School Fighter
By two-one kf
Disclaimer:
Naruto dan kawan kawan itu punya Kishimoto-sensei. Author hanya meminjam tanpa ijin resmi dari di pemilik.
Sinopsis:
Naruto Uzumaki, seorang remaja kelas sepuluh di Konoha Gakuen yang doyan berantem. Pada suatu malam, saat Naruto baru pulang mengerjakan tugasnya dia bertemu seorang gadis aneh yang meminta bantuannya.
Warning:
Kata-kata kasar
Bahasa slang!
CRACK!
Fem!9
Story start!
Pagi hari menyingsing, burung-burung berterbangan riang sambil berkicau merdu, memainkan musik alam di pagi yang indah.
Di sebuah apartemen elit di kota bernama Konoha, seorang remaja laki-laki berumur 15 tahun sedang tertidur pulas.
Tik... tok... tik... tok...
KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII~NG!
Si remaja mulai menggeliat berusaha untuk tidur lagi. Dering jam beker terus bertambah keras membuatnya tidak bisa tidur, tangan kanannya muncul dari balik selimut dan mencari jam beker di meja samping tempat tidurnya.
Plop.
Setelah tangannya memegang benda yang tidak asing itu, sang remaja mengangkat jamnya untuk melihat pukul berapa sekarang.
"...Jam setengah enam..."
Remaja itu meletakkan kembali jam bekernya dan berusaha bangkit dari kasur hangatnya.
"Eh?" ucap si remaja kebingungan karena tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dengan ekspresi kebingungan, dia mencoba mengangkat tangan kirinya tapi malah terasa berat, begitu juga dengan tubuhnya.
Dia mulai merasa panik dan mencoba melihat apa yang membuat tubuhnya berat. Remaja itu memasukkan tangan kanannya ke bawah selimut dan meraba-raba mencari penyebabnya.
Gyuut~
"Kok gyuut~ sih?" tanyannya bingung. Lalu, dia mencoba merasakan benda itu.
'Bulat?'
Gyuut~
"Tunggu... ja-jangan-jangan?" ucap remaja itu mulai berkeringat saat menyadari benda apa yang memiliki tekstur yang seperti itu.
Tangannya perlahan memegang selimutnya dan menyingkapnya, Remaja itu melotot begitu melihat apa yang menahannya.
Tertidur lelap sambil memeluk erat tubuhnya, sang gadis misterius itu menggunakan lengan kirinya sebagai bantal.
Dan dia tidak mengenakan pakaian sehelai pun, sehingga remaja itu bisa melihat kulit putihnya yang tidak tertutup apapun.
Sinar matahari masuk ke dalam kamar melalui jendela di dekat kasur membuat gadis itu mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.
Remaja itu mematung saat gadis tak dikenalnya bangun sepenuhnya.
"..."
"..."
"EEEEEHH!"
Chapter 2
Musibah atau rezeki?
Naruto tidak bisa mempercayai apa yang terjadi barusan. Pertama, dia bangun gara-gara jam beker sialan itu dan mendapati gadis yang ditemukannya kemarin berada satu ranjang dengannya.
Kedua, Gadis itu sekarang sedang memandanginya dengan mata tanpa ekspresi, masih berada di kasurnya dengan posisi duduk.
Dan yang ketiga, dia tidak memakai pakaian sehelai pun. Untungnya, gadis itu menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah keburu dilihat Naruto.
Naruto yang masih remaja polos itu segera memalingkan wajahnya, "Ke-kenapa kamu nggak pakai baju!?" kata Naruto terbata-bata sambil menahan malu.
"...Ah?"
"JANGAN JAWAB KAYAK GITU!?" teriak Naruto sambil memalingkan kepalanya, berusaha untuk tidak melihat tubuh gadis itu. Di sudut matanya, Naruto melihat pakaian si gadis tergeletak disamping payung merahnya yang berada di dekat lemari.
Naruto segera merangkak mengambilnya dan melemparkannya ke gadis itu, "Cepat pakai bajumu!" perintah Naruto sambil memandang dinding kamarnya.
"Baiklah..." ucap gadis itu pelan, dia memungut pakaiannya yang tadi dilemparkan Naruto padanya dan beranjak bangun dari kasur Naruto lalu mulai memakai bajunya persis di depan Naruto.
"GAH! Jangan memakai bajumu di depanku!" teriak Naruto heboh karena dia tanpa sengaja melihat lagi.
"Ah, apa tidak boleh?" tanya gadis itu dengan polos.
"Tentu saja tidak! Kamu ini kan seorang gadis! Punya sedikit rasa malu dong!" ujar Naruto sambil berusaha menghalangi pandangannya.
"Malu?"
Suara pelan gadis itu terdengar sangat dekat dengan telinga Naruto. Secara reflek si remaja pirang itu membuka matanya dan melihat iris merah tua yang menatap balik pada mata biru Naruto.
Muka Naruto merah padam karena gadis di depannya masih setengah berpakaian. "Ya! Dan kubilang, cepat pakai bajumu!" teriak Naruto panik.
