Lylul's Note :
Heeeey! Halo, maaf menunggu lama! #digetok
Oh, ada yang nanya apakah cerita ini 'niru' film 'Snow White and The Huntsman'. Jawabannya : Ya memang mirip, tapi sangat berbeda! Dijamin kok! Tapi kalo ide cerita memang dari sana, hehehe...
terima kasih atas masukan kritik yang telah kalian berikan! Bener-bener ngebantu!
~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~
~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~
~Once Upon A Dream~
A multi-chapter fanfiction by : LylMccutie07
Harry Potter (c) J.K Rowling
Pairing : Draco/Harry (Drarry)
~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~
~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~
Chapter Two :
Cahaya yang lain
~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~
She run as fast as her little feet could take, The Big Bad Wolf was hot on her heels. She could not stop now, she must keep on running, as far away from her hunter whom just swallowed her dear grandmother whole. –'Little Red Riding Hood', Brothers Grimm.
~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~
.
Pub itu dipenuh-sesakkan oleh gerombolan manusia yang tengah mengelu-elukan kalimat bercampur-campur yang hingga tak dapat diidentifikasi lagi. Dalam ruangan redup yang hanya diterangi beberapa lentera, terdapat sebuah panggung pertarungan yang dipagari jaring-jaring besi.
Gerombolan penonton dengan penuh gairah meneriakkan semangat sekaligus mengelukan cemooh kata binatang pada kedua lawan diatas panggung yang tubuhnya dilumuri luka-luka memar, menganga, gigitan, membiru, hingga daging membusuk. Bau apek bercampur darah dan minuman keras memenuhi seluruh ruangan sumpek itu, tak sedikit orang yang membantingkan segepok uang pada meja pemilik pub sebagai tanda bahwa mereka melakukan pertaruhan, tak sedikit pula orang yang beradu tinju dan tendang mabuk diluar arena.
Pemuda berambut pirang terhuyung kebelakang, tubuhnya bersandar pada sudut ring, ia menyeka darah yang merembes dari hidung dan mulutnya menggunakan lengan baju yang dinodai darah kering dan lumpur. Lawannya juga sudah nyaris kehilangan kesadaran, namun masih kuat berdiri dan menganyunkan tinju padanya.
Lindwurm memperhatikan tiap inci lawannya, seorang makhluk setengah troll setengah manusia yang jelek, memiliki tubuh kekar dan kulit sawo matang, ia mencari titik lemah yang dapat membuatnya jatuh dengan sekali serangan. Lawannya menyerukan teriakan penuh emosi, sembari mengayunkan tinju terkepal erat pada wajah pemuda tersebut.
Emosi. Sebuah hal yang kuat sementara, namun juga titik lemah paling besar makhluk hidup. Itulah sebabnya Lindwurm menghancurkannya setelah mulai bertarung di arena, mereka yang bertarung dengan emosi yang meluap akan cepat terjatuh dan terbakar. Terkapar kalah dan berakhir dipukuli massa yang kalah bertaruh.
Dengan gerakan selincah kucing, Lindwurm menghentikan laju lengan lawannya, suara ngilu retakan tulang terdengar keras ketika ia memelintir lengan berotot tersebut hingga tiga-ratus enam-puluh lima derajat. Rengekan suara kesakitan lawannya menggema nyaris hingga terdengar seisi kota, Lindwurm tanpa ragu, memelintir leher pria yang menjadi lawannya dengan kakinya yang mencekik leher tersebut, dan dengan satu hentakan pinggulnya, lawan yang dua kali lipat berat tubuhnya itu jatuh bedebam ke tanah. Tak bergerak. Namun masih hidup.
Tiga dentangan bel menandakan pertarungan berakhir terdengar, dua orang penjaga menyeret tubuh lawannya keluar ring dan melemparnya pada amukan massa yang kalah bertaruh dan atau butuh sesuatu sebagai tumbal emosi mereka yang ditahan-tahan sedari tadi.
Lindwurm tidak meliriknya sama sekali, ia menyenderkan tubuhnya yang lelah pada sudut ring, nafasnya tersenggal-senggal. Ini ronde ke-delapannya hari ini, tubuhnya lelah, ia hanya minum sekali. Dua jam yang lalu. Pemilik pub mendaki ring, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar kepada para penonton.
"Sekali lagi, pemenang tujuh tahun berturut-turut, sang Malaikat Kematian. Keluar sebagai jawara!" serunya. Penonton bersorak riuh, segerombol mengelukan sumpah-serapah kepada Lindwurm.
Pemuda itu tidak menghiraukan sekelilingnya, dia terfokus pada tubuhnya yang kelewat lelah, berusaha mengatur nafasanya, merenggangkan otot-ototnya yang tegang, menyeka darah yang merembes pada keningnya yang mengucuri kelopak matanya.
"Apakah ada manusia yang berani untuk menantangnya? Ayolah, folks! Jangan biarkan dia mengambil semua uang kita!" teriak lelaki pendek berambut cepak beruban itu lagi. Lindwurm mendengus seraya memutar matanya, orang itu tahu apapun yang terjadi, Lindwurm akan selalu keluar sebagai pemenangnya. Dia tidak dipanggil 'Malaikat Kematian' karena alasan kosong.
Dia menemukan tempat ini tujuh tahun yang lalu, mencoba-coba keberuntungannya. Dan hasilnya? Tujuh tahun menang berturut-turut. Walau uang yang didapatnya tidak seberapa, itu cukup untuk memebeli barang-barang yang dibutuhkannya. Tapi ia masih tidak memiliki tempat untuk tinggal menetap, Lindwurm terbiasa tidur diatas pohon atau disudut gang sempit yang gelap dan lembab. Namun karena kemenangannya, ia terkenal dengan julukan 'Malaikat Kematian'. Tiada orang yang selamat ketika dihadapkan padanya. Saat ini Lindwurm merasakan perutnya akan mengeluarkan sarapannya, kepalanya berputar-putar, suara disekelilingnya seolah direndam. Sekarang ia menyesal telah meneguk tiga botol Firewhiskey dan satu botol Vodka secara bersamaan sebelum bertarung di ronde ketujuh.
Kemudian, pintu menjeblak terbuka, memamerkan prajurit-prajurit berzirah hitam, berdiri tegap menenteng senjata, salah satunya absen topeng perak, memamerkan wajahnya dan rambut hitam arang yang dipangkas pendek.
Nyaris bersamaan, seluruh penghuni pub berlomba keluar dari pintu belakang kecuali Lindwurm, yang masih terlalu mabuk untuk melakukan apapun. Pria tak bertopeng itu mendaki ring, mendekati Lindwurm yang masih limbung.
"Raja menuntut kehadiranmu," adalah kata terakhir yang didengar pemuda tersebut sebelum kegelapan mengkabuti pikirannya.
.
Lindwurm Hawthorn tengah berdiri di ruang singgasana yang megah, badannya menghadap kursi singgasana besar dari perak berlapis kulit ular yang ia kenal baik. Dadanya bergemuruh dengan amarah, kaki kirinya menghentak-hentak lantai yang mengkilap dengan tidak sabaran, ekspresinya sekeras batu, tatapannya sedingin langit musim dingin yang kelabu. Dia tidak sudi memasuki istana ini, lagi.
Dua pasang penjaga berdiri mengelilinginya, senjata siap ditangan mereka, mengantisipasi gerakan ganjil atau serangan tiba-tiba dari dirinya. Lindwurm mendorong masuk kembali gelak tawa yang ingin ia lemparkan pada para penjaga tolol itu. Mereka kira dia bodoh apa? Tidak ada orang waras yang ingin mempermainkan para penjaga raja, apalagi ia tahu diseberang ruangan masih ada selusin Death Eaters berjaga jika prajurit yang menjaganya membutuhkan pertolongan.
Akhirnya ia tidak tahan lagi, Lindwurm mendecakkan lidah. "Jadi, dimana dia? Aku sudah tidak sabar untuk keluar dari tempat terkutuk ini," seru Lindwurm pada prajurit yang menawannya, suara baritone-nya menggema pada ruang singgasana yang luas itu. Tak satupun Death Eaters menjawabnya, membuat pemuda itu senewen.
Hari yang buruk terasa semakin buruk saja. Dia hampir pingsan setelah ronde kedelapannya di pub, ia kehabisan banyak darah, perutnya kosong, dan tenggorokannya kering. Kemudian Death Eater mendobrak masuk ke dalam dan membawa tubuhnya yang tak sadarkan diri dari sana.
