Long time no see Chingudeul! mianhamnida :3 . So, this is second part for Day's break bell. Enjoy your 6K+!

Baekhyun masih bersungut kesal duduk di kafetaria kampusnya, dia menyilangkan tangannya di dada, sesekali meminum kasar jus jeruk kalengan yang ia dapatkan dari mesin minuman di sudut kafetaria. Di depannya ada seorang yang menyebalkan duduk dengan sebuah cengiran yang sangat menganggu. Ini mengerikan, mengapa ada orang yang memiliki gigi dan gusi yang begitu terjaga, putih, rapih, dan bersih. Dan ia terus mengikuti Baekhyun, sejak insiden di koridor kampus tadi, dimana para EXO mengerjai Baekhyun.

" Well. Terima kasih untuk yang tadi. Juga terima kasih karena sudah membela anak kecil sepertiku. "

Mendengar pernyataan sarkastik dari Baekhyun, pemuda itu hanya meringis menahan tawa sambil membenarkan posisi topinya.

" Maafkan aku, hey, yang penting kau tak di ganggu namja-namja iseng itu tadi. Tapi sungguh! Kau terlihat kecil dan lemah di antara namja-namja tinggi tadi." Suaranya setengah bergetar karena menahan tawa. Baekhyun mendelik menatap namja di hadapannya sambil bergumam aneh.

" Tuh 'kan! kau malah terlihat imut jika merajuk seperti itu, errr~apa kau.. benar-benar seorang namja eoh? "

" YA!"

Dan sebuah kaleng bekas jus jeruk melayang ke wajah namja dengan senyuman aneh itu.

Namja ini memang sangat baik, ia dan Baekhyun bahkan belum saling mengenal tapi tadi ia sudah membelanya habis-habisan. Yang paling menyebalkan dari namja ini menurut Baekhyun adalah tingginya yang menjulang, hampir setinggi si brengsek Tuan Muda Wu, sebutan yang sering Baekhyun berikan untuk Kris.

Ah! Iya Kris Wu yang bodoh itu, sikapnya sangat kekanakan, entah dengan dasar apa ia selalu mengerjai Baekhyun. Pernah sekali Baekhyun bertanya serius padanya, mengapa tuan muda seperti Kris rela membuang-buang waktu untuk mengerjai seseorang seperti Baekhyun, namun tak pernah di jawab dengan benar, sesekali pernah ia menyahut dan mengatakan bahwa ia sekedar iseng mengerjai mahasiswa miskin seperti Baekhyun. Jika menurut Kris, Baekhyun pantas menerimanya. Menurut Baekhyun, Kris itu kurang kerjaan.

Walaupun si tuan muda Wu itu memang sangat populer dengan ketampanan dan kecerdasannya, tetap saja minusnya banyak menurut pandangan Baekhyun

Kris satu jurusan dengannya, Seni Rupa Murni. Baekhyun akui, Kris memang lebih memiliki bakat ketika menggambar. Sekedar menarik sebuah garis, atau membuat lingkaran yang sempurna semuanya ia lakukan dalam satu tarikan tegas, dan hasilnya di luar dugaan. Rapi dan tepat.

Kris lebih suka menggambar sketsa dengan pulpen ketimbang dengan pensil yang runcing. Dia pernah berucap saat mata kuliah seni lukis dasar pada awal semester, ia lebih suka menggunakan pulpen karena tak akan mudah di hapus, berbeda dengan pensil yang mudah di hapus oleh segumpal karet. Dengan itu akan terlihat di mana kita melakukan kesalahan, dan kita akan belajar dari kesalahan tersebut karena jejak kesalahan itu masih tertinggal dan tak terhapus. Memang agak berantakan, tapi di situlah seninya. Dan penuturan Kris tersebut mendapat nilai lebih dari Baekhyun.

Ia tampan, tinggi, populer, cerdas, berbakat, dari keluarga terpandang pemilik kampus, sosok yang bisa di bilang sempurna, bukan? memang ia sangat sempurna bahkan Baekhyun pun mengakuinya. Hanya saja sikap angkuh dan kekanakannya yang meleburkan semua imej sempurnanya di depan Baekhyun. Kris Wu itu seseorang yang harus di hindari, ia masuk urutan nomor satu bersama dengan komplotannya (Baca; EXO), dan nomor duanya adalah namja yang ada di hadapannya sekarang, yang sedang memandangi Baekhyun dengan senyuman bodohnya.

Kembali lagi pada Baekhyun yang masih bersungut kesal di kafetaria, jus kaleng keduanya sudah habis dan Kyungsoo belum terlihat juga, padahal sejak tadi Baekhyun sudah mengirim banyak pesan ke ponsel Kyungsoo bahwa ia menunggunya di kafetaria bersama namja aneh yang telah menyelamatkannya dari bully-an EXO.

Bukannya Baekhyun tidak berterima kasih terhadap namja ini, namun semenjak tadi yang di lakukan namja ini hanya menyengir aneh ke arah Baekhyun dan terus membututi Baekhyun kemanapun ia melangkah.

" Kau?!"

Baekhyun menghela napas berat, Namja ini kenapa sih? Idiot apa kurang cerdas huh? Baekhyun terus menghardik dalam hati. Ia mulai melakukan senam nafas, kegiatan seperti menarik dan menghembuskan nafas dengan teratur, agar emosinya tidak memuncak. Ia mulai menghitung dalam hati sampai sepuluh, mukanya sudah memerah menahan ledakan dari perutnya yang naik ke ulu hati.

Hana..

Dul..

Baekhyun melirik ke arah namja itu. Hentikan senyum bodoh itu!

" Baek? "

Oh, Baekhyun tahu suara siapa ini. Ia segera menoleh ke arah suara, Kyungsoo! akhirnya..

" Soo?! Cepatlah kemari! "

Baekhyun menggoyangkan tangannya mengisyaratkan agar Kyungsoo cepat menghampirinya. Kyungsoo menatap aneh namja yang duduk berhadapan dengan Baekhyun, siapa dia?

" Kau dengan seseorang? Siapa dia Baek?" Dengan cepat Kyungsoo memutar badannya menghadap namja yang duduk di hadapan Baekhyun, belum lagi Baekhyun menjawab pertanyaannya, Kyungsoo sudah berucap lagi.

" Ah! Hallo! Aku Do Kyungsoo, sahabat Baekhyun, salam kenal!"

Kyungsoo dengan sopannya menunduk dan memperkenalkan diri, namja itu terperangah lalu melakukan yang sama, ia hanya menyebut namanya saja, persis seperti yang Baekhyun tebak dalam hati.

