Gangsta ©Indiah Rahmawati

T+ (M) | All Member BangtanBoys | All Bangtan Couple


Seoul, Tuesday, February 28, 2017

"Just... die already"

Jungkook membuka matanya, ia bangun begitu saja dan tak bergerak selama 1 menit. Lalu ia lupa segalanya setelahnya. Ia menyibak selimut yang menyelimuti tubuhnya, ia hanya ingat tengah melihat laptop Jimin yang penuh dengan coding yang tak ia mengerti. Ia membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju dapur

"Pagi Jungkook-ie..." sapa Jin yang tengah meletakkan sarapan dipiring. Jungkook hanya mengangguk dan duduk dikursi. Jin meletakkan satu piring didepannya, sarapan pagi berupa omelet telur yang langsung membuat Jungkook hampir meneteskan air liurnya. "Kau mau susu dingin atau hangat?"

"yang... eummhangmmat" Kata Jungkook dengan mulut penuh

"telan dulu makananmu..." kata Jin langsung memanaskan satu botol susu yang ia dapat setiap pagi dari tukang susu langganannya

Tak lama Yoongi datang bergabung dengan mereka "pagi..." katanya duduk disamping Jungkook. Jin membalasnya dan Jungkook masih sibuk makan. "Jimin kemana?" tanyanya, persis yang ingin Jungkook katakan sebelum ia tergoda sarapan buatan Jin. "semalam ia bilang mau bergadang disini"

"eum... pagi tadi aku menemuinya, ia hanya menyapaku dan bilang ia ingin tidur, ia sengaja menungguku datang sepertinya..." kata Jin meletakkan satu piring didepan Yoongi dan satu gelas didepan Jungkook. "Kau mau susu hangat juga?" tanya Jin

"ng..." Yoongi hanya mengangguk sambil mengambil sendok yang ada disamping piringnya. Ia mulai menyendokkan makanannya. Mereka makan dengan tenang dipagi itu, tak lama Tae datang dengan pandangan mengantuk. Ia duduk dengan kepala tergeletak dimeja, ia sadar ketika Jin memberikan sarapan padanya. Ini sudah jadi kebiasaan mereka makan bersama dan membicarakan hal yang tak jelas, tapi itu sudah cukup bagi mereka.

Tak lama Namjoon datang dengan pakaian rapi "Jinseok-ah... kau ada acara?" Jin menggelengkan kepalanya "kau ikut denganku hari ini... kita punya satu target" kata Namjoon membuka pintu yang ada didapur "aku menunggumu diatas..."

"ok" kata Jin lalu melepas apron pink-nya "cuci piring kalian" kataya, ia segera mengikuti Namjoon menuju atas. Yang disuruh nampaknya tak mendengarkan dan sibuk sendiri.

"kira-kira mereka mau apa?" tanya Taehyung

"yak? Telingamu tuli hah?" kata Yoongi sambil meminum minumannya setelah selesai makan "sudah jelas menagih hutang dan menjual barang mereka, apa lagi? Kau tak dengar kata 'target' tadi?" katanya

"maklumi saja" kata Jungkook mengambil piringnya dan Yoongi_yang telah bersih dari makanan_ untuk dicuci

"apa kau bilang?!" kata Taehyung yang merasa disindir oleh Jungkook, tapi yang dipelototi tak begitu peduli, ia sibuk dengan acara cuci piringnya. Tak lama seseorang datang bergabung dengan mereka, orang yang tak lain adalah Hoseok, ia kelihatan sudah rapi

"Taehyung-ah, Jungkook-ah, apa kalian hari ini kosong?" tanya Hoseok langsung duduk disamping Yoongi. Kedua orang itu mengangguk. "hari ini aku mau bawa kalian untuk menagih hutang" kata Hoseok mengeluarkan beberapa kertas yang berisi data-data target mereka. Yoongi mengambil satu untuk ia baca dan Taehyung mendekat padanya untuk melihatnya juga, Jungkook mengambil satu setelah mengeringkan tangannya. "Target pertama Jun Jean, Ia sudah berhutang 300 juta dollar kepada kita, ia juga memanfaatkan kita untuk kepentingan bisnisnya. Ia mengambil senjata dan sudah merampok bank, tapi ia belum membayar..." katanya lalu melemparnya data diri itu dan menganti yang lain "Lee Minho, ia membeli beberapa heroin dan tak membayarnya, ia juga masuk Club begitu saja dan pergi entah kemana, beruntung kita bisa melacaknya..." kata Hoseok "lalu..."

"woah! Bahkan mafia kelas tinggi seperti Choi Siwon juga berhutang pada kita?!" potong Taehyung begitu melihat salah satu data diri target yang harus mereka tangkap.

