Aku masih membenci cinta. Aku terlalu putus asa untuk mempercayai cinta. Bagiku cinta hanyalah sebuah pengkhianatan yang tak dapat diampuni.


Hitsugaya's POV

Aku berjalan pelan menuju gerbang sekolah namun sebuah tangan menggenggam tanganku erat dan menyeretku dengan seenaknya menuju parkiran.

"Kurosaki, lepaskan aku!"

"tidak. Kau harus ke atap. Sekalipun kau membenci cinta tapi aku yakin kau masih memiliki cinta. Jika tidak, maka saat ini kau telah mati. Seorang yang memiliki cinta tentu saja memiliki hati. Orang berhati tidak akan membiarkan orang yang mencintainya menunggu di atap sekolah sekalipun dia tidak mencintainya."

Aku berusaha memberontak. Namun apa daya, dia lebih kuat daripada aku. Akhirnya dengan terpaksa aku mulai mensejajarkan langkahku dengan langkahnya menuju atap.

333

Ichigo menungguku di balik pintu atap. Aku tengok kiri-kanan mencari pengirim surat cinta itu.

Seorang gadis berambut model cowok turun dari atas. Dia membalik badannya menghadapku.

"to the point saja,"kata Hitsugaya datar.

"yah, sejujurnya aku malu mau ngomong ini. Tapi sudahlah. Hitsugaya, aku mencintaimu. Mau gag jadi pacarku?"

"sorry, aku gag bisa. Kamu tentu tau julukanku di sekolah ini. Nah, aku pergi."

Aku pergi dari atap. Aku melirik ke arah Kurosaki. Aku tersenyum sinis padanya sebelum berjalan melewatinya.

333

Bulan yang masih nampak, cahaya matahari yang menembus awan, semilir angin menerpa, dan kicauan burung di pagi hari, menyambutku ketika aku keluar rumah untuk joging.

"huf, akhirnya aku bebas. Liburan tidak bertemu dia. Syukurlah,"batinku.

Aku berlari pelan. Taman dekat rumahlah tujuanku. Aku berlari kecil mengelilingi taman itu. Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran. Em-, aku menghentikan lariku. Sebuah tangan kecil menarik celanaku.

"ada apa?"tanyaku ramah pada anak kecil yang telah menahanku.

"onii-chan, onegai. Aku, aku tersesat saat lari pagi dengan kakakku. Huaa..."

Aku berjongkok, mencoba menyajarkan tinggiku dengannya, "hei, tenanglah. Ada onii-chan di sini. Aku Hitsugaya Toushirou. Siapa namamu?"

"atashi wo namae wa Yuzu."

"nah, Yuzu, jangan menangis lagi, oke. Onii-chan akan membantumu mencari kakakmu."

"a-arigatou onii-chan."

"hm, douitashimashite."

Kami memutari daerah sekiatr taman. Selama pencarian, Yuzu menceritakan beberapa hal tentang keluarganya. Ibunya yang sudah meninggal. Ayahnya yang seorang dokter. Kembarannya yang sangat tomboy, dan kakaknya yang baginya orang baik bertampang seram. Yah, semacam itulah.

"ne, Yuzu-chan, dari semua anggota keluargamu, kau paling senang menceritakan tentang kakakmu. Apa kau sangat mencintainya?"tanyaku.

Yuzu menatapku dengan tatapan bingung untuk sedetik kemudian berubah menjadi wajah ceria dengan senyuman lebar terukir.

"ne, kau benar, onii-chan. Dia kakak kesayangan dan kebangganku."

"Yuzu-chan, jika kau memang mencintai kakakmu, jangan membuatnya bersedih, oke. Jangan mengkhianatinya dan jangan mengecewakannya. Apa kau bisa melakukan itu?"tanyaku dengan tampang serius. Dia sempat bingung dengan pertanyaanku.

"ne, ten-"

"Yuzu-chan, anata wa doko desu ka? Yuzu-chan?"

Sebuah suara laki-laki berteriak memanggil nama Yuzu terdengar. Dengan gembiranya Yuzu berlari ke arah sumber suara. Aku mengikutinya dari belakang.