Sejak dari kecil, Naruto sudah diajari untuk menghormati wanita. Dan karena didikan ibunya, sampai sekarang dia tidak berani melanggarnya walau ibunya tidak ada disekitarnya.
Ibunya selalu tahu apa yang dilakukannya entah bagaimana caranya.
Untungnya Naruto teringat kalau dia harus ke sekolah hari ini, jadi dia segera beranjak keluar kamar. "Aku mau mandi dulu! Nanti datang ke meja makan dan pastikan kau sudah berpakaian dengan benar!" perintah Naruto sambil membuka pintu.
BLAM!
Gadis itu hanya memiringkan kepala melihat Naruto keluar sambil membanting pintu.
"...?"
XDengan Naruto...X
Naruto berdiri bersender di balik pintu kamarnya sambil menairik nafas panjang. Tiba-tiba saja, otaknya kembali memainkan memori yang didapatnya beberapa saat lalu.
Wajah Naruto kembali memerah saat mengingatnya.
'Jangan Naruto! Jangan pikirkan! Ah ya! Lebih baik kau mandi sekarang, mumpung masih pagi.' Pikir Naruto berusaha menghilangkan pikiran joroknya dan berusaha tenang.
Setelah merasa cukup tenang, Naruto segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandinya sambil terus berusaha untuk melupakan apa yang terjadi beberapa menit lalu.
Sekitar 10 menit kemudian, Naruto sudah selesai mandi dan segera mengambil seragamnya yang untungnya tidak dia taruh di kamarnya.
Setelah dia memakai seragamnya, Naruto yang merasa sebagai tuan rumah yang baik segera memasak sarapan simpel untuk mereka berdua.
Naruto berjalan menuju meja makan dengan membawa dua piring yang berisikan omelet.
"Ini untukmu." Kata Naruto memberikan salah satu piring pada gadis itu sembari duduk di ujung meja.
Si gadis mengambil bagiannya dan mengamatinya sesaat, Naruto meliriknya sekilas lalu mulai melahap sarapan buatannya.
Melihat Naruto makan dengan lahap, dia memutuskan untuk mencoba masakan Naruto. Si gadis misterius itu membelalakkan matanya saat lidahnya merasakan sarapannya.
"...Enak."
"Sama-sama." Balas Naruto singkat.
Suara jam dinding menemai mereka berdua makan dengan tenang. Dentingan sendok dengan piring terdengar secara perlahan, beberapa menit kemudian mereka berdua menyelesaikan sarapan masing-masing.
"Ngomong-ngomong, aku ingin tahu, bagaimana kamu bisa pingsan di depan pintu apartemenku?" kata Naruto memulai pembicaraan setelah dia menaruh piring mereka di wastafel.
"Aku... kyah!" saat hendak menjawab pertanyaan Naruto, tiba-tiba saja gadis itu berteriak kesakitan.
"Hei, kamu tidak apa?" tanya Naruto panik sambil menghampirinya.
Gadis itu mengeryit menahan sakit sambil memegang kepalanya. Lama-kelamaan, reaksinya semakin mereda yang membuat Naruto jadi sedikit lega.
"...Sakit... tidak mau mengingatnya..." kata gadis itu dengan suara pelan, wajahnya masih menunjukkan ekspreksi kesakitan.
Melihat hal itu, Naruto meraih cangkir tehnya dan memberikannya pada tamunya, "Ini, minumlah."
Gadis itu mengambilnya sambil menggumamkan terima kasih pelan pada Naruto.
Naruto hanya mengangguk melihat gadis itu meminum tehnya. Lalu, Naruto melirik jam dindingnya, "Sudah jam enam lebih lima belas menit. Sebaiknya, aku berangkat sekarang saja."
Naruto mengambil tasnnya yang berada di atas meja dan berjalan menuju pintu, "Jangan pergi kemana-mana oke? aku tidak mau kena masalah nanti." Pesan Naruto padanya.
Seperti saat pertama bertemu, gadis itu tidak menghiraukan pesan Naruto dan terus menatap cangkir teh ditangannya, tenggelam dalam pikirannya.
Naruto hanya menghela nafas pelan karena dicuekin, "Ya sudah, aku akan pulang jam tiga nanti. Sampai jumpa."
*fwmp*
Setelah Naruto menutup pintu, barulah gadis itu mengangguk dan meletakkan cangkirnya.
Karena tidak ada hal untuk dilakukan, gadis itu memutuskan untuk melihat-lihat kamar apartemen Naruto.
Apartemen Naruto bisa dibilang adalah kelas atas, dengan lebar yang hampir sama dengan rumah sederhana, itu sudah membuatnya sangat cukup untuk ditempati oleh seorang anak sma.
Gadis yang namanya masih belum diketahui itu sampai di dapur, disana dia melihat sebuah benda yang dibalut kain putih rapi, karena penasaran, dia mencoba membukanya.
"...Obento?"
|Konoha Gakuen|
Setelah Naruto keluar dari apartemennya, dia segera menuju ke SMA-nya dan bertemu dengan Shikamaru. Mereka berdua ngobrol santai selama perjalanan, biasanya, perjalanan dari apartemen Naruto ke Konoha Gakuen memakan waktu sekitar 15 menit.
