This story belong to Purpleskies, and I just translate it.
Please don't reupload this story!
This is MY BELOVED KAISOO STORY LINE
NOCTURNA SUPPRESSIO
3
Summary :
Do Kyungsoo sangat menyukai tinggal di alam mimpinya. Dia menghabiskan banyak waktu hanya untuk bermimpi, menemukan sebuah kehidupan yang lebih baik dari pada kenyataan.
Tapi apa yang membuat Kyungsoo gagal untuk menyadari bahwa tidak semua mimpi indah akan terjadi seperti apa yang mereka—mimpi itu—tampakkan.
Foreword :
"Apakah kau lelaki yang ada di mimpiku?"
"Wow. Itu adalah hal paling murahan yang pernah aku dengar."
NOCTURNA SUPPRESSIO
*Please always read the special note from Me at the end of this story*
Kyungsoo mengingat dua hal penting selama beberapa minggu terakhir. Yang pertama, Baekhyun harus berada di dekat dirinya ketika belajar. Guncangan kecil yang ia dapatkan ketika berada di kelas ataupun perpustakaan cukup untuk membuatnya bangun dan tetap terjaga.
Dan yang kedua, kapan saja Kai selalu berada di dekatnya, itu berarti seratus persen ia sedang bermimpi. Dan yang terakhir, hal ini adalah apa yang dia tahu untuk sementara.
Kyungsoo selalu bermimpi tentang Kai. Dia tidak pernah ragu, di manapun ia berada pasti ia melihat Kai. Kai selalu muncul setiap malam, setiap hari, bahkan setiap kali Kyungsoo berhasil untuk terlelap—walaupun—sebentar. Ia sudah cukup terbiasa dengan kehadiran Kai di mimpinya.
Dan, ketika ia bertemu dengan Kai, tidak akan pernah berada di tempat yang sama. Atau mungkin Kyungsoo tidak mengingatnya. Terkadang mereka sedang berjalan di jalanan yang ramai dengan rintik air hujan. Terkadang mereka berada di kampus sekedar duduk di sebuah bangku atau Kai yang berjalan di sebelahnya ketika ia melewati aula, bahkan Kyungsoo tidak mengerti kenapa ia memimpikan sekolah juga. Terkadang mereka juga berjalan di tempat yang aneh dengan berhiaskan langit kelabu. Di waktu yang lain mereka berada di sebuah pantai. Kyungsoo tidak pernah menemukan tempat yang dirasa familiar untuknya. Mereka selalu berada di sebuah tempat. Tetapi Kyungsoo tidak pernah tahu di mana itu, yang jelas, pasti selalu dalam keadaan hujan.
Semua terasa ganjil ketika ia bermimpi, dan seharusnya ia tidak perlu menanyakan kenapa. Ini hanyalah mimpi. Kata Kyungsoo terus menerus mengingatkan dirinya. Tapi, mimpi memang seharusnya aneh. Ia sudah terbiasa dengan bagaimana hitam dan putih mimpinya, atau di mimpi yang lain, justru penuh dengan warna. Ini semua membuat Kyungsoo bingung, tetapi ia berusaha membiasakan diri untuk mengacuhkan mimpi ini dan justru menikmati sebuah 'pelarian' kecil dari kehidupan nyatanya.
Dan hal ini selalu bersama lelaki itu. Kai telah membawa Kyungsoo selalu bersamanya. Kai berjalan di sampingnya. Dan dia selalu berada di sana. Terkadang Kai muncul sedikit terlambat dan mengagetkan Kyungsoo dari belakang, hal ini membuat Kyungsoo jengkel awalnya. Terkadang ia juga datang lebih cepat, hanya dengan duduk-duduk seperti ia sedang menunggu Kyungsoo untuk datang.
Terkadang mereka terlibat pembicaraan, dan terkadang juga tidak. Ketika mereka berbicara itupun Kai yang menanyakan sesuatu seperti siapa namanya dan berapa umur Kyungsoo. Atau terkadang ia bertanya kenapa ia memiliki mata yang besar. Kyungsoo menjawab semua pertanyaan itu, bahkan ketika ia ditanyai tentang suatu pertanyaan yang sarkastik, seperti pertanyaan Kai yang menanyakan kenapa Kyungsoo terlalu pendek di tengah-tengah umurnya sekarang?
Tetapi, ketika Kyungsoo bertanya sesuatu, Kai pasti akan mengacuhkannya. Bahkan ia merasa frustasi sendiri karenanya. Kai seperti kotak misteri berjalan dan Kyungsoo ingin mengetahui isinya. Tapi, ketika ia bertanya Kai hanya tersenyum, menyeringai, atau bahkan hanya mengendikan bahu—kebiasaan yang selalu ia lakukan. Dan Kyungsoo telah menyerah untuk menemukan jalan keluar agar Kai mau menjawab pertanyaannya.
