TIK

TIK

TIK

ZRASSSS

.

.

.

.

Hanbin menatap keluar kelas. Hujan membasahi halaman sekolahnya. Ia lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. 10 menit lagi kelas berakhir dan hujan turun dengan deras, ditambah Hanbin tidak membawa payung. Berarti tidak ada pilihan lain selain meminta teman disebelahnya untuk mengantarnya pulang. Hanbin menatap teman disebelahnya itu yang memang selalu membawa mobil, Yunhyeong. Merasa ditatap, lelaki bermarga Song itu menolehkan kepala kesamping. Setelah didapatinya seorang Kim Hanbin yang sedang menatapnya dengan tatapan yang dibuat seperti anak anjing membuatnya kembali meneruskan kegiatan mencatat nya yang tertunda. Karena Yunhyeong sudah hafal betul dengan sikap sahabatnya yang satu ini. Apalagi kalau bukan menumpang di mobilnya. Sedangkan Hanbin yang merasa diabaikan langsung mencolek-colek lengan Yunhyeong.

"Yoyo~~~ aku menumpang di mobilmu yaaa~?" Hanbin berbicara dengan suara pelan karena ia tidak mau sampai ditegur oleh Choi ssaem yang terkenal dengan suaranya yang kelewat 'merdu'.

"Maaf mengecewakanmu Kim, tapi siang ini aku dan Donghyuk ada kencan. Kau tidak mau menjadi obat nyamuk kan? Maka nya cari sana pacar yang dapat mengantar jemputmu setiap hari. Jangan hanya mengharapkan kelinci bodoh itu saja."

JLEB

Kenapa rasanya ada yang sakit tapi tidak berdarah ya?

.

.

.

.

.

.

.

Dilemma

JiwonxHanbin

Enjoy~!

-Hanbeen-

.

.

.

.

.

.

Yunhyeong berbicara tanpa menoleh ke arah Hanbin dan tetap asyik dengan catatannya. Hal itu membuat Hanbin tambah kesal hingga perkataan Yunhyeog tadi dihadiahi Hanbin sebuah pukulan di lengan.

"Sialan kau. Aku kan hanya ingin menumpang saja, kenapa harus membawa status segala."

Yunhyeong pun tertawa. Akhirnya Hanbin menginjak kaki sahabatnya itu.

"Awww!"

Teriakan Yunhyeong terdengar bersamaan dengan bunyi bel pulang sehingga tidak terlalu di perdulikan seisi kelas. Setelah mendengar teriakan Yunhyeong barulah Hanbin tersenyum puas.

Setelah membereskan peralatannya, Yunhyeong yang melihat Donghyuk di depan kelas langsung menghampiri kekasihnya itu setelah berpamitan dengan sahabatnya dulu tentu saja.

"Duluan ya Kim Single Hanbin, selamat menunggu pangeran berkuda putih. Hahaha."

Ledekan Yunhyeong sukses membuat Hanbin menggerutu.

"Shit"

Setelah membereskan peralatannya sendiri, Hanbin pun keluar dari kelas. Koridor masih ramai oleh siswa-siswi yang ingin menuju rumah masing-masing. Di luar kelas ia melihat pemandangan yang membuat hatinya nyut-nyut an. Ia berjalan tepat dibelakang Jiwon, Jinhwan, Taehyun dan Seunghoon. Ia dapat melihat dengan jelas mereka sedang tertawa bersama. Hanbin juga melihat saat Jinhwan menyuapi Jiwon dengan snack yang dibawanya dari tadi.

Seseorang menepuk bahu Hanbin. Saat Hanbin menoleh ke belakang ia tidak menemukan siapapun disana. Hanbin lalu kembali menoleh ke depan dan seseorang menusuk pipi Hanbin dengan tangannya.

"Sialan kau, Song"

Lelaki yang dipanggil Song itu tertawa.

"Siapa yang kau pandangi itu, huh? Matamu hampir mengeluarkan laser—" Ia menoleh ke sosok yang dipandangi Hanbin.

"—Aaah pantas saja tatapanmu berapi-api seperti itu. Dia lagi, Kim? Tidak bosan sakit hati terus?"