Saat mereka sampai di gerbang sekolah, mereka kembali melihat sekumpulan siswi dengan jubah seragam.
Kali ini, Naruto sudah mengenali si ketua Rozen Herz. Tenten yang saat itu sedang memimpin anggota gengnya melihat Naruto dan mengangguk padanya yang membuat Shikamaru bergumam, "Merepotkan."
Setelah mengucapkan salam singkat, mereka berdua berpisah menuju kelas masing-masing. Naruto berada di kelas X-7 sedangkan Shikamaru dan Chouji berada di kelas yang sama, X-10.
Langkah kaki Naruto bergema saat dia berjalan menyusuri lorong sambil menikmati alunan musik dari headphone kesayangannya.
Naruto berjalan menaiki tangga, kelasnya ada di lantai dua SMA. Disini, Konoha Gakuen memiliki banyak sekali ruang kelas, satu jurusan saja ada lebih dari 20 ruang kelas yang berbeda, dan Konoha Gakuen itu punya enam lantai.
Memang sih, Konoha Gakuen adalah sekolah ternama di kota Konoha. Selain karena memiliki fasilitas nomor satu, Konoha Gakuen juga dihuni oleh ratusan petarung dari seluruh penjuru kota. Setidaknya, para petarung Konoha Gakuen hanya mengincar sesama petarung di sekolah itu.
Naruto berhenti di depan sebuah pintu yang tertulis kelas X-7 dan membuka pintunya. Naruto memasuki kelasnya dengan santai, berbeda dengan teman sekelasnya yang langsung mematung begitu Naruto masuk ke kelas.
Selama ini, Naruto terkenal karena rekor terlambat sekolahnya yang belum pernah dipecahkan oleh orang lain, dan melihat Naruto masuk sekolah tepat waktu selama dua hari berturut-turut adalah fenomena ganjil bagi penghuni sekolah.
Bahkan, ada beberapa siswa yang terang-terangan merundingkannya.
"Eh? Itu benar Naruto kan?"
"Masa' sih? Dia kan selalu terlambat? Kok tiba-tiba berangkat pagi sih?"
"Mungkin dia tobat. Kemarin juga datang pagi kan."
Naruto jadi emosi sendiri mendengar komentar dari teman sekelasnya yang menganggapnya seperti sedang tidak ada.
"WOI! JANGAN NGOMONGIN GUE KAYAK GUE NGGAK DISINI!" teriak Naruto emosi.
Tiba-tiba saja seluruh kelas terdiam dan langsung kembali ke tempat duduk masing-masing. Melihat hal itu, Naruto mengira kalau mereka takut padanya, sampai...
"Berteriak di kelasku, kukurangi 20 poin." Sahut sebuah suara dari ambang pintu.
Naruto membeku mendengar suara itu, seperti robot, dia memutar lehernya sampai bertemu dengan wali kelasnya.
"Untungnya, karena kau datang tepat waktu, nilaimu kutambah empat poin." Lanjut Kakashi-sensei yang sedang berdiri menyandar dengan santainya di ambang pintu.
Naruto hampir membalas ucapan gurunya, untungnya, tangannya ingat apa akibatnya jika melawan guru Bahasa Inggrisnya itu dan langsung menutup mulut Naruto.
Kakashi menyeringai senang saat melihat Naruto langsung tutup mulut, "Bagus kalau kau sudah mengerti Naruto. Sekarang, kembali ke kursimu atau nilaimu kukurangi lagi." Ancam Kakashi santai.
"Si-siap pak!" sahut Naruto.
'Terkadang jadi guru enak juga.' Batin Kakashi.
Xskip!X
Triiiiiiiiiiiii~ng!
Suara bel pergantian jam yang seolah-olah berasal dari surga itu berjasa membuat seluruh siswa bahagia. Guru juga sama, Kakashi-sensei menutup bukunya sambil menghela nafas senang.
'Akhirnya istirahat juga. Icha-icha i'm coming!' batinnya senang.
"Yah, karena hari ini ada rapat guru, jadi waktu istirahat kalian akan diperpanjang. Pergi istirahat sana, syuh~" Ujar Kakashi santai mengusir siswanya.
"Dan jangan lupa untuk kerjakan tugas kalian yah? Yang lupa, tidak perlu kuingatkan, kan?" lanjut Kakashi yang membuat semua siswa memasang tampang 'Oh my god!'
Pasalnya, jika tidak mengerjakan tugas dari guru berambut perak itu, akan diberikan pengalaman tak terlupakan seumur hidup.
"Terutama kau Naruto."
Tidak peduli sedikitpun dengan ancaman gurunya, Naruto langsung meregangkan badannya begitu sensei-nya pergi, "Uaah~ akhirnya, jam istirahat datang juga! Sudah nggak sabar makan nih." kata Naruto dengan riang gembira karena perutnya sudah bentrok meminta jatah.