"iyup... dan" Hoseok meletakkan kertas yang ia pegang "nilai uangnya, cukup tinggi" katanya sambil meminum segelas air yang baru saja Jungkook berikan. "lebih baik cepat ganti baju kalian, dan kita segera pergi, sebelum mereka berpindah lagi" kata Hoseok bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. "aku menunggu kalian..." ia lalu menutup pintu dan terdengar langkah kakinya yang menjauh

"cepat berkemas" kata Jungkook menarik Taehyung

"iya-iya! Hyung jaga Jimin" kata Taehyung kepada Yoongi yang langsung diangguki sang pemilik nama. Mereka memasuki kamar masing-masing dan bersiap untuk mandi dan mengganti pakaian mereka. Setelah beberapa menit Jungkook keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam dan celana panjang hitam, dan jangan lupakan rambutnya yang masih basah. Ia mendekati lemari pakaiannya dan mengambil satu jaket disana, ia meletakkan jaket itu dikasurnya dan sekarang ia mencoba mengeringkan rambutnya, tak lama matanya mengarah ada satu foto yang ada dimeja belajarnya. Sebenarnya itu meja yang diberikan Namjoon padanya untuk belajar, karena Jungkook harusnya melanjutkan SMA-nya tapi karena kasusnya ia tak bisa melanjutkannya dan berakhir menjadi pembunuh bayaran. Namjoon tetap ingin Jungkook punya ilmu yang baik, sehingga kelak jika Jungkook muak menjadi pembunuh ia bisa berubah kejalan yang baik. Jungkook sendiri heran dengan alasan hyung-nya itu. Untuk apa berubah jika orang-orang sudah membuang mereka?

Jungkook mengambil foto yang ia lihat. Itu foto keluarganya, keluarga keduanya yang menerimanya apa adanya. Ia ingat jelas foto itu diambil saat mereka berlibur diparis, yah itu pun sambil mengejar target yang mereka incar. Alasan ia berada disini karena Namjoon, jika bukan karena dia, mungkin Jungkook sudah berakhir membusuk ditempat sampah. Saat itu Jungkook benar-benar merasa hidupnya sudah tamat, ia benar-benar putus asa, sampai orang itu datang dan mengulurkan tangan padanya. Namjoon orang pertama yang mau mengulurkan tangan padanya, Jungkook mulai menyesal saat itu melukai tangan Namjoon. Haah, tapi itu masa lalu... Jungkook tersenyum sendiri jika mengingat masa lalunya.

"Yak! Jungkook-ah! Cepat sebelum Hoseok hyung marah-marah kepada kita!"

Jungkook mendengar teriakan Taehyung dan langsung mengenakan Jaketnya. Ia melempat begitu saja handuknya di kasur. Lalu membuka pintu dan menemukan Taehyung disamping pintunya. "kajja!" kata Taehyung langsung pergi diikuti Jungkook dibelakangnya, Jungkook melambai pada Yoongi dan langsung diangguki Yoongi begitu saja. Lalu mereka membuka pintu didaput dan naik keatas.

..

..

Didalam mobil tampak sunyi. Hoseok terlalu fokus untuk menyetir sedangkan dua orang yang lebih muda darinya duduk dibelakang dalam diam. Taehyung asik dengan lagunya dan bergaya atau mengikuti irama lagunya, ia sesekali menyanyikannya "_jeonggyuui gwanjeom cypher!_"

"Tae hyung" kata Jungkook

"hmm?" Taehyung masih bisa mendengarnya, tapi ia masih bergerak tidak jelas

"kenapa hyung bisa ada disini?"

"tentu saja mengikuti Hoseok hyung berburu uangnya" kata Taehyung, yang langsung merinding begitu mengucapkannya

"aniyo, maksutku ada dibangtan..." kata Jungkook

Taehyung terdiam, lalu melepas salah satu heatset yang ia kenakan. Lalu menarik nafas panjang "haah... eum... kejadiannya cukup lama... tak lama sih, tapi setahun aku masuk kau baru datang" katanya menatam Jungkook "aku itu penggemar nomor satu Jin hyung!" katanya sambil mengepalkan tangannya kedepan. Jungkook melongo bingung "Bloody Mary... setiap mendengar julukan itu aku merinding. Kejahatannya selalu tertutup dan rapi, korbannya juga tampak indah dengan lubang dari dada hingga perut, menunjukkan rongga kosong yang harusnya diisi oleh organ. Sejak melihat korbannya didekat rumahku, rasanya darahku mengalir naik menuju otak, tubuhku mendidih, dan rasanya aku ingin meledak saat itu" katanya berbinar-binar, senyuman tiba-tiba turun dari wajah Taehyung "lalu aku mempelajari anatomi tubuh manusia, rasanya berat karena aku benci belajar, aku terbawa stes, dan akhirnya aku putuskan berhenti menjadi seperti Jin hyung. Sampai saat itu datang..."

Hoseok yang mendengar dari tadi hanya bisa diam, ia tau jelas kejadian yang Taehyung maksut. Jungkook masih baru jadi dia belum tau apa-apa "saat itu aku masih 18 tahun, aku cuma anak biasa yang melayani seorang ayah pemabuk, dan hari itu aku melihat kakakku di pukul habis-habisan lebih dari biasanya, aku terbawa emosi lalu mengambil botol kaca dan memukul ayahku. Dan menusuknya berkali-kali hingga perutnya robek, saat itu darahku mendidih seketika, perasaan aneh tapi nyata. Itu pertama kalinya aku merasa senang sekaligus takut disaat bersamaan, dan itu pertama kalinya juga aku ditahan" kata Taehyung, melihat keatas "selama ditahanan aku berfikir, apa itu rasanya membunuh? tapi kenapa aku ditangkap? Apa aku kurang rapi saat membunuh? Dan aku mulai melalukan criminal, perasaan senang dan takut itu, rasanya menyenangkan..." Taehyung tersenyum aneh "perasaan itu... perasaan yang terus membuat otakku meledak, rasanya sangat menyenangkan. Tapi aku selalu tertangkap, dan mulai dibuang oleh masyarakat..."