Dia adalah mimpi. Dan seharusnya dia tidak masuk akal juga.
Tapi, sekali lagi. Tidak peduli berapa kali Kyungsoo menemukan kehadiran Kai itu pasti selalu misterius dan menjengkelkan. Kyungsoo—terkadang—menemukan dirinya melewati mimpi yang aneh ini dengan Kai justru membuatnya merasa nyaman. Ini hanyalah satu-satunya waktu di mana ia bisa berbicara kepada seseorang tanpa menyangkut pautkan tugas, orangtua, ataupun pekerjaan di dalam pembicaraan.
"Sepertinya kau butuh tidur."
Kata Baekhyun untuk Kyungsoo saat mereka sedang sarapan dan hampir membuat Kyungsoo tersedak nasinya sendiri.
"Itulah yang aku lakukan setiap kali." Kata Kyungsoo seraya menyeka mulutnya dengan punggung tangan. "Aku tidak ingin tidur lagi. Itu hanya membuatku stress."
Ini benar. Meskipun Kyungsoo suka 'melarikan' dirinya ke dalam mimpi, tidur di waktu yang aneh dan menghabiskan berjam-jam di ranjang selalu meninggalkan sakit kepala.
Dan jangan lupa menyebutkan bagaimana Kai selalu muncul di mimpinya.
Baekhyun tertawa. "Bagaimana bisa tidur membuatmu stress?"
Kyungsoo mengambil makanan sebelum menjawabnya. "Itu, karena Ka—"
Kyungsoo dengan cepat menghentikan ucapanya karena tersadar bagaimana mengatakan pada Baekhyun dan bagaimana sahabatnya itu akan menanggapi nantinya.
"Tidak ada." Gumam Kyungsoo.
Itu karena Kai. Kyungsoo hampir saja kelepasan. Tetapi ia tetap tidak bisa mengatakan kepada Baekhyun. Teman sekamarnya itu hanya akan mengatainya gila, berbicara tentang seseorang yang hanya bisa ia lihat di mimpi.
Kelas mereka pagi ini tidak mencakup materi, tetapi tugas yang ditulis harus selesai ketika kelas berakhir. Kyungsoo suka waktu seperti ini ketika ia bisa beristirahat sebentar sekedar duduk dan mencorat-coret kertasnya hingga ia merasakan seseorang mengambil tempat persis di sampingnya. Ia mendongak dan mengkerutkan dahi ia bisa melihat itu adalah Kai.
"Aku tertidur lagi?"
Kai tersenyum geli kepadanya. "Kau lebih baik seperti ini."
Kyungsoo mendesah seraya melanjutkan menulis tugasnya meskipun ia tahu mungkin sekarang ia sedang mendengkur—karena tertidur.
Kai mengambil buku yang berada di sebelahnya dan membolak-balik dengan santai kemudian menjalarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Jadi ini namanya tempat perkuliahan?"
Kyungsoo mengangguk, masih tetap menulis tugasnya.
"Hey, aku sangat senang jika bisa kembali bersekolah."
Kyungsoo berhenti menulis ketika mendengarkan perkataan Kai dan menatap ke arahnya. "Kembali? Lalu kenapa kau keluar atau semacamnya?"
Tetapi Kai tidak menjawab dan malah kembali membolak-balik halaman buku. Benar. Pikir Kyungsoo sedih. Mengacuhkan pertanyaanku.
Kyungsoo kembali menulis tugasnya ketika Kai bertanya. "Jadi, apa yang sedang kau pelajari?"
"Statistik bisnis." Jawab Kyungsoo kemudian.
"Kedengaran seperti hal yang membosankan."
"Ya. Memang."
"Kenapa kau mempelajari hal itu?"
Kyungsoo menaruh penanya di atas meja dan menatap Kai. "Lalu apa yang kau lakukan di sini jika mimpiku membuatmu bosan?"
Kai menyender dengan kedua tangan di belakang kepala. "Mimpimu boleh membosankan. Tetapi, kau tidak."
Kyungsoo menatap ke arahnya, terkejut. Dia tidak pernah berpikir dirinya menarik. Sepanjang hidupnya sudah jelas membosankan bagi Kyungsoo. Ia tidak pernah berpikir seseorang seperti Kai bisa mengatakan hal seperti ini.
"Tunggu," kata Kyungsoo mencoba mengingat kembali jawaban Kai yang berbeda. "Kau bilang apa yang aku lakukan—bahkan mimpiku—membosankan? Kenapa kau tidak menggunakannya sebagai alasan kau menyukai mimpiku?"