Biasanya, Naruto akan membeli roti di kantin lalu makan siang di atap sekolah bersama kedua sahabatnya. Tapi untuk menghemat pengeluarannya, kadang-kadang dia membuat bekal dari sisa sarapannya.
Naruto segera mengambil tasnya dan mencari bekal buatannya. "Eh lo? Kok nggak ada?" tanya bingung.
Walaupun sudah merogoh ke segala sudut, tapi Naruto tetap tidak menemukannya.
"Jangan-jangan... bekalku masih ada di dapur tadi, sial!" Ujar Naruto setelah ingat kalau dia memang tidak membawa bekalnya.
'Padahal sudah bikin susah-susah, kalau begitu... cuma ada satu cara...' batin Naruto.
'Harus ngutang ke Shikamaru lagi.'
Naruto segera berlari keluar kelas untuk mencari uang sahabatnya. Begitu melangkahkan kaki keluar, Naruto sudah bertemu Shikamaru yang sedang berjalan menuju kelasnya.
"Yo, Naruto." Sapa Shikamaru.
"Yo, Shikamaru. Mana Chouji? masih belum masuk?"
"Belum." Jawab Shikamaru singkat sambil menghampiri Naruto.
"Ngomong-ngomong, Shikamaru. Ada hal yang harus kubicarakan, ini penting. Benar-benar penting." Kata Naruto dengan muka sok serius.
"Apa? Kau ingin ngutang lagi kan?"
"Tahu darimana!?" tanya Naruto kaget.
"Kelihatan dari wajahmu. Ya udah deh, kali ini kutraktir. Tapi besok kau harus membayarnya."
"Yeah! Kau memang penyelamat Shika!" ujar Naruto senang karena perutnya akan mendapatkan haknya.
Setelah negosiasi yang tidak bisa disebut negosiasi tentang masalah perut Naruto selesai, mereka berdua segera menuju kantin sekolah yang berada di gedung tengah Konoha Gakuen.
Konoha Gakuen terbagi menjadi lima gedung utama. Empat gedung kelas yang masing-masing didirikan di empat penjuru mata angin dan satu gedung berada di tengah yang berfungsi sebagai kantor guru dan kantin utama.
Setelah berjalan menyusuri lorong yang cukup panjang, mereka berdua sampai di depan pintu kantin raksasa.
Begitu memasuki kantin, mereka berdua langsung disambut dengan kerumunan siswa yang saling berdesakan. Keributan memang sering terjadi di kantin utama, dan untuk mengatasi hal tersebut, kepala sekolah membangunnya di gedung utama agar para guru bisa mengawasi.
Tapi karena sekarang sedang ada rapat, tidak ada guru untuk mengawasi mereka.
Dari apa yang bisa mereka dengar, sepertinya ada seorang gadis berambut merah tak dikenal yang sedang duduk di sebuah kursi sendirian. Dan gadis yang dimaksud itu memilik paras yang cantik.
'Gadis berambut merah?' pikir Naruto curiga.
Naruto mulai merasa curiga saat menerobos kerumunan siswa yang menghalangi jalan bersama Shikamaru yang mengekor. Beberapa perjuangan kemudian, Naruto bisa melihat siapa yang membuat mereka semua heboh.
Ternyata benar apa yang dia kira.
Sedang duduk di sebuah kursi, gadis yang tadi pagi dia suruh untuk tidak kemana-mana malah muncul di kantin sekolahnya. Gadis itu duduk dengan tenang seperti seorang Lady, bahkan cara dia duduk pun terlihat elegan.
Sikapnya yang kalem dan elegan itu membuat semua siswa jadi tertarik, termasuk tiga orang siswa senior yang sedang mengelilinginya.
Dia sama sekali tidak menggubrisnya dan meneruskan apa yang dia lakukan.
"Hei cewek, sendirian aja nih. Sini, gabung sama kita-kita yuk." Goda seorang senior dengan nada mesum.
"Iya, kita akan melakukan berbagai hal menyenangkan."
"Hehehe... mereka berdua benar. Ikut saja dengan kami." Tambah salah satu dari senior itu mencoba meyakinkan si gadis sambil menjulurkan tangannya.
Semua penonton yang hadir itu menunggu reaksi gadis itu.
Dengan keras, gadis berambut merah itu menepis tangan salah seorang senior yang hendak mencoleknya.
"Ah, aku sedang menunggu seseorang." Ujarnya datar.
"Lupakan saja dia, masih lebih asyik kami kok, coba saja." Bujuk senior yang berada di sampingnya.
Entah kenapa, saat Naruto melihat gadis yang kemarin dia selamatkan digoda seniornya, Naruto merasa aneh dan jadi emosi sendiri.
Naruto berjalan perlahan dengan muka tanpa ekspresi ke arah gadis itu lalu berhenti tepat di depannya. Merasa ada seseorang yang berhenti di depannya, si gadis mendongak dan mendapati tuan rumahnya berdiri disitu dengan raut wajah tidak senang.
Tapi sepertinya gadis itu tidak mempedulikannya, dia malah langsung berdiri dan membuka mulutnya, "Ketemu..."
"Ketemu? Apa maksudmu ketemu?" tanya satu senior bingung.