Dia terbangun setengah jam kemudian –mungkin, kemudian ia sudah berada disini. Sebenarnya ia tidak punya pilihan. Tubuhnya langsung dilempar ke atas punggung kuda ketika ia baru sepertiga sadar. "Raja menuntut kehadiranmu," kata salah seorang pria berzirah hitam yang membawanya kesini. Jujur saja, Lindwurm heran dibuatnya. Dia benar-benar tidak berguna belakangan ini. Ayam saja lebih produktif dibanding dirinya.
Dan disinilah ia sekarang. Di tempat terakhir yang ingin ia kunjungi. Lindwurm sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menginjakkan kaki ke dalam istana sialan ini, dan takdir selalu senang mempermainkannya. Terkadang ia bertanya-tanya apakah Tuhan sangat membencinya.
Telinganya yang telah berpengalaman bertahun-tahun menangkap dengan jelas langkah kaki nyaris tak terdeteksi berjalan menuju singgasana, Lindwurm mengenakan wajahnya yang paling terlihat masam ketika ia melihat raja kerajaan Slytherin yang sekarang. Penyihir hitam berkulit pualam tak berhidung itu selalu membuatnya muak.
Orang lain akan berpikir dirinya sinting kalau melihatnya memasang ekspresi penuh kebencian pada pria yang paling ditakuti di seantero negeri itu, tapi ia tidak takut mati. Tidak pernah, karena alasannya untuk hidup sudah musnah ketika penyihir itu mengambil alih kerajaan. Dan ia tahu Voldemort tidak akan membunuhnya kecuali Lindwurm membuat dirinya kesal. Tidak, pria itu memilih untuk menyisakannya agar dapat menyaksikan pemuda itu tersiksa, dan Voldemort mendapatkan hiburan dari itu.
"Sudah lama tidak jumpa, Lindwurm. Mari kita lewati basa-basinya, dan langsung saja. Kudengar dari jenderal-ku, kau salah satu dari sedikit yang pernah masuk ke Hutan Terlarang, lalu berhasil keluar dengan selamat," Voldemort memberi isyarat ke arah seorang wanita dengan rambut panjang keriting berantakan yang berdiri dibelakangnya. Lindwurm menyadari bahwa wanita itu adalah Bellatix Lestrange, jenderal setia Voldemort yang amat ia kenal.
"Salah satu tahananku melarikan diri ke sana," sang raja kegelapan melanjutkan. Lindwurm menggelengkan kepala. "Kalau begitu pria itu sudah mati–"
"Pemuda. Umurnya pun sama denganmu," ralat raja sambil mengacungkan satu jari.
Lindwurm mengangkat sebelah alis, ekspresinya terkesan meremehkan. Untuk apa Voldemort memberinya informasi itu? seolah ia peduli saja, hah! "Kalau begitu, pemuda itu pasti sudah mati," ralatnya.
Voldemort mengabaikan perkataan Lindwurm, tongkat sihirnya diputar-putar dalam sela-sela jemarinya. "Temukan dia. Bawa dia ke hadapanku."
Lindwurm mendengus, memutar bola matanya. Orang-orang didalam ruangan menganggap tingkah lakunya kurang ajar, dan biasanya akan berhadiahkan kutukan Cruciatus dari tuan mereka. Tapi itu tidak penting untuk pemuda tersebut. Lindwurm pernah –ralat– selalu menjadi pemburu yang memburu hewan di hutan, dia memang pernah memasuki Hutan Terlarang, tapi itu cuma sekali. Dan ia tidak memiliki niat maupun berpikir untuk mengunjungi hutan terkutuk itu.
"Aku pernah masuk ke Hutan Terlarang. Itu sebabnya mengapa aku tahu bahwa aku tidak sudi kembali ke sana lagi," katanya. Lindwurm tergoda untuk mengatakan 'Dan kau seorang penyihir hitam paling ditakuti dan berkuasa di seantero negeri Hogwarts! Mengapa tidak kau lakukan sendiri? Dasar pemalas!' tapi ia masih tidak mau mencicipi ketiga rapalan mantra Kutukan Tak Termaafkan dari Voldemort.
Dia berputar untuk pergi, tapi selusin Death Eaters menghadangnya. "Kau akan diberi imbalan yang berlimpah," dekut Voldemort. Lindwurm tertawa, Memangnya imbalan itu ada gunanya?!
"Uang tidak berarti bagiku kalau aku terkapar mati, sedangkan mataku dipatoki gagak."
Mata merah darah Voldemort menatap iris kelabunya dengan tajam, kemudian senyuman misterius tersungging dibibir tipis penyihir itu. "Kau pasti akan bersedia melakukannya untukku, Hawthorn," Jeda sesaat, "Kau menginginkan ibumu kembali, bukan?" Darah naik ke atas kepalanya, Lindwurm berderu maju penuh angkara murka menuju singgasana, tetapi para penjaga menghadangnya sebelum ia sempat memelintir leher penyihir itu.
"Orangtuaku bukan urusanmu!" Lindwurm menunjuk pria itu dengan jarinya, amarah meluap dari dadanya. "Kau tidak berhak!" tudingnya. Sebentuk senyuman janggal masih terpatri pada bibir Dark Lord, seolah-olah ia senang mempermainkan pemuda di hadapannya.
"Kau merindukannya? Merindukan keduanya?" dengih Voldemort. "Apa yang akan kau relakan demi membawa mereka kembali?"
Apa saja. Itulah jawaban yang diberikan batin Lindwurm. Namun langsung ditepisnya, karena ia takut penyihir itu dapat memasuki pikirannya, takut dia mengetahui hasratnya. Voldemort tersenyum dengan bengis. "Tentunya kau tahu kekuatanku. Seantero negeri mengetahui kekuatanku. Bawakan aku pemuda itu, dan aku akan mengembalikan orangtuamu kembali," lanjut raja.
"Tidak ada yang bisa mengembalikannya," kata Lindwurm nyaring. Dia masih ingat hari dimana ibunya meninggal, semua orang yang ia kenal hadir di pemakamannya. Ayahnya sangat terpukul, hingga ia seolah kehilangan jiwanya.
Hari itu langit gelap pada bulan Desember, kepingan salju jatuh bisu dari awan kelabu menuju tanah berselimut salju. Waktu itu ia berumur lima tahun, masih tidak mengerti mengapa kerabat dan ayahnya begitu bersedih, hingga ia menyadari sosok ibunya tengah berbaring kaku diatas balok batu di dalam mausouleum, senyap dan diam, mengenakan gaun putih sederhana, kulitnya yang pucat menyerupai batu pualam. Lindwurm adalah anak yang pintar dan observan, maka ketika ia menyadari dada ibunya tidak naik-turun seperti selayaknya, ia menangisi sosok wanita yang paling ia cintai. Teramat menyesal tidak mengatakan kata 'Aku menyayangimu' untuk terakhir kalinya ketika masih sempat.
"Aku bisa," desisnya. "Nyawa dibalas nyawa,"
Mata merah darah pekat itu terlihat ganjil, seolah dapat memasuki jiwanya, membaca masa lalu perihnya. Tapi tahu apa penyihir itu dengan kepedihannya? Dan lagi ialah penyebab pemuda itu menjadi yatim-piatu. Lindwurm memincingkan matanya, menatap tajam sang raja. "Yakinkan aku. Bagaimana aku bisa mempercayaimu setelah apa yang kau lakukan terhadapku? Terhadap keluargaku," tantangnya.
Voldemort tidak bereaksi, tidak bergeming, tidak berkedip. Hanya membalas tatapan tajam pemuda dihadapannya. "Pemuda itu," ujarnya perlahan. "Adalah kunci menuju kekuatan tanpa batas, berikan ia padaku, dan akan kuserap jiwa dan sihirnya. Inti sari kehidupannya adalah sesuatu yang murni, kemurnian dapat menghancurkan, juga menciptakan," Voldemort berjalan kedepan perlahan, hingga kini jarak diantara mereka hanya sejengkal.
"Kekuatanku akan menjadi tak terbatas karenanya. Aku bisa melakukan apa saja. Percayalah, Malaikat, kau tak akan kecewa dengan imbalan yang akan kuberikan."
Lindwurm berusaha mengingat kembali wajah ayah dan ibunya, orang-orang bilang ia adalah karbon-kopi ayahnya. Rambut pirang, mata kelabu, semuanya. Ibunya adalah wanita yang anggun dan cantik, hanya orang berdusta-lah yang akan mengatakan ibunya tidak menarik. Kehangatan hatinya tak tergantikan oleh apapun, Lindwurm masih dapat mendengar jelas suara ibunya yang tengah menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya. Ia masih dapat melihat sosok ayahnya yang mengayunkan pedang, mengajarinya cara bertarung. Ia merindukan mereka.
