I'm back! Sorry lagi, internetku masih bermasalah.
Terima kasih buat yang masih mau ngikutin cerita ini. Enjoy!
Not Such A Luck
BPOV
Kubuka mataku perlahan—dan merasakan rasa sakit desekitar kakiku. Sinar lampu ini terasa sangat menyilaukan dimataku. Kukerjapkan mataku beberapa kali—memastikan aku bisa melihat dengan normal.
Oh tidak. Padahal baru sehari di phoenix—dan bahkan ini belum genap satu hari—tapi kecerobohanku sudah mulai beraksi.
Aku memandang kesekeliling ruangan, kosong, dimana Alec? Kucoba untuk menggerakan kakiku. Ough, sakit. Ternyata kaki kananku di gip. Apa yang terjadi padaku? Dan selang infus tolol ini menghalangi ruang gerakku.
Saat aku beranjak duduk seorang suster masuk ke dalam kamar.
"Oh, kau sudah bangun? Bagaimana persaanmu? Apa masih ada yang terasa sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja." Jawabku, mengabaikan sedikit nyeri di kakiku. "Apa yang terjadi, suster? Kenapa aku bisa sampai disini?"
"Kau tidak ingat?" Kugelengkan kepalaku "Well, tadi kau tertabrak mobil, sayang. Untung yang menabrakmu itu lekas membawamu kemari, jadi tidak ada yang terlalu serius."
Sekelebat gambaran kejadian itu muncul di kepalaku.
"Dia ada disini bersama kakakmu. Aku lihat mereka sedang mengobrol di lorong."
"Penabrakku?" tanyaku terkejut.
"Ya." Suster—kulirik nametagnya—Kate mengamati wajahku sebentar. "Kau mau aku panggilkan mereka?"
Baru saja aku ingin kabur dari ranjang ini untuk menemuinya. "Ya. Terima kasih."
"Jangan sungkan, sayang." Suster Kate keluar setelah memberikan suntikan padaku—untung dia menyuntikkannya ke selang infusku. Jangan salah, hanya karena aku sering masuk ke IGD belum tentu aku kebal dengan jarum suntik.
Kutunggu penabrakku datang sambil mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelum aku tidak sadarkan diri. Aku pikir saat itu aku melihat Edward dan berusaha untuk mengejarnya. Dan aku juga sempat menatap wajahnya dan dia menatapku balik. Tapi aku salah—setelah kuingat-ingat lagi—tatapannya bukan tatapan terkejut karena melihatku, tapi sorot ketakutan yang terpancar dari matanya. Apa dia tidak mengenalku?
Sebelum aku berpikir lebih jauh lagi, pintu kamat terbuka. Kulihat Alec masuk, tapi Alec sendiri. Dimana dia?
"Hei, kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" Alec bergegas menghampiriku dan duduk di sisi ranjang. Tapi ada sesuatu yang aneh.
"Aku baik-baik saja, Alec. Dokter yang berlebihan karena memasang gip ini. . ." Kulihat raut wajah Alec dan menghentikan perkataanku.
"Kau bilang dokter berlebihan?! Tulang kaki mu patah, Bella. Beruntung patahnya seketika, jadi dokter bisa menanganinya. Dan apa yang kau harapkan? Kau berharap kau hanya pingsan saja setelah apa yang kau lakukan?!" Tanya Alec masih dengan nada sedikit tinggi.
"Umm. . ." Aku menciut dipandang tajam oleh Alec. "memang apa yang kulakukan?" Aku benar-benar merasa tolol karena tidak tau sama sekali apa yang kulakukan. Alec menatapku heran.
"Oh, tidak banyak, kau hanya lari ke depan mobil yang sedang melaju kencang." Nada suaranya sarkastik. "Beruntung kau hanya patah kaki dan memar-memar di beberapa tempat! Dan apa yang kau harapkan, Bella, apa?!"
Kubiarkan Alec menumpahkan semua unek-uneknya. Setelah nafasnya mulai normal kembali, aku mulai berkata.
"Aku hanya. . .aku tidak sadar apa yang kulakukan, Alec. Yang aku tau, tiba-tiba saja aku sudah berada didepan. . .tunggu, dimana dia? Dimana orang menabrakku?" Aku melihat kearah pintu, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang akan masuk. "Suster bilang kau sedang bersamanya."