"Ini..." kata gadis itu dangan nada default-nya sambil memberikan sebuah bingkisan kotak pada Naruto.
Naruto menerima bingkisan kain berbentuk kotak itu dengan bingung dan membuka kain pembungkusnya, "Ini kan... bento?" kata Naruto setelah melihat isinya.
"Bento milikmu tertinggal di rumah..." jawab gadis itu.
"Hah? Kamu jauh-jauh datang kesini cuma buat mengantarkan bento ini?"
Gadis itu hanya mengangguk tanpa ekspresi membuat Naruto sweatdrop.
"Kamu tahu kan? Kamu tidak perlu repot-repot melakukannya." Kata Naruto.
Shikamaru melihat kawannya bercakap-cakap dengan perempuan aneh itu dan menyadari kalau di sekitarnya mulai berisik lagi.
"Hey! Gadis itu memberikan bento pada Naruto!"
"Hah? Serius lu!"
"Iya, tuh. Sst! Diam! Mereka berbicara lagi."
...
Naruto memandang gadis di depannya yang membalas pandangannya.
Mereka berdua saling berpandangan seolah-olah dunia milik berdua.
Setidaknya itu pikiran para siswi penggila hal-hal berbau romantis saat Naruto dan gadis itu terus saling menatap tanpa berbicara sepatah kata pun.
Kumpulan siswi itu menutup mulut mereka berusaha untuk menahan teriakan fangirling mereka saat mendengar Naruto berbicara lagi.
"Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk tetap tinggal di rumah dan menungguku kan." Kata Naruto sambil mendesah pelan.
Gara-gara dia datang ke sini, Naruto bisa merasakan masalah yang akan segera mendatanginya.
"Tapi, aku hanya ingin berterima kasih..." Jawab gadis itu.
"Untuk apa?"
"...Semuanya."
*kyaaaah~!*
Belum sempat Naruto mengajaknya untuk segera pergi dari kantin, dia sudah disela dengan pekikan girang.
Seluruh siswi yang berhati 'romance' berteriak nyaring yang membuat para siswa mendelik ganas sambil menutup telinga mereka.
Naruto juga menutup telinganya secara reflek dan melihat sekelilingnya dengan penuh emosi. Tapi, apa yang dilihatnya malah membuatnya bingung.
Puluhan siswi mengeluarkan handphone mereka dan mengarahkan kameranya ke Naruto yang saat itu sedang menggenggam tangan gadis itu. Secara bersamaan mereka semua mulai memfoto Naruto.
*Now Loading 3%...*
*Now Loading 27%...*
*Now Loading 53%...*
*Now Loading 86%...*
*Now Loading 97%...*
*Loading Complete*
Otak Naruto segera merumuskan apa yang sedang terjadi. Walaupun butuh waktu loading yang agak lama, akhirnya otak Naruto memberikan jawaban yang memuaskan.
Wajah Naruto mulai memucat saat mengerti apa yang terjadi.
Ada seorang gadis cantik yang datang ke sebuah sekolah yang mayoritas penghuninya itu berandalan hanya untuk membawakan sebuah bento untuk seorang Uzumaki Naruto, siswa dengan rekor terlambat paling lama sepanjang sejarah didirikannya Konoha Gakuen.
Ditambah lagi, dia tadi terdengar gelisah karena gadis itu datang ke sekolahnya.
Dan posisinya sekarang yang sedang memegang tangan gadis misterius itu sama sekali tidak membantu.
Benar-benar ambigu.
'Gawat!' pikir Naruto panik, 'Aku harus segera pergi, bisa jadi masalah kalau aku kena gosip.'
Tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkan para siswi yang sedang ber-fangirling ria, "Ada apa ini? Kok ramai sekali."
Mereka yang sedang berteriak geje segera menoleh dan mendapati Kakashi-sensei berdiri dengan tampang bosannya. Ditangan kanannya, ada sebuah buku dengan cover berwarna oranye yang terlihat familiar.
"Ah! Hatake-Sensei. Err... sebenarnya, ada seorang gadis cantik yang datang menemui Uzumaki."
"Ha? Jangan bohong ah. Mana mungkin ada seseorang yang mau sama Uzumaki." Kata Kakashi-sensei dengan penuh canda.
"Serius sensei! Silahkan lihat sendiri." Ujar seorang siswi sambil memperlihatkan foto yang barusan dia ambil.
"..." Untuk pertama kalinya, Kakashi speechless.
Disitu terpampang jelas kalau Naruto sedang berpegangan tangan dengan seorang gadis yang tak dikenalnya. Dan si gadis sedang memberinya bento. Saking tidak percayannya, Kakashi sampai menjatuhkan buku kesayangannya.
Saat sedang mencari celah untuk kabur, Naruto melihat Kakashi di kerumunan dengan ekspresi shock. Begitu tahu, ada wali kelasnya disana, Naruto segera memanggilnya sambil berharap kalau Kakashi akan membantunya.
"Sensei!" teriak Naruto senang. "Sensei, cepat tolong a-!".
"Naruto." Potong Kakashi-sensei cepat sebelum Naruto menyelesaikan omongannya.