Taehyung melihat Jungkook "mungkin hampir sama denganmu, bedanya aku ditemukan oleh Jin hyung. Melihatnya, pertama kalinya. Jantungkun hampir mau lepas saat itu, tentu saja aku langsung setuju begitu ia memintaku masuk" kata Taehyung

"jadi... kau masuk karena obsesimu kepada Jin hyung?" kata Jungkook mengira-ngira

"yak! Itu bukan obsesi, Tapi keinginan kuat fans kepada idolanya!" kata Taehyung, bersemangat "tapi..." Hoseok dan Jungkook langsung melihatnya "ia bilang padaku, aku bisa jadi orang yang lebih baik jika aku bosan dengan pekerjaanku" kata Taehyung lalu melihat Jungkook "kau juga pasti bingung dengan kata-kata itu kan?" Mata mereka saling bertautan, dan terlihat seperti membaca pikiran masing-masing lewat pandangan mereka. Jungkook hanya mengangguk, lalu menyamankan lagi posisi duduknya.

"kalau Hoseok hyung?" tanya Jungkook begitu pikirannya sudah tenang

"aku?" kata Hoseok didepan, ia berhenti karena lampu jalan berubah merah. "eum... saat aku dan Jimin masuk, anggotanya masih Namjoon dan Jin hyung"

"what? Jadi kalian masuk bersama?" kata Taehyung mendengar nama Jimin

"kami sudah dekat sejak lama, ia juga yang mengajakku begitu mendapat e-mail dari Namjoon" Hoseok masih menatap depan "Aku dan Namjoon sama-sama pengusaha barang illegal saat itu, dan Jimin mengenal Jin hyung karena Jimin sering membeli barang dari Jin untuk dijual disitus gelapnya. Jadi saat mereka bilang ingin buat sebuah perkumpulan, kami langsung menerimanya, ini juga demi bisnis" kata Hoseok

"apa dimata hyung hanya uang?" Taehyung menyindir, ia kembali merinding dan akhirnya menutup mulutnya

"lalu apa tujuan Namjoon hyung? Melakukannya?" Hoseok terdiam begitu mendengar pertanyaan Jungkook. Lalu lampu jalan berubah hijau dan mobil mereka kembali melaju

"aku juga tak mengerti" katanya. Mereka melewati terowongan jalan, dan tetap diam selama perjalanan, bahkan Taehyung sudah tak mendengar musiknya kembali. Suasana menjadi hening selama beberapa saat. Satu jam kemudian, mereka berada dilokasi tujuan mereka. "kita sampai..." Hoseok memarkirkan mobilnya disatu tempat yang cukup sepi. Mereka bertiga keluar dari mobil, Taehyung menyembunyikan pistolnya sedangkan Jungkook hanya menyiapkan satu buah belati disabuknya. Mereka bertiga memasuki satu rumah begitu saja, para penjaga juga cuma bisa diam begitu Hoseok, Taehyung, dan Jungkook lewat. Saat masuk kedalam bau alcohol tercium dimana-mana

"K-kumohon... ampuni aku..."

Sebuah suara mulai memasuki pendengaran mereka. Hoseok melihat satu pintu geser dan mengesernya begitu saja. Terlihat seorang pria paruh baya, 4 bodyguard, dan satu gadis muda dengan pakaian acak-acakan. "Yak! Apa yang_" kata-kata pria itu terpotong begitu melihat siapa yang datang "T-Tuan Hoseok!" katanya panik dan segera menundukkan kepalanya dalam posisi duduk "s-saya tak tau anda akan datang" katanya

"Jun Jean... kau berhutang pada kami, dan aku datang memintanya" kata Hoseok tanpa basa-basi seperti kebiasaannya. Jungkook dan Taehyung malah sibuk berkeliling ruangan mencari apa yang mereka cari, bahkan mereka tak peduli dengan gadis yang pertama kali mereka lihat.

"m-maaf... tolong beri aku waktu lagi..."

"heeh? Waktu?" Hoseok menekuk lututnya dan mengangkat dagu pria yang telah bersimpuh didepannya "kau tau berapa banyak yang sudah kami berikan?"

"kumohon!" kata pria itu semakin menundukkan kepalanya.

Jungkook membuka setiap pintu, lalu ia membuka sebuah pintu geser yang ada didekat sebuah lemari tua. Bingo! "hyung! Aku menemukannya" katanya mengeluarkan beberapa tas uang yang ada di dalam ruangan sempit dari pintu geser itu, ia membuka tas itu dan menunjukkan isinya

"woah! Kau benar-benar miskin, tuan" kata Taehyung begitu melihat tumpukan uang dan beberapa narkotik didalam tas hitam itu. Lebih tepatnya ia menyindir pria paruh baya itu

Pria itu mulai berkeringat dingin, ia segera bersujut didepan Hoseok "Kumohon! Ampuni aku! Kalian bisa ambil semuanya! Tapi jangan nyawaku!" katanya cukup keras. Gadis yang menjadi bahan siksaan pria tadi hanya bisa melongo melihat pria yang ia anggap kejam itu, kini tengah memohon ampun pada seorang pria yang jauh lebih muda darinya

"Taehyung-ah..." kata Hoseok. Taehyung tersenyum, lalu mengeluarkan pistol yang ia sembunyikan tadi "kau sudah punya waktu yang bagus..." kata-kata terakhir Hoseok kepada pria itu sebelum sebuah peluru menembus kepada pria tersebut.

"KYAAAA!" Gadis itu berteriak begitu melihat tubuh itu jatuh. Ia gemetar melihat sebuah lubang dikepala pria itu yang terus mengeluarkan darah. Para bodyguard juga tak bisa berbuat banyak.