" Maaf sebelumnya. Apa kau juga mahasiswa di kampus ini? Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya, tapi bukan di sini. Dimana ya? "

Kyungsoo tampak berpikir, Baekhyun mendecih mendengar pertanyaan sopan yang di ajukan Kyungsoo, bahasa Kyungsoo memang sangat formal dengan seseorang yang baru ia kenal, sedari tadi juga Baekhyun menanyakan hal itu namun namja ini tidak menjawab dengan benar.

" Ah! Begitukah? tapi maaf, aku belum pernah melihatmu. Aku Mahasiswa baru di sini, Namaku Chanyeol!"

Kyungsoo hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya tanda mengerti, sedangkan Baekhyun ternganga mendengar hal itu, pertanyaan itu di jawab dengan senyuman aneh lagi. Senyuman yang membuat perut Baekhyun bergejolak aneh.

" Apa kau legal?"

Baekhyun bertanya dengan logat yang kental, setengah tidak percaya, setengah lagi penasaran. Kalau mau jujur, namja tinggi yang duduk di hadapan Baekhyun dan Kyungsoo memang cukup tampan. Tubuh tinggi yang tidak begitu kurus, kulit putih –namun tidak seputih Kyungsoo, menurut Baekhyun- sorot mata yang tegas namun teduh secara bersamaan, oh, jangan lupakan senyuman aneh yang terlihat sangat ...

" Apa maksudmu? Tentu saja aku legal, apa hanya mahasiswa saja yang boleh masuk ke kampus ini?" Oh, dia mulai lagi!

" Kau tahu, kampus ini sangat ketat, apalagi barusan tadi kau baru saja melawan tuan muda pemilik kampus ini, kau serius akan bersekolah di sini? Kau dalam masalah besar, Dude! "

Baekhyun berucap dengan berapi-api kali ini, tangannya menuding-nuding batang hidung Chanyeol. Sedangkan Kyungsoo masih berdiri dengan mata bulatnya memandang bergatian dua namja yang sedang beradu mulut ini.

" Tuan muda yang mana? yang tinggi kurus berambut pirang itu? Apanya yang tuan muda, sikapnya kekanakkan begitu! Tidak baik menggoda anak kecil seperti tadi! Dia pantas mendapat pelajaran."

" Ya! Sudah ku katakan aku bukan anak kecil!"

Baekhyun mendelik, dia tidak percaya apa yang barusan ia dengar. Suara Chanyeol berusaha melebihi suara Baekhyun, sehingga hampir setengah dari kafetaria kampus menoleh ke arah mereka. Kyungsoo yang menyadari akan hal itu hanya bisa menunduk sambil menggumamkan kata maaf pada mahasiswa yang lainnya. Dia menghela napas panjang, memutar otak untuk melerai dua namja di hadapannya.

" Hey kalian, sudahlah! Sebenarnya, apa yang terjadi Baek?"

Selidik Kyungsoo, Baekhyun kini menarik nafas pelan, ini akan sulit jika Kyungsoo mendengarnya, ia agak meledak-ledak jika sedang marah.

" Tadi itu..

.

.

Flashback-

" Dengar! Perkenalkan, aku Chanyeol, dan aku hanya ingin kau mengembalikan barang miliknya, mengerti? "

" Kau?! siapa kau? beraninya?!" Kris terus menuding-nuding Chanyeol yang sekarang hanya berjarak dua langkah dari wajahnya. Ada aura persaingan sengit di antara keduanya, Kris terlihat begitu serius, sementara Chanyeol hanya menelengkan wajahnya memandang Bakhyun intens.

Namja itu mungil, tubuhnya seperti remaja tujuhbelasan, mungkin tingginya hanya sebahu Chanyeol.

" Kau tidak apa-apa kan adik manis?"

Baekhyun membuka mulutnya lebar, tidak percaya. Mungkin rahangnya terasa akan jatuh, karena saking tercengangnya. Dia di sebut apa barusan? Adik manis? Sedangkan empat namja lain yang mengelilinginya tertawa keras-keras, bahkan si wajah datar Sehun pun ikut tertawa mendengarnya.

Namja ini apa sih? hendak menolong atau malah ikut menghina?

" Kau?! Bicara apa? heh jangan bercanda!" Kris mendengus meremehkan. " Dia kau bilang apa? Manis? Seleramu rendah, bung!" Entah mengapa perkataan itu terdengar sangat canggung dan penuh dengan emosi, Baekhyun pun tak menangkap dengan jelas ekspresi Kris, karena Wu muda itu memunggunginya. Namun, didalam pernyataan tadi, Kris mendecih, seperti tidak terima mangsanya juga dilirik predator lain.

" Dia, terlihat ketakutan. Tidak bisakah kalian meninggalkannya, dan mengembalikan ponselnya, bersikaplah dewasa."

Chanyeol menoleh ke arah Kris yang masih memasang wajah kesal. Chanyeol mengerjap, sekali lagi memandang Baekhyun yang masih terpaku di belakang Kris. Sosok itu balik memandang datar ke arah Chanyeol.

" Kau dengar Byun Baekh? Bahkan dia menyadari kau manis! Kau terlalu imut untuk ukuran lelaki.. apa jangan-jangan kau ini yeoja?!"

Oh! Diamlah hitam. Baekhyun merutuk dalam hati, ia terlalu lelah dengan semua ocehan para raksasa ini.

" Aku ini namja! dasar hitam!" Suara Baekhyun terdengar datar dan dingin, namun si hitam Jongin tetap tersenyum memamerkan seringaian seksinya.

Tiba-tiba Kris maju selangkah lebih dekat dengan Chanyeol, suara hentakkan sepatu Kris menghentikan tawa empat namja lainnya. Semua mata tertuju pada dua namja yang tingginya hampir sama itu. Mendadak hawa di sekitar menjadi panas oleh tatapan menghujam milik Kris.

" Kalau aku tak mau, kau mau apa?" Kris berkata manly, suaranya terdengar seperti sebuah tantangan. Keduanya lalu terdiam, Baekhyun dan para Exo-pun tidak dapat mengalihkan pandangan mereka dari dua namja yang sedang adu deathglare.

Angin yang berhembus membawa daun-daun kering menari melingkar bersama debu. Suasana musim gugur di siang hari memang tak sedingin malam harinya. Namun, kali ini berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Baekhyun. Ia merasa mengigil melihat keduanya lama bertatapan. Membuat asam lambungnya terasa ingin naik hingga ke tenggorokan. Melihat apa yang di lakukan mereka Baekhyun ingin sekali berlari dan menghindari semua kegiatan bodoh ini, ia juga sudah berusaha agar tidak memperhatikan dua namja tinggi yang sedang meributkan dirinya. Namun matanya mengkhianatinya.