Pletak. Satu jitakan gratis dari Kim Hanbin. Hanbin memelototi lawan bicaranya ini. Sepertinya ia memang kena kutuk karena harus bersahabat dengan dua lelaki bermarga Song yang hobi sekali menjahilinya.

"Ya! Song Minho. Berhenti meledekku, aku tau kau juga cemburu melihat Taehyun dekat dengan Seunghoon."

Minho terdiam. Skak mat. Hanbin tersenyum puas.

"Kau juga sama sialan nya, Kim"

Minho lalu merangkul Hanbin sampai ke koridor utama.

"Mau kuantar pulang?" tawar Minho setelah melihat cuaca yang masih tidak bersahabat.

Tawaran yang sempat menggoyahkan iman pendirian Hanbin. Tetapi ia lebih memilih untuk menunggu hujan reda dan pulang menaiki bus seperti biasa. Karena ada 3 alasan kenapa ia menolak tawaran Minho. Pertama, Minho itu kalau bawa mobil kecepatannya selalu diatas rata-rata dan dapat membuat Hanbin sakit jantung. Kedua, Minho itu suka sekali mengajaknya mampir ketempat lain selain rumah yang otomatis dapat mengurangi uang jajannya. Dan ketiga jarak rumah mereka juga berlawanan arah, kasihan juga anak itu kalau Hanbin menumpang.

"No, thanks. Aku masih menyayangi jantungku." Dan pada akhirnya Hanbin menolak tawaran 'baik' sahabatnya itu.

"Hahaha baiklah, kalau begitu aku duluan ya, Kim. Sampai jumpa besok~!"

"Hati-hati di jalan"

Minho hanya mengacungkan jempolnya.

Sepeninggalan Minho, Hanbin mendudukkan dirinya di kursi panjang yang memang terletak di koridor utama. Ia mengeluarkan headset dan mendengarkan musik sambil menatapi hujan yang membasahi halaman sekolah. Ia lalu measakan kehadiran seseorang di sebelahnya. Hanbin melepas salah satu headset nya dan menoleh ke samping. Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berdiri di samping nya. Ah tidak hanya berdiri, lelaki itu juga berbicara dengan nya.

"Belum pulang?"

Ya, dia Kim Jiwon.

Ehm sebenarnya bukan kali pertama Jiwon mendatanginya seperti ini. Pernah beberapa kali Jiwon mengajak Hanbin berbicara. Selalu disaat Hanbin sedang sendirian, entah itu saat mereka bertemu di perpustakaan, entah itu saat Hanbin sedang menunggu bus di halte dan entah saat seperti situasi nya sekarang ini. Dan saat mereka sedang berdua saja sikap Jiwon itu berbeda sekali. Ia lebih perhatian dan banyak tertawa. Hanbin selalu menyukai Jiwon yang seperti ini. Hal ini akan membuat Hanbin melupakan segala kekesalan dan kegundahan nya tentang Jiwon. Tentang kedekatan Jiwon dengan Jinhwan, tentang perasaan Jiwon sebenarnya dan tentang maksud sikap Jiwon kepadanya selama ini. Semua itu menguap ke udara dan membuat Hanbin tersenyum tanpa sadar.

"Ah.. ya aku menunggu hujan reda karena tidak membawa payung. Kau sendiri?"

Jiwon mendudukkan diri di samping Hanbin.

"Aku juga sedang menunggu hujan reda. Boleh kutemani?"

"Boleh saja—" Hanbin menyodorkan sebelah headset nya ke Jiwon. "—mau mendengarkan ini bersama?"

Dan disambut Jiwon dengan senang hati.

"Tentu"

Dan jadilah mereka mendengarkan musik bersama tanpa ada yang memulai percakapan. Terjadi begitu saja. Hanbin sih nyaman-nyaman saja di dekat Jiwon. ehm sebenarnya tidak terlalu nyaman sih. Hanbin ingin sekali mengajak Jiwon berbicara. Tetapi tiba-tiba ia merasa lidah nya kelu. Ia menunggu Jiwon mengatakan sesuatu, tetapi Jiwon hanya membisu sampai hujan reda. Jiwon lalu melepas headset yang di pakai nya tadi dan berdiri. Hanbin hanya menatap Jiwon.

