Warning : Mungkin Typo(s), OOC atau mungkin weird dan pairingnya aneh.
Sumary : Aku merasa nyaman padamu padahal kita tidak saling tahu nama masing - masing." Kau siapa? Asalmu dari mana?". Laki - laki di sisi kananku terus mengamatiku. Dia kenapa sih? aneh. Kehidupan idol memang berat, dikuntit sasaeng setiap waktu. Untungnya aku gadis biasa, tapi dia...
Genre : Romance Comedy…
Characters : Park Shin Hye
ZE;A Siwan
NU'EST Minhyun
Song Joong Ki
Dan tokoh lain akan hadir seiring berjalannya cerita… :)
I Don't Need to Know it
Author : Valweyn Azalea
Rated : T
Genre : Romance/Comedy
Udara di sekitar taman sekolah tercium lebih lembab, sedikit basah dan sejuk di bandingkan biasanya. Rumput – rumput serta tanamannya dihiasi titik – titik bulat air bekas hujan deras tadi pagi. Biasanya saat istirahat aku pergi kebagian timur taman. Disanalah tempat yang paling aku sukai. Titik terbaik dari taman ini. Aku lebih memilih duduk ditemani rumput – rumput basah dibandingkan duduk manis di kursi taman yang telah disediakan pihak sekolah. Ada seorang pria yang duduk di bangku taman sejauh 200 meter dari tempatku sekarang. Tampaknya dia khusyuk sekali dengan sekaleng kopidi tangan kanannya dan sebuah novel karangan Sir Arthur Conan Doyle di sisi kirinya. Mungkin kali ini dialah yang akan menjadi sasaran objek lukisanku kekeke~. Tampaknya pria itu adalah pria baik – baik dari kalangan keluarga atas, itu sangat terlihat jika kalian memperhatikan pakaiannya. Mungkin bagi orang awam yang tidak tahu menahu tentang barang – barang branded itu hanyalah kemeja biru langit, celana hitam, ikat pinggang serta sepatu biasa, namun saat di kelas tadi aku melihat merk kemejanya, kalau tidak salah kakakku pernah memberitahu tentang merek barang bermerek, termasuk merek kemeja itu yang seharga notebook merek ternama. Termasuk barang – barang lain yang melekat ditubuh pria berbaju biru langit tersebut. Entah mengapa bagiku sangat mudah ketika menggambar objek – objek sasaranku, tapi kali ini aku merasa sulit sekali melukis pria itu. Wajahnya sangat tampan, benar – benar tepahat begitu ideal dan rapihnya. Dia sempurna. Dan Tuhan benar – benar menakjubkan.
Tekk... ujung pensilku patah, membuatku harus merautnya kembali.
Lima kali aku mengulang ketika menggambarnya, dan yang keenam kali hasilnya cukup memuaskan. Tiba - tiba dia beranjak dari bangku tamannya, menyapu pandangan sekelilingnya, tampaknya ia menyadari kehadiran seseorang yang tampak dikenalinya, lalu mulai melangkah, berjalan...kearahku. Oh Tidak! Nampaknya pria itu mulai menyadari jika aku sedang memperhatikannya sedari tadi. Akupun lekas mengalihkan pandanganku dari arahnya dan membalik kertas buku gambar yang terdapat lukisan si pria didalamnya, lalu memulai lembaran baru yang masih kosong, berpura – pura melukis objek lain. Aku pun segera melukiskan benda apapun yang ada dihadapanku, ya benda apapun secara acak dan asal. Jadi ketika dia bertanya 'Apa yang sedang kau lukis?' aku hanya tinggal menyerahkan lukisan acak tersebut, tanpa perlu menanggung gengsi dan berkata jujur kalau aku sedang melukis pria tersebut.
"Hai kau! Kalau tidak salah kau murid XI-B?" tanya si pria dengan nada yang sedikit ragu.
"Maaf, aku Park Shin Hye murid XI-D," aku segera berdiri lalu menjawabnya dengan intonasi dan senyuman yang begitu janggal, entah kenapa.
"Ah, aku salah. Padahal selama ini perkiraanku selalu tepat. Maaf ya," ia mulai berbasa basi dan... membuatku cukup senang. Aku hanya membalasnya dengan cengiran bodoh.