Hoseok mengambil satu ikat uang ditas hitam itu, lalu melemparnya kepada bodyguard disana "kalian sudah direpotkan olehnya, sekarang pergi lah sebelum kami berubah pikiran" kata Hoseok menatap mereka tajam

Keempat bodyguard itu langsung membungkuk "kamshamnida! Sajangnim!" kata mereka serempak, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

"ayo pergi..."

"hyung, bagaimana dengannya?" tanya Jungkook menunjuk gadis berantakan yang dari tadi melihat semua kejadian.

Hoseok berbalik dan melihat yang Jungkook tunjuk "huh? Siapa dia?" tanya Hoseok

"bwahahahaha!" Taehyung tertawa "dia dari tadi menyaksikan semuanya?! Dan hyung sama sekali tak melihatnya?! Hahaha! Makanya jangan hanya melihat uang hyung!" tawa Taehyung semakin pecah, sampai itu berhenti ketika ia kembali merinding. "mian..." katanya langsung

Hoseok menarik nafas panjang "bunuh saja" katanya, Taehyung segera mengarahkan pistolnya kearah gadis itu

"Kumohon! Jangan bunuh aku!" kata Gadis itu segera bersujut dihadapan mereka "akan kuberikan apa pun! Kalian boleh menyentuh tubuhku jika itu mau kalian! Tapi kumohon jangan bunuh aku!" katanya dengan mata yang mulai basah.

"kami tak tertarik, kami hanya mau imbalan kami..." kata Hoseok, mengangkat salah satu tas yang Jungkook temukan

"Kumohon! Apa pun! Akan kulakukan apa pun! Sajangnim! Tolong ampuni aku!" katanya mengangkat wajahnya yang mulai banjir air mata, pakaian berantakannya membuat ia semakin terlihat putus asa. Hoseok terdiam sejenak, lalu menghirup nafas dalam

"bawa dia Jungkook-ah" kata Hoseok, lalu berjalan keluar dari tempat itu. Taehyung menurunkan pistolnya dan berjalan mengikuti Hoseok. Sedang Jungkook yang kesal setengah mati hanya bisa pasrah dan menutup mulut gadis tadi dan membawanya dibahunya. Ia membawa gadis itu menuju bagasi mobil dan menguncinya disana. "Kita harus pulang gara-gara jalang sialan itu!" kata Hoseok kesal

"sudahlah... hyung, kita lanjut kan besok" kata Jungkook duduk dibelakang, lalu Taehyung duduk disampingnya. Sebenarnya Taehyung ingin sekali tertawa mengingat tingkah bodoh hyung penggila uang-nya ini, tapi ia terlalu takut dengan Hoseok. Akhirnya ia hanya bisa bertingkah aneh selama perjalanan pulang.


Gangsta ©Indiah Rahmawati

T+ (M) | All Member BangtanBoys | All Bangtan Couple


Namjoon duduk dengan tenang sambil melihat target didepannya, dengan tangan terikat keatas tergantung begitu saja dengan wajah penuh darah, dan jangan lupakan lubang besar didada dan perutnya. Jin mengambil hati dan memasukkannya kedalam sebuah box, "wah... beruntung ia punya organ yang bagus" katanya cukup senang. Ia kembali memotong beberapa syaraf dan mengambil dua paru-paru yang menutupi jantung.

"kau tak mengambil ginjalnya?" tanya Namjoon yang santai meminum minumannya dengan pemandangan sebuah mayat berantakan tergantung didepannya

"Ia sudah menjual satu... kelihatannya ia benar-benar takut padamu" kata Jin menunjukkan satu plastic transparan yang menunjukkan satu ginjal "harganya lumayan, tapi tetap saja sedikit" Jin meletakkan ginjal itu dibox yang sama dengan organ yang lain

"lalu para bodyguard ini?" tanya Namjoon yang sedari tadi duduk diatas salah satu bodyguard

"aku yakin mereka bukan bodyguard-nya. Tapi milik teman sekaripnya yang juga incaran kita" kata Jin begitu selesai mengosongkan tubuh didepannya. "bagaimana kalau kita buat menarik... Namjoon-ah" kata Jin tersenyum licik. Namjoon tak mengerti, sampai ia melihat apa yang Jin keluarkan dari tas yang ia bawa. Senyuman mereka menambah suram suasana tempat itu

"kelihatannya menarik..."

SKIP

Seorang pria berpakaian hitam terbangun, kepalanya tampak sangat pusing. "ng_ UWAAA!" Ia berteriak keras begitu melihat kepala didepannya. Ia segera bangkit dan melihat sekitar. Semua penuh darah teman-temannya berhasil dibantai, bakan boss-nya sudah menggantung dengan rongga dada dan perut kosong. Ia sangat mual, tapi ia mengingat sesuatu. Ia berjalan melewati mayat-mayat itu dan menuju sebuah lukisan. Ia menggesernya dan menemukan sebuah brangkas, ia membukanya dan mengambil uang yang ada didalamnya. Dengan segera ia menelfon seseorang "Boss! Rencana berhasil!" Katanya, lalu segera pergi dari tempat itu

Tak lama pria itu sampai disatu hotel, ia menyerahkan kartu identitasnya dan dipersilakan masuk. ia menuju satu kamar dengan menaiki lift menuju lantai teratas. Ia sampai dan mengetuk salah satu pintu "Fire" katanya, lalu pintu terbuka. Didalam ada beberapa orang dan satu orang berjas putih dengan name tag bertulis Choi Changwo. Pria tua dengan tubuh besar, dengan segera memeluk angotanya tersebut "selamat..." katanya. Yang diberi sambutan hanya bisa menunduk berterima kasih "kita berhasil menipu mereka, dan membawa kembali uang kita" kata sang boss sambil tertawa berat

