di jas krem gurunya. Ia merupakan guru bahasa Korea yang berasal dari Cina. Aneh memang mengingat ia berasal dari Cina dan malah mengajar Bahasa Korea, tapi kemampuannya berbahasa Korea memang patut diacungi jempol.
"Ayolah Lu, ini urusanku dengan anak didikku." Pemuda berambut pirang yang dipanggil Pak Wu itu tampak memutar matanya malas dan tak memperdulikan tatapan tak terima dari Luhan.
"Ya, setidaknya kau memanggilku Pak, di sini aku juga guru," ujarnya dengan nada tak terima.
Kedua siswa yang sedari tadi mendengar ocehan mereka hanya mampu terkikik melihat betapa kekanakannya guru mereka.
"Ya, kalian! Tidak ada yang menyuruh kalian tertawa!" Teriak Luhan dan Pak Wu bersamaan.
Kedua siswa tersebut langsung terdian dan kembali menunduk. Namun wajah mereka berdua sudah tidak setegang tadi. Luhan dan Pak Wu atau yang bernama lengkap Wu Yifan adalah guru baru di sekolah mereka. Tapi umur mereka yang bisa dibilang masih muda serta pembawaan mereka yang santai membuat mereka di senangi oleh siswa-siswi di SMA tempat mereka mengajar. Termasuk dua siswa yang menjadi korban ocehan Yifan kali ini.
"Yifan, ayo keruang rapat. Kau sudah ditunggu guru-guru yang lain. Waktu rapat terbatas sampai jam istirahat makan siang selesai, jadi kita harus cepat," ucap Luhan yang kemudian memberikan senyum manisnya pada kedua siswa yang dirangkulnya. "Jongin-ah, Sehun -ah, tidak apa-apa kan jika aku mengambil wali kelas tercinta kalian ini?"
"Tentu saja, Pak. Dengan senang hati," jawab mereka serempak yang langsung mendapat tatapan tajam dari Yifan.
Helaan nafas keluar dari mulut Yifan, "baiklah, kembalilah ke kelas! Ingat apa yang kukatakan tadi." Setelah mengucapkan hal itu Yifan langsung menyusul Luhan keluar dari ruang guru.
Kedua siswa tersebut —Sehun dan Jongin membungkuk sekilas ketika Yifan meninggalkan mereka. Keduanya secara bersamaan menghela nafas lega.
"Apa kita akan melanjutkan pembicaraan tadi?" Tanya Sehun sambil merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah bandul yang diakui miliknya tersebut pada Jongin.
"Apa yang kau lakukan?" Jongin segera mengambil bandul milik Sehun dan memasukkannya ke dalam saku jas sekolahnya. "Ini berbahaya kalau ada yang tahu," bisik Jongin. Ia menggengam tangan Sehun dan menariknya keluar dari ruang guru dengan langkah tergesa tanpa menyadari Yifan yang bersembunyi di balik tembok.
Pemuda berambut pirang tersebut menatap punggung Jongin dan Sehun yang semakin jauh dari jarak pandangnya. Awalnya ia bermaksud kembali untuk mengambil barangnya yang tertinggal tapi terpaksa menghentikan niatnya dan bersembunyi di balik tembok ketika menangkap percakapan aneh dari kedua siswanya tadi. Pikirannya melayang entah kemana hingga sebuah suara aneh terdengar olehnya. Ia segera melihat dari mana suara itu berasal dan saat itu pula dirinya langsung jatuh terduduk ketika melihat sesosok makhluk menatapnya dibalik jendela gedung sekolah. Ia terkesiap dan tubuhnya serasa membeku. Ia bahkan tidak sanggup mengeluarkan satupun kata dari mulutnya. Hanya mampu melihat sosok makhluk itu dengan wajah ketakutan. Tapi beberapa saat kemudian rasa nyaman melingkupinya. Entah hanya perasaannya atau bagaimana, makhluk tersebut tersenyum ke arahnya dan mengedipkan sebelah matanya yang kemudian mengepakkan sayapnya —terbang meninggalkan Yifan yang masih membeku di sana.