"Ngomong – ngomong apa yang kau gambar, kelihatannya serius sekali," ia mulai bertanya apa yang sudah aku perkirakan sebelumnya masih dengan cengiran bodohnya tapi seakan cengiran itu membuat ia terlihat lebih lugu dan manis, ah tampannya.
"Ehm, aku menggambar..." kata – kataku terhenti.
"E..eeeh? kok bisa?" aku melihat ke arah gambarku dan bertanya tanya lirih bingung sambil melihat kanan kiriku.
"Kenapa? Boleh aku melihatnya?" pria itu berbicara penuh rasa ingin tahu, tapi...ah sudahlah.
"Te-te-tentu saja. Ini," dengan ragu ragu aku menyerahkan hasil lukisan sketsa acakku padanya.
"Ha-ha-hanya ini?" ia bertanya – tanya heran dan ia tampak menyembunyikan raut wajah kecewanya, menggantinya dengan ekspresi bingung namun tetap dengan cengirannya.
"Hanya sebuah tempat sampah?" raut wajah si pria mulai kebingungan, ia lalu menjauhkan buku gambarku itu ke arah depan, memperhatikannya dengan tatapan penuh keraguan, lalu menyamai gambarku dengan sebuah tempat sampah yang letaknya tepat di depan arah pandangan kami sekarang.
"Sangat mirip dengan aslinya, bagus sekali!" ia lalu membelai halus rambutku, lembut sekali.
"Te-terima kasih Mr. Joongki," aku benar – benar malu dengan apa yang barusan terjadi, tapi disisi lain aku senang karena ia memuji lukisanku dan membelai rambutku.
"Oiya, ini untukmu dan bolehkah aku duduk disampingmu?" ia bertanya sambil menyerahkan sekaleng kopi yang masih baru.
"Te-tentu saja," huh kenapa bisa aku menjadi segugup ini.
"Manusia memang memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihanmu harus dikembangkan Park Shin Hye," dia berkata lagi, membuatku lebih gugup lalu ia menepuk – nepuk pundakku pelan dan begitu lembut. Klek, aku membuka kaleng kopiku yang diberikan si pria itu.
Ah, kenapa aku jadi seperti ini, salah tingkah. Namun aku merasa nyaman ketika disampingnya. Tanpa disadari aku yang sedang ber-mood buruk karena kesialanku tadi pagi menjadi tertawa lepas bahagia seperti ini. Entah apalah mantera yang Mr. Joong Ki berikan didalam kata – katanya yang kadang membuatku salah tingkah, malu – malu, gugup, bahagia bahkan tertawa begitu lepas seperti aku telah melupakan semua beban hidupku. Perlahan sambil mengobrol absurd dengannya aku menegak kaleng kopi tadi, hingga tinggal setetes, itupun tetes terakhir dan habis.
Disisi lain taman sepertinya aku melihat seseorang yang sedang mengamati aku dan Mr. Joong Ki sedaritadi, murid laki - laki dengan jas dan seragam sekolah milik sekolah kami. Tapi aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena ia terus menyembunyikan diri disela – sela pohon beringin besar ditengah taman sekolah. Saat menyadari kehadirannya murid laki - laki itu malah pergi dan berhenti mengamati kami. Dia siapa sih? Sepertinya ia adalah orang yang sama dengan orang yang memberikanku sebatang lollipop chupachups di atas meja kelasku. Ya, tadi saat aku baru kembali dari kantin dan menuju ke kelas, tiba – tiba aku menemukan sebatang lollipop di meja. Rasa strawberry. Aku segera memasukkannya ke kantung seragam sekolah, menaruhnya dibagian ujung kantong dan berencana memakannya saat pulang sekolah nanti.
*Siwan POV*
Eum, tadi wanita itu pergi kemana ya. Jaket dan topi brandedku hadiah dari ayah masih ada ditangannya. Sial. Baiklah sekarang aku harus pulang, aku akan mencari taxi dulu. Tapi ada yang aneh sepertinya.
Klik..Klik... Klik
Suara kamera. Itu pasti...