Apa pentingnya tahanan ini –orang asing ini– bagi Lindwurm? Apa bedanya jika Hutan Terlarang menjadi tempatnya menyambut ajal? Ini adalah Masa Kegelapan, sudah lazim bagi rakyat negeri ini mati terbunuh dengan berbagai alasan.
Seolah mendengar keputusan batinnya, Voldemort menyunggingkan senyum bengis padanya lagi. "Jadi, apakah kau menerima tawaranku?" dengan perlahan, dengan pasti, dia membalas tatapan sang raja dan mengangguk. Dia akan pergi kesana, mengarungi hutan berhantu itu, dan menciduk si tahanan.
Dia toh, tak memiliki apapun lagi untuk dimiliki dan dicintai.
.
Suara desiran dedauan kering, erangan dari kejauhan, bisikan-bisikan janggal, dan kaokan gagak menyelimuti pendengarannya. Angin dingin menususuk tulang hingga ke sendi-sendinya, tanah lembab berlumpur yang beraroma busuk dapat dirasakan kulitnya. Perlahan, sepasang mata beriris zamrud membuka kelopak mata, padangannya sedikit berkabut, efek dari halusinasi belum hilang sepenuhnya.
Harry terbangun dengan helaan nafas kecil, tubuhnya yang lemas meringkuk pada rumpun sehitam arang yang bercampur lumpur, membiarkan matanya menyesuaikan pandangan pada tempat yang minim cahaya. Dengan perlahan, ia bangkit berdiri, menyisir rambut panjang kusutnya yang nyasar ke wajah balik kembali ke belakang kepala, kemudian menaikkan tudung jubah merahnya untuk menutupi seluruh kepalanya. Ia terbatuk-batuk mengeluarkan serbuk sari hitam jamur tadi dari mulut dan paru-parunya, kakinya melangkah perlahan menyisiri hutan, takut tersandung dan jatuh ke tempat yang lebih membahayakan nyawa.
Sekarang ia harus bagaimana? Adalah pertanyaan yang menggantung dibenaknya. Ia berhasil membebaskan diri dari menara di kastil Slytherin, dan sekarang ia harus kembali ke kerajaan Gryffindor. Tapi kemana arahnya? Dia main masuk saja ke dalam hutan aneh yang memedarkan aura angker, dan dia baru saja mendapatkan pengalaman hampir mati. Sekarang prioritas utamanya adalah mencari tempat aman untuk beristirahat dan kemudian mencari seseorang atau sesuatu yang dapat membantunya mencari arah, atau setidaknya tempat untuk menetap sementara dimana ada banyak orang waras yang tinggal menetap. Seperti sebuah desa kecil misalnya?
Tiap langkah yang ia ambil ketika memasuki padalaman hutan yang bersemak, tungkainya mendapat goresan-goresan luka perih dari duri dan ranting disekitarnya. Berkelana tanpa arah, membiarkan kaki tak beralasnya membawanya entah-kemana tanpa berbekal apapun. Harry menajamkan indera pendengarannya yang sudah cukup sensitif, mencari-cari suara uhu burung hantu putih misterius itu lagi, berharap ia akan mengantarnya menuju tempat yang aman.
Suara ranting-ranting patah terdengar dari kakinya yang menginjak tanah, Harry meringis ketika kakinya sekali lagi tergores hingga menoreh luka, tapi ia terus memaksa berjalan menyisiri kumpulan semak belukar tinggi. Harry menghela nafas letih, tenaganya terkuras ketika berlari kabur dari kastil, berenang di lautan, dan melesat sekaligus menggelincir menuju hutan. Dan ngomong-ngomong soal hutan, hutan apa ini? Ia belum pernah mendengar apapun tentang hutan ini.
Harry memandangi sekelilingnya, pohon-pohon berkayu cokelat gelap berlubang-lubang, meliuk membentuk wujud aneh, dedaunannya layu menggantung lunglai, seolah pohon-pohon tersebut separuh mati-separuh hidup. Tanahnya lengket dengan rumpun kasar berwarna hitam arang, baunya anyir dan busuk, seperti bangkai. Harry memastikan bahwa tanah yang ia pijak bukanlah Ghostsand. Kabut tipis keabuan memenuhi seisi hutan ini, kaokan gagak terdengar dari kejauhan. Angin membawa suara erangan yang terdengar begitu dekat namun juga begitu jauh, bisikan-bisikan ganjil menggerogoti telinganya, membuat bulu romanya berdiri. Harry dapat merasakan aura gelap yang begitu kentara dari dalam hutan tersebut, seolah hutan tersebut hidup, tapi juga seolah mati.
Ada yang aneh pada hutan ini, Harry yakin itu. ia dapat melihat jelas hutan ini seakan menghisap seluruh cahaya yang berusaha memasukinya, tumbuhan-tumbuhan disekelilingnya bergerak-gerak bukan oleh angin, ia bersumpah sekilas melihat pasang-pasang mata berpedar mengikuti tiap gerakannya.
Kemudian tiba-tiba, ia mendengar suara ranting patah dan gemerisik hancurnya daun kering yang berguguran. Satu. Lima. Tujuh. Tujuh pasang langkah kaki berjalan mendekatinya. Kemudian suara permukaan air terusik keras. Spontan, Harry berlari melesat menjauhi sumber suara, menyusuri sesemakan –tidak memedulikan kakinya yang nyeri tercambuk ujung ranting dan duri– lebat, lalu melompati batang pohon tumbang yang perlahan membusuk, merunduk melewati cabang pohon rendah. Hingga ia menemukan sebuah pohon dengan akar timbul yang cukup besar untuk ia masuki, Harry merangkak memasuki sela-sela akar, dan meringkuk dibawah pohon tersebut hingga apa yang mencarinya pergi.
Namun, semakin dekat orang yang mencarinya dengan dirinya, Dream-Catcher miliknya memanas dan semakin panas, juga terasa semakin berat didadanya.
.
Lindwurm berdiri di jalur masuk Hutan Terlarang, mengamati bayang-bayang yang mengintai di antara pepohonan. Meluncur menuju Hutan Terlarang dari bukit berlumpur tadi sedikit rumit, tapi ia berhasil mendarat dengan selamat walaupun pakaiannya kotor dilapisi lumpur lengket.
Dia pernah masuk ke hutan penuh satwa dan flora gaib berbahaya itu, tapi tidak lebih dari tiga-puluh meteran. Terakhir kali ia kemari adalah beberapa tahun setelah Voldemort berkuasa. Saat itu makanan sangatlah langka, banyak rakyat yang mati kelaparan di jalanan, hanya segelintir yang memiliki cukup banyak otak untuk memancing dan menjaring ikan di laut. Dan selusin yang sudah sinting masuk ke Hutan Terlarang untuk beburu, hasilnya? Tiada orang yang berhasil keluar dari sana hingga kini.
Dan sekarang seluruh penduduk kerajaan tahu bahwa Hutan Terlarang menelan manusia bulat-bulat. Semua orang tahu tentang ular-ular yang bergelung membelit tungkai, perlahan-lahan meremas tubuh hingga tak bernyawa, dan bunga-bunga beracun yang bisa membunuh dengan satu sentuhan saja. Maka dinamakanlah 'Hutan Terlarang'.
Tapi waktu itu perutnya kosong, dan demi apapun, waktu itu dia baru berumur tiga-belas tahun! Dia masih awam untuk persoalan bertahan hidup. Dia melacak seekor kijang jantan melintasi lapangan ketika binatang itu melesat ke dalam kabut yang berputar-putar, dia tahu tentang hutan itu, tapi malah terus melesat mengejar kijang tersebut.
Baru selangkah memasuki hutan yang kelam dan berbahaya itu, kakinya nyaris menginjak Ghostsand, nyaris tersesat ketika tidak sengaja memasuki maze dari semak-semak tinggi yang perlahan membelit tubuh, nyaris mati dikejar serigala jadi-jadian, dan yang paling parah, ia digigit laba-laba pertapa cokelat. Butuh sebulan untuknya sembuh kembali tanpa kejang-kejang ketika berjalan. Daging di sekitar tempat gigitan membusuk, dia demam selama sebulan penuh, semakin hari semakin memburuk. Dia sudah bersumpah tidak akan kembali kesana lagi.