"Kau pulang naik bus kan? Mau pulang bersamaku saja? Lagipula hari sudah sore."

Mimpi apa Hanbin semalam sampai Jiwon menawarinya untuk pulang bersama. Tentu saja ia tidak mau melewatkan kesempatan seperti ini.

"Eh, tidak usah. Aku naik bus saja, nanti malah merepotkan."

Jiwon langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, samasekali tidak merepotkan kok."

"Baiklah kalau begitu." Barulah Jiwon tersenyum lebar.

Lalu Jiwon—yang entah disadarinya atau tidak—menarik tangan Hanbin menuju parkiran. Hanbin hanya menahan senyum tanpa perlawanan.

.

.

.

.

Lagi-lagi Hanbin kembali jatuh kedalam pesona Kim Jiwon. Lagi-lagi Hanbin semakin menyukai senyuman Kim Jiwon. Dan lagi-lagi Hanbin kembali menaruh harapan pada tetangganya itu. Tetapi seperti kata orang, terkadang orang yang kau cintai adalah orang yang paling sering membuatmu menangis. Seperti Hanbin hari ini, ia dihempas ke tanah oleh orang yang telah membawanya terbang ke awan kemarin sore.

Hanbin sampai di sekolah seperti biasa. Mood nya masih baik gara-gara kejadian kemarin yang tidak bisa membuatnya berhenti tersenyum. Rasanya pipinya sakit karena kebanyakan tersenyum, tapi Hanbin tidak peduli. Ia hanya ingin membagikan kebahagiaannya. Yang langsung hilang seketika saat ia tiba di dekat kelasnya. Ia melihat Jiwon sedang berbincang bersama Seunghoon saat tiba-tiba Jinhwan datang dan mengecup pipi Jiwon dan mengucapkan selamat pagi pada mereka.

Lunturlah senyuman Hanbin. Mood Hanbin langsung down seketika. Entah kenapa ia merasa kesal sekali dengan dirinya sendiri. Kekesalan yang entah kenapa membuat kedua matanya memanas. Sebelum ada yang melihat, Hanbin langsung memutar haluan dan menuju atap sekolah. Ia menduduki dirinya di lantai.

"Sial. Haha bodoh sekali sih Hanbin. Kenapa juga senang sekali saat dia mengantarmu pulang kemarin. Kau melupakan hal penting, dia itu sudah punya pacar—" Satu tetes air mata jatuh."—kemarin itu dia pasti hanya kasihan padamu. Ya, kasihan. Kalian kan teman sekelas, tetangga lagi." Tetesan berikutnya menyusul.

"SIAL!"

Hanbin memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya disana. Sudah terlanjur begini mau bagaimana lagi selain membolos.

"Kau sedang apa, Kim?" Sebuah suara menyadarkan Hanbin yang tidak berkutik dari posisinya.

Minho—sipemilik suara—langsung mengambil posisi disebelah Hanbin. Tidak mendapati respon dari Hanbin, Minho pun menyenggol bahu sahabatnya itu.

"Hey, kau tidur?"

Masih tidak ada tanggapan. Minho melihat bahu Hanbin sedikit bergetar.

"Ya! Kau menangis Kim Hanbin? Si brengsek Jiwon membuatmu menangis?!" Minho tiba-tiba merasa emosi. Ia mengguncang bahu Hanbin.

"Ti..Tidak kok..."

Mendengar suara parau sahabatnya, Minho melunak. Ia lalu memeluk Hanbin, berusaha menenangkan sahabatnya itu.

"Tenang, ada aku disini. Aku dan Yunhyeong tidak akan meninggalkanmu sendirian, Kim."

Minho hanya berharap Hanbin tidak mendengar debaran halus yang berasal dari dadanya.

.

.

.

.

.

.

.

Review kalian akan sangaat membantu~~~ ^^

Semoga sukaaa~

-Hanbeen-