"ne!" kata pria yang baru datang itu, menyerahkan sebuah koper. Bossnya tersenyum, dan menepuk pelan pundak angotanya tersebut

"kita rayakan!" katanya, semua bersorak dan mulai minum. Pria paruh baya itu memberikan koper kepada pelayannya yang lain lalu memberikan minum kepada angota yang selamat-nya itu. "minum-minum... ini semua berkat kau" sang boss tersenyum

"ne...kamshamnida sajangnim. Ta-tapi... perut saya sedikit tidak enak" pria itu memegangi perutnya, ia berfikir karena habis melihat pemandangan mengerikan tadi

"benarkan? Mungkin kau hamil?" kedua orang itu tertawa dengan lelucon boss tersebut "coba aku cek.." bossnya kembali melanjutkan candaannya. Ia berpura-pura menunduk dan meletakkan telinga keperut anggotanya tersebut. Tapi ada sesuatu yang janggal karena ia mendengar sesuatu...

DUAR!

Semua terkejut begitu darah terciprat keseluruh ruangan. Tubuh gemuk dengan kepala yang hancur langsung jatuh kelantai, sedang tubuh pria yang harusnya ada disampingnya telah hancur berkeping-keping, bahkan beberapa organ menempel didinding dan potongan daging jatuh dari langit-langit ruangan. Semua kaku seketika begitu melihatnya, mereka bahkan tak mampu berkata-kata melihat tubuh mereka sendiri penuh darah dan beberapa potong daging

Clap! Clap! Clap!

Suara tepuk tangan langsung mengarahkan pandangan mereka menuju pintu,_asal suara tepuk tangan tersebut_. Terlihat dua orang dengan jas Hitam dan kaos putih sudah berdiri disana entah sejak kapan, tentu saja pakaian mereka satu-satunya yang bersih "benar-benar pertunjukan yang menarik" katanya

"T-The... The Boss! Dan Bloody..." kata salah satu orang gemetar setengah mati begitu meihat kedua orang tersebut

Namjoon tersenyum puas, apa lagi Jin "Tak ku sangka, ia dengan bodohnya membuat lelucon yang konyol itu" kata Jin. Entah kenapa Namjoon ingin sekali mengatai Jin, karena ia sering membuat lelucon konyol juga, tapi ini bukan saat yang tepat.

"Pertunjukan yang bagus, punya bayaran yang mahal" kata Namjoon. Dengan cepat beberapa orang memberikan koper yang dibawa pria yang telah hancur itu, dan beberapa koper yang merupakan uang simpanan boss mereka yang telah tewas. "Wah... kalian penonton yang baik, karena itu kami berikan pertunjukan terakhir" kata Namjoon membungkuk. Ia dan Jin berbalik setelah mengambil koper dan pergi mengunci pintu. Orang-orang itu dengan panic mendekati pintu dan berusaha membukanya

"KUMOHON BUKA PINTUNYA!"

"AKU TAK MAU MATI!"

"BUKA PINTUNYA! KUMOHON!"

"KAMI AKAN LAKUKAN APA PUN! KUMOHON BUKA PINTUNYA!"

"YAK! ASAP APA INI!"

"GRAAAA! KULITKU TERKELUPAS!"

"AKU BUTA! MATAKU!"

"AAAAARRRGG! TOLONG!"

Teriakan demi teriakan tiada hentinya dari ruangan yang baru saja dimasuki Jin dan Namjoon, Mereka sudah memblokir semua fentilasi, jadi ruangan itu benar-benar tertutup. "apa itu?" tanya Namjoon

"Gas asam, tingkat keasamannya sama dengan hujam asam. Menghancurkan setiap sel dan membuatnya mati, sehingga yang menghirup atau tak sengaja mengenai kulit, mereka akan langsung meleleh atau hancur hingga menjadi cairan asam." Jelas Jin

"seperti proses pembusukan?"

"benar, tapi dua kali lebih cepat dan menyakitkan" kata Jin tersenyum puas.

Namjoon tertawa pelan sambil berjalan membawa koper "aku benar-benar tak menyangka, kau akan memasukkan bom mini kedalam perut pria itu..." kata Namjoon

" itu mudah, tubuh manusia itu mudah merasakan hal aneh berada ditubuh mereka. karena itu aku membuatnya sedikit menyatu dengan usus dan sedikit mendekati lambung. Jadi ia akan berfikir itu mual biasa tanpa berfikir ada yang memasukkan sebuah bom kedalam tubuhnya." Jin menjelaskan kembali dengan raut wajah bangga. "aku sering melakukan operasi kepada tubuh manusia, mengingat stastusku sebagai dokter, jelas saja aku tau semua letaknya" kata Jin lagi, ia benar-benar menikmati pekerjaan nya saat ini. Namjoon hanya bisa tersenyum melihatnya. Hanya tersenyum tipis...

..

..

Gadis muda bernama Honjin itu tampak hanya bisa bergetar duduk dikursi sambil memegangi pakaiannya yang berantakan, ia melihat sekeliling. Ini seperti tempat pemotretan. Ia pingsan selama dibagasi, saat sadar ia sudah ada disini. Tak lama sebuah pintu terbuka dan menunjuk-kan sosok Hoseok dengan baju putih lengan panjang dan celana jeans hitam dengan lutut yang sobek. Penampilan yang membuat gadis yang melihatnya langsung terpukau. Gadis itu menunduk begitu Hoseok mendekat kearahnya, Hoseok tampak membawa sebuah kamera. "kau..."