Namun, sekarang setelah menanggung penderitaan tak terperi, menerima kenyataan keras selama sepuluh tahun, Hutan Terlarang tidak lagi terlihat angker. Lagipula pada awalnya, Hutan Terlarang sudah tidak bisa lagi merengut apapun darinya, ia tidak memiliki apapun untuk direbut. Bahkan nyawapun ia tidak peduli lagi, dia bahkan menunggu-nunggu kapan ajal akan menjemputnya. Lindwurm menerka-nerka mungkin sekarang.
Lindwurm menatap kubangan lumpur hitam kecoklatan berlendir yang melingkari tepi hutan seolah membentuk pembatas antara dunia mereka sendiri dengan dunia nyata. Tentu saja, apa gunanya Hutan Terlarang tanpa Ghostsand?
"Ikuti contohku," katanya kepada Rabastan Lestrange, jendral Voldemort yang diperintahkan untuk mengikutinya, tengah berdiri di belakangnya diiringi lima Death Eaters lain. Mereka semua bersimbah keringat, sedangkan wajah mereka pucat karena ketakutan, walau sebenarnya Lindwurm tidak dapat melihatnya oleh kerena topeng mereka, tapi ia tahu mereka pasti pucat pasi.
Lindwurm melangkah ke dalam paya, menaiki undakan gumpalan tulang-belulang yang mencuat dari kedalaman pasir lengket yang cukup kokoh untuk menahan bobot tubuhnya. Dia melangkah ke atas gundukan tulang lainnya, kemudian yang lainnya, sambil mendengarkan kecipak lendir dibawahnya. Lendir itu beracun dan mengandung asam, ia dapat mengetahuinya dari serangga-serangga mati yang hinggap mengikuti dibelakang Lindwurm, dibuntuti lima prajutitnya. Mereka terus berjalan seperti itu tanpa bicara, menjejak batu-batu rawa satu per satu.
Lindwurm yang pertama sampai di seberang, lalu ia berbalik untuk membantu yang lain mendapat pijakan yang lebih kokoh. Burung-burung gagak berkaok-kaok dari kejauhan, Lindwurm mendengarkan kalau-kalau ada suara ranting yang patah atau daun yang menggerisik. Dia hanya mendengar bisikan-bisikan janggal dalam hutan itu. Konon hutan tersebut mengincar kelemahan seseorang dan kekuatan gelap bisa memanggilnya karena mengetahui hasrat mereka yang paling dalam.
Sementara mengendap-endap maju, tidak ada kata-kata yang tertangkap, tapi Lindwurm bisa mendengar suara-suara samar dari antara pepohonan. Rabastan berjalan mendahuluinya, mulai memasuki liang panjang berisi padang jamur, tapi Lindwurm menyambar lengan lelaki itu.
"Persis seperti apa yang kucontohkan," ucapnya perlahan tapi menusuk. Kemudian Lindwurm menarik kemejanya yang bersimbah darah dan keringat hingga keluar dari jaket dan rompi kulitnya, menaikkan bajunya itu untuk menutupi hidung dan mulutnya. Lalu mulai melangkah menyebrangi liang jamur, Rabastan dan anak buahnya melakukan hal yang sama.
Selagi berjalan menembus petak-petak jamur, serbuk sari hitam melayang naik kesekeliling mereka, sebagian butirannya menempel diwajah dan rambut. Lindwurm menunduk mengamati sejumlah jamur yang hancur disekeliling kakinya, ada sebaris jamur lumat, jamur-jamur yang hancur mengarah keluar mendaki atas liang hingga keluar dari area padang jamur, dan masuk ke petak pepohonan yang meliuk-liuk dan berlubang-lubang. Lindwurm menyingkirkan beberapa jamur dengan botnya hingga tampaklah jejak-jejak kaki berantakan di tanah. Lindwurm mendaki keluar dari liang lebar itu, diikuti Rabastan dan anak buahnya.
Dia terus menatap pepohonan di hadapannya, ada yang bergerak di belakang pepohonan itu. Saking fokusnya, Lindwurm tidak memperhatikan bahwa salah satu Death Eaters menggeluyur ke tepi lain ladang rumpun hitam, tempat sebuah kolam membentang, permukaannya memantulkan langit kelabu yang terhandang bayangan ranting lebat.
Lindwurm berputar tepat saat sesosok makhluk sesamar bayangan muncul dari kedalaman kolam tersebut, menusuk dada prajurit itu dengan ekornya yang berduri. Dalam hitungan detik, orang itu terseret ke bawah, punggungnya lenyap di balik permukaan telaga sebening kaca. Death Eaters lainnya berputar untuk berlari, tapi Lindwurm mengangkat tangannya untuk menghentikan prajurit-prajurit pengecut yang hanya berdiri dibalik bayang-bayang nama 'Death Eaters' itu.
Dia menunjuk pohon-pohon berbatang meliuk dan berlubang-lubang itu, ia yakin tahanan yang melarikan diri itu ada disana –dia dapat mendengar pemuda itu bergerak dengan susah payah diantara semak belukar lebat. Lindwurm sudah hendak menarik pedangnya ketika sebatang ranting patah dibawah kakinya, dan sebuah sosok keluar dari pepohonan dengan semak-semak berduri berlari ke arah yang berlawanan, semakin jauh ke dalam Hutan Terlarang.
Lindwurm mengejar sosok itu, membiarkan kemeja jatuh dari wajahnya. Dia bergerak cepat, menembus kabut tebal, mencoba untuk tidak menjejakkan kakinya terlalu lama dimana saja, takut-takut kalau tanaman merambat membelitkan diri ke pergelangan kakinya. Buruannya hanya sekitar lima meter jauhnya, bergerak menembus semak belukar lebat, sampai menghilang ditelan kabut.
Lindwurm melambat, mencari-cari di medan yang diselimuti halimun itu. Dia melihat semak-semak di depan, di sebelah kanannya, berdiri sebuah pohon berakar timbul besar, dahan-dahan patah dibawah pohon tersebut, pada sekeliling akar-akar timbul tempat pemuda itu menerobos masuk.
Dengan satu gerakan cepat, Lindwurm menggapai ke semak-semak, ke dalam ruang sempit dalam akar timbul. Tangannya meraih dan mencengkram erat salah satu tungkai pemuda itu. tidak sulit menyeretnya keluar, tapi pemuda itu melawan, meronta-ronta dalam cengkraman Lindwurm. Dia kecil mungil.
"Lepaskan aku!" jerit si tahanan. Dia berputar, tudung merah yang menyembunyikan kepalanya jatuh ke punggung kembali. Mata hijau zamrud terbening yang pernah dilihat Lindwurm menatapnya.
Lindwurm melangkah mundur sekejap, tidak yakin harus berbuat apa. Pemuda ini bukanlah seperti apa yang dibayangkannya. Tungkainya dipenuhi goresan dan memar, pakaiannya compang-camping kecuali untuk jubah merahnya dan seluruhnya basah kuyup. Pemuda ini memiliki kulit paling putih yang pernah Lindwurm lihat, sedangkan bibirnya merah ranum dan rambut hitamnya tergerai di punggung. Walau kusut dan berantakan, tapi terlihat lembut dan tidak pecah-pecah. Namun matanya-lah yang paling mencolok, warnanya hijau zamrud yang membuat rumput dan daun terlihat pucat jika disandingkan, bening memantulkan cahaya dengan sempurna. Kelambu bulu mata panjang nan lentik menciptakan bayang-bayang samar pada irisnya.
Saat mendengar tentang tahanan itu, ia membayangkan seorang pencuri atau perampok muda berwajah tertoreh luka yang menyandang selusin pisau lempar atau semacamnya. Tapi dia benar-benar tidak menyangka akan melihat pemuda ini –pemuda semenawan ini.
Lindwurm membantu si pemuda berdiri sambil terus memegangi lengannya erat-erat, Pemuda itu berusaha mundur sambil menapakkan tumitnya kuat-kuat ke tanah. Ketika Lindwurm tidak mau melepaskan, si pemuda menggigit tangannya sampai berdarah. Lindwurm menggertakkan giginya. "Cukup!" Lindwurm menarik pemuda itu ke lapangan, mencoba membawanya ke tempat Rabastan dan anak buahnya menunggu.
Namun, pemuda itu meronta-ronta, mendaratkan pukulan keras ke lehernya. "Penyihir kurang batang hidung sialan itu akan membunuhku!" teriak si pemuda. Lindwurm mau tidak mau harus menelan kembali gelegak tawa yang mencoba menerobos keluar dari tenggorokannya, ketika mendengar pemuda tersebut mengolok-olok Voldemort dengan julukan baru. Oh, tidak heran mengapa Dark Lord itu ingin pemuda ini diburu. Sayang sekali ia harus membawa pemuda ini kepadanya, padahal mungkin ia dapat menjadi teman bicara yang lumayan.