Kai mengangkat bahu acuh, dan Kyungsoo cemberut. "Kapan kau akan menjawab pertanyaanku?"
Kai tertawa dan Kyungsoo dapat menemukan dirinya menatap ke arah mata lelaki itu mengkerut membentuk sabit ketika ia tersenyum. Terlihat sempurna dengan giginya yang putih. Kyungsoo mengalihkan pandangan, merasa kesal karena ia akan terganggu dengan senyum ini.
Kyungsoo melihat beberapa mahasiswa datang ke arahnya dan Kai, kemudian salah satu dari mereka mengambil tas yang berada di samping Kai. Tangan mahasiswa itu melewati badan Kai, seperti lelaki di sebelahnya itu hanya terbuat dari udara.
"Si—siapa sebenarnya kau?" tanya Kyungsoo dan ia tahu bagaimana kasar suara dan pertanyaannya. Tetapi ia tidak bisa mencegah ini. Ia tahu seberapa aneh mimpinya tetapi melihat hal seperti ini malah menambah keanehan di mimpinya.
Kai terkekeh ketika mengetukkan jarinya di meja. "Aku tidak akan memberi tahumu sekarang, karena sebentar lagi kau akan terbangun. Umm.. mungkin nanti."
Kyungsoo hanya menatapnya balik, merasa geli. "Bagaimana kau bisa yakin aku akan bermimpi tentangmu nantinya?"
Kai hanya mengedipkan sebelah matanya ke arah Kyungsoo dan lelaki satunya membalas dengan memutar bola mata berpikir betapa sombongnya anak ini kadang-kadang dan ia merasakan tempat duduknya mulai bergoncang. Merasakan tarikan yang sering ia rasakan dari dunia nyata membangunkannya dan hal yang pertama ia lihat adalah Baekhyun yang sedang memegang tisu.
"Air liur." Baekhyun hanya berkata dan Kyungsoo segera mengambil tisu, mengacuhkan tatapan aneh Baekhyun sesaat sebelum mereka keluar ruangan.
NOCTURNA SUPPRESSIO
"Aku minta maaf dia menelponmu untuk melakukan ini. Aku tahu betapa sibuknya dirimu."
Kyungsoo mengambil tas yang dibawa Ibunya kemudian tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku sedang tidak melakukan hal yang penting."
Kyungsoo mencoba tidak memikirkan bahwa ia sudah terlambat untuk bekerja ketika ia dan Ibunya menyebrang jalan. Ayah Kyungsoo menelpon tadi ketika ia sedang dalam perjalanan menuju toko roti tempatnya bekerja, menyuruh untuk menjemput Ibunya dan mengantar ke halte bis terdekat. Ayah Kyungsoo tidak mengatakan apa yang ia lakukan saat itu sehingga tidak bisa menjemput Ibunya, namun malah sebaliknya. Tetapi Kyungsoo berharap Ayahnya dalam keadaan baik-baik saja. Kyungsoo ingat bagaimana ia mendengar Ayahnya seperti berjuang untuk bicara dan suaranya terdengar parau. Ketika ia bertanya kenapa, Ayahnya hanya menjawab ia sedang sakit tenggorokan.
Kyungsoo memindahkan kantong bahan makanan ke tangan yang satunya ketika Ibunya menatap ke arahnya. "Apa yang kau kerjakan belakangan ini? Kenapa kau jarang sekali pulang ke rumah?"
Ia mencoba tidak membiarkan Ibunya kecewa kepadanya. "Aku baik-baik saja. Terlalu banyak tugas dan aku harus menyelesaikannya. Maafkan aku."
Kyungsoo mendengar Ibunya menghela napas.
"Rumah terasa kosong tanpamu. Terutama di dapur."
Kyungsoo terkekeh. "Aku akan pulang minggu depan. Aku janji."
Ia bisa melihat Ibunya tersenyum dan itu membuat hatinya ringan. Ia senang Ibunya tersenyum seperti ini dan ia mengingat bagaimana ia melihat senyuman itu. Tetapi sekarang—
"Aku tetap tidak mengerti kenapa kau pergi untuk kuliah."
Kyungsoo menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam sebelum membuka mata. Kita mulai lagi membahas ini.
"Aku tahu seberapa besar kau menyukai pelajaran, tatapi semuanya hanya menghabiskan waktu dan uang."
Kyungsoo membiarkan Ibunya terus berbicara sepanjang jalan. Ia melihat ke arah toko yang dilewati dan juga tong sampah di gang kecil. Apa saja, asalkan bisa mengalihkan perhatiannya untuk tidak membantah. Mereka sudah membicarakan masalah ini berkali-kali, dan ia tidak benar-benar ingin beradu argumentasi dengan Ibunya.