"ne!" ia terkejut begitu Hoseok memanggilnya

"buka bajumu" kata Hoseok sambil menganti lensa kameranya. Yang disuruh hanya bisa diam. Hoseok melihatnya "kau tuli ya? Buka bajumu"

"b-buka?!" katanya dengan wajah memerah. Dengan berat hati ia membuka semua pakaiannya

Hoseok melihatnya kembali "kau benar-benar tuli, ya? Kubilang buka ya buka semuanya..." kata Hoseok melihat sosok gadis didepannya hanya menggunakan bra dan celana dalam.

"s-semua?" katanya malu. Ia melepas semuanya perlahan sambil terus berusaha menutupinya. Ia lihat ekspresi Hoseok, datar... Hoseok sama sekali tak menunjukkan reaksi apa pun.

"bersikap biasa saja bisa, kan?" kata Hoseok. Ia mulai mengarahkan kameranya kepada gadis tampa busana didepannya, tapi gadis itu sama sekali tak mau menurunkan tangannya dari kedua dada besarnya. Hoseok mulai kesal dan meletakkan kameranya. Ia mendekati gadis itu, lalu menaikkan kedua tangan gadis itu keatas

"m-mau apa kau?!"

"diam saja" kata Hoseok mengikat kedua tangan itu dengan seutas tali yang menggantung diatas gadis tersebut. Gadis tadi tergantung dengan pasrah dengan kedua tangan terikat ketatas. Hoseok kembali mengambil kameranya dan menfoto gadis naked didepannya, mengambilnya dari sudut berbeda agar terkesan seksi. Setelah selesai ia memeriksa beberapa dokumen. Tak lama seseorang masuk kedalam, ia bersiul melihat gadis telanjang dengan pose yang cukup menggoda

"yak... kau terlalu kasar padanya" kata namja yang baru saja datang yang tak lain adalah Jimin. Dengan baju lengan panjang yang sedikit kedodoran, menunjukkan tulang selangka yang begitu seksi dimata gadis tadi. Wajah gadis itu kembali memerah

"dia sendiri yang menyerahkan diri" kata Hoseok mencetak beberapa foto dikameranya

Jimin mendekati gadis itu dan melihatnya dengan pandangan menggoda dibuat-buat "kau harusnya mengikat kakinya naik, ia masih baru kan?" kata Jimin membelai paha dalam gadis itu dengan seenaknya. Gadis itu bergerak tak nyaman ketika Jimin melakukannya

"kau berbuat macam-macam kubunuh kau" kata Hoseok

"iya-iya... kejam sekali" kata Jimin menjauhi gadis itu dan mendekati Hoseok untuk melihat dokumennya. "cih! Tak menarik..." kata Jimin keluar dari ruangan itu. Hoseok hanya memutar matanya, jengah dengan tingkah Jimin

Jimin berjalan menuju ruang tengah untuk bergabung dengan Taehyung dan Jungkook. Kedua orang itu tampak asik dengan game yang sedang mereka mainkan, Jungkook tak terlalu banyak bergerak, tapi Taehyung bukan tipe yang pendiam, ia hampir memecahkan gelas jika Jimin tak memindahkan semua gelas disekitar mereka. Ia hanya bisa duduk disofa_dibelakang Jungkook dan Taehyung_. Ia putuskan mengeluarkan handphone miliknya dan melihat-lihat artikel-artikel yang ia suka.

Setelah cukup lama, Hoseok keluar dari ruangannya dan berjalan kearah mereka. "Taehyung-ah... bisa kau belikan aku label kuning?" tanya Hoseok

"pakai saja yang ada hyung..." kata Taehyung tak lepas dari game yang ia mainkan

"cepatlah! Aku buru-buru" kata Hoseok "Jika kau tak membawanya, jangan harap kau punya ibu jarimu" acam Hoseok yang langsung ditanggapi desahan kesal dari Taehyung. Ia ingin sekali mengumpat kesal, tapi Hoseok sudah menghilang dari sana

"Aish! Hyung itu kenapa?! Kan masih banyak label lain?! Kenapa harus kuning!" kata Taehyung kesal dan mengubah posisi tertidurnya jadi duduk. Jungkok segera mempaus game dan mengambil joystick Taehyung, dengan cepat Taehyung memukul kepalanya

Jimin tertawa pelan "asal kalian tau saja, Hoseok itu OCD, jelas ia begitu" kata Jimin meletakkan handphone miliknya keatas meja

"O-C-D? apa itu sejenis game baru? Game yang membuat orang stress?" kata Taehyung mengira-ngira, beruntung Hoseok tak disana untuk mendengarnya

"OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder itu semacam kelainan jiwa dimana penderitanya berfikir obsesif dan berperilaku komplusif" jelas Jungkook yang sudah jelas tak akan dimengerti oleh Taehyung.