"Naga...?" lirihan kecil akhirnya berhasil keluar dari mulut Yifan, menyebutkan nama sesosok makhluk yang ia temui tadi.
.
.
.
Chanyeol memandang Baekhyun yang duduk disebelahnya dengan pandangan bersalah. Tatapannya baru teralihkan ketika dokter menghampiri mereka dan duduk dihadapan Chanyeol dan Baekhyun. Ia menuliskan sesuatu pada secarik kertas dan menyerahkannya pada Chanyeol —resep obat yang harus di tebus oleh Chanyeol.
"Luka bakarnya lumayan parah, tapi masih bisa sembuh. Olesi dengan gel yang ada diresep setiap pagi dan malam, jangan lupa untuk mengganti perbannya secara rutin."
Chanyeol mengangguk mengerti. Setelah ucapan terima kasih dari Chanyeol dan Baekhyun mereka berdua pamit dari ruang dokter tersebut. Sesegera setelah keluar dari ruang dokter, Baekhyun mempercepat langkahnya meninggalkan Chanyeol. Melihat itu, tentunya Chanyeol langsung berlari mengejar Baekhyun.
"Baek-ie ya, tunggu aku!" Chanyeol menarik lengan Baekhyun, membuat langkah pemuda itu terhenti.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Chan-ie!" ucap Baekhyun dengan sengit yang dibalas helaan nafas dari pemuda tinggi dihadapannya.
"Aku sungguh tidak bisa menjelaskannya sekarang, Baek-ie. Aku sendiripun tidak mengerti..." ucapan Chanyeol terpaksa berhenti ketika Baekhyun dengan kasar melepaskan tangan Chanyeol dari lengannya. Ia kembali berjalan cepat yang tentunya dikejar oleh Chanyeol. Mereka jadi terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Baekhyun sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari Chanyeol bahkan pada orang yang berjalan dari arah depannya yang terlihat begitu tergesa-gesa —membuat tubrukan kecil terjadi. Untungnya tidak ada yang sampai terjatuh, namun cukup memberikan ringisan kecil ketika kedua pundak mereka berbenturan. Pemuda yang menabrak Baekhyun tersebut membungkuk meminta maaf yang dibalas bungkukkan dari Baekhyun pula. Sekilas pemuda tersebut melirik kedua tangan Baekhyun yang dibalut kain kasa.
"Baek-ie, kau tidak apa-apa, kan?" Tanya Chanyeol sambil memeriksa luka di tangan Baekhyun.
"Aku tidak apa-apa," ketus Baekhyun yang kembali berjalan. Dengan gerutuan Chanyeol kembali mengejar Baekhyun.
"Chogiyo..." Pemuda yang menabrak Baekhyun tadi langsung berlari menghampiri Chanyeol dan Baekhyun, membuat kedua pemuda itu menghentikan langkahnya dan menatap pemuda itu bingung.
"Ah, perkenalkan, saya Zhang Yixing." Pemuda itu membungkuk sekilas yang dibalas bungkukan dari Baekhyun dan Chanyeol. "Bisa saya melihat tangan anda..." Yixing terdiam, ia bingung harus memanggil pemuda di hadapannya ini apa.
"Baekhyun, Byun Baekhyun," ucap Baekhyun seolah mengerti dengan gelagat kebingungan Yixing.
Yixing mengangguk sekilas. "Bisakah saya melihat tangan anda, Baekhyun-shi?" Tanya Yixing sekali lagi. Raut ragu terlihat jelas dari paras orientalnya membuat Baekhyun dan Chanyeol pun menatap ragu. "Ah, maafkan saya." Yixing mengangguk ragu. Bodoh. Rutuknya dalam hati. Ia baru bertemu dengan mereka dan tiba-tiba ingin melihat tangannya, itu pasti permintaan yang konyol. Yixing baru saja memutuskan akan pegi ketika Baekhyun menghentikannya.
"Tanganku terbakar, jadi seperti ini. Ceroboh sekali, kan?" Baekhyun tersenyum malu yang membuat Chanyeol bernafas lega. Setidaknya Baekhyun tidak bilang bahwa tangannya terbakar gara-gara berusaha mematikan api yang menyala dari tangan Chanyeol.