"Seharusnya kau bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak sekarang. Tidak di toko roti kecil itu."
Kyungsoo menguatkan kaitan jari-jari di kantung belanja Ibunya. Terkadang ia berpikir Ibunya benar juga. Mungkin ia bisa mendapat pekerjaan yang lebih bagus sekarang. Mungkin ia bisa membantu banyak hal untuk keluarganya. Dia seorang anak laki-laki—dan juga satu-satunya. Dan seharusnya ia cukup dewasa untuk bertanggung jawab memahami hal ini.
"Aku mencintaimu sayang. Tapi, Ibu hanya tidak ingin kau berakhir seperti Ayahmu."
Kyungsoo menghentikan langkahnya. Ia mencengkram kantung belanjaan hingga kukunya menembus kulit saking kuatnya ia mencengkram. Dia ingin sekali bertanya apa yang salah dengan ayahnya. Beliau adalah seorang yang baik dan juga bertanggung jawab. Kyungsoo ingin sepeti Ayahnya. Dia ingin Ibunya tahu bahwa orang yang dinikahinya tetap sama dan tidak berubah, tetapi sebelum ia berkata demikian, Kyungsoo sudah melihat halte bis dan ini seperti pertanda bahwa ia tidak boleh melanjutkan pembicaraan ini menjadi sebuah perdebatan.
Kyungsoo berbalik menatap Ibunya dan tersenyum. "Aku akan baik-baik saja. Sejauh ini aku melakukannya dengan baik, dan ini sudah terlambat jika aku keluar."
Ini adalah sebuah kebohongan. Ia hampir tidak melakukannya dengan baik. Tetapi Ibunya tidak perlu tahu tentang hal ini.
Ibunya membalas dengan kembali tersenyum sedih dan mengambil kantung belanja dari anaknya. "Baiklah."
Kyungsoo melihat bis yang ditumpangi ibunya pergi menjauh dan kini ia mengambil bis dengan tujuan tempat kerjanya. Jantung Kyungsoo berdebar sangat tidak beraturan dan berusaha menstabilkan seraya menyamankan duduknya. Tetapi, percakapan mereka tadi masih berkelebat dipikirannya.
Kedua orangtua Kyungsoo tidak pernah menerima keputusannya untuk berkuliah, dan Kyungsoo sudah lama melupakan seberapa benci kedua orang tuanya terhadap pilihan yang ia ambil. Tetapi, terkadang ia menginginkan sedikit pengakuan atas apa yang ia raih.
Kyungsoo berharap dia tidak terlalu terlambat, kemudian ia bergegas masuk ke toko roti, tetapi nyatanya ia memang terlambat. Sesaat kemudian ketika ia memasuki dapur untuk bersiap mencuci tumpukan piring, Bossnya 'sedikit' mendorongnya ke samping.
"Aku minta maaf. Aku tahu aku terlambat—" Kyungsoo memulai tetapi Bossnya dengan cepat memotong.
"Aku tahu, dan aku minta maaf juga. Tetapi, kita tidak membutuhkanmu lagi di sini."
Kyungsoo mengerjap tidak percaya. "Apa?"
Dia hanya tidak percaya akan apa yang ia dengar.
Tetapi Bossnya hanya menghela napas. "Kau benar-benar membantu. Tetapi jujur saja, ini bukanlah sebuah toko roti yang besar. Kita tidak benar-benar membutuhkan banyak orang di sini."
Kyungsoo tetap menatapnya, tidak percaya bahwa ia baru saja kehilangan pekerjaan. "Tapi, pasti kau membutuhkan tukang pencuci piring? Walaupun hanya ini ak—"
Bossnya menggelengkan kepala dan Kyungsoo menahan diri untuk memohon. "Aku minta maaf, Kyungsoo. Pekerjaku bisa mencuci sendiri setelah mereka menyelesaikan pekerjaan."
"Sir—"
"Ini cek gajimu yang terakhir." Kyungsoo dapat melihat di tangan bossnya ada amlop, dan Kyungsoo tidak ingin repot untuk mengira-ngira bahkan menghitung berapa banyak uang di dalamnya. Bossnya tidak menatap Kyungsoo lagi setelah mengantarkan mantan pegawainya itu keluar.
"Aku benar-benar minta maaf, nak."
Nak? Pikir Kyungsoo dengan enggan ketika menaiki bis yang mengantarnya kembali ke dorm. Apakah ini yang orang lihat dalam dirinya?
