• Black Suit •
O3.
ps: maaf saya tinggal lama ada urusan yang ga bisa ditinggalin, hehe, tapi ini gak bakalan saya tinggal kok
Selamat membaca
• • •
"Jadi, mulai sekarang Agen Oh Sehun akan bergabung dengan kita." Leader dari tim baru Sehun mengumumkan di depan rekan-rekan bawah komandonya. "Juga, untuk kamarnya, dia akan—"
"Uh! Untuk itu—" potong Sehun, membuat keempat lainnya menatap dirinya. Tersadar dengan apa yang barusan diucapkan, ia berdeham sebelum melanjutkan. "Maksudnya untuk beberapa waktu ini saya ingin berada pada kamar lama saya hingga—" Sehun berhenti sejenak sembari memikirkan kata yang cocok.
"Kami mengerti." potong agen berbadan pendek dengan mata bulat, Do Kyungsoo, dengan senyum tipis di wajahnya. Lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Sehun. "Do Kyungsoo atau kau bisa memanggilku D.O."
Lega. Sehun menganggukkan kepalanya seraya menerima jabatan tangannya.
"Kalau mereka, seperti yang sudah kau ketahui sebelumnya, Kim Joonmyeon atau yang lebih sering dipanggil dengan Suho, leader di tim kita. Ada juga Byun Baekhyun dan Kim Jongin atau Kai." jelas D.O. memperkenalkan anggota di tim mereka.
"As co-leader said. Baik sekali D.O. yang jarang bicara ini memperkenalkan kami." ledek Baekhyun, pemuda yang tinggi badannya tak beda jauh dari D.O. tapi wajahnya lebih manis. Suho dan Kai hanya tertawa mendengar ledekan yang diutarakan pada co-leader mereka.
Sehun berusaha mengontrol raut wajahnya agar tidak terhanyut pada suasana secepat ini, mungkin lain kali. Ia memalingkan wajahnya, memastikan tak ada yang melihat, dan menutup bibirnya dengan punggung tangan. Yah, walaupun suara tawanya tak keluar.
Wah, akan lebih baik lagi jika ia tak menutupi wajahnya. Pikir Kai dalam hati. Meski Sehun pikir tak ada yang melihatnya, tapi tidak bagi Kai.
Kyungsoo dan Kai sebenarnya tahu kalau tadi sebenarnya Sehun berusaha menolak halus tawaran yang diberi oleh Suho. Kai sebenarnya ingin mendengar alasan Sehun. Akan tetapi, Kyungsoo bertindak terlebih dahulu agar hawa di ruangan ini tidak terlalu tegang.
Kai merasa ada yang janggal tapi, ya sudahlah, bila Sehun memang belum siap untuk bercerita atau lebih tepatnya membuka dirinya pada rekan tim yang baru. Rasa canggung terlihat jelas pada Sehun saat ia memilih untuk memalingkan wajahnya merespon candaan dari Baekhyun.
"Kalau begitu, hanya itu saja. Kalian boleh kembali." titah Suho.
Tempat awal Kai sebelum berkumpul adalah lapangan menembak. Jadi, Kai memutuskan untuk kembali ke sana, melatih bidikannya agar dapat mencapai akurat 100% walaupun kedengarannya hampir mustahil.
Sayangnya ia terpaksa ke ruang peminjaman ruangan yang terletak di lantai yang sama dengan ruang direktur dan ruang sumber daya karena pintu untuk memasuki lapangan menembak masih terkunci.
"Hmm?" Kai mendapati sosok yang familiar baginya sedang menuju ke arahnya yang baru saja ingin keluar dari lift. "Sedang apa, Baekhyun-hyung?" tanya Kai sambil melepas salah satu earphone yang terpasang di telinganya.
"O-oh, Kai. Ternyata kau." balas Baekhyun yang terlihat lega sekali melihatnya seperti takut ketahuan oleh kalau orang lain. Entahlah, Kai tak begitu peduli. "Sedang apa?" Baekhyun bertanya sembari menekan tombol lift ke bawah.
"Ingin meminta kunci lapangan. Aku ingin berlatih sebentar." Lelaki tan itu menyengir lebar sembari menjawab.
"Wah, akan kunantikan hasil suksesmu di misi berikutnya, Kai." Ding! Pintu lift terbuka sebelum Baekhyun memasukinya dan berkata, "Kami akan mengandalkanmu, Ace!" Tak lupa kekehan khas Baekhyun yang terlepas dari bibirnya itu sebelum pintu lift tertutup.
Ada-ada saja, Baekhyun-hyung. Kai menggelengkan kepalanya berulang kali. Ah, tadi Baekhyun-hyung belum menjawab pertanyaanku. Ia baru sadar sesaat Baekhyun menghilang dari hadapannya.
Beberapa saat setelah peminjaman kunci ruangan selesai, tak disangka saat ia membuka pintu, Oh Sehun lewat di depannya yang terotomatis gerakan Sehun juga terhenti. "Oya?"