Tanpa diduga oleh Chanyeol dan Baekhyun, Yixing memegang kedua tangan Baekhyun yang dibalut perban. Mengungkungnya diantara kedua telapak tangan Yixing. Mereka bertiga terdiam dengan pikiran yang berbeda. Baekhyun dan Chanyeol dengan kebingungannya dan Yixing dengan pikiran ingin menyembuhkan tangan tersebut.
"Ahaha, maafkan saya," ucap Yixing canggung yang langsung menarik tangannya dari tangan Baekhyun. Sesegera mungkin ia menyembunyikan kedua telapak tangannya dibalik punggung.
Baekhyun dan Chanyeol yang melihat itu entah kenapa ikut tertawa. "Baiklah, kami harus pulang." Baekhyun dan Chanyeol pun membungkuk pamit.
Yixing ikut membungkuk. Ia dapat melihat Baekhyun dan Chanyeol yang pergi menjauh darinya. Setelah dirasa dirinya tidak akan melihat mereka lagi, Yixing menarik kedua tangannya dan mengangkatnya. Sebuah luka bakar tiba-tiba terlihat dipermukaan kulit Yixing membuat pemuda dengan lesung pipi itu terbelalak kaget. Rasa perih menjalar di tangannya namun itu tidak lama. Seiring dengan luka yang mulai menghilang secara ajaib, rasa perih itu pun perlahan menghilang. Inikah yang dimaksud oleh Dokter Kim? Dirinya sang penyembuh?
"Kau sudah membuktikannya, Yixing. Aku benar, kan?"
Yixing tersentak mendengar ucapan seseorang yang entah sejak kapan telah berada di belakangnya. Dengan segera ia berbalik dan semakin terkejut ketika melihat bahwa orang tersebut adalah Dokter Kim.
"Ayo kita cari sebelas orang lainnya," lanjut Dokter Kim dengan senyum seramah mungkin.
.
.
.
Luhan terdiam di meja kerjanya. Jam mengajarnya baru saja berakhir dan ia baru saja mengistirahatkan tubuh lelahnya di kursi. Tangannya mengambil sebuah bandul di dalam saku jas kremnya —jas gurunya. Ia melihat kembali bandul tersebut dan membuang nafas dengan berat. Ia benar-benar tidak mengerti sekarang. Setelah tadi pagi mengetahui kenyataan lain bahwa temannya mengalami hal yang sama dengannya membuatnya berpikir mungkinkah ada yang lain selain mereka berdua?
Tiba-tiba sebuah nada dering terdengar. Itu nada panggilan Handphone-nya. Dengan segera Luhan mengambil benda pipih tersebut dan mengangkatnya. Itu panggilan dari sahabatnya, Minseok.
"Yoboseo?"
"Yoboseo, Luhan-ah?"
"Ne, Minseok?"
"Pulang kerja nanti datanglah ke kafeku."
"..."
"Aku menemukan dua orang lagi yang mengalami hal yang sama dengan kita..."
—dan mata Luhan langsung membulat sempurna.
.
.
.
Jongin dan Sehun telah kembali ke belakang sekolah. Jam pelajaran telah usai dari beberapa jam yang lalu. Tapi mereka masih terdiam di sana dalam bisu.
"Tidakkah kau berpikir ini menakutkan?" Tanya Jongin. Sehun yang mendengarnya hanya mampu terdiam. Ia menatap bandul di tangannya dengan penuh pertimbangan.
"Tapi dengan membuangnya, apakah benar-benar yang terbaik?" Sehun menatap Jongin ragu.
"Kali ini, percalah padaku Oh Sehun." Jongin segera merebut bandul milik Sehun. Ia pun merogoh sakunya dan meraih bandul miliknya. Dengan cepat tangannya terayun membuang kedua bandul tersebut ke kebun sekolahnya.
"Ini berakhir di sini. Kita tidak boleh membicarakannya lagi," ujar Jongin terengah —entah karena apa. Jongin seperti ketakutan dan sumber ketakutannya adalah karena bandul yang mereka berdua miliki.
"Ayo pulang!" ajak Jongin dengan langkah tergesa mendahului Sehun.