Kyungsoo tidak terlalu memikirkannya ketika merasakan matanya memanas menimbulkan aliran air mata kecil di pipinya, dan dengan cepat Kyungsoo menyekanya. Dia terlalu lelah dan frustasi dengan semua yang terjadi. Dan hari ini bukan yang pertama. Setiap hari di dalam hidupnya. Dan Kyungsoo hanya ingin beristirahat. Istirahat dari usahanya menjaga semua hal berjalan dengan baik-baik saja.
Kyungsoo memutar knop pintu dan membukannya, kemudian melangkah masuk. Ia lega tidak melihat Baekhyun ada di sini. Bagus. Kyungsoo tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Baekhyun ketika teman sekamarnya itu bertanya apa yang terjadi. Baekhyun adalah sahabatnya, tetapi ia tidak mengerti kenapa dirinya enggan menceritakan hal semacam ini.
Ia menaruh ranselnya di meja belajar dan melihat banyak buku pelajaran menumpuk di sisi lain meja. Dia ingat test yang akan ia jalani minggu ini dan ia butuh belajar. Sejumlah tugas yang harus ia tuntaskan di tengah-tengah rasa frustasinya ia harus menyelesaikan hal semacam itu. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyingkirkan semua buku pelajaran.
Kenapa aku? Kyungsoo memposisikan kepalanya bertelungkup di kasur dan mengubur wajahnya dengan bantal. Kenapa aku?
Kyungsoo menangis di sela-sela usahanya untuk tidur, berharap hal ini bisa pergi ke esokan harinya.
NOCTURNA SUPPRESSIO
Mencengkram papannya kuat. Kyungsoo melihat ombak laut yang berada jauh datang ke arahnya. Ombak yang besar dan ia—hanya—duduk di sana dengan pikiran bertanya berapa lama ombak itu akan datang dan menggulungnya hidup-hidup.
Saat ini ia sedang berada di suatu tempat dengan warna langit abu-abu suram. Pakaian yang digunakan telah basah, tetapi ia tidak terlalu memperdulikannya. Semua perhatiannya tertuju pada ombak besar dan sejauh mana ombak itu mampu menenggelamkannya. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi.
Suara air yang menghantam papannya membuat Kyungsoo menengok ke arah samping dan ia melihat Kai mendayung sebuah perahu kecil di sebelahnya. Ia terlihat hitam dan putih lagi, dengan ditambah kerutan di air wajahnya membuat Kyungsoo mengubah alur pandangan, tidak berniat membuka percakapan dengannya sekarang ini.
"Sesuatu terjadi?" Tanya Kai, mengeraskan suarannya berusaha mengalahkan suara petir yang sangat gaduh di langit sana.
Kyungsoo mengunci tatapannya pada ombak yang besar dari kejauhan. "Kenapa kau mengasumsikan sesuatu—telah atau mungkin—sedang terjadi?"
Kai tidak menjawabnya. Kyungsoo berharap jika Kai tahu apa yang ia lalui hari ini. Kehilangan pekerjaan. Mendengar betapa kecewa Ibunya pada dirinya. Tetapi ketika ombak semakin membesar, ia melupakan semua yang di ada dipikirannya. Perhatiannya hanya tertuju pada ombak yang akan menenggelamkannya.
"Kita harus segera kembali." Teriak Kai tetapi Kyungsoo mengacuhkannya, ia masih sibuk mengira-ngira bagaimana jika ia tenggelam dan lenyap untuk selamanya. Apakah orang-orang akan menemukannya? Akankah orangtuanya peduli? Mungkinkah Baekhyun merindukannya?
"Kau tahu, kau tidak akan mati!" Kata Kai yang berada di sampingnya setelah mengetahui apa yang dipikirkan lelaki bermata bulat itu.
Tetapi, tentu saja ia tidak percaya dengannya, ia sudah cukup jauh tertarik tentang pikiran 'tenggelam' dan tidak akan pernah mampu untuk bangun lagi dan merasa bahwa itu sia-sia.
"Mungkin aku akan mati saat ini." katanya pada Kai yang sedang memegang samping perahu kecilnya.
"Tidak akan!" Balas Kai. "Kau hanya akan bangun dan berjibaku dengan hal-hal sial yang akan kau lewati lagi!"
Bayangan ketika Kai mendorongnya jatuh dari gedung yang tinggi membuat Kyungsoo menoleh ke arahnya. Teringat ketika ia bangun dan berpikir bahwa Kai memang benar. Dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi sekarang. Dia benar-benar tidak ingin bangun sekarang.
Manik Kai penuh perhatian ketika Kyungsoo menatapnya. Mengambil sekilas tatapan pada ombak, ia memastikan bahwa sebetulnya mereka masih mempunyai banyak waktu untuk kembali. Ketika Kyungsoo berusaha menjangkau perahu kecil, Kai mengambil uluran tangannya dan menarik ke samping dirinya, membantunya naik ke kapal ketika Kyungsoo merangkak naik ke perahu kecilnya. Kemudian Kyungsoo memposisikan dirinya di belakang Kai ketika lelaki itu mulai mendayung menuju daratan.