Matamu kelam serupa malam. Matamu membangkitkan kenangan yang terbakar, kebahagiaan yang muram, dan keluh kesah yang riang.

Syair dari buku Layla Majnun yang pernah di baca Baekhyun mengalir begitu saja di dalam kepalanya ketika mata mereka bertemu untuk waktu kesekian. Mata Chanyeol masih resah, sesekali melirik ke tempat Baekhyun yang menggeram tertahan, entah apa yang ada di otak Baekhyun sekarang, ia hanya ingin semua ini berakhir, cepat.

" Kekanakkan sekali." Chanyeol memulai, mendengus sedikit tersenyum meremehkan ke arah Wu muda yang sekarang sudah mengepalkan tangannya geram. " Apa mengerjai anak kecil lemah sepertinya membuat kalian puas? Apa kalian tidak di berkati dengan keahlian lain, selain menggoda orang yang lebih lemah? Kurang kerjaan.."

Anak kecil lemah?! Ia sungguh tak membantu! Seketika kekaguman terhadap namja yang menolongnya runtuh. Mungkin mata Baekhyun sudah sebesar mata Kyungsoo kali ini, karena sangat terkejut dengan penuturan namja penolongnya itu.

" Hey?! Tutup mulutmu!" Kris meninggi, sepertinya kali ini ia semakin marah, Tao dan Sehun melangkah sesegera mungkin memegangi pundak dan lengannya, bagaimanapun, tak ada yang boleh adu fisik di dalam kampus, sekalipun itu seorang Kris yang memang cucu dari pemilik SHCOART. Kris akan berada dalam masalah besar jika terus ber-argumen dengan namja asing ini. Ketika bel siang hari berdentang sebanyak tiga kali dari menara kampus, Tao dan Sehun berhasil menenangkan Kris lalu mengajaknya menjauh dari namja asing itu.

" Kau.. akan mendapat masalah, bung!" Seru Jongin yang kini terakhir meninggalkan Baekhyun lalu mengembalikan ponsel miliknya. Baekhyun masih terdiam di tempatnya, menggenggam erat ponselnya. Entah ia harus merasa senang atau kesal, senang karena namja ini sudah membantunya menghadapi para tiang listrik tadi, kesal karena namja ini tadi menyebutnya sebagai anak kecil yang lemah.

Eh? Dia tersenyum? senyumnya itu...

" Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Namja yang menolong Baekhyun pun berjalan pelan ke arahnya yang masih terpaku. Senyumnya itu terlihat aneh dan menyenangkan dalam waktu yang bersamaan. Baekhyun terus memandangi namja tinggi yang sudah menolongnya ini, namja itu terus mengoceh menanyakan keadaan Baekhyun tapi, ia malah tetap diam.

Dia.. aku seperti pernah melihatnya... Tapi, dimana?

" Kau.. siapa?"

Namja itu terhenyak mendengar pertanyaan itu dari bibir mungil Baekhyun.

" Eh? Apa tidak ada kata-kata terima kasih.."

.

End Flashback

.

.

" Ya Tuhan, si Wu itu maunya apasih?! Aku lelah mendengar tingkahnya."

Kyungsoo berucap sambil beringsut ke bangku di samping Baekhyun. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Tidak sekali duakali ia mendengar Pewaris SHCOART itu bertingkah, namun yang terasa lebih aneh mengapa hanya Baekhyun yang mengalaminya. Sementara Chanyeol meminum jus jeruk kalengan miliknya sambil mendengarkan dua sahabat ini membahas kejadian beberapa menit lalu.

" Kau yang mendengarnya saja lelah, bagaimana aku, yang selalu jadi targetnya." Baekhyun menopang dagunya, bertumpu pada kedua telapak tangan kecilnya. Bibir mungilnya bergerak terus menggumamkan kekesalannya pada Kris Wu. Awalnya Chanyeol memperhatikan keduanya berbincang, namun lama-kelamaan ia jadi lebih memperhatikan Baekhyun.

Namja mungil itu terlihat ajaib di mata Chanyeol. Mengapa Baekhyun bisa terlihat lebih bersinar dan lucu ketika menggerutu. Seluruh tubuhnya merespon dengan baik ketika dia bercerita, matanya seakan ikut berbicara. Cicitannya mengalun seirama dengan gerakan tangan dan bibir mungilnya. Ia terlihat seperti remaja yang sedang mengeluh kepada kakaknya. Chanyeol melihat ke sisi Kyungsoo yang mendengarkan dengan taat keluhan Baekhyun, Chanyeol juga menangkap senyuman hangat Kyungsoo untuk Baekhyun. Persahabatan yang indah, bukan?

Dalam hati, Chanyeol mensyukuri pilihannya untuk masuk ke dalam kampus ini. Di sini, untuk pertama kalinya ia melihat malaikat seindah Baekhyun. Penampilannya yang arogan namun masih terkesan imut. Oh! Bagaimana bisa seorang lelaki dikatakan imut. Walaupun tujuan utamanya masuk ke dalam kampus ini adalah untuk melarikan diri, namun sekarang ia mulai bersungguh-sungguh akan bersekolah di sini juga.

Chanyeol terhenyak sejenak.

Holy shit! Kenapa aku sampai lupa?! Rutuknya gusar dalam hati.

Matanya bergerak gelisah, menyisir keseluruh ruangan kafetaria, hingga ke luar jendela raksasa yang menampilkan taman luas di luar SHCOART. Mata Chanyeol melebar ketika kedua maniknya itu menangkap siluet-siluet yang harus dihindari oleh dirinya, gerak-geriknya menjadi waspada. Ia bergerak tiba-tiba, menimbulkan derit nyaring dari bangku yang tergeser kasar oleh kaki panjangnya.

Kyungsoo dan Baekhyun terkesiap. " Ada apa Chanyeol-ssi?" Kyungsoo bertanya mengedipkan matanya bingung, begitu juga Baekhyun, ia menatap Chanyeol penasaran. Lelaki ini bergerak tergesa.

" Aku harus pergi." Katanya sambil masih memandang sekitar dengan waspada. " Sampai juga lagi, Kyungsoo dan—" Chanyeol menjeda sejenak memandang sosok mungil yang masih terperangah menatapnya. Kedua maniknya bertabrakan dengan milik Baekhyun, Chanyeol bersumpah, sampai kapanpun ia tak akan melupakan awal perjumpaannya dengan malaikat yang begitu bersinar ini. "Baekhyun." Suaranya tercekat.