Siswa dengan rambut pirang itu menatap ke kebun tempat bandulnya di buang tadi sekilas. Ia membuang nafas dan melangkahkan kakinya mengikuti langkah Jongin. Mungkin memang ini yang terbaik, meninggalkan bandul dengan ukiran lambang berbentuk seperti pusaran dan yang satunya dengan ukiran lambang segitiga dengan lingkaran ditengahnya di sana —dalam keadaan terbuang.
.
.
.
Chanyeol kembali memasuki gudang belakang rumahnya setelah sebelumnya mengantar Baekhyun pulang. Matahari sudah berada diujung cakrawala, menandakan sebentar lagi malam menjemput. Dan dirinya membiarkan keremangan malam menghiasi keadaan gudang. Tidak ada lampu di sana, tapi Chanyeol sama sekali tidak takut. Ia berjalan dengan cahaya seadanya ke arah buku tua yang sempat ia abaikan gara-gara kedatangan Baekhyun tadi. Mengambil dan mengamati sampul buku tersebut sekilas. Sesaat setelah itu, gudang tempatnya berada tiba-tiba terasa terang dan saat ia menengadah, ia kembali melihat burung dengan bulu terbakar itu berdiri dihadapannya. Itu burung Phoenix —menurut kakeknya. Ngomong-ngomong soal kakeknya, sepertinya Chanyeol harus meminta keterangan lebih lanjut mengenai semua ini padanya.
"Ini semua... bisakah kau jelaskan semuanya?" tanya Chanyeol ragu. Burung phoenix tersebut membungkuk sekilas.
Ini semua akan jelas jika kedua belas dari kalian sudah berkumpul.
Chanyeol kembali membulatkan matanya. Ia tidak salah dengarkan? Burung phoenix di depannya berbicara bahasanya?
Aku tidak berbicara Chanyeol, aku hanya menyampaikan pikiranku pada pikiranmu.
"Kau tahu namaku?" tanya Chanyeol kagum yang dibalas anggukan kecil dari burung dihadapannya.
Aku adalah simbol, pelindung dan bagian dari dirimu. Jadi tentu aku tahu namamu.
"Woah! Daebak!" Chanyeol tidak bisa lagi menutupi kekagumannya.
Tiba-tiba sehelai burung terbang ke arahnya. Chanyeol menengadahkan tangannya menangkap bulu tersebut.
Itu adalah bulu Phoenix. Kau bisa menyampaikan pesan melalui itu pada sebelas saudaramu yang lain.
Sekarang, pikirkanlah sebuah pesan untuk saudaramu, sang Naga.
"Naga? Jadi yang lain pun punya pelindung seperti diriku?"
Phoenix hanya mengangguk. Hanya beberapa diantara kalian. Gerhana bulan sebentar lagi, segeralah kau mencari kedua belas orang lainnya sebelum terlambat.
Chanyeol mengernyit bingung ketika mendengar ucapan Phoenix dihadapannya.
Akan aku jelaskan nanti. Kirimlah pesan pada sang naga.
Chanyeol mengangguk mengerti. Ia dengan segera menyampaikan kata hatinya pada bulu tersebut. "Sudah."
Bakar bulu tersebut dengan kekuatan apimu.
"Caranya?"
Pikirkanlah kau membakarnya.
Chanyeol segera berpikir ia membakar bulu tersebut.
—dan berhasil, bulu tersebut kini berubah menjadi butiran debu.
.
.
.
Malam sudah hampir menjelang dan latihan sudah berakhir, namun Zitao masih terdiam di bangku taman tempat latihan wushunya. Ia menengadah menatap langit orange di atasnya dengan pikiran yang berkecambuk. Tiba-tiba gelap, ia tidak bisa melihat langit itu karena sebuah handuk kecil yang menutupi wajahnya. Tao menarik handuk tersebut dan menatap sengit orang yang iseng menutup wajahnya dengan handuk. Namun tatapan sengit tersebut perlahan menghangat ketika melihat sang tersangka yang tengah tersenyum padanya —guru Li.
"Ada yang sedang kau pikirkan, Zitao?" Tanya Guru Li dengan mata yang ikut memandang langit senja.