"Orang itu sudah sinting! Aku dikurung selama sebelas tahun, dan sekarang dia akan membunuhku tanpa alasan. Aku tidak melakukan kesalahan apapun!" protesnya. Tatkala melihat pakaian yang compang-camping dan rambut panjang kusutnya, Lindwurm berpikir pemuda ini barangkali mengatakan yang sebenarnya. Sebelas tahun...lama sekali. Untuk apa Voldemort mengurung anak lelaki kecil?
Lindwurm menggelengkan kepala, mencoba untuk tidak bertekuk lutut kepada permohonan nelangsa pemuda ini. "Perbuatanku bukan urusanku. Tapi kau bukan tahanan pertama yang mengaku tidak bersalah."
Tungkai pemuda itu ambruk, dia terpuruk ditanah, teronggok lemas. Nafasnya memburu, dan tubuhnya mengigil, sepertinya ia baru mengalami hari yang buruk. "Kumohon –kau harus mempercayaiku," mata hijau beningnya menatap Lindwurm dengan pandangan tak fokus yang lelah.
"Aku sudah bertahun-tahun berusaha mencari cara untuk pergi dari menara itu, putus asa sudah berkali-kali kurasakan, aku hanya ingin kembali bertemu dengan keluargaku, kembali ke kerajaanku."
Lindwurm menunduk memandangnya, pemuda itu gemetar, giginya bergemeretak mengigil, nafasnya memburu, dia terus menatap Lindwurm dengan mata hijaunya yang lebar. Lindwurm pernah sekali melihat atau lebih tepatnya merasakan ketakutan sebesar itu sebelumnya pada dirinya sendiri. "Aku bersumpah," kata si pemuda.
Lindwurm kembali menoleh ke keremangan Hutan Terlarang, dia butuh waktu untuk berpikir. Dia ingin duduk, meneguk Firewiskey, dan memikirkan semuanya masak-masak. Namun, Rabastan dan anak buahnya kian dekat, kemeja tipis mereka masih menutupi wajah.
"Cepat juga kerjamu!" seru Rabastan. Dia menurunkan kerah baju dan menyeka serbuk sari hitam arang dari kelopak matanya.
Si pemuda berdiri dan bersembunyi dibelakang Lindwurm, berusaha sedapat mungkin menjauh dari Rabastan. "Kumohon, jangan bawa aku kembali. Jangan bawa aku kembali..." si pemuda meremas jaket Lindwurm, menekankan wajahnya kedalam kulit usang itu.
"Akan kalian apakan dia?" tanya Lindwurm sambil melangkah maju untuk memperlambat Rabastan. Bibir lelaki itu mencibir tidak senang. "Apa pedulimu, Hawthorn?" dia berbalik menghadap keempat Death Eaters yang tersisa, mengisyaratkan mereka untuk bergerak maju.
Lindwurm mengencangkan cengkramannya terhadap pemuda itu. Kepalanya berdenyut-denyut karena sudah berjam-jam tidak makan ataupun minum dan beristirahat sekalipun. Butir-butir keringat bermunculan di keningnya, tapi dia tetap merasa tertantang untuk berkelahi. Deruan adrenalin yang selalu datang ketika ia tertantang muncul merambat dari dadanya, memanaskan seluruh tubuhnya. Matanya memincing tajam, menyerupai predator tengah mengingtai buruannya.
"Aku akan memegang janjiku jika Raja memegang janjinya," kata Lindwurm, mengucapkan tiap kata seolah meludahkan racun. Dia mengendurkan cengramannya di lengan si pemuda, sekarang mundur ke belakang sambil mendorong pemuda itu lebih dalam ke hutan dan menjauhi anak buah Rabastan.
Rabastan menggeleng-gelengkan kepala. "Kau ternyata masihlah anak yang bodoh," dia tertawa. "Tuan kami memiliki banyak kekuatan; dia bisa mencabut atau memanjangkan nyawa. Tapi ia tak bisa mengembalikan orangtuamu dari kematian."
Lindwurm berjengit, kata-kata itu menyengatnya sedemikian rupa. "Tapi dia bilang...," katanya. Dia sadar bahwa dirinya yang bodoh karena membiarkan serecah harapan merayap masuk ke hatinya. Membiarkan dirinya mempercayai Voldemort, lagi.
Ketika memejamkan mata, sekelebat bayangan ibunya mengabuti pikirannya. Terakhir kali Lindwurm melihat ibunya berjalan dan bernafas adalah ketika ibunya mengenakan gaun kesukaannya, gaun lembut dan ringan berwarna hijau cerah, sederhana namun membuatnya terlihat anggun. Mereka bermain di taman hingga matahari terbenam, ibunya mencolek hidungnya dan berkata; "Kau harus mempercayai dirimu sendiri, sayang. Jangan biarkan orang lain mempermainkan dirimu untuk kedua kalinya."
Ibunya benar. Selalu benar. Tiba-tiba dia tahu ia harus berbuat apa. Lindwurm mendorong pemuda dibelakangnya lebih jauh lagi kebelakang, mencoba menyuruhnya menjauhi orang-orang tersebut. Begitu sudah diluar jangkauan, si pemuda terdorong jatuh ke tanah sekitar tiga meter darinya. "Pergi! Larilah!" perintah Lindwurm sebelum ia menjentikkan pergelangan tangannya, melemparkan pisau pada salah satu Death Eaters, tepat disamping jantungnya. Orang itu jatuh ke samping seraya menyambar pohon untuk menopang dirinya.
Kemudian Lindwurm mencabut pedang yang ia bawa di sabuknya. Diayun-ayunkannya pedang di udara, memperkuat kuda-kuda kakinya. Rabastan beringsut-ringsut maju, pedangnya teracung miring, menanti hingga cukup dekat dengan Lindwurm.
Kedua Death Eaters lainnya bergegas maju terlebih dahulu, Lindwurm menghantam kepala salah satunya dengan ujung gangang pedangnya, prajurit itu terhuyung-huyung kebelakang, lumpuh sesaat. Sementara salah satu kaki Lindwurm menendang yang satunya hingga jatuh kebelakang.
Namun ia kembali bangkit, Lindwurm menyabetkan pedang ke prajurit itu, tapi orang itu menerjang ke samping. Lindwurm terus melawan orang tersebut, menangkis setiap serangan hingga pemuda berambut pirang itu mulai bosan bermain. Tanpa ragu, ia menusukkan pedangnya ke perut Death Eaters tersebut, menyaksikan tubuhnya perlahan melemah dan ambruk ke tanah seusai ia menarik pedangnya kembali.
Rabastan menghunus pedangnya, menyabetkannya pada Lindwurm. Pemuda tersebut menangkisnya dengan pedangnya. Namun sesuatu yang aneh terjadi pada pedang miliknya. Sesaat ketika pedang Rabastan menyentuh bilah pedangnya, serbuk-serbuk es merambat pada bilah besi, mengeluarkan desisan mengilukan. Lindwurm memerhatikan bagaimana pedangnya perlahan disarungi oleh es beku, hingga seluruhnya terlihat seolah didinginkan menjadi sepotong panjang balok es.
Lindwurm melepaskan pegangannya pada pedangnya sebelum dingin merambat menyentuh kulitnya. Ia melompat kebelakang, pedangnya jatuh ke tanah, pecah berkeping-keping menjadi pecahan es. Lindwurm kembali menatap Rabastan dengan ekspresi terkejut dan ketidak-percayaan atas apa yang baru disaksikannya. Pandangannya terfokus pada pedang di tangan Rabastan, panjangnya sekitar tujuh-puluh sentimeter, ganggangnya berbentuk salib sederhana terbalut pita-pita kulit kelabu pucat. Bilah pedang itu tampaknya terbuat dari logam abu-abu mengkilap. Bukan, bukan logam. Batu. Ia mengenal pedang itu.
Rabastan menyeringai penuh kemenangan. "Indah bukan? Aku yakin kau kenal pedang ini. Salah satu pedang kekuatan besar, dan pernah dibawa oleh ayahmu. Pedang unsur es, Excalibur," ucapnya dengan bangga, sepercik nada cemooh ditunjukkan untuk pemuda berambut pirang didepannya.
Oh, tentu saja Lindwurm mengenali pedang itu. Itu adalah pedang ayahnya, pedang yang secara turun-temurun diberikan orangtua kepada anak di keluarganya. Ayahnya selalu bercerita kepadanya tentang kekuatan yang diberikan pedang es itu, "Seakan-akan kau tidak dapat dikalahkan," jelas ayahnya.