"Sasaeng!" aku menggeram pelan. Badan kekarku bergetar ketakutan, keringat dingin mulai mengalir seperti derasnya air terjun Niagara mungkin. Tanganku sudah lemas, tak kuat menggenggam apapun, meremas ujung jaket bau ini-pun rasanya sulit sekali. Telapak tanganku sedingin air hujan tadi pagi. Apa yang akan mereka lakukan padaku kali ini, setelah berita aku berkencan dengan ahjumma yang sedang hamil kemarin, yang cukup membuat seluruh jejaring sosial membicarakannya selama 3 hari berturut – turut. Sampai manager menceramahiku dan memakiku dengan kata – kata kasar saking kesalnya. Aku malu sekali. Bahkan member lain malah menyuruhku segera keluar dari grup dan menikasi si ahjumma. Ya tuhan, padahal itu adalah adik ipar ayah yang sedang hamil dan ia meminta bertemu denganku karena ada urusan keluarga. Media massa sungguh kejam. Mungkin kali ini berita di artikelnya adalah "Im Siwan Seorang Rookie Terkenal Memakai Jaket Bau dan Tersesat Seperti Anak Autis di Tengah Jalan." Astaga. Tiba – tiba dari arah bunyi klik kamera itu, seseorang menepuk pundakku. Tidak. Hidupku sebagai idola akan berakhir. Sasaeng itu mungkin akan menelanjangiku di tengah jalan, lalu jangan – jangan mereka ingin merampokku bahkan memaksaku mencium mereka.
"WAAAAAAAAAA aku mohon jangan lakukan apapun, aku akan memberimu apapun yang kau mau," aku berteriak sangat sangat kencang, badanku menggigil ketakutan, membuat orang – orang di tengah jalan menoleh kepadaku...lagi.
...
Tetapi...
"Eh, apa ada yang salah? Tolong minggir sebentar anda menghalangi background foto pre-wedding client saya," seorang pemuda berkacamata yang sedang memegang kamera dan memotret sepasang kekasih berpakaian pengantin dan berumur kira – kira lebih tua 7 tahun dariku berbicara dengan logat Busan kepadaku.
"Eh ternyata bukan, ma- maaf..." aku membungkuk berkali – kali kearah mereka. Wajahku memerah karena menanggung malu dengan teriakanku tadi yang membuat sepasang calon pengantin, photographer, dan orang lain yang berlalu lalang yang diantaranya ibu – ibu rumah tangga menengok kearah-ku saat ini. Aku yang kesekian kali terlihat sebagai orang gila. Tanpa pikir panjang aku segera berjalan dan tanpa aku sadari aku mulai berjalan mundur ke tengah jalan, selangkah, dua langkah, tiga langkah sampai lima langkah dan... berlari dengan kencangnya.
TTiiiiiinnn...
Tttiinnnnnnnn...
BBBBRRRUKK...
Au sakit sekali, nampaknya aku menabrak atau lebih tepatnya ditabrak sesuatu. Penglihatanku samar – samar, hanya melihat cahaya putih disekelilingku, mungkin itulah namanya cahaya surga. Tunggu... ca-ca-cahaya su-su-surga? Apa itu artinya a-a-aku...telah mati? Apakah malaikat maut sudah menjemputku? Tidak! Tidak! Aku masih belum mau mati di usia yang masih muda ini, karirku saja masih belum berkembang, dan lagi aku masih belum punya pacar! Oh Tuhan, setidaknya berikanlah aku pacar sebelum aku meninggal!
-CHAPTER 3 END-
Author Note: Chapter ini dikerjainnya sepotong sepotong mana lagi sakit pula TT_TT, biasanya malem jam 9-an - 10-an selese ngerjain PR wkwk semoga serunya gak sepotong sepotong. Please don't be silent readers, reviewnya boleh apa aja ya ya ^^~ oiya makasih bantuan koreksinya Lynhart Lanscard, dia juga yang nambahin paragraf di bagian paling akhir cerita. Arigatou Oniichan ^^~~
Review Reply -VA:
Ardni : haha iya makasih,would you read next chapter? ^^! -VA
Lynhart Lanscard: Haha iya wkwk,bagus kan ya ya ya B) -VA
dorkyeol : I don't need to now you keke~~ mwah juga, aku udh baca punyamu juga Mak3 -VA