"-Ya?"
"Membawa seorang gadis tak dikenal ke sekolah..." ujar Kakashi dengan nada yang membuat bulu kuduk Naruto merinding disko.
"I-iya?"
"Aku tidak akan menghukummu Naruto..."
Mendengar jawaban Kakashi, Naruto sudah mau bernafas lega sebelum Kakashi mulai berbicara lagi.
"...soalnya, aku akan menelpon ibumu."
Gleger!
"JANGAN! JANGAN BERITAHU IBUKU!" Pinta Naruto dengan wajah pucat pasi.
"Oh? Dan apa yang membuatmu berpikir aku akan menurutimu, Naruto?"
"Ka-kalau Sensei tidak memberitahu ibuku, aku tidak akan terlambat lagi!" Ucap Naruto cepat-cepat.
"...Semua orang juga bisa melakukan itu."
Naruto mulai berkeringat dingin, membayangkan wajah murka sang ibu membuatnya ketakutan. Si gadis misterius yang melihat ekspresi ketakutan Naruto meraih tangan kanannya dan meremasnya pelan.
Naruto menoleh melihat wajah si gadis yang menatap matanya tidak berkedip. Walaupun bermuka tembok, tapi entah bagaimana, Naruto seolah mengerti kalau gadis itu berniat membuatnya tenang.
Menuruti keinginannya, Naruto mengambil nafas panjang dan menenangkan dirinya. Setelah merasa cukup tenang, Naruto menutup mata berusaha memikirkan apa yang akan membuat guru bermaskernya senang.
Tidak berapa lama kemudian, Naruto membuka matanya yang membuat Kakashi menaikkan alis. Dengan mantap, Naruto membuka mulutnya, memberikan sebuah tawaran manis kepada gurunya tercinta.
"Kalau begitu. Aku tidak akan mendapatkan nilai dibawah KKM dalam mata pelajaran bahasa Inggris."
"...Menarik, tapi tidak. Kalau kau berjanji semua nilaimu seenggaknya naik beberapa persen, akan kupikirkan."
"Itu... oke."
Kakashi mengangguk puas mendengar jawaban Naruto, dia memungut kembali buku oranyenya dan memandang santai pada para siswa yang berkumpul.
"Semuanya bubar sekarang juga. Kalau tidak, nilai kalian akan kukurangi." Ancam Kakashi sambil kembali membaca bukunya.
Seolah disihir, gerombolan siswa yang awalnya menyesaki kantin segera berkurang drastis karena diancam Kakashi yang notabene seorang guru berpengaruh. Setelah hampir seluruh siswa pergi, Naruto menyeka keringat dinginnya dan berterima kasih pada wali kelasnya.
"Fuu~h, aku berhutang padamu Kakashi-sensei."
"Aku hanya akan membantumu sekali ini saja lho." Ucap Kakashi sambil berjalan pergi, sebelum dia menghilang di ujung lorong, Kakashi menoleh, "Satu lagi, akan kutunggu janjimu."
Naruto mengangguk pelan.
"Jadi... karena kau sudah dapat makan siangmu... kita ke atap?" Kata Shikamaru yang baru berbicara sejak keramaian tadi.
"Atap."
"Bagaimana dengan dia?" tanya Shikamaru sambil menunjuk gadis berambut merah yang terdiam disamping Naruto.
Naruto melirik gadis itu sebentar dan memikirkan apa yang dilakukan padanya.
"Ayo ikut kami ke atap." Kata Naruto singkat. Gadis itu hanya mengangguk membiarkan Naruto menuntunnya menuju atap.
Melihat temannya sudah berjalan menuju atap bersama dengan gadis aneh itu, Shikamaru menghela nafasnya dan bergumam, "Mendokusei."
Shikamaru diam sebentar sebelum akhirnya mengikuti Naruto.
Kenapa?
Karena Shikamaru menyadari, sesaat sebelum Naruto pergi, ketiga senior yang tadi menggoda gadis itu memberi deathglare dan berbisik-bisik sambil menunjuk Naruto.
|Konoha Gakuen: Atap Sekolah|
Seperti kemarin, Naruto dan Shikamaru sedang menikmati istirahat mereka yang hanya satu jam itu. Hanya saja, sekarang mereka ditemani oleh seorang gadis berparas cantik yang terus-terusan diam memandangi langit.
"Oi, Naruto. Sebenarnya siapa gadis itu? Dia kelihatan seperti sudah mengenalmu." Tanya Shikamaru sambil menggigit roti cokelatnya.
"Aku juga tidak tahu. Dua hari yang lalu, setelah aku pulang mengerjakan tugas, dia tiba-tiba muncul begitu saja dan kemarin aku menemukannya pingsan di depan apartemenku."
"Lalu?"
"Eh, entahlah." Jawab Naruto asal.
Sementara itu, si gadis yang dimaksud masih diam saja sambil memainkan payung merahnya yang dia bawa. Tiba-tiba saja, perutnya berbunyi yang membuat Naruto memandanginya.
"Ah?" Gumamnya pelan.