Chanyeol segera berlari dari kafetaria, dan menghilang di ujung koridor menuju gerbang belakang kampus. Manik bulat Kyungsoo menatapnya penasaran, sekelibat ingatan melintas di benaknya, sesuatu tentang Chanyeol yang sepertinya ia lupakan, tapi apa?

" Soo-ya? Kau melamun?" Baekhyun mengguncang bahu sempit Kyungsoo, menyadarkannya dari lamunan tentang Chanyeol.

" Ah? Tidak Baek, tapi sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?" Kyungsoo terlihat berpikir keras. Ia harus ingat, harus ingat, tapi otaknya seakan menolak untuk mengingatnya.

" Aku juga seperti pernah melihatnya ketika pertama melihat dari jarak dekat. Mungkin hanya perasaan kita saja, wajah seperti itu mungkin sudah sering kita temui." Baekhyun mengangkat bahunya acuh, mengingat wajah Chanyeol yang begitu khawatir saat menolongnya membuat perutnya terasa aneh. Lagi-lagi syair dari Nizami Ganjavi mengalun tenang di dalam kepalanya ketika ia membayangkan tatapan Chanyeol. Ia menggeleng pelan, menghilangkan suara-suara halus yang mengingatkannya terhadap namja asing tersebut.

" Mungkin—" Kyungsoo terdiam. Pandangannya menerawang ke arah di mana Chanyeol menghilang.

Baekhyun memandangnya jahil, " Eh? Kau memperhatikannya terus? Apa kau—menyukainya? Hem.." Kyungsso memandang sebal ke arah Baekhyun yang baru saja mencolek dagunya genit. Ia memutar matanya malas.

'Apanya yang suka? Aku malah lebih suka memperhatikanmu dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dasar bodoh!'

Kyungsoo menggerutu dalam hatinya, tak bisakah Baekhyun mengerti akan perasaannya, tak bisakah Baekhyun menangkap apa yang ia sampaikan melalui tatapannya, ini akan menjadi lebih sulit jika menyangkut tentang Baekhyun.

Namja mungil itu, punya sejuta daya tarik yang tidak biasa. Penampilannya yang arogan, terlampau santai, dan jiwa yang bebas menjadikan dirinya terlihat lebih istimewa dari namja lain. Tangan mungilnya bergerak cerdas membuat guratan-guratan sketsa indah. Bibir tipisnya biasa ribut mengeluh tentang bagaimana jahilnya Kris Wu, sesekali Kyungsoo juga mendengarnya melantunkan nada yang hangat dan harmonis. Ia juga mahir memainkan piano dan biola. Dan bagaimana bisa seorang mahasiswa seni rupa murni menyusun kata-kata indah menjadi sebuah sajak dan puisi, itulah Baekhyun. Sahabat yang tak ternilai bagi Kyungsoo.

Kyungsoo berusaha bangkit dari pemikirannya, memikirkan perasaannya terhadap Baekhyun hanya akan membuatnya semakin tersudut.

" Tidak seperti yang kau bayangkan Tuan Byun, tapi aku hanya penasaran." Kyungsoo berucap sambil merapikan beberapa paper work-nya, mendekapnya di dada lalu memandang Baekhyun yang sekarang sedang menimang buku Shakespare-nya. Baekhyun nampak tak memperhatikan, namun Kyungsoo yakin ia pasti mendengarkannya.

" Aku seperti sudah lama mengenalnya, tapi di mana?—" Kyungsoo menghela napas pelan, kata-katanya berusan menarik perhatian Baekhyun, ia mulai menoleh ke arah sahabatnya yang masih terlihat berpikir.

" Kau sudah mengucapkan itu tadi. Mungkin hanya perasaanmu saja. Oh—atau ia salah satu anak dari kolega keluargamu? Bukankah kau sering menghadiri jamuan minum teh atau pesta taman para konglomerat yang menjadi murid Appa mu di perkuliahan dulu." Kata Baekhyun ringan, namun terdengar seperti mencibir dirinya sendiri yang berteman dengan seorang anak konglomerat.

" Mungkin saja, Baek. Tapi ada sesuatu tentangnya yang begitu benar namun juga begitu salah."

" Hemm... bagaimana bisa benar dan salah sekaligus, Soo-ya? Sudahlah."

" Bisa saja jika itu dia. Tapi, Baek, aku yakin dengan pemikiranku tentangnya tadi."

" Terlalu banyak 'tapi' yang kau ucapkan, berarti itu hanya pendapatmu yang tidak kongkrit, baby Soo. "

" Bukan begitu Byun Baekhyun, kau harus percaya kali ini. Dia, sesuatu yang—"

" Soo?! Kau benar-benar—" Baekhyun mulai berkata frustasi, bagaimana bisa Kyungsoo begitu antusias membicarakan orang asing yang baru beberapa menit saja ia kenal. Ada perasaan dalam dadanya yang bergemuruh saat mendengar Kyungsoo memikirkan namja lain begitu keras di hadapannya.

Kyungsoo seperti sadar akan sesuatu, ia menegakkan duduknya. Keingintahuan Kyungsoo memang besar, Chanyeol itu bagaikan kepingan puzzle di dalam otaknya yang ia sendiri tak tahu harus meletakannya di mana. Ia memilah gambaran memori teman-teman semasa taman kanak-kanak sampai sekolah dasar yang semampunya ia ingat. Semua ingatan itu tak terlalu kuat, karena Kyungsoo sendiri terlalu kecil untuk mengingatnya.

" Tidakkah kau berpikir, dia itu sangat misterius? Aku seperti mengenalnya sejak lama, tapi aku juga merasa tidak mengenalnya."

" Bagaimana bisa 'kau mengenalnya' tapi 'tidak mengenalnya'? Itu membingungkan Soo-ya, lagipula kita baru bertemu dia hari ini bukan. Yang benar saja—wooh!" Baekhyun menggerutu tidak nyaman, sementara Kyungsoo semakin bersemangat membahas tentang betapa misteriusnya Chanyeol. Terlebih saat Kyungsoo menanyakan, apa Chanyeol seperti superhero saat menolongnya? Apa Chanyeol begini? Apa Chanyeol begitu? Jika itu bukan Kyungsoo yang bicara sungguh ia sudah meninggalkannya mengoceh sendirian. Mendengar nama Chanyeol seperti membakar telinganya.