Mereka berdiri di tepi pantai, melihat ombak besar menghantam pantai. Mereka sama-sama terdiam dan Kyungsoo merasa santai, menikmati pemandangan yang damai. Kai mulai bewarna lagi—tidak hitam dan putih—begitu juga dengan tempat di sekelilingnya. Mulai bewarna.
"Kenapa kau tidak membiarkanku mati di mimpiku sendiri?" tanya Kyungsoo beberapa saat kemudian. Ia ingin menanyakan hal ini ketika Kai mulai mengingatkan arti mati di dalam mimpi padanya.
"Aku tidak ingin kau bangun dan meninggalkanku." Jawab Kai kemudian dan Kyungsoo menatapnya, mencoba menelusuri manik Kai untuk memastikan ada sebuah gurauan di sana. Bisanya ia hanya bercanda, tetapi dengan cara menatapnya—yang seperti itu—Kyungsoo yakin, Kai serius kali ini. "Aku akan merasa sedikit kesepian di sini."
Kyungsoo mengalihkan pandangan ketika merasa pipinya mulai memanas. Kai menginginkan dirinya tetap berada di sini. Tidak ada seorangpun yang meminta Kyungsoo tetap tinggal. Di pesta ataupun group projeknya, Kyungsoo akan selalu meninggalkan suatu tempat ketika ia merasa bosan. Tidak masalah baginya jika tidak ada seorangpun yang memintanya untuk tetap tinggal. Tetapi, mendengar hal ini dari seseorang untuk yang pertama kali membuat dirinya sadar bahwa ia menginginkan seseorang untuk mengatakan hal itu.
Dan Kai.. Kyungsoo menatap ke arahnya lagi yang sedang menatap jauh ke lautan lepas. Kai tahu jika ada sesuatu yang salah. Tidak semua orang memperhatikan atau mengerti dengan suasana hati Kyungsoo, tetapi Kai tahu, Kai mengerti. Selama mereka menghabiskan waktu di mimpi Kyungsoo, secara perlahan Kai mulai belajar memahaminya.
Berpikir tentang hal ini membuat Kyungsoo mengingat suatu pertanyaan terdahulu.
"Kau berhutang jawaban padaku." Kyungsoo mendorong bahu Kai, dan lelaki itu mengerjap untuk beberapa saat sebelum ia tersenyum.
"Kau mengingatnya." Kata Kai.
"Aku memang mengingatnya." Kyungsoo membalas dengan tersenyum padanya. "Jadi sebenarnya, kau itu apa?"
"Baiklah," kata Kai memulai. "Aku adalah dream walker."
Kyungsoo memberikan mata bulatnya di depan Kai. "Dream walker?"
Kai mengangguk. "Ya, Aku adalah seorang Dream walker."
Kyungsoo menatap ke arah Kai dengan waktu yang lama sebelum menertawainya.
"Apa?"
"Seorang Dream walker." Kata Kyungsoo kemudian merasa bahwa nama itu terdengar konyol.
Kai mengkerutkan dahi pada Kyungsoo. "Hey! Aku serius!"
Kyungsoo mencoba menghentikan tawanya. "Baiklah, Baiklah. Kau adalah seorang Dream walker. Baiklah."
Kyungsoo menatap ke arah Kai ketika kerutan di dahi lelaki itu sudah menghilang dan Kyungsoo tersenyum kepadanya.
"Jadi apa itu? Dream walker?" Tanya Kyungsoo ketika mereka mulai berjalan-jalan di tepi pantai.
"Seorang Dream walker itu, berjalan di mimpi orang-orang." Kata Kai padanya, dan Kyungsoo tertawa karena mendengar kata itu keluar dengan nyata.
"Okay, lalu kenapa di mimpiku?" Tanya Kyungsoo lagi.
"Karena," Kai menghentikan langkahnya dan menatap Kyungsoo dengan tersenyum. "Kau menarik."
Kyungsoo menatapnya dan tertawa. Aku menarik. Kalimat itu seperti bualan terbesar yang pernah Kyungsoo dengar karena dia tahu itu tidak benar. Tidak ada seoarangpun yang mengatakan hal semacam itu padanya, dan ia kembali menatap Kai yang hanya tersenyum ke arahnya, jajaran gigi lelaki itu terlihat sempurna dengan bibirnya yang penuh.
Kyungsoo mengalihkan pandangan ketika mereka mulai melangkah lagi.