"Onii-chan,"panggil Yuzu ke seorang pemuda yang mungkin seusiaku. Namun, tunggu dulu. Sepertinya aku mengenalnya.

Pemuda itu membalikkan badannya. Entah kenapa aku sempat menahan nafasku. Dan terkejutlah aku ketika melihatnya.

"Kurosaki-san?"

"ah, Toushiro. Kebetulan bertemukah?"

"Onii-chan, dia orang yang membantu Yuzu mencari Onii-chan."

"ne, benarkah?"

"panggil aku Hitsugaya, Kurosaki. Ya, itu benar,"jawabku datar, "nah, Yuzu-chan berhubung kau sudah bertemu kakakmu, onii-chan pulang dulu, oke. Jaga dirimu baik-baik dan ja matta,"ucapku sambil tersenyum.

Hitsugaya's Pov end.

Ichigo's Pov

"panggil aku Hitsugaya, Kurosaki. ya, itu benar,"jawabnya dengan nada datar. Yah, memang itulah nada bicara yang dia gunakan ketika berbicara dengan orang lain selain Hinamori Momo.

"nah, Yuzu-chan berhubung kau sudah bertemu kakakmu, onii-chan pulang dulu, oke. Jaga dirimu baik-baik dan ja matta,"ucapnya sambil tersenyum.

Aku terpaku di tempat. Sungguh, senyumannya merupakan senyuman indah yang sangat langka. Tentu saja langka, dia jarang tersenyum di kesehariannya. Aku beruntung dapat melihatnya lagi.

"ja matta, onii-chan,"ucap Yuzu sambil melambaikan tangan ke arah Toushiro yang sudah membalikkan badannya.

"ah, Onii-chan, tunggu sebentar,"teriak Yuzu memanggil Toushiro. Toushiro menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

"ada apa, Yuzu-chan?"tanya Toushiro.

"ya, tentu saja. Tentu saja, aku dapat melakukan apa yang onii-chan minta tadi. Tentu saja, karena aku mencintai onii-chanku."

Toushiro tampak tersentak mendengar jawaban Yuzu namun sedetik kemudian dia tersenyum dengan lembut.

"hm, aku senang mendengarnya Yuzu-chan. Kau harus menepati janjimu, oke. Aku akan menghukummu jika kau melanggarnya,"ucap Toushiro. Yuzu mengangguk. Setelah mengucapkan salam perpisahan sekali lagi, Toushiro membalikkan badannya dan berjalan pergi.

"ne, Yuzu, memang tadi Toushiro memintamu untuk melakukan apa?"tanyaku setelah kepergian Toushiro.

"hm, Toushiro-nii-chan menyuruhku untuk tidak membuat onii-chan bersedih, tidak mengecewakan onii-chan, dan tidak mengkhianati onii-chan, jika Yuzu mencintai onii-chan. Yuzu, mengerti arti kata semua itu namun kenapa Toushiro-nii-chan memintaku begitu, ya?"

Aku terdiam mendengar perkataan Yuzu. Tiba-tiba sebuah jawaban dari pertanyaanku selama ini melintas di kepalaku. Sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan Toushiro. Pertanyaan "mengapa Toushiro begitu membenci cinta?" Yah, mungkin aku sudah tau jawabannya.

"mungkin dia tidak ingin kau menjadi anak nakal atau semcamnya. Nah, Yuzu, ayo, kita pulang. Ayah pasti sudah menunggu kita."

Ichigo's POV end.


Ya, inilah aku. Orang yang tidak menyukai pengkhianat. Dan cinta telah mengkhianatiku. Karena itu aku membencinya.


Disc : Tite Kubo

Author : Himakari Allebrin

#######

Author : ah, gomen. author tau author telat ngucapinnya tapi makasih ya udah baca cerita author hingga chapter 3 ini dan mohon reviewnya. author masih hijau jadi butuh pupuk dan siraman dari para reviewer (halah bahasa gue. sejak kapan gue jadi tanaman ya? #bingung sendiri). ja matta.