Namja tinggi itu memang sudah menolongnya, tapi ingat juga, ia sudah membuatkan para Tuan Muda EXO itu julukan yang baru, adik kecil manis. Membayangkan sebutan itu lagi membuatnya bergidik ngeri. Mau di kemanakan imejnya sebagai mahasiswa seni yang arogan dan tampan.

" Tapi ia tak terlalu buruk, cukup tampan untuk menjadi rivalnya si Wu itu." Kyungsoo menganggukan kepalanya lemah, membayangkan jika Kris dan Chanyeol menjadi pesaing merebutkan Baekhyun. Keduanya mempunyai sisi kelaki-lakian yang hampir mirip. Yang satunya seperti malaikat, satu lainnya seperti iblis. Tapi tunggu! Ia menggeleng cepat, menghapus imajinasi yang baru saja ia gambarkan di kepalanya.

Aku ini apa-apaan sih?! Andwe! Andwe! Baekhyun akan bersamaku, selalu bersamaku.

" Bisakah kita tidak membahas orang itu lagi?! Kau tahu ia sangat menggangguku sejak—"

Baekhyun terus berbicara, ia tak suka Chanyeol yang tersenyum aneh, ia tak suka saat ia menatap matanya, ia tak suka ini, ia tak suka itu, namun Kyungsoo tidak terlalu memperhatikannya. Ia sibuk membuang bayangan buruk tentang Baekhyun-nya yang di rebutkan dua pria tinggi itu. Tiba-tiba Kyungsoo teringat perkataan Baekhyun beberapa waktu lalu.

Oh—atau ia salah satu anak dari kolega keluargamu? Bukankah kau sering menghadiri jamuan minum teh atau pesta taman para konglomerat yang menjadi murid Appa mu di perkuliahan dulu.

Pesta Taman!

" Baek?" Kyungsoo berusaha menghentikan Baekhyun yang masih mengoceh. Ia merangkul bahu Baekhyun,

" Apa ?!" Tanya Baekhyun sekenanya, seakan ia tak peduli lagi jika Kyungsoo memandang dirinya aneh seperti sekarang. Dahinya mengernyit sebal, kali ini adalah tetes terakhir dari jus kalengannya jadi ia mendesah gusar lalu meminumnya dengan sekali tenggak. Kyungsoo menghela napas ringan sebelum mengatakannya. Ia mengistirahatkan kepalanya di bahu sahabatnya membuat Baekhyun sedikit lebih tenang dan mengendurkan posisi duduknya, lalu ikut menyandarkan kepala ke kepala Kyungsoo.

" Aku harus ada di Seoul besok, jadi nanti malam aku harus berangkat." Kyungsoo berbicara dengan berat hati, tapi ia harus mengatakan ini, ia juga tak ingin dianggap anak yang tak berbakti.

" Ada apa?"

" Pesta taman keluarga pemilik Park Co. Aku harus menghadirinya, karena Appa-ku sedang berada di Harvard University untuk seminar. Tak apa kan jika kau sendirian di apartemenku? Hanya tiga hari."

" Aku mengerti. Klub orang kaya? Semacam menikmati sore hari di taman buatan yang di tumbuhi banyak bunga-bungaan juga tanaman buah persik yang ranum, ah—tidak, apel. Apel yang manis dan harum? Hum?" lagi-lagi perkataan sarkastik yang keluar dari bibir tipis Baekhyun. Untuk sepersekian detik ia lupa bahwa ia memiliki sahabat yang merupakan anak dari seorang Profesor besar Uninersitas negeri di pusat kota Seoul. Jangan lupakan, bahwa Kyungsoo adalah anak lelaki terakhir. Mempunyai kakak perempuan memang sangat tak membantu. Urusan kolega keluarganya harus selalu ia hadiri jika ayahnya berhalangan. Sedangkan kakak perempuannya tenteram menjadi dokter dan tidak terusik oleh kegiatan-kegiatan seperti pesta-pesta sekarang ini.

" Baek sudahlah." Kyungsoo ikut tertawa kecil mendengar pernyataan Baekhyun, ia memainkan ujung kemeja Baekhyun lalu berkata lagi, " Apa kau tahu? Park Co. Punya seorang anak laki-laki yang tak pernah sekalipun hadir di setiap acara keluarganya. Padahal dia adalah putera satu-satunya, dan menjadi pewaris dari 80 persen kekayaan keluarganya. Bahkan tak ada satupun kolega dari keluarga Park yang pernah melihat wajahnya ketika dewasa. Menurut kabar ia bersekolah di China untuk waktu yang sangat lama."

Baekhyun memejamkan matanya, menyamankan posisi kepalanya di atas kepala Kyungsoo. Sebenarnya ia tak ingin melanjutkan pembicaraan tentang bagaimana para konglomerat hidup. Tapi ini yang bercerita adalah Kyungsoo, dan siapakah Baekhyun yang bisa menolak Kyungsoo.

" Tapi Park Co. Itu punya seorang anak perempuan 'kan?"

" Dari mana kau tahu Baek?" Kyungsoo bangkit, terkesiap oleh ucapan Baekhyun. Setahunya Baekhyun tidak tertarik dengan kehidupan para pengusaha kaya yang ada di negeranya. Ia lebih tertarik membicarakan buku-buku terjemahan yang dikoleksi oleh perpustakaan kampusnya. Seni memang sudah menjadi napasnya. Tapi tidak dengan bisnis.

" Aku pernah melihat artikelnya. Yoeja itu agak—kau tahulah... " Baekhyun menjawabnya dengan santai, ia mengingat-ingat apa yang di tulis oleh artikel di sebuah majalah. Ada sebuah foto yeoja manis yang rambutnya diikat ekor kuda, memakai dress polkadot selutut yang berwarna peach lembut, membawa sebuah boneka kelinci merah muda dan terlihat takut ketika di foto. Baekhyun masih terbawa oleh pemikirannya sendiri tentang yeoja manis anak bungsu keluarga Park yang super konglomerat, seolah tak peduli betapa terkejutnya Kyungsoo.

Kyungsoo hanya mengangguk lemah sambil lalu merapikan kembali paper work-nya. Baekhyun bangkit dari duduknya lalu mengajak Kyungsoo untuk membahas beberapa tugas di perpustakaan. Ini masih siang, jadi ia mempunyai banyak waktu untuk membaca sebelum ia berangkat kerja paruh waktu. Kyungsoo langsung mengiyakan ajakannya, lalu berjalan beriringan dengan tenang.