Zitao terdiam sejenak mendengar pertanyaan Guru Li. "Guru, bisa kah aku percaya padamu?"
Guru Li mengernyit bingung mendengar pertanyaan dari muridnya itu namun sedetik kemudian tawanya menggelegar. Dengan tatapan polos, Zitao hanya bisa melihat gurunya itu dengan penuh pertanyaan.
"Kalau kau tidak percaya padaku, untuk apa kau mengikutiku sampai ke Korea, Zitao? Kau kan bisa mencari guru lain di Cina sana..."
Zitao hanya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia sedikit salah tingkah mendengar penuturan gurunya. Sejujurnya ia ke Korea bukan sepenuhnya karena mengejar gurunya itu, tapi karena ajakan dari Yifan juga. Tapi jika ia bilang itu pada gurunya, mungkin Guru Li akan sedih, jadi lebih baik ia diam dan membiarkan Guru Li berpikir seperti itu.
"Jadi, ada apa Zitao? Ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Guru..." Zitao kembali terdiam. Tiba-tiba ia teringat perkataan Yifan tadi pagi, tapi ia sungguh tidak bisa menahannya lagi. Sementara itu Guru Li terlihat menunggu ucapan Zitao dengan sabar. "Guru ingat kan legenda mengenai 12 ksatria penjaga pohon kehidupan?"
Guru Li untuk sesaat bingung dengan arah pembicaraan muridnya ini, namun untuk saat ini ia lebih memilih untuk mengangguk.
"Guru yang memberi tahuku dan Yifan ge mengenai legenda itu, jadi..." Zitao merogoh saku celana trainingnya, namun kembali tangannya terhenti ketika ia akan mengeluarkan sesuatu dari sana. "Sebenarnya Yifan ge bilang padaku untuk merahasiakan ini. Ia bilang untuk saat ini kami tidak bisa mempercayai siapapun...tapi..."
Guru Li semakin penasaran dengan maksud perkataan Zitao. Jadi, ia menunggu dengan penuh hati-hati apa yang akan dikatakan Zitao selanjutnya.
"Aku percaya dengan Guru." Akhirnya Zitao memutuskan untuk mengeluarkan dua buah bandul yang ada dalam saku trainingnya. Bandulnya dan bandul milik Yifan.
Guru Li yang melihat itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Tao-ya..."
"Aku mendapatkannya seminggu yang lalu, Guru... Lewat sebuah mimpi..."
Tanpa menunggu Zitao melanjutkan kata-katanya, Guru Li langsung mengepalkan tangan Zitao agar menutupi bandul tersebut dengan rapat dan memasukkannya kembali ke saku training milik Zitao. Pandangannya langsung waspada. Ia melihat ke segala penjuru arah. Meski Guru Li tidak berhasil melihat siapapun di sana, tapi dirinya masih terlihat cemas.
"Tao, harusnya kau turuti kata-kata Yifan. Ini terlalu berbahaya kalau orang lain sampai tahu. Simpan itu baik-baik, jangan kau tunjukan pada siapapun..." Bisik Guru Li dengan pandangan serius membuat Zitao mengangguk.
—terlambat, sepasang mata kini telah menangkap adegan tersebut di balik tembok dengan seringai yang tercetak jelas.
.
.
.
Jongdae menatap kosong orang berpakaian putih yang berlalu lalang dihadapannya. Setelah ledakan di toko yang ia alami tadi, dirinya bersama korban lain langsung dilarikan ke rumah sakit. Meski dalam keadaan shock dirinya yakin sekali bahwa ledakan itu berasal dari listrik dalam bola-bola kristal itu dan ia merasa penyebabnya adalah dirinya.
Sebuah suara dari benda persegi terdengar sayup di telinga Jongdae. Ia menengadahkan kepalanya, menatap apa yang sedang ditayangkan oleh televisi di sana. Ternyata, itu adalah berita mengenai kecelakaan yang menimpanya tadi. Bukan, itu bukan kecelakaaan. Batin Jongdae menolak bahwa apa yang dialaminya bukanlah kecelakaan yang disebabkan arus pendek listrik. Ia melihat ke arah telapak tangannya yang sekarang terbebat perban dengan perasaan aneh —dan saat itu ia melihat sengatan aliran listrik di tangannya. Jongdae terperanjat kaget. Sesegera mungkin ia menyembunyikan tangannya di dalam saku jaketnya. Dengan langkah tergesa, ia meninggalkan rumah sakit.