"iyup, singkatnya penderitanya akan mengalami obsesi berat atau ketakutan akan suatu hal. Kebanyakan dari mereka sangat benci kotor dan sesuatu yang tak rapi, kalau yang berat ia bisa menjadi anti social dan mengurung diri dirumah, kalau Hoseok tipe ringan yang hanya ingin melihat semuanya rapi dan teratur." Jelas Jimin yang langsung diangguki kedua orang didepannya. "kalian masih baru, jadi belum tau ini... kami juga kadang lupa kalau Hoseok itu OCD" kata Jimin menyenderkan punggungnya pada sofa

"aku rasa Hoseok hyung bukan terobsesi akan rapi" kata Taehyung melipat kedua tangannya "ia itu... terobsesi pada Uang!" Taehyung mengangguk dengan kesal

"itu lebih baik, dari pada kau yang terobsesi pada Jin hyung" kata Jungkook

"Sudah kubilang itu bukan obsesi! Dan lagi... aku itu lebih tua darimu Jeon Jungkook" Taehyung menarik kesal kerah baju Jungkook. Yang lebih muda juga tak berkutik dan hanya diam ketika hyung-nya itu menyemprotkan semua umpatan didepan wajahnya

Jimin tertawa pelan "lebih baik kau cepat membelinya sebelum Hoseok benar-benar memotong ibu jarimu" Jimin langsung ditatap tajam Taehyung, dan Jimin menanggapinya dengan gerakan 'what?'

Taehyung dengan kesal bangkit dari duduknya dan melepaskan Jungkook, "ok ok!" Taehyung hendak pergi sebelum langkah-nya terhenti begitu melihat orang yang ia kenal

"aku sudah membelinya" itu Yoongi. Taehyung langsung memeluk hyungnya itu dan berterima kasih. Seseorang tampak tak nyaman dengan duduknya saat itu. "aku akan memberikannya" kata Yoongi sambil mengusap kepala Taehyung. Saat Yoongi pergi Taehyung dan Jungkook kembali melanjutkan game mereka, sedang Jimin tak melepas sorot matanya pada Yoongi

..

Hoseok menulis beberapa catatan disatu kertas, lalu melihat gadis yang sedari tadi menggantung didepannya, dengan posisi kedua kaki terikat dan terbuka begitu saja, kedua tangannya terikat kebelakang, tubuh menggantung, mata tertutup, dan mulutnya tersumpat oleh Ball Gag . Ia benar-benar tak nayaman dengan posisinya itu, Hoseok hanya memotretnya sedari tadi, ia bahkan tak terangsang sama sekali dengan apa yang ia lihat.

"Hoseok-ah..." Yoongi masuk, ia segera menuju Hoseok tanpa peduli apa yang ia lihat. Ia memberikan satu tumpuk label kuning dan satu pack kertas. "kau membutuhkan-nya kan?"

"hoo... Kau tau saja Yoongi hyung" kata Hoseok, lalu membuka label tersebut. Dan menempelkannya dibeberapa kertas.

Yoongi melihat-lihat ruangan itu, dan matanya kembali teralih pada gadis yang dari tadi Hoseok foto "kau memang paling cocok dengan pekerjaan ini..." Yoongi mengambil kursi dan duduk disana "kau benar-benar tak tertarik sama sekali?" tanya Yoongi

"heh, jika aku memasukkannya sekali pun, aku tak akan merasakan apa pun..." kata Hoseok, pandangannya tak lepas dari kertas-kertasnya

"itu karena trauma-mu kan?" kata-kata Yoongi langsung mengheningkan susana, bahkan Hoseok berhenti dari kegiatannya "mian..." Yoongi menunduk

"tak apa... lagi pula, karena trauma itu, aku punya banyak uang, iya kan?" kata Hoseok tersenyum miring. Yoongi membalasnya dengan tawa pelan "ketimbang dia, aku lebih tertarik denganmu..." Hoseok mendekati Yoongi. "siapa yang tak suka pria manis bertubuh seksi sepertimu, hyung?" Hoseok berdiri didepan Yoongi sedikit membungkuk, tangan kanannya ada disandaran kursi

"mendekat, kubuat kau mati rasa" ancam Yoongi

"Ah, iya... harusnya aku menjualmu saja hyung, harganya pasti mahal" Sebuah hentakan keras mendarat tepat dikaki Hoseok. Ia langsung terduduk memegang kakinya sedang Yoongi langsung bangkit dan berjalan pergi

"sebelum itu akan ku lepas matamu dari rongganya" kata Yoongi pergi dari ruangan itu. Hoseok tersenyum pahit begitu Yoongi pergi, ia tertawa pelan mengingat reaksi Yoongi tadi

"kalian cukup akrab" Jimin muncul entah dari mana

"begitu lah..."

"heh... Kau aneh" kata Jimin

"kau juga begitu" balas Hoseok dan sibuk kembali pada pekerjaannya. "Setelah ini, kirim ini untuk dijual" kata Hoseok, Jimin hanya mengangguk dan berkata 'iya' cukup pelan. Mereka larut dalam hening sampai Hoseok membuka mulutnya "kau..." Jimin menengok kearah Hoseok "kau menyembunyikan sesuatu, kan?"

...

Tak ada jawaban, "a.. aha... ahahaha!" Tawa Jimin memecahkan keheningan. Hoseok hanya diam menatap teman lamanya itu "haaah... kau fikir, aku menyembunyikan sesuatu?" Jimin tersenyum. Hoseok memandangnya cukup lama, ia tau ada yang ganjal.