Sudah sepuluh menit sejak kejadian di koridor kampus dan Kris masih belum menyentuh makan siangnya. Ia hanya menatap kosong dan mengaduk-aduk fettuchine con funghiyang tersaji di hadapannya. Matanya menjelajahi struktur krim jamur yang meleleh bersama pasta pipih yang panjang. Terlihat lezat dan anggun dengan taburan lada hitam dan tambahan paprika merah seperti makanan kesukaannya sejak kecil. Sejak kecil Kris memang sangat menyukai pasta, apapun bentuknya asal dengan saus krim jamur dan paprika. Aroma manis sekaligus asin menguar saat Kris mencoba untuk menggulung pasta pipih pada garpu. Terbersit bayangan-bayangan masa kecilnya dengan seorang yeoja yang sangat menyayanginya dan telah mengasuhnya. Yeoja itu memiliki wajah secerah mentari, bibir mungil tipis, kulit seputih mutiara dan selembut beledu, rambut panjang bergelombang yang selalu tergerai. Pahatan senyum dari bibirnya selalu menghangatkan hati Kris. Setiap sentuhannya selalu di rindukan oleh Kris kecil yang kehilangan ibunya sejak ia lahir. Yeoja itu yang selalu membuatkannya pasta, pengasuhnya itu sangat menyayanginya layaknya anak sendiri. Dan yang membuatnya selalu teringat oleh yeoja pengasuhnya itu adalah Baekhyun. Dan itu menyebalkan menurut Kris.

Mengapa wajahnya begitu mirip? Jika saja Baekhyun itu Yeoja, jika saja...

Dentingan piano milik Junmyun meyadarkan Kris dari lamunan. Traumerei karya Schumann, Mahasiswa Seni Musik itu memang cukup berada, ia membeli sebuah piano cantik yang masih di jajaran kategori piano akustik, Upright piano yang berkonstruksi kayu, 88 tuts, kotak akustik serta senar-senarnya. Tetapi yang membedakan dengan grand piano adalah posisi kotak akustiknya yang berdiri. Dengan konstruksi seperti itu, piano model itu menghemat tempat. Jadi Junmyun melilih piano jenis ini untuk diletakan di studio ini. Kris melirik sebentar ke arah jemari Junmyum yang menari cerdas di atas tuts-tuts mungil dan menciptakan lantunan nada harmonis. Ia mendesah lemah lalu mulai melahap suapan pertama yang melelehkan krim dengan taburan pedas lada hitam di lidahnya.

Sekarang para Exo sedang berada di studio milik Kris hanya berbeda dua ruangan dari kafetaria. Studio milik Kris memang terlihat luas dan rapih dengan nuansa abu-abu di mana-mana. Ada tiga buah stand lukis satu di antaranya ada sebuah lukisan setengah jadi yang sengaja tak di selesaikan dan dibiarkan begitu saja di sudut studio.

Di dekat lukisan itu ada sebuah nakas yang di atasnya tersusun rapi cat-cat air beragam warna, mulai dari warna termuda hingga warna tergelap, sebuah vas bunga besar yang dijadikan tempat kuas-kuas, sebuah tempat pensil, dan beberapa buku. Semua tersusun rapi dan bersih karena Kris tidak suka sesuatu yang tidak terorganisir dan jorok, ia terbiasa dengan sesuatu yang bersih dan rapi.

Di sudut lain studio juga terdapat lemari buku yang tidak terlalu besar, berjejer rapi buku-buku sastra terjemahan dari berbagai negara. Kebanyakan yang berbahasa Inggris. Di sampingnya terdapat sofa merah lembut yang sangat nyaman, ada tiga buah bantal imut nan anggun bersandar manja pada sandaran sofa yang rendah, dan Sehun sedang membaca dengan tekun di atasnya, dentingan piano Junmyun membantunya berkonsentrasi.

Hanya tinggal dua orang lagi, Zitao dan Jongin. Mereka mempunyai studio terpisah di sebelah studio milik Kris, menurut Jongin, mereka butuh ruang yang lebih tenang ketimbang studio Kris yang selalu ramai dengan suara-suara musik klasik milik Junmyun. Lagi pula mereka juga membutuhkan ruang gelap dan remang untuk mencuci fotogram.

Studio foto dengan lampu merah remang, yang di dindingnya terpajang berbagai macam hasil potretan dua Mahasiswa Fotografi itu. Ada beberapa botol cairan untuk membuat fotogram, terdiri dari cairan pengembang (developer), cairan penyetop (stop bath), dan cairan penetap (fixer). Di meja terpisah terdapat kertas foto dan negatif film yang disusun rapih.

Tangan tangkas Zitao sedang memasukkan selembar kertas foto negatif dengan penjepit ke cairan kimia foto satu persatu mulai dari developer selama dua menit,lalu ia menuangkan stopbath ke gelas ukur khusus cairan kimia di Bak (berbentuk segi empat untuk tempat cairan kimia cetak yang ukurannya cukup untuk kertas foto yang akan kita cetak,biasanya 10 R sampai 12 R) selanjutnya, ia mencelupkan lagi sekitar 10 detik, dan terakhir cairan fixer.

Mata pandanya bergerak melebar mencari wadah air di cahaya yang remang. Ia mengerang sedikit, melihat wadah untuk air belum terisi. Dengan gerakan yang sigap dan tenang itu ia menuangkan air bersih ke wadah lalu mencuci lembar foto itu dengan dengan air. Zitao terlihat anggun dan lincah. Ia mengambil sebuah penjepit kertas motif panda lembut untuk menggantung hasil cucian fotonya pada tali yang membentang dihadapannya untuk dikeringkan dengan pemanas.

Sedangkan Jongin, ia sedang memindai beberapa foto yang diambil dengan kamera digital miliknya. Di dalam ruang yang remang hanya ada cahaya dari Macbook-nya. Mata elangnya bergerak seiring dengan tangannya yang lincah menggeser scroll pada mouse. Matanya terpaku pada folder rahasia yang berada di dalam diskdrive Macbook . Selama ini Zitao tidak pernah mengutak-atik Macbook milik Jongin karena ia selalu melarangnya, dan Zitao maupun anggota Exo yang lainnya juga tak mengetahui tentang isi folder rahasia itu.

Ketika Jongin membuka filenya, ia dihidangkan dengan pemandangan yang membuat wajahnya merona dan tersenyum lembut. Seperti ada getaran aneh di dalam dadanya, gemuruh yang ia rasakan membuat hatinya nyaman. Tangannya terangkat membelai salah satu foto yang meng-close up wajah orang itu. Ada ribuan foto seorang namja yang memang sudah Jongin kagumi sejak lama, dan Jongin sama sekali tidak memperbolehkan satu orangpun—termasuk juga para Exo, untuk mengetahuinya. Karena ia menyukai sesama namja ia takut juga ikut di bully oleh Kris. Bagi Jongin Kris itu lebih menakutkan dari apapun.