.
.
.
Yifan melangkah pelan ke arah pusat kota di mana pohon oak berdiri. Tree of Life adalah nama yang tidak akan dilupakan oleh Yifan. Tatapannya menerawang pada pohon itu, berharap menemukan keganjilan di sana. Tapi nihil, ia sama sekali tidak menemukan apapun. Suara langkah kaki terdengar dan Yifan langsung melirik siapa yang datang. Seorang pemuda yang lebih pendek darinya menghampiri pohon oak, tepat diseberang Yifan dan berdiam diri di sana. Yifan mengernyit. Ia tidak mengerti tapi perasaanya mengatakan ia terikat kuat dengan orang tersebut.
Malam mulai menyambut, dan Yifan beserta orang tersebut masih berdiam di sana. Seperti tidak ada niatan sama sekali untuk meninggalkan tempat itu. Tiba-tba sebuah cahaya berpendar jatuh dari langit. Yifan dan orang itu menyadari, mereka sama-sama menengadah. Seperti tidak cukup dengan keterkejutan yang mereka alami hari ini, cahaya berpendar yang merupakan bulu terbakar itu menambah daftar keterkejutan mereka. Bulu itu tepat berhenti di hadapan Yifan dan saat Yifan akan menyentuhnya, bulu tersebut kini berubah menjadi abu bersamaan dengan suara seseorang yang memenuhi pikiran Yifan.
Halo, namaku Park Chanyeol.
Aku mendapatkan bandul dengan lambang phoenix seminggu yang lalu dengan cara yang sama seperti yang kau alami ketika mendapatkan bandul dengan lambang naga.
Ayo bertemu besok, jam 10 pagi di pohon oak, pusat kota.
Yifan terdiam mendengar perkataan itu. Namun dirinya langsung membuka matanya ketika orang yang sedari tadi berdiri di depannya berucap dengan suara tercekat.
"Ka-kau Kris... bandul naga?"
.
.
.
Seorang pria memandang puluhan layar komputer di hadapannya. Senyum asimetris terukir indah di bibir tipisnya. Pandangannya tertuju pada layar yang menampilkan reka adegan seorang siswa SMA yang menyelematkan seorang gadis kecil dan reka adegan ledakan di sebuah toko. "Aku menemukanmu, teleportasi... elektrokonesis... ."
.
.
.
Extraordinary
.
.
.
Alternative Universe, Fantasy, Brothership
.
.
.
Story©Terunobozu
.
.
.
=Part 1b End=
A/N. Maaf jika banyak typo, saya tidak mengeceknya lagi. Jangan sungkan-sungkan untuk dikritik, saya akan segera memperbaikinya di chapter selanjutnya. Ini part 1b nya, chapter 1 panjang sekali kan? makanya dibagi dua, hehe, mohon maaf... dalam satu Chapter diusahakan semua tokoh muncul. ^^. Dan saya jadi bingung, fokus tokoh utamanya ntar siapa? sejujurnya saya suka sama semua member EXO, gak ada yang benar-benar ultimate bias, jadi masih bingung siapa yang bakal jadi main di sini. Tapi saya juga gak mungkin buat cerita tanpa ada mainnya. Ada yang punya saran?
Ini cerita murni Brothership, gak ada Yaoi, Boys Love atau sejenisnya. hehe... maaf kan saya TT_TT
Teman-teman semua bisa memanggil saya Ana atau Teru, terserah sukanya yang mana ^^
Special Thanks : chachaofmaridhita, opikyung0113, flowerdyo, cho fikyu, chairun, noonamoudy. hannie, kioko2121, Llalalla, Ateara EXOtics, Akiya Exotics. Terima kasih atas dukungannya. Tak bosan saya ucapkan terimakasih ^^, review dari kalian adalah salah satu semangat saya untuk melanjutkan cerita ini. :D
See ya~