"Eh?" Sehun sepertinya terkejut melihat Kai yang tiba-tiba muncul secara tak terduga. Ekspektasi Kai melihat wajah angkuh Sehun akan ditunjukkan padanya dan pergi meninggalkannya begitu saja terbayang di otaknya. Akan tetapi, realita yang terjadi berbeda. Sehun mendekap dokumen-dokumen dengan erat, melipat bibirnya yang sudah tipis itu sebelum menganggukkan kecil kepalanya kepada Kai.
Apakah barusan tadi Sehun mencoba memberi salam? Mana ekspresi dingin dan acuh tak acuh yang biasa ia tunjukkan padanya? Mana pula komentar pedas yang ia lontarkan? Kai tak tahu bagaimana ekspresinya sekarang.
Sehun beranjak dari tempatnya yang sebelumnya. Kai yang terdiam pun segera menyusul Sehun dari belakang. "Hei," sapanya sembari menyamakan langkahnya dengan Sehun, itupun kalau Sehun tak keberatan bila Kai berjalan beriringan dengannya.
"Ingin latihan bersama?" Ajak Kai dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke saku celana, mencoba terdengar untuk tidak terlalu antusias, menahan nada girangnya karena sepertinya Sehun tak keberatan bila Kai berjalan beriringan dengannya. Terbukti dari Sehun yang tidak melambatkan atau mempercepat langkah kakinya.
Kai perhatikan ada beberapa detik untuk Sehun menerima atau mungkin menolak ajakannya. Yah, Kai pun juga siap menerima kemungkinan terburuk. Sehun biasanya akan berkata ti— "Tentu, bila kau tidak keberatan."
Hmm? Bola mata Kai melihat ke kanan, atas, kiri, dan bawah secara bergantian. Memeriksa apakah ada yang salah dengan dunia ini. Hiperbola? Ya, sedikit. Sudah Kai duga. Ada yang aneh dengan Sehun.
"Ti-tidak. Tentu saja aku tidak keberatan." Don't lose your cool, Kai. Sialan, barusan ia terdengar terbata-bata. Sangat tidak keren. Norak.
Sehun menganggukkan kepalanya seraya menekan tombol lift ke bawah. "Kalau begitu, aku akan ganti pakaian terlebih dahulu."
Eh?
"Bukankah akan tidak nyaman jika latihan menggunakan jas hitam ini?" tanya pria berkulit putih hampir pucat itu dengan seringai tipis di roman mukanya yang tampan itu, membuatnya semakin hot. Dan barusan, sudah jelas itu tadi pertanyaan retoris, Sehun.
Oh, hampir semua agen di agensi ini tampan dan cantik. Tidak ada yang jelek apalagi buruk rupa. Jangan lupakan pegawainya. Seorang pemimpin sekaligus CEO agensi ini ingin mempunyai yang berkualitas.
• • •
"Sniper, ya?" Kai tak sengaja mengutarakan apa yang di pikirannya. Begitu saja terucap. Dasar mulut bodoh. Untung saja bukan sesuatu yang bisa memalukannya.
Sehun penasaran sembari memiringkan kepalanya ke kiri. Bagaimana mungkin Kai mengetahui atau mungkin itu hanya a lucky guess?
Oh, apakah itu ekspresinya saat terkejut dan penasaran? Batin Kai.
Kai menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal itu sekaligus menjawab, "Aku hanya menebak saja. Agak kelihatan kalau sniper itu posisimu. Dari sifatmu, mungkin?" diikuti tawaan terpaksa dari mulut Kai.
Kali ini tawa sungguhan keluar dari bibir tipis Sehun. "Mirip sekali jawabanmu." Ia menepuk-nepuk pundak Kai seraya berjalan ke arah rak senjata dan mulai memilih senapannya.
Dengan siapa? Pikir Kai penasaran. Jika jawaban Sehun seperti itu, jelas pasti ada orang yang sebelumnya menjawab mirip dengannya. "Ayo, latihan." Ajak Sehun. Akan ia simpan pertanyaan itu nantinya.
• • •
Beberapa hari sebelumnya...
Sehun dan Tao baru saja selesai membeli bubble tea bersama di cafe seberang dengan mengenakan baju santai. Hingga saat berjalan menuju ruang makan atau cafetaria berskala besar lebih tepatnya, Sehun merasa bisik-bisik yang memang ditujukan kepada mereka berdua.
Sebenarnya sih, bukan bisik-bisik lagi. Terlalu keras untuk disebut bisikan. Lebih tepatnya, sengaja agar dirinya dan Tao dengar.
Ejekan. Cemooh. Hinaan.
Atas misi sebelumnya. Jarang sekali agensi mereka memakan korban jiwa. Dan wajar saja bila mereka menjadi bahan pembicaraan.
Tao yang notabene berpikiran sempit pun mudah tersulut. "Oi! Yang benar saja kalian!" Pria berdarah China itu menggebrak meja dan berdiri secara kasar hingga mengakibatkan kursi yang sebelumnya ia duduki jadi terjungkal ke belakang.
Tao mendekati salah satu seniornya yang berbicara buruk tentang mereka, Senior Lee Hyukjae atau yang sering dipanggil dengan Eunhyuk oleh teman-temannya. Sepertinya ia ancang-ancang mau menghajar tak peduli status Eunhyuk sebagai senior.