Lindwurm merasakan gemuruh amarah bergejolak didalam dadanya, kepalanya memanas seolah direbus dalam kuali. Beraninya dia merebut apa yang seharusnya dimilikinya, apa yang selayaknya dijinjing tinggi penuh kehormatan oleh ayahnya, Darimana tangannya dapat mendapatkan pedang kekuatan besar itu?
Voldemort. Batinnya menjawab. Tentu saja, selalu penyihir itu.
"Lancangnya kau berani menggunakan senjata yang selayaknya menjadi milikku!" seru Lindwurm dengan penuh emosi. Rabastan mencibir. "Ini bukanlah milikmu lagi, Lindwurm. Pedang ini adalah milikku sekarang," ia menyeringai bengis. Lindwurm memekikkan amarahnya dari pita suara, menarik pedang sabit pendek dari ikat pinggangnya, mengayunkan ujung ganggang pedangnya pada pelipis Rabastan ketika lelaki itu lemah. Membuatnya jatuh terhuyung kebelakang.
Lindwurm baru akan menorehkan luka panjang menganga pada leher lelaki tersebut, namun salah satu Death Eaters sudah kembali bangkit dan menangkis serangannya dengan pedang. Lindwurm terpaksa melompat mundur kebelakang, kemudian melemparkan dua bilah pisau ke prajurit tersebut, sepasang pisau tersebut menancap kepada kepala dan leher si prajurit, membuatnya tumbang terkapar ditanah.
Lalu sepasang Death Eaters kembali menerjangnya, Lindwurm memblokir kedua serangan mereka dengan sabit kedua, sementara sabit pertama ikut membantu melindunginya. Lindwurm menendang salah satu prajurit dengan kakinya, kemudian melempar sabit pertama ke jantung si prajurit. Ketika ia sibuk menangkis tiap serangan Death Eater satunya, dia tidak menyadari sosok Rabastan mengendap disamping dirinya, menghunus Excalibur.
Tepat ketika Lindwurm menoleh kearahnya, Rabastan mengayunkan pedangnya ke leher pemuda tersebut. Namun sebelum sisi bilah Excalibur dapat menoreh lehernya, ia mendengar seseorang menyerukan; "Impedimenta!" Serecah kilatan cahaya perak menghantam dada Rabastan, dan seketika, tubuh Rabastan terjungkal oleh tenaga kasat mata secara paksa, terlempar begitu jauh, kemudian jatuh ke dalam liang berisi petak jamur serbuk hitam berserta Excalibur bersamanya.
"Stupefy!" teriak suara itu lagi. Kilatan merah menghantam Death Eaters yang tengah ia lawan, membuatnya ambruk ke tanah, pingsan tak sadarkan diri. Lindwurm menatap kaget sesaat tubuh prajurit yang ambruk dibawahnya, kemudian menelengkan kepalanya menuju asal suara. Pemuda bertudung merah itu berdiri ditempatnya jatuh sebelumnya, semacam potongan kayu tergenggam ditangannya, tertunjuk pada tempat prajurit yang ambruk tadi berdiri. Bukan, bukan potongan kayu biasa. Tongkat. Tongkat sihir.
Sudah tidak jarang matanya melihat penyihir mengacungkan dan melambaikan tongkat mereka, sudah tidak asing baginya merasakan energi sihir menggelitik tubuhnya ketika seorang penyihir merapalka mantra didekatnya. Tapi ia belum pernah merasakan energi semacam ini.
Rasa hangat menyelimuti tubuhnya dengan lembut, menciptakan rasa aman dan kepercayaan didalam dadanya. Tiap energi atau lebih tepatnya aura, memiliki wangi tersendiri yang membedakan sihir lain dengan sihir lainnya. Dan ini juga bukanlah pengecualian, wangi lembut vanilla dan susu yang manis menyerebak memasuki indera penciumannya. Hanya dengan merasakan aura dan energi yang terpancar dari pemuda itu, Lindwurm tahu bahwa orang ini memiliki energi murni yang belum terasah.
Pemuda yang baru saja menyelamatkannya menarik kembali tongkatnya masuk kedalam jubahnya dengan cepat, ekspresi ngeri dan ketakutan terpancar dari wajahnya yang terpahat indah. Kemudian ia berbalik, lalu berlari secepat kilat menuju arah yang berlawanan, masuk lebih dalam ke Hutan Terlarang.
Lindwurm tidak tahu apa yang dilakukannya, seolah ditarik oleh benang kasat mata, secara setengah sadar dia mengumpulkan kembali semua senjatanya yang masih menancap pada beberapa tubuh Death Eaters dengan cekatan, mengabaikan rintihan dan teriakan Rabastan dari bawah liang petak jamur, lalu buru-buru berlari mengejar, menyusul pemuda berjubah tudung merah itu.
.
Panas. Panas. Dadanya panas. Lebih tepatnya Dream-Catchernya yang panas. Rasanya perih menyengat kulit, Harry ingin melepasnya, tapi ia tidak rela melepaskan benda yang paling ia sayangi, benda yang menghubungkannya dengan kakak kembarnya.
Dream-Catcher miliknya sebelumnya menghangat, kemudian memanas, lalu panasnya mulai terasa membakar, menyengat kulit di dadanya. Kalungnya mulai memanas ketika si pemburu mulai berjalan perlahan mendekati dirinya, semakin dekat si pemburu, semakin panas Dream-Catchernya menjadi. Maka dari itulah Harry berusaha menjauh sejauh-jauhnya dari si pemburu itu.
Tapi Harry harus mengakuinya, pemuda yang memburunya itu sebenarnya cukup tampan. Walau pakaiannya berlumuran darah dan wajahnya tidak bersahabat, Harry dapat melihat jelas fitur aristokrat diwajahnya. Tulang pipi tinggi, kulit pucat, rambut pirang, suara bernada baritone, dan matanya yang beriris merkuri kelabu. Tapi fisiknya bukan apa yang Harry anggap paling menarik, melainkan energi yang terpancar dari pemuda itu.
Rasanya hangat, kuat, dan seakan berusaha membuat tameng yang melindunginya dari dunia luar. Aneh rasanya, ia seperti berada dalam naungan sinar matahari fajar yang hangat namun tidak panas. Wangi kayu bakar yang nyaman berpadu dengan jeruk segar memasuki indera penciumannya ketika si pemburu bertarung, membiarkan auranya berkobar di pertempuran.
Ketika Death Eaters yang membawa pedang batu itu –apa namanya tadi? Ex..Exka..Excalibur?– akan menebas pemuda pirang tadi, Harry tidak dapat menahan diri untuk merapalkan mantra yang dapat membuat prajurit itu jatuh terjungkal kebelakang. Kemudian melumpuhkan Death Eater lainnya.
Ia mengutuk dirinya dan penyakit nekat Gryffindor-nya yang kelewat akut, mengapa tidak ia gunakan kesempatan tadi untuk berlari? Kenapa ia malah membantu orang yang berniat membawanya kembali ke tangan Voldemort? Tapi pemburu itu melepaskannya bukan? Jadi semua itu ada baiknya 'kan? Lagipula Harry bukan tipe orang yang tega membiarkan seseorang menemui mautnya seperti itu.
Harry melesat menembus hutan. Dia terus memperhatikan tanah, meloncati pohon tumbang dan berkelok-kelok mengintari petak-petak semak berduri, tapi hasilnya nihil, duri masih berhasil menoreh luka pada tungkainya. Sebatang ranting kecil melecut lengannya, menimbulkan luka panjang dengan darah merembes dari dalamnya. Akan tetapi dia terus bergerak, takut gerombolan Death Eaters lain masih terus mengejarnya.
Mereka sudah berhasil menemukannya disini, berhasil menerobos masuk hutan angker berbahaya ini, menantang maut untuk menjemputnya kembali. Selain itu, mereka membawa serta pemuda berambut pirang tadi. Walau sebenarnya ia malah berbalik melepaskan Harry, tapi siapakah dia? Harry tidak mengenalnya. Sama sekali tidak. Belum pernah ia bertemu seseorang seperti pemuda berambut pirang platina itu. Akan tetapi, ia merasa seolah mereka terhubung, entah dengan apa, tapi Harry merasa familiar dengannya. Ia merasa aman didekatnya.