"kau bukan tipe penyembunyi rahasia..." kata Hoseok

"itu kau tau! Jadi apa yang harus kusembunyikan?" kata Jimin mendekatinya dan mengambil dokumen yang Hoseok berikan, lalu pergi setelah memegang pundah Hoseok. Perasaan aneh itu muncul lagi, senyuman yang bukan Jimin, Hoseok masih tak tau dengan pasti. Sebenarnya mereka teman sejak SMP, tapi Jimin menghilang selama SMA, dan mereka bertemu lagi secara tak sengaja. Awalnya Hoseok menanggapi biasa, tapi saat Yoongi masuk, ia mulai lihat sisi lain Jimin. Perasaan aneh itu selalu muncul setiap ia melihat mata Jimin. Hoseok akan mencari tau dengan caranya sendiri...

SKIP

Semua berkumpul diruang makan. Jin membawa satu panci besar berisi kare kental yang sekali lagi membuat Jungkook hampir meneteskan air liurnya. Mereka semua makan bersama disana, layaknya keluarga besar. Jungkook menghabiskan piring pertamanya, dan meminta nasi lagi kepada Jin. Ia ingin makan kembali, sampai ia ingat satu hal "Sebenarnya aku ingin tanya Yoongi hyung"

"hmm?" yang dipanggil segera menjawab

"kenapa kau bisa masuk?"

Yoongi terdiam, dan semua mata mengarah ke-mereka. Yoongi menelan makanan dimulutnya "eum... sebenarnya aku tak ingat jelas kenapa..." jawab Yoongi

"kau tak akan ingat karena kami yang menemukanmu" kata Jin menunjuk dirinya dan Namjoon

"menemukan?" Taehyung mulai tertarik dengan pembicaraan ini

"saat itu, kami hendak pergi menuju Daegu untuk urusan bisnis. Kami lewat jalur khusus yang jarang orang lewati, disana kami temukan sebuah kecelakaan mobil." Jin mengambil satu tisu dan menggusap bibirnya "Dikecalaan itu ada dua mobil polisi, satu mobil biasa, dan satu truk besar"

"tak ada orang disana?" tanya Hoseok

"aniyo... saat itu mobil –mobil itu berserakan dimana-mana" jelan Namjoon

"Kami putuskan keluar dan melihat sekeliling, semua pengemudi mati dan kami menemukan mu didalam box truk" Jin melihat Yoongi "kau terluka cukup parah, bajumu benar-benar berantakan" Jin mengingat-ingat kejadian itu "didalam box truk seperti rumah kecil, sepertinya itu box untuk traveling. Semua perabotan berantakan, kami menemukan satu kursi disana dan berfikir kau korban penculikan" jelas Jin lagi

"Kami membawamu ketempat Jin, dan akhirnya kau sadar" lanjut Namjoon. Yoongi mengangguk, ia sudah dengar ini sejak ia mulai membiasakan diri disini.

"Lalu bagaimana ia bisa jadi Min Yoongi?" tanya Taehyung

"kami yang memberinya nama itu, karena kami temukan topi bertuliskan Min yang ia kenakan saat itu" jelas Namjoon kembali

"akhirnya kami putuskan memanggilnya Min Yoongi" kata Jin dengan sebuah senyuman.

Jika Hoseok ingat, itu beberapa bulan setelah ia dan Jimin masuk, Ia menatap Jimin yang tengah makan dengan santai sambil mendengarkan cerita. Ia ingat wajah terkejut Jimin saat itu... saat melihat Yoongi, tatapan Hoseok kembali tajam, ia benar-benar penasaran

Jungkook mengangguk "Lalu..." Semua melihat kearahnya. "kenapa kau membuat ini semua?" Panangan mata Jungkook tepat kearah Namjoon. Semua langsung menatap Namjoon saat itu juga.

Namjoon tersenyum "kita... semua punya nasib yang sama" Namjoon bangkit dari duduknya "Kita terbuang, dilupakan, dan disingkirkan... semua yang kita lakukan selalu terbalut oleh dosa, bahkan tak ada cahaya dihati kita. Bisnis? Uang? Kesenangan? Itu semua tujuan hidup, dan kita semua pasti juga memikirkannya..."

"karena itu kita satu darah... 'tangan kita ternodai darah, darah kita tercampur dosa, dan hati kita dimakan kegelapan. Karena itu lah kita semua sama... cause we are family'..." Namjoon mengangkat tangannya "tapi... bukan berarti kita berakhir dengan dosa kan?" Semua menatapnya bingung "aku ingin membuat... sesuatu yang tak akan pernah membuat kita bosan mencapai tujuan kita, saat tiba saatnya nanti, kita semua bisa berubah... mungkin kita akan menjadi putih kembali. Karena itu... jika tiba saatnya nanti bosan itu muncul... bisakah kita tetap bersama menghadapinya dan berubah menjadi lebih baik?" Semua terdiam. Mereka mulai memikirkan semua omongan Namjoon, jika difikir mungkin ada saatnya mereka jenuh melakukan sesuatu dan berfikir untuk melakukan hal lain hingga mereka melupakan hal yang penting dalam hidup mereka, hal yang membuat mereka berada dititik itu...

"Mari buat keluarga yang bahagia selamanya, bagaimana?" tanya Namjoon. Jin bangkit dan mengatakan ia akan ikut. Hoseok dengan pasti mengatakan ikut, diikuti Jimin dan Yoongi. Jungkook bangkit juga, ia mengerti sekarang maksut Namjoon. Taehyung masih duduk, ia masih mencerna semuanya, apa ia benar-benar akan bosan? "Tae?"

Taehyung terkejut dan menghela nafasnya "apa pun itu lah... aku akan tetap ikut"


TBC OR END?

Gangsta ©Indiah Rahmawati

Just die if you not review...