"Aku tidak begitu." Kata Kyungsoo pada Kai tanpa menatap mata lelaki itu, Kyungsoo tahu bahwa lelaki yang berjalan di sebelahnya hanya mengangkat bahu.
Kyungsoo menendang kulit kerang yang berserakan di pasir pantai. "Jadi, apakah kau terbuat dari udara?"
Kai menggelengkan kepala. "Aku hanya ada untukmu, jadi secara alami orang-orang yang berada di mimpimu tidak akan bisa menyentuhku."
Kyungsoo tetap tidak mengerti secara detail, tetapi ia mengabaikannya ketika mereka berpindah. "Jadi apa yang dilakukan dream walker, selain.. umm kau tahu, berjalan di mimpi?"
"Semuanya." Jawab Kai.
"Kau bisa pergi ke mana saja?"
"Ya. Tetapi ke mana saja yang kau mau."
Kyungsoo menatap ke arahnya, bingung.
"Ini adalah mimpimu." Jelas Kai. "Aku adalah Dream Walkermu. Aku hanya bisa memberi tahu mimpimu tempat-tempat yang ingin kau datangi."
Kyungsoo berpikir tentang hal ini.
"Seperti sekarang," Kai menggenggam tangan Kyungsoo dan pemilik tangan itu membiarkannya. "Aku bisa memberi tahumu, bahwa kau selalu ingin pergi ke Paris."
Dan hanya dengan hal itu, Kyungsoo melihat pasir serta pantai mulai menjauh dan tergantikan dengan tiang lampu dan langit malam yang indah. Pandangan Kyungsoo mengitari sekitarnya untuk menyesuaikan dengan sekeliling, dan ketika ia berputar, ia melihat Menara Eiffel berada persis di belakangnya. Ia mengerjap beberapa saat untuk menyadari hal paling bersejarah dalam hidupnya, sebuah tempat yang selalu ia mimpikan. Kyungsoo benar-benar ingin pergi ke tempat ini.
"Atau.. China." Kyungsoo mendengar ucapan Kai dan melupakan sejenak tentang pikirannya ketika Kai mulai menggenggam tangannya dan sekali lagi semuanya mulai menjauh. Kyungsoo tidak memiliki kesempatan untuk Menara Eiffel ketika semuannya berganti dengan Tembok Besar China. Kyungsoo melihat sekelilingnya dengan rasa kagum, pertanda ia hanya pernah melihat hal ini di buku atau lukisan saja.
"Atau, Tokyo." Lanjut Kai di sampingnya dan Kyungsoo—sekali lagi—mengeratkan genggaman tangan Kai ketika semuanya mulai menjauh lagi, sesaat kemudian mereka berdiri di tengah-tengah jalanan yang ramai. Suasana malam hari dan manik Kyungsoo melebar ketika ia menyadari mereka berdiri di tengah-tengah Shibuya dengan gemerlap sinar lampu. Ini terlalu ramai meskipun tetap terlihat indah dan ia berjalan memutar dengan pandangan menatap ke segala arah. Ini terlihat sangat nyata bahkan ketika ia merasa orang-orang bertemu dengannya. Kyungsoo berhenti ketika ia menatap Kai, takut tersesat di sebuah kota asing ketika mereka berada di sana, saling menggenggam tangan—sekali lagi—ketika semua pemandangan menjauh dan mereka kembali ke tempat semula—pantai dengan langit kelabu dan pohon kelapa.
Memakan beberapa waktu untuk Kyungsoo memahami apa yang telah ia lalui. Dia baru saja pergi ke Paris dan ke semua tempat yang ia sendiri tidak pernah bermimpi untuk mengunjunginya di dunia nyata dan kembali ke tempat semula hanya dengan beberapa saat dan dia serasa mengigau. Kyungsoo tahu ini masih tetap berada di bagian mimpinya dan semua terasa aneh tetapi juga berbeda.
Kyungsoo sadar ia masih menggenggam tangan Kai dengan kuat. Ia mendongak menatap lelaki tinggi di sampingnya yang sedang menatap genggaman tangannya yang menguat dan dengan enggan Kyungsoo melepaskannya.
"Tadi itu," Kata Kyungsoo memulai, berharap Kai tidak menyadari bagaimana suaranya gemetar karena gembira dari jarak dekat. "Tadi itu mengagumkan."
Kai tersenyum ke arahnya. "Itu semua kau yang melakukan. Aku hanya membantu dengan ini."
Kyungsoo akhirnya paham kenapa mimpinya terasa sangat berbeda. Ini karena dia yang mengontrolnya.
"A—aku yang melakukan semua itu?" Tanya Kyungsoo dan Kai mengangguk.