Karena terlalu terlena memandangi layar Macbook-nya ia tak sadar bahwa Zitao sudah keluar dari ruang gelap tempat menggantung hasil cucian fotonya.

" Jongin-ah, aku sudah menyelesaika—whoaaa?! Inikan foto orang itu? Kenapa ada banyak sekali?" Tao beringsut duduk di kursi sebelah Jongin. Mata pandanya berbinar seperti anak kecil yang sedang menyaksikan hujan permen coklat.

" I-ini bu-bukan, i-ini hanya—bukan si-siapa-siapa..." Jongin terkesiap dan reflek menutup lalu mendekap Macbook miliknya. Sementara tangan Zitao melayang-layang mencoba meraihnya, namun dihalangi dengan punggung bidang Jongin

" Hey?! Coba sini aku lihat!"

" Shireo! Ini.. bukan apa-apa Tao-ya! Ini hanya—"

" Hanya? hanya apa?! Siniii aku mau lihat! Ya! Kim Jongin! Aku hanya ingin lihat, mengapa tidak boleh?!"

" Tidak! Maksudku, ja-jangan dulu. Ini sample untuk tugas ku. Ya, tu-tugas!" Alis Jongin berkerut gelisah, bibir tebalnya terkatup rapat dan jakun di lehernya bergerak naik-turun. Tenggorokannya juga terasa amat kering. Ia harus membuat Zitao lupa akan hal ini, sebelum leader mereka tahu.

" Eich?! Jangan berbohong! Tugas kita sudah ku selesaikan. Tugas yang mana lagi? Tugas sebagai pengagum rahasia? Heh~" Zitao bersenandung meledek, sementara Jongin duduk dengan tak nyaman. Udara pengap di dalam ruangan seakan menambah kesesakan di dalam paru-parunya. Seandainya studio ini di berikan AC mungkin akan sedikit lebih sejuk, namun akan mengurangi kualitas dalam mengeringkan fotogram.

" Jongin! Jangan bilang kalau kau—" Zitao menggantung kata-katanya. Ia mendelik ke arah Jongin yang masih tertunduk membelakanginya.

Mati aku!

" Kau kenal dengan orang itu?" Tanya Zitao dengan suara parau.

Apa yang harus aku katakan? Zitao itu dekat sekali dengan Kris.

" Ya! Kim Jongin. Jawab aku! Kau kenal dengannya?"

Tentu saja aku kenal!

" Tidak. Aku hanya sering melihatnya. Menurutku dia sangat photogenic , ia juga subjek yang bagus."

" Benarkah? Orang itu yang selalu terlihat bersama Mahasiswa Byun itu?" Dahi Zitao mengernyit berusaha mengingat-ingat wajah orang itu. Memang tak terlalu buruk, ia malah sama mungilnya dengan Baekhyun.

" Jongin-ah."

Oh. Jongin benci nada itu ketika Zitao memanggilnya.

" Y-ya?" –glup! Jongin menelan salivanya kasar. Jongin memang tak melakukan kesalahan yang fatal. Ia hanya diam-diam mengagumi orang itu. Bahkan ia tak pernah bertegur sapa dengannya. Jongin memang tidak akan menyakiti hati Kris atau siapapun di Exo jika ia menyukai orang itu, namun, Kris memegang semua kendali. Saham keluarga Jongin di dalam kendali perusahaan milik keluarga Kris, jadi ia tak bisa macam-macam. Hanya saja, siapa pun yang berurusan dengan Mahasiswa Byun akan berhadapan dengan Kris. begitupun orang itu. Orang itu dekat sekali dengan Mahasiswa Byun, jadi Jongin tak ingin menyentuhnya barang sedikit.

"Siapa namanya? Aku lupa." Zitao berucap dengan lucu, ia kembali terduduk di bangku, sambil menggaruk dahinya yang tak gatal.

" A—ku juga tak tahu. Aku hanya memotretnya saja" Jawab Jongin dusta

Do Kyungsoo. Namanya Kyungsoo, Zitao-ya. Dan kau tak perlu tahu.

Bibir tipis milik Zitao membentuk huruf ' o ' sambil lalu menanggukan kepalanya lemah. Jongin kembali pada posisinya, menaruh Macbook-nya di meja. Ia menghela nafas berat, memandang Zitao yang masih merenggangkan tangan dan lehernya, tak pernah terbanyangkan, mengelabui Zitao akan semudah ini.

" Kau mau makan ramyun setelah ini? aku sangat lapar Jongin-ah." Zitao bersuara setelah menggeliat, suaranya seperti rengekan anak kecil yang meminta balon pada ibunya. Jongin sedikit meringis menahan tawanya, Zitao yang terlihat begitu manly saat membidik kamera ternyata juga sangat manis saat melakukan aegyo.

" Baiklah. Kajja! Setelah itu kita ke studio Kris."

Zitao tersenyum, bangkit lalu mengekor di belakang Jongin yang sudah lebih dulu melangkah meninggalkan studio milik mereka. Yang Zitao tak sadari, seringaian halus terpampang di bibir tebal Jongin.

Semoga Zitao lupa tentang hal ini.


.

.

.

Suhu kota Gwangju pada malam ini seperti malam-malam kemarin, masih dingin mengigit, walaupun masih malam di musim gugur. Semilir angin malam masuk melalui celah jendela pos parkir lalu menusuk hingga ke tulang. Malam ini, Baekhyun bertugas lagi. Ini sudah malam kedua setelah Kyungsoo meninggalkannya sendirian di apartemen miliknya. Ia sesekali menelepon Baekhyun menanyakan keadaan dan apa yang ia makan. Mendengar kekhawatiran sahabatnya yang berlebihan ia hanya mengulum senyum dan tentunya sambil menyebutkan Kyungsoo nomor satu. Ia suka saat Kyungsoo memperhatikannya, seolah ia tak pernah kehilangan sosok ibu dalam hidupnya. Soal makan, Baekhyun berkata pada Kyungsoo agar tak perlu khawatir, ia sedikit banyak bisa memasak makanannya sendiri.