"Kamu lapar? Nih makan saja bekalku." Ujar Naruto sambil menyodorkan makan siangnya.
"Tapi ini bekalmu..."
"Makan saja." Perintah Naruto tegas.
Menyerah dengan pertarungan kecil mereka, gadis itu menerima bekal Naruto dan membuka tutupnya. Diambilnya sumpit yang telah disediakan Naruto didalam, dengan jari lentiknya, gadis itu menggunakan sumpitnya untuk mengambil secuil nasi dan memposisikannya di depan mulut Naruto.
"Eh?" tanya Naruto bingung.
"..." Gadis itu tidak menjawab dan terus menahan posisinya.
"Kamu mau aku juga makan?"
Mengangguk.
Akhirnya, Naruto menurut dan membuka mulutnya membiarkan gadis berambut merah itu menyuapinya.
Naruto menguyah bekal masakannya sambil menikmati rasanya. Karena melihat Naruto makan dengan lahap, gadis itu mencoba bekal buatan Naruto.
"...Enak." Kata gadis itu setelah menelan sesuap makan siangnya.
"Tentu dong, yang masak aku sih." Ucap Naruto bangga. Kalau soal masak, Naruto sangat bangga dengan kemampuannya yang satu itu. Soalnya dia sudah lama hidup di apartemen, jadi sudah biasa masak sendiri.
Tiba-tiba saja, Shikamaru memanggil Naruto, "Oi, Naruto."
"Ada apa?"
Masih dengan posisi tiduran, Shikamaru menjawab, "Ada yang ingin kubicarakan. Ingat tentang ranking yang kuberitahu kemarin?"
"Ya." Jawab Naruto singkat.
"Rankingmu naik lagi. Kali ini langsung 20 peringkat." Kata Shikamaru memberitahu Naruto.
"APA!? 20 peringkat!? Serius!?" tanya Naruto tak percaya.
"Ya, dan kenaikanmu itu juga direkomendasikan oleh ketua Rozen Herz. Sesuatu terjadi kemarin kan? Apa itu?"
"Kemarin sore aku menghajar sekelompok preman karena menghina ibuku. Kurasa saat itu, si cewek cepol menontonku dari balik dapur." Jawab Naruto sambil merengut mengingat-ingat kejadian kemarin.
"Dari balik dapur?" Tanya Shikamaru penasaran.
"Ah iya, kau belum tahu kan? Ternyata dia bekerja paruh waktu di kedai ramen favoritku."
"Kau ini memang penuh dengan keberuntungan... atau kesialan." Ucap Shikamaru disela-sela tidurnya. "Aku hampir lupa, kau juga dapat julukan gara-gara hal itu."
"Julukan? Julukan apa?"
"Baca saja sendiri. Sekarang aku mau tidur, bangunkan aku saat bel berbunyi nanti." Pesan Shikamaru sebelum memasuki alam mimpi meninggalkan Naruto bersama gadis berambut merah yang masih menikmati bento Naruto.
Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung untuk Naruto yang ditinggal tidur oleh Shikamaru. Naruto melirik gadis disebelahnya yang memperhatikan kota setelah mengembalikan kotak makan siang Naruto.
"Hei, kamu sudah tahu namaku kan?" tanya Naruto memancing percakapan.
Gadis itu menoleh sedikit dan mengangguk lalu kembali memandang Konoha.
"Kalau begitu, siapa namamu?" Tanya Naruto begitu ingat kalau dia belum sempat menanyakan namanya.
"Aku? Namaku... siapa?"
Naruto facepalm sendiri saat gadis itu malah balik bertanya, "Apa maksudmu kamu nggak tahu namamu sendiri?"
"Ah, aku tahu namaku. Tapi aku tidak tahu."
"..." Naruto poker face.
"Apa maksudmu kamu tahu tapi tidak tahu!"
"Ah, itu ada di ingatanku... tapi seperti ada sesuatu yang menahannya." Ujar gadis itu singkat lalu ganti memperhatikan dua ekor burung yang sedang bermain di dekat mereka.
Karena gadis itu asyik dengan kegiatannya sendiri, Naruto memutuskan untuk mencari artikel tentang dirinya di Konoha School Underground.
Tidak perlu waktu lama, laman utama situs gelap Konoha Gakuen terbuka.
"Mari kita lihat, apa yang membuatku naik 20 peringkat. Sebentar... ah ini dia!" Kata Naruto bersemangat saat menemukan apa yang dicarinya.
Di lama utama situs gelap itu, Naruto mendapati ada satu post tentang dirinya yang cukup banyak dilihat. Makin bersemangat, Naruto dengan tidak sabar mengklik link post tersebut.
Konoha School Underground.
The Golden Ashura.
Seorang siswa dari kelas X-7 baru-baru ini direkomendasikan oleh sang Ratu Senjata, Higurashi Tenten. Siswi yang dikenal tangguh dengan senjata itu tanpa ragu segera menaikkan peringkat siswa tersebut sebanyak 20 ranking, sebuah rekor kenaikan peringkat dalam sejarah yang baru.