Tangan Tao sudah berada di kerah baju seniornya itu dan sepertinya teman-teman dekat senior itu, seperti Shindong, Siwon, dan Yesung juga bersiap untuk memukul Tao balik. Akan tetapi, tontonan hajar-menghajar harus ditunda dulu karena Oh Sehun memegang tangan Tao, menahannya.
"Itu bukan urusanmu, kan?"
Sebuah suara entah darimana menganggu ketegangan yang sedang terjadi. Sehun menyipitkan matanya begitu seseorang berhenti bersembunyi dari balik pilar. Ah, Kim Kai rupanya.
"Sopanlah sedikit pada seniormu, Kai." Baekhyun yang berada di samping Kai menyikut perut pemudan berkulit tan itu tapi tidak direspon apa-apa oleh Kai.
Tatapan para senior memandang Kai tidak suka. Yah, seperti ekspresi Sehun sekarang ini. Kenapa juga ia repot-repot harus angkat bicara?
"Nggak usah ikut campur, Kai. Ini bukan urusanmu. Baekhyun, kau juga, jaga hoobaemu itu." seru Yesung galak.
Ya, itu benar, Kim Kai Yang Sukanya Sok Tahu. Ini bukan urusanmu. batin Sehun dalam hati.
"Tapi, itu bukan urusanmu juga, kan, sunbae?" balas Kai dengan enteng. "Dari awal, itu masalah Sehun dan Tao. Kenapa sok ikut-ikutan mencampuri urusan orang lain segala? Urusi saja urusan sunbae terlebih dahulu."
"Kai!" Baekhyun kembali mengingatkan.
Heh. Sehun menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyuman yang sempat terukir di wajahnya. Pikirannya sekarang berubah, sedikit, tentang Kai.
Seperti ada yang merasuki dirinya, Sehun mengambil langkah maju mendekati senior-seniornya. Ia berdiri di depan Eunhyuk. "Dapatkah sunbae kami yang terhormat menjadi dewasa sedikit? Bahkan, kami, para hoobae saja bisa tidak bersikap kekanak-kanakan." Mencoba menggunakan bahasa sesopan mungkin untuk dilontarkan, tetapi ada nada mengejek di antara intonasi milik pria penyuka bubble tea itu.
Tao yang berdiri di belakang Sehun membelalakkan matanya kaget. Sehun bisa bayangkan itu walaupun posisi Tao adalah titik buta dari posisinya saat ini. Berkat sudah setim dengan Tao sih, ini masih belum ada apa-apanya. Masih ada banyak hal yang ia ketahui. Serta ekspresi Kim Kai dan Baekhyun tak kalah terkejut walaupun mereka bisa mengontrolnya kembali.
Bugh!
Sebuah bogeman dilontarkan pada Sehun yang berakhir jatuh terduduk sembari memegang rahangnya yang terkena bogeman itu. Ah, sepertinya ada yang lepas kendali duluan. "Sehun!" seru Tao lekas membantu teman dekatnya itu.
Sial, luar biasa. Sakitnya.
Eunhyuk duduk di atas Sehun seraya menarik kerah baju dengan kedua tangannya. "Bilang sekali lagi! Coba kau bilang sekali lagi, Oh Sehun!" Siap melayangkan bogeman kedua, tangannya ditahan oleh Tao. "Sunbae, sudah cukup."
Akan tetapi, emosi yang sudah menguasai Eunhyuk membuatnya menarik tangannya dari genggaman Tao secara kasar. "Jangan menghalangi."
"Eh, ada guru yang datang!" Tak sempat memperhatikan dengan seksama, pembuat onarnya beranjak dari tempat dan mulai berhamburan.
"Tsk. Kali ini kau lepas tapi tidak untuk kedua kalinya nanti. Lihat saja." teriak Eunhyuk sembari meninggalkan cafetaria.
Itu tadi bohong. Kebohongan yang baru saja diucapkan oleh Baekhyun demi mendinginkan suasana. "Terimakasih, Baekhyun-hyung." balas Tao.
"Barusan tadi idenya Kai kok." tunjuk Baekhyun ke arah— tidak ada siapa-siapa. "Eh barusan tadi dia di sini."
Sehun tahu, Kai barusan langsung meninggalkan cafetaria sesaat setelah para senior sambil melambaikan tangannya di atas kepala dengan posisi ia membelakangi Sehun. Huh, dasar sok keren.
.
.
.
Bersambung...
a/n: sebelumnya maafkan saya lama tak update, hehe. ohya, terus buat story yang Space Between Us bakalan saya discontinue, tapi sebagai gantinya saya buat story baru versi omegaverse nih, mumpung lagi banyak idenya ga kaya ini, agak susah. Saya ada dua story,
A, versi beta!Sehun
B, versi omega!Sehun
Saya buat story baru biar kalo lagi stuck di sini saya bisa update di story baru, biar saya itungannya gak ilang, hehe. Mohon tulis pilihan anda di kolom review, hasilnya nanti saya umumin di update-an keempat. Terimakasih atas penantiannya dan semua hal lainnya!