Baekhyun mengecek kembali pesan yang dikirim Kyungsoo beberapa menit lalu yang menanyakan apa ia membawa jaket malam ini, sepertinya akan turun hujan. Baekhyun hanya menertawakannya lewat ketikan pesan balasan yang berisikan saran agar Kyungsoo jangan terlalu percaya dengan ramalan cuaca di televisi. Dan, well, lebih sering ramalan cuaca itu meleset.

Ia melihat jam weker mini yang bertengger manis di samping buku bacaannya di atas meja. Pukul sepuluh lewat limabelas menit. Baekhyun tak terburu-buru membereskan barang bawaannya, karena ia hanya membawa keperluan kuliah yang tadi siang saat kerja paruh waktu, Baekhyun memandang ke luar jendela, walaupun sudah hampir tengah malam, tapi kota ini masih ramai dengan kelap-kelip lampu gedung dan lalu lalang kendaraan.

Tiba-tiba terdengar suara desiran lembut yang teratur . Baekhyun mendongakkan kepalanya keluar jendela yang terbuka, matanya menangkap siluet titik air deras yang meluncur anggun dari langit. Aroma segar khas tanah dan debu yang terhantam oleh air pun menguar hinggap di hidungnya. Ternyata Kyungsoo benar, malam ini akan hujan.

Baekhyun beringsut duduk di kursi,terkulai lemah memandang tas dan buku-bukunya. Sekarang mau diapakan? jika hujan tidak juga reda sampai pukul sebelas ia terpaksa meninggalkan semuanya di dalam pos, dan kembali lagi besok pagi saat akan berangkat kuliah. Tapi itu akan membuang banyak waktu, karena Baekhyun harus memutar melewati perkantoran tempatnya bekerja, sementara halte bus yang ke kampusnya berada di arah sebaliknya. Itu tak akan mudah, pikirnya.

Tiba-tiba ponsel dalam sakunya bergetar. Dengan malas ia mengangkatnya, ia tahu siapa yang akan menelepon menjelang pukul sebelas malam seperti ini. Itu Kyungsoo, dia pasti diceramahi habis-habisan.

" Ya? "

" Hei, kenapa suaramu? Dan apa di sana hujan?" Terdengar kikikan halus diseberang telepon, alunan musik klasik juga dentingan samar kaca yang bertabrakan. Sepertinya bukan kaca, tapi kristal.

" Kau bisa dengar suara bisingnya bukan? Semakin malam semakin deras saja. Bagaimana nasib paper dan buku-bukuku?"

" Eh? bukankah sudah kubilang? Apa tidak ada payung? Perlu kuminta Pak Jung menjemputmu?"

" Aku belum mencarinya. Dan, terima kasih, aku tak mau menunggu tiga setengah jam sampai Pak Jung datang. Soo-ya, kau kira jarak antara Seoul dan Gwangju seperti toko ramyun ke apartemenmu?"

Kyungsoo tertawa kecil, lalu terdengar suara lelaki dewasa berdeham di sampingnya. Seketika suara Kyungsoo jadi bungkam.

" Soo? Ada apa?"

" Aku sedang di kediaman Park Ahjusshi Baek, dan seperti yang sudah-sudah, pangeran Park Co. itu tak hadir lagi. Padahal aku penasaran." Di seberang Baekhyun dapat membayangkan wajah merajuk Kyungsoo yang manis. Segala sesuatu yang ada di diri Kyungsoo itu manis dan lucu. Ia mempunyai mata bulat indah dengan binar, bibir tebal yang akan membentuk heartshape jika tersenyum lebar, pipi yang menggembung merona jika sedang sebal. Baekhyun jadi rindu.

" Baek aku tutup dulu ya? Eomma memanggilku, sepertinya aku juga akan bersiap-siap pulang, Eomma juga menanyakanmu, apa makanmu baik? Dan kau, hati-hati saat pulang, ne?"

" Sampaikan salam rinduku pada Eommonim, aku makan dengan baik. Kau juga hati-hati. Kau nomor satu, Soo. Selalu. Bye"

Kyungsoo tertawa kecil, sambil mengucapkan salam lalu menutup teleponnya.

Sekarang Baekhyun sendirian lagi, rasanya hanya sebentar Kyungsoo meneleponnya. Suara gemericik hujan masih mendominasi di sekitarnya. Pada saat seperti ini hanya satu atau dua kendaraan saja yang lewat di parkirannya. Baekhyun memandang keluar jendela, di luar ada seorang namja tinggi memakai hoodie hitam dan memakai payung, namja itu membawa banyak sekali jus jeruk di kantung belanjanya. Baekhyun jadi ingat kejadian dua hari lalu di kafetaria, saat ia bertemu pertama kali dengan namja yang memiliki senyuman aneh namun membuatnya mempesona. Ia hampir lupa dengan postur wajah namja itu, namun suara beratnya masih selalu terngiang jelas di telingan Baekhyun. Sepertinya sudah lama sekali ia tak bertemu.

Apa masih bisa ketemu?

Tiba-tiba pintu posnya ada yang mengetuk kasar, Baekhyun bergidik, siapa malam-malam begini yang menganggunya? apakah perampok? atau hantu?

Memikirkan hantu, ia jadi menghendikan bahunya ngeri, apa ada hantu di tempat ramai begini?

Dengan waspada ia membuka pintu pos itu, matanya membulat sempurna dan ia menemukan seorang namja tinggi dengan rambut coklat gelap, jas hitam,dasi kupu-kupu pada kemeja putihnya, dan celana hitam yang keseluruhannya basah kuyup. Dan di tambah lagi, namja itu tersenyum lebar dengan bibir birunya yang bergetar. Ia kehujanan.

" Ka-kau?! " Baekhyun tak bisa berkata lagi, ia sangat terkejut. " Ba-bagaimana bisa kau?"

Namja itu masih tersenyum memandang Baekhyun dengan mata lelahnya.

" Hai Baekhyun, kita bertemu lagi."


Maaf buat hiatusan yang lamaaaaaaa banget yaa :3, buat bab ini aku buat sepanjang mungkin, semoga gak bosen ya :3 Aku masih bingung bikin diksinya, bahkan ff ini ngegantung selama berminggu-minggu #Yaampun "T_T .. ngerasa stuck, stress, bahkan bingung banget mau lanjut apa gak. Bener-bener gak dapet feel selama nerusin part yang ini..
Buat yang masih nunggu ff ini makasih banyak :'3 #emangada? #ngarep ... chapter selanjutnya akan aku kasih full ChanBaek dan a little Kris's family story, dan penculikan Baekhyun ha-ha-ha # last, kasih apresiasi kalian lagi yuk di kolom komen, saran dan kritik sangat membantu aku loh,
saranghaja!
Pansy :3