Menurut pendapat sang Ratu, dia memutuskan untuk melakukan hal itu lantaran dia menyaksikan bagaimana petarung dengan nama lengkap Uzumaki Naruto itu mengalahkan lawannya. Menurut pengakuannya, Uzumaki Naruto bertarung dengan sekelompok preman tanpa menerima luka sedikitpun.
Walaupun, preman-preman itu memiliki ranking yang sangat rendah, tetapi sang Ratu tetap bersikeras dan bahkan memberikan julukan pada Uzumaki Naruto, yaitu The Golden Ashura.
Di akhir, Higurashi Tenten sempat berkata, "Jika kalian tidak percaya, cukup lawan dia, dan kalian akan tahu kenapa aku melakukan hal tersebut."
Setelah puas membacanya, Naruto berteriak senang, "Yosh, aku harus berterimakasih pada cewek cepol itu. Gara-gara dia, pasti akan ada banyak pertarungan yang menantiku!"
Tiba-tiba saja gadis disebelahnya bertanya, "Kenapa... suka bertarung?"
"Kenapa aku suka bertarung?" ulang Naruto sambil memikirkan alasan kenapa dia menyukai pertarungan. Sementara si gadis mencurahkan semua perhatiannya pada Naruto.
"Kurasa... itu karena aku punya seorang adik kecil, dia benar-benar berharga bagiku."
"Apa mempunyai adik kecil membuat seseorang senang bertarung?"
"Eh? Tidak juga sih, aku hanya tidak ingin hal buruk terjadi pada adikku, makanya aku selalu terlibat dalam perkelahian hanya untuk melindunginya. Saat sudah besar nanti, pasti akan ada banyak cowok yang tertarik padanya, sudah tugasku sebagai kakaknya untuk menjaganya" jawab Naruto dengan mata penuh dengan tekad api.
"Kalau begitu... apakah kau kuat?" ucap Gadis itu dengan polos sambil memainkan payugnya.
"Tentu saja! Aku bahkan sampai menarik perhatian seorang raja Konoha!" ujar Naruto bangga soalnya walaupun sudah pernah terdengar sebelumnya, bisa menarik perhatian seorang raja adalah hal langka.
"..." Lawan bicaranya memilih untuk tidak membalasnya dan menatap mata biru Naruto.
"Aku..."
"Ng? Ada apa?"
"Tidak... tidak ada apa-apa..."
Karena satu-satunya orang yang bisa diajak bicara sudah memindahkan perhatiannya, Naruto meneruskan kembali kegiatannya mencari informasi.
Beberapa menit kemudian, Naruto akhirnya bosan dan mematikan gadgetnya. Melihat Shikamaru yang tertidur pulas, Naruto menirukannya dan membaringkan tubuhnya sambil memperhatikan awan yang bergerak perlahan.
Naruto menutup matanya dan membiarkan angin menerpa rambut pirangnya dan menikmatinya. Sambil tiduran, pikirannya kembali ke saat dimana gadis itu memberinya pertanyaan tadi, yang membuatnya berpikir kembali.
'Tapi... apa aku benar-benar telah menjadi kuat?'
|Tebece|
Yosha~! Chapter 2 selesai! Akhirnya, tugas author kelar semua dan bisa lanjut.
Hanya saja di chapter ini nggak ada adegan bertarung, tapi tetap tenang, chapter depan kemungkinan bakal ada pertarungan.
Dan seperti biasa, setelah selesai update satu fic, author bakal lanjutin fic author yang lain. Dan jadwal update yang nggak tetap karena guru author yang selalu senang karena sering kasih tugas dadakan, yang jelas kalau nggak sabtu ya minggu.
Oke, POJOK AUTHOR!
Review
Nectarinia: Naruto memang lebih mementingkan ramen daripada pertarungannya, harap maklum.
Tamma: Tenang, gadis berambut merah itu bukan dari anime lain. Dia sudah sering muncul di berbagai fic kok.
Darmawanz Manitu: Sorry, author lupa kasih warning diatas. Yang jelas, two-one kf nggak akan menulis pairing mainstream walaupun itu OTP kecuali untuk beberapa fic mungkin. Lagipula, fanfiction ada untuk bereksperimen, kalau nggak suka, silahkan membaca fic dengan pair kesukaan anda.
Arramsye rudyezavfiin: Oke terima kasih dukungannya. Memang sengaja buat fic dengan tema seperti ini karena di fandom Naruto Indonesia kebanyak fic romance, bukan berarti author nggak suka romance.
Guest: Nggak login nggak masalah, yang penting sudah mau review sudah bikin senang.
Annisa alzedy: Keluarganya Naruto masih hidup.
Guest: Naruto bisa menang lawan 20 orang tanpa lecet gara-gara lawannya menyerang disaat bersamaan yang akhirnya malah pada tabrakan, makanya Naruto menang mudah dengan memanfaatkannya.
Mikuni Ichida: Mirip Crows Zero? Kayaknya begitu ya? Tapi serius, 100% nggak terinspirasi dari Crows Zero.
Buat reader yang sudah mau review, terima kasih banyak!
Stay tune!