Alec terlihat sedikit bingung. "Dia. . .um. . .dia ada urusan jadi harus pergi sebelum bisa menemuimu. Tapi dia menitipkan ucapan permintaan maaf padamu, BellaP padahalkan dia tidak salah." Kalimat terakhir terdengar sepertu gumaman. "Oh ya, Uncle dan Aunt sedang kemari, mereka sampai dibandara beberapa menit yang lalu dan langsung menuju kesini."
Nada suara Alec berbeda, apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Tapi apa yang dia sembunyikan? "Alec, apa dia Edward?"
Alec sedikit tersentak dengan pertanyaanku, tapi dia cepat-cepat mengubah ekspresinya. "Kau ini, Bella! Sudah kukatakan kalau Edward sudah meninggal. Dan bukan, dia bukan Edward."
Aku tidak percaya padanya. Aku yakin kalau yang kulihat itu Edward bukan orang lain. Kubuka mulutku untuk melakukan protes tapi sebelum sepatah katapun terucap dari mulutku, Alec sudah terlebih dahulu bicara.
"NamanyaTony, Bella. Dia berasal dari sini, tinggal disini, punya pekerjaan disini. Bahkan dia belum pernah datang ke Forks, bagaimana bisa itu Edward, Bella?"
Butuh waktu cukup lama untuk memahami perkataannya. Dan setelah semuanya masuk dalam otakku bagaikan potongan puzzle yang telah menemukan kepingannya yang terakhir, aku merasakan ada sesuatu yang hangat membasahi pipiku. Benarkah itu bukan, Edward? Tapi aku tidak mungkin salah mengenalinya, dia yang paling aku kenal, dan aku yang paling mengerti dia. Jadi aku tidak mungkin salah mengenalinya, kan? Ini tidak masuk akal.
Aku tahu di dunia ini memang ada beberapa orang yang mirip, tapi tidak ada yang benar-benar mirip. Bahkan saudara kembar identikpun punya perbedaan, meski tidak terlihat secara signifikan. Tapi aku yakin dia seratus persen Edward. Aku yakin itu.
Tapi perkataan Alec menghancurkan keyakinanku. Dia bilang namanya Tony, bukan Edward. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana mungkin?
"Bella?"
Aku mendengar suara seseorang memanggilku dari arah pintu. Ternyata Uncle dan Aunt sudah datang. Aunt Athe langsung memelukku erat.
"Oh, sayang, bagaimana keadaanmu? Bagaimana bisa seperti ini?" Aunt memelukku dan melihatku dengan tatapan prihatin, memperhatikan kakiku lalu beralih pada Alec. "Dan kau, Alec, kenapa kau tidak menjaga adikmu dengan baik?!"
"Maaf, Aunt." Alec menunduk sambil mengusap-usap kepalanya.
"Tidak Aunt, ini bukan salah Alec. Aku sendiri yang ceroboh."
"Bella." Uncle Caius memelukku, berhati-hati dengan selang infusku.
"Aku baik-baik saja, Uncle. Jangan menghawatirkanku berlebihan seperti itu." Gerutuku.
"Bagaimana bisa hari pertama kau disini langsung menginap dirumah sakit? Kau bahkan belum sampai dirumah." Caius beralih menatap Alec. "Apa kata dokter?"
"Well, tulang kakinya patah. Tapi karena patahnya secara tiba-tiba, proses penyembuhannya juga akan lebih cepat. Dokter bilang lusa Bella sudah boleh pulang, tapi tetap harus memakai gipnya selama satu minggu." Alec melirikku. "Ini yang susah. Dia pasti akan melepaskan gipnya secara diam-diam. Kalian kan tau bagaimana Bella."
"Aku tidak akan melakukannya!" aku sedikit menggerutu.
Benar-benar menyebalkan kalau digoda seperti ini terus. Dan Alec memang benar, melihat selang infus yang melekat ditanganku saja aku sudah gatal ingin melepasnya. Tapi kalau aku bertindak seperti ini, bagaimana aku bisa menemukan Edward? Maksudku Tony. Oke, terserah siapapun namanya, tapi aku akan mencari tau sendiri. Bukan berarti aku tidak percaya pada Alec, tapi aku hanya ingin tau. Sangat ingin tau.
Wohoo, ternyata masih sekedar bayangan Bella, ya..
Review please..
Love,
B