"Aku sudah memberitahumu, kau bisa pergi ke mana saja kau mau." Jelas Kai. "Yang aku bisa hanya membawamu ke tempat yang kau mau."
"Seorang Dream Walker." Kyungsoo berbisik dan Kai menyeringai.
"Apakah ini masih terdengar konyol menurutmu?"
Kyungsoo menatapnya selama beberapa saat sebelum mengangguk, mendapati Kai cemberut ke arahnya.
Kyungsoo tertawa. "Aku bercanda. Seorang Dream Walker untukmu terdengar keren."
Kai tersenyum mendengar hal ini dan Kyungsoo menyeringai.
"Jadi, bisakah kita kembali ke Paris?" Tanyanya lebih semangat sekarang dengan pikiran kembali melihat Menara Eiffel atau mungkin lebih.
"Lain kali." Kata Kai untuknya dan air wajah Kyungsoo langsung berbalik kecewa.
"Lain kali." Ulang Kyungsoo, merasa berkecil hati lalu menundukkan kepalanya, tetapi Kai langsung menyentuh dagunya untuk mendongak. Merasa kaget dengan hal ini, Kyungsoo mengikuti arah tarikan dan sesaat kemudian ia mendongak dengan manik melebar hanya karena melihat sepasang mata Kai—mata yang indah—dari dekat dan Kyungsoo berdiri dengan perasaan seperti tertarik ke dalam sepasang mata Kai.
"Lain waktu." Kata Kai lagi, bibirnya terlalu dekat dengan Kyungsoo. "Aku akan membawamu ke sana lain waktu. Baekhyun akan membangunkanmu sebentar lagi."
Baekhyun? Kyungsoo mengerjap ketika ia merasakan tanah berguncang dan ia menatap ke arah Kai lagi. Kai berdiri menjauh darinya dengan menyeringai, dan ketika ia bertanya apa maksud seringai itu, suara Baekhyun sudah memenuhi pendengarannya.
"Kyungsoo."
Kyungsoo menyipitkan mata ketika ia merasakan sinar yang terlalu terang memenuhi pandangannya dan ia merasakan kasur di bawahnya. Mencoba membangunkan dirinya, Kyungsoo mengusap mata dan melihat Baekhyun berdiri di samping ranjang, dengan satu tangan mengguncang bahunya—masih berusaha membangunkan.
"Aku bangun, aku bangun." Gumam Kyungsoo. "Ada apa?"
"Ibumu menelpon." Baekhyun memegang ponselnya, satu-satunya hal yang ia pakai di dalam keadaan darurat dan ia mengambil benda itu dari Baekhyun. "Ayahmu.."
Kyungsoo menatap ke arahnya. "Ada apa dengannya?"
Baekhyun terlihat sedang memikirkan apakah sebaiknya ia memberi tahunya atau tidak.
"Baekhyun, ada apa dengannya?" Kyungsoo bertanya sekali lagi, dan Baekhyun mengatakan apa yang ia pikirkan.
"Dia ada di rumah sakit."
To Be Continue
Well special thanks to~! Purpleskies who is gave me a permission to translate this story.. And, once again.. i do not own this story. this story belongs to Purpleskies.
Saya minta maaf karena update lama.. karena saya update sesuai review.. ini part panjangnya bukan main.. jadi kalau buat part ini review tidak lebih dari 30 jadi saya akan mengupdate next chapter semakin lama, karena ini part panjang jadi saya mohon apresiasinya.. terimakasih.. dan untuk yang kedua, kemarin saya update special note dari author 4MinBoyFriend yang mengarang ff "Who Are You Again?" saya minta maaf karena saya menaruh beberapa kesalahan di sana, karena jujur saya mentranslate special note itu ketika malam hari setelah saya pulang dari rutinitas sekolah. Sekilas info buat NS—Nocturna Suppressio—ini, ada 16 chapter. Wkwkwk. salah satu scene ceritanya mirip kaya kartun spongebob ya? hehehe yg dia bangun terus main2 ke mimpi2ny sandy dll itu loo.. hehehehe—abaikan :D
And my dearest silent readers! One comment doesn't hurt that much.. so please give a comment. Kalian para readers, boleh merekomendasikan ff ini untuk dibaca dan review, tetapi, jangan pernah menyarankan orang lain atau diri kalian sendiri untuk me reupload story ini tanpa ijin..
maaf kalau masih ada typo yang tersisa..
Terimakasih untuk semuanya..^^
Read original story :
www . asianfanfics dot com /story/view/387220/3/nocturna-suppressio-exo-kai-k yungsoo-kaisoo
*tolong hilangkan spasi serta kata 'dot' itu diganti dengan tanda titik untuk membaca original story.
Last Word Review and Favorite please! :)