Harry menggeleng-gelengkan kepala, menepis perasaan aneh itu. Harry perlahan menuruni lereng curam, tanaman merambat yang tipis di punggung bukit melata ke depan, Harry mencengkramnya kuat-kuat, menjadikannya semacam tali, hingga kakinya menambat ke bumi dengan mulus. Dia melaju melalui selusin jejeran pohon-pohon lurus. Ketika ia hampir sampai melewati barisan pepohonan, sebuah tangan mencengkram pundaknya, satu tangan lagi menutupi mulutnya.
Refleks, Harry menggigit keras tangan yang membekap mulutnya. Erangan kesakitan terdengar dari si pemilik, kedua tangan yang menahannya terpaksa dilepaskan. Harry melompat ke depan, kemudian berbalik menghadap penyerangnya. Dream-Catchernya kembali memanas, membuatnya berjengit nyeri merasakan sensasi terbakar dikulitnya. Pemuda berambut pirang platina didepannya membawa tangan kanannya ke dadanya, wajahnya mengguratkan ekspresi kesakitan.
"Sakit, bodoh! Gigimu itu sekuat apa sih?! sudah dua kali aku digigit olehmu!" bentaknya kasar. Harry menatapnya dengan tatapan kesal, lenyap sudah rasa ingin tahunya kepada si pemuda pirang ini. Ternyata ia orang bebal yang menyebalkan toh, tidak heran wajahnya tak bersahabat.
"Coba lain kali kau dekati orang dengan perlahan dan lembut, bukannya tiba-tiba membekap mulut berserta hidung mereka! Tentu saja aku menggigitmu, kau membuatku kaget! Dan jangan mengolok-olok orang yang baru pertama kau temui!" balas Harry dengan senewen.
Pemuda itu mendecakkan lidah, mengibas-ngibaskan tangan kanannya. "Masa bodohlah," celetuknya kesal. "Kenapa Voldemort menginginkanmu? Maksudku, aku mengerti kau memiliki mulut yang selebar mulut paus, tapi tidak mungkin juga dia membencimu segitunya sampai menginginkanmu mati," Harry sesaat tertegun ketika si pemuda mengatakan nama penyihir hitam itu tanpa berjengit maupun memucat, biasanya orang-orang yang ia temui (sejauh ini) tidak berani menyebutkan namanya langsung.
"Dia menciduk gadis dan pemuda dari desa-desa kerajaan di negeri ini. Dia mencuri kemudaan dan kecantikan atau ketampanan mereka untuk membuatnya tetap muda. Aku pernah menyaksikan apa yang menimpa mereka," kata Harry setelah beberapa saat bimbang menjelaskan.
"Aku tahu itu. Tapi kau melarikan diri," timpal si pemburu, ia menyeka darah yang bersimbah di keningnya. "Sudah berapa lama kau berada disana?" Harry memindai seisi hutan, tangannya menggosok bandul kalungnya, berusaha menghentikan suhunya yang kian meninggi entah kenapa.
"Kau tidak perlu tahu," balas Harry.
"Sebenarnya kau ini siapa?" bisik pemuda itu dengan kesal. Dia memandang pakaian compang-camping dan rambut kusut Harry lagi. Harry menyeka keringat dikeningnya, menutupi pakaian dekilnya dengan jubah merah peninggalan ayahnya. Ia teringat bayangannya tentang dirinya sendiri beberapa waktu lalu di menara, sebuah gambaran hantu penunggu pohon keramat. Ia pasti terlihat seperti seorang budak atau pengemis.
"Aku yakin itu bukanlah urusanmu," timpal Harry. Dia tidak ingin orang ini mengetahui siapa dirinya sebenarnya, siapa yang tahu apa yang akan dilakukannya nanti?
"Siapa kau?" tanya pemuda itu lagi, kali ini jauh lebih nyaring. Harry mendecakkan lidah, "Sudah kubilang, bukan urusanmu!"
Pemuda itu mendecak kesal, ia berbalik untuk pergi, tetapi sebelum ia dapat menghentikan suaranya, Harry memanggilnya. "Tunggu! Kau mau kemana?" teriak Harry.
"Ke kebun bunga," celetuk si pemburu. "Tentu saja keluar dari hutan ini, tolol! Tidak ada orang waras yang mau berlama-lama didalam Hutan Terlarang!" balasnya tanpa berbalik menatap pemuda lain dibelakangnya. Harry menatap kesal orang menyebalkan itu. "Lalu kembali ke kerajaan Slytherin? Voldemort akan memburu dan membunuhmu jika kau kembali tanpa diriku!" teriak Harry. yang memuaskan, si pemuda berhenti ditengah langkahnya. Harry tersenyum penuh kemenangan.
"Dan jika kau meninggalkanku, aku akan mati. Itu artinya kau juga akan bernasib sama," sesaat, tidak ada yang bersuara dari kedua belah pihak. Helaan berat keluar dari mulut si pemburu, ia berbalik, mata merkurinya menyiratkan kejengkelan yang sama sekali tak terkesan main-main.
"Baiklah, apa maumu?" Harry menepuk pundaknya sendiri dengan penuh bangga didalam benaknya, memberi ucapan selamat atas keberhasilannya. "Aku ingin kau membawaku ke kerajaan Gryffindor. Ke gereja kembar pertama dimana tempat pengungsian Duke Black berdiri," kata Harry. "Dan kau akan mendapatkan imbalan," tambahnya sebelum si pemburu mengelak.
"Kau pasti bercanda," kata si pirang. Harry menatapnya dengan tatapan serius, gigi si pirang bergemeletuk dalam rahangnya, mata peraknya bergulir ke sekeliling mereka. "Butuh waktu kurang lebih dua atau tiga minggu ke kerajaan Gryffindor lewat Hutan Terlarang! Itupun kalau kita bisa melewati Black Lake, Hog's Head, dan Gerbang Pembatas!" serunya, melemparkan kedua tangannya ke udara. "Kecuali kita mengendarai kuda ke sana! Itupun mungkin butuh waktu kurang dari dua minggu perjalanan! Dan apakah kau melihat kuda didekat kita sekarang?!" imbuhnya.
"Mereka akan memberimu dua ratus keping Galleons," Harry melanjutkan, tidak gentar. "Apa kita sepakat?"
Mata merkuri itu menatap tajam dirinya, perlahan dia berjalan mendekati Harry. Harry melangkah kebelakang secara reflek, hingga punggungnya bertemu dengan batang pohon. Si pemuda mendekatkan wajahnya dengan milik Harry hingga jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa senti. Bandul kalungnya tambah memanas hingga Harry yakin akan ada bekas luka bakar dikulitnya nanti. "Aku tidak mempercayaimu," desisnya. Kemudian ia melangkah mundur, lalu mengulurkan tangannya pada Harry. "Tapi kau mendapatkan janj–"
"Bersumpahlah," potong Harry cepat.
"Aku menyumpah," kata pemuda itu, "Selalu. Itu salah satu sifat baikku," Dia nyengir, menampakkan lesung pipi. Harry memelototinya, tidak mengubis upaya si pemburu dalam berkelakar.
"Bersumpahlah kau akan membawaku kembali ke gereja kerajaan Gryffindor dengan selamat, hidup, dan tanpa ada gangguan mental maupun fisik," lanjutnya lagi.
Sesaat, tidak ada yang berbicara, hanya terdengar bisikan-bisikan janggal angin. Si pirang menghela nafas sembari menggumam 'Aku pasti akan menyesalinya' pada diri sendiri. "Ya, baiklah, baiklah. Aku bersumpah."
Teryakini, Harry menyambut uluran tangannya. "Sepakat kalau begitu," ucap Harry. Ketika tangan mereka bertemu, Harry dapat merasakan energi inti sihirnya bereaksi dengan aura si pemuda, seolah tercipta sepercik kembang api dari tangan mereka. Dengan perlahan, keduanya melepaskan tangan mereka masing-masing. Si pemuda melangkah melewatinya, maju menerobos sesemakan tinggi yang rimbun. Harry berlari menyusulnya.
"Mau kemana kita?" tanya Harry, waswas dengan sikap moody pemuda misterius ini.
"Disini sudah tidak aman lagi, para Voldemort dan dedengkotnya tidak akan melepaskanmu semudah itu. mereka boleh menjadi cukup bodoh untuk mengikuti kita lebih jauh ke tengah hutan." Jawab si pemuda.
Mereka berjalan lama sekali, kaki Harry sampai kesemutan. Dia mendengarkan suara mantap langkah kaki si pemuda itu, sementara cahaya semakin meredup di dalam hutan. Kegelapan di antara pepohonan kini serasa semakin angker, bayang-bayang melesat menembus semak-semak disamping mereka. Harry berusaha untuk tidak mengubisnya, justru berjalan lebih cepat, melangkahi bebatuan dan pohon-pohon tumbang, tapi dia masih bisa mendengar binatang-binatnag liar bernafas di kegelapan.
Karena suasana terasa terlalu menyeramkan, Harry memutuskan untuk memecahkan pembicaraan.
"Jadi, kalau boleh kutahu, siapa namamu?" yah, dia tidak bisa terus memanggilnya 'si pemuda' atau 'pemburu' terus bukan?
"Bukankah lebih sopan jika kau duluan yang memperkenalkan diri?" balas si pemuda sinis. Harry menggemeretakkan giginya, tapi memutuskan untuk setidaknya bersikap sipil dengan orang yang akan bersamanya untuk beberapa waktu. "Harrison. Harrison Preverell," bohongnya dengan mulus. Lagipula sebenarnya kebohonganya mengandung unsur kebenaran. Harrison hampir sama dengan Harry, sementara Preverell adalah nama keluarga kakek-kakek buyutnya. "Aku sudah menyebutkan namaku. Agar adil, kau juga harus menyebutkan namamu," kata Harry.
Si pirang menghela lagi, "Lindwurm. Lindwurm Lycan Hawthorn," ujarnya singkat. Harry mengangguk mengerti, walau alisnya terangkat sebelah. "Baiklah...Lindwurm. nama yang aneh.." gumam Harry. Sayangnya gumamannya tidak sepelan yang ia harapkan, Lindwurm menoleh dengan mata memincing.
"Kalau kau hanya akan mengkritik namaku, lebih baik tidak usah menyebutkannya," hardiknya. Harry menatapnya dengan kesal. "Aku hanya mengemukakan pendapatku saja kepada diriku seorang, aku tidak bermaksud buruk apalagi ingin kau mendengarnya! Lagipula Lindwurm juga nama yang unik!" kilah Harry. Lindwurm membalik ke depan lagi. "Terserahlah," ujarnya. "Little Red Riding Hood," lanjutnya.
Harry mendongkak menatap Lindwurm, yang menyunggingkan seringai jahil. "Atau lebih cocok, Rapunzel? Lagipula, dilihat dari pakaianmu, kau sepertinya sudah lama dikurung di menara itu," Harry mengerlingkan matanya malas. 'Rapunzel'? original sekali.
"Aku bukan Rapunzel, maupun 'Si Tudung Merah'," kilah Harry, "Hanya kebetulan aku mengenakan jubah berwarna merah. Lagipula, Rapunzel itu rambutnya panjang melebihi kaki, aku tidak seperti itu. dia bisa bernyanyi, aku tidak. Dia bisa melukis, aku parah kalau soal itu," kata Harry sembari melipat kedua tangannya pada dadanya. Si pemu– Lindwurm memutar bola matanya.
"Itu informasi yang tidak penting maupun ingin kuketahui," katanya.
Perlahan, walau Hutan Terlarang sudah kelam, mereka tahu hari semakin gelap, dan malam mulai mendekat menggantikkan sore. Lindwurm mengadah menatap langit dari sela-sela ranting pohon, "Sudah mulai gelap, kita harus beristirahat. Besok pagi bisa kita lanjutkan perjalanan," Harry mengangguk menyetujui. Seharian berlari menghindar dari kejaran prajurit Voldemort telah menguras tenaganya.
Lindwurm pergi ke tepi lapangan, ke salah satu kumpulan pohon ramping, dan meraup daun-daun kering dibawahnya. Menaburkannya diatas tanah, kemudian mengambil seraup lagi,mencoba membuat semacam perbaringan yang nyaman. Harry melakukan hal yang sama, namun ia mengumpulkan ranting-ranting ditanah, menyusunnya membentuk kerucut ditanah delapan-puluh centi dari kedua matras mereka.
"Incendio," serecah kilatan merah meluncur keluar dari tongkatnya yang ia keluarkan, api meluncur dan menyebar pada tumpukkan kecil ranting kering yang ia kumpulkan. Harry berbaring menyamping pada matrasnya, memperhatikan api unggun kecil yang menjilat-jilat udara.
Lindwurm menatapi api yang ia buat, kemudian menatapnya. "Kau belajar sihir darimana?" tanyanya. Harry mengankat bahunya tanpa menatap balik pemandunya. "Dari kecil. Saat umuku enam tahun, dan hanya saat itu saja aku mendapatkan pendidikan tentang sihir, aku bukanlah penyihir yang serba bisa. Masih bisa dibilang pemula. Sangat pemula," jelasnya. "Ibuku penyihir, ayahku bukan," lanjutnya lagi.
Lindwurm terlihat tengah berpikir, kemudian; "Jadi..Darah campuran ya?" Harry mengangguk pelan. "Kedua belah pihak keluarga orangtuaku tidak merestui hubungan mereka pada awalnya, tapi setelah tanpa kenal lelah memperjuangkan perasaan mereka, akhirnya pernikahan restu pun mereka dapatkan. Lalu, lahirlah aku. Dan kakak kembarku," Harry tersadar ia baru saja membuka privasinya pada orang yang bahkan belum ia kenal sama sekali. Ia menampar dirinya sendiri dalam batinnya.
Harry menunggu reaksi pemuda yang satunya. Lindwurm ber-'hmm', kemudian berbaring diatas matras buatannya. "Cerita pengantar tidur yang bagus. Malam," ujarnya tak acuh, kemudian menutup matanya.
Harry bersyukur pemandunya adalah orang yang kelewat cuek, tapi ia terus mengingatkan dirinya untuk lebih berhati-hati. Ia meringkuk diatas matras, membawa tudungnya menutupi kepala, merapatkan jubah merah ayahnya untuk menghangatkan diri. Besok mereka akan berangkat lagi, ia harus mengisi tenaganya, karena mereka akan berpergian tanpa kuda dan itu melelahkan.
Dia berpaling kepada Lindwurm diseberangnya, yang ia tahu masih belum tertidur. Jarak mereka hanya terpisahkan oleh api unggun kecil yang dirakitnya. "Apa menurutmu...?" mulai Harry, kecemasan kini kembali lagi setelah malam menyelimuti mereka. "mereka akan mengikuti kita?" Lindwurm menoleh kepadanya, pendar jilatan api membuat mata peraknya berkilauan.
"Entahlah. Kalau iya, mereka bodoh –hanya sedikit yang sanggup bertahan hidup di hutan ini," Ia menguap, berbaring menyamping menghadap Harry.
"Itu kabar bagus atau jelek?" Harry tertawa waswas. Lindwurm tidak menjawab, matanya kembali terpejam, hanya dalam hitungan menit, Harry dapat mendengarkan dengkuran halusnya, meninggalkan pemuda rambut hitam sendirian.
Suara hutan yang menyeramkan mengepungnya, setiap kali ranting patah atau burung menjerit, sekujur tubuhnya gemetar. Dia memejamkan mata, berusaha mengusir ributnya dunia, tapi dia merasakan serangga merangkaki kakinya. Sesuatu mendengung ditelinganya, lama sekali sebelum ia tertidur. Kebebasan ini bukanlah apa yang selalu dibayangkan Harry.
Lylul's Note :
MOHON DIBACA! INI PENTING!
Hai! Maaf menunggu lama..banyak tugas menumpuk dari sekolah! Baiklah, langsung kita to the point aja :
Ingat ya! Fic ini mengandung banyak dongeng klasik, jadi sebaiknya baca baik-baik dan temukan mana dongeng yang dimaksud dalam alur cerita (misalnya kayak tadi, Harry bertudung merah dikejar sama Lindwurm si pemburu yang mensimboliskan si Serigala Jahat. Kayak cerita Little Red Ridding Hood.)
Lalu soal siapa si Lindwurm Lycan Hawthorn itu...hmm...itu adalah teka-teki untuk para readers semua! Review jawaban kalian oke? Gampang kok nebaknya juga 'kan?
Petunjuk : 'Lindwurm' adalah bahasa asing, coba 'Google Translate' dan temukan artinya ;)
juga 'Lycan' mensimboliskan serigala, dan kesepian juga kesendirian. 'Hawthorn' adalah nama yang akan kalian mengerti setelah mengetahui apa arti 'Lindwurm'
Yang berhasil nebak, dapat Chocolate Frog gratisan! *nyodorin kodok hidup dilapis lumpur hutan terlarang*
Di Chapter berikutnya (mungkin, semoga aja bisa) bakal dijelasin tentang nama itu lebih rinci.
Read & Review plz! Maaf jika ada kesalahan menulis! Thank you~!
